Kondisi Sosial Masyarakat Tabir Ilir-Jambi

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Jambi adalah salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Berbatasan dengan Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau dan Bengkulu. Provinsi ini memiliki areal perkebunan karet dan kelapa sawit yang telah sejak lama menjadi tumpuan hidup masyarakatnya. Salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang memiliki areal perkebunan karet dan kelapa sawit yang cukup luas adalah Kabupaten Merangin. Kabupaten ini pada awalnya bernama Kabupaten Sarolangun Bangko atau yang biasa disingkat dengan Sarko. Namun setelah era reformasi bergulir, beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Jambi mengalami pemekaran termasuk di dalamnya Kabupaten Sarko yang berubah menjadi Kabupaten Merangin dengan ibukotanya Bangko dan Kabupaten Sarolangun.

Seiring dengan pemekaran wilayah kabupaten tersebut, kecamatan-kecamatan yang ada di dalamnya pun mengalami hal yang serupa. Kecamatan Tabir yang dahulu mencakup wilayah yang luas dalam Kabupaten Merangin pun mengalami pemekaran. Kecamatan ini berkembang menjadi beberapa kecamatan, seperti Tabir Ulu yang berpusat di Muara Jernih, Tabir Ilir yang berpusat di Rantau Limau Manis, Margo Tabir di Margoyoso dan lain sebagainya. Salah satu wilayah pemekaran Kecamatan Tabir yang cukup menyita perhatian adalah Tabir Ilir karena di samping memiliki sumberdaya alam berupa perkebunan karet dan kelapa sawit yang cukup luas, juga menjadi salah satu wilayah yang didominasi para penduduk asli. Sedangkan beberapa wilayah lainnya, seperti Margo Tabir, Tabir Selatan dan Tabir Lintas merupakan wilayah yang didominasi para pendatang yang sebagian besar berasal dari Jawa.

Berbicara mengenai Tabir Ilir, tentu tidak bisa dilepaskan dari Desa Rantau Limau Manis. Desa ini sebelumnya termasuk dalam kategori daerah terpencil atau pelosok karena lokasinya yang jauh dari pusat kota, baik dari ibukota propinsi (Jambi) maupun ibukota kabupaten (Bangko). Namun demikian, setelah terjadinya pemekaran maka lambat laun isolasi yang selama ini mengiringi desa ini mulai hilang seiring dengan pembangunan jalan yang menghubungkannya dengan wilayah sekitarnya.

Untuk menjangkau desa yang dikelilingi oleh sejumlah areal perkebunan ini, maka dapat memanfaatkan angkutan darat dari kota Jambi dengan jarak tempuh sembilan jam untuk ukuran normal. Hal ini karena beberapa ruas jalan dalam kondisi yang kurang layak untuk ditempuh karena banyak terdapat lubang di sana sini, terutama di saat musim hujan. Saat ini, kondisi jalan yang kurang layak terutama terdapat pada sebagian besar jalan propinsi yang merupakan bagian terbesar jalur ini, di samping jalan negara yang berupa jalan Lintas Sumatera.

Setelah sampai di kota Bangko, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan yang berukuran lebih kecil (angkutan pedesaan) yang memang diperuntukkan untuk menempuh perjalanan melalui pedesaan yang ada di Kabupaten Merangin. Jarak tempuh yang mesti dilalui untuk mencapai desa ini dari kota Bangko adalah tiga jam perjalanan dalam kondisi normal, karena kondisi jalan yang juga kurang baik. Perjalanan ini pun harus dibagi dua, karena satu jam perjalanan ditempuh dari kota Bangko menuju kota kecamatan Tabir, Rantau Panjang. Perjalanan kemudian dilanjutkan juga dengan angkutan pedesaan selama dua jam untuk mencapai desa lokasi penelitian ini. Sepanjang perjalanan, kita akan menemui beraneka ragam desa dengan bermacam karakteristik. Satu desa terlihat begitu tertata rapi sistem pemukimanannya, kehidupan masyarakatnya terlihat begitu makmur terutama tampak pada beragam fasilitas yang milikinya. Tetapi pada desa lainnya justru terlihat sebaliknya, terkesan kumuh dan memiliki fasilitas apa adanya sesuai kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat desa tersebut.

Desa Rantau Limau Manis ini terletak di pinggiran sungai Tabir yang bersumber dari Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci-Jambi, dan bermuara di Sungai Batanghari yang merupakan salah satu sungai terbesar di Sumatera. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masyarakat desa ini, dan juga hampir sebagian besar desa yang ada di Propinsi Jambi, merupakan masyarakat sungai, karena sejak dahulu aktivitas masyarakatnya banyak menggunakan sarana sungai sebagaimana yang umumnya juga banyak dijumpai di hampir sebagian besar wilayah pulau Sumatera.[1] Sungai juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan mencuci, mandi dan buang hajat. Meskipun demikian, beberapa tahun belakangan ini hanya sebagian kecil masyarakat saja yang masih melakukan hal serupa karena di beberapa rumah telah tersedia kamar mandi dan fasilitas mencuci yang modern.

Sebelum dilakukan pemekaran kecamatan pada tahun 2006,  Rantau Limau Manis merupakan wilayah desa paling terpencil atau desa terakhir dalam Kecamatan Tabir yang dapat ditempuh menggunakan angkutan darat, selebihnya harus menggunakan sarana angkutan sungai. Namun demikian pada tahun 1999, jalan yang melintasi desa ini telah diaspal sehingga cukup membantu masyarakat melakukan aktivitas kesehariannya. Walaupun demikian sangat disayangkan ternyata pengaspalan jalan yang cukup baik ini tidak dilakukan di kawasan desa lainnya yang dilintasi jalur ini. Padahal ruas jalan terbesar justru terdapat di wilayah desa lainnya sehingga setelah memasuki wilayah kecamatan Tabir kita mesti disuguhi kondisi jalan yang rusak baru kemudian menjumpai jalan yang diaspal cukup baik. Dapat dimengerti memang bahwa umumnya masyarakat desa lain yang dilintasi jalur menuju Desa Rantau Limau Manis ini kurang memiliki tingkat ekonomi dan politik yang tinggi dan kuat sehingga mampu melakukan bargaining position di tingkat pengambil kebijakan di pemerintahan daerah. Hal ini terbukti dengan keberhasilan lobi yang dilakukan oleh masyarakat desa ini kepada bupati untuk pengaspalan jalan desa dan beragam kondisi yang ada di desa ini dengan beragam fasilitas yang dimilikinya hanya dapat disamai oleh ibu kota kecamatan Tabir, Rantau Panjang.

Rumah-rumah penduduk berdiri berjejer di sepanjang jalan yang dilalui, walaupun terkesan kurang rapi, tetapi cukup tertata dengan baik. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya paling dekat sekitar lima meter, bahkan di beberapa sudut desa ada yang sampai berjarak puluhan meter. Hal ini karena tradisi yang berlaku di desa ini adalah dalam membangun rumah biasanya mesti berdekatan dengan keluarga dan kerabat sendiri atau paling tidak orang yang telah dikenal. Apalagi bagi yang memiliki anak perempuan, maka menjadi kewajiban orang tua untuk menyiapkan rumah bagi anaknya jika kelak berumah tangga. Hal ini dilakukan oleh masyarakat desa ini di samping untuk memudahkan saling silaturrahmi, juga agar senantiasa dapat menjaga kedekatan emosional antar sesama keluarga.

Sebagian besar rumah yang ada di desa ini telah dibangun dengan sistem konstruksi modern, yaitu menggunakan semen dan lain sebagainya. Perubahan konstruksi bangunan yang ada di desa ini dapat dikatakan terjadi baru belakangan ini saja setelah masyarakat mengenal jenis konstruksi beton yang ternyata lebih kuat dan mudah untuk dikerjakan. Di samping itu, jenis bahan bangunan ini mudah didapat seiring dengan terbukanya jalur transportasi darat yang menghubungkan ke kota terdekat. Meskipun demikian, masih banyak juga dijumpai masyarakat yang masih menggunakan konstruksi lama atau memakai kayu sebagai bahan baku utama.[2] Bentuk bangunannya pun beragam, tetapi sebagian besar bergaya khas Melayu yang atapnya berbentuk lonjong dilengkapi dengan semacam serambi di sisi-sisinya. Lokasi lain yang juga dipilih masyarakat sebagai tempat pemukiman adalah pinggiran sungai yang memang telah lama menjadi urat nadi wilayah ini. Meskipun demikian, lokasi ini dipilih oleh masyarakat yang telah tinggal lama di tempat tersebut yang digunakan untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang ada. Bentuk rumahnya pun tak jauh berbeda dengan yang ada di sepanjang jalan, tetapi biasanya berbentuk panggung (tingkat) untuk mengantisipasi terhadap luapan air sungai yang rutin terjadi.

Untuk menggantikan lokasi pinggir sungai sebagai lahan pemukiman yang kurang diminati lagi, masyarakat juga memanfaatkan areal perkebunan sebagai lokasi pemukiman. Hal ini biasanya dilakukan oleh para pekerja penyadap karet yang merupakan penduduk pendatang dari berbagai daerah di luar desa ini. Meskipun demikian, beberapa tahun belakangan ini masyarakat asli desa ini pun turut membangun rumah di lokasi ini berbaur dengan penduduk pendatang tersebut. Hal ini ditambah lagi dengan keberadaan program transmigrasi yang dilakukan pemerintah, di mana areal pemukiman yang diperuntukkan bagi kalangan transmigran berada tidak jauh dari desa dan perkebunan warga yang menambah ramai suasana yang dahulunya hanya ditinggali warga setempat. Tidak mengherankan jika kemudian muncul pemukiman-pemukiman baru di sekitar desa, karena dengan alasan efektivitas rumah di lokasi perkebunan mereka. Bahkan, banyak di antara mereka yang tetap membangun rumah di lokasi perkebunan meskipun sebenarnya telah memiliki rumah di desa. Realitas ini berdampak pada makin luasnya wilayah pemukiman desa, di samping implikasi lainnya yaitu makin sulitnya mengumpulkan masyarakat jika ada keperluan karena makin berpencarnya keberadaan mereka tersebut.

Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan yang berlaku di wilayah ini adalah pemerintahan desa yang dipegang oleh seorang kepala desa atau disini biasa disebut rio.[3] Seorang kepala desa dipilih secara langsung oleh masyarakat melalui sebuah pemilihan yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk. Calon-calon yang dipilih biasanya mengajukan diri secara pribadi dengan cara mendaftarkan diri pada panitia pemilihan dengan melengkapi persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi. Bisa juga calon-calon walaupun tetap mengatasnamakan pribadi. Pada masa lalu, terutama sebelum era reformasi bergulir, calon-calon yang akan maju pada pemilihan kepala desa harus berasal dari kontestan pemilu yang dominan di desa ini, walaupun hal ini tidak diisyaratkan secara tertulis. Meskipun demikian, pernah juga ada calon kepala desa yang berasal dari partai politik yang tidak dominan di desa ini dan berhasil memenangkan kursi kepala desa. Namun demikian, hal sedemikian baru terjadi sekali dalam sejarah pemilihan kepala desa yang hingga saat ini telah diadakan sebanyak sepuluh kali sejak era pemerintahan orde baru. Calon-calon kepala desa yang akan maju dalam pemilihan haruslah orang yang sudah dikenal segala kemampuannya oleh masyarakat, diutamakan yang berpendidikan dan biasanya berasal dari keluarga atau keturunan pendiri atau tokoh masyarakat desa ini.

Dalam sejarah desa ini, jabatan kepala desa selalu dipegang oleh dua golongan yang ada di desa ini, yaitu kalangan ulama dan pemangku (birokrat) yang secara bergantian memegang tampuk pemerintahan desa ini, walaupun sebenarnya hal ini tanpa direncanakan sebelumnya. Dengan kategorisasi seperti ini, seringkali terjadi gesekan yang berupa riak-riak kecil di tengah masyarakat jika salah satu pihak tidak berhasil memenangkan pemilihan.Kondisi seperti ini biasanya berujung pada timbulnya rasa ketidakpuasan di kalangan tertentu hingga menghendaki pelengseran jabatan kepala desa. Bahkan, beberapa tahun sebelum era reformasi bergulir di negeri ini, Desa Rantau Limau Manis telah beberapa kali mengalami pergantian pucuk pimpinan yang bukan pada waktunya.

Dalam melakukan tugasnya sehari-hari, seorang kepala desa dibantu oleh seorang Sekretaris Desa, Kepala-kepala Urusan (Pembangunan, Pemerintahan dan Budaya), di samping lembaga-lembaga lain yang dibentuk untuk mengurusi permasalahan khusus, seperti Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) serta Karang Taruna. Meskipun demikian, sekarang ini sedang dipersiapkan dan sudah disahkan oleh DPRD Kabupaten Merangin untuk menjadi sebuah wilayah kelurahan yang merupakan pusat kota kecamatan atas pemekaran wilayah administrasi Kecamatan Tabir menjadi Kecamatan Tabir Ilir.

Tabel 1

Pembagian Wilayah Desa Rantau Limau Manis

No Nama Pedusunan Cakupan Wilayah
1

2

3

Dusun Bukit Jung

Dusun Muaro Mendelang

Dusun Rantau Palembang

RT 01 dan RT 04

RT 05 – RT 07

RT 08 – RT 10

Sumber: Buku Profil Desa Rantau Limau Manis, 2008

Desa ini terbagi menjadi tiga wilayah pedusunan dan terdiri dari sepuluh Rukun Tetangga (RT) yang masing-masing wilayah pedusunan dipimpin oleh seorang kepala dusun yang disini lazim disebut dengan Palimo atau Panglima dan ketua RT. Meskipun demikian, sebagaimana lazimnya yang ada di pemerintahan desa pada umumnya, Desa Rantau Limau Manis tidak mengenal apa yang dinamakan Rukun Warga (RW).

Sejarah Berdirinya Desa

Menurut penuturan beberapa pemuka masyarakat yang terdiri dari tetua adat setempat,[4] desa ini telah terbentuk jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda. Pada awalnya, pemukiman penduduk desa ini berada di wilayah Dusun Tunggul Bulin (kini Desa Tunggul Bulin) yang merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Rantau Limau Manis. Bahkan pada awalnya, wilayah desa mencakup beberapa wilayah desa sekitar yang sekarang ada. Para pemukimnya pun terdiri dari  alias masih bersaudara yang terikat satu dengan yang lainnya. Baru kemudian setelah berdatangan para pendatang dari bermacam-macam daerah yang kemudian membentuk komunitas sendiri dan akhirnya membentuk wilayah tersendiri. Orang-orang yang datang dari belantara timur desa ini, tepatnya wilayah peladangan Muara Teleh, kemudian membentuk pemukiman di bagian barat desa ini hingga menjadi Desa Ulak Makam saat ini.

Sedangkan para pendatang membuka beragam pemukiman baru di sekitar desa ini. Misalnya, komunitas transmigran yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa atas prakarsa dan fasilitas pemerintah membuka pemukiman baru di wilayah timur, utara dan selatan desa. Pemukiman-pemukiman baru ini kemudian membentuk bermacam-macam unit transmigrasi yang selanjutnya menjelma menjadi desa-desa baru yang berdiri sendiri. Adapun orang-orang yang berasal dari Palembang, Padang, Kerinci dan Medan biasanya hanya pendatang musiman yang hanya pada beberapa perkebunan yang ada di desa ini. Meskipun demikian, terdapat beberapa orang di antara mereka yang kemudian menetap di desa ini karena telah mendapatkan pekerjaan yang tetap atau menikah dengan penduduk setempat.

Sebagaimana yang banyak dibicarakan orang, bahwa Desa Rantau Limau Manis sangat terkenal dengan perkebunan karetnya. Komoditas ekspor ini memang erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakatnya yang gemar bertani dan berkunjung dari satu daerah ke daerah lainnya. Menurut penuturan beberapa tetua desa dan tokoh masyarakat,[5] Rantau Limau Manis adalah sebuah desa yang dapat dikategorikan sebagai salah satu wilayah desa paling awal yang melakukan pengelolaan karet yang dilakukan oleh rakyat di Kabupaten Merangin, meskipun tidak ditemukan adanya bukti tertulis yang menyebutkannya.

Satu-satunya fakta yang dapat dijadikan bukti adalah beberapa areal perkebunan karet yang sudah tua dan berumur hampir seabad yang diyakini merupakan karet tertua yang ada di wilayah ini. Areal ini diyakini sebagai tempat penanaman karet pertama yang dilakukan nenek moyang masyarakat desa ini. Bibit-bibit karet tersebut mereka dapatkan dari Singapura sekitar tahun 1890-an dengan cara dimasukkan ke dalam peti yang terbuat dari kayu dan terkunci rapat, kemudian dibawa berlayar ke desa ini dengan menggunakan perahu. Pada saat itu, mereka karet saja dengan pertimbangan ketatnya blokade yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda. Sejak saat itulah masyarakat wilayah ini mulai berkenalan dan bersentuhan dengan tanaman langka yang bernama karet tersebut. Hal ini kiranya sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Padmo yang menyebutkan bahwa beberapa orang dari Nusantara dikirim untuk mengunjungi beberapa perkebunan karet yang ada di semenanjung Malaka dan membeli bibitnya di sana serta mengusahakannya di tanah air.[6]

Tahun 1930-an merupakan saat sejarah awal yang menggembirakan bagi petani karet di desa ini karena saat itu areal perkebunan karet yang diusahakan oleh masyarakat sudah sedemikian luas. Tanaman karet tidak lagi menjadi hak monopoli kalangan tertentu dalam masyarakat, tetapi hampir sebagian besar masyarakat telah memiliki perkebunan karet sendiri. Meskipun demikian, orang-orang kaya dan mampu tetap mendominasi sektor ini dengan memiliki areal perkebunan yang lebih luas. Hal ini dapat dimengerti karena untuk mengusahakan komoditas ekspor ini pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit, mulai dari membuka hutan untuk areal perkebunan, memelihara dan menjaganya dari beragam hama yang mengancam pertumbuhannya, menyadapnya hingga menjualnya.

Seiring dengan makin luasnya areal perkebunan karet yang membutuhkan penanganan ekstra, sementara masyarakat yang ada tidak mampu menangani karena jumlah mereka yang terbatas, di samping juga karena masing-masing sibuk dengan tugasnya sendiri, maka masyarakat setempat berinisiatif untuk mendatangkan pekerja dari wilayah lain yang masih dalam propinsi Jambi yaitu dari Kerinci. Masyarakat Kerinci saat itu memang sangat membutuhkan pekerjaan karena hasil yang mereka dapatkan dari mengusahakan tanaman kayu manis tidak mencukupi hingga mereka menerima tawaran dari masyarakat Desa Rantau Limau Manis. Sejak saat itu, mulailah orang-orang dari luar daerah mengadu nasib di desa ini dan diperkenalkan dengan tanaman karet serta dipekerjakan di sektor ini.

Setelah beberapa saat orang-orang Kerinci mendominasi pengelolaan perkebunan karet di wilayah ini sebagai penyadap karet, maka pada tahun 1970-an secara berangsur-angsur mereka mulai menarik diri dari pekerjaan ini. Hal ini terjadi karena usaha perkebunan kayu manis yang mereka usahakan di Kerinci mulai menampakkan hasil yang menggembirakan karena laku keras di pasaran dengan harga yang tinggi. Di samping itu juga disebabkan banyaknya anggota keluarga mereka yang diterima menjadi pegawai negeri dan menduduki beragam jabatan di pemerintahan daerah dengan penghasilan yang cukup besar sehingga dapat menjamin kehidupan mereka. Menyikapi kenyataan ini, para pengusaha karet di desa ini cukup dibuat pusing juga sehingga akhirnya seorang pemilik perkebunan karet terbesar di wilayah ini berinisiatif untuk mendatangkan orang-orang Jawa, terutama dari Pati Jawa Tengah, yang telah lama dikenal sebagai pekerja yang ulet untuk dipekerjakan di sektor perkebunan karet rakyat di desa ini. Tindakan serupa diikuti oleh pemilik perkebunan karet lainnya sehingga jumlah pekerja yang datang dari Pati di desa ini mencapai angka ribuan hingga saat ini.

Para pekerja di sektor ini datang dengan membawa beberapa anggota keluarga yang biasanya terdiri dari seorang isteri dan satu orang anak laki-laki, atau minimal seorang laki-laki. Untuk melakukan pekerjaan di sektor ini maka diterapkan kebijakan dengan membagi beberapa hektar kebun untuk dikerjakan oleh beberapa orang. Biasanya beberapa hektar kebun karet tersebut hanya dikerjakan oleh satu keluarga dengan maksud agar hasil yang didapatkan dari pengelolaan itu tidak berpindah kepada orang lain atau berkumpul pada mereka saja. Selanjutnya, jika keberadaan mereka di sektor ini dianggap telah tua serta semakin lanjut usia dan tidak sanggup lagi bekerja, maka segera ia mencarikan gantinya yang biasanya berasal dari anak atau saudaranya untuk bekerja di pemilik perkebunan yang sama sehingga keberlangsungannya tetap terjaga, bahkan hingga saat ini.

Penguasaan perkebunan karet di desa ini sebagian besar dimiliki oleh kalangan ulama dan pemangku  yang merupakan golongan terpandang dan kaya dalam struktur masyarakat tidak resmi yang ada desa ini. Kedua kalangan ini diyakini dan dianggap merupakan keturunan dari para pendiri dan pemuka desa ini. Perkebunan-perkebunan karet tersebut mereka usahakan sendiri sejak dahulu dan ada juga yang merupakan warisan dari keluarga yang kemudian dikembangkan sehingga mencapai areal yang luas untuk siap dilakukan penyadapan. Orang-orang lain di luar kelompok ini sangat sulit untuk mengusahakannya karena membutuhkan biaya yang besar, meskipun ada beberapa yang mampu melakukannya tetapi dalam jumlah yang relatif sedikit dan seadanya.

Berbeda halnya dengan kondisi yang terjadi di tempat lain, kepemilikan tanah oleh masyarakat Desa Rantau Limau Manis dilakukan dengan tanpa adanya sertifikat yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Model kepemilikan tanah yang berlaku di tempat ini hanya diakui oleh pemiliknya dengan disaksikan oleh beberapa orang saksi yang dianggap mengetahuinya. Batas-batas antara satu areal tanah dengan yang lainnya hanya dibuat seadanya dan alami, bahkan seringkali berdasarkan kondisi yang ada di lapangan seperti bukit, sungai, danau dan pohon besar. Beberapa orang memang ada yang memiliki surat yang menerangkan kepemilikan tanah atau lahan tersebut, tetapi hanya dibuat oleh kepala desa setempat dengan mencantumkan saksi-saksi yang mengetahui hal itu. Adanya surat semacam ini dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan agar ketika dilakukan jual beli maka tidak perlu repot-repot lagi menghubungi orang-orang yang dianggap mengetahui keberadaan tanah atau lahan tersebut.  Hal ini dapat terjadi karena memang tanah-tanah dan lahan-lahan tersebut pada awalnya memang berupa hutan belantara yang digarap sesuka hati masyarakat. Dengan telah digarapnya lahan tersebut, maka otomatis telah menjadi miliknya yang sah menurut adat yang berlaku dalam masyarakat desa ini dan orang lain tidak berhak mengklaimnya kecuali setelah dilakukan proses jual beli.

Keadaan Masyarakat

Desa Rantau Limau Manis dapat dikategorikan sebagai wilayah desa dengan jumlah penduduk yang relatif besar jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang ada dalam propinsi Jambi. Angka kelahiran dan kematian berbanding sangat kontradiktif yang berarti bahwa tingkat kelahiran sangat tinggi jika dibandingkan angka kematian. Kenyataan ini makin dikuatkan dengan adanya anggapan yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki. Hal ini berarti secara tidak langsung memotivasi masyarakat untuk memiliki keturunan sebanyak-banyaknya. Dengan ini dapat dipastikan bahwa setiap keluarga minimal memiliki tiga orang anak, padahal hampir setiap datangnya lebaran haji[7] akan ada minimal tiga pasang remaja yang melangsungkan pernikahan.

Realitas demikian bukan lantas mengindikasikan bahwa program pembatasan kelahiran (baca: KB atau Keluarga Berencana) yang dulu pernah menjadi program utama pemerintah tidak menyentuh lapisan masyarakat ini. Program semacam ini tetap berjalan sebagaimana mestinya di tengah masyarakat, tetapi yang mampu memahami dan melaksanakan hanya segelintir orang saja. Hal ini terbukti dengan terus gencarnya penyuluhan program ini di tengah masyarakat, tetapi di sisi lain sebagian besar mereka tetap hidup dengan ‘dogma’ yang telah mereka ketahui sejak nenek moyang mereka dahulu. Kalaupun ada yang benar-benar melaksanakan anjuran pemerintah tersebut, itupun hanya segelintir tersadarkan akan pentingnya program ini bagi mereka dan anak-anak mereka. Bahkan tidak jarang terjadi konflik di tengah masyarakat dalam menyikapi program ini. Satu pihak menganggap bahwa program ini sangat penting untuk mempersiapkan keturunan yang benar-benar berkualitas. Sementara di pihak lain menganggap bahwa program ini tidak lebih sebagai penyelewengan terhadap ajaran Islam, bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap manusia, demikian menurut mereka ajaran Islam yang dimaksudkan.

Data statistik hingga Agustus 2005 yang ada di kantor desa setempat mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Desa Rantau Limau Manis saat ini adalah 5.700 jiwa. Jumlah ini diyakini akan terus bertambah seiring dengan terus berlangsungnya pernikahan di tengah masyarakat sejalan dengan terus meningkatnya angka kesiapan usia pernikahan di kalangan remaja.[8] Realitas ini mungkin akan bertambah lagi dengan kian banyaknya pendatang yang menetap dan menjadi warga desa setiap waktu seiring dengan meningkatnya jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Secara sosial, masyarakat desa ini dikenal ramah dan sangat santun dalam bersikap. Hal ini misalnya minimal terlihat dari penilaian-penilaian yang dilontarkan oleh beberapa pendatang musiman maupun yang telah menetap lama di wilayah ini. Ketika berjumpa bahkan tidak segan-segan mereka menyapa satu sama lainnya, bahkan terhadap orang asing sekalipun. Hal ini mungkin disebabkan oleh budaya mereka yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan silaturrahmi dengan sesama. Lebih jauh, silahkan perhatikan kata-kata seorang penyadap karet asal Pati, Jawa Tengah mengungkapkan pandangannya berikut ini:

‘Dulu, saat pertama kali ada tawaran untuk bekerja sebagai penyadap karet di Sumatera, aku sempat ragu. Karena, menurut anggapan orang Jawa, terutama di daerahku, orang Sumatera itu keras-keras dan sulit menerima orang lain yang bukan dari kalangan mereka, apalagi untuk kerjasama. Tapi, kemudian aku berhasil diyakinkan oleh beberapa temanku hingga sekarang aku telah tinggal di sini selama hampir dua puluh tahun. Ternyata, orang-orang di sini sangat ramah bahkan terhadap kami yang bukan dari kalangan mereka sekalipun. Aku sangat betah dan nyaman tinggal dan bekerja di sini’.

Meskipun berpredikat sebagai penduduk mayoritas muslim, masyarakat desa ini sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Menurut pendapat masyarakat desa ini, setiap orang berhak untuk dihormati dan menghormati tanpa memandang latar belakang agama yang dianutnya. Hal ini terlihat dengan keramahan yang mereka tunjukkan terhadap orang-orang yang dari kalangan non-muslim. Kalangan seperti ini biasanya terdiri dari tenaga pengajar di sekolah-sekolah, tenaga kesehatan, penyuluh pertanian serta para pekerja di berbagai lapangan pekerjaan yang ada di desa ini. Sampai saat ini terbukti tidak pernah terjadi gesekan yang berujung pada perselisihan berlatar belakang agama, karena masing-masing pihak menghormati haknya

Di waktu sore hari, banyak di antara mereka yang memilih untuk bersantai di balai-balai yang berada di pinggiran sungai atau di depan toko-toko. Di sini terlihat bagaimana keakraban dan kebersamaan di antara mereka tetap terjaga. Topik-topik obrolan mereka pun beragam, ada yang seputar pekerjaan mereka, rumah tangga, masyarakat, bahkan persoalan politik dan ekonomi saat ini. Realitas demikian ini wajar terjadi karena dengan keuntungan penjualan karet yang mereka miliki, masyarakat desa ini dapat mengakses beragam informasi melalui sarana radio dan televisi. Sebagian besar rumah di desa ini telah memiliki perangkat parabola, karena memang jaringan televisi tidak dapat diakses secara langsung di sini, untuk menangkap siaran televisi dalam maupun luar negeri yang tentunya makin menambah wawasan mereka tentang beragam hal yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sarana telekomunikasi, terutama hand phone, mulai menjamur dan tidak lagi menjadi barang langka di desa ini karena hampir sebagian orang, terutama para remajanya, telah memiliki perangkat komunikasi yang satu ini.

Dari aspek politik, masyarakat desa ini adalah warga negara yang baik, terutama terindikasi dari tingginya tingkat partisipasi masyarakat untuk mengikuti beragam pemilihan umum yang diselenggarakan di negeri ini. Masyarakat dengan sukarela dan tanpa intimidasi dapat memilih partai politik yang menjadi pilihannya. Beragam partai politik dapat membuka diri di desa ini, meskipun demikian tetap saja partai politik yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat yang muncul sebagai pemenang. Pada pemilu-pemilu sebelum era reformasi 1998, Partai Golkar (kala itu bernama Golkar saja) menjadi pemenang mutlak di desa ini yang berarti partai ini sangat kuat pengaruhnya dalam setiap lubuk hati masyarakat desa ini. Sebagian kecil masyarakat juga memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai pilihannya sebagai manifestasi keIslaman yang merupakan agama mayoritas di desa ini, dan tidak ada satu pun yang memilih partai peserta selain keduanya, yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Namun demikian, apa yang mengemuka kemudian di era pasca reformasi justru terjadi perubahan yang signifikan, meskipun Partai Golkar tetap mendominasi perolehan suara di desa ini. Pasca terjungkalnya Orde Baru yang dipahami sebagai masa keterbukaan, pilihan masyarakat menjadi beragam bahkan terhadap parpol yang selama ini dikenal dengan nasionalis dan non-muslim sekalipun. Pada Pemilu 1999 dan 2004, Partai Golkar tidak lagi menjadi pemain tunggal yang menjadi pihan masyarakat dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Warga masyarakat yang mempunyai hak pilih banyak yang beralih kepada partai-partai lain, terutama yang terasosiasi dengan Islam, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sekalipun, meskipun jumlah perolehan suaranya belum mampu menggeser dominasi Partai Golkar. Namun demikian, dari dua kali penyelenggaraan pemilu pasca reformasi mencuatkan suatu kenyataan bahwa parpol lama, terutama Partai Golkar, ternyata lebih banyak dipilih oleh kalangan orang tua atau yang dulu mengalami masa keemasan parpol ini. Sedangkan kalangan anak muda yang berumur di bawah empat puluh tahunan lebih banyak menetapkan pilihannya kepada partai-partai baru yang memang banyak bermunculan setelah era multi partai jilid II ini. Hal ini berarti bahwa dalam sebuah keluarga terdapat kedua orang tua yang menjadi pemilih Partai Golkar yang setia dan anak-anaknya yang berseberangan dengan kedua orang tuanya karena memilih partai-partai lainnya.

Meskipun demikian, perbedaan pilihan partai sejauh ini tidak terlalu menjadi hambatan dan memecah persatuan masyarakat desa ini. Konflik kecil-kecilan tetap terjadi, tetapi biasanya hanya mengemuka menjelang pemilu atau pilkada. Setelah event-event tersebut berlalu, maka perselisihan tersebut pun hilang dengan sendirinya. Hal ini dapat dimengerti karena masyarakat desa ini merupakan sebuah keluarga besar, di mana antara satu dengan yang lain jika ditelusuri measih memiliki hubungan darah alias bersaudara.

Pekerjaan Masyarakat

Sebagaimana orang-orang pada umumnya  yang mengandalkan kekayaan alam yang berlimpah, sebagian besar masyarakat desa ini memilih pertanian sebagai usaha untuk menghidupi keluarga dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pertanian dimaksud mencakup juga di dalamnya perkebunan yang terdiri dari beragam komoditas. Usaha perkebunan yang memiliki skala besar,-baik dalam kuantitas lahan maupun kualitas hasilnya bagi masyarakat-, yang dipilih oleh masyarakat desa ini adalah perkebunan karet yang memang telah menjadi komoditas utama yang diusahakan oleh masyarakat desa ini. Usaha ini dipilih karena di samping pengerjaannya relatif gampang, menurut tata cara mereka, juga karena lahan garapan yang tersedia sangat luas dan tidak dimiliki oleh siapapun yang berarti tidak perlu membeli serta hasil produksinya akan senantiasa ada setiap saat dan akan pasti menjamin masa depan yang lebih baik.

Jika melihat apa yang ada di lapangan memang sangat realistis dan sekaligus juga fantastis. Lahan perkebunan karet yang diusahakan masyarakat desa ini memang berada tidak jauh dari lokasi pemukiman mereka. Dahulu, seantoreo desa ini dikelilingi oleh hutan belantara yang masih perawan dan di sanalah masyarakat mengusahakan tanaman ini. Masyarakat tinggal datang ke hutan dan membuat batasan-batasannya dengan yang lain, kemudian dibakar dan ditanami karet di sela-sela padi yang juga turut ditanam. Luas arealnya pun terserah penggarapnya, sebatas kemampuan yang dimilikinya dan jika sudah demikian maka sudah sah lahan tersebut menjadi milik mereka. Maka tak mengherankan jika hampir sebagian sebagian masyarakat desa ini memiliki areal perkebunan karet yang menjadi tumpuan hidupnya. Kalaupun ada di antara mereka yang saat ini tidak memiliki lahan perkebunan, maka hal itu karena kekurangsabaran mereka menunggu saatnya diproduksi, akibatnya lahan tersebut mereka jual kepada orang lain. Bahkan data di pemerintahan desa menyebutkan angka 200.000 hektar perkebunan karet yang dimiliki oleh masyarakat desa ini. Jumlah sebesar ini tersebar di wilayah sekitar desa dan desa-desa tetangga, bahkan hingga melampaui batas teritorial Kabupaten Merangin.

Tanpa waktu yang relatif lama, karena hanya berkisar sekitar 10-15 tahun, maka pohon karet yang ditanam sudah dapat diproduksi getahnya untuk kemudian dijual. Satu hektar lahan dapat ditanami seribuan bibit pohon karet yang jika kelak saatnya diproduksi akan menghasilkan puluhan liter getah yang setelah dipadatkan akan menjadi puluhan kilogram karet. Jika dijual, maka hasil produksi yang sudah dipadatkan tersebut dapat terjual sekitar Rp. 9.000,-an per kilogramnya saat ini. Tidak mengherankan jika komoditas karet menjadi pilihan utama masyarakat desa ini untuk lebih meningkatkan taraf hidup mereka agar menjadi lebih baik.

Komoditas perkebunan lainnya yang juga diusahakan oleh masyarakat desa ini adalah kelapa sawit. Jenis usaha ini datang belakangan dalam masyarakat ini seiring dengan datangnya para transmigran dari Pulau Jawa yang banyak mengusahan komoditas ini. Meskipun demikian, perkebunan kelapa sawit masih menjadi komoditas ‘kelas dua’ yang diusahakan masyarakat desa ini. Ada beberapa alasan kiranya yang menjadi penyebab kurang berminatnya masyarakat mengusahan tanaman produksi jenis ini. Salah satunya adalah menyangkut permasalahan dana dan tenaga penggarap. Berbeda dengan karet, kelapa sawit membutuhkan dana yang besar untuk keperluan pengadaan bibit yang jauh lebih mahal dibandingkan karet, belum lagi biaya pupuk dan pemeliharaan oleh tenaga khusus. Persoalan lainnya adalah masalah pemasaran yang sangat sulit karena penjualannya mesti ke pabrik pengolahan secara langsung yang jaraknya sangat jauh dari lokasi penanaman komoditas di sektor ini.

Namun demikian, belakangan ini beberapa persoalan di atas sudah mulai dapat terpecahkan satu persatu. Pengadaan bibit tidak lagi membutuhkan biaya besar karena sudah banyak penjualan bibit di sekitar wilayah desa, demikian juga dengan pupuk serta perawatan yang sudah dapat ditangani sendiri. Pemasaran juga sudah dapat terpecahkan seiring dengan banyaknya berdiri pabrik-pabrik di sekitar desa yang memang mulai getol melakukan pengusahaan perkebunan kelapa sawit melalui beragam perusahaan.

Meskipun demikian, tetap saja komoditas kelapa sawit tidak dapat menggeser keberadaan karet dalam masyarakat desa karena, sebagaimana yang banyak diakui oleh masyarakat, bahwa hasil yang didapatkan kelapa sawit secara finansial tidak akan sebanding dengan karet. Sekali lagi hal ini menyangkut uang, di mana hasil yang didapatkan masyarakat dari penjualan karet jauh lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan hasil penjualan kelapa sawit. Untuk itu, sampai saat ini masyarakat Desa Rantau Limau Manis tetap menjadikan karet sebagai komoditas utama di atas tanaman produksi lainnya, bahkan kelapa sawit dengan beragam keunggulannya sekalipun.

Keadaan Pendidikan

Secara subyektif tentunya kita akan menilai bahwa dengan kondisi perekonomian yang relatif sangat baik karena keuntungan yang didapatkan dari hasil perjualan karet, tentu masyarakat desa ini akan dengan mudah memilih pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Hal ini karena keuntungan finansial dari penjualan karet dapat dialokasikan oleh masing-masing keluarga untuk membiayai pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun demikian, kondisi obyektif yang terjadi ternyata berkata lain karena pendidikan di desa ini bukan menjadi prioritas utama bagi setiap keluarga.

Sektor pendidikan menjadi agenda yang tak diutamakan bagi mayoritas masyarakat di desa ini. Hal ini berdampak pada rendahnya jumlah masyarakat yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dari data statistik sebelum tahun 1990 yang terdapat di balai desa terlihat bahwa mayoritas masyarakat hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, bahkan lebih setengahnya tidak berhasil menamatkan pendidikannya. Hanya segelintir di antara mereka yang kemudian melanjutkan ke jenjang lanjutan, seperti SLTP dan SLTA. Lebih jauh lagi, data tersebut mengungkapkan bahwa hanya lima puluh orang di antara mereka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana, tetapi hanya setengah di antara mereka yang berhasil menggondol gelar sarjana dari berbagai perguruan tinggi.

Bagi masyarakat desa ini, pendidikan dalam pemahaman mereka hanya terbatas bagaimana bisa membaca, menulis dan berhitung. Atau, paling tidak jika dikaitkan dengan jenjang pendidikan, maka bagi mereka pendidikan cukup hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Setelah itu, anak-anak yang laki-laki dipersilahkan bekerja sendiri, atau bagi yang berasal dari kalangan ‘mampu’ maka difasilitasi untuk mencukupi kebutuhannya.[9]

Realitas ini terjadi bukan disebabkan minimnya sarana pendidikan yang ada di desa ini, karena sudah sejak lama sekolah-sekolah telah didirikan. Sarana-sarana pendidikan tersebut ada yang berdiri atas prakarsa masyarakat sendiri dan ada yang sudah berstatus negeri. Secara khusus diketahui memang sarana-sarana pendidikan yang ada di desa ini masih terbatas pada tingkat dasar. Meskipun demikian, sejak enam tahun yang lalu pemerintah telah mendirikan sarana pendidikan lanjutan (SLTP) di desa tetangga (Desa Ulak Makam) yang berjarak sekitar dua kilo meter dari desa ini. Begitu juga dengan sarana-sarana pendidikan yang banyak tersebar di sekitar desa ini, seperti di kecamatan dan kabupaten.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor finansial dan sarana pendidikan bukan menjadi kendala minimnya anak-anak yang menempuh pendidikan yang lebih tinggi di desa ini. Minimnya pemahaman masyarakat akan pendidikan menjadi faktor dominan sehingga membuat sektor krusial ini tidak menjadi sesuatu yang diprioritaskan. Hal ini terbukti dengan banyaknya anak-anak usia sekolah yang tidak melanjutkan pendidikannya, padahal mereka berasal dari kalangan orang kaya dan memiliki kemampuan studi layaknya anak-anak di daerah lainnya.

Meskipun demikian, kadang-kadang timbul juga kesadaran sebagian orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi di beragam tempat. Hal ini pada awalnya berhasil membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan lanjut, tetapi tak bertahan lama karena rasa rindu akan fasilitas di rumah dengan segala kemewahannya membuat mereka tak betah hingga akhirnya berhenti.[10] Kenyataan seperti ini seringkali disiasati oleh orang tua dengan memindahkan sekolah anak-anaknya menjadi lebih dekat dengan rumahnya.

Seiring dengan perputaran waktu yang silih berganti, belakangan banyak masyarakat desa ini kian tersadarkan akan arti penting pendidikan bagi anak-anak mereka. Kesadaran ini tumbuh seiring dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan mereka mengenai dampak negatif bagi anak-anak mereka di tengah dunia yang makin kompetitif ini. Mereka sadar bahwa di masa depan anak-anak tidak hanya cukup bermodalkan kekayaan saja, karena pendidikan sangat diperlukan.

Tabel 2

Sarana Pendidikan di Desa Rantau Limau Manis dan Sekitarnya

No

Sarana Pendidikan Status Tahun Berdiri
1

2

3

4

5

Madrasah Diniyyah

Sekolah Dasar (SD) I

Sekolah Dasar (SD) II

SLTP Hitam Ulu

SLTP 8 Tabir

Sekolah Swasta

Sekolah Negeri

Sekolah Negeri

Sekolah Negeri

Sekolah Negeri

1970-an

1980

1970-an

1990

2000

Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kecamatan Tabir, 2005

Setiap pagi dapat dijumpai lalu lalang anak-anak yang berangkat ke sekolah, baik ke Sekolah Dasar maupun ke sekolah lanjutan. Di siang hari, sehabis sekolah umum, kegiatan pendidikan dilanjutkan di sekolah agama, dalam hal ini adalah Madrasah Diniyyah yang terletak berdampingan dengan masjid yang ada di desa ini. Secara kuantitas, angka masyarakat yang melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Data statistik desa tahun 1995 mengungkapkan bahwa sebagian besar anak-anak usia sekolah telah menyenyam bangku pendidikan, bahkan mereka juga melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi setelah tamat. Sekolah lanjutan juga diserbu sehingga bangku-bangku sekolah tersebut tidak pernah kosong pada setiap tahunnya. Khusus sekolah lanjutan, di samping SLTP yang banyak diminati, juga terdapat pondok pesantren yang juga diserbu para lulusan Sekolah Dasar. Pesantren-pesantren yang dipilih tersebut berada di beragam tempat, umumnya yang berada dekat desa, tetapi ada juga yang sangat jauh, seperti di berbagai kabupaten di Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat.

Demikian pula halnya dengan jumlah keberlanjutan pendidikan ke perguruan tinggi yang secara kuantitas juga mengalami peningkatan. Hampir dipastikan bahwa setiap tahun terdapat generasi muda desa yang melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi yang ada di Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat, bahkan hingga ke Pulau Jawa.

Sistem Kepercayaan

Seperti umumnya orang-orang Melayu yang merupakan bagian terbesar penduduk desa ini, mayoritas masyarakat desa ini adalah pemeluk agama Islam. Beragam tradisi keislaman tidak asing lagi bagi mereka, karena telah ada sejak zaman nenek moyang mereka dahulu. Seperti masyarakat pemeluk Islam lainnya, beragam aktivitas keagamaan senantiasa mereka jalani, seperti shalat lima waktu, shalat jumat, puasa Ramadhan dan ibadah haji. Khusus ibadah haji, ada keunikan tersendiri karena sebagian besar para pemuka masyarakat di sini bergelar haji, baik yang sekali bahkan ada yang sudah berkali-kali. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tatanan sosial-kemasyarakatan yang berlaku di desa ini adalah berlandaskan ajaran Islam, meskipun juga diakui masih terdapat secuil kepercayaan animisme yang masih melekat di tengah sebagian kecil masyarakat.[11]

Karena begitu kuatnya ajaran Islam tertanam di tengah-tengah masyarakat, hampir dipastikan bahwa setiap warga di desa ini dapat memahami ajaran Islam dan bisa membaca al-Qur’an. Realitas ini terjadi karena sejak kecil mereka memang telah terbiasa belajar mengaji sehingga berfungsi sebagai rutinitas keseharian. Pengajian-pengajian dan perlombaan-perlombaan keagamaan pun sering lakukan untuk lebih mendekatkan masyarakat akan ajaran agamanya.[12]

Beragam aktivitas peribadatan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa ini dipusatkan di masjid yang cukup besar dan telah berumur puluhan tahun. Segala kegiatan keagamaan yang berskala besar dilakukan di sini, mulai dari ibadah shalat Jumat, shalat Ied, shalat Tarawih dan lain sebagainya. Sedangkan kegiatan keagamaan yang berskala kecil, seperti Yasinan setiap malam Jumat, biasanya dilaksanakan di mushalla-mushalla yang banyak tersebar di hampir setiap wilayah pedusunan. Bahkan, dengan alasan efisiensi dan efektivitas, penyuluhan dan pengumuman yang berkaitan dengan pemerintahan desa juga dilaksanakan di masjid ini.[13]

Budaya Masyarakat

Meskipun berpredikat sebagai orang-orang Islam, tetapi masyarakat Desa Rantau Limau Manis tetap menjunjung tinggi adat istiadat yang memang telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi seperti ini tampak mengemuka dengan adanya adagium yang sangat terkenal dalam masyarakat desa ini, yaitu adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Adagium ini berarti bahwa segala aspek kehidupan sehari-hari masyarakat diatur oleh adat yang diwarisi dari nenek moyang mereka, di mana adat tersebut dibuat berdasarkan ajaran Islam yang mereka anut. Walaupun demikian, dalam implementasi yang terjadi di lapangan tidak sepenuhnya begitu, karena beberapa adat istiadat tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Hal ini seperti terlihat dalam penerapan hukum waris yang menempatkan laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, padahal dalam ajaran Islam laki-laki mendapatkan dua kali lebih besar dari perempuan. Demikian pula dengan hukum pembunuhan yang harus dibayarkan dengan seekor kerbau sebagai pampas an, padahal dalam Islam dilakukan hukum bunuh (qishas). Masih banyak lagi budaya dan adat yang berlaku di desa ini yang diyakini tidak sejalan dengan adagium yang menjadi pedoman masyarakat dalam bertindak sehari-hari.

Secara resmi masyarakat Desa Rantau Limau Manis, bahkan Propinsi Jambi pada umumnya, tidak mengenal adanya strata atau sturuktur sosial yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya. Meskipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari struktur sosial tersebut terlihat dan mengemuka dalam masyarakat. Berdasarkan pengamatan dan pemahaman peneliti di lapangan, struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat desa ini terdiri dari empat bagian, yaitu: ulama, pemangku, rakyat biasa dan pendatang. Golongan ulama adalah orang-orang yang merupakan ahli agama yang memang telah dikenal dalam masyarakat sejak dahulu kala. Golongan ini rata-rata bergelar haji atau memiliki pengetahuan agama yang lebih baik dibandingkan masyarakat kebanyakan yang ada di desa ini. Kelompok ini memegang jabatan imam masjid, guru mengaji dan beragam jabatan yang berkaitan dengan keagamaan yang ada di desa ini. Sedangkan kelompok pemangku adalah orang-orang yang memegang jabatan struktural atau pemerintahan di Desa Rantau Limau Manis, baik kepala desa; kepala dusun; ketua RT dan lain sebagainya. Kedua kelompok yang dianggap keturunan pendiri desa ini merupakan orang-orang terpandang dan memiliki kekayaan melebihi apa yang dimiliki oleh kelompok lainnya. Adapun orang biasa adalah masyarakat desa yang bukan termasuk dua kelompok sebelumnya, tetapi merupakan penduduk asli desa ini sedangkan pendatang adalah orang-orang yang datang dari luar desa yang kemudian menetap karena berbagai keperluan, bekerja sebagai penyadap karet misalnya.

Dua golongan yang disebutkan pertama merupakan kalangan terpandang dalam masyarakat karena merekalah penggerak pemerintahan dan segala sistem yang berlaku di desa ini. Segala titah dan perintah yang biasanya mewujud dalam aturan dan adat desa menjadi tuntunan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pengelolaan perkebunan karet rakyat di desa ini, kedua kelompok ini memainkan peranan yang signifikan karena mereka memiliki mayoritas perkebunan karet yang ada di desa ini. Dengan posisinya sebagai kalangan ‘darah biru’ dalam masyarakat ditambah lagi dengan faktor ekonomi yang di atas masyarakat kebanyakan, maka kelompok ulama dan pemangku berperan layaknya tuan kepada para pengikutnya. Masing-masing orang dalam kedua kelompok ini memiliki bawahan yang berposisi layaknya ‘anak buah’, baik perannya sebagai kalangan ningrat desa maupun dalam pengelolaan perkebunan karet. Para bawahan yang bekerja dengan mereka tersebut melaksanakan segala titah yang diperintahkan oleh kedua kalangan ningrat tersebut.

Peranan vital yang dimainkan oleh kedua kelompok ‘darah biru’ ini memungkinkan dapat terjadi di samping karena faktor ekonomi yang mereka miliki, juga yang terpenting adalah budaya setempat yang menempatkan mereka dalam posisi teratas. Menurut budaya yang berlaku dan diyakini oleh masyarakat desa ini, kedua kalangan ini adalah keturunan langsung para pemuka atau para pendiri desa ini dahulu kala. Dengan demikian, segala hal yang berkaitan dengan desa ini dimainkan secara signifikan oleh kedua kalangan ini, sedangkan dua golongan lainnya sebagai pengikut atau pihak yang menjalankan dan tunduk pada kedua golongan di atas mereka. Realitas seperti ini bukan hanya terbatas pada aspek sosial dan budaya saja, tetapi lambat laun merambah aspek lainnya, seperti ekonomi dan bahkan politik. Secara ekonomi, misalnya, kalangan rakyat biasa dan apalagi pendatang selalu diposisikan sebagai ‘anak buah’ yang bekerja dan mendapat perlindungan dari kalangan ulama dan pemangku sebagai pemilik lahan perkebunan karet tempat mereka bekerja. Kondisi seperti ini juga berlaku pada aspek politik, di mana banyak dijumpai kalangan rakyat biasa dan pendatang yang berafiliasi politik tertentu sama dengan kalangan ‘ningrat’ tempat mereka mengabdi sebagai pekerja penyadap karet.


[1] Menurut penuturan beberapa tokoh masyarakat di desa ini, jauh sebelum dibangunnya jalan yang menghubungkan wilayah desa ini dengan wilayah-wilayah lain sekitarnya dan juga ke perkotaan, masyarakat desa memanfaatkan sarana sungai untuk bepergian. Ke kota Jambi, misalnya, untuk keperluan menjual beragam hasil bumi maka masyarakat menggunakan perahu atau kapal untuk kemudian dijual ke ibu kota propinsi yang terletak di pinggiran sungai Batang Hari tersebut. Jika maka angkutan sungai memang memakan waktu lebih lama. Saat ini, dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan sarana sungai untuk bepergian, terutama ke perkotaan, karena sarana darat sudah cukup tersedia. Meskipun demikian, sungai beserta sarananya masih dimanfaatkan masyarakat untuk mengangkut beberapa hasil perkebunan yang tidak dapat dilakukan dengan sarana darat, seperti jalan yang belum tersedia.

[2] Perubahan bahan bangunan yang digunakan oleh masyarakat  desa ini dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagaimana yang disebutkan di atas. Namun demikian, faktor lainnya adalah semakin sulitnya mendapatkan kayu yang berkualitas untuk dijadikan bahan bangunan sebagaimana yang dahulu digunakan. Adapun jenis kayu yang biasa digunakan untuk bahan bangunan di desa ini adalah Kayu Bulin, Tembesu, Merantih, Marsawa dan lain sebagainya yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai jenis-jenis kayu yang kuat, kokoh dan tahan lama. Hal ini terjadi karena semakin menipisnya hutan yang ada di sekitar desa ini di mana dahulu menjadi sumber utama didapatkannya kayu-kayu yang berkualitas tersebut. Areal hutan yang luas tersebut kini telah menjelma menjadi lahan perkebunan karet dan kelapa sawit serta sebagian yang lainnya berupa belukar yang dibiarkan tidak terawat. Meskipun ada segelintir rumah warga yang masih menggunakan kayu, itu pun merupakan sisa peninggalan masa lalu yang biasa menjadi rumah kuno yang tidak jarang malah menjadi menakutkan bagi sebagian masyarakat karena bentuknya yang menyeramkan tidak terawat.

[3] Meskipun demikian, setelah menjadi ibukota kecamatan yang baru maka tentu desa ini akan segera berubah menjadi kelurahan layaknya yang ada di wilayah lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa dengan berubah menjadi kelurahan, maka keistimewaan yang dimiliki desa seperti pemilihan kepala desa secara langsung menjadi hilang berganti dengan lurah yang ditunjuk oleh pemerintah. Hanya saja, hingga saat ini status yang ada pada desa ini masih seperti yang ada sebelum dan belum mengalami perubahan.

[4] Wawancara dengan para mantan Kepala Desa Rantau Limau Manis (Ahmad Karim dan M. Nafis HM) dan beberapa tokoh masyarakat setempat pada tanggal 03 dan 04 Agustus 2005.

[5] Wawancara dengan H. Mahmud HT (tokoh masyarakat) dan Ahmad Karim (mantan Kepala Desa) tanggal 05 Agustus 2005.

[6] Lebih lanjut dapat dilihat dalam: Soegijanto Padmo, ‘Perusahaan Tanaman Karet di Sumatera Timur’ …hlm. 110.

[7] Lebaran haji atau idul adha adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan menurut anggapan yang telah lama dianut oleh masyarakat desa ini. Meskipun demikian, pada waktu-waktu lainnya tetap ada yang melangsungkan pernikahan, tetapi tidak lebih banyak jumlahnya jika dengan ketika sehabis lebaran haji. Waktu pelaksanaan lain yang juga banyak dipilih adalah setelah lebaran idul fitri, dimana sebagian besar anggota keluarga berkumpul.

[8] Ada suatu pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat ini bahwa setiap anak laki-laki ketika telah mencapai usia baligh (17 tahun) dan telah mampu mencari pekerjaan sendiri maka orang tuanya akan merasa malu kepada tetangga atau keluarganya jika belum menikah. Maka biasanya sang ibu berusaha mencari pasangan yang cocok buat anaknya atau si anak sendiri yang  umur minimal untuk melangsungkan pernikahan. Maka tak jarang beberapa anak perempuan di dusun tertentu yang telah melangsungkan pernikahan padahal ia baru saja menamatkan sekolah dasar.

[9] Bagi anak-anak yang dianggap telah dewasa dan tidak melanjutkan pendidikannya, maka beberapa orang tua yang kaya memfasilitasi anak-anak mereka tersebut dengan beberapa cara, yaitu: menyerahkan pengelolaan perkebunan karet untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan agar memiliki modal untuk berusaha sendiri di kemudian hari, membelikan beberapa lahan perkebunan, baik yang sudah siap diproduksi maupun yang belum, sebagai modal dasar, dan membuka usaha lain di luar perkebunan karet yang biasa dilakukan oleh orang tuanya, seperti berdagang dan lain sebagainya. Sedangkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan miskin maka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja di beberapa pemilik perkebunan karet sebagai penyadap bersaing dengan para penyadap yang datang dari Pulau Jawa.

[10] Budaya konsumerisme sebagaimana yang dikemukakan oleh Baudrillard (2006) nampaknya telah lama menjangkiti masyarakat desa ini karena dengan beragam keuntungan dari penjualan karet maka dengan mudahnya mereka membeli beragam peralatan dan perlengkapan modern yang mahal dengan tanpa melihat manfaat sebenarnya dari barang-barang tersebut. Aneka ragam barang yang tidak lebih dari gaya hidup dan pencitraan tersebut, terutama sepeda motor dan mobil, tidak jarang diperuntukkan bagi anak-anak mereka yang masih dalam usia sekolah. Masalahnya, ketika anak-anak tersebut bersekolah yang sebagian besar berada di wilayah Propinsi Jambi, maka yang ada dalam pikirannya adalah motor atau mobil dan beragam fasilitas ada di rumah. Maka tidak jarang anak-anak tersebut gagal menyelesaikan studinya karena lebih banyak berada di rumah dengan menikmati fasilitas yang serba komplit tersebut, sementara apa yang mereka temukan di sekolahnya sangat kontradiktif. Meskipun belakangan ini minat belajar cukup menggeliat, tetapi tetap saja budaya konsumerisme yang tidak proporsional ini terus diketengahkan oleh para orang tua di hadapan anak-anaknya sehingga membuat mereka tidak betah bersekolah.

[11] Beberapa kepercayaan yang dapat dikategorikan sebagai sisa-sisa animisme, sekaligus juga sebagai kearifan lokal dari perspektif lainnya, di desa ini  adalah adanya anggapan yang masih melekat di masyarakat bahwa tempat-tempat tertentu memiliki ‘penunggu’ berupa makhluk halus. Realitas semacam ini misalnya tampak pada diadakannya seperti upacara selamatan sebelum membuka lahan perkebunan yang berupa hutan untuk meminta izin ‘penunggunya’. Perilaku lainnya yang juga dapat dikategorikan dalam aspek ini adalah digunakannya semacam dupa yang terus mengepulkan asap kemenyan setiap kali diadakan doa di setiap acara selamatan, baik yasinan setiap malam Jum’at, kematian, kelahiran dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan oleh masyarakat sebagai perantara doa yang mereka panjatkan, meskipun tata cara selamatan yang dilakukan tersebut menggunakan cara-cara yang lazim dikerjakan dalam Islam. Di samping itu, beberapa tempat di sekitar desa masih dianggap keramat, seperti kota tua Koto Rayo yang terletak di bagian timur desa dan beberapa kubur tua yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para pembuka desa ini dahulunya, salah satunya Puyang Sungkai yang sekarang diyakini masyarakat mewujudkan diri menjadi seekor harimau yang masih sering menampakkan dirinya kepada masyarakat.

[12] Beberapa perlombaan keagamaan yang biasa diadakan di desa ini adalah Musabah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang terdiri dari lomba membaca al-Qur’an dan lomba adzan. Kegiatan yang dipusatkan di depan masjid desa ini biasanya dilaksanakan setelah lebaran atau bersamaan dengan perayaan idul fitri. Peserta yang mengikuti acara ini biasanya merupakan utusan dari setiap RT yang ada di desa ini untuk memperebutkan piala bergilir Kepala Desa, piagam penghargaan dan uang pembinaan dari para donatur. Di samping itu, penyelenggaraan perlombaan ini juga sekaligus sebagai pemuas rasa bangga bagi para pemenang di ajang ini karena berhasil menunjukkan dominasi mereka atas RT-RT yang lainnya.

[13] Efisiensi dan efektivitas maksudnya ialah karena di saat shalat Jumat dan salat Ied adalah waktu di mana banyak orang yang hadir dan berkumpul. Sebagaimana diakui oleh perangkat desa setempat bahwa karena kesibukan masyarakat dalam bekerja di berbagai usaha, sangat sulit mengumpulkan mereka di balai desa sebagaimana umumnya yang dilakukan di berbagai tempat di tanah air. Untuk menyiasati kondisi ini, maka para tetua desa mengambil inisiatif untuk melaksanakannya setelah pelaksanaan salat Jumat atau salat Ied, karena pada kedua momen ini adalah hari libur bagi masyarakat Desa Rantau Limau Manis. Pada kedua hari ini, biasanya mereka pulang ke rumah setelah beberapa hari bekerja, juga untuk mempersiapkan perbekalan untuk dibawa kembali bekerja di hari berikutnya. Hari Jumat juga merupakan hari pasaran di desa ini. Dengan demikian, pemanfaatan hari Jumat dan idul fitri bukan saja efektif bagi pelaksanaan aktivitas keagamaan,  tetapi juga bagi kegiatan pemerintahan desa.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: