Mencermati Aksi Demonstrasi

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Kemarin, 3 Februari 2010, bertempat di sebuah tempat di kawasan Istana Cipanas, Jawa Barat, Presiden SBY mengomentari aksi-aksi demontrasi yang akhir-akhir ini memang kembali marak. Dalam sebuah acara yang diikuti oleh para menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II dan seluruh gubernur untuk memformulasikan beragam kebijakan pemerintah, Presiden mengeluarkan isi hatinya menanggapi beragam aksi demontrasi yang dilakukan oleh elemen-elemen masyarakat. Menurut Presiden, aksi demontrasi akhir-akhir sudah tidak wajar dan keterlaluan. Aksi-aksi tersebut jauh dari sopan santun dan budaya timur yang selama ini menjadi anutan masyarakat kita. Lebih jauh lagi, menurut SBY, aksi-aksi tersebut dapat dikategorikan pelecehan karena dalam melakukan aksi-aksi beberapa demonstran membakar dan menginjak-injak simbol negara, seperti gambar presiden dan wakil presiden. Secara khusus, SBY juga mengungkapkan isi hatinya mengenai sebuah aksi demonstrasi yang membawa kerbau yang menurut mereka sebagai simbol malas.

Untuk mengomentari pernyataan SBY ini, salah satu stasiun televisi swasta nasional mengundang seorang pakar ilmu sosial dari sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Menanggapi pernyataan SBY tersebut, sang pakar bilang bahwa demonstrasi berbeda  dengan pawai yang penuh dengan kesopanan dan santun serta rapi. Aksi demo, menurut pakar tersebut, memang dipersiapkan untuk menyuguhkan aksi agar mendapat perhatian dari yang menjadi objek demo tersebut. Dalam konteks ini, berarti bahwa apa yang diinginkan oleh para demontran tersebut memang sudah mengena karena memang mendapat perhatian dari objek demontrasi, yaitu SBY.

Namun demikian, sudah sedemikian parahkan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat kita sehingga selalu memunculkan pro dan kontra?. Menurut hemat saya, sebagai orang Timur kita sering terjebak dengan mengadopsi semua yang datang dari Barat. Segala yang berlaku dan biasa dilakukan di Barat yang memiliki pengertian negara-negara Eropa dan Amerika Serikat kita terapkan di tempat kita yang notabene sangat berbeda. Masyarakat Timur memiliki caranya tersendiri dalam mengemukakan pendapat. Sebagai contoh, dalam masyarakat kita dikenal adanya kata atau perbuatan yang dimaksudkan agar orang yang menjadi objek kritikan tersebut menyadari kekeliruannya. Akan tetapi, kata atau perbuatan tersebut tidak disampaikan secara langsung dan fulgar serta tidak langsung mengena secara langsung kepada objek yang dikritik tersebut. Dalam melakukan protes atau kritikan, saya rasa tidak perlu kita melakukan aksi yang justru kontraproduktif dengan tujuan kita melakukan aksi demonstrasi tersebut. Misalnya, memblokir jalan sehingga mengganggu mobilitas orang lain, menginjak dan membakar  gambar para pemimpin yang sekalipun tidak disukai yang perilakunya yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan kita. Kenapa kita tidak membuat aksi demonstrasi yang simpatik, baik bagi masyarakat lain yang melihatnya atau bagi objek demonstrasi tersebut.

Namun demikian, apa yang dilakukan oleh para demonstran tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan kepada mereka. Menurut hemat saya, demonstrasi dengan mengadakan aksi di jalanan merupakan akumulasi dari kekecewaan berkepanjangan yang dirasakan oleh masyarakat. Kekecewaan tersebut muncul dari ekspektasi tinggi yang diinginkan oleh masyarakat, tetapi belum atau tidak mampu dipenuhi oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan negara. Akibat dari tidak terjalinnya komunikasi, baim secara formal melalui media-media yang diperuntukkan untuk menjembatani hal tersebut maupun informal melalui para tokoh masyarakat dan lain sebagainya, maka aksi demonstrasi yang menyuarakan kehendak rakyat menjadi jalan keluarnya.

Harus diakui memang, bahwa setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentu mendapatkan tanggapan pro maupun kontra. Tidak ada langkah atau usaha yang dilakukan pemerintah suatu negara yang sepenuhnya diamini atau didukung oleh rakyatnya. Negara komunis-sosialis semacam China yang menempatkan negara pada pihak yang berkuasa sepenuhnya sekalipun suara-suara kontra tetap saja bermunculan, meskipun sembunyi-sembunyi alias underground. Apalagi negeri seperti Indonesia yang kebebasannya sudah sangat diakui sehingga tidak jarang dianggap beberapa kalangan sudah kebablasan atau overfree. Yang diperlukan saat ini adalah komunikasi yang terus terjalin antara penguasa dan rakyatnya serta transparansi dan akuntabilitas terhadap setiap kebijakan yang diambil pemerintah di hadapan rakyatnya. Dan yang tak kalah penting adalah keinginan kuat atau komitmen pemerintah sebagai ‘pelayan rakyat’ untuk menerapkan kebijakan yang benar-benar memperhatikan nasib rakyat dan tidak malah seakan melukai perasaan mereka di tengah himpitan kebutuhan hidup yang kian tak terkendali ini. Dengan kondisi seperti ini, apakah masih ada suara yang kontra? Tentu. Tetapi, dengan cara menerapkan hal-hal di atas suara-suara yang muncul adalah suara riuh rendah dan senyuman bahagia rakyat dengan menenggelamkan wajah-wajah lain yang tidak setuju tersebut. Semoga…

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: