Konflik di Dunia: Keuntungan Bagi Barat

Oleh: Pahrudin HM, MA

Saddam Husein dengan pasukan Irak menyerang Kuwait, Israel menyerang Gaza, roket-roket dan pesawat tempur Israel membombardir basis Hizbullah di Lebanon, Korea Utara bersitegang dengan Korea Selatan, tentara China mengarahkan banyak rudalnya ke Taiwan. Itulah segelintir berita yang senantiasa akrab di telinga kita mengenai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar, membaca dan melihat berita-berita tersebut?… Bisa jadi kita beranggapan bahwa orang-orang atau negara yang terlibat dalam konflik tersebut adalah egois yang memaksakan kehendaknya untuk menguasai orang atau negara lainnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah karena tampilan yang mengemuka di permukaan memang demikian. Tetapi sesungguhnya ada aspek lain yang tidak tampak di permukaan di balik beragam konflik yang terjadi tersebut.

Konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia tersebut sesungguhnya adalah senjata baru Barat (baca: terutama Amerika Serikat dan Inggris) untuk menguasai dunia setelah era kolonialisme berakhir. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terjadinya beragam konflik di berbagai wilayah dunia sangat menguntungkan Barat dalam upayanya untuk terus menghegemoni dunia, terutama kekuatan-kekuatan yang dianggap dapat mengganggu kemapanan mereka. Mari kita lihat satu persatu konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, terutama kawasan Timur Tengah dan Asia Timur, untuk menguatkan asumsi ini.

Konflik Timur Tengah

Timur Tengah (Bahasa Inggris: Middle East, Bahasa Arab: asy-Syarq al-Awsat) pada awalnya adalah nama yang digunakan untuk menyebut wilayah yang terletak di kawasan Teluk yang jika dilihat dari Eropa menjadi Timur Dekat (Near East). Nama ini pula yang sekian lama melekat dengan kawasan ini sebelum mengemuka istilah Timur Tengah (Middle East). Namun demikian, dewasa ini Timur Tengah juga juga digunakan untuk menyebut wilayah yang terletak di bagian utara dan timur Benua Afrika (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Sudan), Iran, Turki dan seluruh negara-negara Arab yang ada di bagian timur Terusan Suez. Di samping itu, beberapa kalangan juga memasukkan Siprus, Pakistan, dan Afghanistan hingga Laut India. [Lebih lanjut, lihat: Alasdair Drysdale & Gerald H. Blake, The Middle East and North Africa, (Oxford: Oxford University Press, 1985), hlm. 10-13].

Kawasan Timur Tengah juga seringkali dipersepsikan sebagai wilayah Arab, walaupun sesungguhnya hal ini tidak sepenuhnya benar karena tidak semua wilayah Timur Tengah adalah Arab. Wilayah Arab memang menjadi bagian terbesar kawasan Timur Tengah yang merupakan kawasan yang membentang dari Asia hingga lautan di sekitarnya yang lebarnya 1.200 mil dan panjangnya 1.500 mil. Kondisi georafisnya beraneka ragam dimana di ujung barat yang berbatasan dengan Laut Mediterania memiliki curah hujan yang memadai, di tanah tingginya tumbuh pohon-pohon zaitun, di ujung selatannya curah hujannya semakin berkurang, sedangkan di ujung timurnya sangat hijau yang ditunjukkan dengan Sungai Tigris dan Eufrat. Secara garis besar, kawasan Arab terdiri dari padang pasir yang membentang seakan menutupi seluruh lapisan wilayah ini. [Lebih lanjut, lihat: Isma’il Raji’ al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 41].

Sebagian besar aspek yang ada di kawasan Timur Tengah memang memiliki magnet yang selalu menyedot perhatian dunia. Akibatnya, kawasan ini selalu menjadi ajang pertarungan berbagai kekuatan dunia dari waktu ke waktu untuk menguasai dan mengontrolnya. Terdapat beberapa faktor yang membuat Timur Tengah selalu membuat kekuatan dunia ingin campur tangan di dalamnya, yaitu:

  1. Posisi strategis Timur Tengah yang merupakan pintu gerbang ke berbagai tempat dunia, yaitu Eropa, Asia dan Afrika. Dengan demikian, maka dengan mengontrol kawasan ini maka secara otomatis mengontrol sebagian besar mobilitas dunia.
  2. Faktor historis Timur Tengah yang penuh dengan kejayaan dan kebanggaan masa lampau. Lihatlah Palestina yang menjadi tempat suci tiga agama besar dunia; Islam, Kristen dan Yahudi. Selanjutnya, kawasan ini juga menjadi tempat lahir dan berkembangnya agama-agama besar dunia; Islam di Saudi Arabia dan Kristen dan Yahudi di Palestina. Peradaban-peradaban besar dunia juga pernah ada dan masih masih menyisakan peninggalannya di kawasan ini, seperti pyramid di Mesir dan peninggalan-peninggalan masa lampau yang berserakan di Irak dan kota kuno yang dipahat di batu cadas pegunungan di Petra Yordania.
  3. Karena faktor minyak yang merupakan bagian terbesar dunia yang berada di kawasan ini. Tercatat bahwa Arab Saudi dan Irak sebagai produsen minyak bumi terbesar di dunia, belum lagi jika ditambahkan dengan Iran, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, Kuwait dan Yaman.

Dengan beragam keistimewaan di atas, maka kekuatan Barat yang dikomandoi Amerika Serikat dan Inggris berupaya melakukan segala macam cara untuk selalu dapat menghegemoninya. Salah satu caranya adalah menciptakan konflik atau membuat kawasan ini tidak berada dalam kondisi stabil dan aman. Langkah pertama adalah merestui pendirian negara Israel di tanah Palestina yang diproklamirkan pada tahun 1948 oleh suatu gerakan Yahudi radikal, Zionis. Berdirinya Israel di tanah Palestina menimbulkan kegoncangan dan pertentangan di kalangan tetangga-tetangga Arab-nya. Negara ini pula yang menyebabkan mengemuka dua blok dalam komunitas Arab, yaitu negara Arab yang mengakui Israel seperti Mesir dan Yordania serta negara Arab yang menetang Israel seperti Syiria (Suriah). Dengan dukungan penuh Barat terhadap Israel dalam berbagai aspek yang disertai dengan aneka ragam upaya dan tindakan, maka Dunia Arab yang selama ini bersatu padu menjadi terpecah belah. Keadaan ini tentunya menguntungkan Barat karena persatuan Arab yang selama ini disuarakan seakan tidak lagi memiliki kekuatan di tengah kesibukan negara-negara Arab mementingkan dirinya sendiri. Mesir berunding dengan Israel agar mengembalikan Sinai yang direbut negeri Zionis tersebut pada perang tahun 1948. Langkah sukses Mesir ini diikuti Yordania yang berhasil mendapatkan kembali sebagian wilayahnya dengan kompensasi pengakuan terhadap terhadap negara Israel. Upaya ini tentu ditentang oleh Syiria yang menganggap kedua negara Arab tersebut berkhianat, sementara wilayah di Dataran Tinggi Golan yang sangat strategis secara militer tidak pernah dikembalikan Israel.

Selanjutnya, Barat juga menciptakan konflik antar sesama negara Arab sendiri dengan memberi sokongan penuh terhadap pemerintahan Saddam Husein sehingga memiliki kekuatan militer yang kuat di Timur Tengah. Kondisi ini membuat Saddam Husein jumawa dan berusaha ingin menguasai kawasan Arab lainnya yang kaya minyak, Kuwait. Di sinilah strategi konflik Barat kembali dimainkan. Karena kekuatan militer Irak yang besar dianggap mengancam negara-negara tetangganya, maka tentu timbul ketakutan di benak para pemimpin Arab lainnya akan serangan Saddam ke wilayah mereka. Akhirnya Arab Saudi yang berbatasan langsung di Irak dan Kuwait ‘terpaksa’ mengundang Amerika Serikat untuk membantu menjaga wilayahnya dari kemungkinan serbuan tentara Saddam Husein. ‘Bantuan’ militer Amerika Serikat ini terbukti mampu mengusir tentara Irak dari Kuwait dan menjaga wilayah Saudi dari ancaman agresi tentara Saddam. Namun demikian, ‘bantuan’ ini tentu tidak gratis karena Saudi harus bersedia menerima keinginan kuat Amerika untuk membangun pangkalan militernya di Arab Saudi dan beberapa negara Teluk dengan dalih menjaga keamanan negeri Petro Dollar tersebut dan kawasan Timur Tengah pada umumnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan strategi konflik, maka saat ini Barat melalui tangan Amerika dan Inggris telah mampu menguasai Timur Tengah. Secara militer penguasaan tersebut tampak berdirinya beberapa pangkalan militer Barat di kawasan Teluk dan secara ekonomi tampak pada beragam perusahaan minyak yang mengeksplorasi sumur-sumur minyak di Timur Tengah. Kondisi ini jelas menguntungkan kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah.

Asia Timur

Asia Timur adalah suatu kawasan sebelah timur di Benua Asia yang mencakup Jepang, Korea (Selatan dan Utara) dan China. Wilayah ini jika dilihat dari perspektif sumberdaya alam memang tidak sebanyak yang dikandung kawasan Timur Tengah. Akan tetapi, wilayah Asia Timur memiliki potensi lain yang dianggap mampu menyaingi hegemoni Barat di dunia, yaitu penguasaan teknologi dan jumlah penduduknya. Jepang dan Korea selama ini dikenal sebagai dua negara ras kuning yang memiliki dan menguasai teknologi tinggi, sedangkan China adalah penyumbang terbesar penghuni bumi dengan sekitar 2 milyar penduduknya, di samping juga penguasaan teknologinya akhir-akhir ini.

Sebagaimana yang diterapkan di Timur Tengah, strategi konflik juga diterapkan di kawasan Asia Timur. Langkahnya adalah dengan membantu kekuatan militer Taiwan dalam upaya negara pulau tersebut menangkal kemungkinan serangan militer China yang menganggap negara ini provinsinya yang membangkang. Langkah yang sama juga diterapkan dengan membantu militer Korea Selatan dalam mengantisipasi kemungkinan serangan nuklir tetangganya, Korea Utara. Saat ini Amerika Serikat memiliki setidaknya dua pangkalan militernya di Asia Timur, yaitu di Okinawa Jepang sebagai bagian perjanjian di Perang Dunia Kedua dan di Korea Selatan.

Dengan kekuatan nuklir yang disinyalir dimiliki Korea Utara dan China, maka negara-negara tetangganya tentu menjadi sangat kuatir. Karena ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan ini, maka bantuan militer Barat menjadi sangat dibutuhkan. Akibatnya, hingga saat ini Korea Selatan, Jepang dan Taiwan sangat bergantung dengan bantuan militer Barat, utamanya Amerika Serikat. Kondisi ini tentu menguntungkan Barat yang ingin tetap menghegemoni dunia dengan menempatkan beragam kekuatannya di berbagai belahan dunia, apalagi di kawasan-kawasan yang dapat menjadi ancaman kemapanannya.

Terbukti sudah bahwa ketidakstabilan atau instabilitas yang tampak dengan mengemukanya beragam konflik di berbagai wilayah di muka bumi sesungguhnya menguntungkan Barat. Konflik tentu membuat beragam kekuatan tidak bersatu, sebaliknya Barat dengan visi dan misinya terus memelihara kondisi ini agar terus dapat menghegemoni dunia.

_____________________

Yogyakarta, 29 Juni 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: