Mengenal Paradigma Sebagai Kacamata Dalam Ilmu Pengetahuan

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu mengenal apa yang dinamakan kacamata. Ya, alat yang dapat membantu orang-orang yang mengalami gangguan penglihatan ini memang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Dengan bantuan kacamata, orang-orang yang mengalami gangguan penglihatan dapat melihat segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan sangat atau cukup jelas layaknya orang lain pada umumnya.Model dan bentuk kacamata mempengaruhi apa yang ditangkap oleh mata si pemakainya. Jika menggunakan kacamata yang berwarnahitam atau gelap, maka benda yang dilihat di depannya tentu akan gelap. Begitu juga dengan beragam bentuk dan warna lainnya.

Namun demikian, tentu tidak semua orang mengenal apa yang dinamakan paradigma. Paradigma lazim dipakai oleh kalangan terpelajar yang menempuh pendidikan, terutama pendidikan tinggi dalam ilmu-ilmu sosial. Padahal, sesungguhnya paradigma dalam ilmu pengetahuan berfungsi layaknya kacamata dalam kehidupan sehari-hari kita. Ya, paradigma dapat dimaknai sebagai cara pandang dalam melihat suatu fenomena yang mengemuka dalam kehidupan. Dengan menggunakan paradigma, seorang ilmuan atau peneliti dapat melihat suatu fenomena atau kasus yang muncul dan ada di tengah-tengah masyarakat.

Orang pertama yang memperbincangkan paparan yang sangat komprehensif mengenai paradigma yang membantu dalam ilmu pengetahuan sosial adalah Thomas Kuhn dengan karyanya berjudul The Structure of Scientific Revolution. Usaha besar ini kemudian dilanjutkan oleh  E.C. Cuff dan G.C.F. Payne yang memaparkan mengenai unsur-unsur paradigma. Inilah awal mula paradigma dalam ilmu pengetahuan yang membantu para ilmuan sosial untuk melihat fenomena-fenomena yang mengemuka dalam masyarakat untuk kemudian dilakukan beragam kajian.

Salah satu tokoh ilmu sosial Indonesia, khususnya dalam kajian antropologi budaya, yang banyak melakukan kajian mengenai paradigma adalah Shri Heddy Ahimsa-Putra. Berdasarkan penelahaan Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini terhadap karya-karya tokoh terdahulu yang memaparkan kupasan paradigma, maka ia berkesimpulan bahwa apa yang dikemukakan tersebut merupakan langkah yang revolusioner dalam ilmu pengetahuan. Namun demikian, paparan ketiga tokohnya sebagaimana tersebut di atas belum lengkap karena paradigma yang dikemukakan Kuhn tidak mengetengahkan pengertian yang pasti dan terdiri dari beragam ungkapan, sedangkan Cuff dan Payne menghadirkan unsur paradigma yang tidak mencantumkan beberapa unsur lainnya, seperti model.

Berangkat dari hal ini, Ahimsa-Putra mengajukan sebuah alternatif pemikiran mengenai unsur-unsur yang harus dimiliki oleh paradigma dalam ilmu sosial-budaya yang terdiri dari sembilan unsur yang mengemuka dalam dua jenis, yaitu implisit dan eksplisit.

Unsur paradigma implisit adalah unsur-unsur yang dimiliki oleh sebuah paradigma (pendekatan) dalam ilmu sosial-budaya yang tidak selalu tampak secara jelas dan nyata (tersirat) di permukaan sebagaimana halnya unsur-unsur eksplisit.  Meskipun unsur-unsur implisit tidak selalu terlihat dalam sebuah paradigma, tetapi ia mempengaruhi atau berhubungan erat dengan unsur-unsur ekspisit. Adapun tiga unsur paradigma implisit tersebut adalah asumsi dasar, model dan nilai-nilai.

Asumsi dasar adalah anggapan atau pendapat yang menjadi titik tolak seorang peneliti dalam melakukan penelitiannya, dan model adalah jenis atau variasi yang akan digunakan peneliti dalam melakukan kajiannya, sedangkan nilai-nilai adalah tinjauan yang berhubungan dengan inti yang akan didapatkan dari penelitian tersebut. Ketiga unsur implisit ini dalam penerapannya akan mempengaruhi unsur-unsur eksplisit sebuah paradigma nantinya.

Sebagaimana telah disinggung sedikit di atas bahwa unsur implisit akan mempengaruhi atau berhubungan dengan unsur eksplisit, maka pada bagian ini akan dikemukakan salah satu contoh yang menguatkan pernyataan ini. Salah satu unsur implisit adalah asumsi dasar yang akan berhubungan dengan salah satu unsur eksplisit, yaitu masalah yang ingin diselesaikan.

Sebagai contoh, asumsi dasar yang akan menjadi titik tolak penelitian yang akan dilakukan adalah “orang Jawa rajin dan ulet dalam bekerja”, maka dengan pernyataan seperti ini akan berpengaruh terhadap masalah yang ingin diselesaikan. Dengan demikian berdasarkan asumsi dasar di atas, maka masalah yang ingin diselesaikan atau diketahui nanti dalam penelitian tersebut adalah “kenapa orang Jawa dikenal rajin dan ulet dalam bekerja” dan “apakah faktor yang menyebabkan orang Jawa rajin dan ulet dalam bekerja” serta masih banyak pertanyaan yang ingin diketahui dalam penelitian tersebut untuk dapat mengetahui adanya asumsi atau pernyataan dasar tersebut di atas. Dengan begitu, terbukti bahwa unsur implisit meskipun terkadang tidak tampak secara jelas dan nyata dikemukakan dalam penelitian tetapi sangat berpengaruh atau berhubungan dengan unsur-unsur lainnya dalam unsur eksplisit.

Daftar Bacaan

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2008. Paradigma dan Revolusi Ilmu Dalam Antropologi Budaya. Pidato Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 10 Vovember 2008. Tidak Diterbitkan.

Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: