Film ‘Perempuan Berkalung Surban’ dan Sosiologi Sastra

Oleh: Pahrudin HM, MA.

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui bahwa lembaga pendidikan adalah tempat terjadinya interaksi antara murid dengan pengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Ada banyak lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah dunia yang memiliki fungsi utamanya untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Dalam sejarah modern tentu kita sudah sangat familier dengan beragam lembaga pendidikan dengan fungsi utama di atas, dari level terbawah yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkatan teratas dalam hirarkinya, yaitu perguruan tinggi. Masing-masing level tersebut memiliki karakteristik dan corak yang berbeda, TK merupakan gerbang pertama interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan pengajar dan satu tingkatan dapat menjadi lanjutan dari tngkatan sebelumnya, yaitu Sekolah Dasar (SD) merupakan lanjutan dari TK. Begitu juga dengan Sekolah Menengah, baik Pertama maupun Atas, yang merupakan lanjutan dari SD dan SMP, baru kemudian dilanjutkan ke perguruan tinggi.

Demikianlah lembaga pendidikan modern umum yang biasa dikenal dalam proses pengajaran ilmu pengtahuan kepada peserta didiknya. Namun demikian, ternyata lembaga pendidikan tidaknya mengenal nama-nama sebagaimana di atas karena masih ada lembaga lainnya yang juga mempunyai fungsi serupa, yaitu pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada peserta didiknya (santri) yang dikelola oleh tokoh agama (kyai). Pesantren hanya dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Namun demikian, lembaga pendidikan model seperti ini ada di setiap komunitas Islam di berbagai tempat, akan tetapi menggunakan nama yang berbeda, seperti ‘dayah’ di Aceh dan lain sebagainya.

Secara historis, pesantren merupakan jenis pusat pendidikan kedua setelah masjid yang telah ada pada awal abad ke-16 Masehi seiring dengan upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo di Pulau Jawa.[1] Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren mempunyai beberapa karakteristik, yaitu pertama pengajaran dengan metode, struktur dan literatur tradisional. Hal ini berlaku pada pesantren yang mempunyai pendidikan  formal di sekolah atau madrasah dengan jenjang pendidikan yang bertingkat-tingkat, maupun dengan sistem halaqah, dan sorogan. Ciri utama dari pengajaran ini adalah penekanan terhadap pemahaman secara harfiah atas suatu kitab tertentu yang akan membuat rendahnya daya analisis para santri. Kedua Pemeliharaan terhadap nilai tertentu, atau yang biasa disebut dengan sub kultur pesantren. Tata nilai atau sub kultur dimaksud adalah penekanan kepada nilai ibadah terhadap setiap kegiatan yang dilakukan santri, termasuk taat dan memuliakan guru merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan agama yang hakiki.

Sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan kepada para peserta didiknya (santri) pesantren memiliki sumber pengetahuan yang sangat banyak. Sumber pengetahuan yang umumnya ada dan banyak terdapat dalam pesantren, terutama pesantren tradisional sebagai kebalikan pesantren modern, adalah kitab-kitab yang berisikan ajaran-ajaran agama yang menjadi acuan orang-orang yang ada dalam pesantren. Melalui penelaahan terhadap beragam literatur keagamaan yang biasanya dikenal dengan ‘kitab kuning’ ini terbentuk model pemikiran yang menjelma menjadi tradisi yang berlaku dan dilaksanakan oleh segenap komponen yang ada di lembaga pendidikan Islam tersebut.

Salah satu tema yang banyak mendapat perhatian dan sorotan dalam pesantren adalah pandangan tentang perempuan. Berdasarkan penelaahan komponen yang ada di pesantren, utamanya yang dilakukan para kyai yang dianggap memiliki otoritas pengambil keputusan hukum, maka berlaku pandangan mengenai eksistensi perempuan. Dalam pandangan yang berlaku di beberapa pesantren, perempuan adalah makhluk Tuhan yang berada pada posisi di bawah laki-laki atau dalam bahasa lain, perempuan berkedudukan tidak setara dengan laki-laki. Akibat dari anggapan umum ini, beragam perlakuan turunannya juga memperlihatkan ketidaksetaraan tersebut, seperti persoalan kepemimpinan, beberapa pekerjaan yang hanya dikhususkan untuk laki-laki, hubungan suami istri dan menuntut ilmu. Satu sisi sumber yang dijadikan rujukan untuk menentukan sikap dan pandangan mengenai perempuan merupakan bahan yang sudah diakui keabsahannya, seperti al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dampak yang ditimbulkan adanya pandangan tersebut ternyata terjadi kebalikannya. Ketidakberdayaan dan ketergantungan serta keterpurukan perempuan terus terjadi akibat pemikiran yang menempatkan posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki.

Inilah yang menjadi setting sebuah film yang disutradarai oleh Hanung Bramantio yang berjudul ‘Perempuan Berkalung Surban’ atau selanjutnya disingkat ‘PBS’. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Abidah al-Khalieqy. Film ini menceritakan perjuangan yang dilakukan seorang ‘feminis’ bernama Annisa dalam usahanya keluar dari kungkungan ‘tradisi’ pesantren yang dianggapnya tidak berpihak dengan perempuan. Pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh para pengajarnya di kelas memperlihatkan ketidak-berpihakan terhadap perempuan menggunakan kitab-kitab kuning sebagai sumber rujukannya. Namun bagaimana sesungguhnya gambaran perempuan yang ada dalam tradisi pesantren tradisional atau bagaimanakah pandangan pesantren tradisional dalam melihat eksistensi perempuan.

B. Sosiologi Sastra

Sebagaimana diketahui bahwa sastra tidak lahir dalam kehampaan, akan tetapi ia hadir di tengah-tengah pembaca melalui pergulatan dengan banyak hal yang ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, tidak mengherankan jika salah satu perspektif dalam analisis sastra mengatakan bahwa sastra adalah cerminanan masyarakat tempat dimana sastra tersebut dilahirkan atau diciptakan. Demikian pula dengan salah satu model analisis sastra yang bernama sosiologi sastra.

Sosiologi sastra dapat didefinisikan sebagai cabang penelitian yang digunakan untuk mengkaji sastra yang bersifat reflektif.[1] Model penelitian ini lahir dari adanya perspektif yang memandang bahwa karya sastra merupakan manifestasi dari kondisi yang ada dalam masyarakat. Di samping itu sosiologi sastra juga dapat dimaknai sebagai model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra yang memfokuskan kajiannya pada masalah manusia.[2] Hal ini karena karya sastra yang dihadirkan para sastrawan mengetengahkan perjuangan manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi yang dimilikinya. Sosiologi sastra juga dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk mengkaji karya sastra dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan yang dihadirkan oleh penulisnya.[3] Dari paparan ini dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra adalah model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra untuk melihat sisi-sisi sosiologis yang ada dan terkandung di dalamnya.

F. Analisis Sosiologi Sastra Terhadap Film ‘Perempuan Berkalung Sorban’

Ada banyak pakar sastra yang mengetengahkan beragam model kajian terhadap karya sastra menggunakan sosiologi sastra. Akan tetapi, untuk keperluan kajian analisis terhadap film PBS ini, penulis menggunakan model kajian sosiologi sastra yang dipaparkan oleh Ian Watt. Hal ini karena menurut pandangan penulis, apa yang dikemukakan Watt mengenai metode kajian sastra perspektif sosiologi sastra lebih komprehensif dalam melihat konteks sosial yang tercermin dalam karya sastra tersebut.

Menurut salah satu teoritisi sastra kawakan ini, terdapat empat aspek yang harus dipelajari untuk mengkaji karya sastra dalam sosiologi sastra. Keempat aspek kajian tersebut adalah konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, genre sastra merupakan sikap kelompok tertentu, dan sastra menampilkan keadaan masyarakat secara menyeluruh.[4] Keempat hal ini harus dipelajari oleh seseorang yang mengkaji sebuah karya sastra menggunakan model analisis yang biasa dikenal dalam khazanah penelitian sastra dengan sosiologi sastra.

Selanjutnya, mari satu persatu keempat aspek kajian tersebut di atas diterapkan terhadap film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya seorang novelis Abidah el-Khalieqy ini.

1. Konteks Sosial Pengarang.

Karena film karya Hanung Baramantio ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Abidah el-Khalieqy, maka menurut penulis kajian yang dilakukan terhadapnya adalah segala hal yang berkaitan dengan novel yang merupakan adaptasinya. Untuk mengetengahkan konteks sosial pengarang, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, profesionalitas kepengarangan, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang tersebut.

Sebagai seorang sastrawati yang kelak menelorkan banyak karya sastra yang cukup berpengaruh di tanah air, Abidah sudah mengawali persinggungannya dengan dunia tulis menulis sejak masih bersekolah (nyantri) di Pesantren Bangil, Jawa Timur, yang ditamatkannya pada tahun 1984. Ternyata prestasinya di bidang sastra memang sudah terasah sejak masih nyantri di salah satu pesantren modern tersebut yang terbukti dengan kesuksesannya meraih beragam penghargaan, seperti Juara Penulisan Tsanawiyah Pesantren tahun 1982 dan Juara Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa tahun 1984.[5]

Persinggungan sastrawati kelahiran 1 Maret 1965 ini dengan dunia sastra kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan beragam forum sastra, seperti Teater Eska, ketika menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi. Hal ini terbukti dengan kesuksesannya mendapat penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Yogyakarta tahun 1998, pemenang Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003, dan memperoleh IKAPI dan Balai Bahasa Award tahun 2008. Begitu juga dengan beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya setelah berkuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri Yogyakarta yang makin banyak dan beragam. Di antara karya sastra yang ditelorkannya adalah puisi ‘Ibuku Laut Berkobar’ (1997), cerita pendek ‘Menari di Atas Gunting’ (2001), novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ (2001), novel ‘Atas Singgasana’ (2002), novel ‘Geni Jora’ (2004 dan lain sebagainya.[6]

Di samping itu, aktivitas kesehariannya Abidah juga tidak jauh dari dunia sastra yang memang telah lama digelutinya sekaligus yang telah membesarkan namanya. Di samping menulis beragam karya sastra, sastrawati kelahiran Jombang ini juga terlibat dan berperan aktif dalam beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra, seperti Pendidikan Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta dan  Apresiasi Sastra Keliling Indonesia pada Yayasan Indonesia dan Ford Fondation. Di samping itu, Abidah juga secara rutin menjadi sumber dalam beragam forum kajian sastra, seperti Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara, Sastra dan Agama di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, dan Jakarta International Literary Festival serta lain sebagainya.[7]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keseharian Abidah memang selalu bergelut dengan dunia sastra dan ia menghabiskan waktu dengan berkutat dengan dunia yang telah membesarkan namanya ini. Kesehariannya memang sepenuhnya berprofesi sebagai sastrawati yang senantiasa berusaha menelorkan beragam karya sastra. Profesionalitas kepengarangannya memang tidak diragukan lagi, meskipun latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuhnya bukanlah sastra karena ia seorang sarjana hukum Islam, tetapi beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya membuatnya layak disejajarkan dengan banyak sastrawan Indonesia lainnya. Dalam menelorkan karya sastranya, tidak jarang Abidah melakukan kajian dan penelaahan lapangan mengenai tema yang akan ia angkat. Sebagai contoh, untuk menghasilkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang kemudian diadaptasikan dalam bentuk film, Abidah melakukan penelaahan lapangan yang cukup lama di beberapa pesantren tradisional di Magelang dan berdiskusi dengan beragam pihak yang selama ini berkecimpung dengan tema-tema perempuan yang menjadi titik sentral novel ini.

Jika menilik beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya, baik yang berupa puisi dan cerita pendek maupun novel, maka akan terlihat sasaran yang dituju. Karya-karya sastra Abidah merupakan upaya yang dilakukannya untuk memperjuangkan perempuan agar mendapatkan hak-hak yang sepatutnya mereka peroleh. Puisi berjudul ‘Ibuku Laut Berkobar’ dan cerita pendek ‘Menari di atas Gunting’ misalnya, merupakan pandangan Abidah mengenai aspek historis perempuan yang dikaitkannya dengan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Begitu juga dengan novel ‘Atas Singgasana’ yang merupakan implementasi perjuangan Abidah untuk mengentaskan status dan posisi perempuan dari belenggu tradisi patriarkhal dalam ruang domestik maupun publik. Tujuan yang sama juga terdapat dalam novelnya ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang diadaptasikan seorang sutradara muda kawakan Hanung Baramantio menjadi film dengan judul yang sama merupakan upaya Abidah untuk mengkritik pandangan yang ada dalam sebuah pesantren tradisional mengenai perempuan.

2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sebuah karya sastra tidak hadir dalam kehampaan ke tengah-tengah para pembaca, tetapi ia berkaitan dengan lingkungan dan budaya yang menjadi tempat kelahirannya. Berkaitan dengan hal ini, pengarang ingin menampilkan realitas yang ada dan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra.

Dalam konteks ini, melalui novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ Abidah ingin menampilkan ke hadapan penikmat karya sastra sebuah realitas mengenai perempuan yang terjadi di sebuah pesantren tradisional (salaf). Dalam tradisi yang telah berlangsung lama dan dijadikan pegangan secara turun temurun di pesantren tradisional, perempuan adalah makhluk yang berbeda dengan laki-laki. Apa yang dapat dilakukan laki-laki tidak dapat dikerjakan oleh perempuan karena keduanya memang dipisahkan oleh banyak hal. Sebagai contoh, Annisa sebagai tokoh sentral dalam novel dan film ini selalu tidak diperbolehkan bermain dan menaiki kuda sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara dan teman-teman laki-lakinya karena posisinya sebagai perempuan. Begitu juga ketika Annisa hendak melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta, ternyata orang tuanya (ayahnya yang seorang kyai pesantren) tidak mengizinkannya karena perempuan harus selalu didampingi muhrimnya agar tidak timbul fitnah di tengah-tengah masyarakat. Hal yang sama juga terjadi dalam konteks kepemimpinan, dimana ketika secara demokratis Annisa telah dipilih dengan suara terbanyak oleh teman-teman kelas dan mengungguli kandidat lainnya. Akan tetapi, karena dalam kepercayaan tradisi pesantren yang dianut bahwa perempuan tidak diperkenankan menjadi pemimpin, maka ia ‘dipaksa’ untuk melepaskan haknya dan menyerahkannya kepada kandidat lainnya yang seorang laki-laki.

Inilah beberapa hal yang ditampilkan oleh Abidah dalam novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai eksistensi perempuan dalam pesantren tradisional. Gambaran ini merupakan realitas yang terjadi dan mengemuka di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam konteks ini adalah pesantren tradisional, yang dipantulkan oleh Abidah dalam karya sastranya tersebut. Perempuan dalam tradisi yang menjadi anutan pesantren tradisional berada di bawah laki-laki dan hanya berperan pada wilayah domestik, seperti rumah tangga, saja sedangkan laki-laki mengambil peranan di wilayah publik yang dapat melakukan apa saja.

3. Genre Sastra Adalah Sikap Kelompok Tertentu.

Sebuah karya sastra hadir ke hadapan para penikmatnya tentu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa kehadiran sebuah karya sastra memiliki latarbelakang dan membawa misi-misi tertentu yang berkaitan dengan pengarang atau penciptanya.

Dalam konteks ‘Perempuan Berkalung Sorban’, gambaran mengenai perempuan dalam pesantren tradisional yang coba dihadirkan oleh Abidah merupakan upaya untuk menyuarakan tujuannya. Annisa yang menjadi tokoh sentral dan mendominasi perjalanan ceritanya dihadirkan oleh Abidah untuk mengkritik atau membongkar pemahaman keliru mengenai perempuan yang selama ini menjadi pegangan para kyai dan penyelenggara pendidikan di pesantren tradisional. Sebagaimana diketahui bahwa Abidah merupakan sosok sastrawati feminis yang terus berupaya memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus juga berusaha merevisi pemahaman terhadap dalil-dalil agama (Islam) yang dianggap keliru dalam memandang perempuan.

Salah satu adegan yang ditampilkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah penentangan Annisa terhadap orang tuanya yang melarangnya berkuda sebagaimana yang dilakukan teman-teman laki-lakinya. Menurut Annisa, sebagai manusia layaknya teman-teman laki-lakinya ia juga mempunyai hak yang sama untuk melakukan pekerjaan yang disukainya, dalam konteks ini berkuda. Akan tetapi hal ini tidak diperkenankan oleh orang tuanya, terutama ayahnya, karena ia perempuan yang dianggap tidak pantas untuk melakukan hal itu. Larangan ayahnya ini dibantah oleh Annisa dengan mengatakan bahwa Aisyah (isteri Nabi Muhammad SAW) ternyata juga menunggang kuda, bahkan memimpin pasukan perang yang di dalamnya banyak terdapat sahabat Nabi yang laki-laki.

Persoalan mengenai pelarangan naik kuda yang diperlihatkan di atas sesungguhnya mengacu pada peran yang dilakoni oleh laki-laki dan perempuan yang memang senantiasa menghiasi perbincangan dalam Islam. Satu pihak menganggap bahwa perempuan hanya terbatas berperan di wilayah domestik yang hanya mencakup persoalan rumah tangga, sedangkan laki-laki berperan di wilayah publik yang mencakup segala hal yang ada dalam kehidupan. Pengetengahan gambaran ini dilakukan Abidah untuk mengkritik pemahaman yang membatasi peran yang dilakoni oleh perempuan yang sangat terbatas itu. Beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai laki-laki dan perempuan memperlihatkan bahwa kedua makhluk Tuhan ini memiliki hak yang sama dan tidak ada pembedaan antara keduanya.[8] Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat an-Naml ayat 20-44 yang menceritakan tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang memimpin sebuah kerajaan di Saba’, Yaman. Begitu juga dalam Surat al-Qashash ayat 23 yang mengetengahkan cerita mengenai pertemuan Nabi Musa dengan dua putri Nabi Syu’aib yang menunggu giliran menimba air dan memelihara ternak. Hal yang sama juga diperlihatkan dalam Surat at-Taubah ayat 71 yang menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam saling tolong menolong, pimpin memimpin dan bahu membahu dalam melaksanakan menyeru kebaikan dan melarang kejahatan.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah ‘keharusan’ Annisa melepaskan haknya menjadi pemimpin kelas. Dalam film ini diceritakan bahwa suatu hari di sekolah Annisa diadakan pemilihan ketua kelas yang diikuti oleh beberapa orang kandidat. Setelah diadakan pemilihan yang melibatkan teman-teman kelasnya, maka muncullah nama Annisa sebagai peraih suara terbanyak yang seharusnya membuatnya secara otomatis menjadi ketua kelas. Akan tetapi, karena statusnya yang perempuan maka hak ini harus ia lepaskan karena menurut gurunya, perempuan bukanlah pemimpin.

Gambaran ini diperlihatkan oleh Abidah sebagai kritikannya terhadap anggapan yang banyak beredar dan diyakini oleh banyak kalangan, khususnya dalam konteks ini para pengelola pesantren tradisional, bahwa kepemimpinan dalam setiap levelnya merupakan hak laki-laki. Jika dirunut, keyakinan seperti ini mengemuka atas pemahaman terhadap Surat An-Nisa’ ayat 34 yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkann sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”.

Jika memperhatikan sebab turunnya ayat ini, maka yang dimaksudkannya hanyalah dalam konteks rumah tangga dimana laki-laki dinobatkan sebagai pemimpin karena kapasitasnya sebagai penanggung nafkah bagi istri dan anak-anaknya.[9] Akan tetapi, dalam konteks kepemimpinan secara umum maka dapat dijumpai dalam Surat al-Maidah ayat 55 dan Surat an-Nisa’ ayat 59. Dalam kedua ayat ini, Allah menyatakan bahwa penolong (pemimpin) kaum muslim itu adalah Allah, Rasul dan Ulil Amri. Kriteria Ulil Amri yang dapat dijadikan pemimpin adalah beriman kepada Allah, mendirikan salat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, siapa pun (laki-laki dan perempuan) dapat dipilih menjadi pemimpin dan dapat menjadi pemimpin sepanjang memenuhi kriteria. Meskipun ayat di atas menggunakan kata yang berbentuk mudzakkar atau maskulin (alladzīna āmanū), namun demikian para mufassir sepakat bahwa yang dimaksudkannya adalah orang-orang mukmin yang laki-laki dan perempuan sebagaimana juga pada perintah Allah untuk melaksanakan puasa.[10]

Gambaran mengenai perempuan yang diperlihatkan oleh Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah mengenai hak untuk menuntut ilmu. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di pesantren, Annisa berkeinginan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Akan tetapi keinginan ini mendapatkan tentangan keras dari ayahnya karena ia seorang perempuan yang harus ditemani oleh muhrimnya agar menimbulkan fitnah, meskipun Annisa mengkritik ayahnya yang mempersilahkan saudara-saudara laki-lakinya untuk menempuh pendidikan ke mana saja mereka kehendaki, bahkan ke luar negeri seperti kakak pertamanya Wildan.

Anggapan ini merupakan pemahaman bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah sehingga harus ditemani kemana saja ia pergi. Di samping itu, anggapan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa perempuan itu menjadi sumber banyak kerusakan yang terjadi di masyarakat. Padahal dalam sejarah tercatat dengan tinta emas perjuangan yang dilakukan oleh beragam pahlawan perempuan, seperti Aisyah dan Cut Nyak Dien, yang dengan gagah berani memperjuangkan keyakinan dan haknya. Ini memperlihatkan bahwa kelemahan fisik bukanlah selalu disematkan kepada perempuan, karena sesungguhnya ada perempuan yang kuat dan sebaliknya ada juga laki-laki yang lemah. Kaitannya dengan sumber kerusakan sesungguhnya bukanlan selalu didominasi oleh perempuan, karena dalam banyak hal laki-laki pun dapat menjadi sumber dari terjadinya sebuah kerusakan.

Adegan lainnya yang diperlihatkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai perempuan dalam pesantren tradisional perlakuan semena-mena suami terhadap istrinya. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menikah dengan Udin karena perjodohan dari orang tuanya, Annisa tinggal di ruang sendiri dengan suaminya yang keluarganya ternyata telah banyak membantu pembiayaan pesantren. Dari sini mulailah beragam perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya. Hal ini terutama dalam konteks hubungan suami istri, dimana suaminya memperlakukannya secara kasar dan seenaknya saja karena beranggapan bahwa seorang istri harus mengikuti apa pun kemauan suaminya. Bagi Udin, berdasarkan pemahamannya terhadap dalil-dalil agama yang diajarkan orang tuanya yang juga seorang pengasuh pesantren, seorang istri harus selalu patuh dan mengikuti apa pun kemauan suaminya. Jika tidak atau istri membangkang maka Allah tidak menyukainya bahkan melaknat istri yang berbuat demikian.

Pemahaman merupakan tafsiran atas sebuah hadis yang menyatakan bahwa seorang istri harus selalu bersedia melayani suaminya. Jika tidak melakukannya, maka Allah akan melaknat istri tersebut hingga subuh datang menjelang. Akan tetapi, gambaran ini diperlihatkan Abidah sebagai kritikannya atas pemahaman yang keliru tersebut. Ada sesuatu yang dilupakan oleh Udin, dan para suami lain semacamnya, bahwa ketaatan yang dilakukan istri terhadap suaminya dan ketaatan seluruh muslim lainnya tentu dalam konteks kebaikan sehingga tidak bisa digeneralisasi kepada semuanya. Lihatlah tuntutan Udin yang meminta Annisa melayaninya padahal saat itu telah masuk waktu salat yang jelas-jelas menjadi perintah Allah yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslim.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan Abidah untuk mengemukakan pandangannya mengenai perempuan adalah mengenai poligami. Dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ diceritakan bahwa setelah cukup lama hidup berumah tangga dengan Udin, Annisa kedatangan tamu seorang perempuan yang meminta suaminya untuk bertanggung jawab karena ia telah dihamili. Setelah berembuk dengan keluarganya, akhirnya Udin melakukan poligami dengan menjadikan Annisa dan perempuan tersebut istrinya secara bersama-sama.

Dari gambaran ini Abidah hendak memperlihatkan bahwa begitu mudahnya laki-laki dalam tradisi pesantren tradisional untuk melakukan poligami atau beristri lebih dari satu. Hal ini berdasarkan pemahaman atas Surat An-Nisa’ ayat 3 yang menyatakan: “… Maka nikahilah perempuan yang kau kehendaki dua, tiga dan empat orang …”. Firman Allah ini dipahami seenaknya oleh laki-laki yang dalam konteks ini oleh Udin karena beranggapan bahwa hal itu memang diperintahkan oleh Allah. Padahal sesungguhnya untuk melakukan poligami tidaklah semudah itu karena harus memenuhi syarat-syarat yang sangat ketat, terutama harus mampu bersikap adil. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Udin kepada istri-istrinya sangat jauh dari ketentuan itu karena dalam film tersebut diungkapkan bahwa ia hanya menafkahi istri mudanya saja, sementara Annisa tidak.

Terakhir, gambaran yang diperlihatkan Abidah untuk mengungkapkan pandangannya yang ia yakini adalah upaya ‘memperbaiki’ model pemikiran yang berkembang di pesantren yang dianggap tidak sejalan. Dalm film tersebut diceritakan bagaimana usaha Annisa yang terus berupaya memasukkan beragam literatur ‘asing’ ke dalam pesantren agar dapat dibaca oleh para santri. Buku-buku yang dianggap ‘haram’ oleh pesantren terus disebarkan Annisa kepada para santri agar mereka mempunyai pemikiran yang terbuka dan tidak selalu berkutat dengan apa yang diajarkan selama ini. Meskipun pada awalnya mendapat penentangan yang keras dari banyak kalangan di pesantren, bahkan oleh kakaknya sendiri sebagai pemimpin sepeninggal ayahnya, hingga buku-bukunya dibakar oleh para penentangnya, tetapi usaha Annisa berbuah manis dengan berdirinya perpustakaan di pesantren tersebut.

Dari gambaran yang diperlihatkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ ini Abidah hendak mengatakan bahwa perjuangan dan upaya untuk memperbaiki ‘tradisi’ pemikiran yang ada di pesantren harus senantiasa dilakukan. Tradisi pemikiran yang jelas-jelas membelenggu kreativitas santri dengan mengatasnamakan agama harus diganti dengan model pemikiran yang berujung pada kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh para santri. Di samping itu, Abidah juga hendak mengatakan bahwa ilmu pengatahuan itu tidak terbatas pada pengajaran-pengajaran kegamaan saja, tetapi mencakup seluruh aspek yang ada bahkan dapat bersumber dari hal-hal yang selama ini dianggap sesat sekali pun. Ini diperlihatkan dengan upaya yang dilakukan Annisa yang memasukkan buku-buku karya Pramudya Ananta Toer yang selama ini dianggap sesat dan kiri untuk dibaca oleh para santri dan kemudian banyak menghiasi rak-rak buku perpustakaan yang akhirnya diizinkan berdiri di pesantren tersebut.

4. Sastra Menampilkan Keadaan Masyarakat Mendetail

Layaknya kehidupan yang dilakoni seorang anak manusia, film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ menghadirkan setiap aspek kehidupan masyarakat ke hadapan para penikmat sastra. Mulai dari masa kecil tokoh sentralnya, keluarga dengan segala dinamikanya, pernikahan lengkap dengan hubungan suami isteri yang dilaluinya, pendidikannya, pekerjaannya hingga upaya-upayanya mewujudkan cita-cita dan pemikirannya. Film ini menceritakan ‘pemberontakan’ terhadap tradisi dan perjuangan yang dilakukan seorang gadis bernama Annisa di sebuah pesantren tradisional yang menganggap perempuan berada dalam posisi tidak sejajar dengan laki-laki.

Ceritanya diawali dengan masa kecil Annisa bersama ayah, ibu dan kedua kakak laki-lakinya di sebuah pesantren yang dikelola oleh ayahnya. Salah satu kesukaannya yang ditentang oleh ayahnya adalah naik kuda di pinggir pantai dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Khudori. Dari sini mulai terjadi konflik dengan ayahnya yang terus memaksakan pemikiran yang menurut Annisa tidak dapat diterima, seperti pelarangan naik kuda karena ia perempuan, ketidaksetujuan ayahnya untuk kuliah di Yogyakarta karena ia tidak ditemani oleh muhrimnya. Konflik Annisa juga terjadi dengan guru-gurunya karena ia menganggap mereka mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat ia terima, seperti keharusannya melepaskan haknya menjadi ketua kelas hanya karena ia perempuan yang dianggap bukanlah pemimpin.

Ada cerita mengenai kehidupan rumah tangganya setelah ia dipaksa menerima perjodohan orang tuanya dengan seorang laki-laki bernama Udin, anak seorang kaya yang telah banyak membantu ayahnya dalam membiayai pesantren. Kehidupan rumah tangganya penuh dengan konflik akibat perlakuan kasar suaminya, terutama ketika diajak berhubungan suami istri. Cerita berlanjut dengan kedatangan seorang perempuan yang meminta pertanggung jawaban suaminya karena telah menghamilinya. Atas dasar pemahaman ajaran agama yang keliru, maka kehidupan rumah tangganya dilalui dengan jalan poligami yang semakin membuatnya tersiksa. Akhirnya, Khudori yang selama ini merupakan sosok yang dapat mengerti akan perasaannya kembali hadir setelah menamatkan studinya di Mesir. Karena ingin mengakhiri kehidupan rumah tangganya yang berantakan, maka Annisa mengadakan pertemuan dengan Khudori di sebuah kandang sapi yang berujung pada penggerebekan yang dilakukan suaminya. Ia dianggap telah menyeleweng dan berselingkuh dengan Khudori sehingga diarak ke pesantren serta dilempari batu hingga membuat ayahnya yang mengidap penyakit jantung meninggal dunia karena shok.

Cerita berlanjut dengan perceraian Annisa dengan suaminya dan ia melanjutkan studinya yang sempat tertunda beberapa tahun ke Yogyakarta. Di kota budaya ini ia melihat banyak perubahan yang dialami oleh teman-temannya semasa di pesantren dulu, seperti pergaulan bebas dan lain sebagainya. Di samping kuliah, di kota pendidikan ini Annisa juga bekerja sebagai salah seorang konselor di sebuah lembaga yang membantu persoalan-persoalan yang dialami perempuan. Dari tempatnya bekerja inilah ia banyak menemukan wawasan dan pengetahuan seputar perempuan dan cara memberi pencerahan serta memberdayakannya. Di kota ini pula ia kembali bertemu dengan Khudori dan keduanya melangsungkan pernikahan.

Tekad Annisa untuk berupaya merubah pemikiran yang berkembang di pesantren yang telah dikelola oleh kakak tertuanya, Wildan, terus menggebu. Upaya ini mendapat dukungan yang besar dari suaminya, Khudori, yang kemudian menemui ajalnya karena kecelakaan dan ditabrak oleh mobil dalam perjalanannya membeli tiket bagi kepulangan mereka ke Yogyakarta. Untuk mewujufkan cita-citanya memperbaiki pemikiran di pesantren, Annisa berusaha memasukkan buku-buku yang diharapkan menjadi bahan bacaan bagi para santri. Pada awalnya upaya ini mendapat penentangan keras dari segenap pengelola pesantren karena dianggap menyebarkan pemikiran sesat kepada para santri hingga buku-bukunya sempat dibakar. Akan tetapi di akhir cerita, upaya ini berbuah manis dengan hadirnya perpustakaan yang memuat beragam literatur yang dapat dibaca oleh para santri.

Inilah gambaran keadaan masyarakat yang ditampilkan oleh Abidah dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Dalam film ini, Abidah mengetengahkan gambaran tentang kehidupan seorang perempuan dalam upayanya memperjuangkan hak-haknya sekaligus juga memperbaiki beragam anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat mengenai perempuan.

Namun demikian, gambaran tentang pesantren dalam memperlakukan perempuan tentu tidak semuanya seperti yang diperlihatkan ‘Abidah dalam novel ini. Ada banyak pesantren yang kini justru sangat jauh dari bias gender dan sangat memahami keberadaan perempuan. Gambaran yang dikemukakan ‘Abidah bukanlah mewakili gambaran pesantren dalam memperlakukan perempuan secara keseluruhan. Namun demikian, gambaran ini perlu mendapat apresiasi dan perhatian karena ternyata ada penyimpangan dalam pesantren dalam memperlakukan perempuan dengan dalih agama yang sesungguhnya seringkali digunakan secara tidak utuh (parsial).


[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 77

[2] Ibid,- hlm. 79

[3] Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Metodologi Penelitian Sastra, Jabrohim (ed.), (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001), hlm. 169. Atau dapat pula ditemukan dalam: Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Teori Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, 1994), hlm. 223.

[4] Ekarini Saraswati, Sosiologi Sastra, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2003), hlm. 11-12.

[5] Biodata Abidah dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[6] Ibid,-

[7] Lebih lanjut mengenai informasi tentang sastrawati Indonesia yang satu ini dapat dilihat dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[8] Yunahar Ilyas, ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ke-3, Januari 2002, hlm. 64.

[9] Ibid,- hlm. 69.

[10] Ibid,- hlm. 67-68


[1] Juwariyah, Ciri-Ciri Pendidikan Islam Tradisionil, http://uin-suka.info/ejurnal

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Apriansyah Bintang  On 24 Agustus 2011 at 6:34 am

    Film itu pesenan kaum Sekularisme Pluralise dan Liberalisme (SEPILIS). Terbukti dari sangat bias dari sejarah pesantren yang sebenarnya. Sangat apologetik sekali, intinya mereka ngos-ngosan cari cara ngerusak Islam, yah salah satunya dengan cara film ini.
    Yang bodoh umat Islam yang tidak jeli dan malah happy menontonnya. kasian….

    • Pahrudin HM  On 25 Agustus 2011 at 6:05 am

      Boleh-boleh saja menilai berdasarkan perspektif masing-masing… Akan tetapi yang juga perlu dipahami adalah ‘sesuatu’ yang diangkat dalam film tersebut adalah realitas yang memang terjadi di dunia pesantren, walaupun saya yakin hanya sebagian kecilnya saja, bahkan hanya segelintir saja… Menurut saya, alangkah lebih baiknya ini dijadikan introspeksi diri bagi siapapun dan tidak lantas mendongakkan kepala menafikan sesuatu yang bisa jadi ada di depan kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: