Mengenal Pembangunan dan Teori Pembangunan

Oleh: Pahrudin HM, MA

Pengantar
Hampir tidak ada orang yang tidak tahu pembangunan. Ya, pembangunan pernah menjadi nama yang selalu digembar-gemborkan oleh Orde Baru melalui tahapan program pemerintah dalam wujud Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Melalui Repelita, Pemerintah Orde Baru merancang apa yang akan dilakukan untuk ‘memajukan’ masyarakat Indonesia setiap lima tahun selama hamper 32 tahun orde Soeharto ini. Selama Orde Baru pula ‘pembangunan’ menjadi kata yang popular di kalangan masyarakat, baik dari tingkat pusat di perkotaan hingga pelosok pedesaan yang terpencil. Atas nama ‘pembangunan’ pula banyak orang yang ‘rela’ bergotong royong membuat sesuatu dan melakukan sesuatu serta banyak pula yang harus dikorbankan.
Secara umum, pembangunan atau development adalah usaha yang dilakukan untuk memajukan kehidupan masyarakat yang ada dalam sebuah negara. Pembangunan berasal dari akar kata ‘bangun’ yang berarti membuat atau menyusun, sehingga menjadi ‘pembuatan atau penyusunan’ sesuatu. Sebagai sebuah negara yang lazimnya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakatnya, maka ‘pembangunan’ sudah seharusnya dilakukan. Namun demikian, pada kenyataannya terjadi perbedaan signifikan di antara berbagai negara di dunia yang menerapkan pembangunan terhadap negerinya. Ada beberapa negara yang karena pembangunan yang dilakukan pemerintahnya membuat masyarakatnya hidup sejahtera, tetapi tidak sedikit pula negara yang masyarakatnya justru selalu berada dalam posisi terbelakang, miskin dan jauh dari sejahtera yang menjadi tujuan pembangunan tersebut.
Ada banyak pendapat yang dikemukakan oleh banyak kalangan mengenai ‘pembangunan’ yang diterapkan terhadap negara yang ada di dunia dalam bingkai teori pembangunan. Tulisan berikut akan mencoba untuk memaparkan beberapa teori pembangunan yang dikemukakan oleh beberapa kalangan dimaksud.

Indikator Pembangunan
Berbicara mengenai pembangunan yang dilakukan oleh otoritas suatu negara tentu tidak dapat dilepaskan dari indikator yang digunakan sebagai alat untuk mengukurnya. Hal ini penting dilakukan agar upaya yang dilakukan dalam bingkai ‘pembangunan’ dapat diketahui dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Apakah beragam upaya ‘pembangunan’ yang dilakukan berdampak positif ataukah berimplikasi negatif terhadap kehidupan masyarakat dan negara. Dengan adanya indikator tersebut di samping dapat mengetahui dampaknya, juga akan dapat diketahui beragam kelebihan dan mungkin kekurangan yang ada dalam upaya tersebut sehingga dapat dilakukan perbaikan di waktu berikutnya.
Indikator pertama yang digunakan dalam pengukur pembangunan adalah kekayaan rata-rata. Sebuah negara yang melakukan pembangunan dinilai berhasil jika pertumbuhan masyarakatnya cukup tinggi. Ukuran pertumbuhan ekonomi masyarakat dinilai tinggi berdasarkan produktivitas masyarakat atau produktivitas negara tersebut dalam setiap tahunnya melalui pengukuran Produk Nasional Bruto (PNB, atau Gross National Product [GNP]) dan Produk Domestik Bruto (PDB). Caranya adalah dengan mengukur PNB per kapita atau per orang suatu negara dalam kurun waktu satu tahun. Dengan demikian, dengan menggunakan indikator ini dapat terlihat bahwa sebuah negara yang memiliki PNB per kapita per tahun sebesar US $1.000 dianggap lebih berhasil pembangunannya dari pada negara yang hanya berpenghasilan US $800.
Ukuran kedua yang digunakan sebagai indikator keberhasilan pembangunan suatu negara adalah pemerataan. Indikator ini digunakan sebagai koreksi terhadap tolok ukur pertama yang dianggap memiliki banyak kelemahan. Di antara kelemahannya adalah terdapat beberapa negara yang PNB per kapitanya tinggi, tetapi banyak dijumpai orang-orang miskin dan tidak berdaya. Dengan demikian diperlukan indikator lain yang tidak hanya melihat pada aspek PNB per kapita saja. Hal ini dilakukan dengan cara melihat prosentase besaran PNB yang mampu diraih oleh 40% penduduk termiskin, 40% penduduk golongan menengah dan 20% penduduk terkaya. Dengan demikian dapat diketahui sejauhmana terjadi pemerataan pembangunan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakatnya.
Tolok ukur ketiga untuk melihat keberhasilan pembangunan dalam suatu negara adalah kualitas kehidupan atau Physical Quality of Life Index (PQLI). Untuk menerapkan tolok ukur ini, Moris mengetengahkan tiga indikator yang dapat digunakan, yaitu: rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun, rata-rata jumlah kematian bayi, dan rata-rata presentasi buta dan melek huruf. Pada indikator harapan hidup, angka 100 diberikan jika rata-rata harapan hidup mencapai 77 tahun, sedangkan angka 1 diberikan bila rata-rata harapan hidup hanya sampai 28 tahun. Indikator kedua akan diberikan angka 100 jika rata-rata kematian adalah 9 untuk setiap 1000 bayi dan angka 1 jika rata-rata kematian adalah 299. Angka 100 diberikan pada indikator ketiga jika rata-rata prosentase melek aksara mencapai 100% dan angka 0 bila tidak ada yang melek huruf di negara tersebut.
Ukuran keberhasilan pembangunan keempat adalah kerusakan lingkungan yang terjadi di suatu negara tertentu. Sebagai sebuah negara yang memiliki produktivitas yang tinggi dan pendapatan masyarakatnya yang merata sebagaimana yang diindikasikan di atas, maka sesungguhnya negara tersebut berada dalam proses menjadi semakin miskin. Hal ini dapat terjadi karena pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi cenderung tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungan. Sumberdaya-sumberdaya alam selalu dikuras dan selalu lebih cepat dibandingkan kemampuan alam dalam merehabilitasi dirinya.

Indikator terakhir keberhasilan pembangunan suatu bangsa adalah ukuran keadilan sosial dan kesinambungan. Tolok ukur pembangunan yang terakhir ini digunakan sebagai counter indicator terhadap ukuran-ukuran pembangunan yang ada sebelumnya. Masuknya faktor keadilan sosial dalam tolok ukur pembangunan bukan hanya berdasarkan pertimbangan moral belaka, tetapi digunakan untuk pelestarian pembangunan itu sendiri. Hal ini karena jika terjadi kesenjangan yang besar antara orang-orang kaya dan miskin, maka masyarakat yang bersangkutan akan rawan secara politis. Bila terjadi pergolakan sosial yang ditimbulkan dari kesenjangan ini, maka hasil pembangunan yang sudah dilakukan tentu akan sulit dicapai.

Teori Pembangunan
Sebagaimana diketahui bahwa sebuah negara didirikan untuk mengelola apa yang dimilikinya agar masyarakat yang ada di dalamnya menjadi sejahtera. Pengelolaan sumberdaya dan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya dilakukan melalui pembangunan. Namun demikian, pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara tidak serta merta dapat dilakukan tanpa memahami berbagai pendapat dan pemikiran yang ada seputar pembangunan.
Berikut ini akan diketengahkan beberapa teori pembangunan yang dikemukakan oleh pakar-pakar yang sudah banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia.

1. Teori Tabungan dan Investasi
Pembangunan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakatnya seringkali terkendala dengan dana. Untuk itu, seorang pakar Barat Harrod dan Domar mengetengahkan pemikiran yang berintisari pada suatu kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh tabungan dan investasi yang dimilikinya. Jika tabungan dan investasi yang dimiliki oleh suatu negara rendah, maka pertumbuhan ekonominya pun akan rendah pula. Keterbelakangan yang menimpa dan senantiasa akrab dengan negara-negara dunia ketiga pada dasarnya, menurut kajian Harrod dan Domar, pada dasarnya karena kekurangan modal yang merupakan implikasi dari minimnya tabungan dan investasi.
Lalu, apa upaya yang dapat dilakukan oleh suatu negara yang kekurangan modal untuk membiayai pembangunannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka Harrod dan Domar memunculkan solusinya, yaitu dengan mencari tambahan modal. Upaya ini dapat dilakukan baik dari dalam atau internal negara tersebut melalui peningkatan tabungan maupun luar negeri melalui penanaman modal dan utang.

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Rostow
Teori pembangunan yang dikemukakan oleh W.W. Rostow ini merupakan model pembangunan yang banyak diadopsi oleh berbagai negara di dunia, tanpa terkecuali Indonesia di masa Orde Baru. Teori yang dikemukakan oleh ahli ekonomi Amerika Serikat ini mendasarkan diri pada pandangannya bahwa pertumbuhan dapat dilihat dengan menggunakan metapora pertumbuhan organism. Bagi Rostow, perubahan sosial yang disamakannya dengan pembangunan sama seperti evolusi perjalanan sejarah yang dilalui manusia dari fase tradisonal hingga tahap modern. Pikiran-pikiran Rostow ini dikenal dengan the five-stage scheme yang mengatakan bahwa semua masyarakat, termasuk Barat, sesungguhnya pernah mengalami masa ‘tradisonal’ dan akhirnya menjadi ‘modern’. Lebih lanjut, pandangan Rostow ini diejawantahkannya dalam buku berjudul ‘The Stage of Economic Growth’ atau tahapan pertumbuhan ekonomi. Secara mendalam dan terperinci, Rostow mengemukakan tahapan yang dilalui suatu negara menuju modern, layaknya yang terjadi di Barat, yaitu: masyarakat tradisional, berkembang menjadi prakondisi tinggal landas, berubah menjadi tinggal landas, kemudian masyarakat pematangan pertumbuhan dan akhirnya mencapai masyarakat modern berupa masyarakat industry yang ditandai dengan konsumsi masa tinggi.
Agar sebuah negara sampai pada tahap terakhir yang dicita-citakan, maka Rostow mengajukan persyaratannya yaitu dengan tersedianya modal. Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan Negara agar modal tersedia? Menurut Rostow ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah suatu negara yang mengalami hal ini, yaitu:
1.    Penggalian investasi dengan cara pemindahan sumberdaya atau kebijakan pajak.
2.    Melalui lembaga-lembaga keuangan atau obligasi pemerintah untuk tujuan produktif.
3.    Menghimpun dana melalui devisa perdagangan internasional
4.    Optimalisasi penanaman modal asing.

3. Teori Motivasi Prestasi
Teori pembangunan selanjutnya adalah teori yang berangkat dari perspektif psikologi sosial, yaitu motivasi untuk berprestasi. Teori ini dikemukakan oleh Mc Clelland melalui bukunya ‘The Achievement Motive in Economic Growth’ yang diterbitkan pada tahun 1984. Mc Clelland mendasarkan pemikirannya pada upaya untuk menjawab pertanyaan, mengapa beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat sementara di sisi lain terdapat beberapa negara yang mengalami kondisi sebaliknya. Jika teori lain berupaya menjawabnya dengan mengajukan pandangan yang bersumber dari faktor eksternal, maka Mc Clelland menjawabnya dengan faktor yang justru berasal dari internal.
Menurut kajian Mc Clelland, terjadinya perbedaan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia ini disebabkan karena faktor nilai atau motivasi. Beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya berkembang pesat ternyata memiliki motivasi yang tinggi untuk mengeksploitasi peluang dan meraih kesempatan untuk merubah dan memperbaiki kondisi yang dialaminya. Sementara di sisi lain, negara-negara yang pertumbuhan ekonominya tidak berkembang pesat motivasi semacam itu sangat kurang dan rendah. Pemikiran Mc Clelland ini sebenarnya dapat dikatakan merupakan pengembangan dari pandangan yang pernah diajukan oleh Max Weber mengenai etika Protestan dan pertumbuhan kapitalisme. Dari interpretasinya terhadap tesis Weber ini, maka Mc Clelland menganalogikannya dengan pertumbuhan ekonomi yang berujung pada rumusannya yang dikenal dengan need for achievement atau N’ach.
Negara-negara maju memiliki motivasi yang tinggi untuk merubah kondisi yang dialaminya jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika negara-negara miskin dan berkembang mau memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat layaknya negara-negara maju, maka motivasi untuk berprestasi harus ditingkatkan secara terus menerus. Hal ini karena dorongan untuk berprestasi akan memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas dan kuantitas wirausaha (usaha mandiri) di kalangan masyarakat negara-negara berkembang adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Hal ini karena berwirausaha pada dasarnya bukan hanya sekedar untuk mencari uang (profit motive), tetapi untuk meningkatkan motivasi tersebut.
Apa yang diungkapkan Mc Clelland sedikit banyak dapat dibuktikan sekarang ini. Negara-negara maju ternyata memiliki tingkat wirausaha yang tinggi, tetapi sebaliknya negara-negara berkembang sangat minim dengan jumlah wirausaha dalam masyarakatnya. Beberapa pakar malah mengajukan analisa yang dapat dijadikan persyaratan pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu suatu negara minimal harus memiliki 2% wirausaha dari total jumlah penduduknya. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang hingga saat ini hanya memiliki angka wirausaha dibawah 2% dari total 200-an juta penduduknya. Bandingkan dengan Singapura, sebuah negeri pulau yang kecil, tetapi memiliki angka wirausaha yang berada di atas 2%. Tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi Singapura jauh melampaui Indoensia, bahkan negeri singa ini merupakan salah satu macan ekonomi Asia di samping Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Daftar Bacaan:
Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Insist Press, 2003.
Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: