Redefenisi Haji

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun yang menjadi penopang bangunan agama Islam. Ia terdiri dari rangkaian aktivitas yang melibatkan fisik dan spiritual yang menguras tenaga. Aktivitas ibadah ini dimulai dengan niat untuk melaksanakan haji dan memakai pakaian ihram, berlanjut dengan kegiatan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali atau yang biasa dikenal dengan thawaf, diteruskan dengan berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa (sa’i), kemudian berdiam (wukuf) di padang Arafah, berdiam sejenak (mabit) di Muzdalifah, bermalam di Mina dan diakhiri dengan melontar jumarat.

Kalangan sejarawan Islam meyakini bahwa aktivitas ibadah semacam ini telah ada jauh sebelum datangnya Nabi Muhammad. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa ibadah haji di era Islam adalah penyempurnaan dari ritual sama yang dilakukan umat-umat terdahulu. Hal ini dapat dimengerti karena kalangan umat Islam meyakini bahwa nabi-nabi terdahulu juga mengajarkan Islam kepada segenap umatnya dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah penyempurna dari ajaran-ajaran terdahulu tersebut. Keyakinan ini bersumber dari banyak dalil, baik yang berasal dari al-Qur’an maupun Hadits yang merupakan pegangan bagi umat Islam.

Ibadah haji merupakan suatu kewajiban yang mesti dilakukan bagi muslim yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Seluruh kaum muslim dari segenap penjuru dunia yang berkemampuan berkumpul di Mekkah yang merupakan pusat aktivitas ritual ini untuk melaksanakan serangkaian ibadah haji. Ritual agung dan suci ini dapat dikatakan sebagai pertemuan tahunan antara segenap kaum muslim dari seluruh pelosok bumi ini, meskipun diantara mereka tidak saling mengenal, tetapi pada hakekatnya mereka bersaudara. Persaudaraan dalam Islam memang tidak memandang status sosial, etnisitas, perbedaan warna kulit, bahasa bahkan adat istiadat, asalkan ia seorang pemeluk Islam maka ia adalah saudara. Di kota Mekkah inilah semuanya berkumpul untuk bersama-sama melakukan serangkaian ritual haji dan sebagai ibadah tambahan, biasanya diteruskan dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki aspek historis dengan Islam. Tempat-tempat tersebut yang paling utama adalah Madinah dengan segudang nilai historisnya dengan perjuangan Rasulullah serta beberapa tempat lain seputar Mekkah dan lain sebagainya.

Tak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan ibadah haji telah lama menjadi magnet bagi kaum muslim di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Dari tahun ke tahun, minat kaum muslim untuk menunaikan rukun Islam kelima ini makin meningkat sehingga cenderung tak terkendali. Menyikapi realitas ini, maka Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam salah satu pertemuaannya beberapa tahun yang lalu mengambil kebijakan untuk menerapkan kuota bagi setiap negeri muslim di dunia yang warganya akan berhaji. Indonesia sebagai sebuah negara muslim terbesar di dunia mendapat jatah kuota terbesar dibanding negara lainnya karena dengan jumlah penduduk mencapai 220 juta jiwa, maka negeri kepulauan ini mendapat kuota 200-an ribu orang jamaah setiap musim haji. Kebijakan ini pun belakangan ini dinilai belum efektif untuk ‘membendung’ hasrat kaum muslim, karena terbukti setiap musim haji terjadi penumpukan daftar tunggu pelaksaan haji. Untuk menyebut salah satu contoh konkrit adalah apa yang terjadi di salah satu desa di Kabupaten Merangin-Jambi, dimana jatah kursi yang tersedia untuk wilayah ini telah terpenuhi hingga tahun 2014, artinya beberapa calon jamaah yang berasal dari wilayah ini harus mengantri hingga beberapa tahun ke depan untuk mendapat kesempatan berangkat ke tanah suci. Implikasinya adalah baru-baru ini pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan baru yaitu membatasi pelaksnaan ibadah haji bagi setiap muslim hanya untuk satu kali seumur hidup. Kuota-kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi diprioritaskan untuk kaum muslim yang akan melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya.

Meskipun demikian, ibadah haji sepertinya telah menjadi tujuan akhir dari implementasi peribadatan seorang seorang muslim. Terbukti dengan tetap tingginya minat kaum muslim untuk kembali mengunjungi Baitullah, walaupun telah melaksanakannya, bahkan tidak jarang yang telah menunaikannya lebih dari dua kali. Beberapa cara pun dilakukan banyak kaum muslim agar tetap dapat melaksanakan haji untuk yang kesekian kalinya, di antaranya dengan mendaftarkan diri menggunakan identitas yang berbeda dengan persyaratan sebelumnya. Jika sebelumnya ia menggunakan identitas daerah tertentu, maka agar dapat berhaji kembali ia menggunakan identitas yang dikeluarkan di daerah tertentu lainnya. Cara ini terbukti cukup efektif untuk menyiasati adanya kebijakan berhaji hanya sekali saja yang telah diterapkan oleh pemerintah Indonesia.

Memperhatikan begitu besarnya minat umat Islam untuk menunaikan ibadah haji dapat dimengerti karena sebagian besar kaum muslim beranggapan bahwa mereka mencari nafkah dengan tujuan akhir untuk mengunjungi Baitullah. Tidak mengherankan jika kemudian kita temui banyak kaum muslim yang sampai-sampai harus menjual harta benda berupa sawah, ladang, binatang ternak, perhiasan dan lain sebagainya demi merealisasikan keinginan mereka untuk berhaji.

Jika dilihat lebih mendalam, terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi terus membludaknya kuantitas kaum muslim yang melaksanakan haji dari waktu ke waktu. Faktor yang jelas mengemuka ke permukaan adalah keinginan untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa. Latar belakang ini hampir pasti akan mengemuka setiap kali penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, sebenarnya ada latar belakang lain yang juga turun mewarnai perjalanan haji seorang muslim menuju Baitullah dan ziarah ke Madinah. Motivasi yang cenderung tersembunyi dimaksud adalah untuk lebih meningkatkan status sosial di tengah masyarakat.

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia telah lama dikenal sebagai kawasan yang memiliki kultur dan budaya Islam yang mengakar kuat. Salah satu budaya di negeri ini adalah menganggap seorang muslim yang bergelar haji adalah segalanya. Tidak mengherankan jika dijumpai kemudian suatu kenyataan bahwa hampir tak ada orang muslim terkenal dan kaya di Indonesia yang tak bergelar haji, dari presiden hingga pemuka masyarakat di pelosok pedesaan. Status haji yang disandang seseorang memiliki arti yang istimewa di tengah-tengah masyarakat, dihormati, disegani, dituruti segala titahnya. Dapat dimengerti memang jika kemudian masyarakat muslim berbondong-bondong melaksanakan ibadah yang memusatkan aktivitas ritualnya di Mekkah ini.
Meskipun demikian, jika memperhatikan lebih jauh kondisi yang dialami masyarakat muslim yang menjadi penghuni mayoritas negeri ini, maka niscaya perasaan kita akan menjadi miris. Sungguh sebuah realitas yang kontradiktif. Di satu sisi sebagian kaum muslim berbondong-bondong ingin melaksanakan haji yang memerlukan biaya hingga puluhan juta rupiah rupiah, bahkan rela masuk daftar tunggu untuk beberapa tahun ke depan sekalipun, sementara sebagian yang lain hidup di tengah ketidakpastian. Sebagian lain sibuk memikirkan berapa uang belanja yang akan dibawa kelak di tanah suci, sementara di sisi lain sebagian pusing memikirkan harga sembako, BBM, listrik, dan biaya pendidikan anak-anak yang terus merambat naik. Beberapa kaum muslim yang berkecukupan senantiasa terbersit hasrat dalam hatinya untuk dapat melaksanakan ibadah haji setiap tahun, dalam dadanya selalu memendam kerinduan untuk kembali memenuhi panggilan Allah dengan mengunjungi Baitullah dan menziarahi makam nabi-Nya. Kenyataan ini tidak sepenuhnya dapat disalahkan karena ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam, artinya belum dianggap sempurna Islam seseorang karena salah satu rukunnya belum terpenuhi. Akan tetapi, bukankah yang diwajibkan adalah satu kali saja untuk seumur hidup seorang muslim, sedangkan selebihnya adalah sunnah yang kualitasnya berada dibawah sebuah kewajiban dalam hirarki hukum Islam.

Jika seorang muslim yang berkecukupan dan telah melaksanakan haji untuk sekali saja mau jeli ada banyak cara pengabdian kepada Allah dan mensyukuri nikmatnya selain beribadah haji berkali-kali. Beberapa keluarga, kerabat dan handai taulan bahkan tetangga terdekat rumah kita setiap saat hidup dalam ketidakmenentuan akibat kemiskinan yang terus mendera. Di sinilah lahan untuk implementasi dari kesalehan sosial seorang muslim, apalagi seorang yang memiliki kecukupan harta dan telah berhaji pula. Kesalehan sosial seorang muslim tidak kalah penting dan utamanya dari kesalehan pribadi yang salah satunya mewujud dalam dimensi peribadatan haji di tanah suci. Hal ini sebenarnya telah dikemukakan oleh Rasulullah yang menganjurkan seorang muslim untuk memperhatikan saudaranya, terutama yang terdekat dengan rumahnya. Bahkan, sampai hal yang terkecil dan sepintas tak berarti apa-apa sekalipun menjadi perhatian Rasulullah yang mencerminkan kepedulian kita terhadap sesama, utamanya tetangga terdekat rumah. Hal ini, misalnya, mengemuka dalam sebuah hadits: “Jika kamu memasak makanan, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu”. Begitu mulianya apa yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya yang berarti kepedulian kita kepada sesama yang ditimpa kekurangan, apalagi dengan dana haji yang bernilai puluhan juta tersebut.
Dapat dipastikan bahwa ongkos yang dikeluarkan oleh seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meskipun demikian, ongkos yang senantiasa menggunung ini seakan tak menyurutkan niat kaum muslim untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini. Ada baiknya puluhan juta rupiah yang diperuntukkan untuk keperluan melaksanakan ibadah ibadah haji untuk kesekian kalinya tersebut dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat sekitar yang tidak jarang terdiri dari saudara, kerabat dan tetangganya. Jumlah sebesar ini tentu akan semakin banyak jika masing-masing muslim yang hendak melaksanakan haji untuk yang kedua dan seterusnya mau mengurungkan niatnya yang setiap musim penyelenggarakan haji semakin membludak. Jika setiap tahun kuota jamaah haji Indonesia adalah 220.000 orang, maka hampir lima puluh persennya adalah jamaah yang hendak melaksanakan haji untuk yang kedua kalinya, bahkan lebih, maka didapatkan 110.000 orang yang dananya dapat diinvestasikan dalam bentuk ibadah lain yang bersifat sosial. Artinya, dari jumlah tersebut terkumpul dana minimal 3 miliar lebih setiap tahunnya dengan asumsi bahwa jamaah yang berangkat haji mengeluarkan dana minimal 30 juta. Dengan dana sebesar itu tentu dapat diperuntukkan untuk membangun sentra-sentra perekonomian sebagai lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk menjadi lebih baik. Bagi masyarakat Sumatera yang sebagian besar hidup pada sektor pertanian dan perkebunan, maka dengan dana ini dapat membuka lahan pertanian dan perkebunan baru yang diperuntukkan bagi kalangan yang tidak memiliki apa-apa. Begitu juga dengan masyarakat yang berada di berbagai wilayah lainnya, seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan lainnya sebagainya. Kebijakan yang akan diambil nantinya tentu berdasarkan sumberdaya yang ada dan tersedia di tempat tersebut.

Sepintas lalu ide ini terkesan terlalu bombastis karena tidak mudah untuk menyadarkan masyarakat untuk menginvestasikan dananya untuk pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, penulis meyakini bahwa ide ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin diterapkan di kemudian hari, tergantung pada kemauan kita untuk bersama-sama memberikan pengarahan kepada masyarakat muslim bahwa kesalehan sosial yang salah satunya mewujud dalam pemberdayaan masyarakat yang banyak ditekankan dalam al-Qur’an dan Hadits adalah lebih penting dibandingkan melaksanakan haji berkali-kali sementara di sisi lain tetangga dan warganya serba kekurangan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk pencerahan masyarakat, misalnya dengan memasukkannya dalam setiap materi khutbah Jum’at, pengajian-pengajian dan majelis-majelis taklim yang banyak bertebaran di negeri ini serta melalui tulisan-tulisan di berbagai media dan liputan-liputan televisi. Langkah konkrit dalam upaya ini dapat dilakukan dengan cara mengarahkan keluarga, tetangga dan warga sekitarnya mengimplementasikan hal ini.
Jika masing-masing kita mau dan mampu melaksanakan hal ini maka niscaya kemiskinan dan kebodohan yang menimpa hampir sebagian besar bangsa ini lambat laun akan berkurang. Hal ini dapat terjadi karena masing-masing umat muslim yang merupakan bagian terbesar negeri ini telah memiliki penghasilan tetap dari pekerjaan yang merupakan sumbangsih dana ‘rencana haji kedua’ orang-orang muslim kaya negeri ini. Dengan penghasilan tersebut, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya, menyekolahkan anak-anaknya hingga pada akhirnya kesejahteraan senantiasa menghinggapi masyarakat negeri ini sehingga welfare state yang selama ini didengungkan dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, Amin.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: