Menelisik Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tabir Merangin; Sebuah Upaya Pencarian Solusi

Oleh:

Fahrudin HM, M.A.

Pengantar

Rekam jejak sejarah mencatat bahwa Pulau Sumatera sejak dahulu memang dikenal sebagai kawasan yang kaya dengan beragam sumberdaya alam. Jauh sebelum negeri ini terbentuk seperti saat ini, wilayah ini telah menjadi tumpuan harapan untuk mengeruk keuntungan, utamanya dilakukan oleh kolonial Belanda. Mulai dengan pendirian beberapa perusahaan perkebunan karet yang tersebar seantero pulau ini hingga beragam perusahaan tambang semacam batu bara dibangun di wilayah ini. Maka jadilah wilayah yang merupakan salah satu pulau terbesar di dunia ini dijuluki sebagai swarna dwipa yang berarti ’pulau emas’ karena mengandung beragam sumberdaya yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Setelah Indonesia merdeka, keberadaan beragam usaha yang bertujuan untuk mendapatkan pendapatan negara ini terus dilakukan upaya peningkatan, bahkan komoditas lain seperti kelapa sawit pun terus diupayakan.

Meskipun demikian, pulau yang kadang disebut ’Andalas’ ini ternyata tidak hanya memiliki sumberdaya perkebunan dan pertambangan saja, tetapi juga memiliki banyak sungai. Beberapa sungai besar yang dikenal Indonesia, bahkan dunia, ada di pulau ini. Sebutlah misalnya Sungai Musi yang ada di Sumatera Selatan dan Sungai Batanghari yang melintas di wilayah Jambi. Kedua sungai besar ini memiliki beberapa anak sungai dalam ukuran sedang yang melintasi beberapa daerah di kedua propinsi ini. Sungai Batanghari di Jambi, misalnya, memiliki beberapa anak sungai seperti Batang Tebo, Batang Merangin dan Sungai Tabir. Maka jadilah masyarakat Sumatera dikenal dengan masyarakat sungai layaknya yang juga ditemukan di beberapa wilayah di Kalimantan.

Bagi masyarakat yang mendiami beberapa kawasan di Sumatera, untuk menyebut salah satunya di Jambi, sungai telah lama menjadi urat nadi kehidupan mereka. Jauh sebelum pesatnya perkembangan sarana transportasi seperti saat ini, sungai memainkan peranannya yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. Untuk melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, masyarakat menggunakan perahu dan kapal yang melintas di atas sungai. Hal ini bisa berupa hanya sekedar kunjungan biasa antar keluarga dan teman, melakukan perdagangan dari satu wilayah ke wilayah lainnya hingga mengangkut beragam hasil pertanian dan perkebunan untuk dijual. Di samping itu, sungai juga digunakan masyarakat sebagai sarana untuk beraktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus (MCK) hingga sebagai sarana mencari nafkah dengan berprofesi sebagai nelayan untuk menangkap ikan.

Urgensitas yang dimiliki sungai membuat masyarakat sangat menjaga eksistensi salah satu resources alam ini. Segala hal yang dianggap dapat merusak keberadaan sungai dilarang dan diharamkan untuk dilakukan. Beberapa daerah menerapkan ketentuan yang sangat ketat yang mengatur perilaku dan tindakan masyarakat terhadap sungai. Aturan tersebut biasanya mewujud dalam adat istiadat dalam kerangka apa yang dikenal sekarang dengan ’kearifan lokal’ seperti penerapan ’lubuk larangan’. Ketentuan ini mengatur masyarakat dengan melarang melakukan aktivitas apa pun di bagian-bagian tertentu sungai, biasanya di tempat-tempat yang dinamakan ’lubuk’, yaitu bagian terdalam dari sungai yang biasanya menjadi tempat ikan berkumpul. Pelanggaran ketentuan ini dapat dikenakan denda yang dipergunakan untuk beragam keperluan desa, bahkan jika kesalahan yang dilakukan dianggap fatal dan telah berkali-kali dapat dikucilkan dari pergaulan masyarakat atau diusir.

Meskipun demikian, akhir-akhir ini sungai di banyak wilayah Sumatera tengah menghadapi ancaman degradasi akibat beragam aktivitas manusia. Salah satu sungai yang mengalami kondisi tersebut adalah Sungai Tabir yang melintasi wilayah eks Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin Jambi. Jika dahulu satu-satu aktivitas manusia yang diasumsikan dapat mengganggu eksistensi sungai adalah membuang sampah ke sungai, maka sekarang resources yang telah lama menjadi urat nadi masyarakat ini tengah menghadapi ancaman yang serius. Di sepanjang sungai yang bermuara pada Sungai Batanghari ini kini banyak bertebaran rakit-rakit para penambang yang mengeruk bebatuan dan pasir dari dasar sungai dengan menggunakan mesin sedot untuk mendapatkan emas.

Tulisan berikut akan mencoba memotret aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir yang sudah cukup lama berlangsung ini. Paparan potret ini kemudian akan coba dianalisis oleh penulis untuk mendapatkan alasan yang melatarbelakangi dilakukannya aktivitas ini dan solusi yang mungkin dapat dilakukan oleh segenap stakeholder yang berkaitan dengan hal ini.

Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tabir

Jika dahulu satu-satunya aktivitas manusia yang dianggap dapat menggangu kelestarian sungai adalah membuang sampah, maka sekarang terdapat aktivitas lain yang perlu mendapat perhatian serius. Jika kita cukup jeli memperhatikan ancaman kelestarian sungai, maka akan ditemukan dua faktor penting yang dapat merusak ekosistem sungai, dimana keduanya jika dibiarkan terus berlangsung, maka lambat laun degradasi sungai akan segera menjadi kenyataan. Kedua faktor tersebut adalah pertama aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan resources sungai dengan cara mudah dan instant, yaitu meracun sungai dengan zat tertentu sehingga membuat ikan-ikan menggelepar sekarat. Aktivitas ini pada awalnya dilakukan pada sungai-sungai kecil, tetapi lambat laun berpindah ke sungai-sungai yang lebih besar, meskipun hanya pada bagian-bagian tertentu. Meskipun demikian, akhir-akhir ini aktivitas ini dilakukan terhadap seluruh bagian sungai besar yang menjadi tempat beraktivitas bagi masyarakat, seperti mandi, mencuci, kakus dan lain sebagainya.

Jika faktor pertama hanya menimbulkan degradasi pada resources utama sungai yang berupa air dan ikan saja, meskipun hal ini tetap tidak dapat ditolerir, maka keberadaan faktor kedua menimbulkan kerusakan yang sangat kompleks. Faktor kedua dimaksud adalah menjamurnya aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat di hampir sepanjang sungai. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa kandungan logam mulia yang terdapat di sungai memang tinggi sehingga membuat masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan, ditambah lagi dengan realitas bahwa harga emas di pasaran terus memuncak. Jika aktivitas meracuni sungai hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, namun aktivitas penambangan dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan seluruh unsur yang terdapat di sungai, mulai dari air, pasir, batu dan lumpurnya.

Aktivitas penambangan yang dalam bahasa lokal disebut ’dompeng’ ini yang sepintas lalu tidak membahayakan kelestarian sumberdaya air karena tidak berdampak langsung, kecuali perubahan warna airnya, ini dilakukan dengan cara mengeruk bebatuan dan pasir yang terdapat di dalam sungai dengan suatu alat yang ditempatkan di tengah-tengah sungai. Selanjutnya bebatuan dan pasir tersebut dicampur dengan suatu zat kimia untuk memisahkannya hingga didapatkan di dalamnya emas yang kemudian dikumpulkan untuk dijual di pasaran. Limbah hasil proses pemisahan yang telah bercampur dengan zat kimia ini kemudian dibuang begitu saja untuk kemudian mengkontaminasi beragam makhluk hidup yang terdapat dalam sungai.

Dapat dibayangkan bagaimana terjadinya degradasi sungai akibat tercemarnya air akibat racun dan zat kimia, beragam makhluk hidup yang ada di dalamnya akan punah, ikan-ikan besar dan kecil akan mati, bahkan juga telur-telurnya. Hal ini berarti bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya, itu pun dengan catatan bahwa aktivitas ini tidak terus berlangsung. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan warna air, jika dahulu hal ini terjadi karena turunnya hujan lebat di hulu sungai dan hanya dalam waktu yang tidak lama, tetapi sekarang perubahan air menjadi kuning kecoklatan bercampur lumpur tak mengenal fenomena alam yang ada. Padahal hingga saat ini sungai masih menjadi tempat utama masyarakat dalam beraktivitas seperti mandi, mencuci dan kakus, bahkan di beberapa tempat air sungai juga dijadikan untuk air minum. Bagaimana jadinya jika masyarakat mengkonsumsi air yang berwarna kuning kecoklatan bercampur Lumpur dan tentu saja terkontaminasi racun dan zat kimia berbahaya.

Di samping dampak di atas, penambangan emas juga menyebabkan terjadinya longsoran di beberapa bagian sungai. Hal ini terjadi karena batu dan pasir yang menjadi unsur penguat ketahanan tanah di bibir sungai tidakada lagi karena dikeruk untuk mendapatkan butiran emas di dalamnya. Akibatnya, beberapa bagian sungai mengalami longsoran hingga menyebabkan beberapa bagian menjadi lebih lebar. Lebih jauh lagi, beberapa rumah yang sebelumnya berada jauh dari tepi sungai sekarang menjadi hanya tinggal beberapa jegkal lagi dan lambat laun akan runtuh. Belum lagi dengan pohon buah-buahan, seperti kelapa, beberapa kali roboh dan masuk ke dalam sungai akibat tidak ada tanah yang kuat menahanya lagi.

Dari semua dampak yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan emas di sungai ini yang juga patut mendapat perhatian serius adalah mulai terkikisnya rasa kebersamaan. Masyarakat yang mendiami aliran Sungai Tabir secara historis pada dasarnya masih memiliki ikatan persaudaraan atau kekerabatan. Selama ini masyarakat wilayah ini dikenal memiliki rasa kebersamaan dan kegotong royongan yang tinggi. Namun demikian, kini sepertinya mulai tampak memudar akibat konflik disebabkan menyikapi aktivitas penambangan emas ini. Pada level atas, para tokoh masyarakat mulai terlihat tidak kompak dalam menyikapi hal ini, satu pihak secara terang-terangan menentang keberadaan aktivitas ini sementara pihak lain terkesan acuh tak acuh bahkan cenderung mendukungnya. Sementara di level bawah, beberapa kali terjadi pertikaian dan perkelahian yang tidak jarang berujung pada adanya korban luka. Pemicunya adalah ketidaksukaan satu pihak atas kegiatan penambangan yang dilakukan pihak lain sehingga menimbulka perkelahian yang beberapa kali justru antar sesama yang masih bersaudara.

Penyebab Penambangan Emas

Tak ada suatu perbuatan pun yang dilakukan oleh manusia tanpa adanya alasan yang menjadi latar belakangnya. Demikian asumsi umum yang selalu melekat dalam suatu ilmu pengetahuan yang memfokuskan kajiannya pada aktivitas sosial manusia, sosiologi. Dalam konteks aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir, hal ini dapat pula menjadi landasan analisis yang akan coba penulis lakukan.

Aktivitas penambangan emas yang dilakukan beberapa orang masyarakat terhadap Sungai Tabir tidak muncul begitu saja alias ada faktor yang menjadi penyebab kemunculannya. Dalam konteks sederhana saja kita dapat mengetahui bahwa orang makan karena disebabkan lapar, maka apa sesungguhnya yang menjadi background menjamurnya penambangan emas di Sungai Tabir ini.

Secara sosiologis, masyarakat yang mendiami kawasan aliran sungai Tabir dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi. Hal ini karena keuntungan penjualan karet dari ribuan hektar perkebunan karet yang dimiliki masyarakat sangat mencukupi untuk memenuhi beragam kebutuhan mereka. Apalagi dengan harga jual karet yang pada tahun 2008 mencapai angka Rp. 18.000,- per kilogramnya, maka masyarakat wilayah ini menjelma menjadi ’desa brunei’. Dengan keuntungan hasil penjualan komoditas ekspor itu, masyarakat dapat membeli beragam kebahagiaan yang selama ini hanya ada dalam angan-angan mereka saja. Akan tetapi, anjloknya harga karet belakangan ini yang tidak sampai separo harga tahun lalu membuat beberapa warga berinisiatif mengusahakan pekerjaan lain, seperti men’dompeng’. Hal ini dilakukan disamping ingin mencoba pekerjaan lain, yang terutama disebabkan tingginya biaya hidup yang mesti dipenuhi di tengah lesunya penjualan karet di pasaran.

Akan tetapi, mengemukanya aktivitas penambangan emas ini bukan melulu disebabkan oleh faktor ekonomi sebagaimana yang disebutkan di atas dan diasumsikan banyak kalangan. Terdapat penyebab lain yang tak kalah juga mesti disimak, yaitu mengikisnya pemahaman masyarakat akan budaya atau kearifan lokal. Faktor ini coba penulis sebutkan dan ketengahkan ini karena di beberapa desa yang tingkat kesejahteraan mereka di bawah desa-desa lainnya justru tidak terjadi penambangan emas. Jika menyusuri sungai ini dari hulu hingga hilirnya akan terlihat dua kategori wilayah, yaitu wilayah yang kesejahteraan masyarakatnya tinggi dan wilayah yang kesejahteraan rakyatnya menengah. Indikasi yang paling mudah dan sangat terlihat adalah kepemilikan sarana transportasi dan bentuk rumah, di mana satu desa masyarakatnya memiliki sarana transportasi yang komplit dari sepeda motor hingga mobil yang hampir merata sementara di tempat lain sebaliknya. Begitu juga dengan rumah-rumah yang mereka tempati, satu desa masyarakatnya mempunyai rumah yang modern dan mewah lengkap dengan parabotannya, sementara desa lain terjadi sebaliknya.

Di wilayah yang kesejahteraan masyarakatnya rendah karena banyaknya rumah tangga yang hidup di bawah garis kemiskinan, justru tidak ada aktivitas penambangan emas. Meskipun di bagian sungai yang melintasi wilayahnya ada penambangan emas, tetapi dapat dipastikan bukan dilakukan oleh warga asli wilayah tersebut. Akan tetapi di wilayah ini pengahayatan akan kebudayaan lokal berupa kearifan lokal yang mengatur interaksi mereka dengan alam (baca: sungai) masih sangat kental dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Indikasinya adalah tetap terjaganya salah satu kearifan lokal yang berujud dalam format ’lubuk larangan’ yang banyak terdapat di bagian-bagian tertentu Sungai Tabir yang melintasi desa mereka. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas yang dapat merusak kelestarian sungai di tempat-tempat yang telah ditentukan tersebut, seperti penambangan emas. Sumberdaya yang ada dalam ’lubuk larangan’ berupa ikan tersebut hanya dapat dimanfaatkan sekali dalam setahun, di mana hasilnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Faktor lainnya yang menyebabkan munculnya penambangan emas di Sungai Tabir adalah merebaknya budaya konsumerisme di kalangan masyarakat. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa dengan keuntungan penjualan karet yang terus merangkak naik sejak belasan tahun belakangan ini, maka masyarakat Tabir dapat membeli beragam peralatan elektronik, telekomunikasi dan transportasi yang memang menjadi bagian dari budaya konsumen yang selama ini hanya ada dalam masyarakat perkotaan. Di saat krisis melanda hampir setiap sendi kehidupan, masyarakat Tabir tersentak dan melakukan beragam cara untuk memenuhi gaya hidup mereka tersebut. Akibatnya, sungai yang selama ini senantiasa terjaga kelestariannya menjelma menjadi lahan pertambangan dan ruang dengar masyarakat dipenuhi gemuruh suara mesin penyedot pasir dan kerikil.

Faktor lainnya yang tak kalah mesti diperhatikan dalam melihat latar belakang maraknya pertambangan emas di sungai ini adalah ketiadaan figur yang menjadi panutan di tengah masyarakat. Budaya konsumerisme dan modernisasi yang kian kencang menerjang sendi-sendi kehidupan masyarakat membuat orang tak lagi begitu peduli dengan orang lain. Akibatnya, masyarakat menjadi gamang tanpa tuntunan yang berarti dari orang yang biasanya menuntun mereka. Bahkan, tidak jarang justru orang yang selama ini menjadi anutan karena posisi pentingnya di masyarakat menjadi penyokong utama aktivitas degradasi sungai ini. Padahal semua orang tahu bahwa ia memiliki segudang pengetahuan budaya lokal dalam bentuk bait-bait pantun (saruko) yang menganjurkan untuk menjaga kelestarian sungai sebagai bagian integral kehidupan.

Sedangkan faktor terakhir dalam analisis penulis adalah sistem penerimaan pekerja di perkebunan karet yang kurang mengakomodasi masyarakat lokal. Sebagaimana diketahui bahwa pengusahaan perkebunan karet telah lama dilakukan oleh masyarakat Tabir dan sejak saat itu pula sektor ini telah menjadi tumpuan masyarakat untuk menghidupi keluarganya. Hanya saja dalam perjalanannya tenaga kerja yang terlibat dalam sektor komoditas ekspor ini lebih banyak diisi oleh tenaga dari luar, khususnya Jawa. Para pemilik kebun (tauke) lebih mempercayai pengerjaan perkebunan karetnya kepada tenaga-tenaga dari Jawa ketimbang orang-orang setempat karena diyakini lebih ulet dan menghasilkan hasil yang maksimal. Akibatnya, tenaga lokal seringkali tidak diakomodasi kecuali untuk kebun-kebun yang tidak terlalu produktif lagi alias sudah tua. Orang-orang yang bekerja di tempat inilah yang kemudian banyak bergabung dengan aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir ini.

Penutup: Solusi Penyelesaian

Mengetahui penyebab mengemukanya suatu masalah bertujuan untuk mendapatkan solusi berdasarkan faktor-faktor yang ada tersebut. Aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir telah berlangsung cukup lama, tepatnya dimulai sejak dua tahun yang lalu, dan masih berlangsung hingga saat ini. Solusi penyelesaiannya tentu diharapkan secepatnya dapat dilakukan agar kelestarian sungai sebagai salah satu resources utama yang telah lama menjadi bagian integral manusia dapat segera diselamatkan.

Aspek ekonomi bagaimana pun harus diakui sebagai faktor utama mengemukanya aktivitas penambangan emas, dengan segala dimensinya tentunya. Untuk itu, sudah saatnya segenap stakeholder yang berkecimpung dalam hal ini, utamanya pemerintah, untuk memikirkan langkah kongkrit di bidang ekonomi sehingga aktivitas ‘dompeng’ ini tidak lagi berlangsung. Langkah yang dapat diambil dari sisi ini, diantaranya, membangun pabrik pengolahan karet menjadi barang jadi di kawasan yang selama ini menjadi kantong-kantong perkebunan karet. Baik berupa pabrik ban, maupun pabrik pengolahan beragam kebutuhan lainnya yang berbahan baku karet. Seperti diketahui bahwa selama ini yang dibangun di kawasan-kawasan perkebunan karet adalah pabrik pengolahan karet setengah jadi saja untuk kemudian dikirim ke daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri seperti Singapura, yang memiliki pabrik pengolahan barang jadi.

Dengan adanya pabrik barang jadi ini maka pengusahaan perkebunan karet menjadi tidak lagi terkendala pada pemasaran yang selama ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Di samping itu, dengan adanya pabrik pengolahan barang jadi tersebut maka harga jualnya pun dapat meningkat. Dan yang tak kalah pentingnya dampak dari terobosan ini adalah tersedianya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat tanpa merusak eksistensi sumberdaya alam seperti penambangan emas di sungai.

Langkah lainnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti penting pelestarian lingkungan. Menurut analisis penulis, langkah ini belum pernah dilakukan kepada masyarakat yang sekarang menghadapi ancaman degradasi sungai. Langkah yang dimaksudkan ini dapat mewujud dalam beragam format, baik berupa penyuluhan maupun menghidupkan kembali aneka kebudayaan lokal yang berkaitan dengan pelestarian alam. Langkah ini dapat dilakukan oleh siapa pun, utamanya oleh pemerintah dengan didukung Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) yang menaruh kepedulian terhadap ancaman degradasi sungai.

Bukti nyata efek positif yang diperlihatkan oleh langkah ini adalah apa yang dilakukan beberapa desa sepanjang Sungai Tabir dengan merevitalisasikan kembali kearifan lokal yang mereka miliki. Hal ini mewujud dalam penetapan zona-zona ‘lubuk larang’ pada bagian sungai yang melintasi wilayah mereka. Ancaman degradasi sungai di kawasan ini sangat minim dibandingkan dengan kawasan lain yang tidak menerapkannya, di samping dari sisi ekonomi masyarakat juga merasakan hasilnya dengan ikan yang dapat dikonsumsi. Penetapan zona-zona larangan ditambahkan dengan penyuluhan dan penyebaran informasi mengenai pelestarian lingkungan menjadi salah satu solusi yang seharusnya dilakukan.

Semoga dengan solusi yang coba penulis tawarkan ini, Sungai Tabir yang sejak dahulu menjadi bagian integral masyarakat kembali lestari dan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, Amin.

_____________________

Penulis adalah Young Social Researcher asal Rantau Limau Manis Tabir Ilr Merangin yang menempuh pendidikannya di Program Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat ini tinggal di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: