Cerpen “Istana Ratu Kelabang”

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Pagi itu begitu cerah. Kabut di kaki langit berlahan beranjak pergi. Kicauan merdu burung-burung di ranting pepohonan terdengar bersahut-sahutan. Bayu pagi mulai berhembus lembut. Di sebuah jalan yang tak dapat dikatakan besar itu, masih belum terlihat banyak kendaraan yang lalu lalang. Di samping kiri dan kanannya terlihat berjejer beberapa rumah yang turut menghiasi demografi daerah ini. Salah satu dari jejeran rumah tersebut terdapat sebuah rumah berlantai dua dan bercat putih yang digunakan untuk kos-kosan. Sedangkan di sampingnya masih terdapat dua rumah lagi yang hanya berjarak beberapa centi meter saja. Di sini terlihat kesibukan seperti biasa mengawali denyut nadi kehidupan di pagi ini. Ada yang sedang mencuci pakaian dan piring, ada yang sedang mengobrol ria dengan beragam topik terutama tragedi 11 September di Amerika bahkan ada yang hanya berdiri sambil menunggu antrian mandi.

Entah kenapa pagi ini aku bangun agak telat. Padahal tadi malam aku tidak begadang sampai larut malam amat. Paling-paling hanya main play station sampai jam sebelas. Bahkan sebelum tidur pun aku sempat memplanning untuk bangun pada jam tiga tepat untuk menyelesaikan seabrek tugas yang masih terbengkalai. Tapi semuanya berlalu sudah. Sepertinya aku tidak terusik dengan kebisingan yang timbul dari kesibukan yang terjadi di sekelilingku setiap paginya. Mulai dari suara Haddad Alwi yang mendayu-dayu dari tape recorder temanku di samping hingga obrolan dan dentingan piring cucian ibu kosku.

Sebenarny aku masih agak enggan bangkit dan meninggalkan peraduan setiaku begitu saja. Tetapi setelah melihat jam hasil kreasiku yang menunjukkan angka setengah tujuh maka aku terpaksa harus bangun. Apalagi setelah kulihat jadwal kuliah yang ternyata jam tujuh tepat.

“Roy… Bangun, udah siang” terdengar suara dari luar sambil sesekali menggedor pintu sedikit keras.

“Ya… udah dari tadi” sahutku sambil menyisir rambut di depan cermin agar terlihat rapi.

Sebelum keluar, tak lupa ku buka jendela kamarku. Perlahan-lahan bayu pagi menerobos masuk. Berlahan-lahan pula bau kurang sedap dan apek di kamarku lenyap. Kemudian aku sudah terlibat pembicaraan dalam obrolan pagi yang rutin dilakukan menjelang mandi. Topik pembicaraan silih berganti. Mulai dari pembicaraan kuliah, masalah kos, masalah keluarga hingga masalah-masalah yang lagi trend saat ini tak luput dari obrolan. Sesekali aku menyeletuk juga untuk sekedar menghilangkan kebekuan di bibirku. Setelah bosan dan mentari juga telah semakin meninggi, aku bergegas ke kamar mandi. Tetapi langkahku terhenti. tepat di depan kamar mandi favoritku terlihat teman sebelah kamarku sedang berdiri. Ia tertegun dan sedikit tegang. Sepertinya ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi. Sesekali matanya menatap awas ke dalam kamar mandi. Aku semakin penasaran, ada apakah gerangan.

“Mir… Ada apa?” Tanyaku sambil mendekat dan memegang pundaknya.

“Ini bang, ada kelabang” Amir masih kelihatan tegang bercampur penasaran.

“Kok aneh ya, setiap kali aku mandi, baik kamar mandi pertama dan kedua ini, selalu ketemu kelabang di dinding, bahkan sesekali merayap naik ke kakiku” lanjut Amir menceritakan.

“Apa bang Roy nggak pernah mengalami?” Amir balik  bertanya kepadaku.

“Selama dua tahun tinggal di sini tidak pernah tuh” ungkapku masih penasaran.

Waktu pun kemudian berlalu. Jarum jam terus semakin mendekati angka tujuh. Berarti aku harus cepat mandi biar tidak telat masuk kuliah. Akhirnya cerita tentang kelabang berhenti sampai di situ. Aku terus masuk ke dalam kamar mandi walaupun masih ragu. Dan benar saja saat mandi aku tidak menjumpai dan mengalami apa-apa. Semua berjalan seperti biasa. “Tapi kok Amir mengalami, aneh ya” batinku.

Setelah kejadian itu Amir terlihat biasa saja dalam kesehariannya. Ia tetap mengobrol dan bercengkrama dengan teman-teman lainnya. Jadi, tidak ada yang aneh dalam pribadinya. Bahkan sesekali terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari bibirnya di kamar sebelahku sehabis Maghrib. Melihat hal itu, timbul dalam pikiranku untuk melupakan saja kejadian itu. Yach… mungkin hanya kebetulan saja ia mengalaminya.

Hari terus berlalu bersama dengan perputaran waktu. Aku dan teman-teman menjalani rutinitas seperti biasa. Begitu juga yang terlihat dengan Amir yang kemaren mengalami kejadian kebetulan tersebut. Hingga suatu hari saat kami terlibat obrolan seru tentang serangan membabi-buta polisi dunia terhadap negeri miskin di Asia Selatan. Amir kembali menceritakan bahwa ia kembali mengalami hal yang serupa seperti yang pernah dialaminya dulu. Dan menurutnya kejadian ini terus berlangsung setiap kali ia berada di dalam kamar mandi. Hanya saja menurutnya lagi, kejadian tersebut sengaja ia simpan sendiri. Hingga ia merasa tidak tahan lagi dan menceritakannya kepada teman-teman.

“Wah… jadi semakin heboh nih Mir” ucapku sambil mengernyitkan dahi.

“Aku baru sekarang mendengar kejadian seperti ini” Timpal Nur yang menjadi dedengkot kos-kosan ini.

“Mendingan diintip cewek lagi…” Piyu juga ikut nimbrung. Temanku yang satu ini memang doyan banget dengan yang namanya cewek, apalagi yang berjidat licin dan berkaki mulus. Padahal wajahnya dengan vokalis band asal Surabaya itu jauh banget, apalagi dengan Brad Pitt pasti berjarak puluhan kilometer.

Dari obrolan di forum tak resmi ini aku semakin penasaran. Betapa tidak, ini kejadian aneh bin ajaib. Kalau saja acara Langka Tapi Unik masih ada di tv pasti disiarkan. Malam harinya sebelum tidur, aku terus berpikir untuk mencari jalan penyelesaiannya. Jiwa detektifku yang terbangun oleh Enid Blyton melalui serial-serialnya seakan terusik. Peristiwa-peristiwa seperti inilah, menurutku, yang menjadi lahan garapan seorang detektif. Apalagi kejadian aneh ini terjadi di depan hidungku dan yang mengalaminya adalah teman tetangga kosku sendiri. Masak kemudian aku hanya berdiam diri tanpa beraksi apa-apa. Mana tanggung jawabku sebagai implementasi sense of society-ku yang menjadi mottoku sejak dahulu. Apapun akibanya tentunya. Aku harus beraksi, itu tekadku. Aku masih terus berpikir dan berpikir hingga tanpa terasa aku tertidur pulas. Dalam tidur aku bermimpi tentang kelabang itu. Ia datang kepadaku di kamarku ini, bukan di kamar mandi seperti teman kosku itu. Pagi harinya aku bangun seperti biasa. Setelah salat Subuh aku berangkat kuliah dan melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Saat beraktivitas di luar, apa yang aku alami tadi malam seakan terlupakan terhimpit oleh seabrek aktivitas dan tugas.

Sekembali ke kos pada sore harinya, kembali aku teringat mimpiku tadi malam. Aku semakin bersemangat untuk segera menuntaskan misteri ini secapat mungkin. Apalagi kemudian masih ku dengar kejadian-kejadian serupa yang dialami oleh Amir setiap kali ia berada di kamar mandi. Tetapi sampai saat ini aku belum menemukan satu cara atau jalan pun untuk menuntaskannya. Padahal kejadian ini telah berlangsung cukup lama. Aku masih berpikir untuk menemukannya. Hingga kemudian aku tersentak seakan tersadar dari dari lamunan. Aku berpikir, bukankah si kelabang menemuiku saat aku tidur di malam hari. Dalam mimpi tersebut sepertinya ia berpesan sesuatu padaku. Tapi apa ya?…. Kok aku lupa sih. Inilah salah satu penyakit baruku. Padahal umurku belum berkepala apalagi beruban. Aku terus mengingat pesan itu, tapi tetap saja hampa.

“Yah… atau begini saja” batinku sambil memegang bibir bawahku dengan ujung jariku ala detektif ciptaan Enid Blyton.

“Ia datang kepadaku saat malam hari, ini suatu isyarat bahwa aku harus menemuinya di malam hari. Tapi, bagaimana caranya?….” aku terus berpikir sambil mengernyitkan dahiku sehingga tanpa terasa keringat mengucur deras dari pori-poriku. “Yah…akhirnya ketemu juga” teriakku kegirangan setelah menemukan jawabannya.

Tepat jam dua belas malam teng, saat pergantian hari baru. Ku segera mempersiapkan diri. dengan dandanan ala orang yang mau mandi. Lengkap dengan dengan handuk yang dililitkan di leher, gayung kecil yang berisikan sabun mandi, odol dan sikat gigi serta tak ketinggalan satu sachet shampo kesukaaanku. Perlahan-lahan aku masuk ke kamar mandi. “Wah… bak mandi kosong, berarti harus diisi dulu” pikirku setelah berada dalam kamar mandi. Ini memang kebiasaan ibu kosku membiarkan bak mandi dalam keadaan kosong. Biar lebih mengirit biaya katanya. Perlahan-lahan keran air ku buka dan secara perlahan-lahan pula air mulai mengucur ke dalam bak mandi. Lampu kamar mandi sengaja ku nyalakan seperti biasanya. Biar orang lain tidak asal terobos saja kalau lagi kebelet di tengah musim buah-buahan kali ini. Dan yang penting, keberadaanku di dalam kamar mandi tidak dicurigai melakukan hal-hal yang macam-macam. Beberapa saat ku tunggu dengan hati berdebar dan denyut jantung yang mulai tak teratur lagi, tetapi tetap tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba lampu kamar mandi mati. Padahal jam segini si Andi yang biasanya berulah dengan mematikan lampu masih nyenayk mendengkur di kamarnya. “Apa PLN lagi melakukan pemadaman bergilir” pikirku di tengah ketegangan yang terus memuncak.

Kegelapan semakin pekat hingga tak terlihat apa-apa lagi karena dimana-mana yang ada hanyalah hitam dan kelam. Di tengah kegelapan itu, tanganku terasa dipegangi oleh seseorang dan menuntunku berjalan dengan cukup jauh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pelataran yang cukup luas, tetapi aku tidak tahu itu di mana. Dalam suasana yang masih gelap, aku kembali tidak tahu apa yang ada di sekelilingku. Yang sangat jelas hanyalah lilin yang berjejer rapi dan cahayanya meliuk-liuk tertiup angin malam.

Tiba-tiba sekelilingku terang benderang. Ternyata, cahaya tersebut berasal dari beragam lampu yang ada di sekelilingku. Tampaklah sebuah singgasana yang indah. Terbuat dari intan permata yang sempurna. Di atasnya duduk seorang dara cantik bermahkotakan mutiara di kepalanya. Seorang perempuan yang sangat menawan dengan berpakaian sutra paripurna berlapiskan emas pertama berlian. Di kedua sisinya berdiri dara-dara yang juga cantik sambil memegang tombak. Di belakangnya duduk berjejer puluhan dara yang juga cantik jelita. Baru aku sadari ternyata dari tadi tadi aku tengah dikelilingi oleh dara-dara nan cantik jelita dan mempesona.

“Selamat datang di istanaku” sapa dara cantik yang ada di singgasana depanku. Melihat tempatnya, kiranya ia adalah pemimpin atau ratu di tempat ini. Aku masih saja termangu tak sanggup mengucapkan satu patah kata pun.

“Kami mohon maaf telah mengganggu aktivitas anda” sang ratu kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Sebenarnya bukan maksud kami mengganggu anda dan teman anda apalagi hendak menakuti. Hal itu terjadi karena secara tidak sengaja beberapa kali anak buah saya mendengar suara siulan laki-laki yang membuat mereka tertarik. Mereka pun mendekat hingga akhirnya terlihat oleh temanmu itu” sang ratu kembali menjelaskan lebih lanjut.

“Jadi, kelabang-kelabang itu anak buah ratu?” aku mulai dapat berbicara meskipun masih terbata-bata.

“Ya, begitulah … Tetapi sekali lagi saya atas nama rakyat mengucapkan permohonan maaf. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk diketahui bahwa anak buah saya yang mendekat ek arah temanmu itu telah dihukum” sang ratu terlihat tersenyum dalam kesungguhannya.

“Kalau begitu tidak apa-apa” jawabku sekenanya.

“Terima kasih, sampaikan salam manisku untuk temanmu itu. Beritahu dia agar tidak bersiul di kamar mandi karena dapat mengundang rakyatku untuk datang mendekat” sang ratu beranjak pergi sambil melemparkan sepucuk surat ke pangkuanku.

Mendadak suasana kembali gelap seperti sebelumnya. Semua yang ada di sekelilingku juga ikut lenyap. Aku tersadar ketika lampu kamar mandi kembali menyala. Ternyata aku kembali berada di kamar mandi dan bak mandi telah penuh terisi air. Suasana kos sudah terlihat ramai dan kemudian terdengar jam berdentang sebanyak lima kali. Berarti sudah jam lima pagi. Pastas saja suasana kos sudah mulai ramai dan denyut kehidupan dimulai kembali secara normal.

Aku pun segera mandi untuk menghilangkan segala penasaran dan keanehan yang barusaja aku alami. Setelah mandi, baru aku sadari bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam salah satu saku celanaku. Berupa kertas beramplop rapi. “Jangan-jangan basah” pikirku. Setelah ku keluarkan ternyata masih dalam keadaan utuh karena dibungkus dengan sampul yang tahan air.

Hari itu aku kembali melakukan beragam aktivitas keseharianku. Matahari semakin meninggi ketika beberapa aktivitas sukses ku jalani di hari itu. Aku pun kembali ke kos sebagaimana biasanya. Di sore harinya, di beranda depan kos kami pun kembali melanjutkan beberapa topik obrolan yang kemaren kami bicarakan.

“Mir!… mulai sekarang kamu tidak perlu lagi takut ketemu kelabang di kamar mandi” kataku melihat Amir juga pulang dari kampus.

“Memangnya kenapa bang?” tanya Amir sedikit bingung.

“Pokoknya tidak usah takut lagi. Ini ada surat untukmu. Tapi, kita baca bareng ya…” Kemudian aku beranjak ke kamar Amir di tengah kebingungannya.

“Kok bagus ya … Sampulnya… lho kok….ha…ha…” suara kami menyatu sehingga terdengar riuh di kamar itu setelah membuka surat yang diberikan sang ratu kelabang tadi malam.

Teman-teman yang ada di depan kamar pun dibuat bingung mengetahui suara gaduh dan riuh dari dalam kamar Amir. Padahal baru saja ngobrol di depan dengan cukup serius, pikir mereka.

Yogyakarta, 8 November 2001

________________

Cerita pendek ini pernah dimuat di Majalah Liberty Surabaya antara tahun 2005-2006.

Terima kasih untuk ibu kos beserta keluarga di Yogyakarta yang telah sudi menerima kehadiran kami. Semoga tabah menjalani hidup ini, meskipun musibah gempa 2006 yang lalu membuat kos-kosan yang penuh kenangan tersebut harus dibangun kembali. Semoga sukses untuk teman-teman sesama penghuni kos. Untuk Amir, maafkan atas segala salahku yang mungkin tak kau sangka sebelumnya. Padahal sebenarnya aku telah kau anggap sebagai kakakmu sendiri. Please… Forgive me…

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: