Melihat Kembali Sejarah Pendirian Negara Israel

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Israel kembali berulah. Negara Zionis yang ada di kawasan Timur Tengah atau tepatnya di tanah Palestina yang berada dekat Laut Mediterania ini untuk yang kesekian kalinya menyita perhatian dunia. Setelah sekian lama ‘mengangkangi’ wilayah Palestina dengan dukungan para sekutu setia, utamanya Amerika Serikat dan Inggris, kali Israel kembali membuat geram beragam kalangan di seluruh dunia dengan aksi yang dilakukannya. Semua orang tahu bahwa berdasarkan konvensi yang diakui dunia internasional bahwa misi kemanusiaan tidak boleh diganggu apalagi diserang bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. Namun demikian, konvensi internasional ini seakan dianggap angin lalu saja oleh Israel, dalam hal ini militer Israel, karena dengan seenaknya menyerbu dan menyerang konvoi bantuan kemanusian internasional yang bertujuan untuk membantu warga Gaza yang dalam empat tahun terakhir menghadapi blokade Israel. Akibatnya tentu dapat ditebak, jatuhnya belasan korban jiwa para aktivis yang berasal dari berbagai negara di dunia ini.

Dari peristiwa ini kemudian tentu mengemuka pertanyaan, bagaimana mungkin Israel begitu berani melanggar aturan yang sudah disepakati secara internasional dengan menyerang bantuan kemanusiaan? Untuk menjawab kegelisahan yang mungkin mengemuka dalam benak banyak kalangan ini, barangkali dapat menelusuri sejarah pendirian negara Israel yang hingga saat ini masih belum diakui oleh sebagian besar negara-negara muslim, seperti Indonesia.

Israel yang kini menempati sebagian besar wilayah Palestina yang sementara beribukota Tel Aviv ini merupakan manifestasi dan perwujudan dari cita-cita besar kaum Yahudi. Setelah terlunta-lunta tanpa kejelasan nasib dan status serta ditambah lagi dengan tragedi ‘yang katanya’ pembantaian jutaan Yahudi oleh Nazi Jerman, maka tiga tokoh terkemuka Yahudi, yaitu Theodord Herzl, Max Nordau dan Prof. Mandelstamm mengadakan pertemuan dengan kelompok fundamental Yahudi yang dikenal dengan Zionis. Dari serangkaian pembicaraan tersebut disepakati untuk mendirikan sebuah negara yang dikhususkan untuk orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia dengan menerapkan undang-undang dan aturan-aturan yang ada dalam agama Yahudi, terutama paham Zionisme. Pada awalnya, lokasi yang dipilih untuk menjadi negara Yahudi tersebut adalah Uganda yang ada di Benua Afrika. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Uganda dianggap tidak memenuhi persyaratan menjadi negara Yahudi, terutama karena tidak memiliki aspek historis dengan agama Yahudi yang akan mereka usung.

Upaya mewujudkan cita-cita Zionisme yang terus diupayakan ketiga tokoh Yahudi di atas tidak berhenti sampai di situ. Setelah Uganda dianggap tidak memenuhi kriteria yang mereka tetapkan, maka pilihan kemudian jatuh kepada Palestina. Ya, Palestina adalah sebuah negeri yang terletak di tepian Laut Mediterania, berbatasan langsung dengan negeri-negeri Arab lainnya seperti Yordania, Lebanon dan Mesir. Aspek terpenting dari penetapan Palestina sebagai tempat pendirian satu-satunya negara Yahudi di dunia adalah faktor kesejarahannya dengan agama Yahudi. Sebagaimana diketahui bahwa Palestina yang sangat lekat dengan Yerussalem (al-Quds) merupakan kota atau wilayah suci tiga agama besar dunia; Islam, Yahudi dan Kristen. Islam menetapkan Palestina sebagai wilayah suci karena menjadi tempat Masjid al-Aqsa yang menjadi salah satu persinggahan Nabi Muhammad kala melakukan Isra’ Mi’raj dan menjadi arah kiblat pertama salat sebelum berpindah ke Ka’bah di Mekah. Kristen menjadikan wilayah ini suci karena menjadi tempat kelahiran dan perkembangan pertama agama Kristen yang dibawa oleh Yesus Kristus. Wilayah ini juga menjadi tempat kelahiran Yesus dan penyalibannya yang senantiasa dikenang dan diingat oleh kalangan Kristen di seluruh dunia. Sedangkan Yahudi menganggap suci Palestina karena mereka meyakini bahwa di wilayah inilah tempat bersemayamnya kuil Sulaiman yang menjadi kebanggaan kalangan Yahudi. Lengkaplah status yang semakin menguatkan ambisi Yahudi untuk menjadikan Palestina sebagai tempat berdirinya negara Yahudi.

Untuk menjustifikasi ambisi besar Yahudi ini, maka kalangan Zionis kemudian melontarkan suatu pernyataan yang berfungsi sebagai pembenaran upaya mereka, yaitu: Tanah tak bertuan untuk orang-orang yang tidak mempunyai tanah. Bagi mereka, Palestina sesungguhnya tidak memiliki pemilik sehingga perlu diberikan kepada orang-orang (Yahudi) yang tidak memiliki tanah dan terlunta-lunta di berbagai belahan dunia. Ambisi besar ini seakan gayung bersambut, karena saat itu Palestina berada dalam kekuasaan Inggris. Dengan berbagai cara dan jalan, akhirnya pada tahun 1917 melalui Perjanjian Balfour (diambil dari nama tokoh politik luar negeri Inggris ternama) Inggris secara resmi mempersilahkan orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia untuk pindah dan menetap di Palestina.

Kebijakan ini pada awalnya ditentang keras oleh kalangan Arab karena dianggap menyerobot beragam wilayah yang selama ini merupakan pemukiman orang-orang Arab sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun demikian, karena kuatnya dukungan Inggris dari segala bidang maka upaya Arab tersebut tidak pernah berhasil, bahkan negara Yahudi yang selama ini dicita-citakan berdiri dengan segala kekuatannya yang sangat besar. Dari tahun ke tahun negara Israel yang berdiri di atas tanah Palestina terus menancapkan pengaruhnya tidak hanya di wilayah Palestina, tetapi juga di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Meskipun cita-cita terbesar Yahudi telah terwujud dengan adanya Israel di tengah negara-negara Arab, tetapi satu hal yang terus membuat mereka tidak henti-hentinya berusaha adalah menjadikan Yerussalem (al-Quds) sebagai ibu kotanya. Upaya ini memang hingga saat ini belum dapat terealisasi karena kuatnya penolakan dari dunia internasional, tetapi bukan tidak mungkin suatu saat akan terwujud jika melihat sepak terjang Israel belakangan ini dan kondisi umat Islam serta negara-negara Arab yang kian hari kian tidak berdaya.

Jika melihat sumberdaya alam yang ada di Palestina yang kini dikuasai oleh Israel maka sebenarnya tidak cukup membuat negara Zionis ini begitu powerfull di kawasan Timur Tengah. Apa sesungguhnya yang membuatnya begitu disegani dan berani melanggar beragam aturan internasional? Tidak lain adalah dukungan yang tidak terhingga dari Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Barat lainnya. Lihatlah pernyataan terbaru dari Hillary Clinton (Menlu AS) beberapa waktu lalu yang secara terang-terangan mengatakan bahwa Amerika Serikat dibawah Obama akan memberikan dukungan penuh terhadap Israel. Dapat dimengerti memang karena kekuasaan sesungguhnya yang ada di Amerika Serikat adalah terletak pada orang-orang Yahudi di Negeri Paman Sam tersebut. Lihatlah bagaimana pengaruh lobi Yahudi yang turut menentukan kemenangan seorang presiden di negeri adidaya tersebut. Contoh terbaru tentunya apa yang dialami oleh Obama yang begitu kental dengan lobi Yahudi sehingga mengantarkannya sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika Serikat. Setelah seorang presiden Amerika Serikat terpilih, maka secara otomatis ia akan menerapkan beragam kebijkan yang sangat menguntungkan Israel sebagai satu-satunya negara yang mengaktualisasi ajaran Yahudi di dunia. Jika Amerika Serikat sebagai superpower dunia saja sudah terang-terangan membantu sepenuhnya Israel, maka negara-negara lainnya yang menjadi sekutunya akan turut melakukan hal yang sama. Lihatlah Inggris, Prancis dan Australia bahkan Mesir dan Arab Saudi sekalipun yang tidak berbuat banyak atas beragam tindakan Israel.

Di samping hal di atas, satu hal yang membuat Israel begitu jumawa, terutama dari aspek ekonomi, adalah bantuan keuangan yang selalu mengalir ke pundi-pundi Israel dari Jerman. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu propaganda Zionis dalam upaya mereka mendirikan Israel adalah menyebarkan ‘fakta’ pembantaian jutaan Yahudi oleh Nazi Jerman yang biasa dikenal dengan Holocoust. Propaganda peristiwa Holocoust ini terus dipelihara oleh Zionis untuk memuluskan jalan mereka menuju pendirian dan penguatan Israel tanpa ada seorang pun yang mampu menolaknya. Kalaupun ada yang muncul ke permukaan untuk mencoba membantah propaganda tersebut biasanya tidak berarti apa-apa berhadapan dengan begitu dahsyatnya kekuatan Yahudi yang menopangnya. Tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana komentar Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengenai Holocoust ini. Menurut Ahmadinejad, peristiwa Holocoust hanya propaganda Yahudi untuk memuluskan ambisi mereka untuk mendirikan Negara Israel karena beberapa fakta sejarah membuktikan bahwa jumlah orang-orang Yahudi yang dibunuh Nazi sangat jauh kurang dari jumlah jutaan sebagaiman yang diklaim oleh Yahudi. Lebih lanjut, menurut Ahmadinejad, kalaupun Holocoust benar-benar terjadi mengapa Palestina yang mesti mendapat getahnya, bukankah Holocoust itu terjadi di Eropa. Dengan demikian, masih menurut Ahmadinejad, jika Holocoust dijadikan alasan pendirian Negara Israel maka seharusnya lokasi yang dipilih berada di Eropa tempat terjadinya peristiwa Holocoust yang selalu didengung-dengungkan tersebut.

Sebagai kompensasi peristiwa tersebut yang disepakati dunia internasional atas lobi Yahudi, maka setiap tahun pemerintah Jerman mengirimkan bantuan keuangan yang sangat besar kepada pemerintah Israel. Dari sejumlah dana yang sangat besar yang diakumulasi dari dana Jerman, perusahaan-perusahaan internasional yang berafiliasi dengan Yahudi serta Amerika Serikat dan Inggris, maka jadilah Israel sebagai salah satu kekuatan utama dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Dengan demikian tidak mengherankan jika untuk kesekian kalinya Israel melanggar beragam konvensi internasional, bahkan kepada misi bantuan kemanusiaan sekali pun. Sejak awal pendirian negara ini telah jelas-jelas merupakan campur tangan dan dukungan kuat Inggris sebagai salah satu kekuatan yang memiliki peran strategis dalam percaturan dunia. Dalam perkembangan selanjutnya, Amerika Serikat terbukti terang-terangan akan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk membantu sekutu utamanya di Timur Tengah ini. Jika dianalogikan dengan anak kecil, maka Israel adalah anak emas yang sangat disayang dan dimanja serta segala keinginannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya, Amerika Serikat dan Inggris, yang kebetulan memiliki kekuatan yang besar dan tak terbatas di dunia. Kalau ada orang lain (baca: negara lain) yang mencoba mengganggu ketenangan dan keinginan sang anak (baca: Israel), maka kedua orang tuanya tidak segan-segan mengambil segala tindakan. Beberapa kali memang ‘kedua orang tuanya’ ini terlihat agak marah kepada ‘sang anak’ atas beberapa tindakannya, akan tetapi upaya ini tidak lain hanya sekedar untuk memperlihatkan citra positifnya di mata ‘para tetangganya’. Sesungguhnya kemesraan ‘sang anak’ dan ‘kedua orang tuanya’ tetap selalu terjalin karena sebenarnya mereka memiliki tujuan yang sama, atau paling tidak simbiosis mutualisme benar-benar bekerja dengan baik.

_____________________

Tulisan ini merupakan elaborasi penulis dari berbagai sumber.

Yogyakarta, 3 Juni 2010.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: