Kearifan Lokal Dalam Serbuan Modernisasi

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Di sebuah rumah, tampak sekelompok ibu-ibu menyiapkan bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk memasak beragam keperluan bagi pemilik rumah tersebut. Bahan-bahan makanan tersebut merupakan sumbangan ibu-ibu warga desa lainnya. Si pemilik rumah bermaksud untuk menyelenggarakan syukuran atas pernikahan anaknya.

Inilah sekelumit gambaran kebiasaan sosial (kearifan lokal) yang ada dalam suatu komunitas di sebuah pedesaan Tabir Ilir-Jambi. Namun demikian, apa yang disaksikan ini akan sulit ditemukan kembali di era modernisasi yang tengah menyerbu hampir setiap sendi kehidupan masyarakat ini, bahkan di pedesaan sekalipun. Modernisasi yang ditandai dengan penggunaan alat-alat modern dengan alasan efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan masyarakat ini ternyata juga mempengaruhi pola pikiran masyarakat. Salah satu efek negatif modernisasi adalah menyebarnya ‘racun’ di tengah masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, bahwa segala hal yang berkaitan dengan masa lalu seperti tradisi dan budaya, dianggap tidak layak lagi alias harus ditinggalkan. Sebaliknya, segala hal yang baru dan diimpor dari luar (baca: Barat melalui kota dan peralatan telekomunikasi dan media massa) harus dilakukan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak tradisi dan budaya masa lampau yang lambat laun hilang tak tentu rimbanya. Kalau pun ada dan dapat dijumpai hanya terbatas pada acara-acara seremonial kebudayaan yang diselenggaraan pada even-even tertentu. Mengemukanya realitas ini tidak sepenuhnya dialamatkan kepada masyarakat sebagai pelaku degradasi budaya tersebut, tetapi dapat juga karena rendahnya kesadaran tokoh-tokoh masyarakat sendiri dalam melestarikan dan mengajarkannya.

Salah satu wilayah Nusantara yang saat ini mengalami gelombang degradasi budaya berupa kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang adalah Kecamatan Tabir Ilir yang merupakan pemekaran Kecamatan Tabir di Jambi. Seperti layaknya masyarakat Melayu yang merupakan komunitas terbesar dan dominan di wilayah ini, masyarakat Tabir Ilir memiliki beragam kearifan lokal yang menjangkau seluruh sendi kehidupan masyarakat. Dari aspek sosial, misalnya, ada tradisi yang disebut baselang mencam dan baselang nuai, berupa gotong royang yang melibatkan hampir semua masyarakat desa untuk membantu seorang warga dalam menanam padi dan memanen padi di ladang. Dari sisi hukum, misalnya, ada yang namanya pampeh, yaitu menanggung seluruh biaya pengobatan bagi yang melukukan pelanggaran hukum terhadap korbannya, seperti menabrak orang dan lain sebagainya. Dari sisi pergaulan remaja pun ada kearifan lokal yang berlaku dalam masyarakat wilayah ini, yaitu keharusan melantunkan pantun bagi yang berniat mengunjungi pacarnya (apel) atau jika didapatkan berduaan di tempat sepi, maka akan digawal, yaitu alat bukti dari pelaku diserahkan ke imam masjid untuk kemudian dinikahkan. Begitu juga dengan warga yang hendak melangsungkan pernikahan anaknya, maka dilakukan pengumpulan warga yang dinamakan kumpul waris yang bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi penyelenggaraan pernikahan tersebut. Kegiatan ini berlangsung terus menerus sampai waktu yang tak terhingga, bahkan hingga orang dulu dilakukan tradisi ini melakukan hal yang sama bagi anak-anak dan cucu-cucunya. Begitu juga jika ada yang tertimpa musibah dan melaksanakan syukuran, maka secara bersama-sama saling membantu dalam segala hal yang berkaitan dengan acara tersebut. Sumberdaya alam pun, seperti sungai, sangat dijaga dan lestarikan karena merupakan merupakan bagian penting kehidupan masyarakat dan urat nadi kehidupan mereka.

Namun demikian, sekarang ini lambat laun kearifan-kearifan lokal yang sebenarnya bertujuan untuk menumbuhkan kebersamaan dan ketentraman masyarakat tersebut mulai ditinggalkan. Akan sulit ditemukan ada yang bergotong royong membantu menanam dan memanen pagi karena digantikan oleh tenaga kerja yang ditangkan dari daerah lain di sekitarnya. Tak ada lagi tradisi berbalas pantun di rumah-rumah gadis, berganti dengan say hallo melalui telepon dan berduaan nonton pentas musik. Akibatnya, angka kehamilan di luar nikah meningkat tajam dari hari ke hari dan angka putus sekolah pun menaik cukup signifikan. Sungai yang selama ini begitu dilestarikan, lambat laun mulai kritis akibat beragam aktivitas degradasi yang terus berlangsung, seperti penambangan emas dan meracun ikan yang merupakan resources-nya.

Salah satu kearifan lokal yang masih ada dan masih dapat ditemukan hingga saat ini adalah tradisi mengumpulkan warga untuk membantu dana penyelenggaraan pernikahan. Tradisi ini dilakukan oleh seluruh anggota masyarakat, baik yang kaya maupun miskin sekalipun, dengan menyumbang dana semampunya. Meskipun demikian, kebiasaan membantu penyelenggaraan acara syukuran dan duka cita masih tetap ada, walaupun tidak terlalu tampak mengemuka seperti layaknya tradisi di atas.
Demikianlah kemeranaan yang sekarang menelimuti kearifan lokal dalam masyarakat yang selama ini dikenal dengan pemilik tradisi masa lalu yang banyak. Jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, maka lambat laun generasi mendatang akan terbata-bata dengan tradisinya sendiri, bahkan bisa jadi tidak mengenalnya.

Yogyakarta, November 2009.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: