Category Archives: Agama

Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Dalam Islam

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar

Isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan yang dijalani oleh kedua entitas ini senantiasa hangat dibicarakan. Satu pihak menganggap bahwa bahwa laki-laki dan perempuan tidak setara karena keduanya dibedakan oleh peran yang dilakoni keduanya, laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan berada di sektor domestik, sementara pihak yang lainnya (yang lebih dikenal sebagai feminis) beranggapan bahwa sesungguhnya kedua jenis kelamin ini berada pada posisi yang setara. Beberapa kalangan feminis menyatakan bahwa anggapan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan mengemuka karena faktor budaya yang mengelilingi manusia. Budaya patriarkhi yang diciptakan laki-laki untuk semakin menguatkan posisinya untuk terus mensubordinasi perempuan untuk kepentingan laki-laki.

Di samping faktor budaya, agama juga dituding menjadi ‘biang’ terus tidak berdayanya perempuan. Beragam ajaran agama dianggap sangat tidak mendukung eksistensi perempuan, kecuali hanya untuk ‘mendukung’ superioritas laki-laki. Tulisan berikut akan mencoba memotret bagaimana konsep Islam, sebagai salah satu agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat dunia, dalam memandang perempuan, terutama dalam hubungannya dengan isu kesetaraan peran yang banyak dilontarkan dalam diskursus feminisme. Paparan berikut akan mengambil rujukan kepada ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang secara khusus berbicara tentang peran perempuan dan seringkali dijadikan acuan kalangan yang menolak kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

Islam dan Perempuan
Islam adalah salah satu agama yang dikategorikan sebagai agama samawi, diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada sekitar 14 abad yang lalu di kawasan Arab, atau tepatnya Saudi Arabia saat ini. Setelah melalui serangkaian periode, seperti masa-masa kesulitan di Mekah dan peristiwa hijrah ke Madinah, maka akhirnya Islam mendapatkan era kejayaannya dengan tersebarnya agama ini ke segenap penjuru Arab. Bahkan, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan melalui para sahabat dan beragam kekhalifahan Islam, agama ini telah dipeluk oleh orang-orang yang non-Arab dan berada di berbagai wilayah yang sangat luas mencakup Asia, Afrika dan Eropa. Sebagai sebuah agama, Islam memiliki sumber rujukan yang menjadi tuntunan bagi para pemeluknya, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisikan tuntunan bagi kaum muslimin sedangkan Hadits adalah ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW selama hidupnya dalam memimpin umatnya.
Perempuan menjadi salah satu tema penting dalam ajaran Islam karena di samping laki-laki, perempuan juga memiliki peranan yang tidak kalah signifikannya dalam agama ini. Hal ini, misalnya, mengemuka dalam beberapa ayat al-Qur’an yang secara khusus membicarakan tentang perempuan, bahkan salah satu nama suratnya adalah an-Nisā’ yang berarti perempuan. Namun demikian, bagaimana sesungguhnya konsep Islam mengenai perempuan?
Ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an memiliki konsep mengenai perempuan, terutama dalam konteks kesetaraannya dengan laki-laki yang menjadi tema sentral diskursus feminisme. Beragam ayat al-Qur’an mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama berposisi sebagai hamba Allah SWT yang menjadi tujuan penciptaan dan keberadaannya di muka bumi. Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat al-‘Āriyāt ayat 56:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa eksistensi manusia, baik laki-laki maupun perempuan di dunia adalah untuk tujuan mengabdi sebagai hamba Allah. Dengan demikian, perempuan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki untuk menjadi hamba Allah melalui pengabdiannya selama menjalani kehidupannya. Jika seorang perempuan berbuat takwa maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan sebagaimana halnya juga laki-laki dan demikian pula sebaliknya. Hal ini sebagaimana tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surat an-Nahl ayat 97:
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

Konsep Islam yang kedua adalah perempuan dan laki-laki sama-sama berposisi sebagai khalifah di muka bumi. Di samping eksistensinya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai penciptanya, perempuan bersama laki-laki juga berfungsi sebagai penguasa (khalifah) yang memelihara dan memanfaatkan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-An’ām ayat 165:
وهو الذي جعلكم خلائف في الأرض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما آتاكم إن ربك سريع العقاب وإنه لغفور رحيم.
Dalam ayat lain di Surat al-Baqarah ayat 30, Allah juga berfirman sebagaimana berikut ini:
وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون.
Berdasarkan kedua ayat di atas dapat diketahui bahwa peran sebagai penguasa bumi adalah milik laki-laki dan perempuan dengan tanpa membeda-bedakan keduanya. Hal ini karena penyebutan kata ‘khalifah’ yang berarti penguasa tidak merujuk pada salah satu jenis kelamin, laki-laki misalnya, tetapi mencakup keduanya (laki-laki dan perempuan).
Konsep Islam yang ketiga adalah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama memikul tanggungjawab dan mendapatkan perjanjian yang luhur dengan Allah. Menjelang seorang anak manusia lahir ke dunia, Allah mengadakan perjanjian luhur dan suci dengan calon penguasa dan penghuni bumi ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-A’rāf ayat 172:
وإذ أخذ ربك من بنى آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقوالوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين.

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memikul amanah dan tanggungjawab primordial dengan pengakuan akan keTuhanan Allah yang kelak dibawanya dalam kehidupan dunia.
Konsep Islam yang keempat adalah laki-laki dan perempuan sama-sama berperan aktif dalam peristiwa ‘terusirnya’ manusia dari surga yang mewujud dalam aktivitas Adam dan Hawa. Dalam tradisi yang berkembang di masa pra Islam (Yahudi dan Kristen) dikatakan bahwa perempuan memikul beban dosa karena menjadi penyebab atau berperan aktif dalam perbuatan dosa (memakan buah khuldi) sebagaimana yang dilakukan oleh Hawa. Hal ini pula yang menyebabkan perempuan dalam tradisi pra Islam tidak mendapatkan posisi yang baik dalam hubungannya dengan laki-laki. Namun demikian, al-Qur’an menegaskan bahwa Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan) sama-sama memiliki andil dan berperan dalam perbuatan dosa di surga yang berujung pada ‘terusirnya’ keduanya dari tempat yang penuh kenikmatan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam tidak mengenal dosa warisan dan tidak menempatkan salah satu jenis kelamin lebih baik dibandingkan yang lainnya. Hal ini sebagaimana firman-firman Allah dalam al-Qur’an berikut ini:
وقلنا يا آدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين (البقرة: ۳٥)
فوسوس لهما الشيطان ليبدي لهما ما ووري عنهما من سوآتهما وقال ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين. (الأعراف: ٢٠).
فدلاهما بغرور فلما ذاقا الشجرة بدت لهما سوآتهما وطفقا يخصفان عليهما من ورق الجنة وناداهما ربهما ألم أنهاكما عن تلكما الشجرة وقل لكما إن الشيطان لكما عدو مبين. (الأعراف: ٢٢).

Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa Adam dan Hawa bersama-sama tingggal di surga, kemudian keduanya secara bersama-sama terperdaya oleh godaan setan untuk memakan buah larangan Allah dan keduanya secara bersama-sama pula terusir dari surga dan mengembangkan keturunan di bumi. Dengan demikian, sangat tidak mendasar mengatakan bahwa perempuan memikul dosa warisan karena peran aktif Hawa dalam perbuatan dosa sehingga menempatkan perempuan berada dalam posisi subordinat dan laki-laki sebagai superior. Hal ini karena redaksi al-Qur’an yang disampaikan Allah menggunakan kata ganti untuk dua orang (هما) yang mengisyaratkan bahwa segala aktivitas di surga dilakukan oleh keduanya secara aktif.
Konsep Islam yang terakhir mengenai perempuan adalah kedua jenis kelamin ini sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih prestasi. Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa potensi berprestasi bukanlah monopoli laki-laki, akan tetapi perempuan pun memiliki peluang yang sama. Hal ini, misalnya, sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nisā’ ayat 124:
ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا

Meskipun secara tegas Allah SWT mengungkapkan konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, namun demikian masih banyak masyarakat muslim yang justru berpandangan sebaliknya. Perempuan yang seharusnya ditempatkan setara, justru diletakkan dalam posisi subordinat dan berada dibawah kekuasaan laki-laki yang dianggap superior. Kondisi ini diyakini oleh banyak kalangan karena kesalahan pemahaman atas beberapa teks agama, baik al-Qur’an maupun Hadis Nabi yang seringkali dimaknai oleh kalangan feminis sebagai missogini atau hadits yang ‘membenci’ perempuan. Untuk menyebut beberapa teks agama yang dijadikan ‘senjata’ untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan memperlakukan laki-laki sebagai superior adalah di antaranya: Surat an-Nisā’: 1 dan 34,  serta Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Abu Bakrah.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء (النساء: ١)

Argumentasi yang dikemukakan untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat adalah ayat di atas, terutama yang digaris bawah yang berarti: Dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Ayat ini dipahami oleh banyak kaum muslim sebagai dalil yang menguatkan asumsi bahwa perempuan itu diciptakan Allah dari salah satu organ tubuh (tulang rusuk) Adam. Dengan demikian, menurut anggapan ini, selayaknyalah perempuan menempatkan posisi berada di bawah laki-laki yang berada lebih tinggi dan terhormat darinya. Perempuan adalah bagian dari diri laki-laki, tanpa laki-laki maka tidak aka nada perempuan dalam kehidupan ini.
Namun demikian, penafsiran ini ditolak oleh kalangan feminis seperti Riffat Hasan dan beberapa feminis muslim lainnya. Menurut mereka, kata ‘nafs wahidah’ yang terdapat dalam ayat di atas kenapa harus merujuk pada diri Adam (laki-laki) dan kata ‘zaujaha’ dipahami sebagai Hawa sebagai istrinya. Padahal kata ‘nafs’ tidak merujuk pada laki-laki maupun perempuan, atau dapat dikatakan bahwa kata ini bersifat netral dan tidak memihak, bisa laki-laki dan bisa juga perempuan. Hal yang sama juga berlaku pada kata ‘zauj’ yang tidak secara otomatis berarti ‘istri’, karena juga bersifat netral yang berarti ‘pasangan’ bisa laki-laki maupun perempuan.  Lebih lanjut, menurut salah satu feminis lainnya, Amina Wadud, yang terpenting dalam memahami ayat ini bukanlah mengenai bagaimana proses penciptaan Hawa (perempuan), tetapi realitas yang diungkapkan Allah bahwa Hawa adalah pasangan bagi Adam. Menurut feminis muslim Amerika ini, pasangan berfungsi untuk saling melengkapi apa yang menjadi kekurangan pasangannya dan keduanya berada dalam posisi yang setara karena bagaimana mungkin dapat berperan sebagai pasangan jika salah satunya berada dalam posisi yang tidak setara.
Sedangkan ayat lainnya yang dijadikan ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan superioritas perempuan adalah:
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم… (النساء: ۳٤)

Ayat ini terutama dipakai oleh laki-laki untuk menghalangi perempuan tampil sebagai pemimpin karena dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap aturan Allah. Padahal sesungguhnya ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan seputar kepemimpinan dalam rumah tangga dan hanya dikhususkan untuk masalah ini saja. Lebih lanjut, menurut Muhammad Abduh, ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memperkenan perempuan menjadi pemimpin karena kepemimpinan bukanlah monopoli mutlak laki-laki. Pembaharu Islam di Mesir menyatakan dalam ayat di atas Allah hanya menyebutkan ‘bimā fadhdhalallah ba’dhahum ‘alā ba’dh’ yang berarti : ‘oleh karena Allah telah memberikan kelebihan di antara mereka di atas sebagian yang lain’ dan bukan dengan ungkapan ‘mā fadhdhalahum bihinna’ atau ‘bitafdhīlahum ‘alaihinna’ yang berarti: oleh karena Allah telah memberikan kelebihan kepada laki-laki. Di samping itu, ayat ini tidak mempelakukan perempuan layaknya yang dipahami oleh banyak kalangan muslim, tetapi disesuaikan konteks turunnya ayat ini di kala itu. Pada saat ayat ini turun, kondisi perempuan saat itu hanya terbatas pada aktivitas di dalam rumah dan laki-lakilah yang menafkahinya sehingga laki-laki berada dalam posisi yang kuat. Namun demikian, karena al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa suatu struktur sosial itu normatif, maka ketika ia berubah dimana perempuan mampu berperan layaknya yang dilakukan laki-laki maka perempuan pun dapat berdiri sejajar dengan laki-laki.
Sedangkan Hadits yang dipahami sebagai ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan dianggap sebagai hadits missogini di antaranya adalah dua hadits berikut ini:
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا معشر النساء تصدقن واكثرن الإستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار فقالت امرأة منهن جزلة وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار قال تكثرن اللعن وتكفرن العشير وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن قالت يا رسول الله وما نقصان العقل والدين قال أما نقصان العقل فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل وتمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين.

Sedangkan Hadits ‘missogini’ kedua adalah sebuah hadits yang berasal dari Abu Bakrah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi. Adapun terjemahan dari hadits dimaksud adalah: “Diriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata: Allah ‘Azza wa Jalla memeliharaku dengan sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah SAW tatkala Kisra Persia terbunuh. Rasulullah SAW bertanya: siapa yang mereka angkat sebagai penggantinya? Para sahabat menjawab: putrinya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan sukses suatu kaum bila mereka menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. Setelah ‘Aisyah datang, ke Basrah, aku teringat ucapan Rasulullah SAW tersebut, maka Allah memeliharaku denga sabda Nabi itu”.
Kedua hadits di atas, dan masih banyak hadits-hadits lainnya, dijadikan alat untuk menguatkan dominasi laki-laki atas perempuan karena bagi mereka hal ini memang sudah digariskan oleh Rasulullah. Titik terpenting ‘penguatan’ posisi subordinat perempuan pada hadits pertama terletak pada ‘nuqshān al-‘aql wa dīn’ yang berarti ‘lemah akal dan agama’, sedangkan pada hadits kedua terletak pada pemilihan perempuan sebagai pemimpin yang akan membawa pada kemunduran.
Para penganut budaya patriarkhi meyakini bahwa kelemahan utama perempuan adalah terletak pada akal pikiran yang mereka miliki. Padahal serangkaian penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa tidak perbedaan otak yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Hal ini berarti bahwa akal pikiran yang dimiliki perempuan sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki. Lalu bagaimana Nabi mengungkapkan bahwa perempuan adalah sosok yang memiliki kekurangan akal? Jawabannya adalah kondisi objektif perempuan saat itu hanya terbatas pada lingkungan rumah dan tidak mendapatkan keleluasaan dalam beraktivitas serta mendapatkan pengetahuan dan wawasan layaknya yang didapatkan laki-laki. Akibatnya, pengetahuan dan akal pikiran yang dimiliki perempuan saat itu jauh dan sangat kurang jika dibandingkan laki-laki. Namun demikian, jika merujuk pendapat Engineer bahwa Islam tidak menyatakan struktur sosial itu normatif, maka jika kondisi perempuan telah berubah yang ditunjukkan dengan beragam pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya maka secara otomatis apa yang disampaikan Rasulullah tersebut tidak berlaku lagi. Di samping itu, yang perlu juga dipahami bahwa banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka sebagaimana yang ada dalam hadits pertama di atas dimungkinkan terjadi karena memang populasi perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Artinya, sangat wajar jika penghuni neraka kelak didominasi oleh perempuan karena memang dari sisi kuantitatif jumlahnya memang lebih banyak dari pada laki-laki.
Berkaitan dengan hadits kedua, banyak kalangan menilai bahwa hadits ini sangat bersifat politis. Berdasarkan penelaahan yang dilakukan dua feminis muslim, Fatima Mernissi dan Amina Wadud Muhsin, hadits ini muncul ketika terjadi perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Aisyah bin Abi Bakar dan perawinya diketahui sebagai salah satu pendukung Ali dalam memegang kepemimpinan Islam yang sangat ditentang oleh salah satu istri Rasulullah ini. Dengan demikian, kedua feminis muslim ini meyakini bahwa kemunculan hadits ini dimaksudkan untuk menguatkan posisi Ali sebagai penguasa Islam saat itu dan sebaliknya, melemahkan posisi ‘Aisyah dan para pengikutnya yang menentang kepemimpinan sepupu dan menantu Rasulullah ini. Hadits ini juga dapat dipahami dari konteks situasi dan kondisi saat itu. Banyak kalangan menilai bahwa penggantian kepemimpinan Persia oleh putrinya saat itu memang tidak tepat, karena di samping masih muda, putri Kisra tersebut juga sangat minim pengalaman dan pengetahuan pengelolaan negara. Dengan demikian dapat dipahami kalau Rasulullah mengatakan bahwa kepemimpinan di Persia akan mengalami kemunduran karena kebetulan penggantinya sangat minim pengalaman dan pengetahuan. Titik lemahnya kepemimpinan dalam suatu negara bukan terletak pada jenis kelaminnya, tetapi sesungguhnya terletak pada kepiawaian dan pengetahuan yang dimilikinya dan kebetulan belaka pada saat itu yang terjadi di Persia adalah kepemimpinan perempuan.

Akibat Terhadap Budaya dan Sastra
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa secara tegas Islam meletakkan perempuan berada dalam posisi yang setara dengan laki-laki. Terdapat banyak ayat dan hadist dapat dijadikan penguat dan pendukung hal ini. Namun demikian, ternyata apa yang ditegaskan Islam terjadi sebaliknya dalam masyarakat Islam, dimana perempuan menempati posisi yang rendah dibandingkan laki-laki. Kondisi ini dapat terjadi di samping faktor kesalahan pemahaman atas teks-teks keagamaan, juga karena pengaruh kondisi sosial-budaya pra-Islam yang mengiringi perjalanan sejarah perkembangan agama ini, khusus Yahudi dan Kristen. Beragam kisah-kisah Israiliyyat tidak jarang dijadikan rujukan oleh para penafsir al-Qur’an untuk menerangkan teks-teks keagamaan Islam, baik al-Qur’an maupun Hadits. Hal ini misalnya mengemuka dalam penafsiran awal kejadian manusia, dimana Hawa dikatakan diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menerangkan pengertian Surat an-Nisā’ ayat 1 sebagaimana di atas.
Pemahaman atas teks-teks keagamaan ini kemudian berimplikasi pada produk budaya dan sastra yang dihasilkan oleh masyarakat Islam. Karena perempuan diyakini sebagai ‘the second sex’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir, maka dalam masyarakat Islam berkembang budaya yang menempatkan perempuan hanya berada dalam wilayah domestik, sedangkan laki-laki berperan aktif pada kawasan publik. Perempuan harus selalu berada dalam penguasaan dan bimbingan laki-laki, tidak diperkenankan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Dewasa ini pun masih ada masyarakat Islam yang menganggap perempuan tidak layak menimba ilmu pengatahuan di berbagai lembaga pendidikan karena kelak juga akan kembali ke urusan domestik. Kondisi ini membuat mengemukanya ungkapan bahwa perempuan hanya untuk melakukan tiga hal, yaitu dapur untuk memasak, sumur untuk mencuci berbagai perlengkapan rumah tangga dan kasur untuk melayani kebutuhan seksual suaminya.
Sementara itu, pemahaman teks-teks keagamaan mengenai juga berimplikasi terhadap sastra dan karya sastra yang dihasilkannya. Karena perempuan distereotipekan sebagai ‘the other’ sebagaimana menurut Simone de Beauvoir, maka gambaran-gambaran yang diperlihatkan dalam karya-karya sastra adalah kondisi-kondisi keterpurukannya. Karya-karya sastra seringkali menampilkan sosok-sosok perempuan yang sangat tergantung dengan uluran tangan laki-laki layaknya ‘cinderella complex’ sebagaimana yang diungkapkan para feminis, berperan sebagai pembantu rumah tangga, istri yang sangat ‘patuh’ terhadap apa pun yang diinginkan dan diperintahkan oleh suaminya, anak perempuan yang sejak kecil dididik menjadi pengurus rumah tangga dengan mengajari memasak, merawat bayi, menjahit dan merawat suaminya kelak. Hal ini misalnya dapat dijumpai dalam novel ‘sambal bawang dan terasi’ karya Darmanto Jatman yang menggambarkan perempuan (Isah) sebagai figur dapur, Pramoedya Ananta Toer dalam ‘yang hilang’ yang mengetengahkan gambaran perempuan yang tetap dalam nasib-nasib domestiknya dan lain sebagainya. Dari contoh-contoh di atas dapat dikatakan bahwa dalam sastra (baca: karya-karya sastra) hasil pemahaman teks-teks keagamaan, perempuan ‘hanya’ sebagai objek yang memiliki sifat-sifat ‘baik’ untuk kepentingan laki-laki dan minus bagi pencitraannya.

Yogyakarta, ditengah ‘serbuan’ Merapi 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Engineer, Asghar Ali. 1999. Islam dan Teologi Pembebasan. Alih Bahasa oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
El-Saadawi, Nawal. 2001. Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi. Aliha Bahasa oleh Zulhilmiyasri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ilyas, Yunahar. 2002. ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam al-Qur’an: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ketiga, Januari 2002.
Mernissi, Fatima. dan Riffat Hassan. 1995. Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-laki dan Perempuan Dalam Tradisi Islam Pasca Patriarkhi. Alih Bahasa: Tim LSPPA. Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa.
Muhsin, Amina Wadud. 1994. Wanita di Dalam al-Qur’an, Alih Bahasa oleh Yaziar Radianti. Bandung: Pustaka.
Mernissi, Fatima. 1994. Wanita di Dalam Islam. Bandung: Pustaka.
Umar, Nasaruddin. 2010. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Dian Rakyat

Iklan

Film ‘Perempuan Berkalung Surban’ dan Sosiologi Sastra

Oleh: Pahrudin HM, MA.

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui bahwa lembaga pendidikan adalah tempat terjadinya interaksi antara murid dengan pengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Ada banyak lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah dunia yang memiliki fungsi utamanya untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Dalam sejarah modern tentu kita sudah sangat familier dengan beragam lembaga pendidikan dengan fungsi utama di atas, dari level terbawah yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkatan teratas dalam hirarkinya, yaitu perguruan tinggi. Masing-masing level tersebut memiliki karakteristik dan corak yang berbeda, TK merupakan gerbang pertama interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan pengajar dan satu tingkatan dapat menjadi lanjutan dari tngkatan sebelumnya, yaitu Sekolah Dasar (SD) merupakan lanjutan dari TK. Begitu juga dengan Sekolah Menengah, baik Pertama maupun Atas, yang merupakan lanjutan dari SD dan SMP, baru kemudian dilanjutkan ke perguruan tinggi.

Demikianlah lembaga pendidikan modern umum yang biasa dikenal dalam proses pengajaran ilmu pengtahuan kepada peserta didiknya. Namun demikian, ternyata lembaga pendidikan tidaknya mengenal nama-nama sebagaimana di atas karena masih ada lembaga lainnya yang juga mempunyai fungsi serupa, yaitu pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada peserta didiknya (santri) yang dikelola oleh tokoh agama (kyai). Pesantren hanya dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Namun demikian, lembaga pendidikan model seperti ini ada di setiap komunitas Islam di berbagai tempat, akan tetapi menggunakan nama yang berbeda, seperti ‘dayah’ di Aceh dan lain sebagainya.

Secara historis, pesantren merupakan jenis pusat pendidikan kedua setelah masjid yang telah ada pada awal abad ke-16 Masehi seiring dengan upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo di Pulau Jawa.[1] Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren mempunyai beberapa karakteristik, yaitu pertama pengajaran dengan metode, struktur dan literatur tradisional. Hal ini berlaku pada pesantren yang mempunyai pendidikan  formal di sekolah atau madrasah dengan jenjang pendidikan yang bertingkat-tingkat, maupun dengan sistem halaqah, dan sorogan. Ciri utama dari pengajaran ini adalah penekanan terhadap pemahaman secara harfiah atas suatu kitab tertentu yang akan membuat rendahnya daya analisis para santri. Kedua Pemeliharaan terhadap nilai tertentu, atau yang biasa disebut dengan sub kultur pesantren. Tata nilai atau sub kultur dimaksud adalah penekanan kepada nilai ibadah terhadap setiap kegiatan yang dilakukan santri, termasuk taat dan memuliakan guru merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan agama yang hakiki.

Sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan kepada para peserta didiknya (santri) pesantren memiliki sumber pengetahuan yang sangat banyak. Sumber pengetahuan yang umumnya ada dan banyak terdapat dalam pesantren, terutama pesantren tradisional sebagai kebalikan pesantren modern, adalah kitab-kitab yang berisikan ajaran-ajaran agama yang menjadi acuan orang-orang yang ada dalam pesantren. Melalui penelaahan terhadap beragam literatur keagamaan yang biasanya dikenal dengan ‘kitab kuning’ ini terbentuk model pemikiran yang menjelma menjadi tradisi yang berlaku dan dilaksanakan oleh segenap komponen yang ada di lembaga pendidikan Islam tersebut.

Salah satu tema yang banyak mendapat perhatian dan sorotan dalam pesantren adalah pandangan tentang perempuan. Berdasarkan penelaahan komponen yang ada di pesantren, utamanya yang dilakukan para kyai yang dianggap memiliki otoritas pengambil keputusan hukum, maka berlaku pandangan mengenai eksistensi perempuan. Dalam pandangan yang berlaku di beberapa pesantren, perempuan adalah makhluk Tuhan yang berada pada posisi di bawah laki-laki atau dalam bahasa lain, perempuan berkedudukan tidak setara dengan laki-laki. Akibat dari anggapan umum ini, beragam perlakuan turunannya juga memperlihatkan ketidaksetaraan tersebut, seperti persoalan kepemimpinan, beberapa pekerjaan yang hanya dikhususkan untuk laki-laki, hubungan suami istri dan menuntut ilmu. Satu sisi sumber yang dijadikan rujukan untuk menentukan sikap dan pandangan mengenai perempuan merupakan bahan yang sudah diakui keabsahannya, seperti al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dampak yang ditimbulkan adanya pandangan tersebut ternyata terjadi kebalikannya. Ketidakberdayaan dan ketergantungan serta keterpurukan perempuan terus terjadi akibat pemikiran yang menempatkan posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki.

Inilah yang menjadi setting sebuah film yang disutradarai oleh Hanung Bramantio yang berjudul ‘Perempuan Berkalung Surban’ atau selanjutnya disingkat ‘PBS’. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Abidah al-Khalieqy. Film ini menceritakan perjuangan yang dilakukan seorang ‘feminis’ bernama Annisa dalam usahanya keluar dari kungkungan ‘tradisi’ pesantren yang dianggapnya tidak berpihak dengan perempuan. Pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh para pengajarnya di kelas memperlihatkan ketidak-berpihakan terhadap perempuan menggunakan kitab-kitab kuning sebagai sumber rujukannya. Namun bagaimana sesungguhnya gambaran perempuan yang ada dalam tradisi pesantren tradisional atau bagaimanakah pandangan pesantren tradisional dalam melihat eksistensi perempuan.

B. Sosiologi Sastra

Sebagaimana diketahui bahwa sastra tidak lahir dalam kehampaan, akan tetapi ia hadir di tengah-tengah pembaca melalui pergulatan dengan banyak hal yang ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, tidak mengherankan jika salah satu perspektif dalam analisis sastra mengatakan bahwa sastra adalah cerminanan masyarakat tempat dimana sastra tersebut dilahirkan atau diciptakan. Demikian pula dengan salah satu model analisis sastra yang bernama sosiologi sastra.

Sosiologi sastra dapat didefinisikan sebagai cabang penelitian yang digunakan untuk mengkaji sastra yang bersifat reflektif.[1] Model penelitian ini lahir dari adanya perspektif yang memandang bahwa karya sastra merupakan manifestasi dari kondisi yang ada dalam masyarakat. Di samping itu sosiologi sastra juga dapat dimaknai sebagai model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra yang memfokuskan kajiannya pada masalah manusia.[2] Hal ini karena karya sastra yang dihadirkan para sastrawan mengetengahkan perjuangan manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi yang dimilikinya. Sosiologi sastra juga dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk mengkaji karya sastra dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan yang dihadirkan oleh penulisnya.[3] Dari paparan ini dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra adalah model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra untuk melihat sisi-sisi sosiologis yang ada dan terkandung di dalamnya.

F. Analisis Sosiologi Sastra Terhadap Film ‘Perempuan Berkalung Sorban’

Ada banyak pakar sastra yang mengetengahkan beragam model kajian terhadap karya sastra menggunakan sosiologi sastra. Akan tetapi, untuk keperluan kajian analisis terhadap film PBS ini, penulis menggunakan model kajian sosiologi sastra yang dipaparkan oleh Ian Watt. Hal ini karena menurut pandangan penulis, apa yang dikemukakan Watt mengenai metode kajian sastra perspektif sosiologi sastra lebih komprehensif dalam melihat konteks sosial yang tercermin dalam karya sastra tersebut.

Menurut salah satu teoritisi sastra kawakan ini, terdapat empat aspek yang harus dipelajari untuk mengkaji karya sastra dalam sosiologi sastra. Keempat aspek kajian tersebut adalah konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, genre sastra merupakan sikap kelompok tertentu, dan sastra menampilkan keadaan masyarakat secara menyeluruh.[4] Keempat hal ini harus dipelajari oleh seseorang yang mengkaji sebuah karya sastra menggunakan model analisis yang biasa dikenal dalam khazanah penelitian sastra dengan sosiologi sastra.

Selanjutnya, mari satu persatu keempat aspek kajian tersebut di atas diterapkan terhadap film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya seorang novelis Abidah el-Khalieqy ini.

1. Konteks Sosial Pengarang.

Karena film karya Hanung Baramantio ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Abidah el-Khalieqy, maka menurut penulis kajian yang dilakukan terhadapnya adalah segala hal yang berkaitan dengan novel yang merupakan adaptasinya. Untuk mengetengahkan konteks sosial pengarang, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, profesionalitas kepengarangan, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang tersebut.

Sebagai seorang sastrawati yang kelak menelorkan banyak karya sastra yang cukup berpengaruh di tanah air, Abidah sudah mengawali persinggungannya dengan dunia tulis menulis sejak masih bersekolah (nyantri) di Pesantren Bangil, Jawa Timur, yang ditamatkannya pada tahun 1984. Ternyata prestasinya di bidang sastra memang sudah terasah sejak masih nyantri di salah satu pesantren modern tersebut yang terbukti dengan kesuksesannya meraih beragam penghargaan, seperti Juara Penulisan Tsanawiyah Pesantren tahun 1982 dan Juara Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa tahun 1984.[5]

Persinggungan sastrawati kelahiran 1 Maret 1965 ini dengan dunia sastra kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan beragam forum sastra, seperti Teater Eska, ketika menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi. Hal ini terbukti dengan kesuksesannya mendapat penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Yogyakarta tahun 1998, pemenang Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003, dan memperoleh IKAPI dan Balai Bahasa Award tahun 2008. Begitu juga dengan beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya setelah berkuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri Yogyakarta yang makin banyak dan beragam. Di antara karya sastra yang ditelorkannya adalah puisi ‘Ibuku Laut Berkobar’ (1997), cerita pendek ‘Menari di Atas Gunting’ (2001), novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ (2001), novel ‘Atas Singgasana’ (2002), novel ‘Geni Jora’ (2004 dan lain sebagainya.[6]

Di samping itu, aktivitas kesehariannya Abidah juga tidak jauh dari dunia sastra yang memang telah lama digelutinya sekaligus yang telah membesarkan namanya. Di samping menulis beragam karya sastra, sastrawati kelahiran Jombang ini juga terlibat dan berperan aktif dalam beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra, seperti Pendidikan Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta dan  Apresiasi Sastra Keliling Indonesia pada Yayasan Indonesia dan Ford Fondation. Di samping itu, Abidah juga secara rutin menjadi sumber dalam beragam forum kajian sastra, seperti Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara, Sastra dan Agama di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, dan Jakarta International Literary Festival serta lain sebagainya.[7]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keseharian Abidah memang selalu bergelut dengan dunia sastra dan ia menghabiskan waktu dengan berkutat dengan dunia yang telah membesarkan namanya ini. Kesehariannya memang sepenuhnya berprofesi sebagai sastrawati yang senantiasa berusaha menelorkan beragam karya sastra. Profesionalitas kepengarangannya memang tidak diragukan lagi, meskipun latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuhnya bukanlah sastra karena ia seorang sarjana hukum Islam, tetapi beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya membuatnya layak disejajarkan dengan banyak sastrawan Indonesia lainnya. Dalam menelorkan karya sastranya, tidak jarang Abidah melakukan kajian dan penelaahan lapangan mengenai tema yang akan ia angkat. Sebagai contoh, untuk menghasilkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang kemudian diadaptasikan dalam bentuk film, Abidah melakukan penelaahan lapangan yang cukup lama di beberapa pesantren tradisional di Magelang dan berdiskusi dengan beragam pihak yang selama ini berkecimpung dengan tema-tema perempuan yang menjadi titik sentral novel ini.

Jika menilik beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya, baik yang berupa puisi dan cerita pendek maupun novel, maka akan terlihat sasaran yang dituju. Karya-karya sastra Abidah merupakan upaya yang dilakukannya untuk memperjuangkan perempuan agar mendapatkan hak-hak yang sepatutnya mereka peroleh. Puisi berjudul ‘Ibuku Laut Berkobar’ dan cerita pendek ‘Menari di atas Gunting’ misalnya, merupakan pandangan Abidah mengenai aspek historis perempuan yang dikaitkannya dengan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Begitu juga dengan novel ‘Atas Singgasana’ yang merupakan implementasi perjuangan Abidah untuk mengentaskan status dan posisi perempuan dari belenggu tradisi patriarkhal dalam ruang domestik maupun publik. Tujuan yang sama juga terdapat dalam novelnya ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang diadaptasikan seorang sutradara muda kawakan Hanung Baramantio menjadi film dengan judul yang sama merupakan upaya Abidah untuk mengkritik pandangan yang ada dalam sebuah pesantren tradisional mengenai perempuan.

2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sebuah karya sastra tidak hadir dalam kehampaan ke tengah-tengah para pembaca, tetapi ia berkaitan dengan lingkungan dan budaya yang menjadi tempat kelahirannya. Berkaitan dengan hal ini, pengarang ingin menampilkan realitas yang ada dan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra.

Dalam konteks ini, melalui novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ Abidah ingin menampilkan ke hadapan penikmat karya sastra sebuah realitas mengenai perempuan yang terjadi di sebuah pesantren tradisional (salaf). Dalam tradisi yang telah berlangsung lama dan dijadikan pegangan secara turun temurun di pesantren tradisional, perempuan adalah makhluk yang berbeda dengan laki-laki. Apa yang dapat dilakukan laki-laki tidak dapat dikerjakan oleh perempuan karena keduanya memang dipisahkan oleh banyak hal. Sebagai contoh, Annisa sebagai tokoh sentral dalam novel dan film ini selalu tidak diperbolehkan bermain dan menaiki kuda sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara dan teman-teman laki-lakinya karena posisinya sebagai perempuan. Begitu juga ketika Annisa hendak melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta, ternyata orang tuanya (ayahnya yang seorang kyai pesantren) tidak mengizinkannya karena perempuan harus selalu didampingi muhrimnya agar tidak timbul fitnah di tengah-tengah masyarakat. Hal yang sama juga terjadi dalam konteks kepemimpinan, dimana ketika secara demokratis Annisa telah dipilih dengan suara terbanyak oleh teman-teman kelas dan mengungguli kandidat lainnya. Akan tetapi, karena dalam kepercayaan tradisi pesantren yang dianut bahwa perempuan tidak diperkenankan menjadi pemimpin, maka ia ‘dipaksa’ untuk melepaskan haknya dan menyerahkannya kepada kandidat lainnya yang seorang laki-laki.

Inilah beberapa hal yang ditampilkan oleh Abidah dalam novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai eksistensi perempuan dalam pesantren tradisional. Gambaran ini merupakan realitas yang terjadi dan mengemuka di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam konteks ini adalah pesantren tradisional, yang dipantulkan oleh Abidah dalam karya sastranya tersebut. Perempuan dalam tradisi yang menjadi anutan pesantren tradisional berada di bawah laki-laki dan hanya berperan pada wilayah domestik, seperti rumah tangga, saja sedangkan laki-laki mengambil peranan di wilayah publik yang dapat melakukan apa saja.

3. Genre Sastra Adalah Sikap Kelompok Tertentu.

Sebuah karya sastra hadir ke hadapan para penikmatnya tentu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa kehadiran sebuah karya sastra memiliki latarbelakang dan membawa misi-misi tertentu yang berkaitan dengan pengarang atau penciptanya.

Dalam konteks ‘Perempuan Berkalung Sorban’, gambaran mengenai perempuan dalam pesantren tradisional yang coba dihadirkan oleh Abidah merupakan upaya untuk menyuarakan tujuannya. Annisa yang menjadi tokoh sentral dan mendominasi perjalanan ceritanya dihadirkan oleh Abidah untuk mengkritik atau membongkar pemahaman keliru mengenai perempuan yang selama ini menjadi pegangan para kyai dan penyelenggara pendidikan di pesantren tradisional. Sebagaimana diketahui bahwa Abidah merupakan sosok sastrawati feminis yang terus berupaya memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus juga berusaha merevisi pemahaman terhadap dalil-dalil agama (Islam) yang dianggap keliru dalam memandang perempuan.

Salah satu adegan yang ditampilkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah penentangan Annisa terhadap orang tuanya yang melarangnya berkuda sebagaimana yang dilakukan teman-teman laki-lakinya. Menurut Annisa, sebagai manusia layaknya teman-teman laki-lakinya ia juga mempunyai hak yang sama untuk melakukan pekerjaan yang disukainya, dalam konteks ini berkuda. Akan tetapi hal ini tidak diperkenankan oleh orang tuanya, terutama ayahnya, karena ia perempuan yang dianggap tidak pantas untuk melakukan hal itu. Larangan ayahnya ini dibantah oleh Annisa dengan mengatakan bahwa Aisyah (isteri Nabi Muhammad SAW) ternyata juga menunggang kuda, bahkan memimpin pasukan perang yang di dalamnya banyak terdapat sahabat Nabi yang laki-laki.

Persoalan mengenai pelarangan naik kuda yang diperlihatkan di atas sesungguhnya mengacu pada peran yang dilakoni oleh laki-laki dan perempuan yang memang senantiasa menghiasi perbincangan dalam Islam. Satu pihak menganggap bahwa perempuan hanya terbatas berperan di wilayah domestik yang hanya mencakup persoalan rumah tangga, sedangkan laki-laki berperan di wilayah publik yang mencakup segala hal yang ada dalam kehidupan. Pengetengahan gambaran ini dilakukan Abidah untuk mengkritik pemahaman yang membatasi peran yang dilakoni oleh perempuan yang sangat terbatas itu. Beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai laki-laki dan perempuan memperlihatkan bahwa kedua makhluk Tuhan ini memiliki hak yang sama dan tidak ada pembedaan antara keduanya.[8] Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat an-Naml ayat 20-44 yang menceritakan tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang memimpin sebuah kerajaan di Saba’, Yaman. Begitu juga dalam Surat al-Qashash ayat 23 yang mengetengahkan cerita mengenai pertemuan Nabi Musa dengan dua putri Nabi Syu’aib yang menunggu giliran menimba air dan memelihara ternak. Hal yang sama juga diperlihatkan dalam Surat at-Taubah ayat 71 yang menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam saling tolong menolong, pimpin memimpin dan bahu membahu dalam melaksanakan menyeru kebaikan dan melarang kejahatan.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah ‘keharusan’ Annisa melepaskan haknya menjadi pemimpin kelas. Dalam film ini diceritakan bahwa suatu hari di sekolah Annisa diadakan pemilihan ketua kelas yang diikuti oleh beberapa orang kandidat. Setelah diadakan pemilihan yang melibatkan teman-teman kelasnya, maka muncullah nama Annisa sebagai peraih suara terbanyak yang seharusnya membuatnya secara otomatis menjadi ketua kelas. Akan tetapi, karena statusnya yang perempuan maka hak ini harus ia lepaskan karena menurut gurunya, perempuan bukanlah pemimpin.

Gambaran ini diperlihatkan oleh Abidah sebagai kritikannya terhadap anggapan yang banyak beredar dan diyakini oleh banyak kalangan, khususnya dalam konteks ini para pengelola pesantren tradisional, bahwa kepemimpinan dalam setiap levelnya merupakan hak laki-laki. Jika dirunut, keyakinan seperti ini mengemuka atas pemahaman terhadap Surat An-Nisa’ ayat 34 yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkann sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”.

Jika memperhatikan sebab turunnya ayat ini, maka yang dimaksudkannya hanyalah dalam konteks rumah tangga dimana laki-laki dinobatkan sebagai pemimpin karena kapasitasnya sebagai penanggung nafkah bagi istri dan anak-anaknya.[9] Akan tetapi, dalam konteks kepemimpinan secara umum maka dapat dijumpai dalam Surat al-Maidah ayat 55 dan Surat an-Nisa’ ayat 59. Dalam kedua ayat ini, Allah menyatakan bahwa penolong (pemimpin) kaum muslim itu adalah Allah, Rasul dan Ulil Amri. Kriteria Ulil Amri yang dapat dijadikan pemimpin adalah beriman kepada Allah, mendirikan salat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, siapa pun (laki-laki dan perempuan) dapat dipilih menjadi pemimpin dan dapat menjadi pemimpin sepanjang memenuhi kriteria. Meskipun ayat di atas menggunakan kata yang berbentuk mudzakkar atau maskulin (alladzīna āmanū), namun demikian para mufassir sepakat bahwa yang dimaksudkannya adalah orang-orang mukmin yang laki-laki dan perempuan sebagaimana juga pada perintah Allah untuk melaksanakan puasa.[10]

Gambaran mengenai perempuan yang diperlihatkan oleh Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah mengenai hak untuk menuntut ilmu. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di pesantren, Annisa berkeinginan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Akan tetapi keinginan ini mendapatkan tentangan keras dari ayahnya karena ia seorang perempuan yang harus ditemani oleh muhrimnya agar menimbulkan fitnah, meskipun Annisa mengkritik ayahnya yang mempersilahkan saudara-saudara laki-lakinya untuk menempuh pendidikan ke mana saja mereka kehendaki, bahkan ke luar negeri seperti kakak pertamanya Wildan.

Anggapan ini merupakan pemahaman bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah sehingga harus ditemani kemana saja ia pergi. Di samping itu, anggapan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa perempuan itu menjadi sumber banyak kerusakan yang terjadi di masyarakat. Padahal dalam sejarah tercatat dengan tinta emas perjuangan yang dilakukan oleh beragam pahlawan perempuan, seperti Aisyah dan Cut Nyak Dien, yang dengan gagah berani memperjuangkan keyakinan dan haknya. Ini memperlihatkan bahwa kelemahan fisik bukanlah selalu disematkan kepada perempuan, karena sesungguhnya ada perempuan yang kuat dan sebaliknya ada juga laki-laki yang lemah. Kaitannya dengan sumber kerusakan sesungguhnya bukanlan selalu didominasi oleh perempuan, karena dalam banyak hal laki-laki pun dapat menjadi sumber dari terjadinya sebuah kerusakan.

Adegan lainnya yang diperlihatkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai perempuan dalam pesantren tradisional perlakuan semena-mena suami terhadap istrinya. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menikah dengan Udin karena perjodohan dari orang tuanya, Annisa tinggal di ruang sendiri dengan suaminya yang keluarganya ternyata telah banyak membantu pembiayaan pesantren. Dari sini mulailah beragam perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya. Hal ini terutama dalam konteks hubungan suami istri, dimana suaminya memperlakukannya secara kasar dan seenaknya saja karena beranggapan bahwa seorang istri harus mengikuti apa pun kemauan suaminya. Bagi Udin, berdasarkan pemahamannya terhadap dalil-dalil agama yang diajarkan orang tuanya yang juga seorang pengasuh pesantren, seorang istri harus selalu patuh dan mengikuti apa pun kemauan suaminya. Jika tidak atau istri membangkang maka Allah tidak menyukainya bahkan melaknat istri yang berbuat demikian.

Pemahaman merupakan tafsiran atas sebuah hadis yang menyatakan bahwa seorang istri harus selalu bersedia melayani suaminya. Jika tidak melakukannya, maka Allah akan melaknat istri tersebut hingga subuh datang menjelang. Akan tetapi, gambaran ini diperlihatkan Abidah sebagai kritikannya atas pemahaman yang keliru tersebut. Ada sesuatu yang dilupakan oleh Udin, dan para suami lain semacamnya, bahwa ketaatan yang dilakukan istri terhadap suaminya dan ketaatan seluruh muslim lainnya tentu dalam konteks kebaikan sehingga tidak bisa digeneralisasi kepada semuanya. Lihatlah tuntutan Udin yang meminta Annisa melayaninya padahal saat itu telah masuk waktu salat yang jelas-jelas menjadi perintah Allah yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslim.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan Abidah untuk mengemukakan pandangannya mengenai perempuan adalah mengenai poligami. Dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ diceritakan bahwa setelah cukup lama hidup berumah tangga dengan Udin, Annisa kedatangan tamu seorang perempuan yang meminta suaminya untuk bertanggung jawab karena ia telah dihamili. Setelah berembuk dengan keluarganya, akhirnya Udin melakukan poligami dengan menjadikan Annisa dan perempuan tersebut istrinya secara bersama-sama.

Dari gambaran ini Abidah hendak memperlihatkan bahwa begitu mudahnya laki-laki dalam tradisi pesantren tradisional untuk melakukan poligami atau beristri lebih dari satu. Hal ini berdasarkan pemahaman atas Surat An-Nisa’ ayat 3 yang menyatakan: “… Maka nikahilah perempuan yang kau kehendaki dua, tiga dan empat orang …”. Firman Allah ini dipahami seenaknya oleh laki-laki yang dalam konteks ini oleh Udin karena beranggapan bahwa hal itu memang diperintahkan oleh Allah. Padahal sesungguhnya untuk melakukan poligami tidaklah semudah itu karena harus memenuhi syarat-syarat yang sangat ketat, terutama harus mampu bersikap adil. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Udin kepada istri-istrinya sangat jauh dari ketentuan itu karena dalam film tersebut diungkapkan bahwa ia hanya menafkahi istri mudanya saja, sementara Annisa tidak.

Terakhir, gambaran yang diperlihatkan Abidah untuk mengungkapkan pandangannya yang ia yakini adalah upaya ‘memperbaiki’ model pemikiran yang berkembang di pesantren yang dianggap tidak sejalan. Dalm film tersebut diceritakan bagaimana usaha Annisa yang terus berupaya memasukkan beragam literatur ‘asing’ ke dalam pesantren agar dapat dibaca oleh para santri. Buku-buku yang dianggap ‘haram’ oleh pesantren terus disebarkan Annisa kepada para santri agar mereka mempunyai pemikiran yang terbuka dan tidak selalu berkutat dengan apa yang diajarkan selama ini. Meskipun pada awalnya mendapat penentangan yang keras dari banyak kalangan di pesantren, bahkan oleh kakaknya sendiri sebagai pemimpin sepeninggal ayahnya, hingga buku-bukunya dibakar oleh para penentangnya, tetapi usaha Annisa berbuah manis dengan berdirinya perpustakaan di pesantren tersebut.

Dari gambaran yang diperlihatkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ ini Abidah hendak mengatakan bahwa perjuangan dan upaya untuk memperbaiki ‘tradisi’ pemikiran yang ada di pesantren harus senantiasa dilakukan. Tradisi pemikiran yang jelas-jelas membelenggu kreativitas santri dengan mengatasnamakan agama harus diganti dengan model pemikiran yang berujung pada kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh para santri. Di samping itu, Abidah juga hendak mengatakan bahwa ilmu pengatahuan itu tidak terbatas pada pengajaran-pengajaran kegamaan saja, tetapi mencakup seluruh aspek yang ada bahkan dapat bersumber dari hal-hal yang selama ini dianggap sesat sekali pun. Ini diperlihatkan dengan upaya yang dilakukan Annisa yang memasukkan buku-buku karya Pramudya Ananta Toer yang selama ini dianggap sesat dan kiri untuk dibaca oleh para santri dan kemudian banyak menghiasi rak-rak buku perpustakaan yang akhirnya diizinkan berdiri di pesantren tersebut.

4. Sastra Menampilkan Keadaan Masyarakat Mendetail

Layaknya kehidupan yang dilakoni seorang anak manusia, film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ menghadirkan setiap aspek kehidupan masyarakat ke hadapan para penikmat sastra. Mulai dari masa kecil tokoh sentralnya, keluarga dengan segala dinamikanya, pernikahan lengkap dengan hubungan suami isteri yang dilaluinya, pendidikannya, pekerjaannya hingga upaya-upayanya mewujudkan cita-cita dan pemikirannya. Film ini menceritakan ‘pemberontakan’ terhadap tradisi dan perjuangan yang dilakukan seorang gadis bernama Annisa di sebuah pesantren tradisional yang menganggap perempuan berada dalam posisi tidak sejajar dengan laki-laki.

Ceritanya diawali dengan masa kecil Annisa bersama ayah, ibu dan kedua kakak laki-lakinya di sebuah pesantren yang dikelola oleh ayahnya. Salah satu kesukaannya yang ditentang oleh ayahnya adalah naik kuda di pinggir pantai dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Khudori. Dari sini mulai terjadi konflik dengan ayahnya yang terus memaksakan pemikiran yang menurut Annisa tidak dapat diterima, seperti pelarangan naik kuda karena ia perempuan, ketidaksetujuan ayahnya untuk kuliah di Yogyakarta karena ia tidak ditemani oleh muhrimnya. Konflik Annisa juga terjadi dengan guru-gurunya karena ia menganggap mereka mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat ia terima, seperti keharusannya melepaskan haknya menjadi ketua kelas hanya karena ia perempuan yang dianggap bukanlah pemimpin.

Ada cerita mengenai kehidupan rumah tangganya setelah ia dipaksa menerima perjodohan orang tuanya dengan seorang laki-laki bernama Udin, anak seorang kaya yang telah banyak membantu ayahnya dalam membiayai pesantren. Kehidupan rumah tangganya penuh dengan konflik akibat perlakuan kasar suaminya, terutama ketika diajak berhubungan suami istri. Cerita berlanjut dengan kedatangan seorang perempuan yang meminta pertanggung jawaban suaminya karena telah menghamilinya. Atas dasar pemahaman ajaran agama yang keliru, maka kehidupan rumah tangganya dilalui dengan jalan poligami yang semakin membuatnya tersiksa. Akhirnya, Khudori yang selama ini merupakan sosok yang dapat mengerti akan perasaannya kembali hadir setelah menamatkan studinya di Mesir. Karena ingin mengakhiri kehidupan rumah tangganya yang berantakan, maka Annisa mengadakan pertemuan dengan Khudori di sebuah kandang sapi yang berujung pada penggerebekan yang dilakukan suaminya. Ia dianggap telah menyeleweng dan berselingkuh dengan Khudori sehingga diarak ke pesantren serta dilempari batu hingga membuat ayahnya yang mengidap penyakit jantung meninggal dunia karena shok.

Cerita berlanjut dengan perceraian Annisa dengan suaminya dan ia melanjutkan studinya yang sempat tertunda beberapa tahun ke Yogyakarta. Di kota budaya ini ia melihat banyak perubahan yang dialami oleh teman-temannya semasa di pesantren dulu, seperti pergaulan bebas dan lain sebagainya. Di samping kuliah, di kota pendidikan ini Annisa juga bekerja sebagai salah seorang konselor di sebuah lembaga yang membantu persoalan-persoalan yang dialami perempuan. Dari tempatnya bekerja inilah ia banyak menemukan wawasan dan pengetahuan seputar perempuan dan cara memberi pencerahan serta memberdayakannya. Di kota ini pula ia kembali bertemu dengan Khudori dan keduanya melangsungkan pernikahan.

Tekad Annisa untuk berupaya merubah pemikiran yang berkembang di pesantren yang telah dikelola oleh kakak tertuanya, Wildan, terus menggebu. Upaya ini mendapat dukungan yang besar dari suaminya, Khudori, yang kemudian menemui ajalnya karena kecelakaan dan ditabrak oleh mobil dalam perjalanannya membeli tiket bagi kepulangan mereka ke Yogyakarta. Untuk mewujufkan cita-citanya memperbaiki pemikiran di pesantren, Annisa berusaha memasukkan buku-buku yang diharapkan menjadi bahan bacaan bagi para santri. Pada awalnya upaya ini mendapat penentangan keras dari segenap pengelola pesantren karena dianggap menyebarkan pemikiran sesat kepada para santri hingga buku-bukunya sempat dibakar. Akan tetapi di akhir cerita, upaya ini berbuah manis dengan hadirnya perpustakaan yang memuat beragam literatur yang dapat dibaca oleh para santri.

Inilah gambaran keadaan masyarakat yang ditampilkan oleh Abidah dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Dalam film ini, Abidah mengetengahkan gambaran tentang kehidupan seorang perempuan dalam upayanya memperjuangkan hak-haknya sekaligus juga memperbaiki beragam anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat mengenai perempuan.

Namun demikian, gambaran tentang pesantren dalam memperlakukan perempuan tentu tidak semuanya seperti yang diperlihatkan ‘Abidah dalam novel ini. Ada banyak pesantren yang kini justru sangat jauh dari bias gender dan sangat memahami keberadaan perempuan. Gambaran yang dikemukakan ‘Abidah bukanlah mewakili gambaran pesantren dalam memperlakukan perempuan secara keseluruhan. Namun demikian, gambaran ini perlu mendapat apresiasi dan perhatian karena ternyata ada penyimpangan dalam pesantren dalam memperlakukan perempuan dengan dalih agama yang sesungguhnya seringkali digunakan secara tidak utuh (parsial).


[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 77

[2] Ibid,- hlm. 79

[3] Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Metodologi Penelitian Sastra, Jabrohim (ed.), (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001), hlm. 169. Atau dapat pula ditemukan dalam: Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Teori Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, 1994), hlm. 223.

[4] Ekarini Saraswati, Sosiologi Sastra, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2003), hlm. 11-12.

[5] Biodata Abidah dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[6] Ibid,-

[7] Lebih lanjut mengenai informasi tentang sastrawati Indonesia yang satu ini dapat dilihat dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[8] Yunahar Ilyas, ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ke-3, Januari 2002, hlm. 64.

[9] Ibid,- hlm. 69.

[10] Ibid,- hlm. 67-68


[1] Juwariyah, Ciri-Ciri Pendidikan Islam Tradisionil, http://uin-suka.info/ejurnal

Memahami Sufisme Islam

Oleh: Pahrudin HM, MA

Pengantar

Dunia Timur yang telah lama menjadi perhatian banyak kalangan memang menarik untuk ditelaah dan dilakukan kajian terhadapnya. Di samping menjadi kawasan yang asing dan baru bagi banyak kalangan pengkaji yang kemudian dikenal dengan orientalis,[1] dunia Timur memang memunculkan banyak dinamika dalam masyarakatnya yang kemudian menciptakan semacam blok-blok atau kelompok-kelompok yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena kawasan ini merupakan tempat lahir dan tumbuhnya beragam agama dan aliran yang hingga saat ini ada dalam masyarakat di seluruh dunia. Agama Islam, Kristen, Hindu dan Buddha dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya tumbuh dan berkembang di wilayah ini.

Salah satu agama besar dunia dengan segala dinamikanya yang sangat menarik perhatian adalah Islam yang lahir dan berkembang pesat di kawasan ini. Sejarah perkembangan Islam mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW sebagai pemberi penjelasan atas beragam problem yang mengiringi masyarakat berdasarkan pengetahuan wahyunya wafat dan dilanjutkan dengan era para sahabatnya yang terkemuka (khulafā’ ar-rāsyidūn) maka mulai terjadi berbagai perselisihan di kalangan komunitas muslim. Pada awalnya, di masa tiga kepemimpinan sahabat (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan) perselisihan yang melibatkan beragam komponen dalam masyarakat Islam belum atau tidak muncul ke permukaan, kecuali masalah politik di masa Usman. Namun demikian, perselisihan di kalangan komunitas muslim yang telah sekian lama dibina oleh Nabi Muhammad baru muncul ke permukaan di masa Ali. Pada masa kepemimpinan keempat dalam periode khulafā’ ar-rāsyidūn ini banyak timbul perselisihan yang melibatkan banyak kalangan dalam masyarakat Islam. Persoalan yang mengemuka di permukaan tidak hanya pada aspek politik yang memang telah mengemuka di masa Usman, tetapi telah menjalar pada aspek-aspek lainnya yang belum ada sebelumnya, seperti tauhid, aqidah dan lain sebagainya.

Sejarah pemikiran Islam kemudian mencatat bagaimana terus mengemuka dan terjadinya perselisihan dan pertentangan antara dua kelompok dalam masyarakat Islam. Satu kalangan yang menamakan diri mereka sebagai penegak syariah yang dimotori oleh kelompok ahlus sunnah wal jamaah dan kelompok sufisme di kalangan lain yang dianggap bertentang dengan kelompok pertama. Pertentangan yang melibatkan kedua kelompok terus berlangsung, baik pada tataran perdebatan dalam beragam forum diskusi maupun melalui beragam buku yang mereka tulis. Intensitas perselisihan yang makin meruncing di antara keduanya bahkan tidak jarang memakan korban jiwa, seperti yang dialami oleh al-Hallāj dan al-Suhrawardi. Tokoh sufisme al-Hallāj menemui ajalnya di tangan algojo penguasa saat itu atas desakan kelompok syariah karena paham hulūl-nya yang dianggap sesat dan membahayakan aqidah umat Islam, begitu juga dengan al-Suhrawardi yang pemikirannya dianggap sesat karena merupakan manifestasi ajaran Zoroaster dan kritikan kerasnya kepada ulama fiqih.[2] Tokoh sufisme lainnya yang juga turut mendapatkan dampak negatif dari mengemukanya perselisihan dan pertentangan antara kedua kelompok ini adalah Ibnu al-‘Arabi. Dengan mengusung pemikiran wahdah al-wujūd yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, Ibnu al-‘Arabi memang tidak sampai dihukum mati seperti tokoh-tokoh lainnya tetapi ia mendapat cercaan, hinaan dan makian dari pihak-pihak yang menganggapnya sesat.

Dalam tulisan ini, penulis memang sengaja menggunakan kata ‘sufisme’ seperti umumnya yang dipakai para orientalis untuk menyebutkan aspek mistisisme yang ada dalam Islam dan kata ini, menurut Nasution,[3] hanya khusus digunakan pada Islam.

Pengertian Sufisme

Untuk mengetahui sesuatu yang ingin diketahui, tidak lengkap rasanya jika tidak mengetahui terlebih dahulu pengertian yang dipahami oleh beberapa kalangan mengenai sesuatu tersebut. Dalam konteks ini pula penulis akan memaparkan terlebih dahulu pengertian yang biasa dipahami oleh orang-orang mengenai sufisme atau aspek mistisisme yang ada dalam Islam menurut pandangan mereka.

Pengertian pertama memahami sufisme sebagai suatu cara yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana mensucikan diri manusia, menjernihkan tingkah lakunya, dan membangun aspek lahir dan batinnya agar kemudian berujung pada pencapaian kebahagiaan yang abadi.[4] Sementara pengertian kedua memaknai sufisme sebagai salah satu dimensi dari beragam dimensi keagamaan dalam Islam yang dimaksudkan untuk menyelami relung terdalam dalam aspek religiusitas keislaman.[5] Sedangkan pengertian ketiga lebih melihat eksistensi sufisme pada tujuannya, yaitu untuk memperoleh hubungan langsung (direct relation) dan secara sadar dengan Tuhan sehingga dengan demikian intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi.[6] Pengertian keempat memaknai sufisme sebagai paham mistik dalam Islam sebagaimana Taoisme yang ada di Tiongkok dan Yoga di India dan yang terakhir, sufisme dipahami sebagai aliran kerohanian mistik yang ada dalam Islam.[7]

Sementara itu, seperti halnya pengertian sufisme yang mengalami perbedaan, pemahaman mengenai asal mula penamaan tasawuf yang merupakan nama lain dari sufisme juga terjadi perbedaan di kalangan para ahli. Menurut Nasution, penamaan tasawuf untuk menyebut aspek mistisisme dalam Islam berasal dari kata shūfi yang digunakan pertama kali oleh seorang asketik (zāhid) bernama Abū Hāsyim al-Khūfi di Irak.[8] Di lain pihak ada yang menyebutkan bahwa penamaan tasawuf tersebut berkaitan dengan pakaian yang digunakan oleh para pelakunya (zāhid) yang menunjukkan pada kesederhanaan, yaitu berupa wol kasar yang dalam bahasa Arab disebut dengan shūf.[9] Sedangkan di sisi lain ada yang mengatakan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Islam dengan sufisme karena merujuk pada suatu kelompok masyarakat miskin yang ada di Madinah di masa Nabi Muhammad. Orang-orang miskin ini tinggal di emperan Masjid Nabawi yang kemudian oleh para sahabat dikenal sebagai ahlu as-suffah. Selain itu, sebagian pihak menganggap bahwa penamaan tasawuf berasal dari kata shaf pertama dalam shalat berjamaah yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam ajaran Islam sebagaimana juga dengan tasawuf (sufisme) yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Namun demikian, jika pendapat-pendapat di atas melihat bahwa penamaan tasawuf bersumber dari dalam Islam sendiri, maka ada juga pihak lain yang menganggap bahwa penamaan tersebut berasal dari luar Islam. Kalangan ini beranggapan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Isla dengan sufisme atau tasawuf merupakan aktualisasi dari terjadinya persentuhan antara Islam dengan budaya Yunani. Sebagaimana diketahui bahwa setelah Islam tersebar luas hingga mencapai kawasan-kawasan luar Arab, terjadi persentuhan dan persinggungan dengan budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat wilayah tersebut. Salah satu persentuhan tersebut adalah dengan budaya Yunani yang memang diyakini memiliki sisi filosofis yang agung dan tinggi. Dengan demikian, menurut keyakinan para pengusung pemikiran ini, sufisme atau tasawuf berasal dari kata sophos (hikmat) yang kemudian ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi s bukan shad.[10]

Sejarah Sufisme

Untuk melacak asal mula sufisme secara pasti terdapat hambatan dan kesulitan yang menghadang para ahli untuk melakukannya. Hambatan yang mengemuka terutama berkaitan dengan ketiadaan tulisan atau informasi masa lalu yang secara pasti dan jelas mengungkapkannya. Namun demikian, beberapa pihak mencoba memaparkan sejumlah teori yang diharapkan dapat menjawab sejumlah pertanyaan mengenai asal mula adanya sufisme dalam Islam yang terus menggelayut dalam benak banyak ahli. Jika dirunut secara berurutan, setidaknya terdapat lima pendapat yang diketengahkan berkaitan dengan sejarah sufisme dalam Islam.

Pertama,[11] sejarah sufisme dalam Islam berawal dari keterpengaruhan Islam terhadap Kristen yang telah ditaklukkan di wilayah-wilayah sebelumnya menjadi basis agama yang juga disebut Nasrani tersebut, seperti Syiria, Mesir dan Palestina. Menurut pengusung pendapat ini, Margareth Smith, agama Kristen memiliki ajaran yang menganjurkan para pemeluknya untuk menjauhi kehidupan dunia dengan cara mengasingkan diri dalam biara-biara. Ajaran inilah yang kemudian diadopsi oleh oleh apa yang kemudian dikenal dengan sufisme yang kala itu masih miskin dengan ajaran-ajaran dan dijadikan salah satu media yang digunakan seorang penganut sufisme dalam menjalankan aktivitasnya.

Kedua, asal mula sufisme karena pengaruh dari filsafat mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia adalah kekal dan berada di dunia sebagai roh orang asing. Roh terpenjara dalam badan jasmani dan untuk memperoleh kesenangan hidup, maka manusia harus mensucikan roh dengan meninggalkan hidup materi melalui sarana zuhd dan dilanjutkan dengan kontemplasi. Ketiga, adanya sufisme karena filsafat emanasi Plotimus yang mengatakan bahwa wujud yang ada ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa dan roh berasal dari dan akan kembali kepada-Nya. Di saat materi memasuki roh, maka ia menjadi kotor dan sebelum kembali kepada pemiliknya maka harus dibersihkan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan serta bersatu dengan-Nya. Keempat, kemunculan sufisme karena ajaran Buddha dengan ajaran nirwananya atau surga dalam literatur agama samawi. Menurut salah satu ajaran inti Buddha ini, jika seseorang ingin mencapai nirwana maka ia harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, kemunculan sufisme dalam Islam karena dipengaruhi oleh Hindu berupa ajaran Upanishad dan Vedanta yang mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan dengan Atman dengan Brahman.[12]

Inilah kelima teori yang dikemukakan oleh sejumlah ahli untuk menjawab kegelisahan mengenai asal mula timbulnya sufisme. Namun demikian jika diperhatikan, kelima teori yang dipaparkan di atas mengatakan bahwa kemunculan sufisme dalam Islam karena pengaruh dari luar Islam, seperti Kristen; filsafat mistik Pytagoras; filsafat emanasi Plotimus; ajaran Nirwana Buddha; dan ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu. Apakah memang demikian?. Apakah dalam Islam tidak memiliki ajaran yang mengajak pemeluknya untuk melakukan hal-hal seperti yang ada dalam ajaran sufisme?. Pertanyaan ini penting dilakukan kajian karena sebagai agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dari persoalan-persoalan yang kecil hingga masalah-masalah yang besar serta dunia dan akhirat, sangat tidak mungkin tidak memiliki secuil saja ajaran atau anjuran sebagaimana yang ada dalam ajaran yang diusung oleh sufisme.

Jika dicermati secara mendetail dan seksama, sebenarnya ajaran-ajaran Islam memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan eksistensi sufisme. Melalui beberapa ayat dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dua tuntunan utama setiap muslim dalam menjalani kehidupannya akan tampak bahwa Islam memiliki ajaran tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi ajaran dari sufisme. Dari al-Qur’an akan dicontohkan tiga ayat yang dapat dipahami dan dimaknai sebagai ajaran inti dari sufisme, yaitu:

1. Q.s. al-Baqarah, 186 :

وإذا سألك عبادى عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالي وليؤمنوابي لعلهم يرشدون

Dari ayat ini menyiratkan suatu pemahaman bahwa manusia sebagai salah satu makhluknya adalah sangat dekat dengan Tuhan sebagai penciptanya.

2. Q.s. al-Baqarah, 115 :

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجـه الله إن الله واسع عليـم

Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Tuhan sebagai penguasa alam semesta ini berada dan dapat dijumpai di mana saja.

3. Q.s. Qāf, 16 :

ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسـه ونحن أقرب إليه من حبل الوريـد

Ayat ini mengungkapkan bahwa Tuhan itu sebenarnya ada dalam diri manusia dan bukan berada di luarnya.

4. Q.s. al-Anfāl, 17 :

فلم تقتـلوهم ولكن الله قتلهـم ومـا رميت إذ رميت ولكن الله رمى …

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia dan Tuhan dapat mengalami penyatuan dalam satu tubuh.

Sedangkan ajaran Islam yang bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan sufisme, yaitu : “Orang yang mengetahui dirinya, maka ialah orang yang mengetahui Tuhannya” dan sebuah hadits Qudsi :

كنت كنذا مخفيـا فأحببت أن أعرف فخـلقت الخـلق فبي عرفـواني

“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan melalui Aku mereka mengenal Aku”.


[1] Ulasan lebih lanjut dan lengkap mengenai hal ini dapat ditemukan dalam : Edward W. Said, Orientalisme, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2001).

[2] Kautsar Azhari Noer, Mengkaji Ulang Posisi al-Ghazali Dalam Sejarah Tasawuf, dalam Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, (Jakarta: Volume I, No. 2, Tahun 1999), hlm. 173-174.

[3] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), hlm. 56.

[4] “Sufisme” dalam www.wikipediaindonesia.com. Akses akhir 2009.

[5] Muhammad Ibrahim al-Fayumi, Ibnul ‘Arabi Dalam Sorotan, Menyingkap Kode dan Menguak Simbol, dalam http://www.amuli.wordpress.com.

[6] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, … hlm. 56.

[7] Sufisme sebagaimana menurut GBJ Hiltermann dan Van De Woestijne serta Van Haeringen dalam http://www.wikipediaindonesia.com.

[8] Ibid,- hlm. 56-57.

[9] “Sufisme” dalam www.wikipediaindonesia.com dan dalam Harun Nasution,…, hlm. 57

[10] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, …, hlm. 57.

[11] Ibid, hlm. 58.

[12] Samsuddin Arif, Manipulasi Dalam Kajian Tentang Sufisme, Telaah Utama Islamia, Vol. III, No. 1, 2006, hlm. 24.

Haji dan Kesalihan Sosial

Oleh: Pahrudin HM, MA

Beberapa waktu lalu, penulis sempat pulang ke kampung halaman untuk sekedar silaturrahmi dengan keluarga yang telah cukup lama tidak dijenguk. Dalam suatu perbincangan dengan keluarga dan masyarakat di sana, ada satu pembicaraan yang cukup menarik untuk diperhatikan, yaitu mengenai kian banyak jumlah jamaah haji di desa ini dari tahun ke tahun. Sebenarnya secara umum fenomena ini cukup membanggakan karena hal ini dapat berarti bahwa tingkat keberagamaan masyarakat di kawasan ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian, jika diperhatikan dari aspek lainnya yaitu sosial kemasyarakat maka menurut penulis menjadi kurang baik karena di sisi lain masih banyak anggota masyarakat lainnya yang hidup pas-pasan dan sangat kekuarangan. Pendapat ini mungkin akan sangat ditentang oleh banyak kalangan karena dapat berarti menghambat orang untuk ‘menyempurnakan’ rukun Islamnya. Untuk yang satu ini, penulis sangat sepakat bahwa rukun Islam, berupa haji harus disempurnakan oleh orang-orang Islam yang mampu dengan melakukan ibadah haji ke Baitullah. Akan tetapi, jika memperhatikan fenomena haji yang ada di masyarakat, maka hal ini menjadi kurang baik karena banyak di antara jamaah haji tersebut yang melakukannya untuk yang kedua kalinya dan seterusnya. Inilah yang menurut penulis yang perlu diperhatikan.

Sebagai salah satu rukun Islam setelah syahadat, shalat, puasa dan zakat, bagi siapapun orang muslim yang mampu harus melaksanakan ibadah haji dengan cara mengunjungi Baitullah, tawaf 7 kali di sekelilingnya, sa’i antara bukit safa dan marwa, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan melontar di Mina. Inilah rangkaian ibadah yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang melaksanakan ibadah haji dan ditambahkan dengan mengunjungi Madinah untuk melaksanakan shalat lima waktu selama 40 kali (arba’in). Ibadah haji hanya diwajibkan untuk dilaksanakan sebanyak satu kali saja bagi setiap muslim yang mampu melakukannya, dan selebihnya hanya bersifat sunnah saja yang berarti dapat atau boleh dilakukan.

Namun demikian, anggapan yang banyak berkembang di masyarakat adalah semakin sering dan banyak orang muslim beribadah haji maka tingkat keimanannya semakin kuat dan tebal. Akibatnya, kuantitas jumlah jamaah haji Indonesia selalu mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Bahkan tidak jarang di beberapa daerah terjadi antrian panjang untuk mendapatkan kuota kursi haji, hingga seringkali harus menunggu hingga bertahun-tahun ke depan. Sebagai salah satu buktinya, kuota jamaah haji dari salah satu kabupaten di Jambi saja sudah terisi hingga 2016 yang berarti masyarakat harus menunda keinginannya beribadah haji hingga beberapa tahun ke depan. Tulisan ini tidak hendak menghalangi seorang muslim untuk melaksanakan ibadah haji apalagi mengharamkan sesuatu yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, tetapi hanya ingin mencoba memberi suatu pemahaman kepada masyarakat Islam mengenai kesalehan sosial yang mungkin cenderung terlupakan.

Satu hal yang mungkin luput dari pemahaman di masyarakat adalah bahwa beribadah kepada Allah dan meningkatkan keimanan tidak hanya dapat dilakukan dengan beribadah haji saja. Hal ini terutama bagi kalangan umat Islam yang memiliki tingkat ekonomi yang pas-pasan sehingga tidak jarang harus menjual harta bendanya untuk membiayai perjalanan hajinya. Ada banyak cara atau ibadah yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti bersedekah; menyantuni anak yatim dan membantu pembiayaan sarana sosial semampunya dan lain sebagainya.

Bagi kalangan umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kali dan seterusnya, ada banyak lahan yang dapat digarap untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempertebal keimanan. Kesalehan sosial menjadi ‘lahan garapan’ bagi kelompok ini, ketimbang kembali menjalani ibadah haji untuk yang kesekian kalinya. Ada banyak tetangga, sanak saudara dan keluarga yang tidak jarang justru membutuhkan bantuan untuk hanya sekedar bertahan hidup. Tidak jarang pula mereka harus hidup berteduh di bawah gubuk reot, berselimutkan dinginnya malam akibat dinding rumah yang tidak lagi sepenuhnya mampu menahan hembusan angin, pendapatan hari ini hanya cukup untuk hidup hari ini dan esok hari entah akan bagaimana dan beragam kondisi mengenaskan yang biasa ditemui orang-orang miskin dan tak berdaya dalam masyarakat. Dengan menyantuni dan membantu perekonomian mereka maka kesalehan individu yang salah salah satunya mewujud dalam ibadah haji satu kali saja akan dilengkapi oleh kesalehan sosial.

Membantu pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan mengurangi kesalehan individu seorang muslim, bahkan mengantarkannya menjadi seorang muslim yang saleh secara sosial. Sebuah kombinasi yang ideal bagi seorang muslim. Kehidupan manusia muslim di muka bumi terdiri dari dua hubungan, yaitu hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas). Hubungan pertama dicapai dengan melakukan beragam peribadatan seperti haji yang satu kali itu, sedangkan hubungan yang kedua mewujud dalam kesalehan sosial dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berada terdekat dengan kita. Sebagai contoh kecil, Rasulullah pernah menyuarakannya dalam sebuah sabdanya yang berbunyi:

إذا طبخت مرقة فاكثر ماءها وتعاهد جيرانك

Artinya: Jika kamu memasak makanan, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu. (al-Hadits)

Untuk hal yang kecil, seperti makanan, saja Rasulullah sebagai panutan umat Islam sangat memperhatikan para tetangga, apalagi menyangkut hal-hal besar seperti pemberdayaan ekonomi mereka. Dalam sebuah kisah yang cukup populer di kalangan umat Islam menceritakan bahwa suatu hari Allah menyuruh malaikat untuk menghancurkan suatu kampung karena penduduknya telah mendurhakai Allah. Akan tetapi malaikat melihat bahwa di kampung tersebut terdapat seseorang yang selalu beribadah kepada Allah dan tidak mengenal waktu, baik pagi, siang hingga malam. Namun demikian, apa jawaban Allah atas laporan malaikat ini, ‘hancurkan kampung itu mulai dari rumah ahli ibadah tersebut’. Kenapa Allah justru menghancurkan kampung tersebut dari rumah orang yang selalu menyembah dan beribadah kepada-Nya. Hal ini karena ahli ibadah tersebut hanya mementingkan dirinya sendiri dan masa bodoh dengan apa yang terjadi di sekeling dan dalam masyarakatnya yang penting ia beribadah kepada Allah.

Dalam beberapa ayat al-Qur’an juga disebutkan bahwa kata ‘beriman’ selalu diikuti dengan kata ‘amal saleh’ :

الذين آمنوا وعملوا الصالحات

Kata-kata ini selalu disebutkan Allah secara beriringan dalam beberapa ayat dan surat dalam al-Qur’an. Hal ini karena seorang muslim itu harus beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan segala konsekuensi keimanannya tersebut. Akan tetapi, apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim dan mukmin itu tidak hanya berhenti sampai di situ, karena ada tuntutan lain yaitu melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang muslim itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan segala konsekuensi dan tindak lanjutnya berupa pelaksanaan aturan-aturan Islam dan melaksanakan perbuatan-perbuatan baik (saleh). Perbuatan-perbuatan baik ini memang terdiri dari beragam macam yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara membantu sesama manusia, apalagi sesama muslim, sehingga mereka dapat menjalankan hidup ini dengan baik. Dengan demikian, dua hubungan yang dilakukan seorang muslim di muka bumi ini dapat terimplementasi, hablum minallah melalui peribadatan dan hablum minnnas melalui perhatian, bantuan dan pemberdayaan sesama manusia.

________________________

Yogyakarta, 29 Juni 2010

Mengenal Ibnul ‘Arabi & Ajaran Sufistiknya

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

A. Profil Ibnul ‘Arabi

Nama lengkapnya adalah Abū Bakr Muhammad bin al-‘Arabi, dilahirkan di Murcia, Spanyol (Andalusia), pada tanggal 28 Juli 1165 M atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 560 H.[1] Orang yang kemudian lebih dikenal dikenal dengan Ibnul ‘Arabi ini memulai masa studinya di kota kelahirannya pada usia delapan tahun. Karena berasal dari keluarga bangsawan yang kaya, dalam menjalankan studinya ia tentu hidup berkecukupan dan setelah usianya dianggap mampu maka ia menikahi gadis cantik rupawan yang di kemudian hari turut serta mewarnai perjalanan sufisme yang dilakoninya. Sejak awal, perjalanan hidupnya memang sudah kental dengan nuansa sufisme, seperti mengemuka pada suatu saat ketika ia pernah disangka telah meninggal dunia karena menderita sakit yang sangat parah. Akan tetapi dalam alam spiritualnya, Ibnul ‘Arabi merasa tengah dikelilingi oleh sekumpulan setan yang sedang berusaha mengancamnya. Di tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba muncul sesosok wujud yang sangat rupawan dan dipenuhi wewangian sembari mengatakan bahwa ia adalah surat Yasin. Benar saja, ketika sang rupawan dan wangi tersebut datang menghampirinya di tengah-tengah gerombolan setan yang tengah mengitarinya, ayahnya ternyata tengah membacakan surat Yasin di sampingnya.[2]

Perjalanan sufisme Ibnul ‘Arabi memang terus berlangsung, dimana pada masa mudanya ia bersahabat akrab dengan dua orang perempuan sufi, yaitu Yasmin yang berasal dari Marchena dan Fathimah yang berasal dari Cordova Spanyol.[3] Fathimah adalah seorang perempuan yang cantik dan awet muda meskipun usianya tidak lagi muda sehingga ia seringkali diakira masih berusia belasan tahun, bahkan seringkali Ibnul ‘Arabi memerah mukanya ketika berhadapan dengan guru spiritualnya ini. Salah satu ajaran yang ia dapatkan dari guru sufi perempuannya ini adalah surat al-Fathihah yang mampu mengobati orang-orang sakit yang untuk meminta pertolongan. Setelah Syaikhah Fathimah dan Ibnul ‘Arabi membacakan surat al-Fathihah maka perlahan-lahan sakitnya menghilang dan berganti dengan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dampak dari pembacaan surat al-Fathihah tersebut digambarkan oleh Ibnul ‘Arabi sebagai efek energi berdaya cipta (creative energy) yang dihasilkan melalui konsentrasi hati (hima) atau yang kemudian disebutnya sebagai metode do’a teofanik (method of theophanic prayer).[4] Dan pada usia dua puluh tahun, Ibnul ‘Arabi makin memantapkan hatinya untuk mendalami dan melakoni jalan sufisme. Apalagi di kemudian hari ia dapat berjumpa dan berdiskusi dengan seorang pemikir besar yang dikaguminya, Ibnu Rusyd atau Averroes karena keinginan kuatnya serta kedekatan ayahnya dengan tokoh agung sepanjang masa tersebut. Di saat kematian sang tokoh besar itu pun Ibnul ‘Arabi turut serta menghadiri pemakamannya pada tahun 595 H atau 1198 M di Cordoba bersama dengan beragam tokoh besar lainnya.[5]

Setelah menetapkan hatinya untuk melakoni kehidupan sufisme, Ibnul ‘Arabi melakukan perjalanan yang jauh melintasi beragam wilayah. Antara tahun 1193 hingga 1200 M, Ibnul ‘Arabi telah menjelajah berbagai tempat di Andalusia (Spanyol) yang kemudian dilanjutkannya melintasi Selat Gibraltal untuk menyeberang ke Benua Afrika.[6] Di benua hitam ini ia mengembara ke wilayah Afrika Utara meliputi Tunisia, Aljazair, Maroko dan Libya untuk berjumpa dengan para wali yang ada di wilayah tersebut dan menghadiri berbagai pertemuan mistik, dan forum-forum diskusi. Dan setelah merasa cukup berinteraksi dengan beragam komunitas sufi di Benua Afrika, Ibnul ‘Arabi melanjutkan perjalanannya ke Asia. Perjalanan kedua dalam fase kehidupan sufinya ini terjadi antara tahun 597 H (1200 M) hingga 620 H (1223 M), dimana ia mengunjungi Syiria dengan menetap beberapa saat di Damaskus kemudian melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah dan dijamu dengan sangat hangat dan ramah oleh keluarga bangsawan Iran yang menjadi seorang syeikh di kota suci ini.[7] Setelah cukup lama tinggal di Kota Mekah, Ibnul ‘Arabi kemudian kemali melanjutkan perjalanannya ke Turki, Armenia, dan dilanjutkan ke Irak dan Iran. Dan setelah melakoni perjelajahan yang sangat panjang dengan mengunjungi beragam wilayah, akhirnya pada tanggal 16 November 1240 atau 28 Rabi’ul Tsani 638 H Ibnul ‘Arabi menghembuskan nafasnya yang terakhir di Damaskus.[8] Jenazahnya dimakamkan di sebelah utara kota Damaskus di pinggiran kota Salihiyyah, tepatnya di kaki gunung Qasiyun.

B. Ajaran Sufisme Ibnul ‘Arabi

Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemikir sufisme, Ibnul ‘Arabi memaparkan beberapa pandangannya seputar sufisme. Salah satu pemikiran utama yang dilontarkan oleh Ibnul ‘Arabi yang kemudian mengantarkannya sebagai seorang yang selalu menjadi bahan perbincangan oleh banyak kalangan, baik mendukung pendapatnya maupun yang menolaknya bahkan menganggapnya sesat adalah wahdah al-wujūd. Paham yang berarti penyatuan diri ini adalah model pemikiran sufistik yang hampir sama dengan paham hulūl yang pernah dikemukakan oleh al-Hallāj. Meskipun demikian, nasut yang ada dalam hulūl digantikan Ibnul ‘Arabi menjadi al-khalq (makhluk), sedangkan lahut yang ada di dalamnya digantikan dengan haq (Tuhan).[9] Berdasarkan paham ini, Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa setiap yang ada mempunyai dua aspek, yaitu: aspek luar yang merupakan “al-‘aradh” (accident) serta “al-khalq”  yang memiliki sifat makhluk dan aspek dalam yang merupakan “al-Jawhar” (substance) serta “al-haq” yang mempunyai sifat Tuhan. Dengan demikian, dalam setiap yang berwujud terdapat di dalamnya dua sifat yang ada secara bersamaan, yaitu sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan.

Lebih lanjut, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan bahwa:

كنت كنذا مخفيـا فأحببت أن أعرف فخـلقت الخـلق فبي عرفـواني

“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan melalui Aku mereka mengenal Aku”.

Dari hadits Qudsi ini dapat diungkapkan bahwa pada awalnya Tuhan adalah harta yang tersembunyi, kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakanlah makhluk. Menurut Ibnul ‘Arabi, pada mulanya wujud Tuhan sendirian dalam zatnya dan karena kerinduan-Nya untuk dapat diketahui keberadaan-Nya maka Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya yang akan memanifestasikan tentang Dia.[10] Dengan demikian, karena tujuan penciptaan makhluk-makhluk yang ada di dunia ini adalah untuk melihat keberadaan Tuhan oleh diri-Nya sendiri, maka sesungguhnya makhluk-makhluk tersebut adalah cerminan (tajalli) dari Tuhan yang menciptakannya. Namun demikian, karena manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan adalah berupa mikrokosmos (al-‘alam ash-Shaghīr) maka pantulan Tuhan tersebut lebih sempurna dibanding alam raya yang juga sebagai makhluk Tuhan yang berupa makrokosmos (al-‘alam al-Kabīr). Pantulan Tuhan pada manusia sesungguhnya tidak muncul dalam penyaksian yang kasat mata, tetapi melalui pengaktifan imajinasi kreatif sang dimiliki oleh sang pencipta. Hal ini karena imajinasi mentransmutasikan dunia indrawi dengan cara mengangkatnya kepada modalitasnya sendiri yang berbentuk halus dan tidak kenal rusak. Pergerakan ganda semacam ini memungkinkan adanya respons dua arah, yaitu turunnya yang ilahi dan naiknya yang indrawi (munāzalah). Kejadian turunnya yang ilahi dan naiknya yang berupa indrawi menuju satu perjumpaan dalam satu esensi ini memungkinkan adanya simpati antara dua entitas yang menunggal tersebut.

Dalam hadits Qudtsi di atas, menurut Ibnul ‘Arabi, juga menyiratkan bahwa adanya ketergantungan Tuhan dengan hambanya. Hal ini karena hanya dengan adanya makhluklah maka Dia itu disebut dengan Tuhan. Keduanya seakan terlibat dalam ikatan yang saling bersinergi, yang satu memberi wujud, sementara yang lain mengungkapkannya. Hal ini terlihat dalam perjumpaan sebagaimana yang dilukiskan Ibnul ‘Arabi pada peristiwa naik dan turunnya ilahi dan indrawi. Perjumpaan ini dilukiskan oleh Ibnul ‘Arabi sebagai perjumpaan antara al-musytaq (merindu) dan al-musytaq ilaih (wujud asal yang dirindukan). Pertemuan ini bukan saja harapan dari manusia yang mencinta, tetapi juga harapan Tuhan karena pada dasarnya Tuhan juga mempunyai hasrat kerinduan kepada makhluk-Nya untuk memanifestasikan diri-Nya pada wujud-wujud tersebut agar Ia dapat dikenali.

Adapun proses terjadinya pantulan Tuhan kepada makhluknya adalah pertama Tuhan merasa kesedihan yang mendalam karena tidak ada yang mengenalinya sebagai Tuhan. Kedua, kesedihan yang mendalam yang dialami Tuhan tersebut berubah menjadi nafas ilahi (tanaffus) yang disebut Ibnul ‘Arabi sebagai nafas rahmani atau seringkali disebutnya dengan awan untuk merujuk pada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW untuk menjawab pertanyaan seorang sahabat. Sahabat tersebut bertanya kepada Nabi, dimanakah Tuhan sebelum menciptakan?, maka Nabi menjawab ada di dalam awan. Awan inilah yang menurut Ibnul ‘Arabi yang kelak memanifestasikan beragam makhluk Tuhan, mulai dari para malaikat, orang-orang mulia hingga bebatuan cadas dan lain sebagainya.[11]

Pertemuan wujud yang indrawi dan wujud yang ruhani dalam kesatuan yang saling mengagumi sebagaimana digambarkan Ibnul ‘Arabi di atas dinamakan Corbin sebagai unio sympathetica.[12] Dalam pertemuan semacam inilah pantulan Tuhan menemukan wujudnya, meskipun hal ini tidak mudah dicapai kecuali dengan cara mengaktifkan imajinasi kreatif. Pantulan Tuhan yang paling sempurna tidak terjadi pada setiap tubuh manusia, karena hanya perempuanlah yang memiliki kelebihan yang memungkinkan kesempurnaan itu terjadi. Bagi Ibnul ‘Arabi, perempuan adalah simbol dari jiwa yang reseptif (munfa’il) dan kreatif (fā’il), sedangkan laki-laki adalah jiwa yang hanya memiliki karakter kreatif saja. Di samping itu, berdasarkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud indah yang menyukai keindahan, maka menurut Ibnul ‘Arabi pantulan Tuhan hanya mendapatkan tempatnya yang sempurna pada sesuatu yang indah pula.[13] Perempuan adalah tempat yang sempurna bagi pantulan Tuhan karena dalam seluruh bagian tubuh perempuan adalah keindahan. Di samping itu, Ibnul ‘Arabi berargumen untuk semakin menguatkan pemikirannya bahwa para pribadi yang mulia, seperti Nabi Isa dilahirkan dari rahim perempuan yang mulia, yaitu Maryam dan Adam mendapatkan ketenangannya setelah adanya Hawa yang kemudian melahirkan segenap umat manusia yang ada di muka bumi ini.[14] Kemudian, Ibnul ‘Arabi juga mengungkapkan sebuah fakta leksikografi bahwa dalam bahasa Arab, kata yang merujuk pada sumber segala sesuatu diungkapkan dalam kata ‘al-Umm’ atau yang berarti ibu atau perempuan.[15] Dengan demikian, semakin lengkaplah eksistensi perempuan sebagai tajalli yang sempurna bagi Tuhan untuk melihat keadaan diri-Nya dalam makhluk-Nya. *** Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber Bacaan

Nasution, Harun. 1995. Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Corbin, Henry. 1969. Creative Imagination in The Sufism of Ibn al-‘Arabi. USA: Princeton University Press.


[1] Henry Corbin, Creative Imagination in The Sufism of Ibn al-‘Arabi, (USA: Princeton University Press, 1969), hlm. 38.

[2] Ibid,- hlm. 39.

[3] Ibid,- hlm. 40.

[4] Ibid,-

[5] Ibid,- hlm. 42.

[6] Ibid,- hlm. 46.

[7] Ibid,- hlm. 51.

[8] Ibid,- hlm. 76.

[9] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, … hlm. 92.

[10] Henry Corbin, Creative Imagination …, hlm. 184.

[11] Ibid,- hlm. 184-187.

[12] Ibid,- hlm. 120-135.

[13] Ibid,- 163-164.

[14] Ibid,- hlm. 162-163

[15] Ibid,- hlm. 166-167.

Gambaran Surga Yang Sebenarnya

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Siapa pun tentu menginginkan surga. Ya, surga adalah ganjaran atau imbalan bagi siapa saja yang melakukan kebaikan-kebaikan selama hidupnya di dunia. Berbeda dengan surga yang berkaitan dengan kebaikan, maka apa yang diperoleh oleh para pelaku kejelekan dan keburukan selama menjalani kehidupannya di dunia adalah neraka. Jika surga dipenuhi dengan beragam kenikmatan dan kesenangan yang akan dirasakan oleh para penghuninya, maka sebaliknya neraka menjadi tempat yang disediakan di dalam beraneka ragam siksaan dan kesengsaraan.

Hampir semua agama yang menjadi anutan setiap insan di muka bumi ini mengajarkan surga sebagai ganjaran para pelaku kebaikan selama hidupnya. Dalam agama yang lahir dan tumbuh di India, Hindu, dikenal dengan ajaran Nirwana. Tempat yang dikatakan berada di suatu tempat yang tinggi tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang melakukan kebaikan selama hidupnya. Tidak mengherankan jika setiap pemeluk Hindu dengan beragam sektenya sangat menginginkan Nirwana jika kelak menghadap sang pencipta. Popularitas ajaran Nirwana ternyata tidak hanya terbatas pada para pemeluknya yang setiap hari berkutat dengan ajaran-ajaran yang dipersiapkan untuk menuju ke sana, tetapi sebuah kelompok band Barat bahkan menggunakannya sebagai nama, yaitu Nirvana.

Seperti halnya Hindu yang merepresentasikan agama ardhi atau agama bumi, Islam sebagai salah satu agama yang digolongkan sebagai agama samawi atau agama langit juga mengenal surga. Seperti halnya Nirwana yang diyakini para pemeluk Hindu sebagai tempat yang dipenuhi kenikmatan, dalam Islam surga (jannah) juga merupakan tempat para pelaku kebaikan (orang-orang saleh) menerima imbalan dari perbuatan-perbuatannya selama hidup di dunia.

Namun demikian, apa sesungguhnya yang dinamakan surga menurut Islam dan bagaimanakah gambarannya?…

Dalam al-Qur’an yang menjadi sumber utama segala ajaran Islam di samping al-Hadis, surga digambarkan dalam beberapa ayatnya. Beberapa ayat mengetengahkan gambaran surga secara global, seperti bahwa surga itu tempat yang dipenuhi segala kenikmatan, akan tetapi beberapa ayat yang lain mengetengahkan potret surga secara cukup mendetail. Salah satu ayat al-Qur’an yang menggambarkan surga secara cukup mendetail adalah ayat : “Tajri min tahtihal anhar” yang kalau diterjemahkan menjadi “di bawahnya mengalir sungai-sungai”. Inilah salah satu gambaran surga yang ditengahkan al-Qur’an sebagai potret yang dapat dipahami oleh para muslim.

Namun demikian, apakah surga memang benar-benar seperti gambaran yang salah satunya diperlihatkan di atas?. Pertanyaan ini mungkin pernah mengemuka dari mulut orang yang mencermati beragam gambaran dalam al-Qur’an. Menurut penulis, gambaran surga seperti di atas tidak serta merta seperti itu. Hal ini karena sebagaimana diketahui bahwa bangsa Arab sebagai kelompok pertama yang menerima al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW tinggal dan hidup di padang pasir. Tempat tinggal bangsa Arab memang dikenal sebagai salah satu tempat terekstrim di dunia, dipenuhi padang pasir nan tandus sejauh mata memandang dan hujan merupakan sesuatu yang langka di wilayah ini. Dengan kondisi seperti ini, maka air menjadi sesuatu yang asing dan sangat diharapkan serta sangat berharga oleh bangsa Arab.  Dalam sejarah bahkan selalu dicatat bahwa seringkali terjadi perselisihan yang berujung pada peperangan di antara suku-suku Arab hanya untuk memperebutkan mata air (wadi). Tidak mengherankan jika pertumbuhan penduduk yang mendiami perkampungan-perkampungan di jazirah Arab berada di sekitar sumber air. Contohnya adalah kota Mekkah yang sangat bersejarah dalam perjuangan Islam yang berada ada di dalamnya sumber mata air yang tak pernah kering sejak kemunculannya pertama kali di saat kelahiran Nabi Ismail, yaitu sumur Zamzam.

Bandingkan dengan wilayah-wilayah yang dikenal sebagai kawasan tropis, seperti Indonesia. Curah hujan yang tinggi setiap tahunnya membuat masyarakatnya tidak terlalu menganggap air sebagai sesuatu yang sangat berharga layaknya di kawasan Arab. Sungai-sungai yang terdiri dari sungai besar seperti Sungai Musi dan Sungai Batanghari dan beragam sungai kecil sepanjang tahun mengalirkan airnya untuk dimanfaatkan oleh para penduduknya. Sungai juga menjadi tempat beraktivitas untuk melakukan beragam keperluan sehari-hari oleh para penduduk Indonesia seperti yang ada di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Dengan demikian, air bukanlah menjadi sesuatu yang langka dan sangat berharga bagi masyarakat tropis layaknya di kawasan Arab karena kesehariannya bersentuhan dengan sungai.

Apakah dengan demikian gambaran surga sebagaimana yang diperlihatkan al-Qur’an menjadi tidak relevan dan hanya berlaku bagi orang-orang Arab saja?. Tentu tidak demikian. Surga itu memiliki sifatnya tersendiri, yaitu sesuatu yang sangat menarik sehingga membuat orang sangat berkeinginan untuk mendapatkannya. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu, air menjadi sesuatu yang sangat berharga apalagi air yang mengalir besar layaknya sungai yang biasa kita temui di Indonesia. Karena itulah, gambaran surga yang dihadirkan oleh Allah di antaranya adalah mengenai sungai-sungai yang mengalirkan banyak air di dalamnya. Dengan demikian, tidak lantas menganggap bahwa gambaran surga yang diperlihatkan al-Qur’an bukanlah sesuatu yang menarik karena sudah biasa ditemui dalam kehidupan keseharian kita. Sebagaimana dalam hadis disebutkan bahwa surga itu sebenarnya tidak akan dapat dibayangkan oleh manusia kenikmatan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Wala ‘ainun ra at, wala udzunun sami’at, wala khatharat fi qalbil basyar. Surga itu tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah tergambarkan dalam pikiran manusia. Itulah gambaran surga yang sebenarnya. Gambaran-gambaran yang ada dalam al-Qur’an dan Hadis sebagaimana yang salah satunya tampak di atas hanyalah sebagai perangsang dan pemancing manusia beriman untuk senantiasa mengabdikan hidupnya untuk kebaikan dan kebaikan. Amin. Allahumma adkhilnal jannatakan na’im.

Kalau sekiranya al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW diturunkan di Indonesia, apakah gambaran surga yang diketengahkan oleh Allah SWT?….

MEMAHAMI SURAT AL-KAUTSAR

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

إنا أعطيناك الكوثر ﴿۲﴾ فصل لربك وانحر ﴿۳﴾  إن شانئك هو الأبتر

Terjemahan Ayat:

  1. Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar).
  2. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban.
  3. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus.

Secara umum, ayat ini diturunkan Allah sebagai penghibur, penenang dan penguat hati Nabi Muhammad SAW serta bantahan terhadap musuh-musuh beliau. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa al-‘Ash bin Wa’il, ‘Uqbah bin Mu’aith dan Abu Lahab selalu menghina dan mengejek Nabi Muhammad setiap kali menyaksikan anak laki-laki Nabi meninggal dunia satu persatu. Padahal bagi bangsa Arabanak laki-laki adalah dambaan setiap orang sebagai pelanjut keturunan dan sebagai pengingat kebaikan-kebaikan orang tua dan nenek moyangnya kelak di kemudian hari. Akan tetapi di sisi lain, Nabi Muhammad yang sangat diagungkan pengikutnya dan menjadi musuh utama para penentangnya tidak memiliki anak laki-laki yang kelak dipercayai akan meneruskan keturunan sehingga nama besar dan jasa-jasa orang tuanya akan tetap dikenang. Untuk itulah mereka menghina Nabi Muhammad sebagai orang yang terputus atau binasa.

Untuk menghibur Nabi atas realitas dan ejekan yang dilontarkan para penentangnya tersebut sekaligus juga membantah ucapan mereka, maka Allah menurunkan ayat : “Innā A’thaināka al-Kautsar” yang berarti Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar).

Kata ‘al-Kautsar’ mengandung beberapa pengertian, seperti kebaikan yang banyak dan nama sungai di surga. Akan tetapi, yang jelas bahwa kata ini merupakan bentuk hiperbola dari kata ‘katsīr’ yang umumnya dipahami dengan arti ‘banyak’. Dengan demikian dapat diketahui bahwa kata ini memiliki pengertian seluruh anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad, baik itu berupa para sahabat yang setia, kenabian dan kerasulannya, al-Qur’an dan Islam serta yang utama dalam konteks ini adalah jaminan Allah bahwa Nabi Muhammad dan pengikutnya akan menang dan akan terus dikenang sepanjang masa meskipun realitasnya Nabi Muhammad tidak mempunyai anak laki-laki.

Setelah Rasulullah dihibur dan dibantahnya pernyataan para musuhnya, maka sepantasnyalah sebagai hamba yang tahu diri untuk bersyukur atas beragam anugerah tersebut. Sebagai realisasi dari syukur tersebut kemudian Allah mengutarakan caranya, yaitu : “Fa shalli li Rabbika wan Har”, yang berarti “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban”. Yaitu, jadikanlah shalat yang engkau dirikan tersebut hanya untuk Allah semata begitu juga dengan hewan qurban yang engkau sembelih.

Telah menjadi kebiasaan Allah menempatkan dua kata yang berbeda secara berdekatan yang kadang-kadang mempunyai maksud tertentu yang ada kaitannya dengan tema ayat tersebut. Begitu juga dengan ayat di atas. Perintah untuk melaksanakan shalat diteruskan dengan perintah menyembelih hewan qurban secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan tradisi yang ada dalam masyarakat Arab jahiliyah bahwa apabila mendapatkan suatu anugerah, maka kemudian mereka bersembahyang di Ka’bah dan menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada patung-patung sesembahan mereka. Tradisi yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Arab jahiliyah ini masih dilestarikan oleh Allah, tetapi dengan cara dan tujuan yang berbeda. Sebagai muslim, maka ungkapan syukur mereka diimplementasikan dengan cara melakukan shalat atau ritual ibadah yang diajarkan Islam kemudian dilanjutkan dengan menyembelih hewan qurban. Kedua rutual ini hanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak untuk patung-patung dewa ala Arab jahiliyah tersebut.

Selanjutnya, kata ‘inhar’ memiliki pengertian penyembelihan hewan melalui lehernya. Hal ini mengisyaratkan bahwa ungkapan syukur setelah pelaksanaan shalat dilakukan dengan cara menyembelih hewan yang berkaki empat, seperti unta, kambing, kuda, kerbau dan sapi. Hal ini karena hanya jenis hewan yang berkaki empat sajalah yang disembelih melalui lehernya, sedangkan yang berkaki dua seperti ayam disembelih pada bagian kerongkongannya. Dengan demikian, dalam bahasa Arab penyembelihan di leher hewan dipakai kata ‘inhar’ yang berasal dari kata ‘nahara’, sedangkan penyembelihan hewan yang berkaki dua dipakai kata ‘idzbah’ yang berasal dari kata ‘dzabaha’.

Di samping itu, ayat ini juga berkaitan dengan anjuran atau kebiasaan untuk melaksanakan qurban pada hari raya Idul Adha. Anjuran tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan shalat ‘Ied.

Setelah menyebut anugerah yang diberikan kepada Nabi Muhammad, kemudian diteruskan dengan perintah untu mensyukuri nikmat melalui shalat dan menyembelih hewan qurban, maka pada ayat ketiga dalam surat ini Allah kembali menegaskan kenyataan yang sebenarnya dialami oleh para musuh yang menentangnya tersebut. Sebagaimana firman-Nya: “Inna Syāniaka Huwal Abtar” yang berarti “Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus”.

Pada ayat ketiga ini, Allah menegaskan sekaligus sebagai ancaman bagi para penentang Nabi Muhammad bahwa pada dasarnya merekalah yang akan terputus keturunannya. Hal ini terbukti kemudian, bahwa walaupun tidak memiliki anak laki-laki yang diyakini sebagai penerus keturunan sebagaimana tradisi yang ada dalam masyarakat Arab, tetapi Nabi Muhammad dengan nama besar dan jasa-jasanya terus senantiasa diingat dan diikuti oleh seluruh pengikutnya sepanjang masa hingga saat ini. Akan tetapi sebaliknya, para penentangnya meskipun memiliki lusinan anak laki-laki terbukti binasa dan terputus garis keturunannya hingga tak bersisa. Cerita tentang mereka yang mengemuka kemudian dalam sejarah umat manusia adalah mengenai keburukan dan kejelekan yang mereka perbuat selama hidupnya.

Dengan demikian sekali lagi terbukti bahwa kuasa Allah di atas segala kuasa yang ada di dunia ini. Apa yang kehendaki Allah akan menjadi kenyataan karena sesungguhnya janji Allah pasti akan ditepati.

Daftar Bacaan

Tafsir Ibnu Katsir, PT. Bina Ilmu Surabaya, Jilid 8, Cetakan Kedua, Tahun 1993.

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung).

Muhammad Abduh. 1999. Tafsir Juz ‘Amma, (Bandung: Mizan).

Menyelami Ushul Fiqh Perspektif Filsafat Ilmu

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

A. Pendahuluan

Sebagaimana diketahui bahwa hukum merupakan salah satu aspek terpenting dalam Islam disamping beberapa aspek terpenting lainnya. Dengan adanya hukum, manusia bersama komunitasnya dapat menjalankan beragam aktivitasnya dengan tenang dan tanpa ada perasaan was-was. Dan dengan hukum pula manusia dapat mengetahui manakah pekerjaan-pekerjaan yang diperbolehkan dan apa sajakah pekerjaan-pekerjaan yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan.

Filsafat ilmu sebagai bagian dari kajian filsafat mencoba untuk mengetahui kinerja sebuah ilmu sebagaimana yang banyak dipahami oleh beberapa ahli. Sebagaimana dikemukakan oleh Benjamin, bahwa filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan falsafati yang menelaah sistematis sifat dasar suatu ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-anggapannya.[1] Atau, salah satu tujuan mempelajari filsafat ilmu sebagaimana yang dikemukakan oleh Bakhtiar, yaitu untuk memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang sehingga kita mendapatkan gambaran mengenai proses ilmu kontemporer secara historis.[2] Dengan kajian filsafat ilmu, akan diketahui bagaimana cara kerja atau metodologi yang diterapkan oleh sebuah ilmu dalam fungsinya untuk memecahkan beragam persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya.

Tulisan berikut akan mencoba untuk mengupas metodologi yang ada dan diterapkan dalam sebuah ilmu yang berfungsi untuk mengetahui hukum dalam Islam, Ushul Fiqh. Bagaimanakah metode yang digunakan oleh Ushul Fiqh dalam menetapkan suatu hukum dalam Islam dan apakah dasar-dasar yang mendasari penentuan metode tersebut.

B. Pengertian Ilmu Ushul Fiqh

Secara etimologi, ilmu ushul fiqh berasal dari dua kata Bahasa Arab, yaitu al-ushūl dan al-fiqh. Kata al-Ushūl adalah bentuk plural (jama’) dari kata al-ashlu yang memiliki arti dasar atau pokok, sedangkan kata al-Fiqh dalam bahasa Arab mempunyai pengertian paham atau mengerti. Adapun secara terminologi, menurut Khalaf adalah suatu ilmu yang memiliki kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang dijadikan acuan dalam penetapan hukum Islam mengenai perbuatan manusia berdasarkan dalil-dalil yang terperinci.[3] Sedangkan menurut Abu Zahrah, ushul fiqh adalah metodologi yang digunakan para mujtahid dalam menggali hukum Islam dari teks al-Qur’an ataupun Hadits dengan mengidentifikasikan sebab (illat) dari suatu hukum sesuai dengan tujuan dasar diturunkannya syari’ah.

Dengan demikian, ilmu ushul fiqh merupakan kumpulan kaidah dasar mengenai sistematika penggalian hukum dari berbagai dalil syari’at. Maka di dalamnya mencakup kajian mengenai teks secara langsung, seperti sistematika penggalian hukum melalui ilmu semantik, menggabungkan dua teks jika terjadi benturan secara nyata, atau berupa kajian yang bersifat etimologi yang tidak berhubungan secara langsung dengan teks, seperti mengeluarkah sebab dari teks dan cara menggunakan metodologi terbaik dalam penggalian hukum Islam ketika berinteraksi dengan sebab tersebut.[4] Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidan, ushul fiqh merupakan ilmu yang menerangkan mengenai kaidah-kaidah dasar dan rumusan global (al-adillah al-ijmāliyyah) yang dapat membantu para mujtahid dalam menggali hukum fiqh.[5]

Namun demikian, tidak lengkap rasanya jika tidak mengemukakan bagaimana pula pengertian ilmu fiqh. Hal ini karena antara ilmu ushul fiqh dan ilmu fiqh seringkali terjadi kesimpangsiuran pengertian antara keduanya, bahkan tidak jarang ada yang menyamakan kedua ilmu ini. Ilmu fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil secara terperinci.[6] Atau, dapat pula diartikan sebagai kumpulan hukum-hukum Islam tentang perbuatan manusia yang diambil berdasarkan dalil-dalil secara terperinci.[7] Kedudukan ilmu fiqh merupakan suatu kajian tentang penilaian suatu tindakan. Fiqh mengkaji apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah melalui lima hukum utama (haram, halal, wajib, sunnah, dan makruh). Menurut Ibnu Khaldun, ilmu fiqh adalah sebuah bentuk pengetahuan terhadap aturan Tuhan yang ditujukan kepada tingkah laku manusia  dimana mereka mesti harus taat kepada bentuk aturan tersebut yang meliputi wajib, haram, mandub, mubah dan makruh.[8] Untuk memahami hukum Tuhan tersebut, maka diperlukan beberapa kaedah pokok untuk menentukan benar atau salah di mata Allah. Beberapa kaedah tersebut meliputi tingkatan pengambilan hukum yaitu dengan merujuk langsung kepada Al Qur’an dan Sunnah, ataupun mengikuti Imam Syafi’i ada beberapa kaidah lain yang harus diperhatikan dalam menentukan sebuah hukum, yaitu ijmā’ atau ketetapan otoritas ulama, Qiyās, dan Istihsān.[9]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perbedaan antara ilmu ushul fiqh dengan ilmu fiqh terletak pada landasan dan fokus yang dipakai oleh kedua ilmu ini. Ilmu ushul fiqh lebih menitikberatkan pada landasan teoritis yang bersifat global (al-adillah al-ijmāliyyah), sementara ilmu fiqh lebih terfokus pada tataran praktis yang diambil dari dalil yang terperinci (tafshīlīy). Meskipun di samping memiliki perbedaan sebagaimana dikemukakan di atas, ilmu fiqh dan ilmu ushul fiqh ternyata juga mempunyai kesamaan. Persamaan kedua ilmu ini terletak pada pencarian ketentuan hukum syari’at Islam yang dilakukan oleh ilmu fiqh dan ushul fiqh. Ilmu ushul fiqh bergerak dalam tataran metodologis, sedangkan fiqh bergerak dalam tataran praktis.[10]

C. Lintasan Sejarah Ilmu Ushul Fiqh

Sejarah kemunculan ilmu ushul fiqh tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang ada dalam umat Islam saat itu. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah tidak selamanya mendampingi umatnya karena beliau seperti manusia pada umumnya yang tentu akan dipanggil Sang Pencipta jika saatnya tiba. Wafatnya Nabi Muhammad dan kenyataan bahwa wilayah Islam kian tambah luas memunculkan banyak persoalan di kalangan umat Islam yang memerlukan interpretasi hukum Islam terhadap beragam problem yang baru tersebut. Kondisi ini mendorong peletakan batasan-batasan dan bahasan tentang dalil yang digunakan dalam Islam dan syarat-syarat atau cara-cara penggunaan dalil tersebut. Inilah apa yang dikenal kemudian dengan nama ushul fiqh yang dihimpun pertama kali oleh Imam Abu Yusuf yang menjadi seorang pengikut setia Imam Abu Hanifah.[11]

Meskipun demikian, orang pertama yang menghimpun kaidah-kaidah dan pembahasan ilmu ushul fiqh secara sistematis adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Kitāb ar-Risālah, Imam Syafi’i menyusun kaidah-kaidah ilmu ushul fiqh secara sistematis dan masing-masing kaidah tersebut dikuatkan dengan dalil-dalil dan ulasan yang baik.[12] Usaha ini kemudian diteruskan oleh pengikutnya, ar-Rabī’ al-Murādīy, sehingga menjadikan buku ini sebagai buku pertama yang membicarakan ushul fiqh dalam satu buku pembahasan.

Seiring dengan perjalanan waktu, ushul fiqh terus mengalami perkembangan yang tidak jarang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Namun demikian, secara ringkas perkembangan ilmu ushul fiqh dapat dibagi menjadi tiga tahapan perkembangan, yaitu:

  1. Al-Mutakallimūn atau ahli ilmu kalam, yaitu penulisan ilmu ushul fiqh berdasarkan pada analisa dan rumusan-rumusan teoritis tanpa melihat titik persamaan atau perbedaan para ulama ushul terhadap permasalahan cabang (furū’iyyah). Dengan demikian, apa yang dilakukan ulama mutakallimūn merupakan metodologi murni yang berasal dari kajian induktif atas teks agama Islam. Hukum fiqh hanya dijadikan sebagai contoh praktis.[13] Kesan dari penulisan model ini adalah bahasan yang bersifat filosofis-analisis. Tujuannya adalah bahwa ilmu ushul fiqh dijadikan sebagai timbangan dan sandaran terhadap ketentuan hukum fiqh lepas dari sekat-sekat madzhab. Dengan demikian, metode penulisan seperti ini dapat terhindar dari fanatisme madzhab tertentu. Di antara yang menggunakan medel penulisan seperti ini adalah kalangan Mu’tazilah, Syafi’iyah dan Malikiyah.
  2. Al-Hanafiyyah, yaitu suatu metode penulisan yang dilakukan oleh pengikut Imam Hanafi dengan menganalisa hasil dari ijtihad sang imam, kemudian merumuskan metode yang digunakan oleh imam berdasarkan dari hasil analisis tersebut. Maka model rumusan metodologi ini bersifat praktis dan lebih memihak madzhab tertentu. Kelebihannya adalah bahwa rumusan tersebut lebih banyak bersentuhan dengan hukum fiqh dari pada perdebatan filosifis-metodologis.
  3. Metode akomodatif, yaitu penggabungan dari dua metode penulisan di atas. Mereka tidak terlalu berdebat dalam tataran filosofis-metodologis, namun juga tidak terlalu terpaku dengan persoalan cabang. Mereka meletakkan rumusan kaidah ushul yang ditopang dengan argumentasi logis, sebagai standar dan penentu dalam ketetapan hukum syariat. Di samping itu, mereka juga menambahan contoh-contoh praktis yang diambil dari para imam. Model penulisan seperti ini banyaik diikuti oleh para ulama belakangan ini (muta’akhirīn), baik dari madzhab Syafi’i, Maliki, Hambali, Ja’fari bahkan madzhab Hanafi.[14]

Dalam perkembangan  selanjutnya, banyak terjadi penambahan dalam rumusan ilmu ushul fiqh sesuai dengan perkembangan permasalahan sosial kemasyarakatan. Dengan kata lain bahwa ilmu ushul fiqh sebagai rumusan metodologi dalam penggalian hukum fiqh sebagaimana yang kita lihat saat ini, merupakan hasil dari proses panjang. Berbagai cabang ilmu pengetahuan juga turut mempengaruhi perkembangan ilmu ushul fiqh, termasuk juga logika Aristoteles. Hal ini nampak jelas dalam berbagai karya imam Al-Ghazali. Beliau sendiri mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mengetahui ilmu logika maka keabsahan ilmunya perlu diragukan.[15] Tentu saja perkembangan ilmu ushul fiqh tidak berhenti sampai di situ saja. Sampai saat ini, ilmu ushul fiqh masih mendapatkan perhatian serius dikalangan para ulama. Bahkan belakangan muncul berbagai usulan seputar rekonstruksi ilmu ushul fiqh.

D. Metodologi Ushul Fiqh Dalam Menetapkan Hukum

Sebagaimana disebutkan sebelumnya pada pembahasan di atas bahwa persoalan hukum merupakan permasalahan yang penting dan mendapat perhatian yang mendalam dalam Islam. Kondisi umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad dan generasi awal Islam yang menemui beragam persoalan yang banyak berupa permasalahan baru membuat kalangan ulama Islam menyusun suatu disiplin ilmu yang kemudian dikenal sebagai ushul fiqh. Ilmu ini berisikan kaidah-kaidah yang menjadi dasar pertimbangan para ulama dalam menggali dan menetapkan hukum Islam atas beragam permasalahan yang dihadapi umat Islam.

Para ulama ushul fiqh dalam menggali hukum Islam membagi kaidah-kaidah yang mereka gunakan ,yaitu kaidah-kaidah ushul fiqh dari aspek bahasa pembuatan hukum Islam. Kaidah jenis yang pertama terdiri dari tujuh macam kaidah yang menjadi landasan penetapan hukum dalam Islam berdasarkan ilmu ushul fiqh yang dikemukakan oleh ulama Islam.

Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an dan Hadits menggunakan bahasa Arab dalam menyampaikannya kepada umat Islam, maka dengan demikian untuk memahaminya harus pula mengetahui dan memahami bahasa tersebut secara lebih komprehensif. Pemahaman mendalam tersebut mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa Arab, terutama pada aspek stilistika atau gaya bahasa yang digunakan oleh kedua sumber utama hukum Islam tersebut.

Berdasarkan kajian komprehensif yang dilakukan para ulama Islam, didapatkan beberapa kaidah yang menjadi dasar dalam menetapkan hukum dalam Islam dari aspek bahasanya.[16] Kaidah pertama adalah teori pengambilan makna teks, yaitu teks syari’at atau undang-undang wajib diamalkan menurut apa yang tersurat, isyarat, dalalah atau menurut tuntutannya. Hal ini karena setiap pemahaman teks melalui salah satu cara  di atas pada dasarnya adalah pengertian teks tersebut dan teks itu merupakan landasan bagi pengertian itu. Dengan demikian dapat dipahami bahwa teks syari’at atau undang-undang seringkali menunjukkan makna yang banyak dengan beberapa cara seperti firman Allah : “… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (al-Baqarah: 275). Kaidah Kedua pengertian balik yang berbunyi: Teks syari’at tidak mempunyai hubungan atas hukum menurut pengertian balik. Adapun pengertiannya adalah teks syari’at tidak mempunyai hubungan bahwa hukum yang terkandung dalam teks tersebut terdapat pengertian balik dengan bunyi teks. Contohnya adalah firman Allah : “Katakanlah: Dalam wahyu yang diturunkan kepadaku aku tidak memperoleh sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir” (al-Anām: 145). Dalam ayat ini dinyatakan bahwa darah yang mengalir diharamkan oleh Allah, maka bukan berarti darah yang tidak mengalir menjadi dihalalkan karena tidak adanya hubungan antara ayat ini dengan makna tersebut.

Kaidah Ketiga Kejelasan Hubungan dan Tingkatannya, yang berbunyi setiap teks yang jelas hubungannya harus diperlakukan sesuai dengan kejelasan hubungan yang ditunjukkannya tersebut. Adapun contoh dari kaidah ini adalah firman Allah : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah” (al-Hasyr: 7). Berdasarkan ayat ini maka apa yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad maka harus dilakukan oleh umatnya dan sebaliknya apa yang dilarang maka jangan dilakukan karena demikianlah kejelasan makna yang terkandung dalam ayat ini. Kaidah Keempat, Ketidakjelasan Hubungan dan Tingkatannya, yang berbunyi teks yang tidak jelas hubungannya adalah teks yang melalui bentuknya sendiri tidak menunjukkan arti yang dimaksudkan, bahkan untuk memahaminya diperlukan faktor dari luar. Contohnya adalah firman Allah: “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri selama tiga kali quru’” (al-Baqarah: 228). Lafadz yang tidak jelas dalam ayat ini adalah suci yang memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama Islam apa yang dimaksudkan suci di sini, apakah setelah masa tenggang waktu berakhir (iddah) atau tiga kali masa suci. Kaidah Kelima, Lafadz yang mempunyai banyak arti (musytarak) dan hubungannya, yang berbunyi: apabila dalam teks terdapat lafadz musytarak, maka lafadz tersebut harus dibawa kepada makna syari’at. Hal ini dapat dicontohkan dalam firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka potonglah kedua tangannya” (al-Māidah: 38). Penggunaan lafadz ‘tangan’ memunculkan banyak pengertian mengenai batasan ‘tangan’ yang dimaksudkan untuk dipotong. Untuk itu, pengertian ayat tersebut dikembalikan kepada tuntunan Nabi Muhammad dalam hadis yang membahas masalah ini. Kaidah Keenam, Keumuman dan hubungannya, yang berbunyi : apabila dalam teks syari’at terdapat lafadz yang umum dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya maka, maka lafadz tersebut wajib diartikan dengan keumuman dan menetapkan hukum untuk semua satuannya dengan pasti. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah pasti memberi rezeki kepadanya” (Hūd: 6). Ayat ini mengungkapkan bahwa seluruh makhluk di muka bumi ini pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah, tanpa terkecuali. Kaidah Ketujuh, Kekhususan dan Hubungannya, yang berbunyi: Apabila di dalam teks terdapat lafadz khusus, maka dapat menetapkan hukum dengan pasti, selama tidak ada dalil yang menghendaki arti lain. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah: “Dan saksikanlah oleh dua orang saksi dari laki-laki (di antara kamu)” (al-Baqarah: 282). Ayat ini hanya mengkhususkan persaksian pada hutang piutang yang terjadi antara manusia dengan syarat harus disaksikan oleh dua orang yang terdiri dari laki-laki.

Penerapan kaidah-kaidah yang terdapat dalam ilmu ushul fiqh ini berdampak sangat luas di kalangan masyarakat Islam dari masa ke masa. Beragam permasalahan hukum yang sering menghinggapi umat Islam seiring kian jauhnya keberadaan dan waktu mereka dengan Nabi Muhammad dan generasi pertama Islam menjadi dapat terpecahkan melalui penggunaan kaidah-kaidah ini. Meskipun tidak semua kalangan Islam menyepakati kaidah-kaidah yang termaktub dalam ilmu ushul fiqh ini, tetapi setidaknya upaya yang dilakukan ulama Islam ini menjadi sebuah solusi atas persoalan menyangkut hukum Islam menjadi terpecahkan.

E. Kesimpulan dan Penutup

Bersadarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu ushul fiqh lahir karena tuntutan kondisi umat Islam yang sepeninggal Rasulullah dan generasi pertama Islam menghadapi beragam persoalan menyangkut ajaran Islam. Untuk itulah kalangan ulama menyusun kaidah-kaidah yang menjadi dasar menetapkan hukum Islam yang kemudian dikenal dengan ilmu ushul fiqh. Ilmu ini terdiri dari tujuh macam kaidah yang berupa teori-teori dari aspek kebahasaan al-Qur’an dan Hadis, Bahasa Arab. Dengan kaidah-kaidah yang menjadi landasan tersebut, pada ulama menggali hukum Islam dan menetapkan hukum untuk menjawab berbagai permasalahan hukum yang dihadapi umat Islam.

Demikianlah sekelumit paparan mengenai ushul fiqh yang menjadi metode menggali hukum dalam Islam. Sumbang saran dan kritik konstruktif sangat diharapkan demi perbaikan serta menambah wawasan dan pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Abû Zahrah, Muhammad. 1990. Ushūl al-Fiqh. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabīy.

al-Ghazālī, Abū Hamīd. 2000. Al-Mustashfā fī ilmi al-Ushūl. Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Bakhtiar, Amsal. 2006. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Muntasyir, Rizal. dan Misnal Munir. 2006.  Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khalāf, ‘Abd al-Wahhāb. 1978. ‘Ilm Ushūl al-Fiqh. Kairo: Dār al-Qalam.

Zaidān, Abdul Karim. 1990. al-Wajīz fī Ushūl al-Fiqh. Kairo: Mu’assasah al-Risālah. Cetakan V.

http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Khaldun. Akses tanggal 30 Desember 2009.

Thaha Jabir al-‘Alwani, Ushul Fiqh al-Islami: Source Methodology in Islamic Jurisprudence: Methodology for Research and Knowledge.

http://www.usc.edu/dept/msa/law/alalwani_usulfiqh/index.html. Akses tanggal 30 Desember 2009.


[1] Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 49.

[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 20.

[3] ‘Abd al-Wahhāb Khalāf, ‘Ilm Ushūl al-Fiqh, (Kairo: Dār al-Qalam, 1978), hlm. 12.

[4] Muhammad Abû Zahrah, Ushūl al-Fiqh, (Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabīy, 1990), hlm. 1

[5] Abdul Karim Zaidān, al-Wajīz fī Ushūl al-Fiqh, (Kairo: Mu’assasah al-Risālah,1994), Cetakan V, hlm. 11.

[6] ‘Abd al-Wahhāb Khalāf, ‘Ilm Ushūl al-Fiqh, … hlm. 11

[7] Ibid,-

[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Khaldun. Akses tanggal 30 Desember 2009.

[9] Thaha Jabir al-‘Alwani, Ushul Fiqh al-Islami: Source Methodology in Islamic Jurisprudence: Methodology for Research and Knowledge. http://www.usc.edu/dept/msa/law/alalwani_usulfiqh/index.html. Akses tanggal 30 Desember 2009.

[10] Abdul Karim Zaidān, al-Wajīz fī Ushūl al-Fiqh, … hlm. 12.

[11] ‘Abd al-Wahhāb Khalāf, ‘Ilmu Ushūl al-Fiqh, … hlm. 17

[12] Ibid,-

[13] Abdul Karim Zaidān, al-Wajīz fī Ushūl al-Fiqh, … hlm. 16

[14] Ibid,- hlm. 16-18.

[15] Abū Hamīd al-Ghazālī, Al-Mustashfā fī ilmi al-Ushūl, (Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000), hlm. 10-44.

[16] Paparan ini seluruhnya bersumber dari  ‘Abd al-Wahhāb Khalāf, ‘Ilm Ushūl al-Fiqh, … hlm. 140-191.

Redefenisi Haji

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun yang menjadi penopang bangunan agama Islam. Ia terdiri dari rangkaian aktivitas yang melibatkan fisik dan spiritual yang menguras tenaga. Aktivitas ibadah ini dimulai dengan niat untuk melaksanakan haji dan memakai pakaian ihram, berlanjut dengan kegiatan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali atau yang biasa dikenal dengan thawaf, diteruskan dengan berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa (sa’i), kemudian berdiam (wukuf) di padang Arafah, berdiam sejenak (mabit) di Muzdalifah, bermalam di Mina dan diakhiri dengan melontar jumarat.

Kalangan sejarawan Islam meyakini bahwa aktivitas ibadah semacam ini telah ada jauh sebelum datangnya Nabi Muhammad. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa ibadah haji di era Islam adalah penyempurnaan dari ritual sama yang dilakukan umat-umat terdahulu. Hal ini dapat dimengerti karena kalangan umat Islam meyakini bahwa nabi-nabi terdahulu juga mengajarkan Islam kepada segenap umatnya dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah penyempurna dari ajaran-ajaran terdahulu tersebut. Keyakinan ini bersumber dari banyak dalil, baik yang berasal dari al-Qur’an maupun Hadits yang merupakan pegangan bagi umat Islam.

Ibadah haji merupakan suatu kewajiban yang mesti dilakukan bagi muslim yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Seluruh kaum muslim dari segenap penjuru dunia yang berkemampuan berkumpul di Mekkah yang merupakan pusat aktivitas ritual ini untuk melaksanakan serangkaian ibadah haji. Ritual agung dan suci ini dapat dikatakan sebagai pertemuan tahunan antara segenap kaum muslim dari seluruh pelosok bumi ini, meskipun diantara mereka tidak saling mengenal, tetapi pada hakekatnya mereka bersaudara. Persaudaraan dalam Islam memang tidak memandang status sosial, etnisitas, perbedaan warna kulit, bahasa bahkan adat istiadat, asalkan ia seorang pemeluk Islam maka ia adalah saudara. Di kota Mekkah inilah semuanya berkumpul untuk bersama-sama melakukan serangkaian ritual haji dan sebagai ibadah tambahan, biasanya diteruskan dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki aspek historis dengan Islam. Tempat-tempat tersebut yang paling utama adalah Madinah dengan segudang nilai historisnya dengan perjuangan Rasulullah serta beberapa tempat lain seputar Mekkah dan lain sebagainya.

Tak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan ibadah haji telah lama menjadi magnet bagi kaum muslim di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Dari tahun ke tahun, minat kaum muslim untuk menunaikan rukun Islam kelima ini makin meningkat sehingga cenderung tak terkendali. Menyikapi realitas ini, maka Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam salah satu pertemuaannya beberapa tahun yang lalu mengambil kebijakan untuk menerapkan kuota bagi setiap negeri muslim di dunia yang warganya akan berhaji. Indonesia sebagai sebuah negara muslim terbesar di dunia mendapat jatah kuota terbesar dibanding negara lainnya karena dengan jumlah penduduk mencapai 220 juta jiwa, maka negeri kepulauan ini mendapat kuota 200-an ribu orang jamaah setiap musim haji. Kebijakan ini pun belakangan ini dinilai belum efektif untuk ‘membendung’ hasrat kaum muslim, karena terbukti setiap musim haji terjadi penumpukan daftar tunggu pelaksaan haji. Untuk menyebut salah satu contoh konkrit adalah apa yang terjadi di salah satu desa di Kabupaten Merangin-Jambi, dimana jatah kursi yang tersedia untuk wilayah ini telah terpenuhi hingga tahun 2014, artinya beberapa calon jamaah yang berasal dari wilayah ini harus mengantri hingga beberapa tahun ke depan untuk mendapat kesempatan berangkat ke tanah suci. Implikasinya adalah baru-baru ini pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan baru yaitu membatasi pelaksnaan ibadah haji bagi setiap muslim hanya untuk satu kali seumur hidup. Kuota-kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi diprioritaskan untuk kaum muslim yang akan melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya.

Meskipun demikian, ibadah haji sepertinya telah menjadi tujuan akhir dari implementasi peribadatan seorang seorang muslim. Terbukti dengan tetap tingginya minat kaum muslim untuk kembali mengunjungi Baitullah, walaupun telah melaksanakannya, bahkan tidak jarang yang telah menunaikannya lebih dari dua kali. Beberapa cara pun dilakukan banyak kaum muslim agar tetap dapat melaksanakan haji untuk yang kesekian kalinya, di antaranya dengan mendaftarkan diri menggunakan identitas yang berbeda dengan persyaratan sebelumnya. Jika sebelumnya ia menggunakan identitas daerah tertentu, maka agar dapat berhaji kembali ia menggunakan identitas yang dikeluarkan di daerah tertentu lainnya. Cara ini terbukti cukup efektif untuk menyiasati adanya kebijakan berhaji hanya sekali saja yang telah diterapkan oleh pemerintah Indonesia.

Memperhatikan begitu besarnya minat umat Islam untuk menunaikan ibadah haji dapat dimengerti karena sebagian besar kaum muslim beranggapan bahwa mereka mencari nafkah dengan tujuan akhir untuk mengunjungi Baitullah. Tidak mengherankan jika kemudian kita temui banyak kaum muslim yang sampai-sampai harus menjual harta benda berupa sawah, ladang, binatang ternak, perhiasan dan lain sebagainya demi merealisasikan keinginan mereka untuk berhaji.

Jika dilihat lebih mendalam, terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi terus membludaknya kuantitas kaum muslim yang melaksanakan haji dari waktu ke waktu. Faktor yang jelas mengemuka ke permukaan adalah keinginan untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa. Latar belakang ini hampir pasti akan mengemuka setiap kali penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, sebenarnya ada latar belakang lain yang juga turun mewarnai perjalanan haji seorang muslim menuju Baitullah dan ziarah ke Madinah. Motivasi yang cenderung tersembunyi dimaksud adalah untuk lebih meningkatkan status sosial di tengah masyarakat.

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia telah lama dikenal sebagai kawasan yang memiliki kultur dan budaya Islam yang mengakar kuat. Salah satu budaya di negeri ini adalah menganggap seorang muslim yang bergelar haji adalah segalanya. Tidak mengherankan jika dijumpai kemudian suatu kenyataan bahwa hampir tak ada orang muslim terkenal dan kaya di Indonesia yang tak bergelar haji, dari presiden hingga pemuka masyarakat di pelosok pedesaan. Status haji yang disandang seseorang memiliki arti yang istimewa di tengah-tengah masyarakat, dihormati, disegani, dituruti segala titahnya. Dapat dimengerti memang jika kemudian masyarakat muslim berbondong-bondong melaksanakan ibadah yang memusatkan aktivitas ritualnya di Mekkah ini.
Meskipun demikian, jika memperhatikan lebih jauh kondisi yang dialami masyarakat muslim yang menjadi penghuni mayoritas negeri ini, maka niscaya perasaan kita akan menjadi miris. Sungguh sebuah realitas yang kontradiktif. Di satu sisi sebagian kaum muslim berbondong-bondong ingin melaksanakan haji yang memerlukan biaya hingga puluhan juta rupiah rupiah, bahkan rela masuk daftar tunggu untuk beberapa tahun ke depan sekalipun, sementara sebagian yang lain hidup di tengah ketidakpastian. Sebagian lain sibuk memikirkan berapa uang belanja yang akan dibawa kelak di tanah suci, sementara di sisi lain sebagian pusing memikirkan harga sembako, BBM, listrik, dan biaya pendidikan anak-anak yang terus merambat naik. Beberapa kaum muslim yang berkecukupan senantiasa terbersit hasrat dalam hatinya untuk dapat melaksanakan ibadah haji setiap tahun, dalam dadanya selalu memendam kerinduan untuk kembali memenuhi panggilan Allah dengan mengunjungi Baitullah dan menziarahi makam nabi-Nya. Kenyataan ini tidak sepenuhnya dapat disalahkan karena ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam, artinya belum dianggap sempurna Islam seseorang karena salah satu rukunnya belum terpenuhi. Akan tetapi, bukankah yang diwajibkan adalah satu kali saja untuk seumur hidup seorang muslim, sedangkan selebihnya adalah sunnah yang kualitasnya berada dibawah sebuah kewajiban dalam hirarki hukum Islam.

Jika seorang muslim yang berkecukupan dan telah melaksanakan haji untuk sekali saja mau jeli ada banyak cara pengabdian kepada Allah dan mensyukuri nikmatnya selain beribadah haji berkali-kali. Beberapa keluarga, kerabat dan handai taulan bahkan tetangga terdekat rumah kita setiap saat hidup dalam ketidakmenentuan akibat kemiskinan yang terus mendera. Di sinilah lahan untuk implementasi dari kesalehan sosial seorang muslim, apalagi seorang yang memiliki kecukupan harta dan telah berhaji pula. Kesalehan sosial seorang muslim tidak kalah penting dan utamanya dari kesalehan pribadi yang salah satunya mewujud dalam dimensi peribadatan haji di tanah suci. Hal ini sebenarnya telah dikemukakan oleh Rasulullah yang menganjurkan seorang muslim untuk memperhatikan saudaranya, terutama yang terdekat dengan rumahnya. Bahkan, sampai hal yang terkecil dan sepintas tak berarti apa-apa sekalipun menjadi perhatian Rasulullah yang mencerminkan kepedulian kita terhadap sesama, utamanya tetangga terdekat rumah. Hal ini, misalnya, mengemuka dalam sebuah hadits: “Jika kamu memasak makanan, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu”. Begitu mulianya apa yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya yang berarti kepedulian kita kepada sesama yang ditimpa kekurangan, apalagi dengan dana haji yang bernilai puluhan juta tersebut.
Dapat dipastikan bahwa ongkos yang dikeluarkan oleh seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meskipun demikian, ongkos yang senantiasa menggunung ini seakan tak menyurutkan niat kaum muslim untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini. Ada baiknya puluhan juta rupiah yang diperuntukkan untuk keperluan melaksanakan ibadah ibadah haji untuk kesekian kalinya tersebut dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat sekitar yang tidak jarang terdiri dari saudara, kerabat dan tetangganya. Jumlah sebesar ini tentu akan semakin banyak jika masing-masing muslim yang hendak melaksanakan haji untuk yang kedua dan seterusnya mau mengurungkan niatnya yang setiap musim penyelenggarakan haji semakin membludak. Jika setiap tahun kuota jamaah haji Indonesia adalah 220.000 orang, maka hampir lima puluh persennya adalah jamaah yang hendak melaksanakan haji untuk yang kedua kalinya, bahkan lebih, maka didapatkan 110.000 orang yang dananya dapat diinvestasikan dalam bentuk ibadah lain yang bersifat sosial. Artinya, dari jumlah tersebut terkumpul dana minimal 3 miliar lebih setiap tahunnya dengan asumsi bahwa jamaah yang berangkat haji mengeluarkan dana minimal 30 juta. Dengan dana sebesar itu tentu dapat diperuntukkan untuk membangun sentra-sentra perekonomian sebagai lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk menjadi lebih baik. Bagi masyarakat Sumatera yang sebagian besar hidup pada sektor pertanian dan perkebunan, maka dengan dana ini dapat membuka lahan pertanian dan perkebunan baru yang diperuntukkan bagi kalangan yang tidak memiliki apa-apa. Begitu juga dengan masyarakat yang berada di berbagai wilayah lainnya, seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan lainnya sebagainya. Kebijakan yang akan diambil nantinya tentu berdasarkan sumberdaya yang ada dan tersedia di tempat tersebut.

Sepintas lalu ide ini terkesan terlalu bombastis karena tidak mudah untuk menyadarkan masyarakat untuk menginvestasikan dananya untuk pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, penulis meyakini bahwa ide ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin diterapkan di kemudian hari, tergantung pada kemauan kita untuk bersama-sama memberikan pengarahan kepada masyarakat muslim bahwa kesalehan sosial yang salah satunya mewujud dalam pemberdayaan masyarakat yang banyak ditekankan dalam al-Qur’an dan Hadits adalah lebih penting dibandingkan melaksanakan haji berkali-kali sementara di sisi lain tetangga dan warganya serba kekurangan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk pencerahan masyarakat, misalnya dengan memasukkannya dalam setiap materi khutbah Jum’at, pengajian-pengajian dan majelis-majelis taklim yang banyak bertebaran di negeri ini serta melalui tulisan-tulisan di berbagai media dan liputan-liputan televisi. Langkah konkrit dalam upaya ini dapat dilakukan dengan cara mengarahkan keluarga, tetangga dan warga sekitarnya mengimplementasikan hal ini.
Jika masing-masing kita mau dan mampu melaksanakan hal ini maka niscaya kemiskinan dan kebodohan yang menimpa hampir sebagian besar bangsa ini lambat laun akan berkurang. Hal ini dapat terjadi karena masing-masing umat muslim yang merupakan bagian terbesar negeri ini telah memiliki penghasilan tetap dari pekerjaan yang merupakan sumbangsih dana ‘rencana haji kedua’ orang-orang muslim kaya negeri ini. Dengan penghasilan tersebut, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya, menyekolahkan anak-anaknya hingga pada akhirnya kesejahteraan senantiasa menghinggapi masyarakat negeri ini sehingga welfare state yang selama ini didengungkan dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, Amin.

Mencermati Fatwa MUI

Oleh: Pahrudin HM, M.A.
Horizon publik kita memang selalu dipenuhi beragam pemberitaan yang tidak jarang cukup memusingkan kepala. Jika dalam beberapa minggu belakangan hingga saat ini ruang publik kita selalu disuguhi pemberitaan mengenai perseteruan ‘Cicak vs Buaya’  yang cukup alot itu, maka dalam beberapa hari ini ada suguhan berita lain yang cukup perlu diperhatikan. Adalah sebuah film berjudul ‘2012’  hasil kreasi rumah produksi kenamaan dunia, Hollywood, yang menggambarkan kiamat atau akhir dunia berdasarkan ramalan suku Maya. Sontak saja hal ini mengundang perhatian banyak kalangan dan tak ketinggalan tentunya para ulama yang terhimpun dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Meskipun MUI pusat belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai 2012 ini, tetapi beberapa pengurus MUI di daerah telah mengeluarkan tanggapannya. MUI di Jawa Timur, misalnya, bahkan telah mengeluarkan fatwa haram untuk menonton film yang berkisah akhir dunia ini. Sebenarnya keputusan mengeluarkan fatwa bukan kali ini saja dilakukan oleh organisasi para ahli agama Islam tersebut, tetapi telah berkali-kali dilakukan menyikapi banyak hal yang ada dalam masyarakat. Salah satu yang paling menyita perhatian banyak kalangan adalah fatwa haram rokok yang baru-baru ini dikeluarkan.

Fatwa adalah keputusan hukum Islam yang dikeluarkan oleh para ulama yang memiliki kemampuan dan keahlian mengenai Islam sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kemunculan suatu keputusan yang dinamakan fatwa sangat ditentukan oleh permintaan yang datang dari masyarakat, selagi ada individu yang mempertanyaan sesuatu yang mengemuka dalam kehidupan sehari-harinya maka fatwa akan terus keluar.

Orang yang mengeluarkan fatwa, atau mufti, adalah seseorang atau lembaga yang memiliki kemampuan ilmu keislaman seperti ilmu bahasa Arab, tafsir, hadis yang kuat. Hal ini karena ilmu-ilmu tersebutlah yang digunakan dalam menentukan suatu hukum yang berkaitan dengan hukum Islam. Meskipun demikian, suatu fatwa hanya membatasi diri pada produk hukum yang belum ditetapkan secara eksplisit dalam al-Qur’an, Sunnah Nabi dan pendapat ulama terdahulu. Atau, dalam pengertian lain fatwa menetapkan hukum suatu permasalahan kontemporer dalam masyarakat modern.

Fatwa merupakan produk hukum yang memang sangat dikenal dalam masyarakat Islam, khusus negara-negara yang didominasi oleh orang-orang Islam. Meskipun demikian, masing-masing negara Islam tersebut memiliki lembaga fatwanya yang khas dan tersendiri. Negara-negara Arab yang kehidupan masyarakatnya sangat kental dengan keilslaman biasanya memiliki seseorang yang berpengetahuan keislaman sangat baik untuk menjadi mufti atau pemberi fatwa yang menetapkan hokum Islam yang ditanyakan masyarakat kepadanya. Tidak seperti umumnya di negara-negara Islam lainnya, mufti di negara-negara Arab diangkat oleh pemerintah yang berkuasa di negara tersebut. Sedangkan pemberi fatwa di negara-negara Islam non-Arab, seperti halnya di Indonesia, merupakan suatu lembaga yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki kemampuan ilmu Islam sangat baik atau lazim disebut ulama dalam wadah Mejelis Ulama seperti di sini.

Pro dan kontra seputar fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bukan hanya terjadi baru-baru ini, seperti terhadap fatwa mengenai golongan putih dan merokok, tetapi juga terjadi beberapa tahun yang lalu setiap kali lembaga ini menetapkannya. Jika kita menoleh ke belakang, di masa Orde Baru Komisi Fatwa MUI pernah mengeluarkan fatwa seperti mengenai Natal Bersama, Bunga Bank dan SDSB. Sebagaimana halnya respons terhadap fatwa-fatwa yang baru-baru ini dikeluarkan, produk-produk hukum di atas juga mendapatkan sikap pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat padahal saat itu kebebasan mengemukakan pendapat tidak seperti setelah angin reformasi bergulir seperti saat ini. Bahkan, saat itu mencuat sinyalemen yang mengungkapkan bahwa ada suatu ormas Islam di negeri ini yang mendapatkan bantuan dana dari salah satu kegiatan yang termasuk diharamkan oleh fatwa MUI tersebut. Begitulah sejarah fatwa yang dikeluarkan oleh MUI selalu mendapatkan pro dan kontra, sikap ini lahir berdasarkan pandangan masing-masing pihak, di satu sisi kelompok yang mendukung merasa bahwa dengan hadirnya fatwa tersebut maka akan terbantu dan terpecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, akan tetapi kelompok yang menolak tentu beranggapan bahwa fatwa tersebut dapat menyudutkan dan menghambat mereka.

Namun demikian, sebenarnya jika memperhatikan sosio-kultural masyarakat kita maka tidak ada yang perlu begitu dikhawatirkan mengenai keberadaan fatwa dalam kehidupan masyarakat negeri ini. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menyikapi fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI tersebut, yaitu: pertama, meskipun berpredikat sebagai negeri muslim terbesar di dunia, namun masyarakat Indonesia sangat plural tidak hanya dari aspek keragaman budaya dan agama, tetapi juga plural dalam pemahaman dan implementasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian memunculkan aneka ragam ormas Islam. Realitas ini dapat dicermati dengan respons masyarakat, khususnya Islam, terhadap beragam kebijakan yang berkaitan dengan Islam, baik oleh pemerintah, legislatif dan MUI. Respons-respons yang mengemuka tersebut ternyata datang dari kalangan Islam yang beraneka ragam dalam masyarakat kita, baik yang menolak maupun yang mendukung, seperti respons terhadap undang-undang pornografi yang baru disahkan DPR, beragam peraturan daerah yang berkaitan dengan keislaman, undang-undang perbankan dan keuangan syari’ah dan tentu yang masih segar dalam ingatan kita seputar fatwa MUI mengenai golongan putih, merokok, yoga dan lain sebagainya yang baru difatwakan oleh MUI.

Terdapat banyak teori yang dikemukakan para pakar mengenai pluralisme Islam di Indonesia jika dibandingkan negeri-negeri Islam lain yang seragam. Ada yang beranggaan bahwa hal ini terjadi karena perbedaan latar belakang pendidikan yang ditempuh oleh tokoh-tokoh Islam tanah air, dimana yang berlatar belakang Barat (sekuler) akan berpandangan liberal terhadap ajaran Islam sedangkan sebaliknya yang berpendidikan Islam (pesantren) akan konservatif terhadap ajaran-ajaran Islam. Di samping itu, metode islamisasi dengan mengakomodasi budaya lokal Hinduis-Budhais yang dilakukan oleh para penyebar Islam terdahulu, utamanya Wali Songo di Jawa, juga dianggap turut berandil besar dalam terciptanya pluralisme dalam masyarakat Islam negeri ini sehingga memunculkan kategorisasi seperti yang dikemukakan Clifford Geertz, yaitu: abangan, santri dan priyayi.

Kedua, produk hukum Islam yang dikeluarkan MUI dalam bentuk fatwa meskipun cukup dikenal dalam sejarah dan dunia Islam, tetapi telah terbukti tidak berdampak signifikan dalam kehidupan masyarakat negeri ini. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar masyarakat Islam Indonesia tidak terbiasa dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI karena tidak ada kewajiban yang mengikat dan memaksa layaknya undang-undang negara. Realitas ini juga diamini oleh para petinggi MUI, terkecuali jika fatwa-fatwa yang dikeluarkan tersebut diakomodasi oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang, dimana selama sebelum masa reformasi tidak pernah terjadi, bahkan tidak jarang fatwa-fatwa tersebut berseberangan dengan pemerintah seperti yang terjadi dengan fatwa SDSB di masa lalu. Masyarakat Islam Indonesia memang dibiasakan dan dibentuk menjadi masyarakat sekuler yang memisahkan agama dan negara, sehingga upaya-upaya bernuansa agama yang dilakukan sangat tidak memiliki dampak dalam masyarakat. Fatwa rokok, misalnya, bukan baru kali ini saja MUI mengeluarkan fatwa mengenai hal ini meskipun belum pada taraf pengharaman. Bahkan, ketidakmanfaatan rokok bagi manusia telah jauh-jauh hari difatwakan oleh ormas-ormas Islam semisal Majelis Tarjih Muhammadiyah dan Bahsul Masail Nahdhatul Ulama yang menetapkannya makruh atau dibenci. Namun demikian, setelah sekian tahun ditetapkan hukumnya justru industri rokok kian berkembang pesat. Di beberapa daerah yang menjadi kantong industri rokok, mayoritas masyarakat justru sangat bergantung dari industri yang menggunakan tembakau sebagai bahan baku utamanya ini. Untuk menyebut contoh, misalnya, Kediri yang menjadi tempat pabrik salah satu perusahaan rokok terbesar di tanah air menyumbang APBD terbesar dan menghidupi hampir 70 persen penduduk wilayah ini. Selanjutnya, Temanggung yang menjadi salah satu sentra perkebunan tembakau sebagai penyuplai pabrik-pabrik rokok di Pulau Jawa yang menjadi mata pencaharian utama masyarakatnya.

Di samping itu, salah satu indikasi yang makin menguatkan asumsi bahwa fatwa tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat jika dilihat dari sisi fatwa rokok adalah kenyataan bahwa industri rokok justru berkembang pesat di kawasan yang menjadi kantong Nahdhatul Ulama. Sebagaimana diketahui bahwa jauh-jauh hari NU telah memfatwamakruhkan rokok, tetapi justru sesuatu yang dibenci ini berkembang pesat di lingkungannya, bahkan kebanyakan kyai NU juga perokok dalam beragam kadarnya. Apa yang terjadi dengan rokok ternyata juga mengemuka dengan perbuatan lain yang jelas-jelas haram dan berdosa seperti prostitusi, minuman keras dan lain sebagainya. Begitu juga dengan fatwa film 2012 yang terbukti tidak mampu menghalangi masyarakat untuk menonton film tersebut justru di tempat film tersebut ditayangkan, Surabaya dan beberapa kota lainnya di Jatim.

Berangkat dari realitas ini dapat dikatakan bahwa fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga fatwa tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Hal ini karena bagi masyarakat umumnya, apa yang terlihat dan dianggap menguntungkan maka akan terus mereka lakukan apapun resikonya. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan hanya menyentuh sebagian kecil masyarakat yang justru sebenarnya tidak terlibat langsung dengan hal-hal tersebut. Persoalan mendesak yang perlu dilakukan saat ini adalah mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara riil dengan membuka alternatif pekerjaan lain dengan dampak perekonomian yang tidak kalah menguntungkan, bahkan jika mungkin lebih menggiurkan. Dengan demikian, lambat laun masyarakat yang selama ini berkecimpung di pekerjaan yang difatwakan tersebut akan beralih kepada pekerjaan lain lebih baik dan sesuai dengan tuntunan ajaran agamanya.