Mengenal Ibnul ‘Arabi & Ajaran Sufistiknya

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

A. Profil Ibnul ‘Arabi

Nama lengkapnya adalah Abū Bakr Muhammad bin al-‘Arabi, dilahirkan di Murcia, Spanyol (Andalusia), pada tanggal 28 Juli 1165 M atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 560 H.[1] Orang yang kemudian lebih dikenal dikenal dengan Ibnul ‘Arabi ini memulai masa studinya di kota kelahirannya pada usia delapan tahun. Karena berasal dari keluarga bangsawan yang kaya, dalam menjalankan studinya ia tentu hidup berkecukupan dan setelah usianya dianggap mampu maka ia menikahi gadis cantik rupawan yang di kemudian hari turut serta mewarnai perjalanan sufisme yang dilakoninya. Sejak awal, perjalanan hidupnya memang sudah kental dengan nuansa sufisme, seperti mengemuka pada suatu saat ketika ia pernah disangka telah meninggal dunia karena menderita sakit yang sangat parah. Akan tetapi dalam alam spiritualnya, Ibnul ‘Arabi merasa tengah dikelilingi oleh sekumpulan setan yang sedang berusaha mengancamnya. Di tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba muncul sesosok wujud yang sangat rupawan dan dipenuhi wewangian sembari mengatakan bahwa ia adalah surat Yasin. Benar saja, ketika sang rupawan dan wangi tersebut datang menghampirinya di tengah-tengah gerombolan setan yang tengah mengitarinya, ayahnya ternyata tengah membacakan surat Yasin di sampingnya.[2]

Perjalanan sufisme Ibnul ‘Arabi memang terus berlangsung, dimana pada masa mudanya ia bersahabat akrab dengan dua orang perempuan sufi, yaitu Yasmin yang berasal dari Marchena dan Fathimah yang berasal dari Cordova Spanyol.[3] Fathimah adalah seorang perempuan yang cantik dan awet muda meskipun usianya tidak lagi muda sehingga ia seringkali diakira masih berusia belasan tahun, bahkan seringkali Ibnul ‘Arabi memerah mukanya ketika berhadapan dengan guru spiritualnya ini. Salah satu ajaran yang ia dapatkan dari guru sufi perempuannya ini adalah surat al-Fathihah yang mampu mengobati orang-orang sakit yang untuk meminta pertolongan. Setelah Syaikhah Fathimah dan Ibnul ‘Arabi membacakan surat al-Fathihah maka perlahan-lahan sakitnya menghilang dan berganti dengan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dampak dari pembacaan surat al-Fathihah tersebut digambarkan oleh Ibnul ‘Arabi sebagai efek energi berdaya cipta (creative energy) yang dihasilkan melalui konsentrasi hati (hima) atau yang kemudian disebutnya sebagai metode do’a teofanik (method of theophanic prayer).[4] Dan pada usia dua puluh tahun, Ibnul ‘Arabi makin memantapkan hatinya untuk mendalami dan melakoni jalan sufisme. Apalagi di kemudian hari ia dapat berjumpa dan berdiskusi dengan seorang pemikir besar yang dikaguminya, Ibnu Rusyd atau Averroes karena keinginan kuatnya serta kedekatan ayahnya dengan tokoh agung sepanjang masa tersebut. Di saat kematian sang tokoh besar itu pun Ibnul ‘Arabi turut serta menghadiri pemakamannya pada tahun 595 H atau 1198 M di Cordoba bersama dengan beragam tokoh besar lainnya.[5]

Setelah menetapkan hatinya untuk melakoni kehidupan sufisme, Ibnul ‘Arabi melakukan perjalanan yang jauh melintasi beragam wilayah. Antara tahun 1193 hingga 1200 M, Ibnul ‘Arabi telah menjelajah berbagai tempat di Andalusia (Spanyol) yang kemudian dilanjutkannya melintasi Selat Gibraltal untuk menyeberang ke Benua Afrika.[6] Di benua hitam ini ia mengembara ke wilayah Afrika Utara meliputi Tunisia, Aljazair, Maroko dan Libya untuk berjumpa dengan para wali yang ada di wilayah tersebut dan menghadiri berbagai pertemuan mistik, dan forum-forum diskusi. Dan setelah merasa cukup berinteraksi dengan beragam komunitas sufi di Benua Afrika, Ibnul ‘Arabi melanjutkan perjalanannya ke Asia. Perjalanan kedua dalam fase kehidupan sufinya ini terjadi antara tahun 597 H (1200 M) hingga 620 H (1223 M), dimana ia mengunjungi Syiria dengan menetap beberapa saat di Damaskus kemudian melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah dan dijamu dengan sangat hangat dan ramah oleh keluarga bangsawan Iran yang menjadi seorang syeikh di kota suci ini.[7] Setelah cukup lama tinggal di Kota Mekah, Ibnul ‘Arabi kemudian kemali melanjutkan perjalanannya ke Turki, Armenia, dan dilanjutkan ke Irak dan Iran. Dan setelah melakoni perjelajahan yang sangat panjang dengan mengunjungi beragam wilayah, akhirnya pada tanggal 16 November 1240 atau 28 Rabi’ul Tsani 638 H Ibnul ‘Arabi menghembuskan nafasnya yang terakhir di Damaskus.[8] Jenazahnya dimakamkan di sebelah utara kota Damaskus di pinggiran kota Salihiyyah, tepatnya di kaki gunung Qasiyun.

B. Ajaran Sufisme Ibnul ‘Arabi

Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemikir sufisme, Ibnul ‘Arabi memaparkan beberapa pandangannya seputar sufisme. Salah satu pemikiran utama yang dilontarkan oleh Ibnul ‘Arabi yang kemudian mengantarkannya sebagai seorang yang selalu menjadi bahan perbincangan oleh banyak kalangan, baik mendukung pendapatnya maupun yang menolaknya bahkan menganggapnya sesat adalah wahdah al-wujūd. Paham yang berarti penyatuan diri ini adalah model pemikiran sufistik yang hampir sama dengan paham hulūl yang pernah dikemukakan oleh al-Hallāj. Meskipun demikian, nasut yang ada dalam hulūl digantikan Ibnul ‘Arabi menjadi al-khalq (makhluk), sedangkan lahut yang ada di dalamnya digantikan dengan haq (Tuhan).[9] Berdasarkan paham ini, Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa setiap yang ada mempunyai dua aspek, yaitu: aspek luar yang merupakan “al-‘aradh” (accident) serta “al-khalq”  yang memiliki sifat makhluk dan aspek dalam yang merupakan “al-Jawhar” (substance) serta “al-haq” yang mempunyai sifat Tuhan. Dengan demikian, dalam setiap yang berwujud terdapat di dalamnya dua sifat yang ada secara bersamaan, yaitu sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan.

Lebih lanjut, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan bahwa:

كنت كنذا مخفيـا فأحببت أن أعرف فخـلقت الخـلق فبي عرفـواني

“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan melalui Aku mereka mengenal Aku”.

Dari hadits Qudsi ini dapat diungkapkan bahwa pada awalnya Tuhan adalah harta yang tersembunyi, kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakanlah makhluk. Menurut Ibnul ‘Arabi, pada mulanya wujud Tuhan sendirian dalam zatnya dan karena kerinduan-Nya untuk dapat diketahui keberadaan-Nya maka Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya yang akan memanifestasikan tentang Dia.[10] Dengan demikian, karena tujuan penciptaan makhluk-makhluk yang ada di dunia ini adalah untuk melihat keberadaan Tuhan oleh diri-Nya sendiri, maka sesungguhnya makhluk-makhluk tersebut adalah cerminan (tajalli) dari Tuhan yang menciptakannya. Namun demikian, karena manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan adalah berupa mikrokosmos (al-‘alam ash-Shaghīr) maka pantulan Tuhan tersebut lebih sempurna dibanding alam raya yang juga sebagai makhluk Tuhan yang berupa makrokosmos (al-‘alam al-Kabīr). Pantulan Tuhan pada manusia sesungguhnya tidak muncul dalam penyaksian yang kasat mata, tetapi melalui pengaktifan imajinasi kreatif sang dimiliki oleh sang pencipta. Hal ini karena imajinasi mentransmutasikan dunia indrawi dengan cara mengangkatnya kepada modalitasnya sendiri yang berbentuk halus dan tidak kenal rusak. Pergerakan ganda semacam ini memungkinkan adanya respons dua arah, yaitu turunnya yang ilahi dan naiknya yang indrawi (munāzalah). Kejadian turunnya yang ilahi dan naiknya yang berupa indrawi menuju satu perjumpaan dalam satu esensi ini memungkinkan adanya simpati antara dua entitas yang menunggal tersebut.

Dalam hadits Qudtsi di atas, menurut Ibnul ‘Arabi, juga menyiratkan bahwa adanya ketergantungan Tuhan dengan hambanya. Hal ini karena hanya dengan adanya makhluklah maka Dia itu disebut dengan Tuhan. Keduanya seakan terlibat dalam ikatan yang saling bersinergi, yang satu memberi wujud, sementara yang lain mengungkapkannya. Hal ini terlihat dalam perjumpaan sebagaimana yang dilukiskan Ibnul ‘Arabi pada peristiwa naik dan turunnya ilahi dan indrawi. Perjumpaan ini dilukiskan oleh Ibnul ‘Arabi sebagai perjumpaan antara al-musytaq (merindu) dan al-musytaq ilaih (wujud asal yang dirindukan). Pertemuan ini bukan saja harapan dari manusia yang mencinta, tetapi juga harapan Tuhan karena pada dasarnya Tuhan juga mempunyai hasrat kerinduan kepada makhluk-Nya untuk memanifestasikan diri-Nya pada wujud-wujud tersebut agar Ia dapat dikenali.

Adapun proses terjadinya pantulan Tuhan kepada makhluknya adalah pertama Tuhan merasa kesedihan yang mendalam karena tidak ada yang mengenalinya sebagai Tuhan. Kedua, kesedihan yang mendalam yang dialami Tuhan tersebut berubah menjadi nafas ilahi (tanaffus) yang disebut Ibnul ‘Arabi sebagai nafas rahmani atau seringkali disebutnya dengan awan untuk merujuk pada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW untuk menjawab pertanyaan seorang sahabat. Sahabat tersebut bertanya kepada Nabi, dimanakah Tuhan sebelum menciptakan?, maka Nabi menjawab ada di dalam awan. Awan inilah yang menurut Ibnul ‘Arabi yang kelak memanifestasikan beragam makhluk Tuhan, mulai dari para malaikat, orang-orang mulia hingga bebatuan cadas dan lain sebagainya.[11]

Pertemuan wujud yang indrawi dan wujud yang ruhani dalam kesatuan yang saling mengagumi sebagaimana digambarkan Ibnul ‘Arabi di atas dinamakan Corbin sebagai unio sympathetica.[12] Dalam pertemuan semacam inilah pantulan Tuhan menemukan wujudnya, meskipun hal ini tidak mudah dicapai kecuali dengan cara mengaktifkan imajinasi kreatif. Pantulan Tuhan yang paling sempurna tidak terjadi pada setiap tubuh manusia, karena hanya perempuanlah yang memiliki kelebihan yang memungkinkan kesempurnaan itu terjadi. Bagi Ibnul ‘Arabi, perempuan adalah simbol dari jiwa yang reseptif (munfa’il) dan kreatif (fā’il), sedangkan laki-laki adalah jiwa yang hanya memiliki karakter kreatif saja. Di samping itu, berdasarkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud indah yang menyukai keindahan, maka menurut Ibnul ‘Arabi pantulan Tuhan hanya mendapatkan tempatnya yang sempurna pada sesuatu yang indah pula.[13] Perempuan adalah tempat yang sempurna bagi pantulan Tuhan karena dalam seluruh bagian tubuh perempuan adalah keindahan. Di samping itu, Ibnul ‘Arabi berargumen untuk semakin menguatkan pemikirannya bahwa para pribadi yang mulia, seperti Nabi Isa dilahirkan dari rahim perempuan yang mulia, yaitu Maryam dan Adam mendapatkan ketenangannya setelah adanya Hawa yang kemudian melahirkan segenap umat manusia yang ada di muka bumi ini.[14] Kemudian, Ibnul ‘Arabi juga mengungkapkan sebuah fakta leksikografi bahwa dalam bahasa Arab, kata yang merujuk pada sumber segala sesuatu diungkapkan dalam kata ‘al-Umm’ atau yang berarti ibu atau perempuan.[15] Dengan demikian, semakin lengkaplah eksistensi perempuan sebagai tajalli yang sempurna bagi Tuhan untuk melihat keadaan diri-Nya dalam makhluk-Nya. *** Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber Bacaan

Nasution, Harun. 1995. Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Corbin, Henry. 1969. Creative Imagination in The Sufism of Ibn al-‘Arabi. USA: Princeton University Press.


[1] Henry Corbin, Creative Imagination in The Sufism of Ibn al-‘Arabi, (USA: Princeton University Press, 1969), hlm. 38.

[2] Ibid,- hlm. 39.

[3] Ibid,- hlm. 40.

[4] Ibid,-

[5] Ibid,- hlm. 42.

[6] Ibid,- hlm. 46.

[7] Ibid,- hlm. 51.

[8] Ibid,- hlm. 76.

[9] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, … hlm. 92.

[10] Henry Corbin, Creative Imagination …, hlm. 184.

[11] Ibid,- hlm. 184-187.

[12] Ibid,- hlm. 120-135.

[13] Ibid,- 163-164.

[14] Ibid,- hlm. 162-163

[15] Ibid,- hlm. 166-167.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: