Mengungkap Anggapan Orang Jambi Malas

Oleh: Pahrudin HM, MA

Dalam sebuah perbincangan mengenai pengelolaan perkebunan karet rakyat di kawasan Tabir Ilir-Merangin beberapa waktu yang lalu penulis mendapatkan kesan bahwa orang Jambi cenderung dinomorduakan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor ini. Padahal sejak dahulu kala, sektor perkebunan karet adalah tumpuan utama masyarakat, baik asli maupun pendatang, dalam kehidupan sehari-hari. Dengan harga jual karet yang relatif tinggi di pasaran seiring dengan kian naiknya permintaan bahan baku untuk membuat beragam produk, maka hingga saat ini perkebunan karet tetap menjadi sektor utama untuk kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, lalu lintas pencari kerja di sektor ini, terutama untuk posisi sebagai penyadap karet, selalu meningkat setiap tahunnya. Hal ini dapat dimengerti karena sektor ini telah terbukti mampu mensejahterakan masyarakat sehingga secara otomatis pula masyarakat berupaya terus memperbanyak dan memperluas lahan perkebunan karet. Namun demikian, komposisi tenaga kerja di sektor penyadap karet lebih banyak didominasi oleh tenaga-tenaga yang berasal dari luar daerah, terutama yang datang dari Pati, Jawa Tengah. Sementara itu, komposisi masyarakat lokal untuk bekerja di posisi penyadap karet sangat kecil padahal sesungguhnya mereka juga membutuhkan pekerjaan ini.

Sebagian besar pemilik kebun karet, atau masyarakat lokal biasa menyebutnya dengan tauke, yang ada di kawasan ini lebih memilih orang-orang luar daerah untuk menjadi penyadap karetnya. Alasan para ‘bos’ ini adalah karena orang lokal ini cenderung pemalas jika dibandingkan para pendatang yang sangat rajin dalam bekerja. Padahal menurut pandangan penulis, masyarakat lokal juga sangat membutuhkan pekerjaan ini karena sebagian besar mereka tidak memiliki ketrampilan lain disebabkan tingkat pendidikan yang rendah. Akibatnya, tidak jarang masyarakat lokal yang tidak memiliki ketrampilan lain selain menyadap karet memilih pekerjaan yang sesungguhnya sangat tidak baik bagi ekologi, yaitu menambang emas di sungai seperti yang akhir-akhir ini marak dilakukan.

Benarkah orang-orang lokal, atau orang Jambi, malas sebagaimana kesimpulan para pemilik kebun karet?… Pertanyaan ini pernah pula dilontarkan oleh seorang pakar ilmu sosial Barat dalam konteks yang lebih luas sehingga memunculkan buku yang cukup terkenal dalam kajian sosial, yaitu ‘Mengungkap Mitos Orang Melayu Malas’. Tulisan ini tidak hendak meniru langkah tersebut, tetapi hanya hendak berupaya menjawab pertanyaan yang penulis temukan di lapangan, sekaligus juga mungkin menjadi keprihatinan masyarakat lokal yang tidak mendapatkan porsi pekerjaan di kebun karet yang ada di wilayah mereka sendiri.

Secara umum, kalangan pakar ilmu sosial sepakat bahwa sifat-sifat tertentu sebenarnya tidak melekat pada seseorang atau etnis tertentu. Misalnya, orang Batak dikatakan keras-keras dan kasar-kasar, orang Minang dikatakan pelit atau orang Sunda dikatakan tidak setia dan mata duitan, polisi suka memeras orang dan orang Jambi pemalas. Anggapan ini muncul karena penilaian yang didasarkan pada kasus-kasus tertentu saja, tetapi tidak melihat secara keseluruhannya atau mengeneralisasi. Padahal, ada banyak orang Batak yang lembut, orang Minang yang penyantun dan dermawan, orang Sunda yang sangat setia dan tidak macam-macam, polisi yang baik dan orang Jambi yang rajin bekerja. Inilah apa yang dikatakan ilmuan sosial, Peter L. Berger, sebagai social construction of reality atau konstruksi sosial atas realitas. Seseorang yang mengalami hal yang buruk ketika berinteraksi dengan seseorang atau kelompok tertentu kemudian menganggap bahwa semuanya seperti itu sehingga memunculkan konstruksi sosial. Padahal apa yang dialaminya hanya berupa kasuistik yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dan bisa jadi orang lain mengalami hal yang sebaliknya dan berbeda.

Di samping itu, munculnya anggapan yang kemudian dikonstruksi menjadi realitas sebagaimana tersebut di atas dapat pula disebabkan oleh faktor lingkungan atau alam. Dalam konteks ‘anggapan orang Jambi pemalas’ ini dapat dijelaskan lebih lanjut dalam aspek ini.

Provinsi Jambi adalah salah satu wilayah Nusantara yang memiliki sumberdaya alam, khususnya hutan dan perkebunan, yang sangat luas di hampir setiap bagian kawasan ini. Masyarakatnya menjalankan roda perekonomian sehari-harinya dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar dan di lingkungannya. Ada yang berkebun, bertani dan menanam karet. Untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membuat rumah dan memasak cukup masuk ke dalam hutan atau perkebunan dan memanfaatkan apa yang ada di dalamnya seperti kayu. Artinya, sebagian besar kebutuhan hidup dapat tercukupi dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka. Kebiasaan ini terus berlanjut dan diwarisi secara turun terumun kepada pelanjut kehidupan mereka, anak-anak mereka yang kemudian diteruskan hingga saat ini. Permasalahan muncul ketika modernisasi tanpa ampun merasuki setiap relung kehidupan masyarakat, tanpa terkecuali masyarakat di kawasan ini. Jika sebelumnya beragam kebutuhan hidup dapat dipenuhi hanya dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar mereka, tetapi kini mereka harus berjuang dan berusaha dengan cara lain untuk mendapatkannya. Sementara di sisi lain, seiring dengan pertambahan penduduk di Pulau Jawa yang tidak diimbangi oleh tersedianya lapangan pekerjaan, maka gelombang kedatangan orang-orang Jawa pun memenuhi Jambi untuk mencari lapangan pekerjaan. Karena motivasi kedatangan orang-orang Jawa ke Jambi adalah untuk mencari pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik, maka otomatis mereka akan melakukan segenap upaya dalam bekerja. Sementara, orang-orang Jambi yang selama ini selalu terpenuhi kebutuhannya dari alam kurang tanggap mensiasati kondisi ini dan cenderung measih menggunakan cara-cara dan pikiran lama. Akibatnya, dapat ditebak dimana produktivitas kerjanya rendah jika dibandingkan dengan orang-orang Jawa yang memang motivasi awalnya mencari sumber kehidupan yang lebih baik.

Namun demikian, apakah semua orang Jambi demikian? Tentu tidak. Karena kalau diperhatian sangat banyak orang-orang Jambi yang memiliki produktivitas dan etos kerja yang tinggi dan tidak kalah dibandingkan saudaranya dari Jawa. Ada banyak pula orang-orang Jambi yang sukses dengan bekerja di perkebunan karet, mulai dari penyadap karet biasa hingga berubah menjadi pemilik kebun karet. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anggapan bahwa orang Jambi pemalas sangat tidak mendasar dan kalaupun ada maka hanyalah berupa kasuistik yang tidak dapat digeneralisasi. Meskipun demikian, optimalisasi dan peningkatan penyadaran akan urgensitas pendidikan di kalangan masyarakat Jambi selalu dan sangat diperlukan. Karena dengan pendidikanlah pola pikir masa lalu yang kurang dan tidak relevan dapat digantikan dengan cara pandang visioner dan lebih maju. Semoga…

Yogyakarta, Juli 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: