Haji dan Kesalihan Sosial

Oleh: Pahrudin HM, MA

Beberapa waktu lalu, penulis sempat pulang ke kampung halaman untuk sekedar silaturrahmi dengan keluarga yang telah cukup lama tidak dijenguk. Dalam suatu perbincangan dengan keluarga dan masyarakat di sana, ada satu pembicaraan yang cukup menarik untuk diperhatikan, yaitu mengenai kian banyak jumlah jamaah haji di desa ini dari tahun ke tahun. Sebenarnya secara umum fenomena ini cukup membanggakan karena hal ini dapat berarti bahwa tingkat keberagamaan masyarakat di kawasan ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian, jika diperhatikan dari aspek lainnya yaitu sosial kemasyarakat maka menurut penulis menjadi kurang baik karena di sisi lain masih banyak anggota masyarakat lainnya yang hidup pas-pasan dan sangat kekuarangan. Pendapat ini mungkin akan sangat ditentang oleh banyak kalangan karena dapat berarti menghambat orang untuk ‘menyempurnakan’ rukun Islamnya. Untuk yang satu ini, penulis sangat sepakat bahwa rukun Islam, berupa haji harus disempurnakan oleh orang-orang Islam yang mampu dengan melakukan ibadah haji ke Baitullah. Akan tetapi, jika memperhatikan fenomena haji yang ada di masyarakat, maka hal ini menjadi kurang baik karena banyak di antara jamaah haji tersebut yang melakukannya untuk yang kedua kalinya dan seterusnya. Inilah yang menurut penulis yang perlu diperhatikan.

Sebagai salah satu rukun Islam setelah syahadat, shalat, puasa dan zakat, bagi siapapun orang muslim yang mampu harus melaksanakan ibadah haji dengan cara mengunjungi Baitullah, tawaf 7 kali di sekelilingnya, sa’i antara bukit safa dan marwa, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan melontar di Mina. Inilah rangkaian ibadah yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang melaksanakan ibadah haji dan ditambahkan dengan mengunjungi Madinah untuk melaksanakan shalat lima waktu selama 40 kali (arba’in). Ibadah haji hanya diwajibkan untuk dilaksanakan sebanyak satu kali saja bagi setiap muslim yang mampu melakukannya, dan selebihnya hanya bersifat sunnah saja yang berarti dapat atau boleh dilakukan.

Namun demikian, anggapan yang banyak berkembang di masyarakat adalah semakin sering dan banyak orang muslim beribadah haji maka tingkat keimanannya semakin kuat dan tebal. Akibatnya, kuantitas jumlah jamaah haji Indonesia selalu mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Bahkan tidak jarang di beberapa daerah terjadi antrian panjang untuk mendapatkan kuota kursi haji, hingga seringkali harus menunggu hingga bertahun-tahun ke depan. Sebagai salah satu buktinya, kuota jamaah haji dari salah satu kabupaten di Jambi saja sudah terisi hingga 2016 yang berarti masyarakat harus menunda keinginannya beribadah haji hingga beberapa tahun ke depan. Tulisan ini tidak hendak menghalangi seorang muslim untuk melaksanakan ibadah haji apalagi mengharamkan sesuatu yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, tetapi hanya ingin mencoba memberi suatu pemahaman kepada masyarakat Islam mengenai kesalehan sosial yang mungkin cenderung terlupakan.

Satu hal yang mungkin luput dari pemahaman di masyarakat adalah bahwa beribadah kepada Allah dan meningkatkan keimanan tidak hanya dapat dilakukan dengan beribadah haji saja. Hal ini terutama bagi kalangan umat Islam yang memiliki tingkat ekonomi yang pas-pasan sehingga tidak jarang harus menjual harta bendanya untuk membiayai perjalanan hajinya. Ada banyak cara atau ibadah yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti bersedekah; menyantuni anak yatim dan membantu pembiayaan sarana sosial semampunya dan lain sebagainya.

Bagi kalangan umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kali dan seterusnya, ada banyak lahan yang dapat digarap untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempertebal keimanan. Kesalehan sosial menjadi ‘lahan garapan’ bagi kelompok ini, ketimbang kembali menjalani ibadah haji untuk yang kesekian kalinya. Ada banyak tetangga, sanak saudara dan keluarga yang tidak jarang justru membutuhkan bantuan untuk hanya sekedar bertahan hidup. Tidak jarang pula mereka harus hidup berteduh di bawah gubuk reot, berselimutkan dinginnya malam akibat dinding rumah yang tidak lagi sepenuhnya mampu menahan hembusan angin, pendapatan hari ini hanya cukup untuk hidup hari ini dan esok hari entah akan bagaimana dan beragam kondisi mengenaskan yang biasa ditemui orang-orang miskin dan tak berdaya dalam masyarakat. Dengan menyantuni dan membantu perekonomian mereka maka kesalehan individu yang salah salah satunya mewujud dalam ibadah haji satu kali saja akan dilengkapi oleh kesalehan sosial.

Membantu pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan mengurangi kesalehan individu seorang muslim, bahkan mengantarkannya menjadi seorang muslim yang saleh secara sosial. Sebuah kombinasi yang ideal bagi seorang muslim. Kehidupan manusia muslim di muka bumi terdiri dari dua hubungan, yaitu hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas). Hubungan pertama dicapai dengan melakukan beragam peribadatan seperti haji yang satu kali itu, sedangkan hubungan yang kedua mewujud dalam kesalehan sosial dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berada terdekat dengan kita. Sebagai contoh kecil, Rasulullah pernah menyuarakannya dalam sebuah sabdanya yang berbunyi:

إذا طبخت مرقة فاكثر ماءها وتعاهد جيرانك

Artinya: Jika kamu memasak makanan, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu. (al-Hadits)

Untuk hal yang kecil, seperti makanan, saja Rasulullah sebagai panutan umat Islam sangat memperhatikan para tetangga, apalagi menyangkut hal-hal besar seperti pemberdayaan ekonomi mereka. Dalam sebuah kisah yang cukup populer di kalangan umat Islam menceritakan bahwa suatu hari Allah menyuruh malaikat untuk menghancurkan suatu kampung karena penduduknya telah mendurhakai Allah. Akan tetapi malaikat melihat bahwa di kampung tersebut terdapat seseorang yang selalu beribadah kepada Allah dan tidak mengenal waktu, baik pagi, siang hingga malam. Namun demikian, apa jawaban Allah atas laporan malaikat ini, ‘hancurkan kampung itu mulai dari rumah ahli ibadah tersebut’. Kenapa Allah justru menghancurkan kampung tersebut dari rumah orang yang selalu menyembah dan beribadah kepada-Nya. Hal ini karena ahli ibadah tersebut hanya mementingkan dirinya sendiri dan masa bodoh dengan apa yang terjadi di sekeling dan dalam masyarakatnya yang penting ia beribadah kepada Allah.

Dalam beberapa ayat al-Qur’an juga disebutkan bahwa kata ‘beriman’ selalu diikuti dengan kata ‘amal saleh’ :

الذين آمنوا وعملوا الصالحات

Kata-kata ini selalu disebutkan Allah secara beriringan dalam beberapa ayat dan surat dalam al-Qur’an. Hal ini karena seorang muslim itu harus beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan segala konsekuensi keimanannya tersebut. Akan tetapi, apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim dan mukmin itu tidak hanya berhenti sampai di situ, karena ada tuntutan lain yaitu melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang muslim itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan segala konsekuensi dan tindak lanjutnya berupa pelaksanaan aturan-aturan Islam dan melaksanakan perbuatan-perbuatan baik (saleh). Perbuatan-perbuatan baik ini memang terdiri dari beragam macam yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara membantu sesama manusia, apalagi sesama muslim, sehingga mereka dapat menjalankan hidup ini dengan baik. Dengan demikian, dua hubungan yang dilakukan seorang muslim di muka bumi ini dapat terimplementasi, hablum minallah melalui peribadatan dan hablum minnnas melalui perhatian, bantuan dan pemberdayaan sesama manusia.

________________________

Yogyakarta, 29 Juni 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: