Memahami Sepakbola Perspektif Sosiologi

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Barangkali tak ada yang tak kenal Bonek atau Bondo Nekat. Ya, komunitas penggemar fanatik klub sepakbola asal Surabaya, Persebaya, ini memang selalu menjadi buah bibir. Apalagi baru-baru ini, dalam perjalanan untuk memberi dukungan bagi klub kebanggaannya yang akan berlaga melawan Persib di Bandung mereka terlibat pertikaian di Solo. Lengkaplah cerita dan berita negatif yang selama ini melekat pada kelompok suporter yang dikenal banyak bermodalkan nekat saja ini. Namun demikian, apa sesungguhnya yang membuat orang-orang Surabaya ini begitu terkenal dan selalu menjadi buah bibir masyarakat. Tentu saja, popularitas mereka begitu mencuat ke ranah publik tanah air karena sepakbola.

Sesuai dengan namanya, olahraga ini menggunakan bola untuk dimainkan oleh masing-masing kelompok yang terdiri dari sebelas orang ini memang menjadi salah satu jenis olahraga terpopuler di dunia. Bahkan di beberapa negara, olahraga yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan football (British) dan soccer (America) ini menjadi olahraga terfavorit yang digandrungi oleh masyarakatnya. Waktu pertandingannya dibagi menjadi dua babak, masing-masing babak terdiri dari empat puluh lima menit dengan beberapa menit tambahan waktu. Dalam setiap pertandingannya, sepakbola dipimpin oleh seorang wasit yang bertugas memandu jalannya pertandingan.

Sepakbola ternyata tidak melulu soal olahraga yang memang menjadi motivasi awal adanya jenis olahraga ini. Namun demikian di era modern seperti sekarang ini, sepakbola lebih dari sekedar olahraga karena telah menjelma menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Keuntungan dari penjualan tiket akibat antuasiasnya para penonton untuk menyaksikan klub-klubnya bertanding dan lalu lintas penjualan pemain serta pernak pernik yang kian marak membuat ladang bisnis ini terus menggoda para petualang bisnis. Lihatlah apa yang terjadi dengan Liga Inggris saat ini yang menjadi liga sepakbola paling elit dan gemerlap di dunia karena dikemas dengan konsep bisnis yang tertata rapi. Padahal beberapa tahun yang lalu liga sepakbola di negeri Ratu Elizabeth ini jauh berada di bawah Liga Italia yang kini melorot jauh akibat skandal Calciopoli beberapa waktu yang lalu.

Apakah sepakbola hanya sekedar itu?. Tentu saja tidak. Di samping menjadi salah satu cabang olahraga dan arena bisnis, sepakbola ternyata juga menjadi wahana yang pas dan tepat untuk melihat dinamika yang terjadi di dunia ini. Inilah apa yang dinamakan sebagai sosiologi sepakbola atau soccer sociology yang pernah dipaparkan oleh seorang sosiolog dari Universitas Harvard Amerika Serikat. Dalam kajian sosiologi sepakbola ini didapatkan sebuah pandangan bahwa dengan melihat sepakbola kita akan apa yang ada di dunia ini. Hal ini karena, di samping sebagai permainan, di dalam sepakbola terdapat strategi dan taktik yang diterapkan untuk melumpuhkan lawan. Sebuah klub sepakbola yang dilatih oleh pelatih yang memiliki segudang taktik dan strategi yang jitu akan lebih banyak memenangi pertandingan melawan lawan-lawannya yang berujung pada didapatkannya status juara dan memenangkan banyak tropi dan penghargaan. Bukankah ini sama dengan kenyataan yang ada dalam percaturan dunia, negara yang memiliki sumberdaya yang berkualitas tentu menjadi makin kuat dan mampu memenangkan setiap persaingan dengan negara-negara lainnya.

Di samping itu, dengan sepakbola kita juga akan mengetahui dinamika yang telah, sedang dan akan terjadi dalam percaturan dunia. Sebagai contoh, dalam konteks sepakbola nasional kita, ‘persaingan’ masa lalu antara suku Jawa dan suku Sunda yang pernah terjadi di antara kerajaan-kerajaan yang ada di kedua wilayah tersebut akan mengemuka dalam persaingan antara klub sepakbola dan para suporternya. Lihatlah persaingan antara antara Persebaya dan Persib yang kini terjadi dalam Super Liga Indonesia yang diikuti oleh para pendukung kedua klub tersebut. Atau, persaingan masa lalu antara orang-orang Bandung (Sunda) dengan orang-orang Jakarta (Betawi) dalam ‘menguasai’ ibukota yang mengemuka dalam persaingan yang tidak jarang berujung pada pertikaian antara para suporter Persib dan Persija. Atau contoh lainnya, persaingan yang terjadi di masa lalu antara orang-orang Surabaya dengan orang-orang Malang yang kini mengemuka dalam persaingan ketat antara Arema dan Persebaya beserta para pendukung masing-masing klub tersebut.

Atau, dalam konteks lokal di berbagai tempat di mancanegara. Di kota Turin, Italia misalnya. Klub sepakbola Juventus selalu mendapat persaingan yang sengit dengan klub Torino yang melibatkan para suporternya karena salah satu klub besar negeri Spageti tersebut dianggap bukan asli kota Turin sehingga mereka tidak mau direpresentasikan oleh pendatang. Hal yang sama banyak pula terjadi di Inggris yang melibatkan klub-klub yang terus berseteru dalam rivalitas yang tak berujung, seperti Liverpool-Everton, Manchester United-Manchester City, Chelsea-Arsenal-Fulham-Spurs. Semua rivalitas yang mengemuka tersebut berasal dari sejarah masa lalu yang mengiringi langkah setiap klub tersebut.  Begitu juga yang terjadi di Spanyol. Seperti tempat lainnya, di negeri yang terletak di Semenanjung Iberia yang di masa lalu dikenal dengan Andalusia ini, persaingan yang melibatkan sejumlah klub sepakbola juga terus mengemuka. Lihatlah persaingan yang mengemuka dalam laga el-clasico antara Barcelona dan Real Madrid. Barcelona yang mengusung panji Catalunia yang hingga sekarang masih berjuang untuk terbebas dari dominasi kerajaan yang berpusat di Madrid makin membuat laga krusial ini makin menegangkan sekaligus dinanti oleh banyak kalangan. Atau, persaingan untuk lepas dari cengkraman dominasi Madrid yang diperlihatkan oleh klub Atletico Madrid dan Getafe melawan raksasa yang merupakan manifestasi kerajaan Spanyol, Real Madrid.

Dalam konteks internasional, dinamika yang terjadi di dunia ini akan makin terlihat dengan jelas. Hal ini terutama akan nampak pada perhelatan Piala Dunia yang akan digelar beberapa bulan mendatang. Dalam ajang lima tahunan FIFA yang mempertemukan para wakil setiap konfederasi di seluruh dunia ini, ragam persaingan politik, ideologi dan ekonomi akan sangat mengemuka. Hanya saja, sangat disayangkan pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan mendatang Iran yang saat ini terus menjadi perhatian dunia karena program nuklir dan permusuhannya dengan Israel dan Amerika tidak lolos. Jika negara para mullah ini lolos, tentu kita akan melihat persaingannya di lapangan hijau dengan sejumlah perwakilan Amerika Serikat dalam memainkan si kulit bundar. Namun demikian, jangan dulu bersedih untuk tidak melihat dinamika dunia nyata dalam sepakbola lima tahunan tersebut karena kita akan melihat persaingan masa lalu antara Jerman dengan beberapa negara Sekutu yang pada perang dunia kedua yang lalu membantu Amerika Serikat memerangi Jerman dengan Nazinya. Dalam gelaran World Cup 2010 nanti jutaan pasang mata juga akan melihat persaingan sengit antara negara-negara kolonial di masa lalu dengan mantan koloninya, seperti laga yang akan mempertemukan antara Portugal dan Brazil. Jika dulu kedua negara yang sama-sama berjuluk celecao ini berinteraksi layaknya tuan dan hamba, maka sekarang tentu berada dalam situasi yang berbeda karena sang mantan koloni adalah peraih lima kali jura dunia dan sangat difavoritkan sedangkan sang mantan ‘tuan’ sebaliknya. Atau jika memungkinkan yang entah di babak ke berapa, pertemuan antara Inggris dengan Argentina yang pertikaian antara keduanya sudah berlangsung lama, terutama dengan kasus gol tangan Tuhan yang dilakukan oleh ‘Dewa Sepakbola’ Diego Armando Maradona. Rivalitas antara kedua negara ini memang terus memanas yang tentu dipicu juga oleh aspek politik, terutama persoalan Pulau Malvinas yang diperebutkan oleh keduanya yang akhir-akhir ini kembali mencuat ke permukaan.

Itulah sepakbola. Setiap orang yang menggandrunginya rela melakukan apa saja untuk dapat menyaksikannya. Dalam konteks kecil, mungkin para cewek yang kebetulan mempunyai pacar yang sangat menyukai sepakbola tentu harus rela acara malam mingguannya terpotong karena sang pacar menyaksikan laga-laga seru liga-liga utama di dunia yang memang digelar di week end. Atau, para ibu serta remaja putri yang rela berbagi menonton sinetronnya dengan ayah atau saudara laki-lakinya yang sangat menyukai tayangan sepakbola di akhir minggu.

Dalam sepakbola, semua energi dan potensi menyatu. Beragam perasaan tumpah menjadi satu. Saat kalah, tidak jarang air mata mengucur deras di pipi apalagi jika ditaklukkan oleh rival yang selama ini dibenci. Berkaitan dengan kekecewaan para penggemar atas hasil pertandingan, penulis mempunyai satu cerita yang cukup menarik. Ketika perhelatan Piala Dunia digelar di Korea-Jepang pada 2002, salah satu teman saya sangat menjagokan Argentika yang memang di babak Kualifikasi Zona Amerika Selatan sangat digdaya. Namun di kala tim Tango ini kalah dramatis dan bahkan tidak lolos di babak penyisihan grup, teman saya ini sangat kecewa dan menangis. Penulis beserta teman-teman lain yang kebetulan saat itu sedang nonton bareng juga dibuat kecewa, bukan karena kegagalan Argentina, tetapi karena ulah teman tersebut yang tidak mau melanjutkan nonton bareng di kamar kosnya tersebut karena jagoannya kalah. Dengan serta merta ia mengatakan bahwa ia tidak mau nonton lagi dan langsung mematikan televisi. Namun di kala kemenangan datang, kegembiraan dan keceriaan menyelimuti setiap individu dan bahkan mengemuka pula di lingkungan sekitarnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: