Lubuk Larangan Sebagai Alternatif Penyelamatan Sungai

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Sungai adalah salah satu sumberdaya alam yang dimiliki oleh manusia untuk dipergunakan demi kemaslahatan hidupnya. Meskipun sebagai sumberdaya yang diperuntukkan untuk manusia, bukan berarti sungai dapat dipergunakan semaunya dan sekehendak hati dengan menafikan kelestariannya. Sungai yang menjadi salah satu urat nadi kehidupan manusia sejak dahulu harus tetap dijaga agar tetap lestari dan terhindar dari ancaman degradasi. Hal ini karena sungai memiliki beragam sumberdaya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti ikan; air; pasir dan bebatuan hingga logam mulia.

Meskipun demikian, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang kian pesat yang tentu membutuhkan lapangan pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat, maka keberadaan sungai kian jauh dari lestari. Dengan beragam resources yang dimilikinya, sungai terus diperlakukan secara semena-mena tanpa mengindahkan aspek keletariannya. Ikan, bebatuan, pasir dan logam mulia yang dimilikinya dimanfaatkan secara membabibuta sehingga beberapa bagian sungai menjadi rusak dan tercemar. Beragam peralatan canggih dengan menggunakan zat-zat kimia terus mengeruk dasar sungai untuk mendapatkan logam mulia yang terkandung di dalamnya sehingga mencemarkan sungai. Padahal sungai menjadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat sejak dahulu kala.

Inilah yang dialami oleh Sungai Tabir yang terletak di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Sebagian besar masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai ini masih memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci, mandi dan buang air besar dan kecil. Meskipun demikian, beberapa tahun belakangan ini kondisi Sungaiu Tabir sangat mengkhawatirkan karena eksistensinya yang terus terancam akibat beragam aktivitas masyarakat yang berujung pada upaya degradasinya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat terhadap sungai yang dapat berdampak degradasi adalah penambangan emas dengan menggunakan alat-alat berat serta zat-zat kimia dan meracun ikan dengan racun-racun yang mematiakn seluruh yang ada di sungai. Akibatnya, kualitas air sungai semakin memprihatinkan yang mana indikasi awalnya adalah berubahnya warna air menjadi coklat kekuning-kuningan kental dan kian sulitnya mendapatkan ikan atau sumberdaya air lainnya.

Memperhatikan realitas ini, rasanya perlu segera dilakukan upaya untuk mengembalikan kondisi sungai menjadi sediakala, terbebas dari ancaman degradasi yang berdampak pada kehidupan masyarakat sebagai pemanfaat utama sungai. Namuin demikian, upaya pencegahan yang dapat dilakukan saat ini sangat sulit untuk menangkal beragam kegiatan degradasi tersebut apalagi mengembalikan kondisinya ke semula karena beragam kegiatan tersebut telah berlangsung lama.

Salah satu alternatif yang kiranya dapat dilakukan oleh segenap pihak yang menaruh perhatian terhadap kelestarian sungai, menurut penulis, adalah merevitalisasi kearifan lokal yang ada dalam masyarakat. Dalam konteks ini, kearifan lokal yang ada dalam masyarakat Tabir adalah ‘lubuk larangan’. Lubuk larangan adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang orang-orang Tabir, dan beberapa daerah di Sumatera, untuk menjaga kelestarian sungai agar masyarakat tidak memanfaatkan sumberdaya yang dimilikinya secara sembarangan. Agar lubuk larangan ini berlaku efektif di tengah-tengah masyarakat, maka diciptakanlah beragam cerita atau mitos seputar beberapa bagian sungai yang dijadikan lubuk larangan tersebut. Cerita-cerita tersebut, misalnya, adanya penunggu berupa hantu atau raksasa yang akan marah atau murka jika ada orang yang memanfaatkan apa yang ada di lokasi tersebut. Ada pula yang menerapkannya dengan cara menanamkan keyakinan di tengah-tengah masyarakat bahwa orang yang memanfaatkan apa yang ada di lokasi tersebut akan terserang penyakit aneh.

Dalam konteks modern, beragam mitos dan cerita tersebut tentu dianggap tidak berlaku lagi, apalagi jika dikaitkan dengan ajaran agama. Namun demikian dalam kacamata ilmu sosial, beragam mitos dan cerita tersebut hanya bertujuan untuk menjauhkan masyarakat dari upaya-upaya yang berujung pada ancaman degradasi sungai. Hal ini terbukti dengan lestarinya eksistensi sungai di tengah-tengah masyarakat, dalam kesehariannya manusia tetap dapat memenuhi beragam kebutuhannya sehari-hari sementara di sisi lain sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tetap lestari.

Apa yang dikatakan ini bukanlah sekedar imajinasi penulis. Berdasarkan penelaahan terhadap beberapa tempat yang dilintasi Sungai Tabir, penulis mendapatkan suatu kesimpulan bahwa tempat-tempat yang diterapkan ‘lubuk larangan’ jauh dari ancaman degradasi. Akan tetapi sebaliknya, tempat yang kearifan lokalnya sangat longgar, bahkan tidak ada sama sekali, maka kondisi sungainya sangat memprihatinkan.

Penerapannya dilakukan dengan cara menetapkan zona-zona ‘lubuk larangan’ di beberapa bagian sungai. Setiap anggota masyarakat dilarang untuk melakukan aktivitas apa pun di lokasi yang ditetapkan sebagai zona ‘lubuk larangan’ tersebut. Penetapannya zonanya biasanya dilakukan berdasarkan pada letaknya yang strategis dan potensi besar yang dimiliki lokasi tersebut. Sesuai dengan namanya, maka lokasi yang biasanya ditetapkan sebagai ‘lubuk larangan’ adalah ‘lubuk’ yang dalam bahasa setempat berarti ‘bagian terdalam di sungai’. Biasanya lokasi semacam ini ditandai dengan adanya aliran air yang berputar-putar dan berada di tempat yang berbentuk cekungan. Di lokasi sepereti ini biasanya memang memiliki potensi sumberdaya air yang sangat besar, utamanya adalah ikan.

Apakah memang selamanya masyarakat tidak diperbolehkan memanfaatkan potensi yang ada di zona ‘lubuk larangan’?. Tidak demikian. Dalam sistem ‘lubuk larangan’ yang ada di Sungai Tabir, seluruh anggota masyarakat yang ada di daerah tersebut hanya dapat memanfaatkannya setahun sekali yang dilakukan secara bersama-sama. Biasanya pembukaan ‘lubuk larangan’ dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri dengan mengadakan beragam acara adat setempat. Hasil yang didapatkan dalam zona tersebut dibagi-bagikan kepada anggota masyarakat dan sebagian dijual untuk membiayai beragam kebutuhan umum masyarakat, seperti membantu pembangunan masjid dan lain sebagainya. Di luar waktu yang telah ditentukan tersebut, masyarakat tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas apa pun di tempat itu. Jika ada anggota masyarakat yang ketahuan melakukan aktivitas di zona tersebut, maka akan dikenakan ketentuan adat yang tingkatannya bervariasi, mulai dari teguran, denda dalam bentuk uang hingga pengucilan dari beragam kegiatan masyarakat dan diusir dari wilayah tersebut.

Revitalisasi kearifan lokal dalam bungkus ‘lubuk larangan’ terbukti mampu menangkal beragam aktivitas yang berujung pada degradasi sungai. Di samping itu, penerapan zona semacam ini dapat membantu perekonomian masyarakat melalui hasil yang didapatkan serta dapat dijadikan potensi wisata budaya dan lingkungan yang dapat menarik minat para wisatawan. Namun yang terpenting adalah ‘lubuk larangan’ dapat menjadi penjaga kelestarian lingkungan sungai yang paad gilirannya juga menjaga kehidupan masyarakat menjadi senantiasa baik. Amin.

Yogyakarta, 20 Februari 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: