Memahami Kolonialisme, Evangelisme dan Orientalisme

Oleh: Pahrudin HM, MA

Pengantar

Sebagai makhluk sosial, relasi yang terjadi antara berbagai manusia dalam perjalanan sejarahnya tentu tidak dapat dihindari. Perkembangan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam keseharian manusia turut memberi andil besar bagi terjadinya relasi tersebut. Beragam tujuan dan motivasi juga turut mengiringi terjadinya relasi yang telah berlangsung lama dan berasal dari berbagai belahan dunia tersebut. Beragam ras manusia yang ada di belahan barat dapat melakukan relasi dengan manusia yang ada di bagian timur dunia, begitu juga sebaliknya.

Relasi antara manusia di berbagai belahan dunia tersebut ternyata tidak serta merta terjadi, akan tetapi melalui beragam tahapan dan menghadirkan beragam cara. Dalam konteks relasi yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Timur, maka akan ditemukan paling tidak tiga hal penting. Ketiga hal tersebut adalah kolonialisme, evangelisme dan orientalisme. Kolonialisme adalah kontak yang terjadi antara Barat dengan dunia Timur secara militer yang diawali keinginan pemenuhan bahan-bahan baku industri-industri, evangelisme berkaitan dengan motivasi agama yang keinginan menyebarluaskan ajaran yang mereka yakini (Kristen) kepada negeri koloni dan terakhir orientalisme yang bermotivasi ilmu pengetahuan untuk mengentahui segala hal yang berkaitan dengan negeri-negeri yang ada di Timur yang sebagian besar merupakan jajahan Barat.

Kolonialisme

Sebagai dampak dari terjadinya revolusi industri di Prancis dan Inggris pada akhir abad ke delapan belas dan kemudian menjalar ke hampir seluruh kawasan Eropa, terutama Eropa Barat, maka negara-negara yang kemudian dikenal sebagai negeri-negeri maju tersebut membutuhkan banyak bahan baku. Beragam produk yang diperlukan dalam industri-industri Eropa tersebut membutuhkan bahan-bahan baku yang seluruhnya mampu terpenuhi di dalam negeri sendiri. Untuk menyiasati kondisi ini maka beragam negara Eropa melakukan ekspansi ke kawasan dunia lainnya yang memang dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi sumberdaya alam yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri-industri mereka. Belahan dunia yang menjadi tujuan ekspansi Eropa tersebut adalah kawasan Timur jika dilihat dari perspektif Eropa.

Secara etimologi, kolonialisme berasal dari kata bahasa Latin colonia yang berarti tanah permukiman atau tanah jajahan. Sedangkan secara terminologi, kolonialisme dapat dipahami sebagai pengembangan kekuasaan yang dilakukan oleh sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya.[1] Di samping itu, kolonialisme juga dapat dimaknai sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh suatu negara tertentu untuk menanamkan bentuk-bentuk pemerintahan tertentu dan memberlakukan serta memaksakan kedaulatan di daerah-daerah jajahan.[2]

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pada awalnya kolonialisme dilakukan atas dasar keinginan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri atau karena motivasi ekonomi. Namun demikian, motivasi terus mengalami perkembangan dan pergeseran seiring dengan perkembangan zaman. Jika pada awalnya bermotivasi bahan baku, maka perlahan-lahan Barat yang melakukan upaya memiliki tujuan lain, yaitu untuk mencari tenaga kerja. Sebagaimana diketahui bahwa dunia Timur memang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar untuk dapat dipekerjakan di berbagai industri yang memproduksi beragam kebutuhan tersebut. Tujuan ini pun di kemudian hari mengalami perkembangan atau perluasan karena selanjutnya mengemuka tujuan lain upaya kolonisasi Barat yang bermotivasi mencari pasar atau objek dari penjualan beragam produk yang dihasilkan oleh industri-industri yang ada di Barat.

Dengan kondisi semacam ini, maka Barat mendapatkan keuntungan yang sangat besar yang berimbas pada kian kuatnya negara-negara tersebut dalam percaturan dunia. Setelah secara ekonomi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, maka terjadi perkembangan dari faktor ekonomi menjadi motivasi militer untuk menguasai seluruh yang ada di negeri-negeri Timur. Dalam sejarah kemudian tercatat bahwa hampir seluruh kawasan yang ada di Timur menjadi wilayah jajahan atau koloni berbagai negara Eropa dan Amerika. Kawasan Afrika dengan aneka sumberdaya yang terkandung di dalamnya dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh Inggris, Prancis dan Italia. Kawasan Asia yang sejak dahulu dikenal dengan kekayaan alam dan kebudayaannya yang tak terhingga nilainya menjadi daerah-daerah jajahan Inggris, Belanda, Portugal dan sebagian kecil (kepulauan Filiphina) oleh Amerika Serikat. Sedangkan kawasan Pasifik dan Benua Amerika dikuasai oleh Inggris, Prancis, Portugal, Spanyol dan Amerika Serikat. Sementara Benua Afrika lebih didominasi oleh kekuatan Italia (terutama di Libya), Prancis (terutama kawasan Afrika Utara), Inggris (di Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Afrika bagian Selatan), Belanda (beberapa bagian Afrika Selatan) dan Portugal di beberapa bagian Afrika Barat dan pulau-pulau kecil sekitar Benua Afrika. Di berbagai negeri Timur yang menjadi daerah jajahan berbagai kekuatan Barat tersebut diciptakan koloni yang bertujuan untuk menguasai seluruh kekayaan alam yang dimilikinya untuk dimanfaatkan oleh negara yang menjadi penjajahnya. Negeri-negeri ini terus berada dalam kekuasaan para koloninya hingga mencapai kemerdekaannya pada akhir pertengahan abad ke sembilan belas. Kemerdekaan atau kebebasan yang diperoleh negeri-negeri jajahan di Timur dari kolonialisme Barat dapat dibagi menjadi dua.  Pertama, sepenuhnya merdeka dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya seperti yang mengemuka dengan Indonesia yang terbebas dari belenggu penjajahan Belanda dan negeri-negeri yang tidak sepenuhnya merdeka atau terbebas dalam aspek-aspek tertentu saja seperti yang mengemuka pada Australia. Negeri-negeri yang dikategorikan pada bagian kedua ini kemudian membentuk dalam wadah ‘persemakmuran’ yang memiliki kebebasan dalam mengatur kehidupan masyarakatnya tetapi masih berada dalam pengaruh negara penjajahnya. Model seperti ini dapat ditemukan seperti pada Australia, New Zealand, Papua Nugini, Hongkong (sebelum diserahkan kepada China) yang meskipun berdiri sebagai negara, tetapi masih berada dalam pengaruh Inggris dimana Ratu Inggris sebagai Kepala Negaranya.

Evangelisme

Sebagaimana diketahui bahwa semua negara yang melakukan upaya kolonisasi terhadap dunia Timur adalah negeri yang menganut ajaran agama Kristen dalam kehidupan masyarakatnya. Hal ini berimbas pada adanya upaya untuk mengajarkan apa yang mereka yakini kebenarannya kepada masyarakat yang ada negeri-negeri yang menjadi jajahannya. Menurut catatan Verkuyi, seorang pemikir Belanda, motivasi penyebaran Kristen kepada negeri-negeri jajahan turut mengiringi usaha kolonisasi yang dilakukan berbagai negara Barat ke berbagai belahan dunia tersebut.[3] Hal ini merupakan implementasi salah satu ajaran Kristen yang meminta segenap pemeluknya terus menyebarkan ajaran yang dibawa Yesus Kristen kepada segenap penduduk yang ada di planet bumi. Upaya ini diawali oleh Paus Nicolas V yang memberikan mandat kepada Portugal untuk melakukan penyebaran ajaran Kristen di luar Eropa pada tahun 1454. Mandat untuk melakukan monopoli penyebaran Kristen kepada negeri-negeri di dunia Timur yang diberikan oleh penguasa Katholik Roma tersebut dilakukan oleh Vasco da Gama, seorang pelaut ulung Portugal, dengan membawa dua orang misionaris dalam perjelajahan lautnya menuju India. Inilah upaya yang kemudian lebih dikenal sebagai evangelisme.

Secara etimologi, evangelisme berasal dari bahasa Latin ‘evangelium’ hadiah atau kabar baik.[4] Kata ini pada awalnya digunakan untuk menyebut hadiah yang diberikan kepada utusan yang telah menyampaikan berita, tetapi lambat laun dipergunakan untuk menyebut upaya mengajarkan agama Kristen kepada orang-orang yang tidak beragama ini. Sedangkan secara terminologi, evangelisme dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan oleh pemeluk Kristen untuk menyampaikan informasi tentang ajaran dan kepercayaan agama Kristen kepada orang lain yang tidak memiliki keyakinan itu atau usaha yang dilakukan untuk mengabarkan Injil (penginjilan) sebagai kitab suci yang berisi ajaran-ajaran agama Kristen kepada seluruh manusia.

Untuk menyebarkan ajaran Kristen yang telah berkembang pesat di Eropa, maka segenap pimpinan Kristen meminta para penguasa Eropa yang melakukan ekspansi ke berbagai kawasan di dunia Timur untuk turut pula menyebarkannya ke wilayah-wilayah tersebut. Maka jadilah para pelaku kolonialisme saling bekerjasama dalam menyebar-luaskan ajaran Yesus Kristus ke berbagai belahan dunia, terutama wilayah-wilayah yang menjadi jajahan aneka negara kolonial Barat tersebut.

Orientalisme

Jika relasi yang terjadi antara dunia Barat dengan dunia Timur pada bagian pertama lebih bersifat ekonomi serta militer, dan relasi yang kedua karena motivasi penyebaran agama Kristen, maka persentuhan ketiga adalah karena motivasi ilmu pengetahuan. Relasi pertama dan kedua yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Timur sangat terbatas pada hal-hal tertentu saja yang menjadi motivasi dilakukannya hal tersebut, maka relasi ketiga ini dilakukan untuk tujuan yang sangat luas, yaitu menyingkap beragam hal yang ada di dunia Timur. Inilah apa yang dikenal sebagai orientalisme atau studi atau pengkajian yang dilakukan terhadap segala aspek yang ada di dunia Timur.

Secara etimologi, orientalisme berasal dari kata ‘orient’ yang dalam Bahasa Inggris berarti ‘timur’. Pemahaman ‘timur’ di sini tentu dari sudut pandang atau perspketif orang-orang yang ada di bagian barat bumi, karena bagi orang-orang yang ada di bagian lainnya tidak melihat wilayah ini berada di timur, bisa utara dan selatan. Sedangkan secara terminologi, orientalisme dapat dimaknai sebagai pengkajian yang dilakukan terhadap peradaban yang ada dalam masyarakat Timur.[5] Dengan demikian, dapat dipahami bahwa orientalisme adalah kajian atau studi yang dilakukan untuk mengetahui dan mengungkap beragam hal yang ada dalam masyarakat dan peradaban yang ada di dunia Timur.

Sejarah pengkajian dunia Timur diawali setelah terjadinya Perang Salib I yang melibatkan kekuatan Eropa-Kristen dengan kekuatan Islam dibawah pimpinan Salahhuddin al-Ayyubi dalam memperebutkan penguasaan atas Palestina. Setelah itu, masyarakat Eropa mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui mengenai dunia Timur. Sebagai upaya mengetahui beragam rahasia yang menyelimuti dunia Timur tersebut, maka beberapa ilmuan dan pemikir Eropa berusaha melakukan kajian dan studi. Inilah awal mula adanya kajian yang dilakukan orang-orang Barat terhadap beragam hal yang ada di dunia Timur.

Dalam perkembangannya, beragam kritikan dialamatkan kepada kajian yang dilakukan Barat terhadap dunia Timur tersebut. Salah satu kritikus yang sangat menaruh perhatian besar terhadap hal ini adalah Edward Said. Dalam bukunya yang berjudul ‘orientalisme’ Edward Said memaparkan secara panjang lebar hakekat orientalisme itu, yang baginya secara keseluruhan tidak lebih dari alat penjajah bangsa-bangsa Barat atas bangsa-bangsa Timur khususnya Timur-Islam. Gugatan yang paling mendasar dari Said muncul dalam penolakannya terhadap istilah Orientalisme, atau ketimuran.[6] Menurutnya apa yang dikatakan Timur bukanlah sesuatu yang alami atau ada dengan sendirinya. Dalam istilah Said, Timur (Orient) adalah imaginative geography yang diciptakan secara sepihak oleh Barat. Kriteria Timur tidak pernah jelas secara kategoris, kalaupun ada sesuatu yang menjadikan Barat-Timur berbeda, hal itu juga merupakan hasil konstruksi sepihak masyarakat Barat. Persoalan metodologis kemudian muncul ketika imajinasi Barat tentang Timur ini dinyatakan sebagai temuan yang bersifat obyektif dan netral. Untuk itu Said menganggap kajian Orientalisme selalu berkedok ilmiah dengan mengatasnamakan diri pada ilmu.[7]

Dalam bukunya yang lain, Orientalism: Western Conceptions of The Orient, Edward Said mengatakan bahwa upaya-upaya penyelidikan yang dilakukan oleh kalangan orientalis telah melegitimasi negara-negara kolonial yang sebagian besarnya berasal dari Eropa untuk menjajah dan menancapkan kekuasaannya di dunia Timur.[8] Lebih lanjut, menurut Said, kemunculan orientalisme yang melakukan penyelidikan dunia Timur dilatarbelakangi oleh tiga hal yang selama ini seakan disembunyikan.[9] Yaitu: pertama seorang orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, atau meneliti tentang Timur yang mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan memahami kebudayaan-kebudayaan Timur, baik sebagai seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, maupun filolog. Kedua, orientalisme merupakan gaya berpikir yang mendasarkan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur dan hampir selalu Barat. Dan Ketiga adalah orientalisme merupakan institusi yang berbadan hukum yang dapat didiskusikan dan dianalisis untuk menghadapi dunia Timur, yang berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan, menggambarkan, mengajarkan tentang Timur dan sekaligus menguasainya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, membangun kembali sesuai keinginan Barat dan menguasai semua yang ada di Timur.

Namun demikian, apa yang dikemukakan mengenai kajian yang dilakukan terhadap dunia Timur oleh orang-orang Barat tidak selamanya memiliki dampak negatif atau buruk. Banyak kajian yang mereka lakukan justru turut memiliki andil yang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama bagi para pemikir Timur. Di samping itu, beragam metode kajian atau studi yang mereka gunakan dapat diadopsi atau digunakan oleh para pemikir dan ilmuan Timur untuk melakukan kajian yang serupa sebagai pembanding dan bahkan dapat digunakan untuk mengkaji peradaban Barat yang selama ini hanya menjadi subjek saja.


[1] ‘kolonialisme’ www.wikipedia indonesia.com. diakses tanggal 13 Februari 2010.

[2] J. Verkuyi, Ketegangan Antara Imperialisme dan Kolonialisme Barat dan Zending Pada Masa Politik Kolonial Etis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), hlm. 13.

[3] Ibid,- hlm. 15.

[4] ‘Evangelisme’ www.wikipedia indonesia.com. akses tanggal 13 Februari 2010.

[5] Adnan M. Wizan, Akar Gerakan Orientalisme; Dari Perang Fisik Menuju Perang Fikir, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Utama, 2003), hlm. 1.

[6] Edward W Said, Orientalisme, (Bandung: Pustaka, 2003), hlm. 64-65.

[7] Ibid,- hlm. 11-20.

[8] Richard King, ‘Orientalism and Indian Religions’, dalam Richard King Orientalism and Religion; Postcolonial Theory, India and ‘The Mistic East’, (London & New York: Routledge,1999), hlm. 82.

[9] Ibid,- hlm. 82-83.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: