Cermati Dulu Kunjungan Hillary, Baru Sambut Obama

Oleh: Pahrudin HM

Dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat Indonesia akan dikunjungi oleh seorang yang memiliki pengaruh besar di dunia. Ya, Pemerintah Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk menyambut Presiden Barack Obama yang berencana akan mengunjungi negeri tempat ia menghabiskan masa kecil dalam beberapa tahun yang lalu. Sebelum pembicaraan mengenai Barry ini mulai mewarnai horizon publik kita, ada baiknya kita mencermati kunjungan pendahuluan yang beberapa waktu yang lalu dilakukan oleh mantan rivalnya dalam konvensi Partai Demokrat, Mentri Luar Negeri Hillary Clinton.

Seperti yang banyak diprediksi oleh banyak kalangan, terutama jika mencermati isi pidato pelantikannya, Barrack Obama sebagai penguasa negeri adidaya mulai memainkan strategi-strategi untuk merajut masa depan Amerika dan dunia. Kiprah tersebut dimulai dengan mengirimkan menteri luar negerinya ke luar negeri untuk mulai menyapa dunia dan memperlihatkan langkah-langkah yang akan diambil oleh presiden negeri super power yang banyak mencatat rekor penting tersebut. Meskipun kunjungan Hillary Rodham Clinton sebagai mentri luar negeri ke kawasan Asia Timur dan Tenggara merupakan langkah yang dianggap menyalahi tradisi yang selama ini dilakukan Amerika karena merupakan kunjungan pertama di luar Eropa dan Timur Tengah, namun demikian hal ini justru memperlihatkan suatu perbedaan perspektif pemerintahan Obama dari para pendahulunya.

Indonesia merupakan negara kedua yang dikunjungi Menlu Hillary Clinton setelah sebelumnya melawat ke Jepang . Kunjungan ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan karena nama negeri kepulauan ini sudah sedemikian familiar di kalangan petinggi Amerika, khususnya setelah kemenangan Obama dan menyimak perjalanan hidupnya yang pernah cukup lama tinggal di negeri ini. Di samping itu, dalam pidato pelantikannya, Obama sangat menekankan perhatian pemerintahannya pada upaya menjalin hubungan yang lebih baik dan saling menguntungkan dengan negara-negara muslim di dunia. Indonesia dengan keunikan statusnya, baik sebagai negeri muslim terbesar di dunia, menjalankan sistem demokrasi dengan baik, maupun memiliki hubungan yang sangat baik dengan banyak negara yang justru tidak dimiliki negeri lainnya sekaligus, merupakan tempat yang strategis bagi Amerika di masa mendatang.

Meskipun bukan pertama kalinya Hillary Clinton mengunjungi negeri ini, karena mantan first lady Amerika ini pernah datang mendampingi suaminya, mantan Presiden Bill Clinton, tetapi lawatan kali ini tentu memiliki misi yang berbeda. Jika dahulu lawatannya tidak lebih hanya sekedar pelengkap kunjungan suaminya, tetapi kali ini membawa misi sebagai pembuka mata dunia bahwa pemerintahan Obama memiliki kebijakan yang berbeda dengan para pendahulunya berkaitan dengan world view-nya. Upaya ini setidaknya nampak pada suasana semenjak kedatangan Hillary, selama lawatan dua harinya hingga kepulangannya yang sangat familiar dan menebar senyum kepada siapa saja seiring dengan perubahan kebijkan Amerika yang smart power untuk menggantikan kebijakan yang selama ini diterapkan.

Sebagai orang-orang Indonesia khususnya dan warga dunia umumnya yang tentu akan menyaksikan dan merasakan smart power yang coba diterapkan oleh Obama, maka ada beberapa hal yang perlu dicermati dari kunjungan Menlu Hillary ke Indonesia. Hal ini dilakukan bukan karena kita berprasangka yang buruk terhadap ‘kebaikan’ yang datang dari negeri Paman Sam sebagai adikuasa dunia tersebut. Namun sebagai langkah antisipasi sebagai sebuah bangsa menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi di kemudian hari yang tentu semakin sulit diprediksi.

Dari aspek positifnya, kunjungan Hillary ke Indonesia waktu dapat dilihat sebagai upaya pembelajaran demokrasi yang sangat baik bagi bangsa Indonesia, khususnya para politisi yang waktu itu akan berkompetisi dalam pemilu 2009. Sebagaimana kita ketahui bahwa Hillary adalah mantan rival berat Barrack Obama dalam konvensi yang memperebutkan posisi calon presiden dari Partai Demokrat. Dalam upaya mencari dukungan terhadapnya, Hillary tidak segan-segan mengkritik dan memojokkan Obama dalam kampanye-kampanye yang dilakukannya di berbagai negara bagian yang ada di Amerika. Akan tetapi, setelah dinyatakan kalah bersaing dan Obama resmi menjadi capres dari partai pengusungnya, maka dengan ksatria Hillary mengakui kekalahannya dan mendukung mantan rivalnya tersebut hingga sukses menuju Gedung Putih pada pemilihan presiden mengalahkan McCain sebagai capres Partai Republik. Bentuk kesatriaan yang ditunjukkan Hillary terhadap Obama ternyata tidak berhenti sampai di situ, ia pun dengan mantap menerima permohonan mantan rivalnya ini untuk menjadi mentri luar negeri (secretary of state) sebagai ujung tombak kebijakan-kebijakan luar negeri yang diterapkan oleh pemerintahannya terhadap dunia.

Bagi masyarakat kita, apa yang dilakukan Hillay merupakan sesuatu yang langka dan bahkan mungkin tidak pernah serta sulit terjadi. Para politisi kita beserta komponen pendukungnya sangat sulit untuk menerima sebuah kekalahan yang dilakukan secara fair dan adil. Dari mulai pemilihan lurah, bupati dan wali kota, gubernur hingga presiden sekalipun tidak pernah kita mendengar dan menyaksikan para rivalnya mengakui kemenangan seorang pemenangnya serta secara ksatria mendukung kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan pemenang pemilihan tersebut. Sebagai gambaran yang sangat kasat mata yang terjadi di negeri ini adalah para mantan rival dari suatu pemilihan tidak pernah datang ke acara pelantikan orang yang terpilih dari suatu pemilihan tersebut dengan beragam alasan yang dikemukan. Gambaran ini dengan sangat jelas terlihat dalam pelantikan lurah terpilih, bupati terpilih, gubernur terpilih hingga presiden terpilih. Untuk sekedar datang menyaksikan pelantikan pun tidak, apalagi untuk mengakui dan mendukung program-program yang akan dilakukan demi kesejahteraan masyarakatnya sendiri.

Menjelang rangkaian pemilu yang waktu itu akan segera digelar hanya dalam hitungan beberapa minggu saja, momen kedatangan Hillary diharapkan membuka mata para politisi tanah air bahwa dalam demokrasi yang sejati, kalah dan menang adalah hal yang biasa karena hal ini layaknya sebuah kompetisi yang berujung pada hasil akhir. Siapa pun tentu akan menginginkan kemenangan, akan tetapi kekalahan bukanlah sesuatu yang nista dan menutup mata dan kaki kita untuk bersama-sama membangun negeri yang besar ini.

Dari aspek lainnya yang bisa berdampak positif dan negatif tergantung kesadaran dan upaya kita di masa mendatang adalah kunjungan Hillary dapat membuka jalan bagi peningkatan hubungan kedua negara. Sebagaimana diketahui bahwa ekspor beragam produk Indonesia ke Amerika merupakan salah satu bagian bagian terbesar dari tujuan ekspor lainnya di samping Jepang dan negara-negara lainnya. Dengan hubungan yang kondusif dan terjalin baik maka barang-barang produk dalam negeri akan mudah memasuki memasuki negeri adidaya ini sekaligus juga meningkatkan pendapatan banyak sector dan kalangan yang ada Indonesia di tengah kondisi krisis finansial yang mendera sekarang ini. Di samping itu, kunjungan ini merupakan pengakuan Amerika terhadap signifikansi Indonesia dalam percaturan dunia saat ini, terbukti dengan dijadikannya Indonesia sebagai negara kunjungan kedua menlunya setelah Jepang dan baru dilanjutkan dengan Korea dan China. Pengakuan semacam ini di masa mendatang akan mengemuka dengan hadirnya persahabatan yang kental antara keduanya seperti yang selama ini dilakukan Amerika terhadap banyak negara sahabat (baca: sekutu)nya, semisal Israel, Arab Saudi, Singapura dan lain sebagainya. Sebagai sesama sahabat, tentu kita mengharapkan adanya hubungan yang saling menguntungkan bagi keduanya dan tidak ada upaya penghegemonian yang dapat berujung pada terjadinya ketidakseimbangan posisi.

Meskipun demikian, banyak kalangan menilai bahwa terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam persahabatan kedua negara ini akan sulit terwujud. Hal ini karena perbedaan status yang disandang oleh keduanya yang tidak dilepaskan terlebih dahulu, Amerika sebagai super power dunia seringkali menghendaki lebih dan Indonesia sebagai negeri berkembang seringkali terlihat tidak percaya diri. Di masa mendatang semoga dengan kebijakan smart powernya, hubungan keduanya benar-benar mewujud dalam format yang saling menguntungkan terhadap kebaikan kedua negara tersebut.

Sebagai sahabat Amerika, satu sisi sangat menguntungkan Indonesia terutama dengan beragam bantuan yang akan ditawarkannya dan persahabatan yang juga makin akrab dengan sekutu Amerika lainnya, akan tetapi di sisi lain hal ini sekaligus berdampak negatif terhadap negeri ini. Sebagaimana diketahui bahwa dengan status Indonesia yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan Amerika selama ini membuat negeri ini bersahabat baik dengan negara lainnya, terutama dengan para penentang kebijakan Amerika seperti Iran dan beberapa negara di kawasan Amerika Selatan (Venezuela, Kuba, Bolivia dan lain sebagainya). Tentu dengan kian mesranya hubungan Indonesia-Amerika membuat mereka berpikir ulang dengan Indonesia, padahal inilah satu karakteristik unik yang selama ini tersematkan di negeri ini sekaligus juga mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi Amerika. Aspek negatif lainnya dengan adanya hubungan semacam ini adalah memungkinkan kian suburnya terorisme di Indonesia yang memang mengarahkan sasarannya terhadap kepentingan Amerika, terutama yang ada di luar negeri. Lihatlah sasaran pemboman yang dilakukan kelompok teroris, baik di dalam negeri dan luar negeri, adalah hal-hal yang berkaitan dengan Amerika. Logikanya, dengan posisi Indonesia yang tidak terlalu akrab dengan Amerika saja sudah menjadi ancaman teror apalagi jika menjalin hubungan yang sangat akrab.

Hubungan jenis apa pun dengan Amerika akan berdampak signifikan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Jalinan yang harmonis jika kita menyiasatinya dengan baik untuk kemajuan masyarakat akan berdampak positif. Dengan hubungan yang harmonis maka kita dapat memberikan pendapat, solusi dan bahkan kritikan kepada Amerika berkaitan kebijakan luar negerinya yang selama ini dikeluhkan dan dikritisi oleh banyak kalangan, terutama negara-negara penentangnya yang sempat dijuluki Poros Setan tersebut. Ini semua tergantung dengan peran apa yang akan kita mainkan sekaligus kemampuan kita menjalankan peran tersebut demi kebaikan bersama serta menepis ‘dogma’ yang selama ini melekat dan dilekatkan kepada kita bahwa negeri ini tidak mempunyai keberanian dan bersikap tegas atas kebijakan-kebijakan Barat seperti halnya yang diterapkan negeri jiran, Malaysia dengan tokoh sentralnya, Mahathir Muhammad.

Menarik ditunggu adalah hasil dari perjalanan muhibah Hillary ke Indonesia yang tentu akan dilaporkannya kepada sang bos, Barrack Obama. Hillary telah membuka jalan beberapa waktu lalu bagi bosnya yang segera akan berkunjung. Sebagai pemegang kendali dunia, tentu kunjungan yang akan dilakukan oleh Obama kelak di negeri ini dapat merupakan lanjutan atau implementasi dari apa yang sudah dilakukan Hillary di negeri ini beberapa waktu yang lalu.

___________________

Penulis adalah alumni Program Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tinggal di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: