Perempuan Harapan Keluarga; Fenomena TKW di Sebuah Desa di Magelang

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Jika kita cermati, pemberitaan mengenai penderitaan yang dialami oleh para tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri terus menghiasi ruang publik kita melalui beragam media massa, baik elektronik maupun cetak. Meskipun pemberitaan tersebut akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan akibat ‘kalah bersaing’ dengan berita seputar politik, seperti skandal Century dan lain sebagainya yang tengah hangat dibicarakan. Cerita-cerita atau pemberitaan mengenai TKW memang wajar mendapat porsi lebih dalam ruang publik kita karena mereka para perempuan Indonesia tersebut menjadi bagian terpenting dalam keberlangsungan negeri ini, terutama karena milyaran rupiah berupa devisa yang disumbangkannya. Cerita-cerita mengenai penderitaan dan siksaan yang dialami oleh para TKW di luar negeri memang mendapat porsi lebih banyak, bahkan sepertinya hanya cerita ini yang selalu muncul, dibandingkan dengan pemberitaan atau informasi mengenai keberhasilan yang dialami oleh para pencari pekerja tersebut.

Meskipun pemberitaan mengenai penderitaan TKW di luar negeri terus mewarnai ruang publik kita, namun antusiasme masyarakat Indonesia untuk terus mengirimkan tenaga kerja terus terjadi. Salah satu contoh yang dapat penulis kemukakan di sini adalah fenomena ‘unik’ yang terjadi sebuah desa di kawasan Menoreh Magelang Jawa Tengah. Kenapa penulis katakan ‘unik’, karena di desa yang hanya berjarak beberapa kilo meter saja dari candi terbesar di Asia Tenggara, Borobudur, ini sebagian besar perempuan yang ada memilih mencoba peruntungan dan memperbaiki nasib ke luar negeri.

Dalam beberapa kali kunjungan dengan cara tinggal di desa tersebut sejak tahun 2002 yang lalu, penulis mendapati sebuah realitas bahwa sebagian besar perempuan bekerja ke luar negeri. Pada kunjungan pertama, penulis merasa heran karena orang-orang yang ada di desa ini didominasi oleh laki-laki dan anak-anak saja. Kalaupun ada penduduknya yang perempuan, itu pun telah berusia lanjut meskipun sebagian kecilnya juga ada yang masih muda. Jika di tempat lain masih kita jumpai para perempuan yang masih muda, atau perempuan seusia SMP dan SMA ke atas, maka di desa ini akan sangat sulit ditemukan bahkan mungkin tidak akan dijumpai. Setelah beberapa kali melakukan kunjungan lanjutan barulah penulis mendapati suatu jawaban bahwa perempuan-perempuan muda berusia 15-45 tahun menjadi TKW di luar negeri. Adapun negara-negara tujuan  para TKW yang berasal dari wilayah ini adalah Hongkong, Taiwan dan Singapura.

Dalam perbincangan dengan beberapa pihak yang ada di desa ini, penulis kembali mendapatkan sebuah fenomena yang cukup ‘unik’. Setelah masyarakat desa ini semakin menyadari bahwa dengan menjadikan anak-anak atau saudara-saudara mereka sebagai TKW, maka perekonomian keluarga menjadi membaik, maka timbul pemikiran bahwa jika memungkinkan memilih mereka akan memilih anak perempuan saja. Hal ini dapat dimengerti bahwa dengan gaji sebagai TKW di luar negeri yang sangat besar dan menggiurkan, maka keluarga di desa ini dapat memenuhi kebutuhan hidup apa saja. Di lapangan memang terbukti, keluarga-keluarga yang memiliki anak atau saudara perempuan yang bekerja sebagai TKW di luar negeri memiliki rumah yang bagus dan mewah lengkap dengan perabotan rumah tangga yang serba mewah. Jika dahulu sebelum menjadi TKW rumahnya biasa-biasa saja, maka setelah beberapa tahun bekerja di luar negeri rumah-rumah mereka berubah menjadi bagus dan mewah.

Jika diperhatikan lebih jauh, fenomena perempuan menjadi TKW memang menungkinkan terus berlangsung di desa ini. Dengan letak geografis desa yang berada di ketinggian dan sumberdaya alam yang tidak memadai, masyarakat desa ini hanya menggantungkan hidupnya dari bertani. Sawah-sawah yang menjadi harapan hidup masyarakat desa ini pun tidaklah banyak dan luas karena letak geografisnya yang berada di perbukitan sehingga tidak memungkinkan ada lahan yang rata dan luas layaknya di dataran rendah. Sumber kehidupan kedua adalah berkebun yang ternyata juga tidak kalah minimnya dibandingkan dengan sawah. Sedangkan sumber kehidupan ketiga yang menjadi tumpuan harapan masyarakat desa ini adalah menambang batu marmer di buki-bukit yang ada di desa ini. Usaha marmer ini terutama dilakukan oleh pemuda-pemuda desa yang tergabung dalam karang taruna. Hanya saja, beberapa tahun belakangan ini usaha yang menjadi tumpuan para pemuda desa tersebut tidak lagi dapat mereka usahakan seperti yang selama ini dilakukan karena telah berdiri sebuah pabrik yang mendapatkan izin pemerintah daerah untuk melakukan eksploitasi potensi marmer yang ada di desa tersebut. Keterbatasan lainnya yang mengemuka di desa ini adalah persoalan air. Dengan letak geografis yang berbukit-bukit tentu masyarakat hanya dapat mengandalkan tetesan air yang mengucur dari beberapa sumber air yang ada. Jangan dibayangkan seperti wilayah ketinggian lainnya yang melimpah ruah air, masyarakat desa ini hanya menggunakan selang air kecil untuk menyalurkan air ke rumah-rumah mereka. Jika musim hujan mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka, tetapi jika musim kemarau menjelang maka tentu kesulitan air tanpa ampun akan mereka rasakan.

Dengan keterbatasan usaha dan peluang yang memungkinkan masyarakat untuk memperbaiki taraf hidupnya ini, maka jalan keluarnya yang diambil adalah bekerja ke luar negeri. Hanya saja, karena memang sebagian besar peluang yang ada di luar negeri untuk dapat diisi oleh masyarakat kita adalah menjadi tenaga informal maka yang dapat memenuhinya pun adalah perempuan. Akibatnya, perempuan menjadi tumpuan harapan keluarga satu-satunya yang dapat memperbaiki kehidupan mereka yang serba kekurangan menjadi lebih baik. Jadilah kemudian perempuan terkesan lebih dikehendaki kehadirannya dibandingkan laki-laki. Karena laki-laki yang ada di desa ini tidak memiliki pilihan kerja yang lain selain berkebun, sebagai tukang ojek  dan bertani dengan penghasilan yang tidak memadai, dibandingkan dengan perempuan yang dapat bekerja ke luar negeri dengan penghasilan yang sangat besar.

Benarlah kata seorang pakar bahwa sebuah negeri yang kaya raya dengan sumberdaya alamnya tidak akan membuat masyarakatnya sejahtera jika perekonomiannya tidak maju. Indonesia yang selalu disebut sebagai negeri makmur sehingga tongkat batu dan kayu jadi tanaman ternyata masyarakatnya (para perempuan) harus membelah lautan dan menjelajah gurun demi penghidupan keluarga yang lebih baik.

_______________________

Tulisan ini penulis anggap sebagai catatan perjalanan penulis di desa yang ada di Magelang ini. Perjalanan ini diawali dengan kegiatan KKN penulis tahun 2002 di lokasi tersebut bersama dengan teman-teman dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Terima kasih untuk Mbak Isah sekeluarga yang telah dengan selalu senang hati menerima kehadiran saya (dan kami tentunya waktu itu). Selamat karena telah kembali lagi ke tanah air dari upaya perbaikan perekonomian keluarga di Taiwan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: