HUBUNGAN INDONESIA-AMERIKA SERIKAT (Catatan Menyambut Kedatangan Obama)

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Tidak berapa lama lagi, tepat pada pertengahan Maret 2010 mendatang, orang yang paling berkuasa di plenet bumi ini akan mengunjungi negara yang pernah menjadi tempatnya menghabiskan beberapa tahun di masa kecilnya. Ya, Presiden Amerika Serikat ke-40 Barack Husein Obama, demikian nama lengkapnya yang dibacakan saat pelantikannya di Gedung Putih sekitar setahun yang lalu, akan menyambangi Indonesia. Dalam sejarah hubungan yang terjalin antara Indonesia dengan Amerika Serikat, hampir sebagian besar kepala negara adikuasa itu telah pernah menyambangi negeri ini. Setiap kunjungan yang dilakukan tersebut tentu memiliki cerita dan misi tersendiri tentunya. Namun demikian, apa sesungguhnya informasi yang dapat diungkapkan mengenai kunjungan kepala negara yang dikenal sebagai Polisi Dunia itu kali ini?

Dalam pidato pelantikannya di hadapan ribuan masyarakat Amerika dan disaksikan jutaan pasang mata di seluruh dunia, Obama memang akan mengambil kebijakan yang berbeda terhadap dunia, khususnya dunia Islam. Jika di masa-masa pendahulunya, terutama sekali yang dilakukan oleh George W. Bush dalam dua periode pemerintahannya, kebijakan yang diterapkan oleh Amerika lebih bersifat kekerasan (hard policy) seperti yang tampak dengan invasi Amerika terhadap Irak dan Afghanistan, namun di masa Obama akan dilakukan soft policy. Beberapa bulan setelah pelantikannya, Obama menyampaikan pidatonya di sebuah negeri Islam yang terletak di Benua Afrika, Mesir. Pada awalnya, banyak yang berharap dan memprediksi bahwa pidato mengenai kebijakannya terhadap dunia Islam itu disampaikan di Indonesia, tetapi ternyata Obama lebih memilih Mesir karena mungkin berdasarkan pertimbangan kedekatan negeri Fir’aun tersebut dengan salah satu mitranya sekaligus dianggap sebagai sumber pertikaian di Timur Tengah, Israel. Dalam pidatonya, Obama mengakui sumbangsih dan andil besar dunia Islam bagi dunia, bahkan dengan tidak sungkan-sungkan Obama menyitir beberapa ayat al-Qur’an dan Hadis yang menjadi sesuatu yang asing bagi seorang kepala negara Barat seperti Amerika Serikat.

Penerapan kebijakan baru yang akan diterapkan oleh Obama terhadap dunia tidak hanya sampai di situ. Beberapa waktu lalu, tepatnya sebelum pemilu 2009, salah satu sosok penting yang menjadi ujung tombak kebijakan Amerika terhadap dunia, Mentri Luar Negeri Hillary Clinton, mengunjungi Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya seperti Korea dan Jepang. Implementasi kebijakan yang dicanangkan oleh Obama terus dilakukan, baik melaluinya secara langsung maupun melalui para wakilnya seperti para duta besar negara adikuasa tersebut di berbagai belahan dunia.

Pertengahan Maret 2010 ini Obama akan mengunjungi Indonesia. Banyak orang tentu sangat mengharapkan kedatangannya ke negara tempat ia beberapa tahun menghabiskan masa kecilnya sekaligus juga mengunjungi para keluarga dari ayah tirinya yang ada di Indonesia. Salah satu bentuk antusiasme menyambut kedatangan Obama mungkin dapat disaksikan dengan hadirnya patung Obama di masa kecilnya di Taman Menteng yang sekarang telah dipindahkan ke Sekolah Dasar Menteng tempat ia pernbah bersekolah dahulu setelah mendapat banyak kritikan dari masyarakat.

Di samping hendak bernostalgia untuk mengunjungi keluarganya yang ada di negeri ini sekalugus juga melihat tempat-tempat yang pernah ada dalam sejarah hidupnya, kedatangan Obama ke Indonesia tentu memiliki misi yang jauh lebih penting. Sebagai negara adikuasa yang kini mulai banyak dikritik dan mendapat tentangan dari banyak pihak dan kalangan, kedatangan Obama tentu ingin memperlihatkan kebijakan Amerika di bawahnya yang berbeda dengan pendahulu-pendahulunya. Hal ini penting dilakukan karena posisi Amerika dalam kancah percaturan dunia tidaklah sekuat dahulu, meskipun secara militer negara ini masih jauh mengungguli negara manapun di dunia ini, akan tetapi riak-riak penentangan mulai tampak dan berani tampil ke permukaan. Contohnya adalah kekuatan China yang memperlihatkan kemajuan dalam segala bidang yang sangat signifikan dan ‘kebandelan’ Iran dengan program nuklirnya yang terus bertahan meskipun ditekan dengan segala macam cara serta kekuatan ‘pembangkangan’ yang terus diperlihatkan beberapa negara di Amerika Latin seperi Bolivia, Venezuela dan tentunya Kuba. Dengan kondisi semacam ini, mau tidak mau Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Obama harus terus mencari dukungan dengan cara membangun citra yang positif dari seluruh dunia.

Bagi Indonesia, kunjungan Obama yang segera akan terealisasi dalam waktu dekat tentu berdampak signifikan bagi pentingnya hubungan antara kedua negara. Di samping secara emosional adanya kedekatan yang terjalin karena masa kecil Obama yang kental dengan negeri ini, Indonesia tentu membutuhkan dukungan Amerika dalam segala bidang untuk dapat senantiasa membangun negeri ini. Dari aspek ekonomi, Indonesia tentu membutuhkan dukungan finansial Amerika untuk membantu perekonomian dari keterpurukan sedangkan dari sisi militer Indonesia membutuhkan bantuan militer untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negeri ini.

Dengan demikian, hubungan yang kelak makin terjalin erat dengan kunjungan Obama adalah hubungan simbiosis mutualisme atau hubungan yang saling memetik hasilnya. Dengan menjalin hubungan yang kian erat dengan Indonesia, Amerika akan mendapatkan citra yang positif dari dunia, khususnya dengan dunia Islam. Sebagai negara dengan komunitas Muslim terbesar di dunia sekaligus menerapkan sistem demokrasi, peran Indonesia tentu sangat diperlukan dan diharapkan untuk mendongkrak popularitas Amerika di mata dunia pada umunya dan dunia Islam pada khususnya. Sementara bagi Indonesia, dengan kedekatan emosional yang ada ditambah dengan jalinan di segala bidang lainnya, maka keterbatasan Indonesia dalam beragam aspek akan mampu dibantu oleh Amerika.

Meskipun demikian, satu hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah manfaat yang diperoleh oleh masing-masing pihak dalam hubungan semacam ini. Sebuah hubungan yang baik dan ideal dalam jalinan simbiosis mutualisme adalah hasil yang diperoleh oleh kedua belah pihak adalah seimbang atau sama rata dan masing-masing pihak harus berdiri seimbang, tidak ada yang merasa lebih besar dibanding yang lainnya. Dalam konteks ini, hubungan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia adalah hubungan yang setara dan seimbang sehingga hasil yang didapatkan oleh keduanya adalah sama dan seimbang pula. Di samping itu, hubungan yang terjalin tersebut harus dirasakan manfaat positifnya bagi masing-masing pihak dan tidak berdampak negatif bagi keduanya.

Sebagai negara yang kerapkali berada pada posisi tawar yang lemah sebagai konsekuensi dari negara dunia ketiga, apakah hubungan semacam ini dapat diterapkan dengan hasil yang diharapkan sebagaimana tersebut di atas? Kita tunggu saja realisasi janji manis Obama yang hendak menempatkan seluruh negara, utamanya negara-negara Islam, dalam posisi yang setara dalam berinteraksi dengan Amerika Serikat.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: