Mengenal Teori ‘Penis-Envy’ Freud

Oleh: Pahrudin HM, M.A.
Terdapat banyak alasan yang dikemukakan untuk menguatkan ‘keniscayaan’ dominasi laki-laki atas perempuan dalam kehidupan dunia ini. Alasan-alasan tersebut dimunculkan dalam beragam format dan dimensi, baik berupa budaya yang lazim disebut ‘patriarkhi’ yang dikatakan para feminis sebagai faktor utama keterbelakangan perempuan, anggapan-anggapan ‘miring’  tentang perempuan seperti makhluk yang lemah dan lain sebagainya serta berupa teori yang dikatakan dihasilkan dari sebuah proses penelaahan ilmiah. Salah satu teori yang dianggap sebagai salah satu penguat superioritas laki-laki atas ‘imperioritas’ perempuan adalah teori ‘penis-envy’.

Teori ‘penis-envy’ dikemukakan oleh Sigmund Freud (1856-1939), seorang ilmuan sosial asal Jerman dalam psikoanalisisnya. Menurut analisis Freud, ‘penis-envy’ atau kecemburuan penis ini terjadi ketika anak perempuan mengalami perubahan objek cinta dari ibu sebagai yang pertama menjadi kepada ayahnya dan kemudian kepada orang yang bercirikan sama dengan ayahnya. Transisi ini terjadi ketika anak perempuan menyadari bahwa ia tidak memiliki penis yang secara jelas terlihat, menonjol dan besar layaknya saudara laki-laki atau teman bermainnya. Segera saja anak perempuan memperbandingkan dengan organ seksnya yang kecil dan tersembunyi (klitoris) serta imperior jika dibandingkan penis yang superior. Hal ini terus berlanjut sampai perempuan dewasa sehingga Freud berkesimpulan bahwa perempuan itu diciptakan karena kecemburuan terhadap penis (penis-envy) yang dimiliki oleh laki-laki yang semakin menguatkan posisi dan perannya terhadap masyarakat, khususnya perempuan.
Teori ini mendapat tanggapan yang luas di kalangan para pemikir, khususnya kalangan feminis. Di Amerika Serikat, analisis Freud ini direduksi hanya menyangkut organ biologis saja dimana perempuan tidak memiliki penis layaknya laki-laki sehingga memandang perempuan secara negatif. Sementara itu, Ernet Jones memahami analisis Freud ini dengan memfokuskan perhatian pada adanya organ penis yang dimiliki laki-laki sehingga ia menyebutnya dengan ‘Phallocentric’ yang semakin memunculkan perdebatan sengit di kalangan feminis mengenai dominasi laki-laki dalam masyarakat. Sementara itu, Julia Kristeva menganggap bahwa apa yang diungkapkan Freud ini tidak dapat diterima karena meskipun tidak memiliki penis seperti laki-laki, tetapi perempuan memiliki payudara yang istimewa dan juga memiliki sifat yang dimiliki penis. Sedangkan Juliet Mitchell melalui bukunya “Psycoanalysis and Feminism” (1975) mengatakan bahwa psikoanalisis Freud bukanlah ditujukan untuk mengokohkan sistem patriarkhi, tetapi merupakan sebuah analisis mengenai “the one” dan ia hendak menggambarkan representasi mental pada sebuah realitas sosial, bukan realitasnya sendirinya. Selain Mitchell, beberapa feminis Prancis lainnya juga berusaha meyakinkan sejumlah pihak bahwa yang dimaksudkan ‘penis’ dalam analisis Freud adalah sebuah konsep simbol dan bukan ‘penis’ dalam pengertian biologis karena ‘kata’ dalam pandangan Freud yang dikembangkan oleh Lacan dapat digunakan pada ranah sastra teologi dan antropologi dengan merujuk pada organ simbolik yang dimilikinya (power atau kekuatan).
Sumber Bacaan :
1.    Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought, (Yogyakarta: Jalasutra, 1998).
2.    Raman Selden, A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, (London: The Harvester Press Limited, 1985).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: