Category Archives: Pendidikan

Mengenal Majelis Taklim

Oleh: Fahrudin HM, M.A.

Majelis taklim berasal dari dua suku kata, yaitu kata majlis dan kata ta’līm. Dalam bahasa Arab kata majlis (مجلس) adalah bentuk isim makan (kata tempat) dari kata kerja jalasa (جلس) yang berarti tempat duduk, tempat sidang, dan dewan (Munawwir, 1997: 202). Dengan demikian majelis adalah tempat duduk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 120). Sedangkan kata ta’līm (تعليم) dalam bahasa Arab merupakan masdar dari kata kerja ‘allama (علم) yang mempunyai arti pengajaran (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 1035). Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa majelis adalah pertemuan atau perkumpulan orang banyak atau bangunan tempat orang berkumpul (Depdikbud RI, 1999:615).

Dengan demikian majelis taklim dapat dipahami sebagai suatu institusi dakwah yang menyelenggarakan pendidikan agama yang bercirikan non-formal, tidak teratur waktu belajarnya, para pesertanya disebut jamaah, dan bertujuan khusus untuk usaha memasyarakatkan Islam (Siregar & Shofiuddin, 2003: 16). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa majelis taklim adalah wadah atau tempat berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar atau pengajian pengetahuan agama Islam (Tim Editor, 2007: 237) atau tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam.

Adanya majelis taklim di tengah-tengah masyarakat bertujuan untuk menambah ilmu dan keyakinan agama yang akan mendorong pengalaman ajaran agama, sebagai ajang silaturahmi anggota masyarakat, dan untuk meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga dan lingkungan jamaahnya (Alawiyah, 1997: 78). Masih dalam konteks yang sama, majelis taklim juga berguna untuk membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT, menjadi taman rohani, ajang silaturrahim antara sesame muslim, dan menyampaikan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa (Jaelani, 2007: 237-238). Sementara itu, maksud diadakannya majelis taklim menurut M. Habib Chirzin (2000: 77) adalah:

1)      Meletakkan dasar keimanan dalam ketentuan dan semua hal-hal yang gaib;

2)      Semangat dan nilai ibadah yang meresapi seluruh kegiatan hidup manusia dan alam semesta;

3)      Sebagai inspirasi, motivasi dan stimulasi agar seluruh potensi jamaah dapat dikembangkan dan diaktifkan secara maksimal dan optimal dengan kegiatan pembinaan pribadi dan kerja produktif untuk kesejahteraan bersama;

4)      Segala kegiatan atau aktifitas sehingga menjadi kesatuan yang padat dan selaras.

Masih dalam konteks yang sama, tujuan majelis taklim adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran beragama di kalangan masyarakat Islam, meningkatkan amal ibadah masyarakat, mempererat tali silaturrahmi di kalangan jamaah, membina kader di kalangan umat Islam, membantu pemerintah dalam upaya membina masyarakat menuju ketakwaan dan mensukseskan program pemerintah di bidang pembangunan keagamaan (Tim Editor, t.t.: 675).

Dilihat dari struktur organisasi yang dimilikinya, majelis taklim dapat dikategorikan sebagai organisasi pendidikan luar sekolah yaitu lembaga pendidikan bersifat non-formal, karena tidak didukung oleh seperangkat aturan akademik kurikulum, lama waktu belajar, tidak ada kenaikan kelas, buku raport, ijazah dan sebagainya sebagaimana yang  disyaratkan pada lembaga pendidikan formal yaitu sekolah (Huda, 1986/1987: 13). Pendidikan luar sekolah berdasarkan Undang-Undang Sistim Pendidikan Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 adalah suatu proses pendidikan yang sasaran, pendekatan, dan keluarannya berbeda dengan pendidikan sekolah. Sedangkan berdasarkan pada tujuannya, majelis taklim termasuk sarana dakwah Islamiyah yang secara self-standing dan self disciplined yang mengatur dan melaksanakan berbagai kegiatan berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi kelancaran pelaksanaan taklim Islami sesuai dengan tuntutan pesertanya.

Meskipun dikategorikan sebagai lembaga pendidikan non-formal Islam, namun majelis taklim mempunyai kedudukan tersendiri di tengah-tengah masyarakat (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121-122). Hal ini karena majelis taklim merupakan wadah untuk membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT SWT. Di samping itu, majelis taklim juga merupakan  taman rekreasi rohaniah, karena penyelenggaraannya dilakukan secara santai. Faktor lainnya yang membuat majelis taklim cukup diminati masyarakat adalah karena lembaga pendidikan non-formal ini adalah wadah silaturahmi yang menghidup suburkan syiar Islam dan sebagai media penyampaian gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, majelis taklim memiliki materi-materi yang disampaikan dan diajarkan kepada para pesertanya. Materi yang umumnya ada dan pelajari dalam majelis taklim mencakup pembacaan, al-Qur’an serta tajwidnya, tafsir bersama ulumul al-Qur’an, hadits dan fiqih serta ushul fiqh, tauhid, akhlak ditambah lagi dengan materi-materi yang dibutuhkan para jamaah misalnya masalah penanggulangan kenakalan anak, masalah Undang-Undang Perkawinan dan lain-lain. Adapun kitab-kitab berbahasa Indonesia yang biasanya dijadikan pegangan adalah Fiqih Islam karangan Sulaiman Rasyid dan beberapa buku terjemahan lainnya (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121-122). Sedangkan menurut Pedoman Majelis taklim yang dikeluarkan oleh Koordinasi Dakwah Islam (KODI), materi yang disampaikan dalam majelis taklim adalah (Huda, 1996/1997: 13)

1)      Kelompok Pengetahuan Agama, yang mencakup di dalamnya tauhid, tafsir, Fiqih, hadits, akhlak, tarikh, dan bahasa Arab.

2)      Kelompok Pengetahuan Umum, yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang dikaitkan dengan agama. Artinya, dalam menyampaikan uraian-uraian tersebut berdasarkan dalil-dalil agama baik berupa ayat-ayat al-Qur’an atau hadits-hadits atau contoh-contoh dari kehidupan Rasulullah SAW. Penambahan dan pengembangan materi dapat saja terjadi di majelis taklim melihat semakin majunya zaman dan semakin kompleks permasalahan yang perlu penanganan yang tepat. Wujud program yang tepat dan aktual sesuai dengan kebutuhan jamaah itu sendiri merupakan suatu langkah yang baik agar majelis taklim tidak terkesan kolot dan terbelakang. Majelis taklim adalah salah satu struktur kegiatan dakwah yang berperan penting dalam mencerdaskan umat, maka selain pelaksanaannya dilaksanakan secara teratur dan periodik juga harus mampu membawa jamaah ke arah yang lebih baik lagi.

Sistim pengajaran yang diterapkan dalam majelis taklim terdiri dari beragam metode. Secara umum, terdapat berbagai metode yang digunakan di majelis taklim, yaitu (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 43-45) :

1)      Metode Ceramah, yang dimaksud adalah penerangan dengan penuturan lisan oleh guru terhadap peserta.

2)      Metode Tanya Jawab, metode ini membuat peserta lebih aktif. Keaktifan dirangsang melalui pertanyaan yang disajikan.

3)      Metode Latihan, metode ini sifatnya melatih untuk menimbulkan keterampilan dan ketangkasan.

4)      Metode Diskusi, metode ini akan dipakai harus ada terlebih dahulu masalah atau pertanyaan yang jawabannya dapat didiskusikan.

Sedangkan metode penyajian yang dilakukan di majelis taklim dapat dikategorikan menjadi (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121) :

1)      Metode Ceramah, terdiri dari ceramah umum, yakni pengajar/ustadz/kiai tindak aktif memberikan pengajaran sementara jamaah pasif dan ceramah khusus, yaitu pengajar dan jamaah sama-sama aktif dalam bentuk diskusi.

2)      Metode Halaqah, yaitu pengajar membacakan kitab tertentu, sementara jamaah mendengarkan.

3)      Metode Campuran, yakni melaksanakan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan.

Institusi pendidikan non-formal ini telah lama tumbuh dan berkembang di tengah-tengah komunitas muslim sebagai lembaga dakwah plus pendidikan dan menjadi lembaga yang paling banyak diminati oleh komunitas muslim dalam mengembangkan wawasan keagamaannya (Siregar & Shofiuddin, 2003: 7).

Di samping statusnya sebagai institusi pendidikan Islam non-formal, majelis taklim sekaligus juga merupakan lembaga dakwah yang memiliki peran strategis dan penting dalam pengembangan kehidupan beragama bagi masyarakat. Majelis taklim sebagai institusi pendidikan Islam yang berbasis masyarakat memiliki peran yang strategis terutama terletak pada upayanya mewujudkan learning society, suatu masyarakat yang memiliki tradisi belajar tanpa di batasi oleh usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan dapat menjadi wahana belajar, serta menyampaikan pesan-pesan keagamaan, wadah mengembangkan silaturrahmi dan berbagai kegiatan kegamaan lainnya, bagi semua lapisan masyarakat. Peranannya yang strategis demikian pada gilirannya membuat majelis taklim diintegrasikan sebagai bagian penting dari Sistim Pendidikan Nasional. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI pasal 26 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan non-formal diperlukan untuk menambah dan melengkapi pendidikan formal. Bahkan pada ayat 4 dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut secara eksplisit disebutkan bahwa majelis taklim merupakan bagian dari pendidikan non-formal. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa majelis taklim merupakan bagian penting dari Sistim Pendidikan Nasional.

Sebagai bagian dari Sistim Pendidikan Nasional, majelis taklim melaksanakan fungsinya pada tataran non-formal, yang lebih fleksibel, terbuka, dan merupakan salah satu solusi yang seharusnya memberikan peluang kepada masyarakat untuk menambah dan melengkapi pengetahuan yang kurang atau tidak sempat mereka peroleh pada pendidikan formal, khususnya dalam aspek keagamaan. Kedudukan majelis taklim yang demikian semakin mendapat dukungan dari masyarakat yang indikasinya bisa dilihat semakin berkembangnya majelis taklim dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan pertumbuhan kuantitas majelis taklim di seluruh Indonesia berdasarkan data yang terdapat di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama RI.

Tabel 1:

Majelis Taklim di Indonesia

No

2006/2007

2008/2009

Majelis Taklim

Peserta

Pengajar

Majelis Taklim

Peserta

Pengajar

1

153. 357

9.867.873

375.095

161.879

9.670. 272

366.200

Peserta Laki-Laki

4.002.434

Peserta Perempuan

5.667.838

Sumber: Data diolah dari Laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama Tahun 2006 & Tahun 2008.

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa jumlah majelis taklim di Tanah Air mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah majelis taklim adalah sebanyak 153. 357 unit dengan jumlah jama’ah sebanyak 9.867.873 orang dan tenaga pengajar sejumlah 375.095 orang (272.454 orang laki-laki dan 102.641 perempuan). Sedangkan selang dua tahun kemudian jumlah majelis taklim di Indonesia terus mengalami peningkatan menjadi 161.879 unit di tahun 2008. Adapun peserta yang mengikuti majelis taklim di tahun ini sebanyak 9.670. 272 dan didukung tenaga pengajar sejumlah 366.200 orang. Salah satu hal yang menarik diperhatikan adalah ternyata dari sejumlah 9.670. 272 orang menjadi anggota majelis taklim di tahun 2008 sebanyak  5.667.838 (58,6%) adalah perempuan atau kaum ibu, baru sisanya laki-laki atau bapak-bapak sebanyak 4.002.434 (41,4%). Hal ini tentu semakin menguatkan asumsi bahwa majelis taklim cenderung menjadi ajang berkumpul, berinteraksi dan arena belajar bagi kalangan perempuan atau ibu-ibu(Anitasari, 2010: 5) meskipun sebenarnya lembaga dakwah ini tidak ditujukan kepada jenis kelamin tertentu.

Daftar Pustaka

Alawiyah, Tuti. 1997. Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim. Bandung: Mizan. Cetakan Pertama.

Anitasari, Dini. dkk. 2010. Perempuan dan Majelis Taklim: Membicarakan Isu Privat Melalui Ruang Publik Agama. Bandung: Research Repport Rahima April 2010.

Chirzin, M. Habib. 1997. Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES. Cetakan Ketiga.

Dewan Redaksi Ensiklopedi. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Cetakan Keempat. Jilid 3.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka. Cetakan Kesepuluh.

Djaelani, Bisri M. 2007. Ensiklopedi Islam. Yogyakarta: Panji Pustaka Yogyakarta.

Huda, H. Nurul (ed.). 1986/1987. Pedoman Majelis Taklim. Jakarta: Koordinasi Dakwah Islam (KODI).

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Progresif. Cetakan Keempat Belas.

Saleh, Abdul Rahmah. 2000. Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta: PT. Gemawindu Panca Perkasa.

Siregar, H. Imran dan Moh. Shofiuddin. 2003. Pendidikan Agama Luar Sekolah (Studi Tentang Majelis Taklim). Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI.


Yogyakarta, Menjelang Penutupan Tahun 2012.

Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) Sumatera Selatan

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Barangkali tidak banyak yang tidak tahu Sungai Musi. Sebuah sungai terbesar di Sumatra, bahkan di Indonesia. Atau mungkin cukup banyak yang tahu Musi Banyuasin. Ya, Musi Banyuasin adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan dengan ibu kota Sekayu dan jumlah penduduk sebesar 561.458 jiwa. Namanya memang mengambil nama sungai kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan itu. Sungai Musi memang mengalir di sebagian besar wilayah Musi Banyuasin, terutama sebelum pemekaran wilayah ini menjadi Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupeten Banyuasin beberapa tahun yang lalu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.265,96 km² atau 15 persen dari keseluruhan luas Provinsi Sumatra Selatan dan membentang pada lokasi 1,3° – 4° LS, 103° – 105° BT (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 2). Pada awalnya, Kabupaten Musi Banyuasin berbatasan langsung dengan Kota Palembang di sebelah timur, namun melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 2002 di wilayah ini terjadi pemekaran sehingga terbentuk Kabupaten Banyuasin dengan ibukota Pangkalanbalai.

Secara geografis, Kabupaten Musi Banyuasin berbatasan dengan Provinsi Jambi (Kabupaten Muara Jambi) di sebelah utara, Kabupaten Muara Enim di selatan, Kabupaten Musi Rawas di sebelah barat dan Kabupaten Banyuasin di sebelah timur. Sampai saat ini, Kabupaten Musi Banyuasin terdiri dari 14 kecamatan dengan Banyung Lencir sebagai kecamatan yang memiliki wilayah terluas (33,98%) dan Lawang Wetan sebagai kecamatan dengan wilayah terkecil sebesar 1,63 persen (Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba, 2011: 10). Di samping itu, Kabupaten Musi Banyuasin juga memiliki 236 desa/kelurahan, di mana Lalan merupakan kecamatan yang memiliki jumlah desa/kelurahan terbanyak (26 buah) sedangkan Babat Supat merupakan kecamatan yang memiliki jumlah desa/kelurahan paling sedikit dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya (11 buah).

Tabel 1:

Kabupaten Musi Banyuasin Menurut Kecamatan

No

Kecamatan

Luas Wilayah (Km2)

Persentase

(%)

Jumlah Penduduk

Jumlah Desa/Kelurahan

1

 Babat Toman

1.291,00

9,05

28.715

12

2

 Plakat Tinggi

   247,00

1,73

22.043

15

3

 Batanghari Leko

2.107,79

14,77

21.156

16

4

 Sanga Desa

   317,00

2,22

30.032

19

5

 Sungai Keruh

   629,00

4,41

40.595

22

6

 Sekayu

   701,60

4,92

78.637

14

7

 Lais

   755,53

5,30

52.353

14

8

 Sungai Lilin

   374,26

2,62

52.792

19

9

 Keluang

   400,57

2,81

28.342

14

10

 Bayung Lencir

4.847,00

33,98

71.893

25

11

 Lalan

1.031,00

7,23

37.638

26

12

 Lawang Wetan

   232,00

1,63

23.925

15

13

 Babat Supat

   511,02

3,58

32.953

11

14

 Tungkal Jaya

   812,19

5,75

43.359

14

Jumlah

14.265,96

100

561.458

236

Sumber: Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba 2011.

Kabupaten Musi Banyuasin merupakan salah satu wilayah terkaya di Provinsi Sumatra Selatan, bahkan di Indonesia, di mana sumber utama perekonomiannya ditopang oleh pertambangan dan energi. Sebagai salah satu wilayah Nusantara yang memiliki sumberdaya alam berupa bahan tambang yang banyak, Kabupaten Musi Banyuasin menggantungkan perekonomiannya (PDRB) dari sumbangan sektor pertambangan dan energi hingga mencapai 66,86 persen (Buku Saku Profil Daerah Kab. Muba, 2011: 23). Sampai tahun 2010, Kabupaten Musi Banyuasin telah menghasilkan 11.626.680 barrel minyak mentah dan 340.964,68 MMBTU gas bumi. Kenyataan ini menempatkan Kabupaten Musi Banyuasin sebagai kabupaten kelima di Indonesia sebagai penghasil minyak dan gas bumi. Minyak dan gas bumi merupakan bahan tambang utama yang diusahakan oleh Kabupaten Musi Banyuasin, baik oleh perusahaan dalam negeri seperti PT. Pertamina; PT. Babat Kukui dan PT. Surya Raya Teladan, maupun perusahaan asing semisal PT. Conocco Philips dan lain sebagainya. Kedua bahan tambang tersebut tersebar di hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, utamanya di Kecamatan Sungai Lilin, Bayung Lencir, Sungai Keruh dan Batanghari Leko. Meskipun demikian, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi potensi batubara juga menjadi komoditas yang layak diperhitungkan untuk diusahakan di masa mendatang.

Di samping bahan tambang yang menyumbang 66,86 persen PDRB Kabupaten Musi Banyuasin, pertanian dan perkebunan juga menjadi sektor utama di wilayah ini. Dengan kondisi wilayah yang beriklim tropis basah dan curah hujan rata-rata antara 87,83 mm – 391,6 mm sepanjang tahun, sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu bagian terpenting dalam masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin. Komoditas utama sektor pertanian dan perkebuan di Kabupaten Musi Banyuasin adalah padi, karet dan kelapa sawit, di samping itu beberapa jenis lain juga diusahakan oleh masyarakat di wilayah ini, seperti kopi, cengkeh, lada, gambir, kelapa dan jambu mete. Pada tahun 2010, realisasi produksi padi di Kabupeten Musi Banyuasin adalah sejumlah 269.144 ton yang terdiri dari padi sawah (224.414 ton) dan padi ladang (44.730 ton), sedangkan luas komoditas lainnya (palawija) adalah 12.774 hektar.

 

Tabel 2:

Karet dan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin

No

Kecamatan

Jumlah Areal (Ha)

Karet

Kelapa Sawit

1

Babat Toman

10.279

     115

2

Plakat Tinggi

  5.915

     271

3

Batanghari Leko

17.233

     497

4

Sanga Desa

12.659

     163

5

Sungai Keruh

22.141

     245

6

Sekayu

15.757

     237

7

Lais

14.996

     607

8

Sungai Lilin

  6.089

  2.335

9

Keluang

16.233

     958

10

Bayung Lencir

21.173

14.559

11

Lalan

     123

     251

12

Lawang Wetan

9.038

     112

13

Babat Supat

13.357

  1.845

14

Tungkal Jaya*

        0

         0

Jumlah

164.993

22.195

*Ket.: Data Kec. Tungkal Jaya masih tergabung dalam Kec. Bayung Lencir

Sumber: Musi Banyuasin Dalam Angka, 2010/2011.

Karet dan kelapa sawit di Kabupaten Musi Banyusian usahakan oleh rakyat dan perkebunan besar, baik swasta maupun pemerintah melalui PTPN (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 167 & 169). Perkebunan karet rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin adalah sebesar 164.993 hektar dengan memproduksi  106.516 ton sedangkan perkebunan swasta sebesar 4.148 hektar dengan memproduksi sebanyak 4.167 ton. Adapun kelapa sawit rakyat adalah sebanyak 22.195 hektar dengan memproduksi 264.595 ton sedangkan perkebunan swasta sebesar 191.245 hektar yang terdiri dari perkebunan swasta asing (69.503 hektar) dan swasta nasional (121.742 hektar) dan memproduksi sebesar 1.533.953 ton. Perkebunan karet rakyat tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, di mana Sungai Keruh menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan karet rakyat terbanyak (22.141 hektar) sedangkan Lalan menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan karet rakyat terkecil (123 hektar). Seperti halnya karet, kelapa sawit rakyat juga tersebar di berbagai wilayah dalam Kabupaten Musi Banyuasin, di mana Bayung Lencir menjadi kecamatan yang memiliki areal perkebunan kelapa sawit rakyat terbesar (14.559 hektar), sedangkan Babat Toman menjadi kecamatan dengan luas areal kelapa sawit rakyat paling sedikit (115 hektar). Dari data di atas (tabel 2) dapat diketahui bahwa jumlah areal perkebunan karet rakyat lebih besar (164.993 hektar) dibandingkan dengan kelapa sawit rakyat (22.195 hektar). Data ini sekaligus juga mengungkapkan bahwa sebagain besar masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin menggantungkan perekonomiannya pada pengusahaan perkebunan karet rakyat, atau dapat pula berarti bahwa karet menjadi komoditas yang paling banyak diminati oleh masyarakat Musi Banyuasin.

Sebagai kabupaten yang berada dalam kategori wilayah kaya di Indonesia sebagai dampak dari pertambangan dan perkebunannya, Musi Banyuasin menaruh perhatian yang besar di dunia pendidikan. Berdasarkan data hingga tahun 2010, jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Musi Banyuasin adalah sebanyak 619 buah, mulai dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA hingga Perguruan Tinggi (PT) seperti Politeknik, Akademi Keperawatan (Akper) dan Sekolah Tinggi. Di samping itu, jumlah peserta didik hingga tahun yang sama tercatat sebanyak 128.124 orang yang terdiri dari siswa dan mahasiswa yang tersebar di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin.

Tabel 3:

Sarana Pendidikan dan Jumlah Siswa/Mahasiswa

No

Tingkat Pendidikan

SD/MI

SMP/MTs

SMA/MA

PT

1

442

110

62

5

Jumlah Siswa

81.558

26.462

17.058

3.046

Sumber: Muba Dalam Angka, 2010/2011.

Musi Banyuasin juga banyak memiliki lembaga pendidikan agama, seperti pesantren yang tersebar di seantero wilayah kabupaten ini. Salah satu pondok pesantren yang terkenal dan terbesar di kabupaten ini adalah Pondok Pesantren Assalam yang terletak di Desa Sri Gunung Kecamatan Sungai Lilin. Pesantren yang terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Palembang dan Jambi ini (Lintas Timur) didirikan pada tahun 1987 oleh seorang ustadz dari Lampung (KH. Masrur Musir) dan hingga saat ini terdiri dari tingkat TK hingga perguruan tinggi (sekolah tinggi). Para santrinya berasal dari berbagai daerah di Sumatra, seperti Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Babel, Bengkulu, NAD, Sumatra Barat dan Sumatra Utara dan sampai saat ini telah menghasilkan ratusan lulusan yang menempuh pendidikan lanjutan di berbagai perguruan tinggi di Tanah Air, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Palembang, Jambi dan Padang serta ke luar negeri, seperti Mesir, Sudan, Arab Saudi dan Yaman. Pesantren ini semakin berkibar menjelang tahun 1990 seiring dengan kedatangan kyai karismatik dari Pesantren Darussalam Lampung, KH. Masrur Musir, yang merupakan kakak kandung sang pendiri. Pendidikan di pesantren ini diselenggarakan dengan cara memadukan ilmu pengetahuan agama dan umum, dimana apa yang diajarkan di SD, SMP dan SMA juga diajarkan di pesantren ini.

Di samping pendidikan, sektor kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam pembangunan di Kabupaten Musi Banyuasin. Sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang sehat, Kabupaten Musi Banyuasin membangun berbagai sarana kesehatan dan menyediakan beragam perangkat kesehatan. Berdasarkan data hingga tahun 2010, sarana kesehatan berupa puskesmas adalah sebanyak 126 unit dan tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba Dalam Angka, 2010/2011: 62). Puskesmas-puskesmas tersebut dilengkapi dengan tenaga medis sebanyak 1.260 orang yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat dan lain sebagainya serta fasilitas kesehatan yang baik. Puskesmas-Puskesmas yang dibangun di kabupaten ini dibuat layaknya sebuah rumah sakit, baik dari sisi bentuk fisik bangunan yang bagus maupun fasilitas kesehatan yang dimilikinya.

Yogyakarta, medio awal 2012.

Film ‘Perempuan Berkalung Surban’ dan Sosiologi Sastra

Oleh: Pahrudin HM, MA.

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui bahwa lembaga pendidikan adalah tempat terjadinya interaksi antara murid dengan pengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Ada banyak lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah dunia yang memiliki fungsi utamanya untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Dalam sejarah modern tentu kita sudah sangat familier dengan beragam lembaga pendidikan dengan fungsi utama di atas, dari level terbawah yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkatan teratas dalam hirarkinya, yaitu perguruan tinggi. Masing-masing level tersebut memiliki karakteristik dan corak yang berbeda, TK merupakan gerbang pertama interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan pengajar dan satu tingkatan dapat menjadi lanjutan dari tngkatan sebelumnya, yaitu Sekolah Dasar (SD) merupakan lanjutan dari TK. Begitu juga dengan Sekolah Menengah, baik Pertama maupun Atas, yang merupakan lanjutan dari SD dan SMP, baru kemudian dilanjutkan ke perguruan tinggi.

Demikianlah lembaga pendidikan modern umum yang biasa dikenal dalam proses pengajaran ilmu pengtahuan kepada peserta didiknya. Namun demikian, ternyata lembaga pendidikan tidaknya mengenal nama-nama sebagaimana di atas karena masih ada lembaga lainnya yang juga mempunyai fungsi serupa, yaitu pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada peserta didiknya (santri) yang dikelola oleh tokoh agama (kyai). Pesantren hanya dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Namun demikian, lembaga pendidikan model seperti ini ada di setiap komunitas Islam di berbagai tempat, akan tetapi menggunakan nama yang berbeda, seperti ‘dayah’ di Aceh dan lain sebagainya.

Secara historis, pesantren merupakan jenis pusat pendidikan kedua setelah masjid yang telah ada pada awal abad ke-16 Masehi seiring dengan upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo di Pulau Jawa.[1] Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren mempunyai beberapa karakteristik, yaitu pertama pengajaran dengan metode, struktur dan literatur tradisional. Hal ini berlaku pada pesantren yang mempunyai pendidikan  formal di sekolah atau madrasah dengan jenjang pendidikan yang bertingkat-tingkat, maupun dengan sistem halaqah, dan sorogan. Ciri utama dari pengajaran ini adalah penekanan terhadap pemahaman secara harfiah atas suatu kitab tertentu yang akan membuat rendahnya daya analisis para santri. Kedua Pemeliharaan terhadap nilai tertentu, atau yang biasa disebut dengan sub kultur pesantren. Tata nilai atau sub kultur dimaksud adalah penekanan kepada nilai ibadah terhadap setiap kegiatan yang dilakukan santri, termasuk taat dan memuliakan guru merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan agama yang hakiki.

Sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan kepada para peserta didiknya (santri) pesantren memiliki sumber pengetahuan yang sangat banyak. Sumber pengetahuan yang umumnya ada dan banyak terdapat dalam pesantren, terutama pesantren tradisional sebagai kebalikan pesantren modern, adalah kitab-kitab yang berisikan ajaran-ajaran agama yang menjadi acuan orang-orang yang ada dalam pesantren. Melalui penelaahan terhadap beragam literatur keagamaan yang biasanya dikenal dengan ‘kitab kuning’ ini terbentuk model pemikiran yang menjelma menjadi tradisi yang berlaku dan dilaksanakan oleh segenap komponen yang ada di lembaga pendidikan Islam tersebut.

Salah satu tema yang banyak mendapat perhatian dan sorotan dalam pesantren adalah pandangan tentang perempuan. Berdasarkan penelaahan komponen yang ada di pesantren, utamanya yang dilakukan para kyai yang dianggap memiliki otoritas pengambil keputusan hukum, maka berlaku pandangan mengenai eksistensi perempuan. Dalam pandangan yang berlaku di beberapa pesantren, perempuan adalah makhluk Tuhan yang berada pada posisi di bawah laki-laki atau dalam bahasa lain, perempuan berkedudukan tidak setara dengan laki-laki. Akibat dari anggapan umum ini, beragam perlakuan turunannya juga memperlihatkan ketidaksetaraan tersebut, seperti persoalan kepemimpinan, beberapa pekerjaan yang hanya dikhususkan untuk laki-laki, hubungan suami istri dan menuntut ilmu. Satu sisi sumber yang dijadikan rujukan untuk menentukan sikap dan pandangan mengenai perempuan merupakan bahan yang sudah diakui keabsahannya, seperti al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dampak yang ditimbulkan adanya pandangan tersebut ternyata terjadi kebalikannya. Ketidakberdayaan dan ketergantungan serta keterpurukan perempuan terus terjadi akibat pemikiran yang menempatkan posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki.

Inilah yang menjadi setting sebuah film yang disutradarai oleh Hanung Bramantio yang berjudul ‘Perempuan Berkalung Surban’ atau selanjutnya disingkat ‘PBS’. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Abidah al-Khalieqy. Film ini menceritakan perjuangan yang dilakukan seorang ‘feminis’ bernama Annisa dalam usahanya keluar dari kungkungan ‘tradisi’ pesantren yang dianggapnya tidak berpihak dengan perempuan. Pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh para pengajarnya di kelas memperlihatkan ketidak-berpihakan terhadap perempuan menggunakan kitab-kitab kuning sebagai sumber rujukannya. Namun bagaimana sesungguhnya gambaran perempuan yang ada dalam tradisi pesantren tradisional atau bagaimanakah pandangan pesantren tradisional dalam melihat eksistensi perempuan.

B. Sosiologi Sastra

Sebagaimana diketahui bahwa sastra tidak lahir dalam kehampaan, akan tetapi ia hadir di tengah-tengah pembaca melalui pergulatan dengan banyak hal yang ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, tidak mengherankan jika salah satu perspektif dalam analisis sastra mengatakan bahwa sastra adalah cerminanan masyarakat tempat dimana sastra tersebut dilahirkan atau diciptakan. Demikian pula dengan salah satu model analisis sastra yang bernama sosiologi sastra.

Sosiologi sastra dapat didefinisikan sebagai cabang penelitian yang digunakan untuk mengkaji sastra yang bersifat reflektif.[1] Model penelitian ini lahir dari adanya perspektif yang memandang bahwa karya sastra merupakan manifestasi dari kondisi yang ada dalam masyarakat. Di samping itu sosiologi sastra juga dapat dimaknai sebagai model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra yang memfokuskan kajiannya pada masalah manusia.[2] Hal ini karena karya sastra yang dihadirkan para sastrawan mengetengahkan perjuangan manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi yang dimilikinya. Sosiologi sastra juga dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk mengkaji karya sastra dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan yang dihadirkan oleh penulisnya.[3] Dari paparan ini dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra adalah model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra untuk melihat sisi-sisi sosiologis yang ada dan terkandung di dalamnya.

F. Analisis Sosiologi Sastra Terhadap Film ‘Perempuan Berkalung Sorban’

Ada banyak pakar sastra yang mengetengahkan beragam model kajian terhadap karya sastra menggunakan sosiologi sastra. Akan tetapi, untuk keperluan kajian analisis terhadap film PBS ini, penulis menggunakan model kajian sosiologi sastra yang dipaparkan oleh Ian Watt. Hal ini karena menurut pandangan penulis, apa yang dikemukakan Watt mengenai metode kajian sastra perspektif sosiologi sastra lebih komprehensif dalam melihat konteks sosial yang tercermin dalam karya sastra tersebut.

Menurut salah satu teoritisi sastra kawakan ini, terdapat empat aspek yang harus dipelajari untuk mengkaji karya sastra dalam sosiologi sastra. Keempat aspek kajian tersebut adalah konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, genre sastra merupakan sikap kelompok tertentu, dan sastra menampilkan keadaan masyarakat secara menyeluruh.[4] Keempat hal ini harus dipelajari oleh seseorang yang mengkaji sebuah karya sastra menggunakan model analisis yang biasa dikenal dalam khazanah penelitian sastra dengan sosiologi sastra.

Selanjutnya, mari satu persatu keempat aspek kajian tersebut di atas diterapkan terhadap film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya seorang novelis Abidah el-Khalieqy ini.

1. Konteks Sosial Pengarang.

Karena film karya Hanung Baramantio ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Abidah el-Khalieqy, maka menurut penulis kajian yang dilakukan terhadapnya adalah segala hal yang berkaitan dengan novel yang merupakan adaptasinya. Untuk mengetengahkan konteks sosial pengarang, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, profesionalitas kepengarangan, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang tersebut.

Sebagai seorang sastrawati yang kelak menelorkan banyak karya sastra yang cukup berpengaruh di tanah air, Abidah sudah mengawali persinggungannya dengan dunia tulis menulis sejak masih bersekolah (nyantri) di Pesantren Bangil, Jawa Timur, yang ditamatkannya pada tahun 1984. Ternyata prestasinya di bidang sastra memang sudah terasah sejak masih nyantri di salah satu pesantren modern tersebut yang terbukti dengan kesuksesannya meraih beragam penghargaan, seperti Juara Penulisan Tsanawiyah Pesantren tahun 1982 dan Juara Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa tahun 1984.[5]

Persinggungan sastrawati kelahiran 1 Maret 1965 ini dengan dunia sastra kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan beragam forum sastra, seperti Teater Eska, ketika menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi. Hal ini terbukti dengan kesuksesannya mendapat penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Yogyakarta tahun 1998, pemenang Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003, dan memperoleh IKAPI dan Balai Bahasa Award tahun 2008. Begitu juga dengan beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya setelah berkuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri Yogyakarta yang makin banyak dan beragam. Di antara karya sastra yang ditelorkannya adalah puisi ‘Ibuku Laut Berkobar’ (1997), cerita pendek ‘Menari di Atas Gunting’ (2001), novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ (2001), novel ‘Atas Singgasana’ (2002), novel ‘Geni Jora’ (2004 dan lain sebagainya.[6]

Di samping itu, aktivitas kesehariannya Abidah juga tidak jauh dari dunia sastra yang memang telah lama digelutinya sekaligus yang telah membesarkan namanya. Di samping menulis beragam karya sastra, sastrawati kelahiran Jombang ini juga terlibat dan berperan aktif dalam beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra, seperti Pendidikan Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta dan  Apresiasi Sastra Keliling Indonesia pada Yayasan Indonesia dan Ford Fondation. Di samping itu, Abidah juga secara rutin menjadi sumber dalam beragam forum kajian sastra, seperti Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara, Sastra dan Agama di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, dan Jakarta International Literary Festival serta lain sebagainya.[7]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keseharian Abidah memang selalu bergelut dengan dunia sastra dan ia menghabiskan waktu dengan berkutat dengan dunia yang telah membesarkan namanya ini. Kesehariannya memang sepenuhnya berprofesi sebagai sastrawati yang senantiasa berusaha menelorkan beragam karya sastra. Profesionalitas kepengarangannya memang tidak diragukan lagi, meskipun latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuhnya bukanlah sastra karena ia seorang sarjana hukum Islam, tetapi beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya membuatnya layak disejajarkan dengan banyak sastrawan Indonesia lainnya. Dalam menelorkan karya sastranya, tidak jarang Abidah melakukan kajian dan penelaahan lapangan mengenai tema yang akan ia angkat. Sebagai contoh, untuk menghasilkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang kemudian diadaptasikan dalam bentuk film, Abidah melakukan penelaahan lapangan yang cukup lama di beberapa pesantren tradisional di Magelang dan berdiskusi dengan beragam pihak yang selama ini berkecimpung dengan tema-tema perempuan yang menjadi titik sentral novel ini.

Jika menilik beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya, baik yang berupa puisi dan cerita pendek maupun novel, maka akan terlihat sasaran yang dituju. Karya-karya sastra Abidah merupakan upaya yang dilakukannya untuk memperjuangkan perempuan agar mendapatkan hak-hak yang sepatutnya mereka peroleh. Puisi berjudul ‘Ibuku Laut Berkobar’ dan cerita pendek ‘Menari di atas Gunting’ misalnya, merupakan pandangan Abidah mengenai aspek historis perempuan yang dikaitkannya dengan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Begitu juga dengan novel ‘Atas Singgasana’ yang merupakan implementasi perjuangan Abidah untuk mengentaskan status dan posisi perempuan dari belenggu tradisi patriarkhal dalam ruang domestik maupun publik. Tujuan yang sama juga terdapat dalam novelnya ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang diadaptasikan seorang sutradara muda kawakan Hanung Baramantio menjadi film dengan judul yang sama merupakan upaya Abidah untuk mengkritik pandangan yang ada dalam sebuah pesantren tradisional mengenai perempuan.

2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sebuah karya sastra tidak hadir dalam kehampaan ke tengah-tengah para pembaca, tetapi ia berkaitan dengan lingkungan dan budaya yang menjadi tempat kelahirannya. Berkaitan dengan hal ini, pengarang ingin menampilkan realitas yang ada dan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra.

Dalam konteks ini, melalui novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ Abidah ingin menampilkan ke hadapan penikmat karya sastra sebuah realitas mengenai perempuan yang terjadi di sebuah pesantren tradisional (salaf). Dalam tradisi yang telah berlangsung lama dan dijadikan pegangan secara turun temurun di pesantren tradisional, perempuan adalah makhluk yang berbeda dengan laki-laki. Apa yang dapat dilakukan laki-laki tidak dapat dikerjakan oleh perempuan karena keduanya memang dipisahkan oleh banyak hal. Sebagai contoh, Annisa sebagai tokoh sentral dalam novel dan film ini selalu tidak diperbolehkan bermain dan menaiki kuda sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara dan teman-teman laki-lakinya karena posisinya sebagai perempuan. Begitu juga ketika Annisa hendak melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta, ternyata orang tuanya (ayahnya yang seorang kyai pesantren) tidak mengizinkannya karena perempuan harus selalu didampingi muhrimnya agar tidak timbul fitnah di tengah-tengah masyarakat. Hal yang sama juga terjadi dalam konteks kepemimpinan, dimana ketika secara demokratis Annisa telah dipilih dengan suara terbanyak oleh teman-teman kelas dan mengungguli kandidat lainnya. Akan tetapi, karena dalam kepercayaan tradisi pesantren yang dianut bahwa perempuan tidak diperkenankan menjadi pemimpin, maka ia ‘dipaksa’ untuk melepaskan haknya dan menyerahkannya kepada kandidat lainnya yang seorang laki-laki.

Inilah beberapa hal yang ditampilkan oleh Abidah dalam novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai eksistensi perempuan dalam pesantren tradisional. Gambaran ini merupakan realitas yang terjadi dan mengemuka di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam konteks ini adalah pesantren tradisional, yang dipantulkan oleh Abidah dalam karya sastranya tersebut. Perempuan dalam tradisi yang menjadi anutan pesantren tradisional berada di bawah laki-laki dan hanya berperan pada wilayah domestik, seperti rumah tangga, saja sedangkan laki-laki mengambil peranan di wilayah publik yang dapat melakukan apa saja.

3. Genre Sastra Adalah Sikap Kelompok Tertentu.

Sebuah karya sastra hadir ke hadapan para penikmatnya tentu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa kehadiran sebuah karya sastra memiliki latarbelakang dan membawa misi-misi tertentu yang berkaitan dengan pengarang atau penciptanya.

Dalam konteks ‘Perempuan Berkalung Sorban’, gambaran mengenai perempuan dalam pesantren tradisional yang coba dihadirkan oleh Abidah merupakan upaya untuk menyuarakan tujuannya. Annisa yang menjadi tokoh sentral dan mendominasi perjalanan ceritanya dihadirkan oleh Abidah untuk mengkritik atau membongkar pemahaman keliru mengenai perempuan yang selama ini menjadi pegangan para kyai dan penyelenggara pendidikan di pesantren tradisional. Sebagaimana diketahui bahwa Abidah merupakan sosok sastrawati feminis yang terus berupaya memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus juga berusaha merevisi pemahaman terhadap dalil-dalil agama (Islam) yang dianggap keliru dalam memandang perempuan.

Salah satu adegan yang ditampilkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah penentangan Annisa terhadap orang tuanya yang melarangnya berkuda sebagaimana yang dilakukan teman-teman laki-lakinya. Menurut Annisa, sebagai manusia layaknya teman-teman laki-lakinya ia juga mempunyai hak yang sama untuk melakukan pekerjaan yang disukainya, dalam konteks ini berkuda. Akan tetapi hal ini tidak diperkenankan oleh orang tuanya, terutama ayahnya, karena ia perempuan yang dianggap tidak pantas untuk melakukan hal itu. Larangan ayahnya ini dibantah oleh Annisa dengan mengatakan bahwa Aisyah (isteri Nabi Muhammad SAW) ternyata juga menunggang kuda, bahkan memimpin pasukan perang yang di dalamnya banyak terdapat sahabat Nabi yang laki-laki.

Persoalan mengenai pelarangan naik kuda yang diperlihatkan di atas sesungguhnya mengacu pada peran yang dilakoni oleh laki-laki dan perempuan yang memang senantiasa menghiasi perbincangan dalam Islam. Satu pihak menganggap bahwa perempuan hanya terbatas berperan di wilayah domestik yang hanya mencakup persoalan rumah tangga, sedangkan laki-laki berperan di wilayah publik yang mencakup segala hal yang ada dalam kehidupan. Pengetengahan gambaran ini dilakukan Abidah untuk mengkritik pemahaman yang membatasi peran yang dilakoni oleh perempuan yang sangat terbatas itu. Beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai laki-laki dan perempuan memperlihatkan bahwa kedua makhluk Tuhan ini memiliki hak yang sama dan tidak ada pembedaan antara keduanya.[8] Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat an-Naml ayat 20-44 yang menceritakan tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang memimpin sebuah kerajaan di Saba’, Yaman. Begitu juga dalam Surat al-Qashash ayat 23 yang mengetengahkan cerita mengenai pertemuan Nabi Musa dengan dua putri Nabi Syu’aib yang menunggu giliran menimba air dan memelihara ternak. Hal yang sama juga diperlihatkan dalam Surat at-Taubah ayat 71 yang menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam saling tolong menolong, pimpin memimpin dan bahu membahu dalam melaksanakan menyeru kebaikan dan melarang kejahatan.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah ‘keharusan’ Annisa melepaskan haknya menjadi pemimpin kelas. Dalam film ini diceritakan bahwa suatu hari di sekolah Annisa diadakan pemilihan ketua kelas yang diikuti oleh beberapa orang kandidat. Setelah diadakan pemilihan yang melibatkan teman-teman kelasnya, maka muncullah nama Annisa sebagai peraih suara terbanyak yang seharusnya membuatnya secara otomatis menjadi ketua kelas. Akan tetapi, karena statusnya yang perempuan maka hak ini harus ia lepaskan karena menurut gurunya, perempuan bukanlah pemimpin.

Gambaran ini diperlihatkan oleh Abidah sebagai kritikannya terhadap anggapan yang banyak beredar dan diyakini oleh banyak kalangan, khususnya dalam konteks ini para pengelola pesantren tradisional, bahwa kepemimpinan dalam setiap levelnya merupakan hak laki-laki. Jika dirunut, keyakinan seperti ini mengemuka atas pemahaman terhadap Surat An-Nisa’ ayat 34 yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkann sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”.

Jika memperhatikan sebab turunnya ayat ini, maka yang dimaksudkannya hanyalah dalam konteks rumah tangga dimana laki-laki dinobatkan sebagai pemimpin karena kapasitasnya sebagai penanggung nafkah bagi istri dan anak-anaknya.[9] Akan tetapi, dalam konteks kepemimpinan secara umum maka dapat dijumpai dalam Surat al-Maidah ayat 55 dan Surat an-Nisa’ ayat 59. Dalam kedua ayat ini, Allah menyatakan bahwa penolong (pemimpin) kaum muslim itu adalah Allah, Rasul dan Ulil Amri. Kriteria Ulil Amri yang dapat dijadikan pemimpin adalah beriman kepada Allah, mendirikan salat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, siapa pun (laki-laki dan perempuan) dapat dipilih menjadi pemimpin dan dapat menjadi pemimpin sepanjang memenuhi kriteria. Meskipun ayat di atas menggunakan kata yang berbentuk mudzakkar atau maskulin (alladzīna āmanū), namun demikian para mufassir sepakat bahwa yang dimaksudkannya adalah orang-orang mukmin yang laki-laki dan perempuan sebagaimana juga pada perintah Allah untuk melaksanakan puasa.[10]

Gambaran mengenai perempuan yang diperlihatkan oleh Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah mengenai hak untuk menuntut ilmu. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di pesantren, Annisa berkeinginan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Akan tetapi keinginan ini mendapatkan tentangan keras dari ayahnya karena ia seorang perempuan yang harus ditemani oleh muhrimnya agar menimbulkan fitnah, meskipun Annisa mengkritik ayahnya yang mempersilahkan saudara-saudara laki-lakinya untuk menempuh pendidikan ke mana saja mereka kehendaki, bahkan ke luar negeri seperti kakak pertamanya Wildan.

Anggapan ini merupakan pemahaman bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah sehingga harus ditemani kemana saja ia pergi. Di samping itu, anggapan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa perempuan itu menjadi sumber banyak kerusakan yang terjadi di masyarakat. Padahal dalam sejarah tercatat dengan tinta emas perjuangan yang dilakukan oleh beragam pahlawan perempuan, seperti Aisyah dan Cut Nyak Dien, yang dengan gagah berani memperjuangkan keyakinan dan haknya. Ini memperlihatkan bahwa kelemahan fisik bukanlah selalu disematkan kepada perempuan, karena sesungguhnya ada perempuan yang kuat dan sebaliknya ada juga laki-laki yang lemah. Kaitannya dengan sumber kerusakan sesungguhnya bukanlan selalu didominasi oleh perempuan, karena dalam banyak hal laki-laki pun dapat menjadi sumber dari terjadinya sebuah kerusakan.

Adegan lainnya yang diperlihatkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai perempuan dalam pesantren tradisional perlakuan semena-mena suami terhadap istrinya. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menikah dengan Udin karena perjodohan dari orang tuanya, Annisa tinggal di ruang sendiri dengan suaminya yang keluarganya ternyata telah banyak membantu pembiayaan pesantren. Dari sini mulailah beragam perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya. Hal ini terutama dalam konteks hubungan suami istri, dimana suaminya memperlakukannya secara kasar dan seenaknya saja karena beranggapan bahwa seorang istri harus mengikuti apa pun kemauan suaminya. Bagi Udin, berdasarkan pemahamannya terhadap dalil-dalil agama yang diajarkan orang tuanya yang juga seorang pengasuh pesantren, seorang istri harus selalu patuh dan mengikuti apa pun kemauan suaminya. Jika tidak atau istri membangkang maka Allah tidak menyukainya bahkan melaknat istri yang berbuat demikian.

Pemahaman merupakan tafsiran atas sebuah hadis yang menyatakan bahwa seorang istri harus selalu bersedia melayani suaminya. Jika tidak melakukannya, maka Allah akan melaknat istri tersebut hingga subuh datang menjelang. Akan tetapi, gambaran ini diperlihatkan Abidah sebagai kritikannya atas pemahaman yang keliru tersebut. Ada sesuatu yang dilupakan oleh Udin, dan para suami lain semacamnya, bahwa ketaatan yang dilakukan istri terhadap suaminya dan ketaatan seluruh muslim lainnya tentu dalam konteks kebaikan sehingga tidak bisa digeneralisasi kepada semuanya. Lihatlah tuntutan Udin yang meminta Annisa melayaninya padahal saat itu telah masuk waktu salat yang jelas-jelas menjadi perintah Allah yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslim.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan Abidah untuk mengemukakan pandangannya mengenai perempuan adalah mengenai poligami. Dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ diceritakan bahwa setelah cukup lama hidup berumah tangga dengan Udin, Annisa kedatangan tamu seorang perempuan yang meminta suaminya untuk bertanggung jawab karena ia telah dihamili. Setelah berembuk dengan keluarganya, akhirnya Udin melakukan poligami dengan menjadikan Annisa dan perempuan tersebut istrinya secara bersama-sama.

Dari gambaran ini Abidah hendak memperlihatkan bahwa begitu mudahnya laki-laki dalam tradisi pesantren tradisional untuk melakukan poligami atau beristri lebih dari satu. Hal ini berdasarkan pemahaman atas Surat An-Nisa’ ayat 3 yang menyatakan: “… Maka nikahilah perempuan yang kau kehendaki dua, tiga dan empat orang …”. Firman Allah ini dipahami seenaknya oleh laki-laki yang dalam konteks ini oleh Udin karena beranggapan bahwa hal itu memang diperintahkan oleh Allah. Padahal sesungguhnya untuk melakukan poligami tidaklah semudah itu karena harus memenuhi syarat-syarat yang sangat ketat, terutama harus mampu bersikap adil. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Udin kepada istri-istrinya sangat jauh dari ketentuan itu karena dalam film tersebut diungkapkan bahwa ia hanya menafkahi istri mudanya saja, sementara Annisa tidak.

Terakhir, gambaran yang diperlihatkan Abidah untuk mengungkapkan pandangannya yang ia yakini adalah upaya ‘memperbaiki’ model pemikiran yang berkembang di pesantren yang dianggap tidak sejalan. Dalm film tersebut diceritakan bagaimana usaha Annisa yang terus berupaya memasukkan beragam literatur ‘asing’ ke dalam pesantren agar dapat dibaca oleh para santri. Buku-buku yang dianggap ‘haram’ oleh pesantren terus disebarkan Annisa kepada para santri agar mereka mempunyai pemikiran yang terbuka dan tidak selalu berkutat dengan apa yang diajarkan selama ini. Meskipun pada awalnya mendapat penentangan yang keras dari banyak kalangan di pesantren, bahkan oleh kakaknya sendiri sebagai pemimpin sepeninggal ayahnya, hingga buku-bukunya dibakar oleh para penentangnya, tetapi usaha Annisa berbuah manis dengan berdirinya perpustakaan di pesantren tersebut.

Dari gambaran yang diperlihatkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ ini Abidah hendak mengatakan bahwa perjuangan dan upaya untuk memperbaiki ‘tradisi’ pemikiran yang ada di pesantren harus senantiasa dilakukan. Tradisi pemikiran yang jelas-jelas membelenggu kreativitas santri dengan mengatasnamakan agama harus diganti dengan model pemikiran yang berujung pada kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh para santri. Di samping itu, Abidah juga hendak mengatakan bahwa ilmu pengatahuan itu tidak terbatas pada pengajaran-pengajaran kegamaan saja, tetapi mencakup seluruh aspek yang ada bahkan dapat bersumber dari hal-hal yang selama ini dianggap sesat sekali pun. Ini diperlihatkan dengan upaya yang dilakukan Annisa yang memasukkan buku-buku karya Pramudya Ananta Toer yang selama ini dianggap sesat dan kiri untuk dibaca oleh para santri dan kemudian banyak menghiasi rak-rak buku perpustakaan yang akhirnya diizinkan berdiri di pesantren tersebut.

4. Sastra Menampilkan Keadaan Masyarakat Mendetail

Layaknya kehidupan yang dilakoni seorang anak manusia, film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ menghadirkan setiap aspek kehidupan masyarakat ke hadapan para penikmat sastra. Mulai dari masa kecil tokoh sentralnya, keluarga dengan segala dinamikanya, pernikahan lengkap dengan hubungan suami isteri yang dilaluinya, pendidikannya, pekerjaannya hingga upaya-upayanya mewujudkan cita-cita dan pemikirannya. Film ini menceritakan ‘pemberontakan’ terhadap tradisi dan perjuangan yang dilakukan seorang gadis bernama Annisa di sebuah pesantren tradisional yang menganggap perempuan berada dalam posisi tidak sejajar dengan laki-laki.

Ceritanya diawali dengan masa kecil Annisa bersama ayah, ibu dan kedua kakak laki-lakinya di sebuah pesantren yang dikelola oleh ayahnya. Salah satu kesukaannya yang ditentang oleh ayahnya adalah naik kuda di pinggir pantai dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Khudori. Dari sini mulai terjadi konflik dengan ayahnya yang terus memaksakan pemikiran yang menurut Annisa tidak dapat diterima, seperti pelarangan naik kuda karena ia perempuan, ketidaksetujuan ayahnya untuk kuliah di Yogyakarta karena ia tidak ditemani oleh muhrimnya. Konflik Annisa juga terjadi dengan guru-gurunya karena ia menganggap mereka mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat ia terima, seperti keharusannya melepaskan haknya menjadi ketua kelas hanya karena ia perempuan yang dianggap bukanlah pemimpin.

Ada cerita mengenai kehidupan rumah tangganya setelah ia dipaksa menerima perjodohan orang tuanya dengan seorang laki-laki bernama Udin, anak seorang kaya yang telah banyak membantu ayahnya dalam membiayai pesantren. Kehidupan rumah tangganya penuh dengan konflik akibat perlakuan kasar suaminya, terutama ketika diajak berhubungan suami istri. Cerita berlanjut dengan kedatangan seorang perempuan yang meminta pertanggung jawaban suaminya karena telah menghamilinya. Atas dasar pemahaman ajaran agama yang keliru, maka kehidupan rumah tangganya dilalui dengan jalan poligami yang semakin membuatnya tersiksa. Akhirnya, Khudori yang selama ini merupakan sosok yang dapat mengerti akan perasaannya kembali hadir setelah menamatkan studinya di Mesir. Karena ingin mengakhiri kehidupan rumah tangganya yang berantakan, maka Annisa mengadakan pertemuan dengan Khudori di sebuah kandang sapi yang berujung pada penggerebekan yang dilakukan suaminya. Ia dianggap telah menyeleweng dan berselingkuh dengan Khudori sehingga diarak ke pesantren serta dilempari batu hingga membuat ayahnya yang mengidap penyakit jantung meninggal dunia karena shok.

Cerita berlanjut dengan perceraian Annisa dengan suaminya dan ia melanjutkan studinya yang sempat tertunda beberapa tahun ke Yogyakarta. Di kota budaya ini ia melihat banyak perubahan yang dialami oleh teman-temannya semasa di pesantren dulu, seperti pergaulan bebas dan lain sebagainya. Di samping kuliah, di kota pendidikan ini Annisa juga bekerja sebagai salah seorang konselor di sebuah lembaga yang membantu persoalan-persoalan yang dialami perempuan. Dari tempatnya bekerja inilah ia banyak menemukan wawasan dan pengetahuan seputar perempuan dan cara memberi pencerahan serta memberdayakannya. Di kota ini pula ia kembali bertemu dengan Khudori dan keduanya melangsungkan pernikahan.

Tekad Annisa untuk berupaya merubah pemikiran yang berkembang di pesantren yang telah dikelola oleh kakak tertuanya, Wildan, terus menggebu. Upaya ini mendapat dukungan yang besar dari suaminya, Khudori, yang kemudian menemui ajalnya karena kecelakaan dan ditabrak oleh mobil dalam perjalanannya membeli tiket bagi kepulangan mereka ke Yogyakarta. Untuk mewujufkan cita-citanya memperbaiki pemikiran di pesantren, Annisa berusaha memasukkan buku-buku yang diharapkan menjadi bahan bacaan bagi para santri. Pada awalnya upaya ini mendapat penentangan keras dari segenap pengelola pesantren karena dianggap menyebarkan pemikiran sesat kepada para santri hingga buku-bukunya sempat dibakar. Akan tetapi di akhir cerita, upaya ini berbuah manis dengan hadirnya perpustakaan yang memuat beragam literatur yang dapat dibaca oleh para santri.

Inilah gambaran keadaan masyarakat yang ditampilkan oleh Abidah dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Dalam film ini, Abidah mengetengahkan gambaran tentang kehidupan seorang perempuan dalam upayanya memperjuangkan hak-haknya sekaligus juga memperbaiki beragam anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat mengenai perempuan.

Namun demikian, gambaran tentang pesantren dalam memperlakukan perempuan tentu tidak semuanya seperti yang diperlihatkan ‘Abidah dalam novel ini. Ada banyak pesantren yang kini justru sangat jauh dari bias gender dan sangat memahami keberadaan perempuan. Gambaran yang dikemukakan ‘Abidah bukanlah mewakili gambaran pesantren dalam memperlakukan perempuan secara keseluruhan. Namun demikian, gambaran ini perlu mendapat apresiasi dan perhatian karena ternyata ada penyimpangan dalam pesantren dalam memperlakukan perempuan dengan dalih agama yang sesungguhnya seringkali digunakan secara tidak utuh (parsial).


[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 77

[2] Ibid,- hlm. 79

[3] Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Metodologi Penelitian Sastra, Jabrohim (ed.), (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001), hlm. 169. Atau dapat pula ditemukan dalam: Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Teori Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, 1994), hlm. 223.

[4] Ekarini Saraswati, Sosiologi Sastra, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2003), hlm. 11-12.

[5] Biodata Abidah dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[6] Ibid,-

[7] Lebih lanjut mengenai informasi tentang sastrawati Indonesia yang satu ini dapat dilihat dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[8] Yunahar Ilyas, ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ke-3, Januari 2002, hlm. 64.

[9] Ibid,- hlm. 69.

[10] Ibid,- hlm. 67-68


[1] Juwariyah, Ciri-Ciri Pendidikan Islam Tradisionil, http://uin-suka.info/ejurnal

Proposal Penelitian

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

A. PENGANTAR

Rekam jejak sejarah mencatat bahwa Pulau Sumatera sejak dahulu memang dikenal sebagai kawasan yang kaya dengan beragam sumberdaya alam. Jauh sebelum republik ini terbentuk, negeri ini telah menjadi tumpuan harapan untuk mengeruk keuntungan, utamanya dilakukan oleh kolonial Belanda. Mulai dengan pendirian beberapa perusahaan perkebunan karet yang tersebar seantero pulau ini hingga beragam perusahaan tambang semacam batu bara dibangun di wilayah ini (Padmo, 2004: 105-124, Purwanto, 2002: 204-222). Maka jadilah wilayah yang merupakan salah satu pulau terbesar di dunia ini dijuluki sebagai swarna dwipa yang berarti ’pulau emas’ karena mengandung beragam sumberdaya yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Setelah Indonesia merdeka, keberadaan beragam usaha yang bertujuan untuk mendapatkan pendapatan negara ini terus dilakukan upaya peningkatan, bahkan komoditas lain seperti kelapa sawit pun terus diupayakan.

Meskipun demikian, pulau yang kadang disebut ’Andalas’ ini ternyata tidak hanya memiliki sumberdaya perkebunan dan pertambangan saja, tetapi juga memiliki banyak sungai. Beberapa sungai besar yang dikenal Indonesia, bahkan dunia, ada di pulau ini. Sebutlah misalnya Sungai Musi yang ada di Sumatera Selatan dan Sungai Batanghari yang melintas di wilayah Jambi. Kedua sungai besar ini memiliki beberapa anak sungai dalam ukuran sedang yang melintasi beberapa daerah di kedua propinsi ini. Sungai Batanghari di Jambi, misalnya, memiliki beberapa anak sungai seperti Batang Tebo, Batang Merangin dan Sungai Tabir. Maka jadilah masyarakat Sumatera dikenal dengan masyarakat sungai layaknya yang juga ditemukan di beberapa wilayah di Kalimantan.

Provinsi Jambi yang merupakan salah satu wilayah Nusantara yang memiliki banyak sungai, baik besar maupun kecil, beberapa tahun belakangan ini menghadapi ancaman degradasi yang cukup serius dan mengkhawatirkan yang dapat mengganggu eksistensi resources yang satu ini. Salah satu sungai yang ada di wilayah ini yang dianggap cukup mengkhawatirkan terkait dengan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat sekitar adalah Sungai Tabir yang melintasi wilayah yang dulu dikenal dengan Kecamatan Tabir dan sekarang memekarkan diri menjadi beberapa kecamatan dalam Kabupaten Merangin. Sungai Tabir menjadi salah satu resources alam yang penting bagi kehidupan dan bagian integral masyarakat yang ada di sepanjang sungai ini sejak dahulu.

Bagi masyarakat yang mendiami beberapa kawasan di Sumatera, untuk menyebut salah satunya di Jambi, sungai telah lama menjadi urat nadi kehidupan mereka. Jauh sebelum pesatnya perkembangan sarana transportasi seperti saat ini, sungai memainkan peranannya yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. Untuk melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, masyarakat menggunakan perahu dan kapal yang melintas di atas sungai. Hal ini bisa berupa hanya sekedar kunjungan biasa antar keluarga dan teman, melakukan perdagangan dari satu wilayah ke wilayah lainnya hingga mengangkut beragam hasil pertanian dan perkebunan untuk dijual. Di samping itu, sungai juga digunakan masyarakat sebagai sarana untuk beraktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus (MCK) hingga sebagai sarana mencari nafkah dengan berprofesi sebagai nelayan untuk menangkap ikan. Oleh karena begitu vital dan urgennya peran sungai dalam kehidupan, maka masyarakat sangat menjaga eksistensi resources yang satu ini dari ancaman aktivitas-aktivitas yang berujung pada terjadinya degradasi.

Jika dahulu satu-satunya aktivitas manusia yang dianggap dapat menggangu kelestarian sungai adalah membuang sampah, maka sekarang terdapat aktivitas lain yang perlu mendapat perhatian serius. Jika kita cukup jeli memperhatikan ancaman kelestarian sungai, maka akan ditemukan dua faktor penting yang dapat merusak ekosistem sungai, dimana keduanya jika dibiarkan terus berlangsung, maka lambat laun degradasi sungai akan segera menjadi kenyataan. Kedua faktor tersebut adalah pertama aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan resources sungai dengan cara mudah dan instant, yaitu meracun sungai dengan zat tertentu sehingga membuat ikan-ikan menggelepar sekarat. Aktivitas ini pada awalnya dilakukan pada sungai-sungai kecil, tetapi lambat laun berpindah ke sungai-sungai yang lebih besar, meskipun hanya pada bagian-bagian tertentu. Meskipun demikian, akhir-akhir ini aktivitas ini dilakukan terhadap seluruh bagian sungai besar yang menjadi tempat beraktivitas bagi masyarakat, seperti mandi, mencuci, kakus dan lain sebagainya.

Faktor kedua adalah menjamurnya aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat di hampir sepanjang sungai. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa kandungan logam mulia yang terdapat di sungai memang tinggi sehingga membuat masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan, ditambah lagi dengan realitas bahwa harga emas di pasaran terus memuncak. Jika aktivitas meracuni sungai hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, meskipun sebenarnya juga tidak bisa ditoleransi, namun aktivitas penambangan dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan seluruh unsur yang terdapat di sungai, mulai dari air, pasir, batu dan lumpurnya.

Aktivitas  yang sepintas lalu tidak membahayakan kelestarian sumberdaya air karena tidak berdampak langsung kecuali perubahan warna airnya ini dilakukan dengan cara mengeruk bebatuan dan pasir yang terdapat di dalam sungai dengan suatu alat yang ditempatkan di tengah-tengah sungai. Selanjutnya bebatuan dan pasir tersebut dicampur dengan suatu zat kimia untuk memisahkannya hingga didapatkan di dalamnya emas yang kemudian dikumpulkan untuk dijual di pasaran. Limbah hasil proses pemisahan yang telah bercampur dengan zat kimia ini kemudian dibuang begitu saja untuk kemudian mengkontaminasi beragam makhluk hidup yang terdapat dalam sungai.

Dapat dibayangkan bagaimana terjadinya degradasi sungai akibat tercemarnya air akibat racun dan zat kimia, beragam makhluk hidup yang ada di dalamnya akan punah, ikan-ikan besar dan kecil akan mati, bahkan juga telur-telurnya. Hal ini berarti bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya, itu pun dengan catatan bahwa aktivitas ini tidak terus berlangsung. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah terjadinya perubahan warna air, jika dahulu hal ini terjadi karena turunnya hujan lebat di hulu sungai dan hanya dalam waktu yang tidak lama, tetapi sekarang perubahan air menjadi kuning kecoklatan bercampur lumpur tak mengenal fenomena alam yang ada. Padahal hingga saat ini sungai masih menjadi tempat utama masyarakat dalam, beraktivitas seperti mandi, mencuci dan kakus, bahkan di beberapa tempat air sungai juga dijadikan untuk air minum. Bagaimana jadinya jika masyarakat mengkonsumsi air yang berwarna kuning kecoklatan bercampur Lumpur dan tentu saja terkontaminasi racun dan zat kimia berbahaya.

Meskipun demikian, salah satu yang menarik diperhatikan berkaitan dengan adanya ancaman degradasi sungai ini adalah bahwa ternyata aktivitas yang dianggap dapat menggangu ekosistem sungai tersebut justru terjadi di wilayah yang lebih maju dan sejahtera dibanding tempat-tempat lainya. Pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat untuk ‘memanfaatkan’ resources yang terkandung dalam Sungai Tabir terjadi pada bagian sungai yang terletak di daerah-daerah yang selama ini dikenal dengan kemakmuran  masyarakatnya. Untuk menyebut salah satu wilayah dimaksud adalah Desa Rantau Limau Manis telah banyak diketahui sebagai wilayah yang memiliki tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan desa-desa lain yang ada di sekitar (Pahrudin HM, 2009: 99). Hal ini karena dengan keuntungan penjualan hasil karet, maka kehidupan masyarakat menjadi terjamin dan beragam kebutuhan, baik primer mapun sekunder, dapat dengan mudah dipenuhi. Di samping itu, hampir sebagian besar masyarakat yang mendiami wilayah ini memiliki areal perkebunan karet yang lebih dari cukup untuk menopang beragam kebutuhan sehari-hari. Lalu, bagaimana mungkin di tempat yang kesejahteraannya lebih tinggi justru aktivitas yang bermuara pada degradasi sungai terus terjadi dari waktu ke waktu.

Di samping itu, suatu aktivitas yang melibatkan banyak orang tentu tidak dapat menghindarkan diri dari interaksi antara satu dengan yang lain. Gesekan-gesekan sosial dan budaya serta beragam ranah lainnya dimungkinkan akan muncul ke permukaan dari proses interaksi tersebut. Hubungan-hubungan dimaksudkan tentu tidak hanya terbatas pada yang terjadi di antara para pelaku yang terlibat langsung dengan aktivitas penambangan emas, tetapi tentu juga dengan yang tidak terlibat langsung, seperti masyarakat sekitar dan lain sebagainya. Dari yang sebelumnya masih terhitung saudara, tetapi akibat salah komunikasi atau salah menempatkan diri akan timbul perselisihan yang tidak jarang berujung pada pertikaian dan perkelahian.

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang penelitian yang dipaparkan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tabir Kabupaten Merangin Jambi”.

Selanjutnya, permasalahan penelitian yang ditemukan ini akan dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang menjadi faktor yang melatarbelakangi beberapa warga masyarakat melakukan penambangan emas di Sungai Tabir.
  2. Bagaimanakah pola atau bentuk aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir  dilakukan.
  3. Bagaimanakah dampak aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir terhadap ekosistem sungai dan kehidupan manusia.

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:

  1. Mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi beberapa warga melakukan aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir.
  2. Mendeskripsikan pola atau bentuk aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat.
  3. Mengetahui implikasi atau dampak aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir terhadap ekosistem sungai dan kehidupan manusia.
  4. Memberi masukan kepada para pengambil kebijakan dalam setiap tingkatan mengenai permasalahan-permasalahan yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat berdasarkan fakta yang didapatkan.

D. LANDASAN TEORI

Segala tindakan, pekerjaan  dan perilaku yang dimunculkan oleh manusia atau seseorang pasti berlandaskan pada sesuatu yang melatarbelakanginya. Di samping itu, tindakan-tindakan tersebut juga memiliki tujuan-tujuan yang dipakai menggunakan alat-alat. Ketika seseorang melakukan pekerjaan makan, misalnya, maka ia melakukannya karena sesuatu yang melatarbelakanginya yaitu karena faktor lapar dengan tujuan kenyang dengan alat berupa nasi. Apalagi terhadap sebuah tindakan yang berkaitan dengan orang lain yang banyak, dimana dalam konteks ini adalah aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh beberapa warga masyarakat di wilayah yang dilalui Sungai Tabir. Dan analisis salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sosiologi terhadap fenomena atau kasus yang ada dalam interaksi sosial kehidupan manusia secara sederhananya adalah dengan melihat pada ‘sesuatu di balik sesuatu’. Pengertiannya adalah jika mengemuka suatu fenomena atau kasus sosial di tengah masyarakat, maka sosiologi berasumsi bahwa hal tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi terdapat sesuatu hal lain yang melatar belakangi kemunculannya.

Dalam konteks tindakan yang dilakukan oleh seseorang, Talcott Parsons menguraikan analisanya dengan menggunakan kerangka alat-tujuan atau means-ends framework (Johnson, 1988:106). Inti pemikiran sosiolog kawakan ini (Parsons, 1937: 55) adalah bahwa :

  1. Tindakan itu diarahkan pada tujuannya (atau memiliki suatu tujuan)
  2. Tindakan terjadi dalam suatu situasi, dimana beberapa elemennya sudah pasti, sedangkan elemen-elemen lainnya digunakan oleh yang bertindak itu sebagai alat menuju tujuan itu.
  3. Secara normatif, tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan tujuan.

Dengan kata lain, tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang paling kecil dan paling fundamental. Komponen-komponen dasar dari suatu tindakan adalah tujuan, alat, kondisi dan norma (Ritzer, 2004: 147). Alat dan kondisi berbeda dalam hal di mana orang yang bertindak itu mampu menggunakan alat dalam usahanya mencapai tujuan; kondisi merupakan aspek situasi yang tidak dapat dikontrol oleh orang yang bertindak itu.

Sebagian besar perilaku manusia dapat dilihat sebagai bagian dari suatu rantai alat dan tujuan yang bersifat kompleks dan panjang. Pada mata hubungan dalam suatu rantai seperti itu, keputusan harus diambil dalam menyeleksi  alat dan tujuan. Kriteria untuk mengambil keputusan serupa itu tidak dapat dijelaskan atas suatu dasar yang benar-benar positif. Dalam banyak hal, tujuan dari suatu garis tindakan tertentu bukanlah merupakan tujuan akhir melainkan sebagai sasaran antara saja dalam rantai itu yang berfungsi sebagai alat untuk suatu tujuan selanjutnya (Ritzer, 2004: 147).

Lebih lanjut, sosiologi juga menaruh perhatian terhadap persoalan lingkungan yang dikenal dengan sosiologi lingkungan (Environment Sociology) setelah sekian lama dianggap hanya berkutat dengan kajian mengenai hubungan antar manusia ((Susilo, 2008: 3-6). Fokus kajian sosiologi lingkungan, menurut salah satu tokohnya Hannigan, adalah pada perhatian terhadap penyebab dampak dari terjadinya degradasi lingkungan dan penelusuran terhadap pertumbuhan, perkembangan kesadaran, dan gerakan yang mengusung tema lingkungan (Susilo, 2008: 3-6).

Terjadi dan terus berlangsungnya degradasi pada suatu resources tidak serta merta mengemuka begitu saja, akan tetapi pasti ada yang melatarbelakanginya. Jika ditelisik lebih jauh, terdapat lima sumber kultural yang menciptakan pencemaran lingkungan (Usman, 2004: 288-290). Pertama, “The Cornuopia View of Nature” yaitu suatu pandangan yang dilandasi anggapan bahwa alam terbentang luas dan tidak akan pernah habis. Pandangan seperti ini dibangun dari suatu argumentasi bahwa alam yang sangat luas memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga setiap orang boleh memanfaatkan lingkungan dengan leluasa. Kedua, keyakinan yang sangat mendewakan teknologi (faith in tecknology), yaitu keyakinan yang berkaitan dengan pandangan bahwa dalam hidup ini manusia seharusnya tidak dikuasai alam, tetapi sebaliknya manusia yang dapat menguasai alam.

Ketiga, “The Growth Ethic” atau etika untuk ingin terus maju, dimana kebanyakan masyarakat modern mendambakan kemajuan dan tidak suka pada kemapanan. Biasanya mereka tidak pernah puas dengan segala hal yang pernah dicapainya, dan ingin terus berbeda dari hari-hari sebelumnya. Akibatnya, sumber-sumber alam semakin banyak digali serta dimanfaatkan dan pencemaran pun semakin meningkat. Keempat, Materialisme atau paham yang mengagungkan materi. Bagi masyarakat modern, pada tingkat individual, keyakinan akan kemajuan diterjemahkan dalam bentuk konsumsi benda materi sebagai lambang keberhasilan. Sistem ekonomi yang dikembangkan terutama didasarkan pada pertumbuhan usaha-usaha swasta dan ditandai dengan ketergantungan pada permintaan akan hasil produksi. Ketika keadaan penduduk kurang lebih stabil, pertumbuhan hanya dapat dicapai melalui peningkatan konsumsi individu. Konsumsi akan meningkat apabila hasil produksi dapat digunakan hanya pada kurun waktu tertentu dan tidak berumur panjang. Produksi barang semacam ini memang dapat meningkatkan permintaan, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga menambah pencemaran. Kelima, sikap dan keyakinan pada individualisme. Masyarakat modern sangat menekankan dorongan personal dan pada umumnya sangat percaya bahwa bekerja adalah jalan menuju sukses. Untuk itu, tidak mengherankan kalau dijumpai kecenderungan untuk mengorbankan apa yang dimiliki sekarang untuk meraih sukses atau keuntungan di masa datang. Kecenderungan semacam ini mempunyai implikasi penting pada lingkungan, yaitu tatkala orang berusaha meraih sukses dengan jalan memanfaatkan sumberdaya alam sebanyak-banyaknya, tetapi malah tercemar dengan pemanfaatan zat-zat berbahaya dengan dalih intensifikasi.

E. METODOLOGI PENELITIAN

E.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian studi kasus (case study), yaitu jenis penelitian yang dapat diartikan sebagai suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar (Salim, 2001: 93). Lebih khusus lagi, penelitian ini adalah penelitian studi kasus intrinsik (intrinsic case study) yang berfungsi untuk memahami secara lebih baik tentang suatu kasus tertentu yang dianggap unik dan lebih menarik dibandingkan kasus-kasus lainnya.

Pemilihan metode studi kasus intrinsik dilakukan karena peneliti melihat bahwa fenomena terus berlangsungnya aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir sangat unik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang ada di sana. Meskipun di tempat-tempat lain aktivitas penambangan emas dilakukan dengan pola dan bentuk yang hampir sama, bahkan tidak berbeda, namun apa yang terjadi di wilayah ini bukan seperti yang pada umumnya mengemuka.  Jika di tempat lain aktivitas penambangan emas dilakukan karena tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang rendah, maka apa yang mengemuka di wilayah ini justru sebaliknya di mana para pelaku penambangan emas berasal dari wilayah yang tingkat kesejahteraannya tinggi dan dilakukan di tempat yang selama ini dikenal sebagai lumbungnya kemakmuran (Pahrudin HM, 2008).

Penelitian studi kasus dengan teknik diskriptif-analitis digunakan untuk memahami secara cermat dan mendalam upaya pendeskripsian fenomena-fenomena dalam penelitian. Model penelitian ini dapat juga diartikan sebagai suatu laporan terhadap suatu kejadian, situasi atau perkembangan yang disusun dengan lengkap dan terperinci (Horton2003: 38). Jenis penelitian ini dimulai dari pengamatan terhadap obyek penelitian dan dilanjutkan dengan memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip penjelas yang abstrak dan umum menampakkan diri dalam satu realitas tunggal yang diamati (Worsley, 1991: 107).

Fenomena-fenomena yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seputar aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Dengan pemilihan metode studi kasus, di samping karena berkaitan dengan pertanyaan how dan why dari sebuah fenomena, juga karena penelaahan kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif (Faisal, 1999: 22, Yin, 2004: 1).

E.2. Teknik Penentuan Informan

Untuk keperluan penelitian ini peneliti akan membagi informan menjadi dua bagian, yaitu: pertama informan yang secara langsung terlibat dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir dan  kedua informan yang terlibat secara tidak langsung dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Informan kelompok pertama terdiri dari pemilik alat-alat penambangan, pekerja penambang, dan pekerja pemisah bahan galian. Untuk informan jenis pertama ini peneliti batasi menjadi dua puluh orang karena berdasarkan pengamatan di lapangan mereka inilah para pelaku yang berkecimpung secara langsung dalam aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir.

Adapun informan kelompok kedua terdiri dari penampung hasil tambang (toko emas), keluarga para pekerja tambang, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar tempat penambangan tersebut. Kelompok kedua ini peneliti batasi menjadi lima puluh orang dengan asumsi bahwa kelompok inilah yang merasakan hasil dan dampak yang didapatkan dari adanya aktivitas penambangan emas di Sungai Tabir. Penentuan para informan yang peneliti lakukan dilaksanakan dengan cara acak berdasarkan peran dan fungsi mereka dalam penambangan emas di Sungai Tabir.

E.3. Teknik Pengumpulan Data

Sebagaimana yang disyaratkan dalam penelitian dengan menggunakan metode studi kasus (case study), maka data dikumpulkan dari enam sumber, yaitu: melalui dokumen dan rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi partisipan (participant observation) dan perangkat fisik lainnya (Yin, 2004: 103-118). Keenam sumber data tersebut digunakan oleh peneliti untuk lebih melengkapi data-data yang diperolehnya.

Teknik pengumpulan data dokumentasi dan rekaman arsip peneliti lakukan untuk mendapatkan segala bentuk informasi dan data-data yang berkaitan dengan penambangan emas di Sungai Tabir. Di samping itu, model ini juga berguna untuk melakukan verifikasi terhadap beragam nama yang digunakan dalam wawancara terhadap responden.

Sedangkan untuk mengetahui faktor apakah yang menjadi latarbelakang dan bagaimana pola dan dampak penambangan emas di Sungai Tabir terhadap para pelaku yang terlibat di dalamnya dan lingkungan sekitarnya, maka peneliti menggunakan metode pengamatan langsung dan observasi partisipan (participant observation). Model ini diterapkan oleh peneliti dengan cara tinggal di lokasi penelitian dan berinteraksi dengan para pelaku yang terlibat di dalamnya.

Teknik pengumpulan data selanjutnya yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara atau lebih tepatnya wawancara mendalam (dept-interview). Adapun penerapan model ini penulis lakukan dengan cara memfokuskan pada informan-informan yang ada di lokasi penelitian atau orang-orang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan penambangan emas di Sungai Tabir.

E.4. Unit Analisis

Unit analisis dari penelitian yang peneliti lakukan ini adalah orang-orang yang melakukan penambangan emas di Sungai Tabir, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks penelitian ini yang dimaksudkan dengan unit analisisnya adalah pemilik alat-alat yang digunakan untuk menambang, pekerja penambang, dan penampung hasil tambang (toko emas), keluarga para pekerja tambang, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar tempat penambangan tersebut.

E.5. Teknik Analisis Data

Untuk melakukan analisis data yang didapatkan, maka peneliti akan melakukannya dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif yang dilakukan dengan melalui tiga cara (Miles,1992: 15-21, Moleong, 2004: 189-207, 190), yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Selanjutnya, penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Cara terakhir yang digunakan adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi yaitu interpretasi atau penafsiran terhadap keseluruhan data yang terkumpul tersebut sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang memadai.

E.1. Proses Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, Studi Pendahuluan, yaitu melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian. Tahapan ini dilakukan untuk lebih mendapatkan gambaran suasana dan kodisi awal lokasi penelitian. Pada tahapan ini, penulis melakukannya dengan mewawancarai dan berdiskusi dengan  beberapa orang yang dianggap mengetahui kondisi obyektif tentang lokasi penelitian. Tahapan yang peneliti lakukan ini berlangsung selama dua bulan, yaitu sejak bulan Juni hingga Juli 2009.

Tahap kedua dari penelitian ini adalah Studi Lapangan. Inilah tahap krusial dalam suatu penelitian, dimana peneliti melakukan penelitian lapangan dengan melakukan pengumpulan data yang berkaitan dengan topik penelitian. Pada tahap ini peneliti akan tinggal di wilayah ini. Hal ini peneliti lakukan agar benar-benar dapat melihat aktivitas mereka masing-masing, bahkan peneliti pun dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari. Tahapan ini peneliti dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, yaitu dimulai sejak bulan Agustus hingga Desember 2009.

Tahap akhir dari rangkaian penelitian ini adalah penyusunan hasil penelitian dari data-data yang telah peneliti kumpulkan dan dapatkan selama melakukan penelitian ini. Tahap ini juga mencakup pelaporan atas temuan-temuan yang telah didapatkan dalam penelitian ini. Tahap ini peneliti rencanakan berlangsung mulai Januari 2010.

F. ANGGARAN BIAYA

Untuk anggaran biaya penyelenggaraan penelitian ini sebagaimana terlampir pada halaman lain proposal ini.

G. SUMBER DANA

Anggaran dana untuk penyelenggaraan penelitian sebagaimana yang tercantum dalam lampiran proposal ini akan didapatkan dari beragam pihak yang bersifat tidak mengikat. Yaitu, sumbangan dan bantuan dari aneka komponen yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan peran pemuda terhadapnya seperti pemerintah, lembaga pemerintah, perusahaan (corporate), Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) dan perseorangan (pribadi).

G. DAFTAR PUSTAKA

Daldjoeni, N dan A. Suyitno. 2004. Pedesaan, Lingkungan dan Pembangunan. Bandung: PT. Alumni.

Usman, Sunyoto. 2004. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mitchell, Bruce. dkk, 2003. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pahrudin HM, 2009. Relasi Patronase Dalam Pengelolaan Perkebunan Karet Rakyat. Yogyakarta: Jurnal Sosiologi Reflektif Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.

__________, 2008. Pemilik Kebun dan Penyadap Karet; Jalinan Patronase Dalam Pengelolaan Perkebunan Karet Rakyat di Desa Rantau Limau Manis Jambi, Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tesis Tidak Diterbitkan.

Johnson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern II. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Parsons, Talcott. 1937. Structure of Social Action. New York: McGraw-Hill.

Ritzer, George. dan Douglas J. Goodman, 2004. Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenada Media.

Poerwanto, Hari. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Polama, Margaret M. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Salim, Agus. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Susilo, Rachmad K Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt, 2003.  Sosiologi, Alih Bahasa: Aminuddin Ram dan Tita Sobari, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Worsley, Peter. 1991. Pengantar Sosiologi, Alih Bahasa oleh Hartono Hadikusumo, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, Jilid I.

Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Yin, Robert K. 2004. Studi Kasus; Desain dan Metode, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman,  1992. Analisis Data Kualitatif, Alih Bahasa: Tjetjep Rohindi Rohidi, Jakarta: Universitas Indonesia Press. Cetakan Pertama.

Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cetakan Kedelapan Belas.

LAMPIRAN

ANGGARAN BIAYA PENELITIAN

1. Transportasi Yogyakarta-Bangko PP                      Rp.   3.000.000,-

2. Akomodasi Selama Penelitian                                Rp.   2.000.000,-

3. Pengadaan Alat-Alat Penelitian :

a. Kertas HVS 1 rim                                        Rp.        30.000,-

b. Kamera Digital                                            Rp.   3.000.000,-

c. Laptop 1 buah                                             Rp.   6.000.000,-

d. Flashdis MP4 2 GB 1 buah                          Rp.      500.000,-

4. Penggandaan Proposal 5 buah x Rp. 10.000,-         Rp.        50.000,-

5. Penyusunan dan Penggandaan Laporan –

Hasil Penelitian 5 buah x Rp. 50.000,-                   Rp.      250.000.-

________________________________________________________

Jumlah Total                                                                Rp. 14.830.000,-

Terbilang: Empat  Belas Juta Delapan Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah

Yogyakarta, 10 Desember 2009

Metode Penelitian Sosial

Dalam melakukan suatu penelitian bersifat akademis perlu diawali dengan suatu pertanyaan :

Apa yang ingin diketahui atau diteliti?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan suatu rumusan yang menunjukkan :

Subject Matter atau objek kajian

Yang diformulasikan dalam bentuk :

Permasalahan Penelitian

Kemudian terfokus menjadi :

Pertanyaan Penelitian

(research question)

Agar jawaban terhadap pertanyaan penelitian bersifat sistematis menurut ligika filsafat pengetahuan (epistimologi), diperlukan metodologi dan metode (cara kerja).

EPISTIMOLOGI

ü  Penekanan pada upaya mempelajari realitas atau subject matter dengan pertanyaan pokok yang diajukan adalah:

v  Bagaimana cara mempelajari realitas atau subject matter itu?

v  Bagaimana cara mengetahui realitas atau subject matter itu?

ü  Mencari dasar pijak pengetahuan (proses penyusunan pengetahuan)

HAKEKAT TEORI

A. Positivis : Teori adalah upaya untuk menjelaskan (erklaren).

ü  Sesuatu menurut penyebabnya

ü  Hukum-hukum alam dengan teori

Teori adalah diskripsi murni tentang fakta. Fakta adalah objek-objek yang dialami secara inderawi. Teori menjadi alat yang dapat diaplikasikan pada fakta.

Teori adalah pengalaman empiris mengenai alam yang diterangkan dengan model-model.

Teori adalah hasil konstruksi pengalaman untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa alamiah.

Teori adalah tiruan (mimesis) dari data empiris yang ditempatkan dalam suatu model.

Teori adalah deskripsi umum tentang fakta. Fakta harus bersifat netral dan dapat dipelajari secara objektif.

Teori harus memisahkan atau menyingkirkan unsure-unsur subjektif. Teori bersifat netral. Teori dan praksis terpisah.

Teori memuat informasi tentang kenyataan yang dapat dimanipulasi secara teknis. ® Bisa dibuat statistik.

Teori untuk mencapai status hukum bersifat umum (universal), maka perlu dibuktikan kebenarannya (verifikasi). Menurut Popper juga perlu dibuktikan kesalahannya (falsifikasi).

ü  Deduksi (hukum yang ada/teori yang ada) ® diuji kebenaran (verifikasi).

ü  Abduksi : yang kritis.

ü  Induksi (grounded research)

Unsur Teori Menurut Logika Positivis :

ü  Definisi konseptualisasi, ® review kritis konsep-konsep.

ü  Diskripsi, ® penemuan, penyelidikan, pembuktian dan perdebatan, proses seleksi dan informasi

ü  Penjelasan, ® proses menetapkan apa yang bersifat hakiki (akar) dari fenomena atau realitas sosial.

Penjelasan dapat dibantu pendekatan (model) yang dipakai.

Dimensi Teori :

ü  Unsur kognitif (penalaran)

ü  Unsur affektif melingkupi pengalaman-pengalaman yang mengandung argumen rasional.

ü  Unsur normatif mengandung asumsi mengenai bagaimana keadaan dunia yang sebenarnya.

B. Humanis (Idealis) : Teori adalah upaya untuk mengerti (verstehen)

ü  Makna dari produk-produk manusiawi

ü  Secara (penghayatan)

Teori merupakan wahana untuk membangkitkan kembali pengalaman-pengalaman secara reproduktif.

Teori mentransposisi pengalaman, yaitu memindahkan objektivasi-objektivasi mental kembali ke dalam pengalaman reproduktif.

Teori adalah hasil pengalaman, ekspresi dan pemahaman.

Mencari pemahaman motivasi-motivasi dan alasan-alasan manusiawi dengan memeriksa:

ü  Sikap-sikap

ü  Kepercayaan-kepercayaan

ü  Emosi-emosi

ü  Alasan-alasan

Untuk menyingkapkan makna tindakan manusia.

Memberikan pemahaman sosial yang mendalam (intens).

Memilah-milih masyarakat menjadi bagian-bagian proses pembentukan dan menunjukkan  hubungan-hubungan perasional mereka. Bukan hubungan antar variabel.

C. Teori Kritis : Teori adalah hasil refleksi diri dan proses pembentukan diri. Tidak berurusan dengan pemikiran rasional, evaluativ dan kritik.

Teori bukan generalisasi-generalisasi, tetapi perbedaan-perbedaan karena ada maksud tertentu dan kepentingan.

Teori adalah upaya untuk mengubah fakta dan mencari kontradiksi-kontradiksi di dalam kenyataan kinkrit. Menelanjangi kedok-kedok ideologis.

Teori memberikan sebuah pemahaman mengenai hakekat interaksi sosial (komunikasi).

Teori memahami bagaimana masyarakat beroperasi untuk membebaskan diri (emansipasi) dalam upaya transformasi.

Dalam positivis, fakta tetap dan dibiarkan (membenarkan fakta tanpa mempertanyakan), fakta dicurigai dan tidak dibiarkan.

Teori bersifat dialektis terbuka dan bersifat emansipatoris.

Teori bersifat fleksibel, artinya terbuka untuk diperbincangkan dengan berbagai macam argument, dalam segala situasi, dan berubah terus menerus sesuai dengan perkembangan sosial-politik sehingga teori berkembang dan berubah.

Teori merupakan suatu produk dari dan memenuhi maksud dan tindakan manusia. Alat untuk membebaskan manusia.

Teori tidak dapat dipisahkan dari praksis dan bersifat praktis (bukan teknis).

HAKEKAT PERBEDAAN TEORI

POSITIVIS IDEALIS KRITIS
ü  Teori menjelaskan (erklaren)

ü  Teori adalah hasil diskripsi umum fakta. Fakta dibiarkan apa adanya (benar adanya)

ü  Teori dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris dan menggunakan model.

ü  Teori harus dipisahkan dengan praksis. Teori untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk kepentingan teknis.

ü  Teori memberikan pengertian dan penghayatan (verstehen)

ü  Teori adalah hasil interpretasi terhadap hasil karya atau tindakan manusia

ü  Teori dikembangkan berdasarkan pengalaman, ekspresi dan pemahaman.

ü  Teori tidak terpisahkan dengan kepentingan praksis. Untuk kepentingan wahana membangkitkan pengalaman secara reproduktif.

ü  Teori adalah hasil refleksi diri, evaluatif dan kritis

ü  Teori adalah memahami dan mengubah realitas, mencari kontradiksi serta menyingkap kedok ideology (kepentingan).

ü  Teori dikembangkan berdasarkan situasi konkrit masyarakat dan berpijak di atasnya.

ü  Teori untuk kepentingan praksis. Untuk mendorong trasformasi masyarakat (emansipatoris)

HAKEKAT PERDEBATAN

Jenis Hakekat Realitas Object Materi Sifat Dasar Realitas Cara Memahami Realitas
Naturalisme Alam (Fisik) Segala sesuatu bersifat alami (hukum fisik) Proses, saling hubungan
Materialisme Materi Segala sesuatu bersumber dari materi Kategori, kesinambungan (tahapan), hubungan sebab akibat
Idealisme Roh, Jiwa, Nilai-nilai Segala sesuatu bersumber dari roh (jiwa) Menangkap makna (reflektif), tanda, simbol

OBJEK PENELITIAN

Menurut George Ritzer :

v  Objektif

  • Material
  • Fenomena sosial nyata dapat dilihat :

ü  Aktor

ü  Tindakan (aksi)

ü  Interaksi

ü  Struktur birokrasi

ü  Hukum (undang-undang)

  • Material-Non Material bisa subjektif dan non-subjektif

ü  Keluarga mempunyai eksistensi material tetapi mempunyai seperangkat subjektif karena ada saling pengertian yang kemudian memunculkan norma dan nilai-nilai.

ü  Pemerintah bersifat objektif karena diatur dengan seperangkat aturan (undang-undang), tetapi ada juga norma dan nilai-nilai.

v  Subjektif

  • Non-material
  • Fenomena sosial berupa ide, nilai-nilai tidak ada eksistensi material :

ü  Proses mental

ü  Konstruksi materialistik

ü  Norma

ü  Nilai-nilai

ü  Elemen kebudayaan

Menurut Emile Durkheim :

v  Material

  • Arsitektur
  • Undang-undang
  • Komponen morfologi dll
  • Perumahan, gedung dan lain sebagainya

v  Non-material

  • Moralitas
  • Kesadaran kolektif
  • Representasi kolektif
  • Situasi sosial

____________

Tulisan ini merupakan bahan mata kuliah Metode Penelitian Sosial yang disampaikan oleh Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A. pada Program Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang diikuti penulis pada rentang waktu tahun 2004-2005.

Pesantren Assalam Sungai Lilin Sumsel

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Sejak dahulu, Sumatera memang dikenal sebagai kawasan yang kaya dengan beragam sumberdaya alam (natural resources) sehingga kemudian mengemuka sebutan sebagai swarna dwipa yang berarti pulau emas terhadap wilayah ini. Beraneka ragam jenis sumberdaya ada di pulau ini, mulai hasil tambang, perkebunan dan lain sebagainya. Perkebunan nampaknya memang memiliki bagian tersendiri dari pulau ini karena jika dilihat dari atas sebagian besar kawasan ini diselimuti warna hijau dari dedaunan kelapa sawit, karet dan beraneka ragam jenis tanaman lainnya. Meskipun demikian, karet dan kelapa sawit menjadi komoditas dominan yang memang diusahakan di pulau yang juga disebut Andalas ini, baik oleh pemerintah melalui PTP-PTP maupun oleh masyarakat sendiri.

Salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang memiliki areal perkebunan, karet dan kelapa sawit, yang sangat besar adalah Sumatera Selatan dimana provinsi ini berbatasan langsung dengan Lampung, Jambi, Bengkulu dan wilayah pemekarannya, Bangka Belitung. Namun demikian, Sumatera Selatan sebenarnya tidak hanya memiliki areal perkebunan yang luas tetapi juga mempunyai lembaga-lembaga pendidikan yang cukup tumbuh subur di kawasan ini. Baik lembaga pendidikan umum maupun agama seperti pesantren-pesantren layaknya yang dapat dijumpai di Pulau Jawa.

Jika kita melakukan perjalanan darat, baik dari arah Jambi maupun dari arah Lampung, dengan menyusuri jalan lintas timur maka kita akan menjumpai sebuah lembaga pendidikan keagamaan (pesantren) yang memiliki peran signifikan dalam kehidupan masyarakat wilayah ini. Jika dari arah Jambi, pesantren ini akan dijumpai setelah melewati perbatasan kedua propinsi sekitar satu setengah jam menggunakan angkutan umum. Sedangkan dari arah Lampung, maka pesantren ini akan dijumpai setelah beberarapa saat melewati Kota Palembang sebagai ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Ya, inilah Pondok Pesantren Assalam yang terletak di Desa Sri Gunung Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin yang didirikan pada tahun 1987. Secara geografis, PP Assalam terletak dekat perbatasan dengan Provinsi Jambi dan berada di tengah kawasan perkebunan kelapa sawit dan sebagian kecil perkebunan karet rakyat. PP.Assalam awalnya didirikan oleh seorang ustadz yang pernah mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Lampung bernama KH Masrur Musir bersama istrinya (Zamzami HM) yang berasal dari sebuah daerah di Jambi yang saat itu masih tergolong pengantin baru dan dengan dibantu saudara iparnya KH. Isno Jamal yang kelak menjadi pengasuh. Pada awalnya pengelolaannya, kawasan pesantren yang masih berupa padang ilalang dengan gubuk-gubuk reot sebagai tempat pengajaran yang terletak di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera ini menghadapi banyak tantangan. Salah satu yang cukup terasa adalah kecurigaan aparat setempat bahwa pesantren ini merupakan tempat pelarian ustadz-ustadz Talangsari Lampung sehingga memunculkan plesetan bahwa Assalam adalah Asal Lampung. Maklum saja, saat itu kejadian penyerangan aparat keamanan terhadap komunitas pengajian Talangsari Lampung yang diketuai oleh Warsidi masih segar-segarnya dalam ingatan. Namun, berkat usaha yang tak kenal lelah dari pimpinan pesantren ini, maka lambat laun stigma negatif yang beredar di masyarakat hilang dan berganti dengan kebersamaan dan persaudaraan.

Mulai tahun 1990 dapat dikatakan tahun kebangkitan bagi PP. Assalam karena tahun- tahun inilah pesantren mulai mendapat bantuan yang signifikan bagi pengembangan lembaga pendidikan ini. Dimulai dengan pembangunan asrama santri yang merupakan bantuan Menteri Kehutanan saat itu hingga pembangunan jalan aspal di areal pesantren yang merupakan bantuan Bupati Musi Banyuasin saat itu. Santri-santri yang berasal dari beragam daerah, baik sekitar maupun yang jauh sekalipun, mulai berdatangan. Tercatat saat itu ada yang dari Aceh, Riau, Jambi, Lampung dan Bangka, di samping wilayah-wilayah lain di Sumatera Selatan. Para pengajar pun juga mulai beragam yang berasal dari beragam pesantren di Sumatera dan Jawa, seperti PP.Darussalam Lampung,Darul Qalam Tangerang, Gontor dan Wali Songo di Ponorogo. Hal ini ditambah lagi dengan pindahnya seorang ustadz karismatik yang menjadi tokoh sentral dalam pengembangan Pesantren Darussalam Lampung, KH. Abdul Malik Musir, Lc. Dengan demikian, lengkaplah sudah Assalam dipenuhi oleh santri-santri yang berasal dari beragam daerah yang haus akan ilmu pengetahuan dan pengajar-pengar yang mumpuni di bidang yang berasal dari lembaga-lembaga pendidikan yang telah dikenal berkualitas.

PP.Assalam kini sangat jauh berbeda dengan masa-masa awal pendiriannya. Jika dahulu satu-satunya gedung kebanggaan yang dimiliki lembaga pendidikan Islam yang berada di tengah perkebunan kelapa sawit ini adalah masjid yang kerap menjadi tempat pelarian santri di kala hujan deras datang karena atap pondokan yang terbuat dari ayaman daun sejenis lontar bocor, maka kini seluruh bangunan yang ada telah permanen yang terbuat dari beton dan bertingkat. Jika dahulu jenjang pendidikan yang dilaksanakan hanya Madrasah Ibtidaiyah dan Madsarah Aliyah, maka sejak beberapa tahun belakangan ditambahkan dengan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah.

Ilmu pengetahuan yang diajarkan di PP Assalam merupakan gabungan antara ilmu agama dan ilmu umum layaknya yang ada di sekolah-sekolah umum lainnya. Mata pelajaran yang berjumlah ratusan diajarkan di waktu-waktu sekolah dari pukul 07.30-12.00. Dalam rentang waktu tersebut, setiap hari para santri diajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum dengan penataan pengajaran yang cukup sistematis. Setelah melaksanakan shalat Dzuhur, layaknya yang berlaku umum di pesantren-pesantren lainnya, para santri mulai berbaris rapi untuk mengantri mendapatkan jatah makan siang. Setelah istirahat sebentar, aktivitas belajar kembali dilanjutkan pada pukul 14.00-16.00 dengan mengikuti kursus-kursus yang biasanya berupa pelajaran tambahan yang disampaikan oleh kakak-kakak kelas V atau kelas II Madrasah Aliyah. Pada sore harinya, sehabis shalat ‘Ashar, para santri mulai diperbolehkan beraktivitas sesuai keinginan masing-masing, seperti berolahraga dan lain sebagainya. Kemudian, setelah melaksanakan shalat Maghrib para santri diharuskan mengikuti pembacaan al-Qur’an atau ngaji. Di pagi harinya, setelah shalat Subuh menjelang persiapan masuk sekolah, para santri mengikuti penyampaian kata-kata dalam bahasa Arab dan Inggris atau muhadtsah. Pada malam-malam tertentu, yaitu malam Kamis dan malam Minggu, para melaksanakan pelatihan berpidato atau muhadharah dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Begitu juga pada hari Kamis siangnya dimana saat itu para pengajar mengadakan rapat rutin di kantor pesantren. Pada tingkat Madrasah Aliyah telah ada pilihan-pilihan bagi siswanya sesuai dengan minat dan kemampuannya, yaitu: keagamaan, IPA dan IPS. Alumni-alumni yang telah menyelesaikan pendidikannya tersebar di berbagai lembaga pendidikan, baik di Sumatera, Jawa bahkan luar negeri. Beberapa alumninya telah berhasil menggondol beragam gelar kesarjanaan menengah dan tertinggi (S2 dan S3), baik dalam maupun luar negeri.

Secara politik, institusi PP Assalam netral alias tidak memihak kepada salah satu partai politik mana pun. Akan tetapi, sebagian besar penghuni lembaga pendidikan keagamaan ini merupakan pendukung utama salah satu partai politik Islam progresif, Partai Keadilan Sejahtera. Orang-orang yang ada di PP Assalam bahkan merupakan penggerak utama parpol Islam ini di kawasan-kawasan yang berada Kabupaten Musi Banyuasin. Sedangkan dari aspek implementasi dan aktualisasi ajaran agama, PP Assalam mengambil sikap netral alias berdiri di atas semua golongan yang ada dalam Islam, khususnya di Indonesia. Inilah yang selalu ditekankan oleh segenap pimpinan yang ada di pesantren ini. Meskipun demikian, jika diperhatikan lebih jauh dan seksama maka aktualisasi ajaran agamanya lebih mendekati atau cenderung ‘mirip’  apa yang dipraktekkan dalam Muhammadiyah. Hal ini misalnya terlihat pada pelaksanaan salat Subuh yang tidak menggunakan Qunut dan tidak adanya penyelenggaraan maulid nabi dan isra’ mi’raj layaknya yang umum dilakukan masyarakat. Namun demikian, hal ini sepertinya hanya kecenderungan dalam beberapa hal saja karena pada kenyataannya tak ada satupun pimpinan dan segenap pengajarnya yang berafiliasi dengan Muhammadiyah.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri dalam rentang waktu yang cukup lama, Pesantren Assalam telah melahirkan beragam alumni. Alumni-alumninya tersebar di berbagai tempat di tanah air, utamanya di kawasan Sumatera Selatan.  Setamat dari pendidikan di Assalam, para alumni ini melanjutkan pendidikannya di berbagai perguruan tinggi di tanah air, seperti di Palembang, Jakarta, Jambi, Pekanbaru, Yogyakarta, Bandung hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Mesir, Sudan, Arab Saudi, Yaman dan lain sebagainya. Adapun wadah alumni yang menjadi tempat berhimpunnya para lulusan Assalam adalah Forsilam atau Forum Silaturrahmi Alumni Assalam. Forum ini kini tersebar di berbagai tempat yang menjadi wadah para tamatan Assalam untuk kembali berkumpul dan berinteraksi. Meskipun demikian, ada juga alumni yang langsung mengabdikan dirinya di tengah-tengah masyarakat, seperti mengajar, bekerja dan bahkan menjadi anggota legislatif.

Demikianlah, dari tempat terpencil di tengah-tengah perkebunan di kawasan perbatasan Sumsel dan Jambi, Pesantren Assalam terus mengembangkan diri menuju menjadi lembaga pendidikan Islam yang maju. Sumbangsih yang diberikan Assalam tentu sangat diperlukan dalam segala bidang kehidupan yang dijalani oleh masyarakat. Semoga Assalam terus menapaki jalan dan meretas masa depan dalam mempersiapkan dan mengasah para generasi muda bangsa sebagai pelanjut tongkat tanggung jawab pengelolaan bangsa ini.

__________________
Penulis merupakan alumni PP Assalam Sungai Lilin Angkatan 1997.

Salam hangat untuk segenap alumni Assalam dimana saja berada. Teruslah meretas masa depan, semoga sukses selalu. Jangan lupakan almamater kita tercinta yang telah menempa kita bertahun-tahun dalam kawah candradimuka Assalam. Teruslah berikan sumbangsihmu. Dengan apapun itu, bahkan kritikan yang konstruktif sekalipun demi Assalam kita tercinta.