Profil Yordania

Oleh: Pahrudin HM, MA

Yordania di antara negara-negara Timur Tengah lainnyaYordania adalah sebuah negara yang berbentuk kerajaan (monarki) yang berada di kawasan Timur Tengah dengan ibukota Amman, berbatasan dengan Suriah (Syiria) di sebelah utara, Arab Saudi di sebelah timur dan selatan, Irak di sebelah timur laut, serta Israel dan Tepi Barat (Palestina) di sebelah barat. Nama lengkap negara ini adalah Kerajaan Hasyimiyah Yordania (al-Mamlakah al-Urduniyah al-Hāsyimiyah) yang diklaim bahwa pemimpin pertama yang mendapatkan mandat dari Inggris untuk mendirikan kerajaan ini, Amir Abdullah, adalah keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.[1] Kerajaan ini didirikan oleh Amir Abdullah pada taun 1922 berdasarkan mandat yang diberikan oleh Inggris yang menguasai sebagian besar kawasan Timur Timur Tengah pada awal-awal abad ini setelah berhasil mengalahkan Kekaisaran Turki Usmani bersama kekuatan-kekuatan Eropa lainnya seperti Perancis yang menguasai wilayah ini selama berabad-abad.[2]

Secara historis Yordania tidak memiliki aspek kesejarahan yang memungkinkannya untuk membentuk sebuah negara, kecuali atas kedekatan penguasa setempat, Amir Abdullah, dengan Inggris yang menguasai kawasan tersebut ketika itu. Komposisi masyarakat Yordania terdiri dari warga asli setempat (badui) dan petani-penggembala serta warga Palestina yang terdiri dari para pengungsi yang wilayah mereka digusur oleh Israel dan warga Tepi Barat Palestina.[3] Kedua komposisi penduduk inilah membentuk menjadi masyarakat baru dalam sebuah negara yang dikenal dengan Yordania tersebut.

Meskipun telah mendapatkan wewenang untuk berdiri sebagai sebuah negara, namun wilayah yang sebelumnya dikenal dengan nama TransYordan ini masih berada dalam kontrol Inggris, terutama pada sektor kebijakan luar negeri dan militer. Yordania baru mendapatkan kemerdekaannya secara penuh dari Inggris pada tahun 1946 dan mendapatkan masa keemasan negara dibawah pemerintahan Raja Husein bin Talal yang diklaim sebagai keturunan ke-42 Nabi Muhammad SAW.[4] Nama lengkapnya adalah Husein bin Talal, dilahirkan di Amman pada tanggal 14 November 1935 dari ayah bernama Talal bin Abdullah dan ibu Zein al-Syaraf binti Jamil. Raja Husein merupakan salah satu pemimpin pemerintahan yang terlama dan terpanjang di dunia, ia memerintah Yordania sejak tahun 1952 sampai tahun 1999. Sebelum diangkat menjadi raja, ia adalah seorang putra mahkota yang sangat dekat sang kakek, Raja Abdullah I, bahkan ia menyaksikan sendiri sang raja Yordania pertama tersebut menghembuskan nafas terakhir akibat terjangan timah panas penembak jitu di saat keduanya melaksanakan salat Jum’at di Masjid al-Aqsa Palestina.

Karena sang ayah, Talal bin Abdullah, dianggap tidak mampu lagi secara rohaniah menjalankan tugas sebagai raja oleh sebuah majelis yang bertugas mengamati raja setelah memerintah sejak tahun 1946, maka Raja Husein pun naik tahta. Oleh karena usianya belum mencukupi untuk memangku jabatan seorang raja, maka dibentuklah sebuah lembaga yang terdiri dari berbagai elemen yang berfungsi untuk memerintah negeri tersebut sampai Raja Husein mencapai umur 18 tahun. Pada tahun 1953 atau setelah usianya genap 18 tahun, maka Raja Husein pun secara konstitusional resmi memerintah negeri yang memiliki banyak sisa-sisa kejayaan masa lalu berupa bangunan yang dibuat dari pahatan gunung batu (Petra) tersebut.

Setelah memerintah Yordania dalam rentang waktu yang panjang, sejak tahun 1946 atau secara efektif sejak tahun 1953, maka pada tanggal 7 Februari 1999 Raja Husein menghembuskan nafasnya yang terakhir selepas berobat kanker yang dideritanya di Amerika Serikat. Berdasarkan konstitusi yang berlaku di Yordania, maka pengganti raja yang mangkat adalah putra tertuanya, yaitu Abdullah II. Pada tanggal 7 Februari 1999, atau tepat setelah Raja Husein meninggal dunia, maka Raja Abdullah II secara resmi menggantikan ayahnya memerintah di Kerajaan Yordania. Nama lengkapnya adalah As-Sayyid Abdullah II bin al-Husein al-Hasyimi, dilahirkan di Amman pada tanggal 30 Januari 1962 dari ibu bernama Putri Muna al-Husein dan diklaim sebagai keturunan ke-43 Nabi Muhammad SAW.

Pendidikan Raja Abdullah II dimulai di Islamic Educational College Yordania dan diteruskan di St. Edmund’s School Inggris, Eaglebook School dan Akademi Deerfield Amerika Serikat. Sebagaimana layaknya tradisi yang berlaku di negara-negara bekas jajahan Inggris (commonwealth states: persemakmuran), maka Raja Abdullah II memasuki Royal Military Academy Sandhurst Inggris untuk mendapatkan pendidikan perwira militer. Karir militernya ditempuh dengan menjadi komandan Batalion Tank ke-17, komandan Angkatan Khusus Kerajaan Yordania, dan komandan Komando Operasi Khusus.

Secara geografis dan politis, Yordania sangat memiliki arti penting di Timur Tengah. Letak geografisnya yang berada di tengah-tengah negara Timur Tengah, terutama karena berbatasan langsung dengan Israel, Suriah dan Arab Saudi, membuat negara ini menjadi pusat perhatian dunia. Secara politis juga Yordania juga berarti penting dalam perbincangan mengenai Timur Tengah, terutama karena hubungan diplomatiknya dengan Israel. Yordania menjadi negara Arab kedua yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel di samping Mesir. Kondisi seperti ini penting karena pembukaan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi tersebut tentu dapat memperlancar beragam kepentingan dan keperluan antara kedua negara tersebut. Lihatlah bagaimana upaya maksimal yang dilakukan pemerintah Kerajaan Yordania dalam mengusahakan pemulangan warga Indonesia yang ditahan di Israel dalam tragedi kapal kemanusiaan Mavi Marmara beberapa waktu yang lalu. Karena Yordania memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka negara-negara lain yang tidak memiliki hubungan diplomatik seperti Indonesia menggunakan jasa atau perantara Yordania. Posisi politis Yordania dengan Israel ini tidak hanya mendatangkan efek positif sebagaimana di atas, tetapi memiliki dampak negatif. Karena hubungan diplomatiknya, maka segala aspek yang berkaitan dengan negara Yahudi tersebut dalam melakukan aktivitasnya di Yordania, mulai dari ekonomi, perdagangan, sosial, pendidikan dan perumahan. Kenyataan ini tentu menimbulkan penentangan di kalangan masyarakat Yordania, terutama kalangan muslim yang masih melihat ancaman dari keberadaan Israel di tengah-tengah bangsa Arab. Ini pula yang mendasari beberapa negara muslim di dunia tidak mengadakan hubungan diplomatik dengan Israel, seperti yang dilakukan Indonesia hingga saat ini.

Meskipun bukan termasuk negara pemilik cadangan minyak besar dunia seperti tetangga-tetangga Arab-nya semisal Saudi Arabia, ekonomi Yordania termasuk yang besar.  Berdasarkan data, jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania pada tahun 2005 adalah sebesar US$ 24,69 miliar. Besaran angka ini merupakan akumulasi dari berbagai sektor yang ada dan diusahakan negara ini. Proporsi Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania tersebut  dari sektor pertanian yang menyumbang sebesar 2,8%, kehutanan 29,6% dan perikanan 67,6%, sedangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania adalah sebesar 6% per tahun. Pada tahun 2005, pendapatan per kapita penduduk Yordania adalah sebesar US$ 4.383 yang merupakan peningkatan signifikan pada tahun sebelumnya (1998) yang sebesar US$ 2.615. Nilai tukar 1 Dollar Amerika Serikat (kurs) adalah sebesar 700 Dinar Yordania. Kuatnya nilai tukar Dinar Yordania terhadap Dollar Amerika Serikat ini ternyata juga paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah, seperti Saudi Arabia yang sebesar 3.000 Riyal; Kuwait sebesar 2.800 per Dinar, Mesir sebesar 5.600 Pound; Israel sebesar 3.800 New Shekels. Atau jika dibandingkan dengan negara muslim lainnya, seperti Malaysia yang sebesar 3.000 Ringgit.

Kondisi ekonomi seperti ini tentu merupakan hasil dari beragam upaya yang dilakukan pemerintah Kerajaan Yordania di tengah beragam keterbatasan negaranya. Salah satu upaya yang dilakukan Raja Husein selama memimpin Yordania di bidang ekonomi adalah memfokuskan pembangunan Yordania pada pembangunan infrastruktur ekonomi dan industri. Sejak tahun 1960, industri utama yang ada di Yordania, yaitu fosfat, garam abu dan semen terus dilakukan pengembangan, begitu juga dengan jalan raya yang akan memperlancar mobilitas arus pembangunan di berbagai sektor yang terus akan dikembangkan. Akan tetapi karena kekurangan dana, maka Raja Husein menguapayakan dana bantuan dari sesama negara Arab lainnya, seperti Saudi Arabia dan Kuwait. Karena dukungan penuh Yordania terhadap kepemimpinan Saddam Husein di Irak, maka upaya ini sulit dilakukan karena negeri 1001 malam tersebut banyak dibenci oleh negara-negara Timur tengah utama. Untuk itu, agar tetap mendapatkan bantuan dana dari negara-negara Arab yang umumnya sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah tersebut, maka Raja Husein pun dengan berat hati harus melepaskan dukungannya terhadap Saddam. Usaha lainnya yang dilakukan Raja Husein adalah sarana dan prasarana air yang menjadi masalah terbesar Yordania dan umumnya negara-negara Arab karena letaknya yang sebagian besar berupa padang pasir yang tandus. Pengadaan air bagi rakyat Yordania dilakukan dengan menggunakan teknologi pengolahan air sehingga dapat langsung dinikmati masyarakat. Usaha lainnya yang dilakukan Raja Husein menjelang mangkatnya adalah revitalisasi objek-objek pariwisata. Beragam tempat wisata yang dimiliki Yordania, seperti pemukiman kuno dari pahatan batu gunung di Petra, dibenahi dan ditambahkan beragam fasilitas pendukung agar semakin menarik dikunjungi para pelancong. Dengan kian banyak para wisatawan yang berkunjung ke Yordania, maka secara otomatis kas negara dari devisa semakin bertambah.

Beragam upaya bidang ekonomi yang dilakukan Raja Husein kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Abdullah II. Karena terpaan krisis finansial global, maka tugas yang diemban Raja Abdullah II di bidang ekonomi kian berat. Untuk mensiasati terpaan krisis ini, Raja Abdullah II melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan dunia, IMF (international monetery fund). Di samping itu, Raja Abdullah II juga melakukan kebijakan liberalisasi perdagangan dengan bergabung dengan WTO (world trade organizasion) dan menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan Amerika Serikat. Di samping melakukan beragam upaya kerjasama perekonomian eksternal di atas, Raja Abdullah II juga melakukan perbaikan perekonomian internal. Undang-undang ekonomi yang selama ini menjadi payung perekonomian Yordania direformasi. Aneksasi dan privatisasi berbagai perusahaan dan melakukan upaya yang selama ini haram untuk dilakukan oleh para pendahulunya, yaitu otonomisasi wilayah ‘Aqabah yang selama ini dikenal sangat subur dan eksotis. Upaya yang terakhir ini banyak ditentang oleh berbagai kalangan, terutama kalangan muslim, karena dengan otonomisasi ‘Aqobah maka otomatis siapapun dapat mendirikan berbagai usaha seperti perhotelan dan properti di daerah tersebut termasuk Israel yang selama ini diharamkan. Dari kebijakan otonomisasi ‘Aqobah inilah kemudian berbagai perusahaan Israel menanamkan modalnya di Yordania, baik secara langsung dengan mendirikan perusahaan dan usaha maupun secara tidak langsung melalui orang-orang Yordania kepercayaan mereka. Upaya lainnya yang dilakukan Raja Abdullah II adalah menjalin kerjasama ekonomi dengan berbagai negara muslim di luar Arab, seperti Indonesia dan Malaysia. Beberapa waktu belakangan ini dapat kita lihat dan saksikan beragam misi dan duta dagang Yordania yang menjalin kerjasama dengan beberapa pihak di Indonesia untuk mengusahan aneka usaha di negeri ini, seperti pembukaan lahan kelapa sawit di Kalimantan dan lain sebagainya.


[1] www.wikipediaindonesia.com/yordania.

[2] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 155.

[3] Ibid,-

[4] Ali Mufradi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997, hlm. 144.

Catatan :

Lebih lanjut mengenai kondisi geografis Timur Tengah dan objek wisata Petra di Yordania dapat dibaca dalam: Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005). Sedangkan mengenai pengalihan dukungan Raja Husein dari Saddam Husein dapat dibaca dalam: Riza Sihbudi, Indonesia-Timur Tengah Masalah dan Prospek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), cetakan pertama, hlm. 72-73.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: