Cerpen ‘ANAK PLUS CUCU’

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Dari kejauhan tampak seorang anak perempuan seumuran sembilan tahun berlari menuju sebuah gubuk reot di pinggiran hutan. Rambutnya yang tergerai sebahu meliuk-liuk tertiup angin yang menerpanya, sementara tas sekolah mungilnya melayang-layang ke sana kemari mengikuti arah larinya anak ini. Rok merah selutut dan baju tampak tak lagi beraturan. Ia terus saja berlari sambil sesekali sesenggukan. Aku harus secepatnya sampai di rumah, begitu kira-kira pikirnya. Tepat di depan rumah gubuknya, seorang ibu muda tampak berdiri menanti sang putri yang dari kejauhan sudah dapat diketahuinya karena tak ada orang lain yang menampati wilayah ini selain mereka berdua, apalagi mempunyai anak perempuan.

“Ada apa Ti? Jangan lari-lari, ntar jatuh lhopake nangis lagi, abis berantem ya”. Ujar ibu ini setelah anaknya berada di depannya dengan air mata yang berlinangan  dan napas yang terengah-engah.

Mendengar teguran sang ibu, Siti tidak langsung menjawab perkataan ibunya, melainkan hanya melihat selintas dan kemudian berjalan gontai ke dalam rumah. Dengan naluri keibuannya, Bu Wati mengikuti kemana langkah anak semata wayangnya itu. Dengan ayunan kaki yang terlihat tak menampakkan senang, Siti masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan badannya di atas kasur yang telah berumur. Yah, di kamar yang seukuran tiga kali empat inilah ia bersama ibunya beristirahat di kala malam menjelang, sebuah kamar yang hanya memiliki sebuah tempat tidur yang sudah reot, kasur yang telah mengeras, bantal dan guling yang sudah kumal berhiaskan peta seribu pulau.

“Bu, kenapa kita hanya tinggal berdua, padahal teman-teman Siti tinggal dengan juga dengan ayahnya?”. Siti memberondong pertanyaan kepada ibunya setelah ia kembali duduk di pinggiran tempat tidur, di samping ibunya.

“Emang kenapa Nak?”. Kata Bu Wati sedikit gelagapan mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir mungil anaknya.

Gak biasanya Siti bertanya tentang perbedaannya dengan teman-temannya, pikir bu Wati. Biasanya sehabis sekolah ia terus saja larut dengan aktivitas kebunnya di belakang rumah. Yah, kebun mungil yang hampir mepet dengan rumah ini memang menjadi saksi apa yang dilakukan Siti setelah bersekolah dan sebentar membantu ibunya di dapur. Beraneka ragam bunga ia taman di kebun yang memang dibuat oleh tangannya sendiri. Ada mawar, ada melati, ada kembang sepatu dan yang sekarang mulai giat dilakukannya adalah menanam buah-buahan seperti rambutan, biar gak usah beli lagi kalo pengen makan rambutan, begitu katanya suatu ketika di saat ibunya bertanya.

“Habisnya setiap ditanya bu guru Siti tinggal sama siapa pasti kedengaran aneh karena Siti kan hanya tinggal berdua sama ibu, padahal teman-teman Siti kadang bertiga dan berempat sama ayahnya?. Jawab Siti mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya telah lama ingin ia utarakan kepada ibunya.

“Lho, kita kan memang dari dulu ya tinggal berdua”.

Bu Siti berusaha menjawab selogis mungkin untuk ukuran anak seusia Siti, walaupun ia sendiri tak yakin apakah jawaban tersebut mampu mengobati rasa dahaga anaknya akan keterangan yang ia butuhkan.

“Ya bu… tapi kenapa? Kenapa ayah gak ada, biar kita bisa tinggal bertiga kayak teman-teman Siti yang lain?”.

Dari nada suaranya terdengar kalau Siti mulai tak sabaran untuk secepatnya mengetahui kenapa selama ini ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Padahal teman-temannya tinggal bersama ayahnya, ibunya dan kakak-kakak serta adik-adiknya sehingga di antara mereka dapat bercanda, bermain bersama dan saling membantu satu sama lainnya. Sementara ia hanya tingga berdua saja dengan ibunya, kadang-kadang juga ibu tidak dapat sepenuhnya dapat diajak bermain seperti yang ia harapkan karena sibuk di dapurlah dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain, padahal Siti pengen ada yang senantiasa menemaninya bermain, bercanda dan lain sebagainya. Pokoknya asyiklah kalau di rumah banyak orang seperti yang dialami oleh teman-temannya.

“Ooo..gitu… teman-temanmu itu kebetulan anggota keluarganya lengkap, ada ayah, ibu, kakak dan adik-adiknya seperti katamu barusan, sementara kita kan gak”.

Ada nada getir dari suara ibunya menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak semata wayangnya yang selama ini menjadi satu-satunya teman hidupnya mengisi hari demi hari. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya siapa Siti sebenarnya dan kenapa sekian lama mereka berdua tinggal di tempat yang jauh dari perkampungan. Alangkah malang nasibmu nak, harus menanggung beban seperti ini, pikir Bu Wati. Begitulah kemudian pikiran yang berkecamuk dalam benak ibu muda satu anak ini.

“Berarti ayah Siti ada ya bu… seperti juga teman-teman Siti yang lainnya, tapi ayah di mana bu?”. Kata Siti tampak kegirangan mendengar penjelasan ibunya.

Tuh kan, pikir Bu Wati mendengar perkataan sekaligus juga pertanyaan anaknya barusan.

Pertanyaan demi pertanyaan seputar hal ini akan terus meluncur dari bibir Siti karena hal inilah yang selama ini menggelayut dalam pikirannya terutama setelah ia mulai dapat melihat perbedaan-perbedaannya dengan teman-teman sekolahnya. Pikiran-pikiran yang terus mengganggu Siti ini harus secepatnya diselesaikan jika tidak ingin justru membuatnya menjadi malas, murung dan menderita yang tentunya berakibat pada menurunnya kesehatan yang pada akhirnya membuatnya jatuh sakit. Kalau hal ini terjadi, tentu makin membuat aku tambah bingung, pikir Bu Wati.

“Benar, ayah Siti ada kok, tapi sudah meninggal ketika Siti masih dalam kandungan ibu”.

Mungkin inilah jalan satu-satunya untuk sementara dapat mengakhiri pembicaraan ini, pikir Bu Wati sambil membelai lembut rambut anaknya. Mungkin belum saatnya ibu ceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan kita nak, suatu saat kamu juga akan mengetahuinya, semoga kamu siap menerimanya.

“Udah, sekarang Siti bobok siang dulu, nanti sore bantu ibu beres-beres rumah lagi ya sayang”. Kata Bu Wati menyuruh anaknya tidur siang sebagaimana yang dilakukan Siti sehabis sekolah.

Tidur siang menjadi sebuah rutinitas yang diterapkannya kepada anaknya dengan harapan dapat menghilangkan segala kepenatan dan persoalan yang dialami oleh anaknya dari pagi hingga siangnya dan di saat sore kebugarannya kembali muncul sehingga bersemangat dalam memulai aktivitas lain setelahnya.

Akhirnya pembicaraan siang itu berakhir dan Bu Wati pun berangsur beranjak pergi meninggalkan anaknya yang sepertinya perlahan mulai memejamkan matanya di atas tempat tidur reot yang menjadi satu-satunya yang mereka miliki di rumah ini. Bu Wati pun kembali melanjutkan aktivitas rumah tangganya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Siti dan seabrek pertanyaan yang dikemukakannya. Namun demikian, sepertinya pertanyaan-pertanyaan yang tadi dilontarkan anaknya cukup mengganggu pikirannya sehingga konsentrasinya menjadi pecah. Dari pada hasilnya tidak optimal, maka Bu Wati pun memutuskan untuk kembali menunda pekerjaannya di dapur untuk menyiapkan makanan nanti malam untuk disantap bersama anak semata wayangnya tersebut.

Sepertinya Bu Wati memang butuh tempat untuk kembali memikirkan apa yang barusan ditanyain anaknya. Nampaknya rahasia yang selama ini selalu ia simpan mengenai mereka berdua lambat laun akan terkuak juga, begitu pikirnya. Atau mungkin karena sekarang anakku memang sudah mulai beranjak besar sehingga pikiran-pikiran mengenai sekitarnya telah mulai tumbuh, lanjutnya sambil duduk di balai-balai bambu yang terdapat di emperan rumahnya yang tak jauh dari dapur. Usia seperti Siti saat ini adalah gerbang menuju pengenalan terhadap alam sekitar sekaligus mempertanyakannya, apalagi hal tersebut terlihat berlainan di mata mereka dibandingkan yang lainnya. Balai-balai bambu kemudian menjadi teman setia di kala selesai mengerjakan pekerjaan rumah sambil menunggu Siti pulang sekolah seperti yang tadi siang dilakukannya yang berakhir dengan banyak pembicaan dengan anak semata wayangnya tersebut. Tempat kerap pula menjadi tempatnya memikirkan kehidupannya yang kini dijalaninya, berdua dengan buah hati semata wayangnya yang sangat disayanginya yang kini berangsur mulai besar dan menjadi gadis kecil yang menggemaskan.

Angin yang berhembus lembut di sekitar tempat tinggal Bu Wati ditambah suasana yang sepi semakin membuat tempat ini menjadi ideal untuk merenung. Dalam kesyahduan suasana yang dirasakannya, memori masa lalu kembali hadir di benak Bu Wati. Ya, memori yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya sampai kapan pun dan dalam keadaan apapun juga. Memori yang kehadirannya turut berandil besar mengantarkannya dan anaknya ke tempat yang jauh dari keramaian desa, keriuhan senda gurau anak-anak dan celotehan para ibu serta obrolan para bapak, tempat terpencil yang hanya dilalui oleh orang-orang yang hendak pergi bekerja.

Kala itu, tepatnya tujuh tahun yang lalu, saat itu ia masih tinggal dengan kedua orang tuanya di desa yang sangat jauh dari tempat ia tinggal sekarang. Keluarganya kala itu dapat dikatakan adalah keluarga kecil karena hanya terdiri dari ayah, ibu dan ia sendiri, tetapi ia merasa sangat bahagia dengan kehidupan yang dilakoninya tersebut. Sebagai anak tunggal alias semata wayang, maka tentu ia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya karena ialah kelak yang akan meneruskan silsilah keluarga hingga beranak pinak. Namun demikian, jika dibandingkan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia merasa bahwa kasih sayang dan perhatian yang diberikan dan ia dapatkan dari ayahnya lebih dibandingkan ibunya. Ia merasa saat itu ayahnya sangat menyayangi dan perhatian kepadanya, berbeda dengan ibunya yang seakan seadanya tidak terlalu melebih-lebihkan. Kemana saja ayah pergi ia selalu diajak serta, sehingga sepertinya tiada hari-hari yang ia lalui tanpa ada ayah disampingnya begitu juga sebaliknya. Begitulah yang ia rasakan saat itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan hingga tanpa terasa ia ternyata sudah beranjak menuju dewasa. Yah, umur lima belas tahun merupakan usia yang dikatakan banyak orang menjadi gerbang kedewasaan bagi seorang gadis sepertiku. Karena merupakan anak perempuan dusun, maka sampai usianya menginjak lima belas tahun pun ia belum pernah mengecap pendidikan layaknya yang dialami oleh anaknya sekarang. Saat itu sekolah yang tersedia berjarak belasan kilo meter dari tempat tinggalnya, karena alasan sangat jauh dan tidak tega meninggalkannya tinggal bersama orang lain yang ada di dekat sekolah tersebut, maka jadilah orang tuanya tidak memasukkannya ke bangku sekolah. Jadilah hari-harinya diisi dengan membantu pekerjaan ibunya di dapur, dan sesekali menemani ayahnya pergi ke ladang yang cukup jauh dari tempat tinggalnya saat itu. Pekerjaan yang biasanya dilakoni oleh anak laki-laki di desanya ini dilakukannya awalnya karena permintaan ayahnya agar ada yang bias diajak berbicara, begitu kata ayahnya saat itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang tak ada laki-laki lain di rumahnya selain ayahnya, sementara ibunya yang biasa menemani ayahnya ke ladang akhir-akhirnya lebih banyak tinggal di rumah mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Begitulah kehidupan dilakoninya setiap hari menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke ladang yang berjarak delapan jam perjalanan dengan jalan kaki karena memang belum tersedia jalan dan sarana transportasi. Perlengkapan yang wajib ia siapkan saat itu untuk pekerjaan ini biasanya seputar dapur juga sebagaimana yang dilakoni ibunya dulu, yaitu berkaitan dengan makanan dan minuman. Sementara perlengkapan lainnya disiapkan dan dibawa oleh ayahnya yang memang telah bertahun-tahun melakoni pekerjaan ini, bahkan sejak kecil dulu bersama orang tuanya, begitu kata ibu suatu ketika mengisahkan bagaimana ayah dulu. Pekerjaan menemani ayah ke ladang terus dilakoninya berkali-kali, bahkan mungkin berpuluh-puluh kali sehingga ia merasa bahwa inilah pekerjaan yang mesti dilakukannya sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga sekaligus juga sebagai bentuk pengabdiannya kepada orang tua yang selama ini telah membesarkannya dan menyanyanginya.

Pekerjaan ini terus dan terus dilakukannya sampai-sampai ia tak ingat lagi entah telah berapa lama dan berapa kali ia menemani ayahnya ke ladang dan membantu pekerjaan di sana. Banyak hal yang telah ia alami selama melakoni pekerjaan ini, rasa capek yang terus menghinggapi karena kaki terus terayun selama delapan jam perjalanan dan sesampainya di sana pun tidak lantas dapat beristirahat karena pekerjaan lain telah mengunggu dan lain sebagainya. Meskipun demikian, yang paling ia ingat dan kemudian menjadi awal dari nestapa yang ia alami saat ini adalah di kala ayahnya menyatakan kepada ibunya bahwa alangkah baiknya jika kami berdua tinggal beberapa waktu di ladang, dari pada setiap hari mesti bolak-bolik menempuh perjalanan yang melelahkan. Kasihan si Wati, ia terlihat sangat kelelahan setiap kali habis menempuh perjalanan yang jauh, begitu kata ayah mengatakan kondisiku sesampai di ladang kepada ibu. Akhirnya, mungkin salah satunya karena faktornya yang sebenarnya sampai saat ini terus ia sesali, ibunya pun mengizinkan mereka tinggal beberapa hari di gubuk yang memang tersedia di ladang, sementara ibunya tinggal di rumah saja.

Akhirnya, setelah mempersiapkan segala perbekalan yang akan digunakan selama di ladang, kata ayahnya mungkin berbulan-bulan, mereka berdua pun berangkat menuju ladang yang selama ini telah menjadi tempat utama baginya, bahkan dengan rumah sekali pun. Hal ini karena sejak kecil hingga seusia sekarang ini hari-harinya memang dihabiskan di ladang, sampai-sampai ia tak punya teman di kampong kecuali yang sangat dekat dengan rumahnya. Mungkin karena terbiasa bermain sendiri dan mengerjakan pekerjaan layaknya orang dewasa, maka ia merasa sudah sangat dewasa di usia yang pada orang-orang lain masih masa kanak-kanak.

Pada awalnya semua berjalan sebagaimana biasa, setiap pagi ia menyiapkan sarapan untuk ayahnya yang akan bekerja mengurusi padi di ladang kemudian kembali ia tenggelam dalam seabrek rutinitas rumah tangga seperti yang biasa dilakukan ibunya. Namun demikian, lama kelamaan ada yang dirasakannya aneh dengan sikap ayahnya terhadapnya. Ia merasa ayahnya sekarang lebih perhatian dibandingkan dulu dan ia merasa perhatiannya itu sama seperti yang ayahnya lakukan kepada ibunya. Hanya saja perubahan ini tepatnya mulai berlangsung kapan, ia tak ingat. Dan yang ia ingat adalah setelah cukup lama mereka tinggal di ladang tersebut sementara ibu tak kunjung ada kabarnya di rumah, alias membiarkan kami berdua tinggal di tempat yang menjadi satu-satu tumpuan harapan mereka sekeluarga untuk menyambung hidup.

Perhatian dan kasih sayang yang ditumpahkan ayahnya kepadanya terus ia jumpai dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia rasakan makin meningkat. Jika mau jujur, sebenarnya ia merasa agak risih dan tidak enak hati menerima semua yang dilakukan ayahnya ini. Akan tetapi, apa yang ia rasakan ini tidak berani diungkapkan dan diutarakan kepada ayahnya. Ada rasa segan untuk mengutarakannya kepada ayahnya, karena ia kuatir kalau kemudian ayahnya merasa tersinggung dan bahkan marah kepadanya. Untuk itu, kemudian ia berusaha untuk menyimpan saja perasaan itu, walaupun ia akui bahwa perasaan tersebut senantiasa menghantuinya setiap hari.

Malam itu hujan turun sangat lebat sehingga membuat atap gubuk yang kami tempati yang terbuat dari ayaman daun rumbia menjadi bocor sehingga tetesan air hujan menjadi tak tertahan mengucur ke lantai. Di sana sini angin juga bertiup kencang hingga membuat beberapa pohon tak jauh dari gubuk yang mereka tempati bertumbangan. Kilatan petir yang menyambar juga turut mewarnai suasana malam itu sehingga membuat siapa pun yang ada di wilayah  itu bergidik ketakutan dan kedinginan tentunya. Hampir seluruh bagian dalam gubuk itu tergenang air sehingga yang tersisa sebagian kecilnya saja yang layak untuk ditempati. Akhirnya, ayahnya menyuruhnya untuk menempati tempat tidur yang sama dengannya. Tanpa banyak berpikir lagi, ia pun menuruti apa yang dikatakan ayahnya karena saat itu tetesan air hujan telah menggenangi sebagian besar ruangan dalam gubuk itu. Malam itu pun mereka tidur di atas tempat tidur yang sama, tetapi siapa sangka justru di malam inilah terjadi perbuatan yang semestinya tidak dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Yah, malam itu masih terus membekas dalam ingatan Wati bagaimana ayahnya melakukan perbuatan yang semestinya dilakukannya kepada istrinya, yaitu ibunya. Pada awalnya, ia menolak dan berusaha menyadarkan ayahnya akan perbuatan tersebut, tetapi apalah daya kekuatan seorang kelinci dibandingkan kekuatan srigala kelaparan yang menerkam mangsanya. Akhirnya, harta bendanya yang paling berharga yang kelak dipersembahkan kepada suami tercinta di malam pertama harus terenggut di malam yang gelap gulita di tangan seorang yang semestinya menjaga kehormatan darah dagingnya sendiri. Ia pun hanya bisa menangis menangis sesenggukan mendapati semua yang terjadi ini.

Seperti seorang anak kecil yang ketagihan akan permaian yang pernah dilakukannya, perbuatan ini terus berlanjut berkali-kali. Hanya saja, perbuatan ini berkali-kali dilakukan di matanya bukan sebagai ayahnya yang dulu sangat menyayanginya, tetapi lebih tepat dilakukan oleh seorang penjahat kambuhan karena senantiasa diwarnai nada ancaman. Setiap kali perbuatan ini terjadi, maka setiap kali pula ia hanya bisa pasrah tak dapat berbuat apa-apa dan menangisi semua yang terjadi. Entah telah berapa kali perbuatan ini dilakukan ayahnya ia tak ingat dan ingin berusaha menghitungnya karena tentu akan menambah beban dalam pikiran , yang ia ingat adalah perbuatan ini dilakukan ayahnya kadang-kadang malam dan tidak jarang di siang hari.

Hubungan yang semestinya dilakukan oleh sepasang suami istri yang sah ini terus saja berlangsung tanpa diketahui oleh ibunya. Akhirnya, apa yang ditakutkan olehnya terjadi juga. Yah, suatu saat ia mendapati ada keanehan yang terjadi dengan perutnya, karena dari hari ke hari semakin membesar layaknya orang yang mengandung seperti yang sering ia lihat di desanya. Keanehan ini diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa telah beberapa waktu lalu ia tak lagi mengalami siklus bulanan layaknya seorang perempuan, ditambah lagi makin meningkatnya nafsu makannya dari hari-hari biasanya. Keanehan-keanehan ini terus menghantui dan membebani pikirannya hingga ia memberanikan diri mengutarakannya kepada ayahnya.

Suatu hari ibunya datang ke ladang karena memang telah berbulan-bulan mereka berpisah, di samping juga karena perbekalan kami yang telah menipis. Namun demikian, suasana di ladang itu serta merta berubah menjadi arena kemarahan, jeritan dan umpatan yang dialamatkan kepada ayahnya sebagai aktor utama episode biadab ini. Pada awalnya ibunya sempat menyalahkannya kenapa tidak segera memberitahukan kepadanya apa yang terjadi. Akan tetapi setelah ia membeberkan apa yang terjadi sebenarnya, barulah ibunya memaklumi apa yang dialami putrinya di tempat yang sepi, sunyi dan dibawah tekanan dan ancaman orang yang semestinya mengawal darah dagingnya menuju masa depannya, bukannya malah menerkamnya di tengah jalan.

Kehidupan ini memang harus terus berlanjut apa pun yang menghalangi dalam perjalanan. Namun demikian, akibat beban pikiran akibat nestapa dan derita yang dialami putri semata wayangnya, ibunya meninggal dunia menjumpai sang pencipta dalam penyesalan yang ak pernah berujung akan perbuatan orang yang selama ini ia sayangi dan cintai. Yah, ibunya menghembuskan nafas terakhir beberapa minggu sebelum kelahiran putrinya yang juga sematanya sehingga beliau tak sempat menikmati hari-hari bersama cucu sekaligus juga anak tirinya?.

“Bu… bajuku yang coklat mana?.

Lamunan Bu Wati di balai-balai bambu terputus oleh suara yang datangnya dari arah dalam rumah. Dan ketika ia menoleh, ternyata itu adalah suara anaknya, Siti, yang ternyata telah bangun dari istirahat siangnya dan sekaligus telah mandi untuk melaksanakan aktivitas sore harinya sebagaimana yang tadi dikatakan ibunya. Sejenak Bu Wati tertegun, ternyata sudah hampir empat jam ia menghabiskan waktu di balai-balai bambu mengurai kembali kenangan masa lalunya yang kemudian  mengantarkannya dan anaknya ke tempat ini.

Akhirnya setelah memenuhi apa yang tadi diminta oleh anaknya, maka Bu Wati pun kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur yang tadi sempat tertunda. Hari demi hari pun berjalan sebagaimana yang biasa ia lakoni bersama anak semata wayangnya. Yah, Siti lah yang menjadi teman hidupnya selama ini, dalam suka dan duka, dalam senang dan susah selalu mereka lalui bersama. Meskipun demikian, celotehan-celotehan yang kerap muncul dari mulut mungil anaknya ini membuatnya dapat melupakan beban yang selama ini ia pikul. Yah, ia bertekad akan mengawal anaknya ini menjadi orang yang baik dan berguna bagi semua, meskipun ia bertindak sebagai single parent, apa pun yang dialamatkan orang untuk mengidentifikasinya.

Beberapa hari kemudian. Pada siang yang cerah di hari Minggu, tampak dua orang berjalan menuju sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tebal bercat putih. Di tangannya perempuan yang besar menenteng kantong plastik yang sepertinya berisi bekal untuk seseorang, sementara tangan yang satunya lagi terus memegang tangan anak perempuan yang menyertainya. Setelah sampai di bangunan tersebut dan meminta izin kepada penjaganya, ia pun masuk ke sebuah ruangan yang memang disediakan bagi para pembesuk orang-orang yang ada di balik jeruji besi dalam bangunan ini. Setelah menunggu beberapa menit, maka muncul seorang laki-laki setengah baya berpakaian seragam yang sama dikenakan para penghuni lainnya di banyak ruangan yang ada di gedung ini. Wajahnya mengguratkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam sehingga memunculkan banyak garisan memanjang di wajahnya.

“Ayah tetap sehat kan… Ini Wati bawa makanan untuk ayah makan di penjara”. Bu Wati mengatakan kepada laki-laki tersebut setelah mereka sama-sama duduk di kursi panjang yang ada di ruangan itu.

Telah cukup lama Bu Wati tak menjenguk ayahnya yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten setelah perbuatan biadabnya kepadanya. Seingatnya, terakhir kali ia menjenguk ayahnya kala umur kandungannya mendekati masa-masa bersalin setelah ibunya menutup usia di tengah ketidaksukaan keluarga dan tetangganya. Berarti sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan orang tuanya satu-satunya yang tersisa di dunia ini. Yah, setelah melahirkan putrinya, ia memutuskan untuk pindah dari desa kelahirannya mencari tempat lain yang jauh dari segala masa lalunya. Sebenarnya, secara umum keluarga dan tetangganya yang lain tidak mempermasalahkan statusnya dan anaknya di desa itu karena bagi mereka perbuatan tersebut di luar kemampuannya dan ayahnya sebagai aktor utamanya telah ditahan pihak berwajib. Akan tetapi, tetap saja ia mendengar gunjingan dan perkataan yang tidak mengenakkan dari beberapa orang tentang keluarganya. Untuk itu, ia bertekad untuk menjauh dari segala masa lalunya agar kelak apa yang dialaminya tidak membebani anaknya yang tidak mengerti apa-apa. Maka, ia pun memilih tempat terpencil di pinggiran sebuah desa yang terletak sangat jauh dari tempat tempat tinggalnya dulu.

“Alhamdulillah… ayah baik dan sehat, ini Siti ya?”. Tanya ayahnya setelah mengetahui kedatangan Bu Wati sambil membelai rambut anaknya yang ada di sebelahnya.

“Ya…yah, ini Siti… ayo salaman sama kakek”. Jawab Bu Siti memperkenalkan anaknya kepada ayahnya sambil meminta Siti untuk bersalaman dengan ayahnya.

Sejenak Siti tertegun mendengar apa yang barusan dikatakan ibunya. Seingatnya, di rumah tadi ibunya mengajaknya pergi menemui ayahnya yang selama ini ditanyakannya di suatu tempat. Tetapi, kok ini yang ditemuinya adalah kakeknya. Aneh, begitu beragam pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya sehingga membuatnya makin pusing. Meskipun demikian, ia menuruti permintaan ibunya walaupun tidak sepenuh hati dilakukannya.

Dalam perjalanan pulang setelah menemui orang yang dikatakan ibunya kakeknya, otak Siti terus bekerja mencerna peristiwa demi peristiwa yang tadi ditemuinya. Namun demikian, semakin ia berusaha berpikir maka semakin pula ia pusing. Bagaimana nanti kalau kembali ditanyakan guru dan teman-teman di sekolah.

Siti…Siti… usiamu memang belum dapat memahami segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Tetapi, percayalah suatu saat kau juga akan memahaminya dan menjadikannya pelajaran yang berharga bagi kehidupannya di masa-masa mendatang. Semoga kelak kau tidak menyalahkan siapa pun juga. Tidak ibumu, nenekmu dan juga kakek sekaligus juga ayahmu itu. Masa lalu tidak untuk disalahkan, tetapi sebagai pelajaran bagi masa depan. Begitu kira-kira harapan Bu Wati kelak kepada anaknya. Tuhan tidak pernah melihat status seseorang dan Ia Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana.

Yogyakarta, 09 Mei 2008

_________________

Penulis berasal dari sebuah desa di Tabir Kab. Merangin-Jambi. Menempuh pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat ini tinggal di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: