Analisis Laga AC Milan-Manchester United di 16 Besar Liga Champions 2009

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Barangkali benar kata orang bijak bahwa bagaimanapun juga usia tidak dapat dibohongi. Ini pula kiranya yang tepat untuk menggambarkan pertandingan sepakbola babak 16 besar Liga Champions Eropa 2009-2010 yang mempertemukan dua klub besar dunia, AC Milan (Italia) dan Manchester United (Inggris). Klub sepakbola Milan selama ini memang dikenal sebagai salah satu klub besar dunia yang senang mengoleksi para pemain yang sudah uzur dalam tradisi sepakbola. Menurut penuturan banyak petinggi klub yang bermarkas di kota Milano ini, kebijakan ini dilakukan karena mereka beranggapan bahwa para pemain berumur tersebut bukannya telah uzur, tetapi mereka adalah pemain yang berpengalaman. Memang, para pemain yang menghuni klub milik Perdana Mentri Italia ini adalah insan-insan yang telah kenyang dengan asam garam dunia si kulit bundar. Sebutlah misalnya Clarence Seedorf, Inzaghi, Ambrossini, Favalli dan masih banyak lagi para ‘dedengkot’ sepakbola Italia yang secara rutin bermain bagi Milan dalam setiap laga yang dilakoni klub ini.

Namun demikian, kebijakan ini pula, menurut saya, justru menjadi semacam pedang bermata dua yang menghantam balik Milan dalam laga melawan raksasa Inggris, Manchester United, Rabu 17 Februari 2010 tadi pagi yang berkesudahan dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim asuhan Sir Alex Ferguson tersebut. Jika diamati jalan pertandingan, pada menit-menit awal babak pertama Milan memang mampu mendominasi pertandingan dengan kreasi-kreasi apik yang dilakukan oleh sang maestro trik asal Brazil yang kini kembali menemukan performa apiknya, Ronaldinho. Bahkan, pada babak pertama yang terdiri dari 45 menit tersebut, laga diakhiri dengan skor 1-1 setelah Ronaldinho mencetak gol pada menit ke-3 yang kemudian dibalas oleh Scholes di menit ke-36.

Namun demikian, apa yang saya katakan ini menjadi kenyataan. Pada babak kedua, Milan yang sebagian besar pemainnya adalah para pemain besar yang tengah menapaki usia senja dalam sepakbola mulai terlihat kelimpungan menanggapi serangan variatif yang dilancarkan oleh anak buah Sir Alex. Hal ini terbukti dengan lahirnya gol kedua United hasil sundulan maut Rooney memanfaatkan crossing terukur Valencia yang masuk menggantikan Nani. Skor menjadi makin besar setelah Rooney menggandakan keunggulan setelah sundulan mautnya kembali merobek gawang Milan yang dikawal Dida setelah memanfaatkan umpan Flecher.

Para pemain yang dimiliki Sir Alex memang relatif masih muda atau dibawah usia 30 tahun, kecuali koper van der Saar, bek Ferdinand dan gelandang kreatif Scholes. Selebihnya, para pemain United adalah sekumpulan para anak muda yang tengah dididik oleh Sir Alex menjadi pemain-pemain besar, seperti Rooney, Valencia, Nani, Carrick, Evra dan lain sebagainya. Tetapi sebaliknya, para pemain Milan adalah sekumpulan para pemain yang uzur dalam tradisi sepakbola, kecuali pemain belia yang dimilikinya seperti Pato.

Tak dapat dipungkiri bahwa bagaimana pun hebatnya skil yang dimiliki oleh seorang pemain sepakbola, jika umurnya telah melewati usia emas maka ia akan mudah kelelahan akibat stamina yang terus terkuras. Sebaliknya, dengan usia yang masih muda dan segar, para pemain muda dengan mudah dapat mengatur stamina dan memiliki tenaga yang jauh lebih besar. Dengan tenaga dan stamina yang masih besar dan ditambah lagi dengan kemampuan skil yang mumpuni serta strategi yang jitu dari pelatih, maka dengan mudah para pemain muda tersebut mendikte pertandingan dan mencetak banyak gol hingga mengakhiri pertandingan dengan kemenangan. Inilah yang dilakukan oleh para anak asuhan Sir Alex di Gauseppe Meazza tadi pagi.

Jika dicermati lebih jauh, kedua klub besar dunia yang secara rutin tampil di ajang bergengsi Eropa ini sama-sama ditinggalkan oleh bintang utama yang menjadi ikon masing-masing. AC Milan yang selama ini dianggap sebagai salah satu klub besar Italia dan dunia ditinggalkan oleh ikon besarnya, Kaka, yang hijrah ke Real Madrid. Sedangkan Manchester United untuk kesekian kalinya setelah pada tahun 2003 ditinggalkan bintang besarnya, Backham, juga berpisah dengan ikon utamanya, Ronaldo, yang merapat ke Real Madrid dan memecahkan rekor transfer dunia yang selama ini dimiliki maestro sepakbola asal Prancis Zinedine Zidane sebesar Rp. 1,3 Triliun.

Namun demikian, ini pula yang membedakan antara Milan dan United dalam laga tersebut. AC Milan yang selama ini sangat tergantung dengan performa apik yang dipertunjukkan oleh Kaka ternyata belum dapat melepaskan diri dari ketergantungan tersebut. Lihatlah permainannya yang tidak terlalu atraktif layaknya di kala masih ada Kaka. Sedangkan United, meskipun juga ditinggalkan mesin gol utamanya, tetapi mereka sukses melepaskan diri dari ketergantungan dan bayang-bayang Ronaldo di masa lalu. Justru, saat ini United tengah menemukan performa apik yang dulu selalu dipertontonkan Ronaldo dalam diri seorang striker gempal, Rooney. Hal ini terbukti dengan torehan-torehan golnya di pentas Liga Inggris hingga menempatkannya di puncak daftar top skorer serta yang terpenting adalah sepasang golnya yang merobek jala gawang Dida tadi pagi. Sekian.

______________

Selamat untuk para pecinta United di mana saja berada. Sesungguhnya saya adalah penggemar kedua klub tersebut ditambah dengan Barcelona di Liga Spanyol. So, terbanglah setinggi-tingginya Manchester United, AC Milan dan Barcelona serta Sriwijaya FC di habitatmu masing-masing. Amin.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: