CERPEN ‘TRAGEDI CINTA’

Oleh: Mushtafa Luthfi al-Manfaluthi

Baru-baru ini tinggal seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun di sebuah kamar bagian atas di sebelah rumahku, sepertinya ia seorang pelajar pada salah satu sekolah menengah di Mesir. Aku pernah melihatnya melalui jendela ruangan kantorku yang berdekatan dengan sebagian jendela kamarnya. Terlihat di sana seorang pemuda yang pucat, kurus, dan sayu sedang duduk menghadap lampu yang terang di salah satu sudut kamar sambil melihat ke buku, menulis diari, atau menghapal pelajaran, atau mengulang pelajarannya.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ia lakukan, sampai aku kembali ke rumah beberapa hari yang lalu setelah pertengahan malam yang dingin, dan masuk ke ruangan kantorku karena ada beberapa urusan, kemudian aku memperhatikannya yang ternyata ia duduk di depan lampu, dan mendekapkan wajahnya pada secarik kertas memakai kedua tangannya di atas meja, sepertinya ia sudah terlalu lelah dalam belajar dan karena terlalu banyak begadang hingga membuatnya kantuk yang membuatnya segera merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian ia terjatuh, aku tetap saja memperhatikannya sampai ia mengangkat kepalanya hingga terlihat kedua matanya basah oleh air mata karena menangis, deraian air matanya juga membasahi halaman kertas tempat ia menangis hingga membuat kalimat yang tertulis di atasnya menghilang dan berpencaran satu sama lain, kemudian dengan tanpa menghiraukan apa yang terjadi dengan dirinya, ia mengambil pena dan kembali larut dengan apa yang tadi dilakukannya.

Pemandangan ini membuatku terharu, di tengah gelap dan heningnya malam pemuda tak berpengharapan dan miskin ini hidup sendirian dalam kamar yang dingin, tak memiliki pakaian dan perapian untuk menghangatkan badan dari hawa dingin, ia mengadu atas kesedihan-kesedihan hidup, atau malapetaka-malapetakanya sebelum berubah menjadi beragam kesengsaraan dan nestapa, dimana ia tak mendapati pertolongan dan bantuan di sekelilingnya. Aku berkata: seharusnya ada di belakang pemandangan kerdil dan pucat ini suatu penyokong berupa jiwa yang bersih dan tegar serta mengaliri di antara tulang-tulang rusuknya. Aku tetap tak beranjak dari tempatku dan tak lagi menghiraukannya, sampai aku melihatnya menutup bukunya, beranjak dari tempat duduk dan berbaring di atas tempat tidur. Aku pun beranjak dari tempatku, dan ternyata malam telah semakin mendekati pagi hingga hampir tak tersisa kegelapannya di semesta ini kecuali sebagian kecil berupa garis memanjang yang membentuk cikal pagi yang akan segera menjelang.

Sejak saat itu, aku seringkali melihatnya menangis sepanjang malam, kadangkala ia tertunduk lesu atau mengurut-urut dadanya, bahkan seringkali pula terlihat ia menelungkupkan badannya di tempat tidur. Ia merintih layaknya ibu yang kehilangan anaknya atau menderita karena sempitnya ruangan yang ditempatinya. Kemudian ia membersihkan dinding kamarnya hingga bila hal ini terus dilakukannya dengan sungguh-sungguh, maka ia terjatuh ke atas kursinya dengan menangis sesenggukan. Aku pun terharu melihatnya hingga tanpa terasa aku menangis dan berkhayal andai saja aku dapat masuk ke sana layaknya seorang yang menolong sahabatnya. Kemudian aku memintanya untuk menceritakan segalanya kepadaku dan aku akan menemaninya dalam kesedihan, meskipun aku juga tak ingin mengagetkannya dengan sesuatu yang tak disukainya dan aku akan menghapus rahasia yang kiranya masih terbenam dalam dadanya serta menjaganya dari orang lain. Keadaan ini terus berlangsung sampai aku memperhatikannya kemaren di tengah malam yang sunyi, kamarnya tampak gelap dan sepi, aku kira ia sedang keluar karena beberapa urusan.

Tak lama berselang aku mendengar suara rintihan pelan berkepanjangan di sudut kamar, aku cemas mendengarnya dan menganggap bahwa suara itu ditujukan kepadaku, yaitu rintihan yang keluar dari kedalaman jiwa. Seakan-akan aku mendengar kesedihannya dalam hatiku yang terdalam, aku pikir mungkin pemuda ini sedang sakit dan tak ada yang merawatnya. Masalah makin serius dan aku harus segera ke sana. Aku pun meminta pembantuku untuk menyiapkan lentera. Aku pun sampai di rumahnya dan naik ke tingkat atas hingga tepat di depan pintu kamarnya. Setelah berada di dalam, aku dibuat kaget dengan apa yang aku temui, aku menyaksikan sebuah pemandangan layaknya seorang yang berdiri di depan sebuah kuburan yang dipersiapkan sebagai bekal hari terakhir dalam hidupnya.

Kemudian aku masuk ke kamarnya, ia pun membuka kedua matanya setelah mengetahui kehadiranku, ia terlihat kebingungan atau bisa jadi masih mengantuk, dan dengan bantuan lentera yang ada di kedua tangannya, ia berusaha mengenaliku, seorang laki-laki yang tak dikenal pikirnya. Ia pun terlihat mengkhawatirkan kedatanganku dengan tidak berkata apapun serta memalingkan wajahnya. Aku pun mendekat ke tempat tidurnya dan duduk di sampingnya seraya berkata: aku adalah tetanggamu yang juga menempati rumah ini, beberapa saat yang lalu aku mendengar rintihan suaramu meminta pertolongan, aku mengira bahwa kamu sendirian di kamar ini, maka aku berusaha mengetahui masalahmu dan berharap dapat menjadi penolong dalam mengatasi masalahmu, apa kamu sakit?.

Perlahan ia mengangkat tangannya dan meletakkan di atas keningnya, aku pun melakukan hal yang sama. Tanganku terasa sangat hangat hingga aku menganggap kalau ia sedang demam. Kemudian pandanganku beralih ke badannya, maka aku pun menyaksikan sebuah pemandangan yang selama ini aku anggap hanya hayalan belaka, pakaian yang ia kenakan terlihat sangat longgar karena badannya kurus kering hanya berbalut kulit tanpa daging.

Kemudian aku menyuruh pembantuku untuk membawakan sirup khusus penderita demam yang ada di rumah dan meminumkan kepadanya sedikit-demi sedikit. Ia melihat kepadaku dengan pandangan tulus dan berkata: terima kasih.

Aku pun berkata: Apa keluhanmu saudaraku?.

Ia menjawab: Aku tak mengeluhkan apa-apa.

Aku berkata: Sudah lama anda mengalami kondisi ini?.

Ia menjawab: Tidak tahu.

Aku berkata: Anda butuh perawatan dokter, bolehkah aku memanggilnya untuk memeriksa kondisimu?.

Ia pun menghela nafas panjang dan memandang kepadaku dengan pandangan iba, dan berkata: Sesungguhnya dokter hanya akan memperpanjang hidup dari kematian.

Kemudian ia memejamkan kedua matanya dan kembali tenggelam dengan kekalutan pikiran dan rasa kantuknya, tetapi aku tetap berinisiatif untuk memanggilkan dokter, diizinkannya atau pun tidak. Selang beberapa lama, dokter pun datang dengan menggerutu dan mencak-mencak serta mengeluh –padahal ia tahu bahwa aku tahu jika ia sedang menggerutu- kegelisahan di tempat duduknya. Ia menyesal telah memilih untuk datang di tengah malam yang gelap dan dingin, tapi aku tak menghiraukannya karena aku tahu cara untuk mengatasinya. Kemudian ia memeriksa denyut nadi pasien dan berbisik di telingaku: Sesungguhnya pasien ini menderita penyakit kronis dan menurutku umurnya tidak beberapa lama lagi kecuali atas kehendak Allah yang di luar pengetahuan kita. Kemudian ia kembali duduk dan menulis masalah yang dihadapi pasien ini layaknya yang biasa dilakukan para dokter kepada para perawatnya agar memotivasi para pasiennya untuk hidup lebih lama lagi.

Kemudian ia berhenti dari aktivitasnya setelah tahu bahwa aku tak memperhatikan saran yang dikemukakan dan dikehendakinya. Kemudian aku menebus obat yang direkomendasikan dokter dan menemani pasien demam ini sampai larut malam. Seringkali ketika memberinya obat, aku menangisi kondisi yang dialaminya hingga tanpa terasa pagi menjelang. Siang pun kian meninggi dan kedua matanya mengedarkan pandangannya seputar tempat tidurnya hingga menemukanku, maka ia berkata: anda masih di sini?

Aku menjawab: Ya, dan aku berharap kondisimu saat ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Ia berkata: Semoga.

Aku berkata: Bolehkah aku bertanya, hai saudaraku!, siapakah anda sebenarnya? Dan kenapa sendirian di kamar ini? Apakah anda orang asing di daerah ini? Atau anda penduduk asli sini? Apakah anda menderita penyakit fisik atau penyakit batin?.

Ia menjawab: Aku mengalami keduanya.

Aku berkata: Bersediakah anda untuk menceritakan masalahmu kepadaku, dan memaparkan penderitaan yang anda alami di hadapanku layaknya seorang sahabat, sungguh aku akan menjadi penolong bagimu?.

Ia berkata: Apakah anda sanggup menjaga rahasiaku ini jika Allah memutuskan masalah hidupku, dan menyampaikan wasiatku jika terjadi sebaliknya?.

Aku menjawab: Tentu.

Ia berkata: Aku percaya janjimu, sungguh barangsiapa yang memiliki hati yang mulia seperti hatimu, maka ia tak akan berbohong dan berkhianat.

Aku adalah fulan bin fulan yang ditinggal mati oleh ayahku sejak lama. Ia meninggalkanku saat umurku baru menginjak enam tahun dalam kondisi miskin tak memiliki apa-apa. Aku tak memiliki sedikitpun dari perhiasan dunia. Kemudian aku dipelihara oleh pamanku bernama fulan, seorang yang sangat baik, mulia, dan penyayang. Sungguh beliau telah memperlakukan aku dengan baik dan tak ada yang menandinginya kecuali anak perempuannya, seorang gadis kecil seusia denganku atau sedikit lebih muda. Telah lama ia memimpikan seorang kakak yang selalu ada di sampingnya, tapi impian ini tak kunjung jadi kenyataan. Untuk itu, orang tuanya berpesan kepadaku untuk menjaga anaknya dan menyekolahkan kami di sekolah yang sama dalam waktu bersamaan.

Aku memperlakukannya dengan baik layaknya perlakuan kakak kepada adik perempuannya, dan menyayanginya dengan penuh kasih dan dalam keluarganya aku mendapatkan kegembiraan dan kesenangan yang menghapus segala penderitaan yang setiap saat senantiasa menyelimutiku, terutama setelah meninggalnya ayahku. Tak ada orang yang melihat kami kecuali selalu bersama, berangkat ke sekolah dan begitu juga pulangnya, begitu juga bermain di halaman rumah, bercengkrama di taman atau berkumpul di aula atau bercakap-cakap di kamar tidur hingga datang saat yang membuat kami harus berpisah tempat tidur, dan aku meneruskan studiku.

Ada sebuah kesepakatan antara hatiku dan hatinya, yaitu kesepakatan yang tak bisa dilakukan karena akan berakibat aib di kemudian hari. Aku merasakan nikmatnya hidup jika berada di sampingnya, aku tak melihat cahaya kebahagiaan kecuali dalam fajar senyumannya, aku merasakan setiap waktu kenikmatan hidup jika dilalui bersama di sampingnya, dan aku belum pernah menjumpai seorang gadis yang memiliki tingkah laku yang baik, sopan santunnya, kecerdasannya, kelembutannya, kasih sayangnya, rendah hatinya, kemuliaannya dan tanggung jawabnya kecuali dalam dirinya.

Dan aku pasti bisa, meskipun aku berada dalam pekatnya malam penuh duka dan kesedihan. Aku melihat begitu jauhnya sayap cahaya keputihan dari kebahagiaan yang telah menaungi kami bersama di waktu kecil, maka ia terbit atas jiwa kami seperti lezatnya anggur dalam cawannya. Dan aku juga melihat taman nyanyian tempat kebahagiaan kami itu dan tempat penggembalaan cita-cita dan mimpi-mimpi kami, seakan-akan ia hadir di antara kedua tanganku hingga aku bisa melihat kilauan airnya, sinar kerikil-kerikilnya, cabang-cabang pohonnya, warna-warni bunga-bunganya, itulah ruang batu tempat kami berada pada dua ujung siang, di sini kami berkumpul bicara hal-hal yang kami sukai, atau kekuatan yang kami himpun di antara bunga-bunganya, atau buku yang kami balikkan halaman-halamannya, atau lukisan yang ingin cepat-cepat kami selesaikan.

Itulah pepohonan rindang dan hijau tempat kami bernaung di bawahnya setiap kali kami bebas dari problem-problem persaingan dalam permainan, kami merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak burung yang menghangatkan diri pada dada induk-induknya. Dan itulah danau kecil yang kami gabungkan dari beberapa kolam di pinggiran parit yang kami isi dengan air, kemudian kami duduk di sekitarnya untuk memancing ikan-ikannya yang telah kami letakkan di dalamnya dengan kedua tangan kami, maka kami senang ketika kami berhasil menangkapnya seakan-akan kami telah memenangkan sesuatu yang besar.

Dan itulah sangkar emas yang indah tempat kami memelihara burung-burung kami, kemudian kami menghabiskan sebagian besar waktu kami untuk berada di sampingnya dengan mengagumi keindahannya, kadang ia menghirup air dan kadang pula mengumpulkan biji-bijian dan kami memanggilnya dengan nama-nama yang telah kami berikan sebelumnya, dan bila kami mendengar kicauannya, maka kami mengganggap bahwa ia menyahut panggilan kami.

Aku tak tahu apakah sesuatu yang aku simpan dalam diriku tentang anak perempuan pamanku ini adalah kasih dan sayang, atau cinta dan nafsu, tetapi aku tahu bahwa rasa itu hanya impian tanpa pengharapan. Apa yang aku katakan kepadanya suatu hari bahwa aku mencintainya karena aku menyayanginya –padahal ia anak perempuan pamanku dan teman kecilku- adalah awal terbukanya luka yang perih di hatinya. Dan pada hari-hari selanjutnya diriku tak mampu untuk menghubungkan sebab-sebab hidupku dengan sebab-sebab hidupnya karena aku tahu bahwa kedua orang tuanya tak akan merestui pemuda miskin sepertiku untuk menjadi pendampingnya. Dan tak sedikit pun dapat aku lakukan kepadanya layaknya orang-orang yang tengah jatuh cinta karena aku menghormatinya untuk tak melakukan hal itu.  Dan aku tak berpikir bahwa suatu hari aku akan melihat sesuatu yang tersembunyi di balik dirinya karena aku mengetahui setiap jengkal yang ada di hatinya, apakah itu ruang bagi seorang saudara hingga aku harus memendamnya? Atau ruang bagi seorang kekasih hingga aku memohon kepada kedua orang tuanya untuk memenuhi keinginannya? Tetapi, cintaku kepadanya adalah cinta seorang pendeta yang hidup membujang kepada sebuah potret gadis cantik di kedua tangannya dalam biaranya, selalu memujanya tetapi tidak dapat memilikinya.

Masalah yang aku hadapi ini masih terus berlanjut hingga sampai ketika ia harus merawat pamanku yang terserang penyakit kronis yang membuat beliau berpulang ke hadirat Tuhannya. Dan di akhir hayatnya, beliau sempat berpesan kepada istrinya dengan berbaik sangka: “Sungguh kematian telah membuatku tergesa-gesa untuk memutuskan nasib anak laki-laki ini, selama ini aku telah menjadi ibu sekaligus juga ayah baginya, maka aku berpesan kepadamu agar tak menyia-nyiakannya sepeninggalku nanti”.

Tak lama berselang setelah kematian paman, tibalah hari-hari buram dalam hidupku di mana aku melihat wajah-wajah yang seakan tak berwujud, pandangan-pandangan yang bukan biasanya terlihat dan hal-hal asing yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari seorang istri pamanku. Ia mulai menghadirkan kesedihan dan keputus-asaan kepadaku, dan mengetengahkan ke hadapanku untuk yang pertama kalinya dalam hidupku di mana aku merasa menjadi sangat asing dalam rumah ini, dan dunia ini benar-benar sirna dari hadapanku.

Di suatu pagi, ketika aku sedang duduk di kamar, masuklah seorang pembantu perempuan. Ia seorang wanita yang baik dan berdiri di hadapanku dengan malu-malu dan terbata-bata sambil berkata: “Nyonya telah menyuruhku untuk menyampaikan kepadamu, tuan, bahwa beliau telah memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya dalam waktu dekat ini. Dan beliau tahu mengenai keberadaanmu di sisinya setelah kematian ayahnya dan cukupnya usia kalian berdua, tetapi yang membuatnya ragu adalah mengenai lamaran karena beliau ingin kedua pengantin kelak menempati rumah layaknya istana sebagai tempat tinggal. Untuk itu, beliau memintamu untuk pindah ke rumah mana saja yang kau sukai untuk menghabiskan waktumu dengan segala persoalanmu, hal ini karena sepertinya kau tak bisa berpisah darinya.

Seakan-akan ia sengaja menimpakan beban berat ke dalam jantungku, tetapi aku berusaha menahannya perlahan-lahan sambil berkata kepadanya: Insya Allah, akan aku laksanakan dan tak ada yang lebih disenangi selain melakukan hal itu. Pembantu perempuan itu pun berlalu pergi meninggalkanku. Kemudian aku menyendiri beberapa saat untuk mencari jalan keluar atas kesedihan yang ditimpakan Allah kepadaku. Ketika malam menjelang, aku pun mempersiapkan kopor dan mengisinya dengan pakaian-pakaian dan buku-buku serta berkata kepada diriku:

“Sungguh setiap kebahagiaan yang aku jalani dalam hidup ini adalah hidup di samping orang yang aku cintai itu, tetapi ia telah berlalu pergi, dan tak ada yang tersisa setelah kepergiannya”.

Kemudian aku pergi dari rumah dengan diam-diam tanpa seorang pun yang tahu dan sebelum berangkat aku pun tak memberikan apa-apa kepada anak perempuan pamanku selain melihat sekilas kepadanya dari balik tirai tipis jendela kamarnya, saat itu ia tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Itulah kali terakhir pertemuanku dengannya.

Demi kamu tak akan aku tinggalkan Baghdad dengan benci

Jika kita dapati dari perpisahan itu kehilangan dirinya

Cukuplah kesedihan dengan meninggalkannya tanpa ucapan

Selamat jalan dan bertanya tempat tinggalnya

Demikianlah aku tinggalkan rumah yang telah memberikanku banyak kebahagiaan sejak kepergian Adam dari surganya. Aku keluar dengan terusir, tersingkir, kebingungan dan dengan hati yang terluka serta akumulasi beragam penderitaan dan kesedihan. Suatu perpisahan yang tak mungkin untuk bertemu lagi dan seorang miskin yang tak memiliki apa-apa serta perempuan asing yang tak akan aku temui pada manusia mana pun dalam segala musim dan tidak juga di semua mata angin.

Aku tak memiliki apa-apa sebagai bekal hidupku kecuali sisa-sisa dari kenikmatan yang telah tinggal kenangan. Kemudian aku menyewa ruangan di apartemen ini sebagai tempat tinggal, tetapi aku hanya sanggup tinggal di dalamnya satu jam saja dan aku memutuskan untuk bepergian kemana saja untuk mencari rizki dalam kemurahan Allah dan keluasan alam semesta-Nya sebagai pengobat jiwaku dari penderitan-penderitaan dan kesedihan-kesedihan berpisah dengannya. Maka aku melakukan perjalanan yang panjang dan memakan waktu hingga berbulan-bulan, di mana aku tak memasuki suatu negeri sampai jiwaku menentangnya pada yang lain dan matahari tak bersinar di suatu tempat sampai ia tenggelam di tempat lain hingga aku merasakan ketenangan dalam jiwaku di akhir perjalanan tersebut seperti tenangnya air mata yang tertahan di karantina mata, tak mengalir dan tak meresap.

Aku menikmati kondisi itu dan tanpa terasa waktu studi Sekolah Dasar pun telah mendekat, maka aku memutuskan untuk pulang. Aku bertekad dalam diriku untuk hidup di dunia ini sendiri saja sebagai masyarakat, tak ada sebagai ada, jauh sebagai dekat, mengacuhkan masalah jiwaku dari setiap masalah selainnya dan mengoreksi kealpaan masa lalu dengan mendekatkan tempat tinggal dan pemandangan-pemandangannya. Untuk itu, maka aku buat kamar dan sekolahku di antara keduanya tak terpisahkan dan tak ada yang tersisa dari masa lalu dalam diriku selain gejolak-gejolak yang selalu hadir dalam hatiku dari waktu ke waktu, maka aku mengobatinya dengan deraian air mata yang bercucuran dari mangkuk dalam kesendirianku yang tak ada yang mengetahuinya selain Allah. Beginilah aku mendapatkan kesejukan peristirahatan dalam dadaku.

Aku tinggal di sana hanya dalam beberapa waktu saja dan kembali lagi jika telah memiliki cukup uang, dan jika habis atau kurang maka aku bersiap-siap untuk hidup sederhana dan membagi rata untuk kebutuhan-kebutuhan pendidikan. Sekolah di negeri ini layaknya kedai kasar yang tidak menjual produk cicilan, ilmu pengetahuan dalam masyarakat ini adalah anugerah yang dianugerahkan oleh orang-orang yang mendapat anugerah, dan tidak ada yang cuma-cuma diberikan oleh orang-orang baik, maka aku menyemangati diriku dan aku tahu bahwa aku adalah pengontrol bahaya. Aku tak tahu cara untuk menghimpun kekuatan dengan kekayaan dan tanpa tipu daya, maka aku kembalikan kepada buku-bukuku yang tak menyisakan kekayaan di dalamnya, kemudian sisa-sisanya aku bawa ke pasar kertas dan aku berjualan di sana seharian penuh, namun hasil yang aku peroleh tak lebih dari seperempat harga yang sesungguhnya. Kemudian aku kembali dengan sedih, berantakan dan tak ada wajah yang lebih menyedihkan dari pada aku di muka bumi ini.

Dan ketika aku sampai di depan pintu rumah, aku melihat di halaman seorang wanita sedang bertanya penghuni rumah yang aku tempati. Setelah bertanya kepada beberapa orang, ternyata ia adalah pembantu yang dulu membantuku di rumah paman, maka aku bertanya kepadanya: Ibu itu?

Ia menjawab: Ya.

Aku berkata: Ada keperluan apa ibu datang kesini?

Ia menjawab: Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, bolehkan!

Kemudian aku naik bersamanya menuju kamarku, dan setelah sampai, aku pun berkata: Silahkan!

Ia berkata: Selama tiga hari aku berusaha mencarimu di setiap tempat, tetapi aku tak menemukan seorang pun yang menunjukkanku kepadamu  hingga hari ini aku ketemu denganmu setelah hampir berputus asa.

Kemudian ia menangis dengan suara meninggi; karena aku kuatir tangisannya menyebabkan terjadinya sesuatu di rumah yang sangat aku sayangi ini, maka aku berkata: Kenapa ibu menangis?

Ia menjawab: Tidakkah kau tahu berita-berita tentang rumah pamanmu?

Aku berkata: Tidak, memangnya apa yang terjadi?

Kemudian ia menjulurkan tangannya ke dalam selendangnya dan mengeluarkan sebuah buku yang tersampul rapi. Buku itu kemudian diberikan kepadaku dan aku pun membuka sampulnya, ternyata di dalamnya berisi tulisan anak perempuan pamanku. Kemudian aku membaca di dalamnya satu kata yang akan selalu aku ingat sampai hari kiamat: “Sungguh kau telah meninggalkanku dan tidak menyampaikan pesan apa-apa, tapi aku telah memaafkanmu. Sedangkan sekarang aku tengah di ambang kematian, aku tak akan memaafkanmu jika kau tak datang kepadaku untuk menyampaikan pesan terakhir”.

Buku itu kemudian aku lepaskan dari tanganku dan bergegas menuju pintu, tetapi pembantu tersebut memegang bajuku sambil berkata: Mau pergi kemana tuanku?

Aku berkata: Ia sekarang sedang sakit dan aku harus menjenguknya. Pembantu perempuan itu terdiam sejenak dan kemudian berkata dengan suara lirih: Tidak usah, tuanku, karena kematiannya telah mendahuluimu.

Di sinilah aku merasakan hatiku terpisah ke tempat lain yang aku tak tahu. Kemudian bumi yang luas berputar dengan suatu putaran dan aku terjatuh di atas sisanya di tempatku, aku tak merasakan apa-apa di sekitarku. Aku terus berputar tak berhenti dan selang beberapa saat kemudian aku membuka kedua mataku, ternyata malam telah menjelang dan pembantu itu tetap berada di sampingku sedang menangis dan meratap.

Kemudian aku mendekat kepadanya dan berkata: Ibu, apakah benar yang tadi ibu katakan?

Ia menjawab: Benar.

Aku berkata: Ceritakan semuanya kepadaku.

Kemudian ia berkata:

Sesungguhnya anak perempuan pamanmu, hai tuanku, tidak merasa nyaman setelah kepergianmu. Suatu hari di saat kau pergi ia bertanya kepadaku mengenai sebab kepergianmu, maka aku pun menceritakan kepadanya mengenai surat dari istri pamanmu yang aku berikan kepadamu, dan dengan tanpa penambahan apapun ia berkata: “Apa yang akan terjadi dengan pemuda miskin dan putus asa ini! Sesungguhnya mereka tak mengetahui apa-apa mengenai persoalannya dan persoalanku”. Kemudian belum hilang ingatanmu setelah itu tentang ucapannnya yang baik, dan tidak buruk seakan-akan mengobati jiwanya yang tersiksa dan menderita.

Hari-harinya dilalui dengan singkat hingga beragam penyakit menggerogoti dirinya, kondisinya berubah tak menentu, air kecantikannya telah meresap dan senyuman-senyumannya yang menarik itu telah lenyap. Kemudian ia terjatuh ke atas ranjang karena sakit satu hari dan tersungkur dalam beberapa hari selanjutnya. Mengetahui hal ini, ibunya menjadi takut dan mendatanginya agar melupakan ingatannya tentang pernikahan dan resepsi, lamaran dan pelamar. Akan tetapi ia terus menyebut-nyebut hal itu siang dan malam, meskipun demikian ia tidak memanggilkan dokter maupun dukun kecuali ketakutan dengan persoalan yang menimpa anak perempuannya, ia tak memanggilkan dokter maupun dukun, akibatnya gadis ini makin mendekati kematian secara perlahan-lahan.

Setiap malam aku terus berjaga di samping tempat tidurnya hingga suatu saat aku merasakannya bergerak dalam baringnya, kemudian aku mendekat kepadanya dan ia memberi isyarat kepadaku untuk memegang tangannya, maka aku pun melakukannya, barulah ia duduk dan berkata: Jam berapa malam ini?

Aku menjawab: Tengah malam.

Ia berkata: Kamu sendirian di sini?

Aku menjawab: Ya, penghuni yang lain telah lama tidur.

Ia berkata: Tahukah kau dimanakah kiranya anak laki-laki pamanku sekarang ini?

Aku terkejut mendengar kata-kata yang belum pernah aku dengar di hari sebelumnya itu, dan aku menjawab: Tentu, aku tahu tempatnya. Padahal saat itu aku tak mengetahui apa-apa, tetapi aku kasihan dengan benang tipis yang tersisa di tangannya ini yang merupakan cita-cita yang akan dinikmatinya, maka kemudian terputus dengan putusan akhir dari jahitan-jahitan nasibnya.

Kemudian ia berkata: Bisakah kau bawakan kepadanya sebuah surat dariku yang tidak diketahui oleh siapa pun isinya?

Aku menjawab: Dengan senang hati, tuanku.

Kemudian ia memberi isyarat kepadaku untuk mendekat kepadanya, aku pun mendekat, maka ia menulis surat yang ditujukan kepadamu sebagaimana yang kamu lihat ini. Dan ketika waktu subuh datang, aku pun pergi mencarimu ke segala penjuru tempat, berusaha menyelidiki wajah-wajah orang-orang yang sedang sarapan dan beristirahat berharap dapat menemukanmu dan melihat seseorang yang dapat memberitahuku tempat tinggalmu, tetapi aku selalu gagal hingga matahari tenggelam. Selanjutnya, aku pulang ke rumah dan saat itu telah lewat tengah malam ketika aku mendengar berita kematian, aku tahu bahwa panah telah mengenai sasarannya dan kelopak terakhir dari mawar nan cantik yang telah mengisi dunia dengan keindahan dan keelokannya itu telah jatuh ke tanah. Aku sangat sedih. Tak ada hari-hari yang dilaluinya kecuali diisi dengan menangis dan menangis.

Dan perhatianku yang terbesar kepadanya adalah harapannya untuk dapat bertemu denganmu di saat-saat akhir hidupnya, tetapi ia selalu gagal dan meninggal tanpa pernah terwujud impiannya. Aku tak pernah menutupi masalah surat ini dalam diriku dan tak juga berhenti mencarimu hingga aku menemukanmu.

Kemudian aku berterima kasih kepadanya atas apa yang dilakukannya dan mempersilahkannya untuk beranjak, ia pun beranjak pergi. Tinggallah aku sendiri hingga aku merasa bahwa mendung hitam turun perlahan-lahan ke atas kedua mataku sampai menutupi pandanganku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi kemudian hingga aku melihatmu.

***

Cerita mengenai pemuda ini tidak hanya berhenti sampai di sini karena kemudian aku mendengar bunyi yang menurutku hatinya terpecah dan inilah bagian-bagiannya.

Aku pun mendekat kepadanya dan bertanya: Ada apa, tuan?

Ia menjawab: Sesungguhnya aku butuh satu tetes air mata yang membuatku dapat melihat apakah aku ada di dalamnya, tetapi tak aku dapatkan.

Kemudian ia terdiam cukup lama, aku mengira bahwa ia tengah memikirkan beberapa kata, maka aku memiringkan badanku kepadanya dan ia berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku orang asing di dunia ini tak ada tempat bersandar dan tanpa penolong, dan aku seorang yang miskin tak punya kekayaan, dan aku seorang yang lemah tak tahu jalan untuk mendapatkan rizki-Mu dan sesungguhnya beban yang menimpa hatiku semakin berat aku menanggungnya dan aku malu kepada-Mu untuk memanjangkan tanganku kepada jiwa yang telah Engkau titipkan dengan tangan-Mu di antara kedua sisiku maka cabutkanlah ia dari tempatnya dan letakkanlah ia di wajah-Mu dengan marah dan murka. Serahkanlah urusannya kepada tangan-Mu dan kembalikanlah titipan-Mu kepada-Mu dan tempatkanlah ia pada tempat-Mu yang mulia. Sungguh seindah-indahnya tempat adalah tempat-Mu dan senikmatnya tinggal adalah berada di samping-Mu”.

Kemudian ia mengusap kepalanya dengan tangannya seakan-akan akan beranjak pergi dan berkata dengan suara lirih: Aku merasa kepalaku terbakar dan hatiku meleleh. Aku merasa tak ada yang tersisa dari semua ini, apakah kau mau berjanji untuk menguburkanku bersama dengannya, juga suratnya jika Allah memutuskan kematianku?

Aku menjawab: Tentu, aku berdoa agar Allah menyelamatkanmu.

Ia berkata: Saat ini, kematian lebih baik dari segalanya.

Kemudian ia tergunjang dan tak bergerak lagi.

***

Keberadaanku di sini telah memudahkan pemuda miskin dan putus asa ini untuk menyampaikan wasiat seperti yang diinginkannya, maka aku mengusahakannya dapat dikubur bersama anak perempuan pamannya, dan aku kuburkan juga bersamanya surat yang dimintanya. Ia terlalu lemah untuk menyambut panggilan kekasihnya di masa hidupnya, tetapi ia dapat melakukannya di saat kematiannya.

Demikianlah berkumpulnya di bawah satu langit dua jiwa yang jujur dan setia yang merasakan kesempitan dalam hidup keduanya di dunia, tetapi merasakan kelapangan di kematiannya dalam liang lahat.

_____________

Al-Manfaluthi (1876-1924) adalah seorang sastrawan Mesir kawakan yang karya-karya sastranya dikenal memiliki cara yang jelas dan bertemakan masalah-masalah keseharian masyarakat sehingga mudah dicerna oleh para penikmat sastra. Di kawasan Nusantara ia sangat terkenal terutama melalui novelnya, Majdulin (Magdalena), yang diadaptasi dari karya Alphonse Karr, Sous les tilleuls. Cerpen ini diterjemahkan dari judul aslinya ‘al-Yatīm’ dalam Kumpulan Cerita Pendek “al-‘Abarāt” Penerbit Maktabah al-Ma’ārif Beirut-Lebanon.

Alih bahasa oleh Pahrudin HM, M.A. beralamat di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: