Penggunaan Simbol Binatang

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Barangkali tidak ada masyarakat Indonesia yang begitu menaruh perhatian kepada beberapa jenis binatang pada tahun-tahun sebelum dibandingkan dengan tahun 2009-2010. Bukan karena jenis-jenis binatang tersebut dilindungi karena terancam punah dari muka bumi. Bukan pula karena binatang tersebut sebelumnya tidak pernah ditemukan alias langka sehingga banyak masyarakat yang menghabiskan energinya untuk memperhatikannya.

Adalah perseteruan antara para penegak hukum yang menjadi garda terdepan penegakan supremasi hukum di negeri ini. Masing-masing pihak berpegang pada pandangan masing-masing sehingga mengemukalah penyebutan dua jenis binatang yang kemudian begitu terkenal itu. Cicak dan buaya. Dua jenis binatang yang sebenarnya memiliki kontur tubuh yang sama dan perbedaannya hanya pada ukurannya saja. Jika cicak adalah salah satu binatang yang biasa dijumpai di bangunan-bangunan dan berukuran kecil, maka buaya dengan bentuk tubuh yang sama dengan ukuran yang jauh lebih besar dan berjenis ampibi karena mampu hidup di dua alam, darat dan air.

Berawal dari pernyataan Komjen Susno Duaji (kala itu di tahun 2009 masih menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri) yang menganalogikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti cicak sedangkan Polri seperti buaya. Bagaimana pun usaha yang dilakukan ‘cicak’ tidak akan mampu mengalahkan ‘buaya’. Pernyataan ini keluar dari mulut SD mengomentari pertanyaan para kru tinta mengenai adanya isu penyadapan yang dilakukan KPK terhadap pria asal Sumatera Selatan ini.

Sontak saja pernyataan analogi SD ini menjadi terkenal di mana-mana. Apalagi kemudian mencuat kasus penahanan dua pimpinan KPK yang dinilai penuh dengan rekayasa dan balas dendam Polri atas upaya-upaya yang dilakukan ‘cicak’ tersebut. Jika sebelumnya orang hanya mengenal ‘cicak’ sebagai binatang yang biasa tinggal di bangunan-bangunan, maka kini masyarakat mengenal binatang ini sebagai simbol perlawanan rakyat kecil atas kepongahan orang-orang besar yang disimbolisasikan dengan buaya.

Beberapa bulan yang lalu perseteruan ‘cicak’ dan ‘buaya’ sudah mereda seiring dengan bebasnya dua pimpinan teras KPK dari tahanan setelah usaha-usaha pembebasan yang dilakukan Tim 9 yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution membuahkan hasil. Namun demikian, apakah penggunaan binatang dalam percaturan politik dan hukum di tanah air mereda? Ternyata fakta di lapangan membuktikan tidak. Akhir-akhir ini muncul lagi binatang dalam percaturan politik dan hukum di tanah air.

Seiring dengan kian gencarnya sepak terjang Pansus Skandal Bank Century beraksi, maka penggunaan binatang pun kembali mengemuka. Jika sebelumnya ‘cicak’ dan ‘buaya’ dihadirkan ke tengah-tengah publik, maka kini jenis binatang yang lebih besar dikedepankan. Para penentang kebijakan dana talangan (bail out) yang digelontorkan Bank Indonesia untuk ‘menyelamatkan’ Bank Century kini menggunakan kerbau dalam setiap aksinya. Sebelumnya para demonstran menggunakan ‘cicak’ dan ‘buaya’ dengan maksud untuk menyindir orang-orang besar yang pongah, maka kini kerbau dipakai untuk hal yang sama dalam pandangan mereka. Hanya saja, penggunaan kerbau kali ini lebih tertuju kepada satu orang yang paling berkuasa di negeri ini dan terpilih dua kali berturut-turut secara demokratis dalam pemilu. Penggunaan kerbau kali ini lebih jelas ditujukan kepada siapa karena pada badan binatang tersebut dengan sangat jelas tertulis ‘SiBuYa’. Siapa pun pasti tahu apa yang dimaksudkan oleh tulisan yang ada di punggung kerbau tersebut.

Kenapa kerbau dibawa-bawa dalam aksi demonstrasi menentang ‘kebijakan’ dana talangan Bank Century? Bagi para pelaku demonstrasi di lapangan, kerbau adalah simbolisasi kemalasan dan binatang ini hanya mau bekerja setelah disuruh, bahkan diperlakukan dengan keras. Apakah objek kritikan dan ‘makian’ para demonstran tersebut memang termanifestasi dari dari sifat dan karakter kerbau tersebut. Entahlah. Yang jelas, kerbau telah berjasa besar bagi para petani karena dengan tenaganyalah sawah-sawah dapat dibajak dan ditanami padi, terutama jika tidak mampu membeli traktor. Dan yang perlu diperhatikan juga bahwa salah satu partai politik di tanah air juga menggunakan kerbau atau banteng sebagai logo yang selalu mereka banggakan.

Dari kacamata ilmu sosial, penggunaan simbolisasi oleh manusia merupakan salah satu bentuk pernyataan sikap. Akibat ketidakmampuan sarana resmi yang ada dalam menampung aspirasi masyarakat mengenai sesuatu, maka masyarakat pun turun ke jalan dengan menenteng sebuah simbol. Dengan menggunakan simbol ini diharapkan objek yang dituju menjadi mengetahui apa yang akan disampaikan oleh masyarakat tersebut. Dengan demikian, simbol adalah tanda yang digunakan sebagai sarana menyampaikan sesuatu.

Dalam ranah sastra juga dikenal penggunaan simbol yang dilakukan oleh para sastrawan, utamanya pada genre puisi. Untuk menggambarkan keelokan seorang gadis, misalnya, seorang penyair menggunakan simbol bunga atau rembulan dan untuk menggambarkan kejahatan maka digunakan simbol gelap. Dengan demikian, penggunaan simbol dalam keseharian kita merupakan sesuatu yang lumrah dan dapat dijumpai setiap saat.

Penggunaan simbol yang bertujuan untuk mengungkapkan dan menyampaikan sesuatu boleh-boleh saja. Apapun simbolnya boleh dilakukan asalkan dengan penggunaannya diharapkan pesan yang akan disampaikan mengena kepada objek yang dituju. Hanya saja, permasalahan yang kemudian mengemuka adalah jika ditarik pada ranah etika. Seringkali disebutkan bahwa kita ini orang Timur yang memiliki kesantunan dan etika. Dengan demikian, penggunaan simbol pun semestinya harus memperhatikan etika yang berlaku dalam masyarakat sehingga maksud yang baik untuk tujuan konstruktif juga dilakukan dengan cara baik pula.

Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: