MEMAHAMI SURAT AL-KAUTSAR

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

إنا أعطيناك الكوثر ﴿۲﴾ فصل لربك وانحر ﴿۳﴾  إن شانئك هو الأبتر

Terjemahan Ayat:

  1. Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar).
  2. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban.
  3. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus.

Secara umum, ayat ini diturunkan Allah sebagai penghibur, penenang dan penguat hati Nabi Muhammad SAW serta bantahan terhadap musuh-musuh beliau. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa al-‘Ash bin Wa’il, ‘Uqbah bin Mu’aith dan Abu Lahab selalu menghina dan mengejek Nabi Muhammad setiap kali menyaksikan anak laki-laki Nabi meninggal dunia satu persatu. Padahal bagi bangsa Arabanak laki-laki adalah dambaan setiap orang sebagai pelanjut keturunan dan sebagai pengingat kebaikan-kebaikan orang tua dan nenek moyangnya kelak di kemudian hari. Akan tetapi di sisi lain, Nabi Muhammad yang sangat diagungkan pengikutnya dan menjadi musuh utama para penentangnya tidak memiliki anak laki-laki yang kelak dipercayai akan meneruskan keturunan sehingga nama besar dan jasa-jasa orang tuanya akan tetap dikenang. Untuk itulah mereka menghina Nabi Muhammad sebagai orang yang terputus atau binasa.

Untuk menghibur Nabi atas realitas dan ejekan yang dilontarkan para penentangnya tersebut sekaligus juga membantah ucapan mereka, maka Allah menurunkan ayat : “Innā A’thaināka al-Kautsar” yang berarti Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar).

Kata ‘al-Kautsar’ mengandung beberapa pengertian, seperti kebaikan yang banyak dan nama sungai di surga. Akan tetapi, yang jelas bahwa kata ini merupakan bentuk hiperbola dari kata ‘katsīr’ yang umumnya dipahami dengan arti ‘banyak’. Dengan demikian dapat diketahui bahwa kata ini memiliki pengertian seluruh anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad, baik itu berupa para sahabat yang setia, kenabian dan kerasulannya, al-Qur’an dan Islam serta yang utama dalam konteks ini adalah jaminan Allah bahwa Nabi Muhammad dan pengikutnya akan menang dan akan terus dikenang sepanjang masa meskipun realitasnya Nabi Muhammad tidak mempunyai anak laki-laki.

Setelah Rasulullah dihibur dan dibantahnya pernyataan para musuhnya, maka sepantasnyalah sebagai hamba yang tahu diri untuk bersyukur atas beragam anugerah tersebut. Sebagai realisasi dari syukur tersebut kemudian Allah mengutarakan caranya, yaitu : “Fa shalli li Rabbika wan Har”, yang berarti “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban”. Yaitu, jadikanlah shalat yang engkau dirikan tersebut hanya untuk Allah semata begitu juga dengan hewan qurban yang engkau sembelih.

Telah menjadi kebiasaan Allah menempatkan dua kata yang berbeda secara berdekatan yang kadang-kadang mempunyai maksud tertentu yang ada kaitannya dengan tema ayat tersebut. Begitu juga dengan ayat di atas. Perintah untuk melaksanakan shalat diteruskan dengan perintah menyembelih hewan qurban secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan tradisi yang ada dalam masyarakat Arab jahiliyah bahwa apabila mendapatkan suatu anugerah, maka kemudian mereka bersembahyang di Ka’bah dan menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada patung-patung sesembahan mereka. Tradisi yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Arab jahiliyah ini masih dilestarikan oleh Allah, tetapi dengan cara dan tujuan yang berbeda. Sebagai muslim, maka ungkapan syukur mereka diimplementasikan dengan cara melakukan shalat atau ritual ibadah yang diajarkan Islam kemudian dilanjutkan dengan menyembelih hewan qurban. Kedua rutual ini hanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak untuk patung-patung dewa ala Arab jahiliyah tersebut.

Selanjutnya, kata ‘inhar’ memiliki pengertian penyembelihan hewan melalui lehernya. Hal ini mengisyaratkan bahwa ungkapan syukur setelah pelaksanaan shalat dilakukan dengan cara menyembelih hewan yang berkaki empat, seperti unta, kambing, kuda, kerbau dan sapi. Hal ini karena hanya jenis hewan yang berkaki empat sajalah yang disembelih melalui lehernya, sedangkan yang berkaki dua seperti ayam disembelih pada bagian kerongkongannya. Dengan demikian, dalam bahasa Arab penyembelihan di leher hewan dipakai kata ‘inhar’ yang berasal dari kata ‘nahara’, sedangkan penyembelihan hewan yang berkaki dua dipakai kata ‘idzbah’ yang berasal dari kata ‘dzabaha’.

Di samping itu, ayat ini juga berkaitan dengan anjuran atau kebiasaan untuk melaksanakan qurban pada hari raya Idul Adha. Anjuran tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan shalat ‘Ied.

Setelah menyebut anugerah yang diberikan kepada Nabi Muhammad, kemudian diteruskan dengan perintah untu mensyukuri nikmat melalui shalat dan menyembelih hewan qurban, maka pada ayat ketiga dalam surat ini Allah kembali menegaskan kenyataan yang sebenarnya dialami oleh para musuh yang menentangnya tersebut. Sebagaimana firman-Nya: “Inna Syāniaka Huwal Abtar” yang berarti “Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus”.

Pada ayat ketiga ini, Allah menegaskan sekaligus sebagai ancaman bagi para penentang Nabi Muhammad bahwa pada dasarnya merekalah yang akan terputus keturunannya. Hal ini terbukti kemudian, bahwa walaupun tidak memiliki anak laki-laki yang diyakini sebagai penerus keturunan sebagaimana tradisi yang ada dalam masyarakat Arab, tetapi Nabi Muhammad dengan nama besar dan jasa-jasanya terus senantiasa diingat dan diikuti oleh seluruh pengikutnya sepanjang masa hingga saat ini. Akan tetapi sebaliknya, para penentangnya meskipun memiliki lusinan anak laki-laki terbukti binasa dan terputus garis keturunannya hingga tak bersisa. Cerita tentang mereka yang mengemuka kemudian dalam sejarah umat manusia adalah mengenai keburukan dan kejelekan yang mereka perbuat selama hidupnya.

Dengan demikian sekali lagi terbukti bahwa kuasa Allah di atas segala kuasa yang ada di dunia ini. Apa yang kehendaki Allah akan menjadi kenyataan karena sesungguhnya janji Allah pasti akan ditepati.

Daftar Bacaan

Tafsir Ibnu Katsir, PT. Bina Ilmu Surabaya, Jilid 8, Cetakan Kedua, Tahun 1993.

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung).

Muhammad Abduh. 1999. Tafsir Juz ‘Amma, (Bandung: Mizan).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: