Proposal Penelitian

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

A. PENGANTAR

Rekam jejak sejarah mencatat bahwa Pulau Sumatera sejak dahulu memang dikenal sebagai kawasan yang kaya dengan beragam sumberdaya alam. Jauh sebelum republik ini terbentuk, negeri ini telah menjadi tumpuan harapan untuk mengeruk keuntungan, utamanya dilakukan oleh kolonial Belanda. Mulai dengan pendirian beberapa perusahaan perkebunan karet yang tersebar seantero pulau ini hingga beragam perusahaan tambang semacam batu bara dibangun di wilayah ini (Padmo, 2004: 105-124, Purwanto, 2002: 204-222). Maka jadilah wilayah yang merupakan salah satu pulau terbesar di dunia ini dijuluki sebagai swarna dwipa yang berarti ’pulau emas’ karena mengandung beragam sumberdaya yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Setelah Indonesia merdeka, keberadaan beragam usaha yang bertujuan untuk mendapatkan pendapatan negara ini terus dilakukan upaya peningkatan, bahkan komoditas lain seperti kelapa sawit pun terus diupayakan.

Meskipun demikian, pulau yang kadang disebut ’Andalas’ ini ternyata tidak hanya memiliki sumberdaya perkebunan dan pertambangan saja, tetapi juga memiliki banyak sungai. Beberapa sungai besar yang dikenal Indonesia, bahkan dunia, ada di pulau ini. Sebutlah misalnya Sungai Musi yang ada di Sumatera Selatan dan Sungai Batanghari yang melintas di wilayah Jambi. Kedua sungai besar ini memiliki beberapa anak sungai dalam ukuran sedang yang melintasi beberapa daerah di kedua propinsi ini. Sungai Batanghari di Jambi, misalnya, memiliki beberapa anak sungai seperti Batang Tebo, Batang Merangin dan Sungai Tabir. Maka jadilah masyarakat Sumatera dikenal dengan masyarakat sungai layaknya yang juga ditemukan di beberapa wilayah di Kalimantan.

Provinsi Jambi yang merupakan salah satu wilayah Nusantara yang memiliki banyak sungai, baik besar maupun kecil, beberapa tahun belakangan ini menghadapi ancaman degradasi yang cukup serius dan mengkhawatirkan yang dapat mengganggu eksistensi resources yang satu ini. Salah satu sungai yang ada di wilayah ini yang dianggap cukup mengkhawatirkan terkait dengan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat sekitar adalah Sungai Tabir yang melintasi wilayah yang dulu dikenal dengan Kecamatan Tabir dan sekarang memekarkan diri menjadi beberapa kecamatan dalam Kabupaten Merangin. Sungai Tabir menjadi salah satu resources alam yang penting bagi kehidupan dan bagian integral masyarakat yang ada di sepanjang sungai ini sejak dahulu.

Bagi masyarakat yang mendiami beberapa kawasan di Sumatera, untuk menyebut salah satunya di Jambi, sungai telah lama menjadi urat nadi kehidupan mereka. Jauh sebelum pesatnya perkembangan sarana transportasi seperti saat ini, sungai memainkan peranannya yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. Untuk melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, masyarakat menggunakan perahu dan kapal yang melintas di atas sungai. Hal ini bisa berupa hanya sekedar kunjungan biasa antar keluarga dan teman, melakukan perdagangan dari satu wilayah ke wilayah lainnya hingga mengangkut beragam hasil pertanian dan perkebunan untuk dijual. Di samping itu, sungai juga digunakan masyarakat sebagai sarana untuk beraktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus (MCK) hingga sebagai sarana mencari nafkah dengan berprofesi sebagai nelayan untuk menangkap ikan. Oleh karena begitu vital dan urgennya peran sungai dalam kehidupan, maka masyarakat sangat menjaga eksistensi resources yang satu ini dari ancaman aktivitas-aktivitas yang berujung pada terjadinya degradasi.

Jika dahulu satu-satunya aktivitas manusia yang dianggap dapat menggangu kelestarian sungai adalah membuang sampah, maka sekarang terdapat aktivitas lain yang perlu mendapat perhatian serius. Jika kita cukup jeli memperhatikan ancaman kelestarian sungai, maka akan ditemukan dua faktor penting yang dapat merusak ekosistem sungai, dimana keduanya jika dibiarkan terus berlangsung, maka lambat laun degradasi sungai akan segera menjadi kenyataan. Kedua faktor tersebut adalah pertama aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan resources sungai dengan cara mudah dan instant, yaitu meracun sungai dengan zat tertentu sehingga membuat ikan-ikan menggelepar sekarat. Aktivitas ini pada awalnya dilakukan pada sungai-sungai kecil, tetapi lambat laun berpindah ke sungai-sungai yang lebih besar, meskipun hanya pada bagian-bagian tertentu. Meskipun demikian, akhir-akhir ini aktivitas ini dilakukan terhadap seluruh bagian sungai besar yang menjadi tempat beraktivitas bagi masyarakat, seperti mandi, mencuci, kakus dan lain sebagainya.

Faktor kedua adalah menjamurnya aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat di hampir sepanjang sungai. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa kandungan logam mulia yang terdapat di sungai memang tinggi sehingga membuat masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan, ditambah lagi dengan realitas bahwa harga emas di pasaran terus memuncak. Jika aktivitas meracuni sungai hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, meskipun sebenarnya juga tidak bisa ditoleransi, namun aktivitas penambangan dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan seluruh unsur yang terdapat di sungai, mulai dari air, pasir, batu dan lumpurnya.

Aktivitas  yang sepintas lalu tidak membahayakan kelestarian sumberdaya air karena tidak berdampak langsung kecuali perubahan warna airnya ini dilakukan dengan cara mengeruk bebatuan dan pasir yang terdapat di dalam sungai dengan suatu alat yang ditempatkan di tengah-tengah sungai. Selanjutnya bebatuan dan pasir tersebut dicampur dengan suatu zat kimia untuk memisahkannya hingga didapatkan di dalamnya emas yang kemudian dikumpulkan untuk dijual di pasaran. Limbah hasil proses pemisahan yang telah bercampur dengan zat kimia ini kemudian dibuang begitu saja untuk kemudian mengkontaminasi beragam makhluk hidup yang terdapat dalam sungai.

Dapat dibayangkan bagaimana terjadinya degradasi sungai akibat tercemarnya air akibat racun dan zat kimia, beragam makhluk hidup yang ada di dalamnya akan punah, ikan-ikan besar dan kecil akan mati, bahkan juga telur-telurnya. Hal ini berarti bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya, itu pun dengan catatan bahwa aktivitas ini tidak terus berlangsung. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan warna air, jika dahulu hal ini terjadi karena turunnya hujan lebat di hulu sungai dan hanya dalam waktu yang tidak lama, tetapi sekarang perubahan air menjadi kuning kecoklatan bercampur lumpur tak mengenal fenomena alam yang ada. Padahal hingga saat ini sungai masih menjadi tempat utama masyarakat dalam, beraktivitas seperti mandi, mencuci dan kakus, bahkan di beberapa tempat air sungai juga dijadikan untuk air minum. Bagaimana jadinya jika masyarakat mengkonsumsi air yang berwarna kuning kecoklatan bercampur Lumpur dan tentu saja terkontaminasi racun dan zat kimia berbahaya.

Meskipun demikian, salah satu yang menarik diperhatikan berkaitan dengan adanya ancaman degradasi sungai ini adalah bahwa ternyata aktivitas yang dianggap dapat menggangu ekosistem sungai tersebut justru terjadi di wilayah yang lebih maju dan sejahtera dibanding tempat-tempat lainya. Pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat untuk ‘memanfaatkan’ resources yang terkandung dalam Sungai Tabir terjadi pada bagian sungai yang terletak di daerah-daerah yang selama ini dikenal dengan kemakmuran  masyarakatnya. Untuk menyebut salah satu wilayah dimaksud adalah Desa Rantau Limau Manis telah banyak diketahui sebagai wilayah yang memiliki tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan desa-desa lain yang ada di sekitar (Pahrudin HM, 2009: 99). Hal ini karena dengan keuntungan penjualan hasil karet, maka kehidupan masyarakat menjadi terjamin dan beragam kebutuhan, baik primer mapun sekunder, dapat dengan mudah dipenuhi. Di samping itu, hampir sebagian besar masyarakat yang mendiami wilayah ini memiliki areal perkebunan karet yang lebih dari cukup untuk menopang beragam kebutuhan sehari-hari. Lalu, bagaimana mungkin di tempat yang kesejahteraannya lebih tinggi justru aktivitas yang bermuara pada degradasi sungai terus terjadi dari waktu ke waktu.

Di samping itu, suatu aktivitas yang melibatkan banyak orang tentu tidak dapat menghindarkan diri dari interaksi antara satu dengan yang lain. Gesekan-gesekan sosial dan budaya serta beragam ranah lainnya dimungkinkan akan muncul ke permukaan dari proses interaksi tersebut. Hubungan-hubungan dimaksudkan tentu tidak hanya terbatas pada yang terjadi di antara para pelaku yang terlibat langsung dengan aktivitas penambangan emas, tetapi tentu juga dengan yang tidak terlibat langsung, seperti masyarakat sekitar dan lain sebagainya. Dari yang sebelumnya masih terhitung saudara, tetapi akibat salah komunikasi atau salah menempatkan diri akan timbul perselisihan yang tidak jarang berujung pada pertikaian dan perkelahian.

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang penelitian yang dipaparkan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tabir Kabupaten Merangin Jambi”.

Selanjutnya, permasalahan penelitian yang ditemukan ini akan dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang menjadi faktor yang melatarbelakangi beberapa warga masyarakat melakukan penambangan emas di Sungai Tabir.
  2. Bagaimanakah pola atau bentuk aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir  dilakukan.
  3. Bagaimanakah dampak aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir terhadap ekosistem sungai dan kehidupan manusia.

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:

  1. Mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi beberapa warga melakukan aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir.
  2. Mendeskripsikan pola atau bentuk aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat.
  3. Mengetahui implikasi atau dampak aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir terhadap ekosistem sungai dan kehidupan manusia.
  4. Memberi masukan kepada para pengambil kebijakan dalam setiap tingkatan mengenai permasalahan-permasalahan yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat berdasarkan fakta yang didapatkan.

D. LANDASAN TEORI

Segala tindakan, pekerjaan  dan perilaku yang dimunculkan oleh manusia atau seseorang pasti berlandaskan pada sesuatu yang melatarbelakanginya. Di samping itu, tindakan-tindakan tersebut juga memiliki tujuan-tujuan yang dipakai menggunakan alat-alat. Ketika seseorang melakukan pekerjaan makan, misalnya, maka ia melakukannya karena sesuatu yang melatarbelakanginya yaitu karena faktor lapar dengan tujuan kenyang dengan alat berupa nasi. Apalagi terhadap sebuah tindakan yang berkaitan dengan orang lain yang banyak, dimana dalam konteks ini adalah aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat di wilayah yang dilalui Sungai Tabir. Dan analisis salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sosiologi terhadap fenomena atau kasus yang ada dalam interaksi sosial kehidupan manusia secara sederhananya adalah dengan melihat pada ‘sesuatu di balik sesuatu’. Pengertiannya adalah jika mengemuka suatu fenomena atau kasus sosial di tengah masyarakat, maka sosiologi berasumsi bahwa hal tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi terdapat sesuatu hal lain yang melatar belakangi kemunculannya.

Dalam konteks tindakan yang dilakukan oleh seseorang, Talcott Parsons menguraikan analisanya dengan menggunakan kerangka alat-tujuan atau means-ends framework (Johnson, 1988:106). Inti pemikiran sosiolog kawakan ini (Parsons, 1937: 55) adalah bahwa :

  1. Tindakan itu diarahkan pada tujuannya (atau memiliki suatu tujuan)
  2. Tindakan terjadi dalam suatu situasi, dimana beberapa elemennya sudah pasti, sedangkan elemen-elemen lainnya digunakan oleh yang bertindak itu sebagai alat menuju tujuan itu.
  3. Secara normatif, tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan tujuan.

Dengan kata lain, tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang paling kecil dan paling fundamental. Komponen-komponen dasar dari suatu tindakan adalah tujuan, alat, kondisi dan norma (Ritzer, 2004: 147). Alat dan kondisi berbeda dalam hal di mana orang yang bertindak itu mampu menggunakan alat dalam usahanya mencapai tujuan; kondisi merupakan aspek situasi yang tidak dapat dikontrol oleh orang yang bertindak itu.

Sebagian besar perilaku manusia dapat dilihat sebagai bagian dari suatu rantai alat dan tujuan yang bersifat kompleks dan panjang. Pada mata hubungan dalam suatu rantai seperti itu, keputusan harus diambil dalam menyeleksi  alat dan tujuan. Kriteria untuk mengambil keputusan serupa itu tidak dapat dijelaskan atas suatu dasar yang benar-benar positif. Dalam banyak hal, tujuan dari suatu garis tindakan tertentu bukanlah merupakan tujuan akhir melainkan sebagai sasaran antara saja dalam rantai itu yang berfungsi sebagai alat untuk suatu tujuan selanjutnya (Ritzer, 2004: 147).

Lebih lanjut, sosiologi juga menaruh perhatian terhadap persoalan lingkungan yang dikenal dengan sosiologi lingkungan (Environment Sociology) setelah sekian lama dianggap hanya berkutat dengan kajian mengenai hubungan antar manusia ((Susilo, 2008: 3-6). Fokus kajian sosiologi lingkungan, menurut salah satu tokohnya Hannigan, adalah pada perhatian terhadap penyebab dampak dari terjadinya degradasi lingkungan dan penelusuran terhadap pertumbuhan, perkembangan kesadaran, dan gerakan yang mengusung tema lingkungan (Susilo, 2008: 3-6).

Terjadi dan terus berlangsungnya degradasi pada suatu resources tidak serta merta mengemuka begitu saja, akan tetapi pasti ada yang melatarbelakanginya. Jika ditelisik lebih jauh, terdapat lima sumber kultural yang menciptakan pencemaran lingkungan (Usman, 2004: 288-290). Pertama, “The Cornuopia View of Nature” yaitu suatu pandangan yang dilandasi anggapan bahwa alam terbentang luas dan tidak akan pernah habis. Pandangan seperti ini dibangun dari suatu argumentasi bahwa alam yang sangat luas memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga setiap orang boleh memanfaatkan lingkungan dengan leluasa. Kedua, keyakinan yang sangat mendewakan teknologi (faith in tecknology), yaitu keyakinan yang berkaitan dengan pandangan bahwa dalam hidup ini manusia seharusnya tidak dikuasai alam, tetapi sebaliknya manusia yang dapat menguasai alam.

Ketiga, “The Growth Ethic” atau etika untuk ingin terus maju, dimana kebanyakan masyarakat modern mendambakan kemajuan dan tidak suka pada kemapanan. Biasanya mereka tidak pernah puas dengan segala hal yang pernah dicapainya, dan ingin terus berbeda dari hari-hari sebelumnya. Akibatnya, sumber-sumber alam semakin banyak digali serta dimanfaatkan dan pencemaran pun semakin meningkat. Keempat, Materialisme atau paham yang mengagungkan materi. Bagi masyarakat modern, pada tingkat individual, keyakinan akan kemajuan diterjemahkan dalam bentuk konsumsi benda materi sebagai lambang keberhasilan. Sistem ekonomi yang dikembangkan terutama didasarkan pada pertumbuhan usaha-usaha swasta dan ditandai dengan ketergantungan pada permintaan akan hasil produksi. Ketika keadaan penduduk kurang lebih stabil, pertumbuhan hanya dapat dicapai melalui peningkatan konsumsi individu. Konsumsi akan meningkat apabila hasil produksi dapat digunakan hanya pada kurun waktu tertentu dan tidak berumur panjang. Produksi barang semacam ini memang dapat meningkatkan permintaan, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga menambah pencemaran. Kelima, sikap dan keyakinan pada individualisme. Masyarakat modern sangat menekankan dorongan personal dan pada umumnya sangat percaya bahwa bekerja adalah jalan menuju sukses. Untuk itu, tidak mengherankan kalau dijumpai kecenderungan untuk mengorbankan apa yang dimiliki sekarang untuk meraih sukses atau keuntungan di masa datang. Kecenderungan semacam ini mempunyai implikasi penting pada lingkungan, yaitu tatkala orang berusaha meraih sukses dengan jalan memanfaatkan sumberdaya alam sebanyak-banyaknya, tetapi malah tercemar dengan pemanfaatan zat-zat berbahaya dengan dalih intensifikasi.

E. METODOLOGI PENELITIAN

E.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian studi kasus (case study), yaitu jenis penelitian yang dapat diartikan sebagai suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar (Salim, 2001: 93). Lebih khusus lagi, penelitian ini adalah penelitian studi kasus intrinsik (intrinsic case study) yang berfungsi untuk memahami secara lebih baik tentang suatu kasus tertentu yang dianggap unik dan lebih menarik dibandingkan kasus-kasus lainnya.

Pemilihan metode studi kasus intrinsik dilakukan karena peneliti melihat bahwa fenomena terus berlangsungnya aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir sangat unik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang ada di sana. Meskipun di tempat-tempat lain aktivitas penambangan emas dilakukan dengan pola dan bentuk yang hampir sama, bahkan tidak berbeda, namun apa yang terjadi di wilayah ini bukan seperti yang pada umumnya mengemuka.  Jika di tempat lain aktivitas penambangan emas dilakukan karena tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang rendah, maka apa yang mengemuka di wilayah ini justru sebaliknya di mana para pelaku penambangan emas berasal dari wilayah yang tingkat kesejahteraannya tinggi dan dilakukan di tempat yang selama ini dikenal sebagai lumbungnya kemakmuran (Pahrudin HM, 2008).

Penelitian studi kasus dengan teknik diskriptif-analitis digunakan untuk memahami secara cermat dan mendalam upaya pendeskripsian fenomena-fenomena dalam penelitian. Model penelitian ini dapat juga diartikan sebagai suatu laporan terhadap suatu kejadian, situasi atau perkembangan yang disusun dengan lengkap dan terperinci (Horton2003: 38). Jenis penelitian ini dimulai dari pengamatan terhadap obyek penelitian dan dilanjutkan dengan memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip penjelas yang abstrak dan umum menampakkan diri dalam satu realitas tunggal yang diamati (Worsley, 1991: 107).

Fenomena-fenomena yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seputar aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Dengan pemilihan metode studi kasus, di samping karena berkaitan dengan pertanyaan how dan why dari sebuah fenomena, juga karena penelaahan kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif (Faisal, 1999: 22, Yin, 2004: 1).

E.2. Teknik Penentuan Informan

Untuk keperluan penelitian ini peneliti akan membagi informan menjadi dua bagian, yaitu: pertama informan yang secara langsung terlibat dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir dan  kedua informan yang terlibat secara tidak langsung dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Informan kelompok pertama terdiri dari pemilik alat-alat penambangan, pekerja penambang, dan pekerja pemisah bahan galian. Untuk informan jenis pertama ini peneliti batasi menjadi dua puluh orang karena berdasarkan pengamatan di lapangan mereka inilah para pelaku yang berkecimpung secara langsung dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir.

Adapun informan kelompok kedua terdiri dari penampung hasil tambang (toko emas), keluarga para pekerja tambang, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar tempat penambangan tersebut. Kelompok kedua ini peneliti batasi menjadi lima puluh orang dengan asumsi bahwa kelompok inilah yang merasakan hasil dan dampak yang didapatkan dari adanya aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Penentuan para informan yang peneliti lakukan dilaksanakan dengan cara acak berdasarkan peran dan fungsi mereka dalam penambangan emas di Sungai Tabir.

E.3. Teknik Pengumpulan Data

Sebagaimana yang disyaratkan dalam penelitian dengan menggunakan metode studi kasus (case study), maka data dikumpulkan dari enam sumber, yaitu: melalui dokumen dan rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi partisipan (participant observation) dan perangkat fisik lainnya (Yin, 2004: 103-118). Keenam sumber data tersebut digunakan oleh peneliti untuk lebih melengkapi data-data yang diperolehnya.

Teknik pengumpulan data dokumentasi dan rekaman arsip peneliti lakukan untuk mendapatkan segala bentuk informasi dan data-data yang berkaitan dengan penambangan emas di Sungai Tabir. Di samping itu, model ini juga berguna untuk melakukan verifikasi terhadap beragam nama yang digunakan dalam wawancara terhadap responden.

Sedangkan untuk mengetahui faktor apakah yang menjadi latarbelakang dan bagaimana pola dan dampak penambangan emas di Sungai Tabir terhadap para pelaku yang terlibat di dalamnya dan lingkungan sekitarnya, maka peneliti menggunakan metode pengamatan langsung dan observasi partisipan (participant observation). Model ini diterapkan oleh peneliti dengan cara tinggal di lokasi penelitian dan berinteraksi dengan para pelaku yang terlibat di dalamnya.

Teknik pengumpulan data selanjutnya yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara atau lebih tepatnya wawancara mendalam (dept-interview). Adapun penerapan model ini penulis lakukan dengan cara memfokuskan pada informan-informan yang ada di lokasi penelitian atau orang-orang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan penambangan emas di Sungai Tabir.

E.4. Unit Analisis

Unit analisis dari penelitian yang peneliti lakukan ini adalah orang-orang yang melakukan penambangan emas di Sungai Tabir, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks penelitian ini yang dimaksudkan dengan unit analisisnya adalah pemilik alat-alat yang digunakan untuk menambang, pekerja penambang, dan penampung hasil tambang (toko emas), keluarga para pekerja tambang, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar tempat penambangan tersebut.

E.5. Teknik Analisis Data

Untuk melakukan analisis data yang didapatkan, maka peneliti akan melakukannya dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif yang dilakukan dengan melalui tiga cara (Miles,1992: 15-21, Moleong, 2004: 189-207, 190), yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Selanjutnya, penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Cara terakhir yang digunakan adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi yaitu interpretasi atau penafsiran terhadap keseluruhan data yang terkumpul tersebut sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang memadai.

E.1. Proses Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, Studi Pendahuluan, yaitu melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian. Tahapan ini dilakukan untuk lebih mendapatkan gambaran suasana dan kodisi awal lokasi penelitian. Pada tahapan ini, penulis melakukannya dengan mewawancarai dan berdiskusi dengan  beberapa orang yang dianggap mengetahui kondisi obyektif tentang lokasi penelitian. Tahapan yang peneliti lakukan ini berlangsung selama dua bulan, yaitu sejak bulan Juni hingga Juli 2009.

Tahap kedua dari penelitian ini adalah Studi Lapangan. Inilah tahap krusial dalam suatu penelitian, dimana peneliti melakukan penelitian lapangan dengan melakukan pengumpulan data yang berkaitan dengan topik penelitian. Pada tahap ini peneliti akan tinggal di wilayah ini. Hal ini peneliti lakukan agar benar-benar dapat melihat aktivitas mereka masing-masing, bahkan peneliti pun dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari. Tahapan ini peneliti dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, yaitu dimulai sejak bulan Agustus hingga Desember 2009.

Tahap akhir dari rangkaian penelitian ini adalah penyusunan hasil penelitian dari data-data yang telah peneliti kumpulkan dan dapatkan selama melakukan penelitian ini. Tahap ini juga mencakup pelaporan atas temuan-temuan yang telah didapatkan dalam penelitian ini. Tahap ini peneliti rencanakan berlangsung mulai Januari 2010.

F. ANGGARAN BIAYA

Untuk anggaran biaya penyelenggaraan penelitian ini sebagaimana terlampir pada halaman lain proposal ini.

G. SUMBER DANA

Anggaran dana untuk penyelenggaraan penelitian sebagaimana yang tercantum dalam lampiran proposal ini akan didapatkan dari beragam pihak yang bersifat tidak mengikat. Yaitu, sumbangan dan bantuan dari aneka komponen yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan peran pemuda terhadapnya seperti pemerintah, lembaga pemerintah, perusahaan (corporate), Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) dan perseorangan (pribadi).

G. DAFTAR PUSTAKA

Daldjoeni, N dan A. Suyitno. 2004. Pedesaan, Lingkungan dan Pembangunan. Bandung: PT. Alumni.

Usman, Sunyoto. 2004. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mitchell, Bruce. dkk, 2003. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pahrudin HM, 2009. Relasi Patronase Dalam Pengelolaan Perkebunan Karet Rakyat. Yogyakarta: Jurnal Sosiologi Reflektif Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.

__________, 2008. Pemilik Kebun dan Penyadap Karet; Jalinan Patronase Dalam Pengelolaan Perkebunan Karet Rakyat di Desa Rantau Limau Manis Jambi, Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tesis Tidak Diterbitkan.

Johnson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern II. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Parsons, Talcott. 1937. Structure of Social Action. New York: McGraw-Hill.

Ritzer, George. dan Douglas J. Goodman, 2004. Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenada Media.

Poerwanto, Hari. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Polama, Margaret M. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Salim, Agus. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Susilo, Rachmad K Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt, 2003.  Sosiologi, Alih Bahasa: Aminuddin Ram dan Tita Sobari, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Worsley, Peter. 1991. Pengantar Sosiologi, Alih Bahasa oleh Hartono Hadikusumo, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, Jilid I.

Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Yin, Robert K. 2004. Studi Kasus; Desain dan Metode, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman,  1992. Analisis Data Kualitatif, Alih Bahasa: Tjetjep Rohindi Rohidi, Jakarta: Universitas Indonesia Press. Cetakan Pertama.

Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cetakan Kedelapan Belas.

LAMPIRAN

ANGGARAN BIAYA PENELITIAN

1. Transportasi Yogyakarta-Bangko PP                      Rp.   3.000.000,-

2. Akomodasi Selama Penelitian                                Rp.   2.000.000,-

3. Pengadaan Alat-Alat Penelitian :

a. Kertas HVS 1 rim                                        Rp.        30.000,-

b. Kamera Digital                                            Rp.   3.000.000,-

c. Laptop 1 buah                                             Rp.   6.000.000,-

d. Flashdis MP4 2 GB 1 buah                          Rp.      500.000,-

4. Penggandaan Proposal 5 buah x Rp. 10.000,-         Rp.        50.000,-

5. Penyusunan dan Penggandaan Laporan –

Hasil Penelitian 5 buah x Rp. 50.000,-                   Rp.      250.000.-

________________________________________________________

Jumlah Total                                                                Rp. 14.830.000,-

Terbilang: Empat  Belas Juta Delapan Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah

Yogyakarta, 10 Desember 2009

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: