Arsip tag Pondok Pesantren Assalam

Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) Sumatera Selatan

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Barangkali tidak banyak yang tidak tahu Sungai Musi. Sebuah sungai terbesar di Sumatra, bahkan di Indonesia. Atau mungkin cukup banyak yang tahu Musi Banyuasin. Ya, Musi Banyuasin adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan dengan ibu kota Sekayu dan jumlah penduduk sebesar 561.458 jiwa. Namanya memang mengambil nama sungai kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan itu. Sungai Musi memang mengalir di sebagian besar wilayah Musi Banyuasin, terutama sebelum pemekaran wilayah ini menjadi Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupeten Banyuasin beberapa tahun yang lalu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.265,96 km² atau 15 persen dari keseluruhan luas Provinsi Sumatra Selatan dan membentang pada lokasi 1,3° – 4° LS, 103° – 105° BT (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 2). Pada awalnya, Kabupaten Musi Banyuasin berbatasan langsung dengan Kota Palembang di sebelah timur, namun melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 2002 di wilayah ini terjadi pemekaran sehingga terbentuk Kabupaten Banyuasin dengan ibukota Pangkalanbalai.

Secara geografis, Kabupaten Musi Banyuasin berbatasan dengan Provinsi Jambi (Kabupaten Muara Jambi) di sebelah utara, Kabupaten Muara Enim di selatan, Kabupaten Musi Rawas di sebelah barat dan Kabupaten Banyuasin di sebelah timur. Sampai saat ini, Kabupaten Musi Banyuasin terdiri dari 14 kecamatan dengan Banyung Lencir sebagai kecamatan yang memiliki wilayah terluas (33,98%) dan Lawang Wetan sebagai kecamatan dengan wilayah terkecil sebesar 1,63 persen (Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba, 2011: 10). Di samping itu, Kabupaten Musi Banyuasin juga memiliki 236 desa/kelurahan, di mana Lalan merupakan kecamatan yang memiliki jumlah desa/kelurahan terbanyak (26 buah) sedangkan Babat Supat merupakan kecamatan yang memiliki jumlah desa/kelurahan paling sedikit dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya (11 buah).

Tabel 1:

Kabupaten Musi Banyuasin Menurut Kecamatan

No

Kecamatan

Luas Wilayah (Km2)

Persentase

(%)

Jumlah Penduduk

Jumlah Desa/Kelurahan

1

 Babat Toman

1.291,00

9,05

28.715

12

2

 Plakat Tinggi

   247,00

1,73

22.043

15

3

 Batanghari Leko

2.107,79

14,77

21.156

16

4

 Sanga Desa

   317,00

2,22

30.032

19

5

 Sungai Keruh

   629,00

4,41

40.595

22

6

 Sekayu

   701,60

4,92

78.637

14

7

 Lais

   755,53

5,30

52.353

14

8

 Sungai Lilin

   374,26

2,62

52.792

19

9

 Keluang

   400,57

2,81

28.342

14

10

 Bayung Lencir

4.847,00

33,98

71.893

25

11

 Lalan

1.031,00

7,23

37.638

26

12

 Lawang Wetan

   232,00

1,63

23.925

15

13

 Babat Supat

   511,02

3,58

32.953

11

14

 Tungkal Jaya

   812,19

5,75

43.359

14

Jumlah

14.265,96

100

561.458

236

Sumber: Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba 2011.

Kabupaten Musi Banyuasin merupakan salah satu wilayah terkaya di Provinsi Sumatra Selatan, bahkan di Indonesia, di mana sumber utama perekonomiannya ditopang oleh pertambangan dan energi. Sebagai salah satu wilayah Nusantara yang memiliki sumberdaya alam berupa bahan tambang yang banyak, Kabupaten Musi Banyuasin menggantungkan perekonomiannya (PDRB) dari sumbangan sektor pertambangan dan energi hingga mencapai 66,86 persen (Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba, 2011: 23). Sampai tahun 2010, Kabupaten Musi Banyuasin telah menghasilkan 11.626.680 barrel minyak mentah dan 340.964,68 MMBTU gas bumi. Kenyataan ini menempatkan Kabupaten Musi Banyuasin sebagai kabupaten kelima di Indonesia sebagai penghasil minyak dan gas bumi. Minyak dan gas bumi merupakan bahan tambang utama yang diusahakan oleh Kabupaten Musi Banyuasin, baik oleh perusahaan dalam negeri seperti PT. Pertamina; PT. Babat Kukui dan PT. Surya Raya Teladan, maupun perusahaan asing semisal PT. Conocco Philips dan lain sebagainya. Kedua bahan tambang tersebut tersebar di hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, utamanya di Kecamatan Sungai Lilin, Bayung Lencir, Sungai Keruh dan Batanghari Leko. Meskipun demikian, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi potensi batubara juga menjadi komoditas yang layak diperhitungkan untuk diusahakan di masa mendatang.

Di samping bahan tambang yang menyumbang 66,86 persen PDRB Kabupaten Musi Banyuasin, pertanian dan perkebunan juga menjadi sektor utama di wilayah ini. Dengan kondisi wilayah yang beriklim tropis basah dan curah hujan rata-rata antara 87,83 mm – 391,6 mm sepanjang tahun, sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu bagian terpenting dalam masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin. Komoditas utama sektor pertanian dan perkebuan di Kabupaten Musi Banyuasin adalah padi, karet dan kelapa sawit, di samping itu beberapa jenis lain juga diusahakan oleh masyarakat di wilayah ini, seperti kopi, cengkeh, lada, gambir, kelapa dan jambu mete. Pada tahun 2010, realisasi produksi padi di Kabupeten Musi Banyuasin adalah sejumlah 269.144 ton yang terdiri dari padi sawah (224.414 ton) dan padi ladang (44.730 ton), sedangkan luas komoditas lainnya (palawija) adalah 12.774 hektar.

 

Tabel 2:

Karet dan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin

No

Kecamatan

Jumlah Areal (Ha)

Karet

Kelapa Sawit

1

Babat Toman

10.279

     115

2

Plakat Tinggi

  5.915

     271

3

Batanghari Leko

17.233

     497

4

Sanga Desa

12.659

     163

5

Sungai Keruh

22.141

     245

6

Sekayu

15.757

     237

7

Lais

14.996

     607

8

Sungai Lilin

  6.089

  2.335

9

Keluang

16.233

     958

10

Bayung Lencir

21.173

14.559

11

Lalan

     123

     251

12

Lawang Wetan

9.038

     112

13

Babat Supat

13.357

  1.845

14

Tungkal Jaya*

        0

         0

Jumlah

164.993

22.195

*Ket.: Data Kec. Tungkal Jaya masih tergabung dalam Kec. Bayung Lencir

Sumber: Musi Banyuasin Dalam Angka, 2010/2011.

Karet dan kelapa sawit di Kabupaten Musi Banyusian usahakan oleh rakyat dan perkebunan besar, baik swasta maupun pemerintah melalui PTPN (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 167 & 169). Perkebunan karet rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin adalah sebesar 164.993 hektar dengan memproduksi  106.516 ton sedangkan perkebunan swasta sebesar 4.148 hektar dengan memproduksi sebanyak 4.167 ton. Adapun kelapa sawit rakyat adalah sebanyak 22.195 hektar dengan memproduksi 264.595 ton sedangkan perkebunan swasta sebesar 191.245 hektar yang terdiri dari perkebunan swasta asing (69.503 hektar) dan swasta nasional (121.742 hektar) dan memproduksi sebesar 1.533.953 ton. Perkebunan karet rakyat tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, di mana Sungai Keruh menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan karet rakyat terbanyak (22.141 hektar) sedangkan Lalan menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan karet rakyat terkecil (123 hektar). Seperti halnya karet, kelapa sawit rakyat juga tersebar di berbagai wilayah dalam Kabupaten Musi Banyuasin, di mana Bayung Lencir menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan kelapa sawit rakyat terbesar (14.559 hektar), sedangkan Babat Toman menjadi kecamatan dengan luas areal kelapa sawit rakyat paling sedikit (115 hektar). Dari data di atas (tabel 2) dapat diketahui bahwa jumlah areal perkebunan karet rakyat lebih besar (164.993 hektar) dibandingkan dengan kelapa sawit rakyat (22.195 hektar). Data ini sekaligus juga mengungkapkan bahwa sebagain besar masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin menggantungkan perekonomiannya pada pengusahaan perkebunan karet rakyat, atau dapat pula berarti bahwa karet menjadi komoditas yang paling banyak diminati oleh masyarakat Musi Banyuasin.

Sebagai kabupaten yang berada dalam kategori wilayah kaya di Indonesia sebagai dampak dari pertambangan dan perkebunannya, Musi Banyuasin menaruh perhatian yang besar di dunia pendidikan. Berdasarkan data hingga tahun 2010, jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Musi Banyuasin adalah sebanyak 619 buah, mulai dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA hingga Perguruan Tinggi (PT) seperti Politeknik, Akademi Keperawatan (Akper) dan Sekolah Tinggi. Di samping itu, jumlah peserta didik hingga tahun yang sama tercatat sebanyak 128.124 orang yang terdiri dari siswa dan mahasiswa yang tersebar di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin.

Tabel 3:

Sarana Pendidikan dan Jumlah Siswa/Mahasiswa

No

Tingkat Pendidikan

SD/MI

SMP/MTs

SMA/MA

PT

1

442

110

62

5

Jumlah Siswa

81.558

26.462

17.058

3.046

Sumber: Muba Dalam Angka, 2010/2011.

Musi Banyuasin juga banyak memiliki lembaga pendidikan agama, seperti pesantren yang tersebar di seantero wilayah kabupaten ini. Salah satu pondok pesantren yang terkenal dan terbesar di kabupaten ini adalah Pondok Pesantren Assalam yang terletak di Desa Sri Gunung Kecamatan Sungai Lilin. Pesantren yang terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Palembang dan Jambi ini (Lintas Timur) didirikan pada tahun 1987 oleh seorang ustadz dari Lampung (KH. Masrur Musir) dan hingga saat ini terdiri dari tingkat TK hingga perguruan tinggi (sekolah tinggi). Para santrinya berasal dari berbagai daerah di Sumatra, seperti Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Babel, Bengkulu, NAD, Sumatra Barat dan Sumatra Utara dan sampai saat ini telah menghasilkan ratusan lulusan yang menempuh pendidikan lanjutan di berbagai perguruan tinggi di Tanah Air, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Palembang, Jambi dan Padang serta ke luar negeri, seperti Mesir, Sudan, Arab Saudi dan Yaman. Pesantren ini semakin berkibar menjelang tahun 1990 seiring dengan kedatangan kyai karismatik dari Pesantren Darussalam Lampung, KH. Masrur Musir, yang merupakan kakak kandung sang pendiri. Pendidikan di pesantren ini diselenggarakan dengan cara memadukan ilmu pengetahuan agama dan umum, dimana apa yang diajarkan di SD, SMP dan SMA juga diajarkan di pesantren ini.

Di samping pendidikan, sektor kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam pembangunan di Kabupaten Musi Banyuasin. Sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang sehat, Kabupaten Musi Banyuasin membangun berbagai sarana kesehatan dan menyediakan beragam perangkat kesehatan. Berdasarkan data hingga tahun 2010, sarana kesehatan berupa puskesmas adalah sebanyak 126 unit dan tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 62). Puskesmas-puskesmas tersebut dilengkapi dengan tenaga medis sebanyak 1.260 orang yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat dan lain sebagainya serta fasilitas kesehatan yang baik. Puskesmas-Puskesmas yang dibangun di kabupaten ini dibuat layaknya sebuah rumah sakit, baik dari sisi bentuk fisik bangunan yang bagus maupun fasilitas kesehatan yang dimilikinya.

Yogyakarta, medio awal 2012.

Pesantren Assalam Sungai Lilin Sumsel

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Sejak dahulu, Sumatera memang dikenal sebagai kawasan yang kaya dengan beragam sumberdaya alam (natural resources) sehingga kemudian mengemuka sebutan sebagai swarna dwipa yang berarti pulau emas terhadap wilayah ini. Beraneka ragam jenis sumberdaya ada di pulau ini, mulai hasil tambang, perkebunan dan lain sebagainya. Perkebunan nampaknya memang memiliki bagian tersendiri dari pulau ini karena jika dilihat dari atas sebagian besar kawasan ini diselimuti warna hijau dari dedaunan kelapa sawit, karet dan beraneka ragam jenis tanaman lainnya. Meskipun demikian, karet dan kelapa sawit menjadi komoditas dominan yang memang diusahakan di pulau yang juga disebut Andalas ini, baik oleh pemerintah melalui PTP-PTP maupun oleh masyarakat sendiri.

Salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang memiliki areal perkebunan, karet dan kelapa sawit, yang sangat besar adalah Sumatera Selatan dimana provinsi ini berbatasan langsung dengan Lampung, Jambi, Bengkulu dan wilayah pemekarannya, Bangka Belitung. Namun demikian, Sumatera Selatan sebenarnya tidak hanya memiliki areal perkebunan yang luas tetapi juga mempunyai lembaga-lembaga pendidikan yang cukup tumbuh subur di kawasan ini. Baik lembaga pendidikan umum maupun agama seperti pesantren-pesantren layaknya yang dapat dijumpai di Pulau Jawa.

Jika kita melakukan perjalanan darat, baik dari arah Jambi maupun dari arah Lampung, dengan menyusuri jalan lintas timur maka kita akan menjumpai sebuah lembaga pendidikan keagamaan (pesantren) yang memiliki peran signifikan dalam kehidupan masyarakat wilayah ini. Jika dari arah Jambi, pesantren ini akan dijumpai setelah melewati perbatasan kedua propinsi sekitar satu setengah jam menggunakan angkutan umum. Sedangkan dari arah Lampung, maka pesantren ini akan dijumpai setelah beberarapa saat melewati Kota Palembang sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Ya, inilah Pondok Pesantren Assalam yang terletak di Desa Sri Gunung Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin yang didirikan pada tahun 1987. Secara geografis, PP Assalam terletak dekat perbatasan dengan Provinsi Jambi dan berada di tengah kawasan perkebunan kelapa sawit dan sebagian kecil perkebunan karet rakyat. PP.Assalam awalnya didirikan oleh seorang ustadz yang pernah mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Lampung bernama KH Masrur Musir bersama istrinya (Zamzami HM) yang berasal dari sebuah daerah di Jambi yang saat itu masih tergolong pengantin baru dan dengan dibantu saudara iparnya KH. Isno Jamal yang kelak menjadi pengasuh. Pada awalnya pengelolaannya, kawasan pesantren yang masih berupa padang ilalang dengan gubuk-gubuk reot sebagai tempat pengajaran yang terletak di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera ini menghadapi banyak tantangan. Salah satu yang cukup terasa adalah kecurigaan aparat setempat bahwa pesantren ini merupakan tempat pelarian ustadz-ustadz Talangsari Lampung sehingga memunculkan plesetan bahwa Assalam adalah Asal Lampung. Maklum saja, saat itu kejadian penyerangan aparat keamanan terhadap komunitas pengajian Talangsari Lampung yang diketuai oleh Warsidi masih segar-segarnya dalam ingatan. Namun, berkat usaha yang tak kenal lelah dari pimpinan pesantren ini, maka lambat laun stigma negatif yang beredar di masyarakat hilang dan berganti dengan kebersamaan dan persaudaraan.

Mulai tahun 1990 dapat dikatakan tahun kebangkitan bagi PP. Assalam karena tahun- tahun inilah pesantren mulai mendapat bantuan yang signifikan bagi pengembangan lembaga pendidikan ini. Dimulai dengan pembangunan asrama santri yang merupakan bantuan Menteri Kehutanan saat itu hingga pembangunan jalan aspal di areal pesantren yang merupakan bantuan Bupati Musi Banyuasin saat itu. Santri-santri yang berasal dari beragam daerah, baik sekitar maupun yang jauh sekalipun, mulai berdatangan. Tercatat saat itu ada yang dari Aceh, Riau, Jambi, Lampung dan Bangka, di samping wilayah-wilayah lain di Sumatera Selatan. Para pengajar pun juga mulai beragam yang berasal dari beragam pesantren di Sumatera dan Jawa, seperti PP.Darussalam Lampung,Darul Qalam Tangerang, Gontor dan Wali Songo di Ponorogo. Hal ini ditambah lagi dengan pindahnya seorang ustadz karismatik yang menjadi tokoh sentral dalam pengembangan Pesantren Darussalam Lampung, KH. Abdul Malik Musir, Lc. Dengan demikian, lengkaplah sudah Assalam dipenuhi oleh santri-santri yang berasal dari beragam daerah yang haus akan ilmu pengetahuan dan pengajar-pengar yang mumpuni di bidang yang berasal dari lembaga-lembaga pendidikan yang telah dikenal berkualitas.

PP.Assalam kini sangat jauh berbeda dengan masa-masa awal pendiriannya. Jika dahulu satu-satunya gedung kebanggaan yang dimiliki lembaga pendidikan Islam yang berada di tengah perkebunan kelapa sawit ini adalah masjid yang kerap menjadi tempat pelarian santri di kala hujan deras datang karena atap pondokan yang terbuat dari ayaman daun sejenis lontar bocor, maka kini seluruh bangunan yang ada telah permanen yang terbuat dari beton dan bertingkat. Jika dahulu jenjang pendidikan yang dilaksanakan hanya Madrasah Ibtidaiyah dan Madsarah Aliyah, maka sejak beberapa tahun belakangan ditambahkan dengan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah.

Ilmu pengetahuan yang diajarkan di PP Assalam merupakan gabungan antara ilmu agama dan ilmu umum layaknya yang ada di sekolah-sekolah umum lainnya. Mata pelajaran yang berjumlah ratusan diajarkan di waktu-waktu sekolah dari pukul 07.30-12.00. Dalam rentang waktu tersebut, setiap hari para santri diajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum dengan penataan pengajaran yang cukup sistematis. Setelah melaksanakan shalat Dzuhur, layaknya yang berlaku umum di pesantren-pesantren lainnya, para santri mulai berbaris rapi untuk mengantri mendapatkan jatah makan siang. Setelah istirahat sebentar, aktivitas belajar kembali dilanjutkan pada pukul 14.00-16.00 dengan mengikuti kursus-kursus yang biasanya berupa pelajaran tambahan yang disampaikan oleh kakak-kakak kelas V atau kelas II Madrasah Aliyah. Pada sore harinya, sehabis shalat ‘Ashar, para santri mulai diperbolehkan beraktivitas sesuai keinginan masing-masing, seperti berolahraga dan lain sebagainya. Kemudian, setelah melaksanakan shalat Maghrib para santri diharuskan mengikuti pembacaan al-Qur’an atau ngaji. Di pagi harinya, setelah shalat Subuh menjelang persiapan masuk sekolah, para santri mengikuti penyampaian kata-kata dalam bahasa Arab dan Inggris atau muhadtsah. Pada malam-malam tertentu, yaitu malam Kamis dan malam Minggu, para melaksanakan pelatihan berpidato atau muhadharah dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Begitu juga pada hari Kamis siangnya dimana saat itu para pengajar mengadakan rapat rutin di kantor pesantren. Pada tingkat Madrasah Aliyah telah ada pilihan-pilihan bagi siswanya sesuai dengan minat dan kemampuannya, yaitu: keagamaan, IPA dan IPS. Alumni-alumni yang telah menyelesaikan pendidikannya tersebar di berbagai lembaga pendidikan, baik di Sumatera, Jawa bahkan luar negeri. Beberapa alumninya telah berhasil menggondol beragam gelar kesarjanaan menengah dan tertinggi (S2 dan S3), baik dalam maupun luar negeri.

Secara politik, institusi PP Assalam netral alias tidak memihak kepada salah satu partai politik mana pun. Akan tetapi, sebagian besar penghuni lembaga pendidikan keagamaan ini merupakan pendukung utama salah satu partai politik Islam progresif, Partai Keadilan Sejahtera. Orang-orang yang ada di PP Assalam bahkan merupakan penggerak utama parpol Islam ini di kawasan-kawasan yang berada Kabupaten Musi Banyuasin. Sedangkan dari aspek implementasi dan aktualisasi ajaran agama, PP Assalam mengambil sikap netral alias berdiri di atas semua golongan yang ada dalam Islam, khususnya di Indonesia. Inilah yang selalu ditekankan oleh segenap pimpinan yang ada di pesantren ini. Meskipun demikian, jika diperhatikan lebih jauh dan seksama maka aktualisasi ajaran agamanya lebih mendekati atau cenderung ‘mirip’  apa yang dipraktekkan dalam Muhammadiyah. Hal ini misalnya terlihat pada pelaksanaan salat Subuh yang tidak menggunakan Qunut dan tidak adanya penyelenggaraan maulid nabi dan isra’ mi’raj layaknya yang umum dilakukan masyarakat. Namun demikian, hal ini sepertinya hanya kecenderungan dalam beberapa hal saja karena pada kenyataannya tak ada satupun pimpinan dan segenap pengajarnya yang berafiliasi dengan Muhammadiyah.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri dalam rentang waktu yang cukup lama, Pesantren Assalam telah melahirkan beragam alumni. Alumni-alumninya tersebar di berbagai tempat di tanah air, utamanya di kawasan Sumatera Selatan.  Setamat dari pendidikan di Assalam, para alumni ini melanjutkan pendidikannya di berbagai perguruan tinggi di tanah air, seperti di Palembang, Jakarta, Jambi, Pekanbaru, Yogyakarta, Bandung hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Mesir, Sudan, Arab Saudi, Yaman dan lain sebagainya. Adapun wadah alumni yang menjadi tempat berhimpunnya para lulusan Assalam adalah Forsilam atau Forum Silaturrahmi Alumni Assalam. Forum ini kini tersebar di berbagai tempat yang menjadi wadah para tamatan Assalam untuk kembali berkumpul dan berinteraksi. Meskipun demikian, ada juga alumni yang langsung mengabdikan dirinya di tengah-tengah masyarakat, seperti mengajar, bekerja dan bahkan menjadi anggota legislatif.

Demikianlah, dari tempat terpencil di tengah-tengah perkebunan di kawasan perbatasan Sumsel dan Jambi, Pesantren Assalam terus mengembangkan diri menuju menjadi lembaga pendidikan Islam yang maju. Sumbangsih yang diberikan Assalam tentu sangat diperlukan dalam segala bidang kehidupan yang dijalani oleh masyarakat. Semoga Assalam terus menapaki jalan dan meretas masa depan dalam mempersiapkan dan mengasah para generasi muda bangsa sebagai pelanjut tongkat tanggung jawab pengelolaan bangsa ini.

__________________
Penulis merupakan alumni PP Assalam Sungai Lilin Angkatan 1997.

Salam hangat untuk segenap alumni Assalam dimana saja berada. Teruslah meretas masa depan, semoga sukses selalu. Jangan lupakan almamater kita tercinta yang telah menempa kita bertahun-tahun dalam kawah candradimuka Assalam. Teruslah berikan sumbangsihmu. Dengan apapun itu, bahkan kritikan yang konstruktif sekalipun demi Assalam kita tercinta.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.