Respon Terhadap Kajian Orientalis

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

A. Pengantar
Orientalisme, secara etimologi berasal dari kata ‘orient’ yang berarti timur dan secara etnologis berarti bangsa-bangsa yang ada di timur serta secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat ketimuran. Sedangkan secara terminologi, orientalisme dimaknai sebagai suatu cara atau metode yang digunakan untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat, atau dapat pula dipahami sebagai suatu gaya berpikir yang dipakai berlandaskan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur dan Barat.
Beragam bacaan memaparkan motivasi atau faktor yang melatarbelakangi mengemukanya orientalisme di kalangan para pemikir Barat. Motivasi utama munculnya upaya ini adalah ‘kekaguman’ Barat akan Islam yang sejak kemunculannya di awal abad ke-7 Masehi telah mendominasi dunia dengan beragam keberhasilan dan kegemilangan dari beragam aspek yang dicapainya. Atau, dalam ungkapan lain sebagaimana yang pernah dipaparkan oleh Bernard Lewis bahwa usaha-usaha yang dilakukan Barat dalam penyelidikan terhadap Timur selalu berawal dari ‘rasa ingin tahu intelektual’. Motivasi lainnya yang tak kalah penting adalah kebutuhan para penjajah yang merupakan negara-negara besar Eropa seperti Spanyol, Portugal, Inggris, Italia dan Prancis untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dalam masyarakat yang menjadi jajahannya. Dengan demikian, lengkaplah sudah motivasi kemunculan orientalisme yang berawal dari kekaguman sekaligus keheranan yang kemudian dilengkapi dengan keinginan untuk terus menguasai tanah jajahan dengan mengetahui banyak hal yang ada dalam masyarakat tersebut.
Berikut ini akan dilakukan pemaparan respons-respons atau tanggapan-tanggapan yang mengemuka seiring dengan upaya penyelidikan dunia Timur oleh Barat. Tanggapan-tanggapan berikut ini akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu tanggapan yang muncul dari kalangan Barat sebagai pelaku orientalisme dan tanggapan yang berasal dari kalangan Timur sebagai objek kajian orientalisme yang dilakukan Barat.
B. Tanggapan-Tanggapan Mengenai Orientalisme
Perbincangan mengenai Orientalisme menjadi semakin ramai terutama sejak Edward Said, seorang Kristen Palestina dan aktivis PLO di Amerika, menulis buku berjudul Orientalisme. Dalam buku ini, Said memaparkan secara panjang lebar hakekat Orientalisme itu, yang baginya secara keseluruhan tidak lebih dari alat penjajah bangsa-bangsa Barat atas bangsa-bangsa Timur khususnya Timur-Islam. Gugatan yang paling mendasar dari Said muncul dalam penolakannya terhadap istilah Orientalisme, atau ketimuran. Menurutnya apa yang dikatakan Timur bukanlah sesuatu yang alami atau ada dengan sendirinya. Dalam istilah Said, Timur (Orient) adalah imaginative geography yang diciptakan secara sepihak oleh Barat. Kriteria Timur tidak pernah jelas secara kategoris, kalaupun ada sesuatu yang menjadikan Barat-Timur berbeda, hal itu juga merupakan hasil konstruksi sepihak masyarakat Barat. Persoalan metodologis kemudian muncul ketika imajinasi Barat tentang Timur ini dinyatakan sebagai temuan yang bersifat obyektif dan netral. Untuk itu Said menganggap kajian Orientalisme selalu berkedok ilmiah dengan mengatasnamakan diri pada ilmu.
Dalam bukunya yang lain, Orientalism: Western Conceptions of The Orient, Edward Said mengatakan bahwa upaya-upaya penyelidikan yang dilakukan oleh kalangan orientalis telah melegitimasi negara-negara kolonial yang sebagian besarnya berasal dari Eropa untuk menjajah dan menancapkan kekuasaannya di dunia Timur. Lebih lanjut, menurut Said, kemunculan orientalisme yang melakukan penyelidikan dunia Timur dilatarbelakangi oleh tiga hal yang selama ini seakan disembunyikan. Yaitu: pertama seorang orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, atau meneliti tentang Timur yang mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan memahami kebudayaan-kebudayaan Timur, baik sebagai seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, maupun filolog. Kedua, orientalisme merupakan gaya berpikir yang mendasarkan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur dan hampir selalu Barat. Dan Ketiga adalah orientalisme merupakan institusi yang berbadan hukum yang dapat didiskusikan dan dianalisis untuk menghadapi dunia Timur, yang berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan, menggambarkan, mengajarkan tentang Timur dan sekaligus menguasainya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, membangun kembali sesuai keinginan Barat dan menguasai semua yang ada di Timur.
Berdasarkan cara pandang Said dalam mengemukakan kritikannya terhadap orientalisme ini, maka dapat disimpulkan bahwa apa pun yang dihasilkan oleh penyelidikan Barat terhadap Timur (terutama Islam) hanya memberi manfaat bagi Barat. Hal ini karena upaya tersebut dilakukan untuk semakin menguatkan dominasi dan penguasaan Barat atas berbagai wilayah Timur lengkap dengan beragam sumberdaya yang dimilikinya. Di samping itu, upaya penyelidikan dalam bingkai orientalisme juga untuk melihat beragam kelemahan yang ada dalam masyarakat Timur, baik yang mereka sadari maupun yang tidak mereka sadari selama ini.
Lebih lanjut Said mengemukakan contoh dari sebuah kajian yang dilakukan oleh Jacques Waardenburg dalam bukunya berjudul L’Islam dans le miroir de l’Occident. Berdasarkan penelitiannya terhadap beberapa tokoh orientalis, Waardenburg sampai pada sebuah teori cermin, yaitu memantulkan sesuai apa yang ada di depannya. Ignaz Goldziher yang mengagumi Islam atas toleransi terhadap agama-agama lain ternyata menampakkan corak yang sebenarnya ketika berhadapan dengan realitas kehidupan Nabi Muhammad dan syariat Islam, begitu juga dengan Duncan Balck McDonald yang mengakui kesalehan dan ortodoksi Islam harus dicemarkan oleh pendapatnya bahwa Islam merupakan penyimpangan Kristen, Carl Becker yang menganggap peradaban Islam sebagai peradaban yang terbelakang dan Snouck Horgronje yang menganggap mistisisme adalah bagian esensial Islam hingga membuat agama ini lumpuh. Inilah watak asli para orientalis Barat yang dikritik Said layaknya cermin yang akan memantulkan sesuatu yang ada di depannya apa adanya dan Barat dengan motivasinya yang tidak baik terhadap Timur akan menampakkan wajah aslinya, berupa kebencian berbalut kekaguman pada akhirnya. Hal ini karena bagi Barat, dunia Timur (khususnya Islam) adalah trauma abadi yang sekian lama menjadi objek kekaguman sekaligus juga kebencian untuk ditaklukkan dan dikuasai. Kagum karena rekam sejarah mencatat kegemilangan Timur pernah mampu menguasai hampir sebagian besar dunia dalam segala aspek kehidupan dan benci karena Barat pernah menjadi bagian dari penguasaan yang dilakukan oleh Timur (baca: Islam) tersebut.
Tokoh Barat lainnya yang memberi tanggapan terhadap orientalisme adalah Gordon E. Pruett yang berpendapat bahwa banyak orientalis yang memojokkan makna-makna Islam melalui operasionalisasi metodologi dunia. Kecenderungan umum yang terdapat pada tulisan orientalis adalah menganggap Islam sebagai fenomena obyektif. Dengan cara ini keyakinan Islam dan pandangan orang Islam sendiri tidak banyak diperhatikan, sehingga orientalis seringkali gagal memahami Islam secara lebih memadai. Selanjutnya juga ada Bryan S. Turner, pengamat sosiologi Islam ini melihat bahwa gambaran tentang Islam dan Timur dalam Orientalisme sangat bersifat Eurosentris. Hal ini dikarenakan Islam merupakan kekuatan asing terbesar dalam masyarakat Barat yang nantinya menjadi semacam perbandingan bagi orang Barat sendiri.
Di samping itu, ada kritik yang cukup obyektif dan simpatik dari Marshall Hodgson kepada Clifford Gertz, seorang antropolog Amerika yang bukunya Religion of Java sangat berpengaruh di Indonesia di kalangan tertentu. Gertz dalam bukunya itu secara ringkasnya menyatakan: “sejauh-jauh orang Jawa itu Islam, namun unsur-unsur Hinduisme, Budhisme, dan Animismenya masih lebih banyak dari pada unsur Islamnya.” Menurut Hodgson, inilah contoh stategem kolonialistik yang mencoba memperkecil makna kehadiran Islam di suatu negeri jajahan. Gertz, kata Hodgson melakukan stategem yang juga dianut oleh para ahli di kalangan kaum penjajah Perancis atas kawasan Afrika Utara.
Sedangkan tanggapan mengenai orientalisme yang muncul dari kalangan Islam dapat dibedakan dalam dua bagian. Yaitu, kalangan yang dengan tegas menolak kajian-kajian yang dilakukan oleh orientalis dan kelompok yang dapat menerima jika memberi manfaat bagi Islam. Untuk menyebut salah seorang dari kelompok pertama adalah Mazin bin Shalah Muthabaqani, seorang guru besar orientalisme di Arab Saudi. Penolakan yang dilakukan Muthabaqani ini didasarkan pada pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh orientalisme, yaitu : pertama pengaruh aqidah : berupa lahirnya generasi sekuler, baik di kalangan intelektual, pemerintah, militer, maupun orang awam di Dunia Islam. Mereka semuanya menjadi satu arus dan trend yang meneriakkan pemisahan agama dari kehidupan. Padahal aqidah ini sangat bertolak belakang dengan aqidah Islam yang terikat dengan segala bidang kehidupan dengan seperangkat hukum-hukum syariahnya. Pengaruh lainnya, adalah merebaknya kecenderungan terhadap ide-ide marjinal yang menyimpang dari aqidah Islam, seperti tasawuf Ibnu ””””Arabiy (wahdatul wujud) yang mendapat perhatian khusus dari kalangan orientalis.
Kedua, pengaruh sosial : karena didorong kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam, kalangan orientalis berusaha mencari faktor yang dapat merusak soliditas masyarakat muslim. Contohnya, di Aljazair, orientalis menghapuskan kepemilikan umum (atas tanah publik) yang akhirnya membuat terpecah belahnya beberapa kabilah. Padahal sebelumnya mereka hidup rukun dan damai dengan konsep kepemilikan umum yang ada dalam ajaran Islam. Pengaruh sosial lainnya adalah terancamnya keutuhan keluarga, karena kaum orientalis menaruh perhatian besar pada ide-ide gender dan feminisme yang membodohi sekaligus memprovokasi kaum muslimah untuk memberontak terhadap hukum-hukum Islam tetang pengaturan keluarga (misalnya masalah ketaatan kepada suami, nafkah, dan hak cerai).
Ketiga, pengaruh politik-ekonomi : mempropagandakan sistem demokrasi dan dikatakannya sebagai sistem politik paling ideal untuk umat manusia. Pada saat yang sama, mereka menyerang dan menjelek-jelekkan sistem politik Islam, yaitu khilafah. Thomas W. Arnold, misalnya, menuding bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab dapat menjadi khalifah, lantaran keduanya telah melakukan suatu persekongkolan. Orientalis lain, Bernard Lewis, menyatakan bahwa sistem politik Islam adalah sistem diktator yang memaksakan ketundukan dan kehinaan atas bangsa-bangsa muslim. Bahkan lebih dari itu, Bernard Lewis menganggap sistem politik Islam menyerupai sistem komunis dalam hal kediktatoran dan kesewenang-wenangannya. Sementara itu dalam bidang ekonomi, orientalis mempropagandakan system ekonomi kapitalis dan sosialis. Pada saat yang sama, mereka menyerang sistem ekonomi Islam.
Keempat, pengaruh budaya-pemikiran: cara pandang atau perspektif orientalis telah menjadi sumber pemahaman bagi umat untuk memahami Islam, setelah sebelumnya umat Islam hanya menggunakan cara pandang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, menurut tuntunan para ulama muslim. Umat Islam kini meyakini demokrasi, sebagai ganti dari keyakinan terhadap sistem politik Islam (khilafah). Umat Islam lebih meyakini sistem ekonomi kapitalisme, daripada sistem ekonomi Islam. Demikian pula cara pandang orientalis di bidang ilmu sosiologi, psikologi, sejarah, dan sebagainya telah mengisi, memenuhi, sekaligus meracuni otak generasi muda Islam, yang sebelumnya terisi dengan pemikiran-pemikiran Islam yang cemerlang.
Kalangan lainnya yang melakukan penolakan terhadap obyektivitas kajian orientalis ini muncul dalam bentuk nativisme (pandangan yang menyatakan bahwa natives atau pelaku adalah satu-satunya yang mengetahui tentang dirinya). Pandangan ini di antaranya dikemukakan Mahmud Shakr yang berpendapat bahwa untuk dapat memahami Islam seseorang harus menjadi Muslim dahulu, karena Islam sebagai agama juga terekspresi dalam bentuk budaya dan bahasa. Pijakan ini mendorong Shakr untuk tidak melihat adanya kebenaran dalam karya orientalis tentang Islam maupun Arab. Baginya, orientalis yang berlatar belakang budaya Barat dan beragama non Islam tidak mungkin dapat mengerti tentang Islam. Pandangan ini sebenarnya cukup umum di kalangan umat Islam. Kelebihannya adalah kemampuan Shakr untuk menerjemahkan penolakannya terhadap Barat dalam rumusan dan kaidah ilmiah. Di samping itu, Aijaz Ahmed juga menolak kajian-kajian orientalisme karena penyelidikan-penyelidikannya kemudian memunculkan dikotomi antara Barat dan Timur. Lebih lanjut, hasil kajian Barat melalui orientalisme menciptakan teori Dunia Ketiga (third world) yang membagi-bagi dunia menjadi tiga kategori wilayah, yaitu negara maju, sedang berkembang dan negara miskin. Padahal menurutnya, dunia ini hanya satu, bukan tiga sebagaimana kategori Barat, dan dunia yang satu ini termasuk di dalamnya pengalaman kolonisasi dan imperialisasi yang dilakukan Barat.
Kelompok kedua yang memberi tanggapan atas kajian orientalis adalah kalangan yang dapat menerima jika upaya tersebut bermanfaat bagi Islam. Kalangan ini biasanya melandaskan pendirian dan penilaiannya mengenai orientalisme berdasarkan ilmu pengetahuan atau ilmiah. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis yang berisi informasi dan analisis obyektif tentang Islam dan ummatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan Islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja. Salah satu contohnya adalah Maryam Jamilah yang menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di Barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak di antara pengetahuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang. Para orientalis dari Inggris seperti mendiang Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry berhasil menulis karya penting berupa penerjemahan karya-karya Islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di Eropa.
Menurut Jamilah, pada umumnya para orientalis itu benar-benar menekuni pekerjaan penerjemahan ini. Mereka yang cenderung membatasi cakupan pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat bermanfaat, informatif dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang benar dan berusaha menafsirkan Islam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Dunia Islam berdasarkan pandangan-pandangan pribadi yang tidak cocok.
Contoh lainnya dari kalangan Islam kelompok kedua ini adalah Muhammad Abdul Rauf, yang tidak begitu saja menyamaratakan karya-karya orientalis Barat. Baginya tidak semua karya orientalis harus ditolak dan dianggap tidak berguna, sebab di antara mereka terdapat orientalis yang jujur (fair-minded orientalist). Rauf tidak menafikan adanya bias serta distorsi yang muncul dari kalangan orientalis. Namun peristiwa semacam ini hanya terjadi jika orientalis yang menulis bersikap tidak jujur. Asaf Hussain, sependapat dengan Abdul Rauf bahwa sebagian orientalis memang bermaksud untuk mendiskreditkan Islam. Beberapa di antaranya adalah Duncan Mac Donald yang secara eksplisit menginginkan kehancuran Islam. Begitu juga dengan Guilbert de Nogent yang begitu tinggi keinginannya untuk menghancurkan Islam. Bahkan untuk tujuan ini, de Nogent secara terang-terangan merasa tidak perlu lagi menggunakan data untuk berbicara tentang Islam. Baginya berbicara apapun tentang Islam tetap sah adanya, sebab siapapun bebas berbicara tentang keburukan seseorang yang kejahatannya sudah melampaui kejahatan apapun di dunia. Jika demikian banyak kalangan sepakat bahwa orientalis seperti ini sudah keluar dari etika akademik dan keilmuan yang diakui secara universal, yang tujuannya tidak lain adalah untuk mendiskreditkan Islam.
C. Kesimpulan
Berdasarkan paparan yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa orientalisme merupakan cara atau metode yang digunakan Barat untuk memahami dan menyelami dunia Timur. Upaya yang dilakukan oleh Barat ini sudah berlangsung lama seiring dengan terjadinya persentuhan antara kedua wilayah tersebut dalam sejarahnya. Penyelidikan yang dilakukan Barat terhadap Timur dalam bingkai orientalisme memunculkan beragam tanggapan, baik dari kalangan intern Barat sendiri maupun dari kalangan Timur. Tanggapan yang muncul dari Barat lebih banyak didominasi oleh kritikan yang mengarah pada ketidakjujuran motivasi Barat dalam melakukan kajian tersebut, seperti yang diperlihatkan oleh Edward W. Said. Sedangkan tanggapan yang berasal dari Timur dibedakan menjadi dua bagian, yaitu yang menolak dan menerima dengan syarat memberi manfaat bagi Timur.
Yogyakarta, Akhir 2009

DAFTAR PUSTAKA

Amal, Taufik Adnan. 1992. “Al-Qur’an di Mata Barat: Kajian Baru John Wansbrough” dalam Ulumul Qur’an No. 3.

As-Syaukani, A. Lutfi. 1994. “Oksidentalisme: Kajian Barat setelah Kritik Orientalis” dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5 dan 6 Vol. V.

As-Siba’i, Mustafa Hasan. 1997. Membongkar Kepalsuan Orientalisme, terj. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Azra, Azyumardi. 1996. Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina.

Burke, Edmund. 1995. “Orientalism” dalam John L. Esposito (ed.) The Oxford Encyclopaedia of the Modern Islamic World. New York Oxford: Oxford University Press.

Fauzi, Ihsan Ali. 1992. “Orientalisme di mata Orientalis: Maxim Rodinson tentang Citra dan Studi Barat atas Islam” dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2.

Hodgson, Marshall G. S.1974. The Venture of Islam. Vol. II. Chicago: The University of Chicago Press.

Hitti, Philip K. 2005. History of The Arabs, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Husein, Assaf. 1984. “The Ideology of Orientalism” dalam Assaf Husain. et.al. (ed.), Orientalism, Islam, and Islamisists. tt: Amanah Books.

Jamilah, Mariam. 1997. Islam dan Orientalis: Sebuah Kajian Analitik. Jakarta: Rajawali Press.

King, Richard. 1999. ‘Orientalism and Indian Religions’. dalam Richard King Orientalism and Religion; Postcolonial Theory, India and ‘The Mistic East’. London & New York: Routledge.

Martin, Richard C. 2001. ‘Islam dan Studi Agama’. dalam Richard C. Martin (ed.) Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Madjid, Nurcholish. 2000. Islam Agama Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Muthabaqani, Mazin bin Shalah. al-Istisyrāq, al-Istisyrāq wa Makānatuhu Baina al-Madzāhib al-Fikriyyah al-Mu’āshirah, http://www.saaid.net.

Nashr, Sayyed Husain. 1994. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, Bandung: Pustaka.

Prasetyo, Hendro. 1999. “Pembenaran Orientalisme: Kemungkinan dan Batas-batasnya” dalam Jurnal Islamika, No. 3 Januari-Maret.

Turner, Bryan S.1992. Sosiologi Islam: Suatu Telaah Analitis atas Tesis Sosiologi Weber. Jakarta: Rajawali Press.

Rasyid, Daud. 1993. Pembaharuan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. Jakarta: Usama Press.

Rauf, Muhammad Abdul. 2001. “Interpretasi Orang Luar tentang Islam: Sudut Pandang Muslim” dalam Richard C. Martin (ed.), Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Said, Edward W. 2001. Orientalisme, Bandung: Pustaka.

Shihab, Alwi. 1999. Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan.

Watt, W. Montgomery. 1972. The Influence of Islam on Medieval Europe. Edinburg: Edinburg University Press.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: