Category Archives: Politik

Kebijakan Perkebunan Karet Rakyat di Indonesia

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan karet di tengah masyarakat Indonesia berdampak signifikan terhadap kehidupannya. Berawal dari ketertarikan terhadap keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan-perusahaan Belanda dalam mengusahakan komoditas ekspor ini, masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, mulai mengusahakan tanaman yang disadap getahnya ini. Pada awalnya hanya diusahakan dalam areal yang terbatas di antara tanaman-tanaman lainnya, namun lambat laun mulai diusahakan di areal tersendiri dan dalam skala yang cukup besar.

Melihat begitu besar dan luasnya pengaruh positif perkebunan karet bagi perekonomian bangsa dan masyarakat Indonesia, setelah merdeka pemerintah melakukan upaya untuk menata sistem perkebunan karet di dalam negeri. Sebagai langkah awal, pemerintah Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno menasionalisasi perusahaan-perusahaan perkebunan milik Belanda yang banyak tersebar di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, seperti di Sumatra Utara, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu dan berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Kalimantan Selatan. Setelah melakukan pengambilalihan, selanjutnya pemerintah mengambil kebijakan untuk menata perusahaan-perusahaan perkebunan karet tersebut agar hasil yang didapatkan menjadi lebih baik untuk membantu perekonomian bangsa yang baru merdeka pada saat itu. Kebijakan penataan perusahaan-perkebunan karet ini dimulai tahun 1958 pada masa Orde Lama dengan adanya Perusahaan Perkebunan Negara Baru atau yang dikenal dengan PPN Baru untuk membiayai upaya perebutan Irian Barat yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda. Di antara langkah penting yang dilakukan pemerintah saat itu adalah mengganti seluruh manajemen perusahaan dengan orang-orang Indonesia.

Kebijakan penataan perkebunan karet yang telah dimulai pada masa Orde Lama dilanjutkan kembali pada masa Orde Baru pada dasawarsa 1967-1977. Satu aspek yang membedakan sistem penataan dan pengelolaan perkebunan karet di masa Orde Baru dengan di masa sebelumnya adalah penataan perkebunan karet dilakukan secara lebih komprehensif dengan memasukkan perkebunan karet rakyat dalam pengaturan pemerintah. Jika di masa Orde Lama perkebunan karet disamaratakan, baik yang dikelola oleh perusahaan maupun yang dikelola secara mandiri oleh rakyat, tetapi di masa Orde Lama perkebunan karet rakyat mendapatkan porsi tersendiri. Pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto ini mengambil kebijakan pengelolaan perkebunan karet dengan membaginya menjadi: Perkebunan Besar dengan sistem manajemen Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP) dan Perkebunan Rakyat dengan sistem Perkebunan Inti rakyat atau PIR.

Pada masa Orde Baru, pemerintah menerapkan kebijakan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada politik ekonomi pasar bebas, sementara di sisi lain laju inflasi kian tidak terkendali. Akibatnya, pemerintah merasa perlu menata ulang sistem perkebunan yang selama ini diterapkan agar segala permasalahan yang timbul dapat segera teratasi. Upaya perombakan tersebut terealisasi dengan terbentuknya Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP), yaitu suatu lembaga perekonomian yang sah dan didukung penuh oleh pemerintah yang berusaha untuk mengejar keuntungan ekonomis sebesar-besarnya. Hingga saat ini tercatat telah ada 29 PTP yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari PTP I di wilayah Propinsi Aceh (NAD) hingga PTP XXIX di Surabaya yang wilayah kerjanya mencakup daerah Jawa Timur dan Kalimantan Timur.

Meskipun demikian,  ternyata  inovasi yang terjadi dalam bidang ini tidak berhenti hanya sampai di situ. Pada tahun 1977 pemerintah menerapkan kebijakan baru yang mendasarkan diri pada upaya untuk memberdayakan perkebunan yang dimiliki oleh rakyat agar terorganisasi dengan baik dan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Hasilnya terbentuklah Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang ditandai dengan penerapan Necleus Estate System (NES) yang berfungsi untuk membina perkebunan rakyat dengan pembiayaan, terutama bersumber dari keuntungan yang diperoleh dari PTP, serta bantuan dari luar negeri. Kebijakan ini pertama kali diterapkan di Tabenan (Sumatera Selatan) dan Langsa (Aceh) pada tahun 1977 yang dibiayai oleh Bank Dunia dan kemudian terus dikembangkan, bahkan antara tahun 1980-1981 telah mencapai 10 lokasi PIR. Pemilihan lokasi NES berdasarkan atas potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut, yaitu potensi perkebunan, baik dari aspek teknik agricultural maupun ekonomi.  Kebijakan perkebunan rakyat dengan pola PIR ini dilakukan sebagai upaya menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat petani karet miskin yang sering kalah bersaing dengan perusahaan besar. Pola PIR dilakukan dengan memberdayakan perusahaan besar yang berfungsi sebagai inti untuk membantu petani karet (plasma) sehingga terjalin hubungan yang saling menguntungkan. Pola ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan  petani karet yang selama ini berada pada posisi yang kecil dan juga berfungsi untuk merangsang kenaikan produksi.

Melihat kondisi petani PIR mengalami masalah ketidakmampuan untuk melunasi kreditnya, penjualan bahan olah karet (bokar) keluar inti, mutu bokar yang rendah dan beragam serta eksploitasi tanaman karet yang berlebihan, maka sejak tahun 1991 pemerintah tidak lagi mengembangkan perkebunan karet melalui Pola PIR. Setelah cukup lama dalam kevakuman, akhirnya pada tahun 2006 pemerintah mengambil kebijakan untuk kembali memperhatikan eksistensi karet rakyat melalui Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan. Kebijakan pemerintah ini ditindaklanjuti dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 117/PMK.06/2006 tentang Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP). Peraturan Menteri Pertanian tahun 2006 di atas dijadikan acuan dan pedoman dalam upaya pemerintah membantu eksistensi para petani karet rakyat melalui program revitalisasi perkebunan, sedangkan Peraturan Menteri Keuangan tahun 2006 tersebut berfungsi sebagai acuan dalam membiayai program tersebut. Program Revitalisasi Perkebunan adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk mempercepat pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah dengan melibatkan perusahaan di bidang usaha perkebunan sebagai mitra dalam pengembangan perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil.

Yogyakarta, Menjelang Akhir 2012

Daftar Bacaan

Ahmad, Rofiq. 1998. Perkebunan; Dari NES Ke PIR. Jakarta: Puspa Swara. Cetakan Pertama.

Forum Pengkajian Perkaretan, 1994. Konsepsi Pembangunan Jangka Panjang Perkaretan Indonesia (1994-2019). Jakarta : Kerjasama PPPA dan GPKI.

Padmo, Soegijanto. 2004. ‘Perusahaan Tanaman Karet di Sumatera Timur’ dalam Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media-Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Edisi Pertama.

Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan.

Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 117/PMK.06/2006 tentang Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP).

Zed, Mestika. 2002. ‘Ekonomi Dualistis Palembang pada Periode Kolonial Akhir’ dalam J. Thomas Lindblad (ed.). Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM. Cetakan Pertama.

Iklan

Sekilas Sejarah Karet di Indonesia

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Sebagai negara agraris, Indonesia sudah lama dikenal sebagai kawasan yang subur bahkan jauh sebelum negeri ini mendapatkan kemerdekaannya. Beragam tumbuhan dan tanaman dapat tumbuh dengan baik di hampir setiap jengkal tanah bumi yang dilalui oleh garis katulistiwa ini. Tidak mengherankan jika melihat jutaan hektar beragam tanaman terhampar luas di Nusantara ini, baik yang ditanam dan diusahakan oleh masyarakat secara mandiri maupun oleh perusahaan-perusahaan. Keadaan tanahnya yang sangat baik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengusahakan beragam tanaman, baik yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sehari-hari maupun yang ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Mulai dari padi, palawija, kopi, cengkeh, dan kayu manis, hingga karet dan kelapa sawit dapat tumbuh subur dan berhasil sangat memuaskan di bumi Indonesia. Salah satu jenis tanaman yang banyak diusahakan di Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu adalah karet. Jenis karet pertama yang diusahakan di Indonesia adalah karet alami Asia Tenggara (ficus elastica) yang sudah mulai ditanam sejak tahun 1860-an di berbagai perkebunan di Jawa. Karet jenis ini pada awalnya adalah tanaman karet liar yang tidak sengaja ditanami alias tumbuh secara alami di hutan di kawasan Asia Tenggara. Karet jenis ini dikenal dengan beragam nama di beberapa tempat dan daerah di Sumatera, seperti di Palembang dengan sebutan rambung dan karet batang di Bengkulu. Akan tetapi karena dianggap kurang produktif, akhirnya pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan jenis baru (Castiloa Elastica atau Hevea Brasiliensis) yang ditemukan oleh Michele de Cuneo pada tahun 1493 di Amerika Selatan. Pengalihan penanaman karet dari ficus elastica ke jenis baru (Castiloa Elastica atau Hevea Brasiliensis) yang didatangkan dari kawasan Amerika Selatan ini karena kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi tingginya permintaan karet di pasaran yang salah satunya akibat makin pesatnya perkembangan industri ban. Jenis ini adalah tanaman karet tahunan yang mempunyai kehidupan ekonomis antara 25-30 tahun. Pohonnya dapat diproduksi getah (latex)-nya ketika telah berdiameter 45 cm dan berketinggian 100 cm di atas pangkal akar atau ketika telah berumur 5 atau 6 tahun. Karet jenis ini dapat tumbuh, terutama, di dataran rendah yang beriklim tropis dengan temperatur udara antara 24-28 derajat Celsius dengan curah hujan tahun 2.000 mm. Setelah dilakukan serangkaian penanaman percobaan, ternyata karet jenis ini cocok untuk ditanam dan diusahakan di Nusantara karena iklim dan kondisi tanahnya memang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkannya. Sebagai upaya mewujudkan keinginan untuk menaikkan produksi agar terpenuhinya permintaan pasar yang besar sehingga berimplikasi pada peningkatan pendapatan negara, maka pemerintah kolonial Belanda membuka lahan perkebunan karet. Lokasi yang dipilih sebagai tempat pengusahaan tanaman karet jenis baru ini adalah Sumatra Timur yang mencakup Sumatra Selatan, Jambi dan Bengkulu karena lahan yang tersedia di kawasan ini masih sangat luas. Tahun 1902 merupakan tahun pertama pengusahaan jenis karet baru di Sumatra Timur yang dilakukan perusahaan Inggris, Harrison & Crossfield Company, yang sudah berpengalaman di Malaysia, diikuti oleh perusahaan Belgia, Sociente Financiere des Caoutchoues, pada tahun 1909, dan perusahaan patungan Belanda-Amerika, Hollands Amerikaanse Plantage Maatschappij (HAPM), pada tahun 1910-1911. Peningkatan harga karet di pasaran di rentang tahun 1910 dan 1911 membuat beragam perusahaan yang berafiliasi dengan pemerintah kolonial Belanda ini terus menambah jumlah areal perekebunannya. Meskipun pada tahun 1920-1921 terjadi kemerosotan harga yang cukup signifikan di pasaran, namun ternyata tidak berlangsung lama karena pada tahun 1922 dan 1926 kembali terjadi peningkatan harga jual di pasaran seiring dengan semakin majunya industri mobil di Amerika. Keuntungan besar dan berlipat ganda yang didapatkan ini tentu berimplikasi positif terhadap perekonomian Belanda, baik di negeri jajahan Indonesia maupun negeri asalnya di Eropa. Melihat keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan-perusahan perkebunan Belanda dalam mengusahakan tanaman karet tersebut, terutama akibat fluktuasi harga karet yang tinggi di pasaran dunia, masyarakat pun menjadi tertarik untuk ikut mengusahakan jenis tanaman ini meskipun masih berupa usaha sambilan dari kegiatan utama mereka sebagai petani penanam tanaman pangan, seperti padi dan palawija. Kebiasaan yang dilakukan masyarakat saat itu adalah menanam bibit karet di areal lahan yang sudah dipanen tanaman pangannya atau di areal yang baru dibuka sebelum ditanam tanaman pangan di atasnya. Selanjutnya, karet tersebut dibiarkan begitu saja hingga tiba saat diproduksi getahnya. Pekerjaan penyadapan dilakukan oleh masyarakat pemilik sendiri dengan tanpa melibatkan orang lain. Sedangkan pemasarannya sangat tergantung dengan harga yang ditetapkan oleh perusahaan perkebunan Belanda sebagai satu-satunya penampung karet hasil produksi masyarakat saat itu. Berdasarkan penelusuran terhadap beragam literatur terkait karet di Sumatra, dapat disimpulkan bahwa orang Sumatra sudah menanam karet jenis baru pada tahun 1905. Ini berarti bahwa orang Sumatra sudah tertarik mengusahakan tanaman karet selang beberapa saat saja dari pembukaan perkebunan karet yang dilakukan oleh beragam perusahaan yang berafiliasi dengan Belanda. Lebih lanjut dikatakan bahwa di hampir semua distrik di Jambi, orang-orang lokal sudah menanam salah satu jenis tanaman komoditas ekspor ini. Hal yang sama juga terjadi di Palembang, Bengkulu, Komering, Rawas, dan daerah-daerah hulu dan hilir Sungai Musi. Pendek kata, karet sudah menjadi primadona yang menarik hati setiap warga masyarakat di Sumatra untuk mengusahakannya. Hal ini dapat dimengerti karena permintaan pasar yang tinggi membuat harga jualnya melambung sehingga pada gilirannya membuat kesejahteraan masyarakat semakin terangkat dan membaik.

Yogyakarta, 2012

Daftar Bacaan

Ahmad, Rofiq. 1998. Perkebunan; Dari NES Ke PIR. Jakarta: Puspa Swara. Cetakan Pertama.

Departemen Pertanian RI. 1989. Industri Perkebunan Besar di Indonesia. Jakarta: Deptan-PT. Alogo Sejahtera.

Forum Pengkajian Perkaretan, 1994. Konsepsi Pembangunan Jangka Panjang Perkaretan Indonesia (1994-2019). Jakarta : Kerjasama PPPA dan GPKI.

Locher-Scholten, E.B. 2002. ‘Berdirinya Kekuasaan Kolonial di Jambi: Peran Ganda Politik dan Ekonomi’. dalam Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. J. Thomas Lindblad (ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Cetakan Pertama.

Padmo, Soegijanto. 2004. ‘Perusahaan Tanaman Karet di Sumatera Timur’ dalam Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media-Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Edisi Pertama.

Pahrudin HM. 2009. ‘Relasi Patronase Dalam Pengelolaan Perkebunan Karet Rakyat’. Jurnal Sosiologi Reflektif Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Volume 3, Nomor 2, April 2009.

Purwanto, Bambang. 2002. ‘Ekonomi Karet Rakyat Indonesia Tahun 1890-an Sampai 1940’. dalam J. Thomas Lindblad (ed.). Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM. Cetakan Pertama.

Tim Penulis Penebar Swadaya. 2006. Karet, Budi Daya dan Pengolahan serta Strategi Pemasaran. Depok: PT. Penebar Swadaya. Cetakan Kedua Belas.

Zed, Mestika. 2002. ‘Ekonomi Dualistis Palembang pada Periode Kolonial Akhir’ dalam J. Thomas Lindblad (ed.). Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM. Cetakan Pertama.

Sejarah Peradaban Mesir Kuno

Oleh: Pahrudin HM, M.A. & Khomisah, M.A.

Peradaban Mesir Kuno berawal dari pemukiman penduduk di sepanjang Sungai Nil yang berasal dari suku-suku nomaden Gurun Sahara Afrika sekitar 10.000 tahun yang lalu. Telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama akhirnya pemukiman penduduk ini terus bertambah dan berkembang menjadi kota-kota yang masing-masing berdiri sendiri. Kondisi ini terus berlangsung seiring dengan perkembangan pertanian yang dilakukan orang-orang di lahan-lahan subur yang dibasahi air di sepanjang aliran sungai Nil. Selanjutnya, pemukiman-pemukiman tersebut membentuk menjadi wilayah-wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri-sendiri. Pada masa ini di Mesir berdiri dua kerajaan yang masing-masing berdaulat atas wilayahnya masing-masing, yaitu Kerajaan Mesir Hilir (Upper Egypt) yang berpusat di Memphis dan Kerajaan Mesir Hulu (Lower Egypt) yang berpusat di Thebes. Kondisi seperti ini terus berlangsung sampai kemudian seorang yang bernama Meni (atau ‘Menes’ dalam literatur Yunani dan dikenal juga dengan ‘Namer’ dalam literatur lainnya) mempersatukannya pada tahun 3100 SM sehingga sejak saat itu Mesir hanya memiliki satu kerajaan saja dan para penguasanya bergelar Fir’aun atau Pharaoh .

Para ahli membagi sejarah Mesir Kuno menjadi tiga periode, yaitu: Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru. Kerajaan Lama (old kingdom) memiliki enam dinasti, mulai Dinasti I sampai Dinasti VI dan berlangsung dalam rentang waktu tahun 3100-2181 SM. Kerajaan Pertengahan (middle kingdom) memiliki sebelas dinasti, mulai Dinasti VII sampai Dinasti XVII dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 2181-1550 SM. Sedangkan Kerajaan Baru (new kingdom) mempunyai tiga belas dinasti, mulai Dinasti XVIII sampai Dinasti XXX dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 1550-343 SM.  Dengan demikian, kerajaan Mesir Kuno secara keseluruhan memiliki tiga puluh dinasti yang secara silih berganti memerintah negeri yang identik dengan Sungai Nil ini.

Naiknya Menes (3100 SM) sebagai penguasa yang bergelar Fir’aun pertama dan mendirikan pusat pemerintahan di Memphis menandai dimulainya masa Kerajaan Lama. Sedangkan akhir dari masa Kerajaan Lama adalah runtuhnya Dinasti VI di masa pemerintahan Fir’aun Nitocris (2184-2181 SM). Penguasa keenam dari Dinasti VI ini tidak lagi mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar akibat perekonomian yang merosot karena panen yang gagal di tengah kemarau panjang yang terjadi antara tahun 2200 hingga 2150 SM. Masa ini ditandai dengan terjadinya kelaparan di seluruh negeri akibat panen beragam produk pertanian masyarakat gagal. Masa ini juga ditandai dengan semakin memudar dan berkurangnya kekuatan Fir’aun, dan sebaliknya  para gubernur regional (nomark) mulai menampakkan penentangannya terhadap kekuatan Fir’aun.

Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Kerajaan Lama, muncul Kerajaan Pertengahan (2181-1550 SM) yang ditandai dengan terpecahnya kembali Mesir menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Para gubernur lokal (nomark) yang sukses melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Lama memproklamirkan kekuasaannya di wilayah mereka masing-masing. Keluarga Intef yang merupakan gubernur wilayah Thebes di masa Kerajaan Lama, misalnya, memproklamasikan kekuasaannya atas kawasan Hulu Mesir dan mendirikan Dinasti XI. Begitu pula dengan keluarga Montuhotep yang di masa Kerajaan Lama menjadi gubernur daerah Memphis juga mengangkat dirinya sebagai penguasa wilayah Hilir Mesir. Pada tahun 1985 SM, Mesir kembali bersatu dalam sebuah kerajaan pada masa Amenemhat I (1985-1955 SM). Fir’aun pertama dalam Dinasti XII ini berhasil mengalahkan keluarga Intef dan keluarga Montuhotep yang menguasai kawasan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Masa ini ditandai dengan pemindahan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Pada masa Fir’aun keenam dari Dinasti XII, Amenemhat III (1855-1808 SM), orang-orang Asia mulai didatangkan untuk mengerjakan berbagai proyek kerajaan. Para pekerja dari Asia ini ditempatkan di kawasan delta, dekat dengan pusat kerajaan. Akan tetapi, beragam proyek ambisius kerajaan tersebut ternyata justru semakin membebani keuangan kerajaan. Implikasinya adalah terjadinya kemunduran ekonomi yang berujung pada semakin keroposnya kekuatan kerajaan. Karena kerajaan yang semakin melemah dan akhirnya hancur pada tahun 1795 SM, para pendatang Asia ini mulai menguasai Avaris di wilayah delta dan selanjutnya menguasai wilayah yang ditinggalkan Dinasti XII. Sejak tahun 1795 SM, Mesir mulai dikuasai oleh kekuatan asing dalam wujud para pendatang Asia yang kemudian dikenal sebagai bangsa Hyksos dan mendirikan Dinasti XIII sampai Dinasti XVI atau sampai tahun 1555 SM dengan para penguasanya yang terkenal, yaitu Salitis (Fir’aun Pertama dari Dinasti XV), Khyan (Fir’aun Kedua dari Dinasti XV), Apepi (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVI) dan Khamudi yang merupakan Fir’aun Kedua dari Dinasti XVI.

Sebagai negeri yang memiliki sejarah besar di masa lalu, orang-orang Mesir tentu tidak tinggal diam dengan kekuasaan bangsa Hyksos di tanah mereka. Sisa-sisa kekuatan dari kerajaan sebelumnya mulai melakukan konsolidasi untuk menentang kekuasaan bangsa Hyksos atas Mesir. Secara berlahan, sisa-sisa kekuatan masa lalu tersebut mulai mampu menguasai wilayah-wilayah tertentu dari dominasi Hyksos seperti yang berhasil ditunjukkan oleh anak keturunan Intef dengan menguasai Thebes pada tahun 1555 SM. Kesuksesan ini seakan menginspirasi sisa-sisa kekuatan lainnya untuk merebut kekuasaan dari tangan bangsa Hyksos seperti Seqenenre Taa II (Fir’aun Kedua dari Dinasti XVII) dan Kamose (Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVII) hanya berselang beberapa tahun setelah Intef. Kekuasaan bangsa Hyksos yang berasal dari Asia ini atas Mesir akhirnya benar-benar berakhir pada tahun 1550 SM seiring dengan munculnya masa Kerajaan Baru (New Kingdom) yang ditandainya dengan tampilnya Ahmose (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII) yang berhasil mengalahkan Hyksos dan mengusirnya dari Mesir (Rosalie, 2001: 86). Dengan kalahnya Hyksos, Mesir kembali dipersatukan dalam kekuasaan kerajaan tunggal dengan dinasti yang silih berganti dimulai dari Dinasti XVIII (1550 SM) sampai Dinasti XXX (343 SM). Masa Kerajaan Baru merupakan masa terpanjang dalam sejarah Mesir Kuno dan mencatatkan beragam kemajuan dan perkembangan yang sangat signifikan bagi peradaban negeri ini. Kerajaan Baru memprioritaskan kekuatan militer agar dapat memperluas perbatasan wilayah kekuasaan yang tidak hanya mencakup Mesir, tetapi juga kawasan-kawasan lainnya yang ada di sekitar khususnya wilayah Timur Dekat.

Para Fir’aun yang berkuasa di beragam dinasti yang ada di Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan bagi rakyat Mesir yang tidak tertandingi jika dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Perbatasan kerajaan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I (1504-1492 SM) yang merupakan Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVIII dan cucunya Tuthmosis III (1479-1425 SM) sebagai Fir’aun Kelima dari dinasti yang sama memperluas pengaruh kerajaan hingga ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Para penguasa Kerajaan Baru ini juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak.

Masa berikutnya adalah Dinasti XIX yang diawali dengan naiknya Ramses I (1295-1294 SM) sebagai Fir’aun Pertama ke tampuk kekuasaan Kerajaan Baru. Namun demikian, masa keemasan dinasti ini terjadi pada masa Ramses II (Fir’aun Ketiga) yang naik tahta pada tahun 1279 SM sampai tahun 1213 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada Fir’aun-Fir’aun lain dalam sejarah. Di masa kekuasaannya, wilayah kerajaan membentang luas dari Abu Simbel hingga ke laut Mediterania dan Mesir sangat disegani oleh negara-negara yang ada di sekitarnya. Sejarah juga mencatat bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan karena kebesaran dan luasnya kekuasaannya. Langkah Ramses II ini kelak dikuti oleh anaknya yang menggantikan posisinya, Merneptah (1213-1203 SM). Penguasa Keempat dari Dinasti XIX inilah yang diyakini oleh banyak kalangan sebagai Fir’aun yang ditenggelamkan oleh Tuhan di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa beserta kaumnya (Qs. Thāha [20]: 77, asy-Syu’arā’ [26]: 61-62, al-Baqarah [2]: 50, Yūnus [10]: 92).

Sepeninggal Ramses II, dapat dikatakan bahwa Mesir tidak lagi memiliki pemimpin yang mampu menorehkan catatan sejarah yang gemilang. Meskipun dinasti silih berganti, namun para Fir’aun yang memerintah tidak menghadirkan beragam kemajuan yang berarti bagi peradaban Mesir Kuno sebagaimana yang ditorehkan para pendahulunya, terutama Ramses II. Hasilnya, pada tahun 818-749 SM pada masa Dinasti XXIII Mesir kembali mengalami kemunduran dan perpecahan di kalangan para pemimpinnya. Kondisi yang tidak kondusif ini dimanfaatkan oleh kekuatan lain yang ada di sekitarnya untuk menguasai wilayah yang penting di Afrika ini. Sejak tahun 672-525 SM, Mesir dikuasai oleh bangsa Saite yang berasal dari Libya dengan membangun Dinasti XXVI, kemudian berlanjut dengan serbuan bangsa Persia dan mengambil alih kekuasaan di Mesir pada tahun 525-359 SM. Akhirnya masa Mesir Kuno benar-benar berakhir pada tahun 343 SM dan hanya menyisakan bekas-bekas kekuasaan serta peninggalan sejarahnya.

Peradaban Mesir di ketiga masa tersebut di atas mengalami perkembangan yang pesat. Sebagai negeri yang mengandalkan pertanian sebagai penyokong utama perekonomian kerajaan, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem pengaturan air Sungai Nil. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh Menes, pendiri kerajaan para Fir’aun sekaligus pemersatu Mesir, setelah melihat dampak negatif yang ditimbulkan akibat ‘pembanjiran’ Sungai Nil di setiap bulan April-Juli. Untuk menyokong sistem pengaturan air layaknya bendungan yang dikenal sekarang, orang-orang Mesir Kuno membangun kanal-kanal agar volume air yang besar tidak berkumpul pada satu tempat saja. Di samping itu, kanal-kanal yang berupa parit-parit ini juga berfungsi untuk mengalirkan air ke tempat-tempat lain yang dikehendaki. Dengan adanya bendungan dan kanal-kanal seperti sistem irigasi yang dikenal sekarang, pertanian Mesir Kuno meningkat signifikan dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Pada gilirannya, perekonomian kerajaan juga meningkat sehingga dapat membangun beragam proyek penting seperti kuil dan piramid yang dapat disaksikan sekarang.

Kemajuan ekonomi sebagai dampak ikutan dari pertanian yang berkembang signifikan membuat orang-orang Mesir Kuno mampu membangun proyek-proyek kolosal dan membuat karya-karya seni istimewa. Orang pertama yang mempelopori pembangunan karya-karya monumental adalah Djoser atau Zeser (2667-2648 SM) sehingga membuatnya dikenal sebagai The Creator of a Tradition. Fir’aun Kedua dari Dinasti III ini pertama kali mendirikan sebuah bangunan besar yang terbuat dari susunan batu-batu berbentuk bata serta mendirikan sebuah tower berbentuk persegi panjang di Abydos. Langkah ini terus dikembangkan oleh para Fir’aun setelahnya, seperti Dinasti IV yang membangun sebuah piramid raksasa di Giza dan juga Pepi I sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti VI yang mendirikan bangunan yang sama di dekat istananya. Begitu juga para Fir’aun di masa Kerajaan Baru, seperti Kuil Karnak di Luxor yang merupakan kompleks peribadatan dan menjadi bangunan termegah yang pernah dibangun oleh para Fir’aun. Kuil Karnak pertama kali dibangun pada masa Ahmose (1550-1525 SM) yang merupakan Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII atau dinasti pertama Kerajaan Baru dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Kuil yang menandai kebesaran para Fir’aun dinasti awal Kerajaan Baru ini sekarang hanya menyisakan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi serta patung-patung dalam beragam ukuran dan bentuk. Begitu juga dengan Kuil Abu Simbel di dekat perbatasan Sudan yang dibangun oleh Ramses II (1279-1213 SM) sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX.

Orang Mesir Kuno tidak hanya menghadirkan peradaban dari aspek fisik sebagaimana yang dikemukakan di atas, tetapi juga aspek lainnya seperti keagamaan misalnya. Sejak awal berdirinya kerajaan para Fir’aun, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem kepercayaan yang dianut. Sebagai bentuk apresiasi mereka atas manfaat besar yang dihadirkan oleh matahari dan Sungai Nil (air), orang-orang Mesir Kuno mengenal tuhan (dewa) dalam wujud Osiris dan Isis. Osiris merupakan manifestasi dari matahari yang memberikan banyak manfaat bagi Mesir dengan menyinari dunia setiap datangnya siang, sedangkan Isis merupakan perwujudan dari Sungai Nil yang menghadirkan air dan tanah yang subur. Di samping dua sosok ini, orang Mesir Kuno juga mengenal objek sesembahan lain, yaitu Horus, anak dari pasangan Osiris dan Isis. Ketiga sosok yang disembah ini (Osiris-Isis-Horus) banyak menghiasi dinding-dinding piramid dan kuil yang dibangun oleh para Fir’aun di berbagai tempat di Mesir. Pada perkembangan selanjutnya, sistem kepercayaan orang Mesir Kuno juga mengalami perubahan. Hal ini terjadi ketika Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII naik tahta pada tahun 1352 SM. Anak dari Amenhotep III (1390-1352 SM) ini mengubah sistem  kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Mesir. Di masa-masa sebelumnya, sistem kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Mesir adalah menyembah banyak dewa, namun ketika Amenhotep III berkuasa ia melakukan reformasi keagamaan yang radikal dan dianggap menyesatkan oleh para penentangnya. Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII ini hanya mengakui satu dewa, yaitu Dewa Pencipta Matahari (Aten) dan mengubah namanya menjadi Akhenaten. Di samping itu, Akhenaten juga memindahkan ibukota kerajaan ke suatu tempat yang baru bernama Akhetaten. Meskipun demikian, sepeninggal Amenhotep IV para penggantinya selanjutnya dari Dinasti XVIII (Tutankhamun, Ay dan Horemheb) kembali kepada sistem kepercayaan sebelumnya dan meninggalkan sama sekali kepercayaan satu dewa yang diusung Akhenaten ini.

Peninggalan sejarah lainnya dari Mesir Kuno adalah tatacara pemakaman orang mati atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘mumi’. Orang Mesir Kuno mempertahankan seperanngkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh orang mati di alam berikutnya. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan Dinasti IV, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik. Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar yang telah dicat. Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal bagi yang mati juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama orang yang meninggal tersebut.

Bidang sastra juga mengalami perkembangan yang signifikan di masa Mesir Kuno. Pada awalnya, sastra yang berupa bait-bait puisi hanya digunakan untuk menghias dekorasi kuil atau istana pada Fir’aun yang dikombinasikan dengan gaya arsitektur yang ada saat itu. Tema yang digunakan adalah penggambaran tentang keadaan alam yang ada di sekitarnya, seperti ikan, binatang dan lain sebagainya. Kemudian sastra berkembang menjadi sarana untuk memuji dewa yang dikenal dalam sistem kepercayaan masyarakat Mesir saat itu. Bait-bait puisi pujian terhadap dewa ini dipahatkan di dinding piramid dan ditulis di atas batu. Pada saat Mesir Kuno memasuki masa Kerajaan Pertengahan, sastra berkembang menjadi sarana revolusi sosial dan dimulainya penggunaan daun papirus sebagai media tulisnya. Di masa ini, muncul beragam karya sastra, seperti Teachings for King Merikara, The Satire of the Trades, The Tale of the Peasant dan Hymns to Aten yang mengetengahkan gambaran mengenai keadaan politik, sosial dan keagamaan saat itu. Pada masa Kerajaan Baru, sastra berkembang menjadi sarana pengungkapan cinta kepada seseorang yang dicintai, seperti Songs to Gladden The Heart yang berisikan pujian seorang laki-laki terhadap perempuan kekasihnya.

Seperti halnya laki-laki, perempuan Mesir Kuno berada dalam posisi yang sama dan memiliki kesempatan yang sama pula untuk berkiprah. Kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Mesir Kuno ini diyakini sebagai pandangan yang tertua dalam peradaban manusia berkaitan dengan hubungan antara kedua jenis kelamin ini. Hal ini misalnya mengemuka dalam konsepsi orang Mesir Kuno mengenai Osiris dan Isis yang mereka yakini sebagai tuhan atau dewa yang disembah. Berdasarkan jenis kelamin, Osiris adalah Dewa Matahari yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Isis adalah Dewa Nil yang berjenis kelamin kelamin perempuan. Osiris dan Isis, dalam konsepsi orang Mesir Kuno, saling berbagi kekuasaan dalam memerintah alam semesta dan masing-masing bertugas sesuai dengan tanggung jawab yang diembannya. Osiris bertugas dan bertanggungjawab untuk menyinari bumi di saat bumi memasuki waktu siang, sedangkan Isis bertugas membasahi dan menyuburkan lahan-lahan pertanian dengan airnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejak dahulu orang Mesir Kuno sudah meyakini bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara dan masing-masing berkesempatan yang sama untuk memainkan peranan yang dikehendakinya.  Di samping itu, orang Mesir Kuno juga memandang siapa pun sama di mata hukum, tidak jadi soal apakah dia perempuan ataukah laki-laki dan berasal dari kelas sosial apa pun (kecuali budak) akan diperlakukan secara baik dan adil. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang sama untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian.

Pandangan positif masyarakat Mesir Kuno terhadap perempuan dapat dilihat dan disaksikan melalui beragam peninggalan sejarah dari peradaban tinggi yang pernah mereka hasilkan. Melalui pahatan-pahatan di dinding berbagai gua dan kuil yang mengungkapkan beragam peristiwa yang pernah terjadi di masa Mesir Kuno terlihat bahwa perempuan digambarkan dalam ukuran yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga dapat bekerja di pabrik sebagai pemintal benang, menganyam, membuat permadani, berdagang di pasar dan bersama-sama dengan suaminya berburu binatang. Di halaman depan Kuil Karnak yang merupakan salah satu peninggalan sejarah Mesir Kuno, terdapat prasasti yang dipersembahkan secara khusus untuk seorang kepala dokter perempuan (Bhisist) yang menghukum salah seorang suami yang mencela suaminya dengan smasatus kali cambukan serta dihapuskan dari daftar penerima harta warisan. Citra positif lainnya terhadap perempuan adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk mengikuti berbagai perlombaan olahraga tanpa dibatasi oleh aturan apapun yang dianggap menghambat kiprahnya.

Gambaran positif yang ada dalam masyarakat Mesir terhadap perempuan membuat sejarah negeri ini dihiasi oleh peranannya yang signifikan. Masa Kerajaan Pertengahan (2118-1550 SM) mencatatkan munculnya seorang Fir’aun perempuan bernama Sobekneferu yang memerintah Mesir pada tahun 1799-1795 SM. Meskipun memerintah Mesir dalam waktu yang singkat (sekitar empat tahun), namun Fir’aun Kedelapan dari Dinasti XII ini berdiri sejajar dengan para Fir’aun laki-laki lainnya dalam memerintah Mesir saat itu.

Seperti halnya di masa Kerajaan Pertengahan, perempuan di masa Kerajaan Baru juga dicitrakan secara positif oleh masyarakat. Hal ini mengemuka dengan hadirnya Fir’aun perempuan lainnya mengikuti kesuksesan Sobekneferu sebelumnya. Masa Kerajaan Baru mencatatkan seorang tokoh perempuan yang menjadi penguasa sebuah kerajaan besar di masanya. Ialah seorang Fir’aun Keenam dari Dinasti XVIII bernama Hatshepsut (1473-1458 SM) yang berperan besar dalam menghadirkan kemakmuran bagi rakyat Mesir melalui perdagangan getah Arab (myrrh), damar dan kayu wangi dengan  Nubia dan Punt atau Somalia saat ini. Masa kekuasaan Fir’aun perempuan ini dikatakan sebagai salah satu masa keemasan dan kemakmuran yang pernah dirasakan rakyat Mesir di masa lampau. Di samping itu, Fir’aun perempuan dari Dinasti XVIII ini juga berhasil membangun kuil kamar mayat yang elegan, mendirikan pasangan tugu batu (obeliks) kolosal, dan sebuah kuil megah di Karnak.

Di samping sebagai ratu sebagai akibat dari citra positif yang disandangnya, perempuan di masa ini juga berperan penting dalam kesuksesan yang dicapai oleh para Fir’aun laki-laki. Salah satunya adalah Ratu Tiye (1370 SM) yang disebut sebagai The Queen As Diplomat karena peranan besarnya di balik kebesaran nama suaminya, Amenhotep III sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII. Begitu juga dengan Ratu Nefertiti (1345 SM) yang sukses menjadi mitra suaminya, Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesepuluh dari Dinasti XVII, dalam memimpin Mesir dan selalu disebut dalam catatan emas sejarah Mesir Kuno. Sama halnya juga dengan Ratu Nefertari (1270 SM) yang berhasil mendampingi Ramses II sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX dalam memimpin Mesir melalui pemikiran-pemikiran cerdasnya. Hal ini tentu hanya dapat dicapai berkat kecerdasan dan wawasan luas yang dimiliki perempuan Mesir di masa ini sehingga memunculkan para tokohnya yang berperan signifikan bagi masyarakat.

Pada tahun 343 SM, masa kekuasaan para Fir’aun di Mesir berakhir dengan tumbangnya Nectanebo II dari kekuasaannya sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XXX. Selang beberapa tahun kemudian, atau tepatnya tahun 332 SM, Alexander Yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia yang menguasai wilayah ini sejak tahun 522 SM. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah (Alexandria). Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah. Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa Dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus. Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir karena penguasa Dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai Fir’aun.

Seperti halnya di masa sebelumnya, perempuan Mesir di masa Dinasti Ptolemeus juga diyakini setara dan sejajar dengan laki-laki. Hal ini karena terjadinya penurunan polarisasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan bersamaan dengan menguatnya kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir. Pandangan positif mengenai perempuan di masa ini berakar pada pendapat Plato dalam bukunya, Republic, yang mengungkapkan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dapat berperan di ranah publik jika memiliki kualifikasi dan kemampuan. Pendapat ini mereduksi ketidaksetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan yang ada dalam masyarakat Yunani saat itu dan kemudian dijadikan pijakan kebijakan oleh Dinasti Ptolemeus yang memerintah Mesir sepeninggal Alexander Yang Agung.

Masa Dinasti Ptolemeus di Mesir atau yang biasa dikenal dengan Hellenistik berawal dari kematian Alexander The Great sampai dengan kematian Ratu Cleopatra VII.  Dinasti Ptolemeus yang menganggap perempuan setara dengan laki-laki memiliki banyak perempuan yang berkedudukan sebagai penguasa. Ratu Arsinoë II (316-270 SM) merupakan tokoh perempuan yang layak disejajarkan dengan dua perempuan sebelumnya, Sobekneferu dan Hatshepsut. Tokoh perempuan dari Dinasti Ptolemeus ini pernah memerintah Mesir selama 46 tahun dengan menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena kebesaran nama dan beragam kemajuan yang dicapai selama pemerintahannya maka ia dipuja bagai dewi semasa hidupnya, dan masih dihormati selama 200 tahun setelah kematiannya. Sebagai kepala negara, ia memimpin peperangan dengan beragam kekuatan yang ada saat itu bersama dengan pasukannya dan juga mengikuti serta memenangkan tiga pertandingan Olimpiade pada masanya untuk cabang berkuda.

Tokoh perempuan yang dikatakan sebagai puncak dari aktualisasi kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah Cleopatra VII Philopator. Ia adalah ratu Mesir yang memerintah negeri ini pada Januari 69 SM12 Agustus 30 SM dan anggota terakhir Dinasti Ptolemeus. Walaupun banyak ratu Mesir lain yang menggunakan namanya, ialah yang dikenal dengan nama Cleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Ia diangkat sebagai penguasa Mesir saat masih berusia 18 tahun untuk menggantikan posisi kakaknya, Cleopatra VI (Tryphaena), yang meninggal dunia setelah melanjutkan pemerintahan ibunya (Cleopatra V) yang digulingkan oleh ayahnya sendiri, Ptolemeus XII, selama dua tahun. Pada awalnya, Cleopatra memerintah Mesir bersama adik yang sekaligus juga suaminya, Ptolemeus XIII, yang saat itu masih berusia 12 tahun. Kedua penguasa ini memerintah Mesir hanya dalam beberapa tahun saja karena secara berlahan Cleopatra berhasil menyingkirkan Ptolemeus XIII. Cleopatra menghadapi berbagai permasalahan negara yang ada saat itu, seperti ekonomi, kelaparan, banjir Sungai Nil dan konflik politik serta yang kalah pentingnya adalah ancaman penyerbuan Romawi. Namun demikian, karena kepiawaian dan kecerdasannya, Ratu Cleopatra mampu menyelesaikan beragam permasalahan yang dihadapi Mesir di masa pemerintahannya tersebut. Cleopatra juga mampu mengatasi segala permasalahan tersebut yang berhasil membawa Mesir mempertahankan dirinya dari pengaruh luar, khususnya serbuan penguasa Romawi yang dipimpin oleh Caesar. Ia bahkan sangat piawai dalam melakukan negosiasi dan hubungan baik dengan dua orang kuat Romawi saat itu, Julius Caesar sebagai raja dan Mark Anthony sebagai panglima peranang. Meskipun pada tahun 30 SM Cleopatra harus mengakui kekuasaan Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) dalam Pertempuran Actium, namun beragam kelebihannya selama memerintah Mesir tetap dijadikan acuan dalam mengaktualisasikan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, khususnya di ranah publik.

Salah satu karya terbesar yang dihadirkan oleh Cleopatra bagi peradaban Mesir adalah pendirian kembali Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Anak Perempuan yang mengoleksi beragam literatur ilmu pengetahuan. Setelah sempat rusak akibat serbuan tentara Romawi, Cleopatra membangun kembali Perpustakaan Alexandria. Berdasarkan pengetahuan pengumpulan naskah (filologi) yang sudah ada saat itu, Cleopatra menghimpun kembali beragam literatur yang sempat hilang dan mengumpulkannya di Perpustakaan Iskandariyah. Perpustakaan ini mengoleksi tidak kurang dari 700.000 buku dan catatan ilmu pengetahuan, seperti Mesir Kuno dan karya-karya Ariestoteles serta ilmuan-ilmuan Yunani lainnya. Di samping sebagai tempat koleksi buku, Perpustakaan Alexandria juga menjadi tempat para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mengadakan diskusi dan kajian ilmiah. Sangat disayangkan perpustakaan ini dihancurkan dan buku-bukunya dibakar pada penyerbuan Romawi yang kedua pada tahun 389 M atas perintah Raja Theodosius.

Masa kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir berakhir dengan serbuan yang dilakukan oleh tentara Romawi pada tahun 30 SM setelah Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) berhasil mengalahkan Ratu Cleopatra VII dalam Pertempuran Actium. Penyerbuan ini didasarkan pada kebutuhan Romawi akan gandum dari Mesir dan beragam sumberdaya lainnya yang terdapat di negeri ini. Berbeda halnya dengan Yunani yang memperlakukan rakyat Mesir dengan baik, penguasa Romawi berlaku sangat kasar terhadap penduduk yang ada di negeri jajahannya ini. Meskipun demikian, masih terdapat aspek positif dari kekuasaan Romawi di Mesir yaitu tetap membiarkan beberapa tradisi setempat berkembang, seperti mumifikasi kepada orang mati dan pemujaan dewa-dewa.

Yogyakarta, 2011

Menelisik Terorisme Pasca Wafatnya Osama

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar

Minggu, 1 Mei 2011 bisa jadi saat yang akan selalu dikenang dan tercatat dalam sejarah dunia serta akan selalu menjadi momen yang bahagia terutama bagi masyarakat Amerika Serikat. Ya, hari pertama di bulan kelima tersebut mencatatkan tewasnya seorang musuh terbesar Barat, khususnya Amerika Serikat, yang sudah diburu selama 10 tahun tahun terakhir, Usamah bin Ladin (‘Osama bin Laden’ dalam literatur resmi yang dikeluarkan beragam media dunia). Sosok yang dikatakan Barat sebagai ‘Al-Qaeda Leader’ ini dikatakan tewas dalam sebuah penyergapan yang dilakukan oleh pasukan elit Amerika Serikat di Abbotabad, Pakistan. Pria kelahiran Riyadh Arab Saudi ini memang sudah lama diburu Barat yang dikomandoi oleh Amerika karena dianggap sebagai gembong beragam aksi teror di seluruh dunia, terutama serangan terhadap menara kembar WTC pada 11 September 2001 yang lalu. Untuk memburu Osama, Amerika tidak hanya mengerahkan pasukan-pasukan elitnya yang lengkap dengan beragam persenjataan militer yang super canggih, tetapi juga menyelenggarakan sayembara dengan hadiah ratusan miliar rupiah bagi siapa saja yang dapat memberi informasi, apalagi menangkap, sosok yang menjadi buruan utamanya ini.

Barangkali, hidup Osama memang ditakdirkan hanya sampai 30 April 2011 jika memang ‘klaim’ Presiden Barack Obama mengenai kematiannya itu memang benar. Hal ini karena sebelumnya sudah seringkali Osama diberikan meninggal dunia meskipun terbukti ia masih tetap eksis sampai paling tidak April 2011 kemaren. Keraguan berita kematian Osama juga berdasarkan pada adanya dugaan photo jenazahnya yang beredar di berbagai media massa merupakan hasil rekayasa teknologi fotografi terhadap beragam gambarnya yang ada selama ini. Sudahlah, memang berita kematiannya kali ini cukup mendasar karena disampaikan langsung oleh presiden dari sebuah negara adidaya dunia, meskipun hal itu dapat pula terjadi sebaliknya. Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah apakah beragam teror yang ada selama ini di berbagai belahan dunia akan berakhir dengan sendirinya karena kematian Osama. Pertanyaan yang cukup perlu didapatkan jawaban pastinya.

Munculnya Terorisme

Terorisme merupakan alat atau cara yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mengintimidasi atau menakuti seseorang atau sekelompok orang karena tujuan tertentu. Sebagian besar aksi terorisme mengemuka karena ketidaksukaan atau ketidakrelaan terhadap sesuatu atau seseorang atau lembaga yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diakui, atau dalam bahasa sederhananya adalah karena pelampiasan dari perasaan ketidakadilan yang dialami seseorang atau sekelompok orang. Terorisme memang bukan monopoli kelompok, etnis atau agama tertentu karena ia dapat saja terjadi di berbagai tempat dan beragam keadaan. Aksi terorisme terjadi di Irlandia akibat ketidakrelaan beberapa komponen masyarakatnya atas pengaruh Inggris di negara itu, juga terjadi di India yang dilakukan oleh sekelompok kaum komunis Maois, juga terjadi di Spanyol yang dilakukan kelompok Bosque yang menghendaki pemisahan wilayah dari kerajaan di Semenanjung Iberia tersebut, dan terjadi di Filipina yang dilakukan oleh kelompok komunis dan Islam di Mindanao serta di berbagai belahan dunia lainnya.  Singkat kata, aksi terorisme dapat diterjadi di mana saja tanpa mengenal negara jika penyebabnya yaitu ketidakadilan memang nyata dirasakan oleh masyarakatnya.

Terorisme Yang Dilakukan Oknum ‘Muslim’

Meskipun aksi terorisme dapat terjadi di mana saja dan dapat dilakukan oleh siapa pun, namun aksi yang dilakukan kelompok Islam cenderung mendapat perhatian yang lebih. Hal ini boleh jadi terjadi karena intensitas aksi yang dilakukan lebih banyak dan dalam skala yang lebih luas (global) jika dibandingkan aksi-aksi terorisme lainnya yang sangat bersifat regional atau lokal. Lihatlah aksi yang dilakukan terhadap menara kembar WTC yang dilakukan bukan oleh warga Amerika dan beragam aksi teror lainnya di seluruh dunia. Menarik kemudian untuk melihat kenapa aksi terorisme yang dilakukan oleh ‘oknum-oknum Islam’ (karena tidak semua umat Islam melakukannya dan menyepakati aksi yang dilakukan) cenderung gencar dilakukan yang pada akhirnya mendapatkan porsi perhatian yang luar biasa dari warga bumi.

Banyak pengamat mengungkapkan bahwa aksi terorisme yang dilakukan oleh ‘para oknum muslim” ini dilakukan akibat ketidakadilan perlakuan dan kebijakan ganda yang diterapkan oleh Barat, utamanya Amerika Serikat dan Inggris. Sebagai satu-satunya negara superpower dunia pasca runtuhnya Uni Sovyet, Amerika melakukan kebijakan yang tidak berimbang dalam mengatur dunia dan hanya mengutamakan kepentingannya beserta para sekutunya. Contoh yang paling nyata adalah ‘kebijakan’ berat sebelah Negeri Paman Sam terhadap negara-negara Timur Tengah. Israel yang menjadi ‘anak emas’ Amerika sangat dimanja dan dilindungi dengan segala cara padahal sudah sangat sering melakukan pelanggaran, bahkan hak asasi manusia yang selalu didengungkan Barat. Sementara negara-negara lainnya jika melakukan hal itu sudah langsung dibabat dan dirontokkan, seperti yang dialami oleh Irak dan Iran. Perlakukan istimewa Amerika dan Inggris terhadap Israel ini sudah berlangsung sejak Negara Zionis ini berdiri pada tahun 1948 karena merupakan ‘hadiah’ dari penguasa dunia tersebut. Dari beragam aspek Israel selalu dibantu Barat, seperti militer dan ekonomi, begitu juga bantuan dari kemungkinan ancaman yang muncul dari negara-negara tetangga Arabnya. Masih segar dalam ingatan kita pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan Gaza, dan bahkan Komisi HAM PBB sudah menetapkannya sebagai sebuah pelanggaran, tetapi dengan segala cara Barat berusaha membantu ‘anak emas’-nya. Dan yang paling terbaru adalah ketidaksukaan Amerika terhadap rekonsiliasi yang dilakukan Pemerintah Palestina dan Hamas dalam upaya kedua kelompok ini untuk bersama-sama membangun masa depan Palestina. Dan masih banyak bukti pelanggaran Israel terhadap kemanusian, seperti pembantaian ribuan warga Palestina sepanjang tahun 1948-sekarang, yang tidak dihiraukan Amerika dan Barat yang semakin memperlihatkan standar ganda dan perlakuan tidak adil yang mereka terapkan.

Dengan demikian, sepertinya aksi terorisme tidak akan pernah berhenti selama Barat yang disponsori Amerika tidak menghentikan standar ganda dan perlakuan tidak adilnya terhadap dunia. Meskipun saya yakin sebagian besar masyarakat dunia, khususnya muslim yang termasuk saya, tidak merestui beragam aksi teror yang dilakukan sekelompok orang itu, namun faktor yang menjadi pemicunya harus terlebih dahulu dihilangkan atau diperbaiki. Di era Obama yang gencar menyuarakan perbaikan hubungan dengan dunia Islam, semoga pemicu terorisme segera disadari dan diperbaiki agar dunia diselimuti keadilan, ketentraman, dan kemakmuran. Jangan lagi ada Osama-Osama lain yang lahir untuk menyadarkan dan meluruskan ‘kebijakan-kebijakan’ Barat yang tidak adil. Semoga.

Mengenal Etnis-Etnis di Timur Tengah

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar
Sebagaimana diketahui bahwa Timur Tengah (The Middle East atau asy-Syarq al-Awsat) mencakup suatu wilayah atau kawasan yang sangat luas, membentang di tiga benua (Asia, Afrika dan Eropa) jika merujuk pada pengertiannya yang luas atau di dua benua (Asia dan Afrika) bersadarkan pemahaman sederhananya. Di benua Asia, Timur Tengah mencakup seluruh kawasan yang ada di Asia Barat dan sebagian Asia Tengah, sedangkan di benua ‘Hitam’ berupa seluruh kawasan Afrika Afrika dan benua Afrika terdiri dari Eropa Tenggara atau yang biasa dikenal dengan Balkan.
Timur Tengah tidak hanya berupa suatu kawasan yang luas yang membentang di tiga benua, tetapi juga terdiri dari beragam etnis yang mendiami aneka ragam wilayah. Masing-masing kelompok masyarakat Timur Tengah tersebut memiliki karakteristik yang membedakannya dengan etnis lainnya di kawasan ini, meskipun terdapat juga beberapa persamaannya.

Arab dan Yahudi
Orang-orang Arab dan orang-orang Yahudi Timur Tengah secara historis masih memiliki hubungan kekerabatan karena keduanya berasal dari satu ras, yaitu ras Kaukasia atau Asia Barat yang juga lebih dikenal sebagai ‘Semit’ atau ‘Semitik’. Kata ‘Semit’ diambil berdasarkan temuan para ahli dalam Kitab Perjanjian Lama pada abad ke delapan belas yang merujuk pada keturunan Nabi Nuh, Sam, yang kemudian menurunkan Nabi Ibrahim sehingga mempertemukan orang-orang Yahudi dan Arab dalam kedua putranya, Ishaq dan Ismail. Meskipun sama-sama berhidung mancung, orang-orang Arab dan Yahudi memiliki bentuk hidung mancung yang khas jika dibandingkan dengan etnis lainnya yang ada di kawasan Timur Tengah. Akan tetapi, beberapa hal yang membedakan antara orang-orang Arab dan Yahudi sebagai sesama ras Semit adalah faktor agama yang dianut, dimana orang-orang Arab mayoritas penganut agama Islam sedangkan orang-orang Yahudi adalah para penganut agama Yahudi. Hal lainnya adalah aspek bahasa, dimana orang-orang Arab menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa kesehariannya, sedangkan orang-orang Yahudi menggunakan bahasa Ibrani. Selanjutnya, faktor tempat tinggal dimana orang-orang Arab menetap di suatu kawasan yang terasing di tengah padang pasir sedangkan orang-orang Yahudi menjadi nomaden dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Faktor lainnya yang membedakan kedua ras Semit ini adalah kebiasaan orang-orang Arab yang menggubah bait-bait puisi yang indah dengan bahasa yang menarik. Adapun kelebihan sekaligus juga kelemahan orang-orang Arab karena fanatisme kesukuan yang sangat tinggi, bahkan terkadang lebih dari segalanya. Hal ini sering menyulut perselisihan dan peperangan, baik sesama Arab maupun non-Arab. Setelah Islam datang, fanatisme kesukuan berganti dengan fanatisme terhadap Islam yang sangat tinggi sehingga di tangan orang-orang Arab Islam menjadi agama yang menguasai dunia. Sedangkan kelebihan Yahudi adalah orang-orang yang dikenal memiliki kecerdasan dan keahlian sebagaimana dicatat dalam sejarah beragam pakar dan ahli berbagai ilmu pengetahuan yang merupakan orang-orang Yahudi. Adapun kelemahan Yahudi adalah kebanggaan yang berlebihan akan keyahudian mereka sehingga menganggap bangsa lain lebih rendah karena merasa merekalah bangsa yang paling mulia dan terhormat di muka bumi ini. Orang-orang Arab sebagian besar tinggal di kawasan Asia Barat (Arab Saudi dan negara-negara Teluk, Yaman, Palestina, Syiria, Irak, Libanon dan Yordania), Afrika Utara (Marokko, Tunisia, Libya dan Aljazair), Afrika Barat (Mesir dan Sudan) dan di beberapa negara lain di seluruh dunia. Sedangkan orang-orang Yahudi saat ini terkonsentrasi di Israel dan dalam jumlah tertentu berada di Eropa dan Amerika.

Persia
Bangsa Persia yang secara sederhana saat ini direpresentasikan dengan Iran umumnya dikenal sebagai orang-orang yang hidup nomaden dengan tinggal di dalam kemah-kemah yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena hidup di alam yang keras dan liar, orang Persia terbentuk menjadi individu yang keras pula. Namun setelah mereka menetap di suatu kawasan dengan menjadi petani dan pengembala, membuat mereka menjadi pribadi yang berhati ikhlas, pemurah dan suka menjamu tamu. Dan salah satu ciri terpenting yang dikenal dunia dari orang-orang Persia adalah kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan. Salah satunya terlihat pada peran besar mereka terhadap perkembangan ilmu pengatahuan di masa Abbasiyah dengan melahirkan beragam penemuan dan ilmuan, semisal ar-Razi dan al-Biruni. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Persia dan menjadi bahasa resmi negara Iran saat ini. Sedangkan agama yang mereka anut saat ini adalah Islam, khususnya sekte Syiah dan sebagian kecil penganut Islam Sunni. Namun demikian, agama asal dari bangsa Persia adalah Zoroater yang terdiri dari dua macam sekte, yaitu Mani dan Mazdak yang sangat dikenal karena penyembahan mereka kepada api yang merupakan dewa tertinggi yang menerangi dunia. Agama Zoroaster atau Zaratusra masih dianut oleh sebagian kecil orang Persia (0,1%), begitu juga dengan agama-agama lainnya, seperti Kristen (0,8%) dan Yahudi (0,2%). Saat ini, mayoritas orang-orang Persia ada di Iran (22.986.329 jiwa), namun demikian bangsa ini juga dapat ditemukan di Afghanistan, negara-negara Asia Tengah, bahkan Amerika dan Australia serta beberapa negara Arab yang ada di kawasan Teluk.
Di samping beragam kelebihan yang menjadi ciri bangsa Persia di atas, terdapat pula ciri lainnya yang menjadi kelemahan mereka. Seperti umumnya masyarakat Timur Tengah, orang-orang Persia juga memiliki fanatisme yang tinggi atas kebangsaan mereka. Bagi mereka, bangsa Persia mengungguli bangsa-bangsa lainnya, khususnya bangsa Arab dan Yahudi, karena mereka memiliki bahasa yang tertua di dunia serta peradaban yang tinggi dan besar yang pernah menguasai dunia. Karakter lainnya yang dianggap menjadi kelemahan adalah sifat introvert atau tertutup yang mereka miliki dan menutup mata terhadap kenyataan bahwa bangsa lain pun adalah bangsa yang maju dan unggul.

Turki
Orang-orang Turki sesungguhnya berasal dari Mongolia yang bercampurbaur dengan beragam etnis Persia yang ada di Asia Tengah. Sebelum pindah ke wilayah Turki sekarang, orang-orang Turki mendirikan kerajaan di wilayah Asia Tengah saat ini. Perlahan-lahan namun pasti, kekuasaan kerajaan ini semakin luas mencakup sebagian besar wilayah Islam saat itu. Bahkan yang sangat fenomenal dari imperium yang kemudian dikenal sebagai Turki Usmani ini adalah kesuksesan mereka merebut Konstantinopel dari Romawi dan memindahkan kerajaan mereka ke wilayah Turki saat ini. Salah satu ciri khas orang-orang Turki, di samping ciri-ciri umumnya orang-orang Timur Tengah sebagaimana di atas, adalah mereka sejak dahulu dikenal sebagai ahli perang yang ulung dan tentara yang gagah berani di medan tempur. Tidak mengherankan jika sebelum mereka membentuk kerajaan sendiri dibawah pimpinan Usman, orang-orang Turki sudah menjadi pilar utama angkatan bersenjata Kekhalifahan ‘Abbasiyah. Hal ini terus berlanjut di masa Turki Usmani dan kerajaan-kerajaan setelahnya, terutama dengan gelar ‘Pasya’ yang berarti bangsawan Turki yang melekat pada setiap pimpinan angkatan perang saat itu. Keunggulan lain Turki adalah memiliki budaya yang merupakan perpaduan antara budaya Timur yang menjadi tempat asalnya serta sebagian besar pernah menjadi wilayah kekuasaan mereka seperti Arab dan Berber dan budaya Barat, terutama Yunani dan Romawi, yang menjadi pusat kekuasaannya. Hal ini membuat orang-orang Turki dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan mau mengenal berbagai budaya dan tradisi lainnya. Namun demikian, Turki juga memiliki kelemahan sebagaimana layaknya masyarakat Timur Tengah lainnya. Sebagai ‘mantan’ penguasa dunia melalui Imperium Turki Usmani, orang-orang Turki tetap memiliki fanatisme kebangsaan yang tinggi sehingga cenderung ‘merendahkan’ bangsa lainnya.
Mayoritas orang Turki adalah penganut agama Islam, khususnya sunni, dan menggunakan bahasa Turki dalam kesehariannya. Islam memang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan Turki karena berkat agama inilah mereka mencapai beragam kegemilangan yang tercatat dalam sejarah. Namun demikian, orang-orang Turki juga menganut agama-agama lainnya yang hidup secara tenang dan damai, seperti Kristen dan Yahudi. Saat ini orang-orang Turki memang terkonsentrasi di negara Turki, meskipun demikian beberapa komunitas Turki dapat ditemukan di beberapa negara Eropa, khususnya di Jerman yang memang menjadi sekutu utamanya di Perang Dunia Pertama, dan negara-negara Balkan (seperti Bosnia) yang pernah menjadi wilayah kekuasaannya.

Berber
Orang Berber adalah etnis asli dari daerah Afrika Utara atau arah timur Lembah Nil sebelum kedatangan dan penaklukan Arab atas wilayah ini. Bangsa Berber tersebar dari Samudra Atlantik hingga oasis Siwa, di Mesir dan dari Laut Mediterania hingga Sungai Niger. Dalam kesehariannya, orang Berber menggunakan berbagai bahasa Berber yang merupakan cabang dari bahasa Afro-Asia. Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 14-25 juta orang Berber di Afrika Utara, dan yang terpadat adalah di Maroko dan semakin ke timur semakin jarang dijumpai. Secara umum, ciri fisik orang Berber yang ada saat ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang Timur Tengah lainnya, karena memang sudah terjadi percampuran di antara mereka. Akan tetapi, sebagaimana umumnya orang-orang yang berasal dari Afrika, orang-orang Berber dikenal memiliki fisik yang sangat kuat dan tangguh sehingga seringkali menjadi langganan tentara dan pengawal di masa kerajaan dahulu. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai orang Berber, maka dapat memperhatikan seorang maestro sepakbola dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, karena meskipun merupakan keturunan Aljazair, tetapi Zidane adalah seorang Berber.
Seperti umumnya masyarakat Timur Tengah, orang Berber juga memiliki fanatisme kesukuan yang tinggi dan memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang mereka anggap layak dipercayai. Namun demikian, karena mereka banyak hidup di tempat yang keras maka mereka dikenal sebagai yang tertutup dan cukup sulit menerima pengaruh dari luar. Saat ini, sebagian besar orang Berber adalah penganut Islam (khususnya sunni) yang mereka dapatkan dari para penakluk Arab (Islam) yang menguasai Afrika Utara. Namun demikian, sebelum kedatangan Islam orang Berber adalah penganut animisme yang mempercayai beragam kekuatan alam. Di samping Islam, orang Berber juga penganut beragam agama lainnya, seperti Kristen dan Yahudi. Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa Berber, namun setelah kedatangan Islam bahasa ini cukup sulit dijumpai karena banyak diantara mereka yang beralih menggunakan bahasa Arab. Orang Berber terkonsentrasi di Afrika Utara, seperti Tunisia, Marokko, Aljazair dan Libya. Namun demikian, di beberapa negara Asia Barat seperti Lebanon dan Syiria serta Eropa, terutama Prancis, orang-orang Berber juga dapat ditemukan.

Kurdi
Kurdi adalah suatu etnis yang ada di Timur Tengah yang merupakan keturunan etnik Indo-Arya yang berasal dari rumpun Persia. Meskipun masih berhubungan secara geneologis dengan Persia, tetapi orang-orang Kurdi menggunakan bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Kurdi. Suku Kurdi hingga saat ini merupakan satu-satunya suku bangsa besar dunia yang tidak memiliki negara, padahal jumlahnya mencapai 30 juta jiwa. Suku rumpun Persia ini mendiami tiga negara di Timur Tengah, yaitu Turki, Irak dan Syiria. Salah satu karakteristik yang ada pada Suku Kurdi adalah tinggal di pegunungan dan hidup secara semi-nomadik dalam organisasi sosialnya dengan berprofesi sebagai petani. Meskipun demikian, sebagian kecilnya telah menetap di berbagai kota di Turki, Syiria dan Irak dengan berprofesi sebagai pedagang, guru dan politikus seperti Jalal Talabani yang menjadi Perdana Mentri Irak.
Seperti halnya orang Persia, orang Kurdi dikenal tertutup dan sangat sulit untuk menerima pengaruh dari luar dan memiliki fanatisme kesukuan yang sangat tinggi. Sebagian besar orang Kurdi adalah beragama Islam, khususnya sunni. Saat ini mereka tinggal di wilayah yang termasuk kekuasaan Turki, Syiria dan Irak dan sebagian besarnya menghendaki kemerdekaan dari ketiga tersebut dengan mendirikan negara Kurdistan.

Sumber Bacaan:
1.    Al-Faruqi, Isma’il Raji’. & Lois Lamya al-Faruqi. 2001. Atlas Budaya Islam. Bandung: Mizan.
2.    Burdah, Ibnu. 2008. Konflik Timur Tengah; Aktor, Isu, dan Dimensi Konflik. Yogyakarta: Tiara Wacana.
3.    Drysdale, Alasdair dan Blake Gerald H. 1985. The Middle East and North Africa: Apolitical Geography. New York : Oxford University Press.
4.    Garaudy, Roger. 1983. The Case of Israel: A Study of Political Zionism. London: Shorouk.
5.    Hitti, Philip K. 2005. History of The Arabs. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
6.    Lenczowski, George. 1993. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Terj. Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algresindo.
7.    Sihbudi, Reza dkk. 1995. Profil Negara-Negara Timur Tengah. Jakarta: Pustaka Jaya.
8.    Thohir, Ajid. 2009. Studi Kawasan Dunia Islam; Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik. Jakarta: Rajawali Press.
9.    Syalabi, A. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Alhusna.
10.    http://www.ui.ac.id./kurdi.  Akses tanggal 27 April 2010
11.    http://www.wikipediaindonesia.com/orang_berber. Akses tanggal 27 September 2010
12.    Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Menilik Gejolak Timur Tengah: Kemarahan Massa di Tengah Keterpurukan Hidup

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Aksi Anti Pemerintah di Timur Tengah
Sekitar dua pekan yang lalu, tepatnya 18 Januari 2011, sebuah negara yang terletak di kawasan Afrika Utara mengalihkan segenap pikiran dan pasang mata dunia untuk memfokuskan perhatian ke salah satu negara Arab tersebut. Ya, Tunisia untuk kesekian kalinya menorehkan sejarah dunia atas ‘kesuksesan’ masyarakatnya dalam menggulingkan pemerintahan yang dianggap ‘diktator’ dan hanya bisa menyengsarakan rakyatnya selama bertahun-tahun. Apa yang dilakukan masyarakat Tunisia tentu mengingatkan kita akan peristiwa serupa yang terjadi seantero dunia di banyak negara, seperti Iran pada tahun 1979 yang berujung pada tumbangnya Shah Reza dari singgasana monarki absolutnya dan naiknya pemerintahan para mullah yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomaini atau yang dikenal dengan Revolusi Islam Iran. Aksi massa dalam upaya menggulingkan kekuasaan Presiden Ben Ali memang membuat masyarakat dunia terkejut karena sebagaimana banyak dikatakan oleh para pengamat, negara di tepian Mediterania sebenarnya jauh dari ‘nuansa’ revolusi rakyat atau kudeta layaknya di negara-negara tetangganya, seperti Mesir, Aljazair dan lain-lain. Namun demikian, apa yang diperkirakan banyak orang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan ril di negeri ini. Meskipun memakan korban jiwa dalam jumlah yang cukup banyak, akhirnya kekuatan massa rakyat Tunisia dengan dukungan beragam komponen oposisi berhasil mengakhiri kekuasaan hampir tiga dekade Ben Ali. Hingga saat ini, meskipun Ben Ali telah lengser dan mengasingkan diri di Arab Saudi, pergolakan rakyat Tunisia masih terus terjadi karena tuntutan lainnya yaitu pembersihan secara total anasir-anasir Ben Ali dalam pemerintahan Tunisia masih terus dilalakukan.
Seakan terinspirasi dengan apa yang dilakukan saudaranya di Tunisia, karena sesungguhnya kedua negara adalah negara Arab dan sebagian besar rakyatnya adalah orang-orang Arab, rakyat Mesir pun menyuarakan hal yang sama. Dipicu oleh tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian yang melakukan tindakan semena-mena terhadap seorang pedagang kaki lima di Ismailiyah (salah satu kota di Mesir), mulailah gelombang demonstrasi menuntut pemerintah di jalan-jalan berbagai kota di Mesir, baik Iskandariah, Ismailiyah, Suez maupun ibukota Kairo sendiri. Hingga saat ini upaya yang dilakukan rakyat Mesir telah hampir mencapai tujuan akhirnya, penggantian pemerintahan Hosni Mubarak yang telah memerintah negeri piramid ini selama hampir 30 tahun, karena pusat ibukota Kairo telah berada di bawah kontrol massa demontstran yang didukung penuh kelompok oposisi.
Apa yang dilakukan masyarakat Tunisia ternyata tidak hanya menginspirasi Mesir saja, tetapi juga di berbagai negara Arab lainnya, baik di Afrika Utara maupun semenanjung Arab. Demonstrasi anti pemerintah juga disuarakan di Yordania, Yaman dan yang terkini terjadi juga di Sudan. Meskipun demonstrasi-demonstrasi di kedua negara tersebut di atas tidak seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir yang memakan korban jiwa dan beragam peristiwa lainnya, namun hal ini cukup menyadarkan banyak pihak bahwa aksi-aksi anti pemerintah telah menyebar di berbagai kawasan Timur Tengah dengan satu faktor pemicu, yaitu ketidakpuasan atas kinerja pemerintah dalam memimpin rakyatnya. Aksi-aksi anti pemerintah di berbaagai negara ini tentu mengkhawatirkan banyak pemimpin negara, terutama yang menganut sistem pemerintahan absolut, seperti Arab Saudi dan langkah menghapusan kata ‘Mesir’ dari internet di China.

Memimpin Dalam Waktu Lama dan Keterpurukan Rakyat
Melihat begitu intensifnya gejolak sosial-politik di Timur Tengah, maka menarik untuk mengetahui apakah faktor yang melatarbelakangi hal ini terjadi. Sebagaimana diketahui bahwa negara-negara Timur Tengah menganut sistem pemerintahan demokrasi absolut dimana para kepala negaranya memiliki masa kekuasaan yang seakan tak terbatas meskipun dipilih secara ‘demokratis’, kecuali Iran yang demokratis dan negara-negara Teluk yang memang monarki absolut serta Yordania yang belakangan ini menganut sistem monarki konstitusional. Dengan kekuasaan yang besar dan tanpa batas layaknya dalam sistem monarki absolut, para kepala negara Timur Tengah (seperti Mesir, Tunisia dan Yaman) menjalankan pemerintahan sesuai keinginan mereka. Meskipun negara-negara ini mempunyai perangkat yang disyaratkan dalam sistem demokrasi seperti partai politik dan pemilu, namun semuanya tidak lebih hanya sebagai hiasan belaka. Kelompok oposisi dan media massa netral yang lazim dalam sebuah iklim demokrasi hampir tak tidak ada, bahkan cenderung ditiadakan. Hal ini misalnya mengemuka dengan pelarangan Ikhwanul Muslimin dalam perpolitikan Mesir dan partai Islam lainnya di Tunisia dan Aljazair.
Dengan wewenang kekuasaan yang besar dan tanpa ada kontrol yang kuat dari oposisi dan media massa, maka para pemimpin di Timur Tengah (utamanya di Mesir dan Tunisia) dengan leluasa dapat menjalankan kekuasaannya. Celakanya, ‘kebijakan-kebijakan’ yang ditempuh para penguasa tersebut seringkali bertentangan dengan aspirasi masyarakatnya, bahkan membuat kehidupan mereka menjadi tidak lebih baik dari waktu ke waktu. Di Tunisia, misalnya, meskipun pendapatan perkapita penduduknya termasuk yang terbesar di Afrika Utara dan bahkan di Timur Tengah ($ 7.000), namun fakta yang sesungguhnya masih banyak rakyat Tunisia yang miskin dan terpuruk. Keberhasilan ekonomi yang didengungkan Ben Ali selama pemerintahannya terbukti hanya dinikmati sebagian kecil kelompok dalam masyarakat, alias keberhasilan ekonomi makro saja. Sementara sebagain besar rakyat Tunisia masih bergelimang dengan kemiskinan, keterpurukan, pengangguran dan lain sebagainya. Sedangkan di Mesir, secara ekonomi memang termasuk negara dengan pendapatan perkapita yang kecil di antara negara-negara Timur Tengah karena pendapatan negara lebih bertumpu pada sektor pariwisata dan bantuan finansial Amerika Serikat ($ 2.5 Milyar pertahun). ‘Kemurahan hati’ penguasa Negeri Paman Sam tentu tidak gratis karena Mesir harus menjadi perpanjangan tangan Amerika di Timur Tengah. Hingga saat ini Mesir menjadi salah satu dari segelintir negara Islam dunia yang menjalin hubungan diplomatik dengan ‘anak emas’ Amerika di Timur Tengah, Israel, di samping Tunisia, Yordania dan Turki. Berbagai kebijakan ‘Barat’ yang diterapkan penguasa ini bertentangan dengan keinginan dan kehendak serta menyengsarakan rakyat, akan tetapi suara-suara oposisi tersebut selalu dibungkam oleh penguasa dengan beragam cara.
Meskipun beragam suara penentangan rakyat dibungkam dengan beragam cara oleh penguasa, namun ketika sebagian besar rakyat sudah membulatkan tekad maka penguasa pun tidak dapat bertindak banya. Ben Ali yang telah berkuasa di Tunisia selama hampir 30 tahun akhirnya bertekuk lutut dan harus mengungsi ke Arab Saudi setelah sebelumnya ditolak suakanya oleh Prancis. Hal yang sama bukan tidak mungkin terjadi dengan Hosni Mubarak yang juga sudah berkuasa cukup lama di Mesir akibat keinginan kuat rakyat untuk melengserkannya. Barat yang dimotori Amerika Serikat yang selama ini menjadi tuan bagi para penguasa tersebut kini berlepas tangan, bahkan cenderung mendukung upaya penggantian kepemimpinan di berbagai negara Timur Tengah tersebut. Mungkin dalam benak para pemimpin Barat, para penguasa Timur Tengah tersebut memang sudah tidak layak dibela lagi karena tidak lagi memiliki manfaat signifikan bagi kepentingan Barat di kawasan ini. Lihatlah seruan yang meluncur dari mulut mentri luar negeri Amerika Hillary Clinton yang menyerukan Mubarak bersikap arif terhadap para demonstran, begitu juga para pemimpin Barat yang bergabung dalam Uni Eropa. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain bagi para penguasa Timur Tengah yang digugat rakyatnya kecuali mundur dan mengungsi ke luar negeri atau menghadapi pengadilan dari rakyatnya sendiri yang tidak jarang berakhir dengan kematian.

Problem Pasca Mundur dan Konflik Berbagai Kepentingan
Setelah Ben Ali lengser dari tampuk pemerintahannya, ternyata masalah yang dihadapi rakyat Tunisia tidak lantas selesai. Permasalahan yang mengemuka kini adalah mengenai siapa yang akan mengisi kekosongan kursi presiden yang ditinggalkan Ben Ali. Dengan kebijakan pemberangusan parpol dan tokoh oposisi yang diterapkan Ben Ali kini berdampak pada ketiadaan tokoh yang dianggap layak dan didukung oleh rakyat Tunisia. Beberapa tokoh yang pernah terusir dari Tunisia, seperti pemimpin Islam Rashed Ghenauchi, memang telah kembali dari pengasingannya di luar negeri, namun apakah kehadiran mampu mendulang dukungan dari rakyat. Meskipun pemerintahan masih berjalan dibawah kepemimpinan perdana menteri, namun jabatan presiden yang kini lowong pasca tergulingnya Ben Ali harus segera diisi.
Di tengah kekosongan kepemimpinan ini tentu beragam kepentingan, baik dari dalam maupun luar negeri, akan bermain. Kelompok feminis, misalnya, menghendaki agar kepemimpinan Tunisia di masa depan bukan dijabat oleh kelompok Islam karena mereka tidak menghendaki sistem-sistem Islam yang selama ini banyak disuarakan. Kelompok Islam yang selama ini dikooptasi pemerintah tentu merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk memimpin Tunisia sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang mereka anut. Dari luar negeri tentu datang dari Amerika Serikat dan Israel yang sangat berkepentingan untuk terus menghegemoni kekuatan Islam di berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Sinyal ini bahkan telah ditangkap oleh presiden Iran, Ahmadinejad, yang mengultimatum Amerika dan Barat untuk tidak campur tangan di Tunisia dan khususnya Lebanon yang kini dipimpin oleh perdana mentri yang berasal dari Hizbullah yang representasif negeri para mullah ini.
Hal yang sama akan terjadi pula di Mesir jika kelak Mubarak mundur dari jabatan presidennya. Sama seperti Tunisia, Mesir juga tidak memiliki tokoh yang dapat diterima dan mendapat dukungan luas dari masyarakatnya karena ‘kebijakan’ pemberangusan parpol dan tokoh oposisi di masa-masa pasca penggulingan Raja Faruk dari sistem monarki Mesir pada tahun 1952. Ikhwanul Muslimin yang selama ini menjadi kelompok oposisi pemerintah terbesar dan didukung penuh rakyat juga tidak memiliki sosok pemimpin yang besar layaknya di masa lalu seperti yang ada pada pribadi Hassan al-Banna atau Sayyid Qutb. Begitu juga institusi al-Azhar yang telah lama dikooptasi pemerintah sehingga hanya memfokuskan diri pada pendidikan dan pengajaran di kampus-kampus universitas tertua di dunia Islam tersebut. Problem pelik yang menghinggapi Mesir jika kelak Mubarak mundur adalah kemungkinan peranan aktif dan agresif yang akan dimain Amerika dan Israel dalam pemerintahan Mesir. Bagaimana pun juga, Mesir memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjaga eksistensi dominasi Barat (Amerika) di Timur Tengah dan memastikan keamanan Israel di tengah tetangga-tetangga Arabnya. Hal ini, misalnya, tampak dengan pengarahan perdana mentri Israel kepada para diplomatnya di Mesir agar berusaha sekuat tenaga mempertahankan eksistensi Mubarak sebagai presiden Mesir. Israel dan Barat tentu sangat berkepentingan dengan Mesir yang tetap lunak dan bersahabat dengan Barat dan Israel karena selama ini negara ini menjadi bamper dan perpanjangan tangan kepentingan Barat di Timur Tengah. Jika sampai kepemimpinan Mesir kelak berada dalam genggaman kekuatan Islam, maka bagi Barat adalah ancaman besar bagi kepentingan mereka di kawasan ini. Wallahu A’lam.

Mengupas Tema-Tema Sentral Timur Tengah

Oleh: Pahrudin HM, MA

Sebagaimana diketahui bahwa Timur Tengah selalu menjadi pusat perhatian dunia dari dahulu hingga saat ini. Segala sesuatu yang berkaitan dan terjadi di kawasan yang terletak di Asia Barat dan Afrika Utara ini selalu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari segenap publik dunia. Namun demikian, terdapat beberapa tema sentral Timur Tengah yang mendapatkan porsi yang besar dan perlu mendapat perhatian, baik yang telah terjadi maupun yang hingga saat ini masih berlangsung, yaitu perang Irak-Iran, Irak pasca invasi Amerika, Palestina, konflik air, suku Kurdi, minyak, dan motivasi intervensi asing di kawasan ini.

1. Perang Irak-Iran dan motivasi yang melatarbelakanginya.

Sebagaimana diketahui bahwa Iran yang mewarisi kejayaan masa lalu Persia dalam kurun waktu yang lama berada dibawah penguasaan Shah Reza yang didukung oleh Barat, utamanya Amerika Serikat, sekaligus sekutu utamanya di Timur Tengah. Akan tetapi setelah terjadinya Revolusi Islam tahun 1979 pimpinan ulama karismatik Syiah Ayatullah Ruhullah Komeini yang mengubah bentuk Iran menjadi Republik Islam sekaligus mengusir Shah Reza menuju pengasingan, maka Iran berubah menjadi musuh bagi Barat. Hal ini karena kebijakan-kebijakan pemerintah Iran yang diterapkan Ayatullah Komeini sangat anti Barat. Akibatnya, beragam upaya dilakukan Barat untuk menghambat perkembangan Iran dibawah kekuasaan Ayatullah Komeini seperti pengucilan dari percaturan dunia, meskipun tidak pernah berhasil.

Melihat kondisi Iran yang sibuk menghadapi serangan yang dilancarkan Barat, maka pada tahun 1980 Irak dibawah pimpinan Saddam Husein melancarkan serangan ke negeri Persia tersebut. Tujuan utama serangan Irak ini dilakukan karena faktor ekonomi untuk merebut Khuzestan, sebuah wilayah yang terletak di bagian barat dan merupakan provinsi ke-30 Iran. Khuzestan memang dikenal sebagai salah satu wilayah Persia yang memiliki cadangan minyak besar yang dapat digunakan untuk membantu perekonomian Irak. Melihat wilayahnya hendak dikuasai tentu Iran tidak tinggal diam sehingga meletuslah pertikaian yang kemudian dikenal sebagai Perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun (1980-1988) yang memakan korban dalam kisaran 500.000-1.000.000 jiwa.

Selanjutnya, karena tersedotnya dana Irak untuk membiayai perang dengan Iran yang tidak berhasil menguasai Khuzestan, maka perekonomian Irak berada dalam jurang kehancuran. Untuk mengatasi masalah ini maka lagi-lagi Saddam Husein mengatasinya dengan menyerang negara lain dan menguasai sumber-sumber minyaknya. Jika dalam rentang tahun 1980-1988 upaya ini dilakukan terhadap Iran, maka pada tahun 1990 Saddam Husein kembali menyerang tetangganya, Kuwait. Pada awalnya tentara Irak sempat menguasai Kuwait dan mengusir Amirnya, Syeikh Jabbar al-Ahmad al-Sabah, akan tetapi Arab Saudi yang berbatasan langsung kemudian meminta bantuan Amerika Serikat sehingga meletuslah Perang Teluk I. Akibat keengganan Irak menarik pasukannya dari Kuwait ditengah kecaman dan embargo ekonomi, maka pada tahun 1991 pasukan multinasional dibawah pimpinan Amerika Serikat terlibat pertempuran dahsyat dengan tentara Saddam Husein. Pada Februari 1991 akhirnya tentara Irak berhasil dikalahkan dan meninggalkan Kuwait dengan menderita kerugian yang sangat besar sekaligus juga meninggalkan masalah besar di Kuwait karena banyak lading minyak yang terbakar dan dibakar.

Dengan demikian, faktor yang menyebabkan Irak harus berperang dengan negara tetangganya adalah karena alasan ekonomi. Meskipun sebenarnya wilayah Irak sendiri sangat kaya dengan cadangan minyak sehingga menempatkannya sebagai runner-up dalam peringkat negara-negara produsen minyak dunia setelah Arab Saudi, tetapi karena ambisi besar Saddam Husein yang ingin menguasai seluruh sumber besar minyak sehingga perekonomian Irak semakin besar menyebabkannya menyerang tetangganya.

2. Masa Depan Irak Pasca Invasi Amerika

Secercah harapan masyarakat dunia sebenarnya cukup membuncah dengan dilaksanakannya pemilu di Irak pada tanggal 7 Maret 2010 yang lalu. Pemilu kali ini merupakan pemilu yang kedua setelah tergulingnya Saddam Husein oleh invasi Amerika Serikat pada tahun 2003, dimana pemilu pertama digelar pada tahun 2005. Akan tetapi harapan tersebut sedikit ternoda oleh terjadinya rentetan kekerasan berupa pemboman yang banyak terjadi di seantereo Negeri 1001 Malam ini.

Secara umum telah banyak mengemuka kesadaran di kalangan para tokoh dan pemimpin Irak. Hal ini misalnya dapat dilihat dalam kontestan yang turut berpartisipasi dalam pemilu. Jika melihat para peserta yang bertarung untuk memperebutkan posisi memimpin Irak akan datang ini berasal dari berbagai latar belakang etnis yang ada dalam masyarakat Irak. Kelompok Sunni dipimpin oleh mantan Perdana Mentri Iyyad Alawi, kelompok Syiah dibawah komando Perdana Mentri saat ini Nouri al-Maliki sedangkan kelompok Kurdi dibawah arahan Jalal Talabani. Masing-masing pemimpin yang mewakili bagian terbesar yang ada dalam masyarakat Irak ini berkomitmen untuk membangun masa depan Irak yang lebih baik setelah sekian lama terkungkung dalam kekuasaan Saddam Husein yang otoriter dan terpenjara dalam beragam pertikaian pasca invasi Amerika Serikat tahun 2003. Hal ini penting untuk dilakukan karena secara sosio-historis masyarakat Arab yang merupakan mayoritas di Irak sangat patuh dan menghormati apapun yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

Sebagaimana janji kampanye Barack Obama dalam pencalonannya menuju Gedung Putih yang lalu yang berkomitmen menyelesaikan masalah Irak sekaligus menarik pasukan Amerika secara bertahap dari sana. Setelah cukup lama presiden kulit hitam pertama Negeri Paman Sam, Obama terus berupaya mengatasi problem yang dihadapi Irak, utamanya persoalan keamanan yang terus menghantui. Secara bertahap AS menyerahkan pengeloaan berbagai tempat di Irak kepada militer dan penguasa setempat. Dua kali pelaksanaan pemilu untuk memilih pemimpin yang benar-benar dikehendaki rakyat Irak juga telah dilaksanakan. Meskipun demikian, kebijakan AS yang cenderung tetap ingin menguasai Irak melalui para ‘bonekanya’ di pemerintahan menjadi persoalan tersendiri sehingga memunculkan banyak pertentangan di kalangan masyarakat Irak sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan yang memakan korban jiwa.

Salah satu problem pelik yang terus menghantui Irak pasca tergulingnya Saddam adalah perselisihan antara Sunni dan Syiah. Setelah invasi Amerika Serikat tahun 2003, masing-masing pihak merasa paling berhak memimpin Irak karena menganggap merupakan bagian terbesar dalam masyarakat negeri itu. Kelompok Syiah merasa sudah saatnya diberi kesempatan memimpin Irak setelah selama bertahun-tahun menderita akibat perlakuan diskriminatif Saddam yang merupakan representasi kelompok Sunni. Begitu juga dengan kelompok Kurdi menganggap memiliki hak atas kepemimpinan Irak karena aliran dana dari kilang-kilang minyak mayoritas berada di wilayah mereka tinggal dan selama ini dianaktirikan oleh rezim Saddam. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok Sunni yang merasa paling berhak. Pertentangan ini bahkan tidak jarang berujung pada peperangan dan aksi bom bunuh diri di tempat yang menjadi lawan politiknya, bahkan hingga ke tempat-tempat ibadah. Hanya saja, pada pemilu 2010 ini hubungan antara ketiga etnis terbesar Irak ini sudah relatif kondusif seiring dengan partisipasi meraka dalam pemilu, meskipun tidak sepenuhnya dapat hilang.

Meskipun Irak secara geografis dan kultur adalah bagian dari masyarakat Arab dan Timur Tengah, tetapi beberapa tahun belakangan ini agak dikucilkan dari kancah percaturan di kawasan ini. Ini tentu berkaitan dengan masa lalu Irak dibawah kepemimpinan Saddam yang gemar menyerang tetangganya. Akibatnya, di kala Irak telah terbebas dari cengkeraman Saddam sejak tahun 2003 yang lalu, Liga Arab yang menjadi wadah negara-negara Arab memperbincangkan beragam problem nampak tidak begitu kelihatan perannya. Meskipun demikian, sebagai sesama Arab tentu para anggota Liga Arab akan berupaya membantu Irak dalam menyelesaikan problem yang menghinggapinya, apalagi jika Amerika Serikat yang menjadi sekutunya telah mengamini dan membuka jalan untuk itu. Perwakilan negara-negara Arab yang sebelum dibekukan telah dibuka kembali dan bantuan dalam berbagai dimensi telah dirasakan manfaatnya oleh rakyat Irak,. Bahkan, Kuwait sebagai negeri yang pernah merasakan serbuan Irak pun turut berkomitmen untuk membantu beragam problem yang dihadapi rakyat Irak. Beberapa kali dalam siding-sidang dan pertemuan Liga Arab persoalan Irak menjadi salah satu topic yang dibahas. Hal ini dapat dimengerti karena disamping karena faktor solidaritas, para anggota Liga Arab tentu juga diuntungkan dengan terselesaikannya persoalan Irak, terutama pada aspek perekonomian mereka yang membutuhkan stabilitas kawasan tersebut.

Selanjutnya, perbincangan mengenai Irak tentu juga bersentuhan dengan minyak. Produksi minyak yang dihasilkan oleh Irak memang merupakan bagian terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Artinya, penyelesaian persoalan minyak di Irak adalah menjadi salah satu prioritas utama. Hingga saat ini memang ladang-ladang minyak Irak belum sepenuhnya dapat beroperasi akibat perang dan pertikaian dalam internal Irak. Namun demikian, secara bertahap produksi minyak Irak mulai pulih, berbagai tender yang melibatkan berbagai perusahaan asing, baik dari sesama kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi maupun dari luar seperti Inggris, Prancis, Italia dan Amerika Serikat, sudah dilakukan dengan satu tujuan untuk mengembalikan status Irak sebagai produsen minyak dunia. Meskipun demikian, sebagaimana yang sudah banyak dipahami bahwa jika menyangkut sesuatu yang sangat berharga, seperti minyak, maka tentu akan menimbulkan pro dan kontra. Persoalan minyak di Irak menjadi problem yang juga membutuhkan perhatian serius karena banyak tudingan bahwa pengelolaan minyak di Irak lebih banyak didapatkan oleh perusahaan-perusahaan Barat. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa motivasi sebenarnya invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003 bukanlah murni untuk membebaskan rakyat Irak dari tirani Saddam, tetapi untuk menguasai atau paling tidak mengontrol sumber minyaknya.

3. Masa Depan Palestina

Pembicaraan mengenai masa depan Palestina menjadi sesuatu yang dapat dikatakan tidak berujung. Hal ini karena penyelesaian persoalan Palestina tidak semudah mengatasi problem yang menimpa negara lainnya. Ada banyak problem yang mengitari wilayah yang disucikan oleh tiga agama besar dunia ini; Islam; Kristen dan Yahudi. Problem tersebut adalah Israel, standar ganda Amerika Serikat dan perpecahan di kalangan internal Palestina sendiri serta tidak bersatunya Dunia Arab dan Dunia Islam pada umumnya.

Sebagaimana diketahui bahwa pendirian negara Israel yang merupakan satu-satunya Negara Yahudi di muka bumi merupakan sumber konflik di Palestina hingga saat ini. Melalui mandat berupa Deklarasi Balfour yang diberikan Inggris sebagai penguasa Palestina saat itu, kelompok Zionis memproklamirkan berdirinya Negara Israel pada tahun 1948. Negara Yahudi ini menempati wilayah yang telah sekian lama ditempati oleh orang-orang Palestina. Berbagai macam cara dilakukan Israel untuk mendapatkan wilayah di Palestina, seperti pengusiran dan penggusuran pemukiman warga Palestina serta menyerang negara-negara Arab sekitar seperti Mesir dengan Sinai-nya, Syiria dengan Dataran Tinggi Golannya, dan Yordania dengan Jalur Gaza-nya. Upaya memaksakan kehendak yang dilakukan Israel ini celakanya mendapat restu dan dukungan penuh negara-negara Barat, utamanya Inggris dan Amerika Serikat. Negeri Paman Sam memang selama ini dianggap menerapkan standar ganda dalam kebijakan politiknya di Timur Tengah, di satu sisi jika yang melakukan pelanggaran ketentuan adalah negara-negara Arab maka dengan serta merta langsung ditindak olehnya, tetapi jika yang melakukannya adalah Israel maka didiamkan saja. Sokongan kuat Amerika Serikat terhadap Israel dalam segala bentuknya ini diyakini semakin membuat problem Palestina menjadi sulit untuk diselesaikan.

Problem lain yang patut diperhatikan dalam pembicaraan mengenai masa depan Palestina adalah perpecahan di kalangan internal Palestina sendiri. PLO (Palestinian Liberation Organization) melalui sayap militer Fatah-nya selalu bersengketa dengan Hamas (Harakah Muqawamah al-Islamiyah). Kelompok pertama merupakan manifestasi dari kalangan sekuler Palestina dengan tokoh fenomenalnya, Yasser Arafat, sedangkan kelompok kedua tersebut merupakan representasi kalangan Islam dengan tokoh utamanya Syeikh Ahmad Yasin. Meskipun sama-sama bertujuan mendirikan Palestina merdeka, tetapi keduanya mengambil langkah yang berbeda yang tidak jarang berujung perselisihan. PLO lebih banyak menempuh langkah damai dengan menghadiri beragam pertemuan dengan Israel dan Amerika Serikat, sedangkan Hamas lebih banyak menempuh jalur konfrontasi dengan menggunakan senjata. Salah satu upaya perlawanan yang dilakukan Hamas terhadap pendudukan Israel adalah Intifadhah, yaitu perlawanan penuda-pemuda Palestina dengan menggunakan batu. Dalam kancah internasional, karena dianggap dapat diajak kompromi, PLO diakui sebagai representasi Palestina. Pada awalnya PLO memang mendapat simpati yang luas di kalangan rakyat Palestina, tetapi belakangan ini dukungan rakyat kian menurun drastis. Sepertinya rakyat Palestina mulai muak dengan langkah damai PLO yang tidak kunjung menuai hasil dan malah menguatkan posisi Israel dengan pengakuan PLO terhadap negara Yahudi tersebut. Apa yang terjadi kemudian sungguh di luar perkiraan, pada pemilu 2004 secara meyakinkan Hamas memenangi menuai hasil yang sangat signifikan dengan menguasai mayoritas parlemen Palestina. Akibatnya secara otomatis pemimpin Hamas, Ismail Haniyyah, diangkat sebagai Perdana Mentri dan mengontrol wilayah Gaza hingga saat ini. Akan tetapi, karena ketidaksamaan ideology di antara faksi-faksi yang ada di internal, hasil pemilu demokratis ini tidak berarti apa-apa dan Palestina kembali terkotak-kotak di tengah upaya mereka mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat layaknya bangsa lainnya di seluruh dunia.

Berikutnya, problem lainnya adalah tidak bersatunya negara-negara Arab yang notabene adalah saudara sekultur dan bahasa serta agama dengan Palestina. Secara umum, hubungan Palestina dengan negara-negara Arab lainnya tidak terlalu harmonis. Hal ini terutama karena faktor sejarah, dimana Arafat sebagai pemimpin Palestina di masa pemerintahannya merupakan pendukung Saddam yang saat itu tidak disukai oleh para pemimpin Arab lainnya. Akan tetapi, menurut penulis faktor utama yang menyebabkan hubungan ini tidak harmonis adalah karena tekanan Amerika Serikat yang merupakan patron bagi negara-negara besar di Timur Tengah, seperti Saudi Arabia dan Mesir, yang sekaligus juga ‘bapak emas’ bagi Israel. Kalaupun ada bantuan itupun tidak optimal sebagaimana yang seharusnya dilakukan dan lebih banyak datang dari kalangan swasta (dermawan Arab).

Upaya perundingan yang dilakukan oleh Amerika Serikat memang telah dilakukan untuk menyelesaikan problem ini, dimana yang paling terkenal adalah Perjanjian Oslo tahun 1993. Dalam kesepakatan ini untuk pertama kalinya PLO mengakui keberadaan Israel dengan konsesi penarikan pasukan Israel dari Gaza dan Tepi Barat serta memberikan hak otonomi bagi PLO untuk menjalankan pemerintahannnya. Perundingan ini ternyata tidak berjalan efektif hingga saat ini karena kerapkali Israel menggempur kedua kawasan tersebut dengan dalih memburu para aktivis Hamas yang sering meroket pemukiman-pemukiman Yahudi. Tuntutan utama Palestina dalam upayanya mewujudkan Palestina merdeka adalah pengembalian seluruh wilayah Palestina yang diduduki Israel. Wilayah tersebut adalah Gaza dan Tepi Barat yang sudah diberikan dan Yerussalem yang merupakan kota suci agama-agama besar dunia.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masa depan penyelesaian Palestina akan terwujud jika segenap internal Palestina bersatu untuk Palestina merdeka, pengembalian seluruh wilayah Palestina yang dikuasai Israel dan Amerika Serikat tidak lagi menerapkan standar ganda di Timur Tengah.

4. Konflik Air

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar wilayah Timur Tengah adalah terdiri dari gurun pasir yang tandus. Meskipun dibawah gugusan pasir tersebut terdapat minyak bumi yang berlimpah, tetapi air menjadi problem tersendiri bagi sebagian besar wilayah Timur Tengah. Berdasarkan data yang diungkapkan ternyata Timur Tengah membutuhkan persediaan air sebesar 127,5 Miliar meter kubik setiap tahunnya. Dengan persediaan yang sebesar itu, hanya ada tiga Negara saja yang mempunyai sumber air, yaitu Mesir, Irak dan Sudan. sementara yang lainnya sangat bergantung dengan ketiga Negara tersebut.

Kondisi ini berakibat pada semakin urgen dan sekaligus langkanya air bagi kehidupan masyarakat Timur Tengah. Mesir dan Sudan merupakan daerah lintasan terbesar dan terpanjang sungai Nil sedangkan Irak menguasai sepenuhnya Sungai Tigris dan Euprat. Dari ketiga sungai inilah sungai-sungai kecil yang ada di negara-negara Arab lainnya airnya berasal, seperti sungai Yordan di Yordania. Tidak mengherankan jika di masa lalu pernah terjadi peperangan antara Israel dan Mesir untuk menguasai sumber air Sungai Nil dan perselisihan Israel dengan Yordania yang hendak mengontrol Sungai Yordan. Atau, perselisihan antara sesama negara Muslim yang melibatkan Turki dan Irak mengenai penguasaan Sungai Euprat.

5. Suku Kurdi

Para ilmuan dan pakar dunia mencatat bahwa satu-satunya suku bangsa besar dunia yang tidak memiliki negara adalah Suku Kurdi. Dengan populasi mencapai 30 juta jiwa, Suku Kurdi harus hidup terlunta-lunta di kawasan Timur Tengah, bandingkan dengan suku Melayu yang kini setidaknya memiliki 3 negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Asal usul Suku Kurdi dapat dilacak dari sejarah Persia karena dari suku inilah mereka berasal. Saat ini suku Kurdi tersebar di beberapa Negara, yaitu: Turki, Irak dan Syiria. Namun demikian, nasib yang paling tragis dialami oleh Suku Kurdi di ketiga Negara tersebut adalah di Turki karena selalu diburu oleh pemerintah Turki akibat tuntutan merdeka mereka. Hingga saat ini, pertempuran antara pasukan Turki terus terjadi dengan pemberontak Kurdi bahkan hingga mencapai perbatasan dengan Irak. Tuntutan terbesar Kurdi untuk merdeka pun lebih lantang disuarakan dari wilayah-wilayah Kurdi yang dikuasai oleh Turki jika dibandingkan dengan di Irak dan Syiria. Melalui berbagai organisasinya, utamanya Partai Buruh Kurdi (PKK) yang dipimpin oleh Abdullah Ocalan, Kurdi terus menyuarakan kemerdekaannya dari Turki dan membentuk Negara tersendiri bernama Kurdistan, sementara di sisi lain Turki tetap berkomitmen untuk menjaga keutuhan wilayahnya. Di Syiria dan Irak suara kemerdekaan Kurdi tidak banyak disuarakan, bahkan salah astu tokoh utama Kurdi di Irak, Jalal Talabani, menjabat presiden Irak.

6. Minyak di Timur Tengah

Semenjak era industrialisasi yang merupakan implikasi dari revolusi industri di Prancis bergulir, maka otomatis penggunaan mesin menjadi sesuatu yang niscaya dan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Mesin-mesin yang diperlukan manusia untuk berbagai kebutuhan tersebut tentu harus digerakkan oleh minyak. Sejak saat itulah menjadi sesuatu yang sangat bernilai dan diburu oleh banyak orang dan negara. Dengan demikian, secara otomatis pula negara atau kawasan yang memiliki cadangan minyak memainkan peranannya atau diperebutkan oleh banyak pihak.

Timur Tengah yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia menjadi pusat perhatian dunia, terutama negara-negara kuat, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Dengan berbagai dalih, Barat berupaya menguasai kawasan ini seperti yang tampak pada Perang Teluk dimana Amerika Serikat makin menancapkan pengaruhnya di kawasan ini. Akibatnya, peta politik Timur Tengah berubah drastis. Meskipun tidak semuanya tunduk dengan keinginan Barat, seperti yang diperlihatkan Iran, tetapi sebagian besar Timur Tengah berada dalam kontrol Barat.

Namun demikian, tidak selamanya minyak di Timur Tengah dikuasai oleh Barat. Hal ini terbukti dengan tekanan Raja Faisal dari Arab Saudi yang pernah memboikot pengiriman minyak ke Barat karena kritikannya terhadap standar ganda Amerika Serikat di Timur Tengah. Akibatnya, mesin-mesin industri di Barat lumpuh total selama beberapa waktu. Meskipun upaya ini tidak berlangsung lama, tetapi setidaknya memperlihatkan bagaiaman minyak dapat dijadikan komoditas politik di kawasan ini.

7. Timur Tengah dan Intervensi Asing

Tidak dapat dipungkiri bahwa Timur Tengah memiliki magnet yang selalu menyedot perhatian dunia. Akibatnya, kawasan ini selalu menjadi ajang pertarungan berbagai kekuatan dunia dari waktu ke waktu untuk menguasai dan mengontrolnya. Terdapat beberapa faktor yang membuat Timur Tengah selalu membuat kekuatan dunia ingin campur tangan di dalamnya.

  1. Posisi strategis Timur Tengah yang merupakan pintu gerbang ke berbagai tempat dunia, yaitu Eropa, Asia dan Afrika. Dengan demikian, maka dengan mengontrol kawasan ini maka secara otomatis mengontrol sebagian besar mobilitas dunia.
  2. Faktor historis Timur Tengah yang penuh dengan kejayaan dan kebanggaan. Lihatlah Palestina yang menjadi tempat suci tiga agama besar dunia; Islam, Kristen dan Yahudi. Selanjutnya, kawasan ini juga menjadi tempat lahir dan berkembangnya agama-agama besar dunia; Islam di Saudi Arabia dan Kristen dan Yahudi di Palestina. Peradaban-peradaban besar dunia juga pernah ada dan masih masih menyisakan peninggalannya di kawasan ini, seperti pyramid di Mesir dan peninggalan-peninggalan masa lampau yang berserakan di Irak dan Kota Batu Kuno di Perta Yordania.
  3. Karena faktor minyak yang merupakan bagian terbesar dunia yang berada di kawasan ini. Tercatat bahwa Arab Saudi dan Irak sebagai produsen minyak bumi terbesar di dunia, belum lagi jika ditambahkan dengan Iran, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, Kuwait dan Yaman.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan campur tangan asing di Timur Tengah adalah untuk menguasai beragam keunggulan dan kelebihan yang dimiliki kawasan ini sebagai ‘ibu kota’ dan pusatnya dunia.

Petra, Istana dari Batu Cadas di Yordania

Oleh: Pahrudin HM, MA

Yordania adalah sebuah negara yang berbentuk kerajaan  (monarki) yang berada di kawasan Timur Tengah dengan ibukota Amman, berbatasan dengan Suriah (Syiria) di sebelah utara, Arab Saudi di sebelah timur dan selatan, Irak di sebelah timur laut, serta Israel dan Tepi Barat (Palestina) di sebelah barat. Nama lengkap negara ini adalah Kerajaan Hasyimiyah Yordania (al-Mamlakah al-Urduniyah al-Hāsyimiyah). Salah satu tujuan wisata yang populer di Yordaniaadalah Petra, yaitu kawasan eksotik di sebelah utara Semenanjung Sinai (Mesir) yang merupakan peninggalan Bangsa Nabasia sekitar 500 Sebelum Masehi, berupa tempat tinggal dan istana megah yang dipahat di batu-batu cadas gunung.[1]

Objek wisata Petra menjadi salah satu penyumbang terbesar perekonomian Yordania. Hal ini karena meskipun menjadi salah satu negara yang ada di kawasan Timur Tengah, Yordania tidak memiliki bahan tambang yang dapat membantu perekonomiannya seperti negara-negara lainnya semisal Arab Saudi. Kawasan wisata Petra mendapat perhatian penuh oleh pemerintah Yordania semenjak kekuasaan Raja Husein yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Abdullah II.


[1] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005), hlm. 14

Memahami Kolonialisme, Evangelisme dan Orientalisme

Oleh: Pahrudin HM, MA

Pengantar

Sebagai makhluk sosial, relasi yang terjadi antara berbagai manusia dalam perjalanan sejarahnya tentu tidak dapat dihindari. Perkembangan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam keseharian manusia turut memberi andil besar bagi terjadinya relasi tersebut. Beragam tujuan dan motivasi juga turut mengiringi terjadinya relasi yang telah berlangsung lama dan berasal dari berbagai belahan dunia tersebut. Beragam ras manusia yang ada di belahan barat dapat melakukan relasi dengan manusia yang ada di bagian timur dunia, begitu juga sebaliknya.

Relasi antara manusia di berbagai belahan dunia tersebut ternyata tidak serta merta terjadi, akan tetapi melalui beragam tahapan dan menghadirkan beragam cara. Dalam konteks relasi yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Timur, maka akan ditemukan paling tidak tiga hal penting. Ketiga hal tersebut adalah kolonialisme, evangelisme dan orientalisme. Kolonialisme adalah kontak yang terjadi antara Barat dengan dunia Timur secara militer yang diawali keinginan pemenuhan bahan-bahan baku industri-industri, evangelisme berkaitan dengan motivasi agama yang keinginan menyebarluaskan ajaran yang mereka yakini (Kristen) kepada negeri koloni dan terakhir orientalisme yang bermotivasi ilmu pengetahuan untuk mengentahui segala hal yang berkaitan dengan negeri-negeri yang ada di Timur yang sebagian besar merupakan jajahan Barat.

Kolonialisme

Sebagai dampak dari terjadinya revolusi industri di Prancis dan Inggris pada akhir abad ke delapan belas dan kemudian menjalar ke hampir seluruh kawasan Eropa, terutama Eropa Barat, maka negara-negara yang kemudian dikenal sebagai negeri-negeri maju tersebut membutuhkan banyak bahan baku. Beragam produk yang diperlukan dalam industri-industri Eropa tersebut membutuhkan bahan-bahan baku yang seluruhnya mampu terpenuhi di dalam negeri sendiri. Untuk menyiasati kondisi ini maka beragam negara Eropa melakukan ekspansi ke kawasan dunia lainnya yang memang dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi sumberdaya alam yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri-industri mereka. Belahan dunia yang menjadi tujuan ekspansi Eropa tersebut adalah kawasan Timur jika dilihat dari perspektif Eropa.

Secara etimologi, kolonialisme berasal dari kata bahasa Latin colonia yang berarti tanah permukiman atau tanah jajahan. Sedangkan secara terminologi, kolonialisme dapat dipahami sebagai pengembangan kekuasaan yang dilakukan oleh sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya.[1] Di samping itu, kolonialisme juga dapat dimaknai sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh suatu negara tertentu untuk menanamkan bentuk-bentuk pemerintahan tertentu dan memberlakukan serta memaksakan kedaulatan di daerah-daerah jajahan.[2]

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pada awalnya kolonialisme dilakukan atas dasar keinginan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri atau karena motivasi ekonomi. Namun demikian, motivasi terus mengalami perkembangan dan pergeseran seiring dengan perkembangan zaman. Jika pada awalnya bermotivasi bahan baku, maka perlahan-lahan Barat yang melakukan upaya memiliki tujuan lain, yaitu untuk mencari tenaga kerja. Sebagaimana diketahui bahwa dunia Timur memang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar untuk dapat dipekerjakan di berbagai industri yang memproduksi beragam kebutuhan tersebut. Tujuan ini pun di kemudian hari mengalami perkembangan atau perluasan karena selanjutnya mengemuka tujuan lain upaya kolonisasi Barat yang bermotivasi mencari pasar atau objek dari penjualan beragam produk yang dihasilkan oleh industri-industri yang ada di Barat.

Dengan kondisi semacam ini, maka Barat mendapatkan keuntungan yang sangat besar yang berimbas pada kian kuatnya negara-negara tersebut dalam percaturan dunia. Setelah secara ekonomi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, maka terjadi perkembangan dari faktor ekonomi menjadi motivasi militer untuk menguasai seluruh yang ada di negeri-negeri Timur. Dalam sejarah kemudian tercatat bahwa hampir seluruh kawasan yang ada di Timur menjadi wilayah jajahan atau koloni berbagai negara Eropa dan Amerika. Kawasan Afrika dengan aneka sumberdaya yang terkandung di dalamnya dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh Inggris, Prancis dan Italia. Kawasan Asia yang sejak dahulu dikenal dengan kekayaan alam dan kebudayaannya yang tak terhingga nilainya menjadi daerah-daerah jajahan Inggris, Belanda, Portugal dan sebagian kecil (kepulauan Filiphina) oleh Amerika Serikat. Sedangkan kawasan Pasifik dan Benua Amerika dikuasai oleh Inggris, Prancis, Portugal, Spanyol dan Amerika Serikat. Sementara Benua Afrika lebih didominasi oleh kekuatan Italia (terutama di Libya), Prancis (terutama kawasan Afrika Utara), Inggris (di Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Afrika bagian Selatan), Belanda (beberapa bagian Afrika Selatan) dan Portugal di beberapa bagian Afrika Barat dan pulau-pulau kecil sekitar Benua Afrika. Di berbagai negeri Timur yang menjadi daerah jajahan berbagai kekuatan Barat tersebut diciptakan koloni yang bertujuan untuk menguasai seluruh kekayaan alam yang dimilikinya untuk dimanfaatkan oleh negara yang menjadi penjajahnya. Negeri-negeri ini terus berada dalam kekuasaan para koloninya hingga mencapai kemerdekaannya pada akhir pertengahan abad ke sembilan belas. Kemerdekaan atau kebebasan yang diperoleh negeri-negeri jajahan di Timur dari kolonialisme Barat dapat dibagi menjadi dua.  Pertama, sepenuhnya merdeka dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya seperti yang mengemuka dengan Indonesia yang terbebas dari belenggu penjajahan Belanda dan negeri-negeri yang tidak sepenuhnya merdeka atau terbebas dalam aspek-aspek tertentu saja seperti yang mengemuka pada Australia. Negeri-negeri yang dikategorikan pada bagian kedua ini kemudian membentuk dalam wadah ‘persemakmuran’ yang memiliki kebebasan dalam mengatur kehidupan masyarakatnya tetapi masih berada dalam pengaruh negara penjajahnya. Model seperti ini dapat ditemukan seperti pada Australia, New Zealand, Papua Nugini, Hongkong (sebelum diserahkan kepada China) yang meskipun berdiri sebagai negara, tetapi masih berada dalam pengaruh Inggris dimana Ratu Inggris sebagai Kepala Negaranya.

Evangelisme

Sebagaimana diketahui bahwa semua negara yang melakukan upaya kolonisasi terhadap dunia Timur adalah negeri yang menganut ajaran agama Kristen dalam kehidupan masyarakatnya. Hal ini berimbas pada adanya upaya untuk mengajarkan apa yang mereka yakini kebenarannya kepada masyarakat yang ada negeri-negeri yang menjadi jajahannya. Menurut catatan Verkuyi, seorang pemikir Belanda, motivasi penyebaran Kristen kepada negeri-negeri jajahan turut mengiringi usaha kolonisasi yang dilakukan berbagai negara Barat ke berbagai belahan dunia tersebut.[3] Hal ini merupakan implementasi salah satu ajaran Kristen yang meminta segenap pemeluknya terus menyebarkan ajaran yang dibawa Yesus Kristen kepada segenap penduduk yang ada di planet bumi. Upaya ini diawali oleh Paus Nicolas V yang memberikan mandat kepada Portugal untuk melakukan penyebaran ajaran Kristen di luar Eropa pada tahun 1454. Mandat untuk melakukan monopoli penyebaran Kristen kepada negeri-negeri di dunia Timur yang diberikan oleh penguasa Katholik Roma tersebut dilakukan oleh Vasco da Gama, seorang pelaut ulung Portugal, dengan membawa dua orang misionaris dalam perjelajahan lautnya menuju India. Inilah upaya yang kemudian lebih dikenal sebagai evangelisme.

Secara etimologi, evangelisme berasal dari bahasa Latin ‘evangelium’ hadiah atau kabar baik.[4] Kata ini pada awalnya digunakan untuk menyebut hadiah yang diberikan kepada utusan yang telah menyampaikan berita, tetapi lambat laun dipergunakan untuk menyebut upaya mengajarkan agama Kristen kepada orang-orang yang tidak beragama ini. Sedangkan secara terminologi, evangelisme dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan oleh pemeluk Kristen untuk menyampaikan informasi tentang ajaran dan kepercayaan agama Kristen kepada orang lain yang tidak memiliki keyakinan itu atau usaha yang dilakukan untuk mengabarkan Injil (penginjilan) sebagai kitab suci yang berisi ajaran-ajaran agama Kristen kepada seluruh manusia.

Untuk menyebarkan ajaran Kristen yang telah berkembang pesat di Eropa, maka segenap pimpinan Kristen meminta para penguasa Eropa yang melakukan ekspansi ke berbagai kawasan di dunia Timur untuk turut pula menyebarkannya ke wilayah-wilayah tersebut. Maka jadilah para pelaku kolonialisme saling bekerjasama dalam menyebar-luaskan ajaran Yesus Kristus ke berbagai belahan dunia, terutama wilayah-wilayah yang menjadi jajahan aneka negara kolonial Barat tersebut.

Orientalisme

Jika relasi yang terjadi antara dunia Barat dengan dunia Timur pada bagian pertama lebih bersifat ekonomi serta militer, dan relasi yang kedua karena motivasi penyebaran agama Kristen, maka persentuhan ketiga adalah karena motivasi ilmu pengetahuan. Relasi pertama dan kedua yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Timur sangat terbatas pada hal-hal tertentu saja yang menjadi motivasi dilakukannya hal tersebut, maka relasi ketiga ini dilakukan untuk tujuan yang sangat luas, yaitu menyingkap beragam hal yang ada di dunia Timur. Inilah apa yang dikenal sebagai orientalisme atau studi atau pengkajian yang dilakukan terhadap segala aspek yang ada di dunia Timur.

Secara etimologi, orientalisme berasal dari kata ‘orient’ yang dalam Bahasa Inggris berarti ‘timur’. Pemahaman ‘timur’ di sini tentu dari sudut pandang atau perspketif orang-orang yang ada di bagian barat bumi, karena bagi orang-orang yang ada di bagian lainnya tidak melihat wilayah ini berada di timur, bisa utara dan selatan. Sedangkan secara terminologi, orientalisme dapat dimaknai sebagai pengkajian yang dilakukan terhadap peradaban yang ada dalam masyarakat Timur.[5] Dengan demikian, dapat dipahami bahwa orientalisme adalah kajian atau studi yang dilakukan untuk mengetahui dan mengungkap beragam hal yang ada dalam masyarakat dan peradaban yang ada di dunia Timur.

Sejarah pengkajian dunia Timur diawali setelah terjadinya Perang Salib I yang melibatkan kekuatan Eropa-Kristen dengan kekuatan Islam dibawah pimpinan Salahhuddin al-Ayyubi dalam memperebutkan penguasaan atas Palestina. Setelah itu, masyarakat Eropa mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui mengenai dunia Timur. Sebagai upaya mengetahui beragam rahasia yang menyelimuti dunia Timur tersebut, maka beberapa ilmuan dan pemikir Eropa berusaha melakukan kajian dan studi. Inilah awal mula adanya kajian yang dilakukan orang-orang Barat terhadap beragam hal yang ada di dunia Timur.

Dalam perkembangannya, beragam kritikan dialamatkan kepada kajian yang dilakukan Barat terhadap dunia Timur tersebut. Salah satu kritikus yang sangat menaruh perhatian besar terhadap hal ini adalah Edward Said. Dalam bukunya yang berjudul ‘orientalisme’ Edward Said memaparkan secara panjang lebar hakekat orientalisme itu, yang baginya secara keseluruhan tidak lebih dari alat penjajah bangsa-bangsa Barat atas bangsa-bangsa Timur khususnya Timur-Islam. Gugatan yang paling mendasar dari Said muncul dalam penolakannya terhadap istilah Orientalisme, atau ketimuran.[6] Menurutnya apa yang dikatakan Timur bukanlah sesuatu yang alami atau ada dengan sendirinya. Dalam istilah Said, Timur (Orient) adalah imaginative geography yang diciptakan secara sepihak oleh Barat. Kriteria Timur tidak pernah jelas secara kategoris, kalaupun ada sesuatu yang menjadikan Barat-Timur berbeda, hal itu juga merupakan hasil konstruksi sepihak masyarakat Barat. Persoalan metodologis kemudian muncul ketika imajinasi Barat tentang Timur ini dinyatakan sebagai temuan yang bersifat obyektif dan netral. Untuk itu Said menganggap kajian Orientalisme selalu berkedok ilmiah dengan mengatasnamakan diri pada ilmu.[7]

Dalam bukunya yang lain, Orientalism: Western Conceptions of The Orient, Edward Said mengatakan bahwa upaya-upaya penyelidikan yang dilakukan oleh kalangan orientalis telah melegitimasi negara-negara kolonial yang sebagian besarnya berasal dari Eropa untuk menjajah dan menancapkan kekuasaannya di dunia Timur.[8] Lebih lanjut, menurut Said, kemunculan orientalisme yang melakukan penyelidikan dunia Timur dilatarbelakangi oleh tiga hal yang selama ini seakan disembunyikan.[9] Yaitu: pertama seorang orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, atau meneliti tentang Timur yang mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan memahami kebudayaan-kebudayaan Timur, baik sebagai seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, maupun filolog. Kedua, orientalisme merupakan gaya berpikir yang mendasarkan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur dan hampir selalu Barat. Dan Ketiga adalah orientalisme merupakan institusi yang berbadan hukum yang dapat didiskusikan dan dianalisis untuk menghadapi dunia Timur, yang berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan, menggambarkan, mengajarkan tentang Timur dan sekaligus menguasainya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, membangun kembali sesuai keinginan Barat dan menguasai semua yang ada di Timur.

Namun demikian, apa yang dikemukakan mengenai kajian yang dilakukan terhadap dunia Timur oleh orang-orang Barat tidak selamanya memiliki dampak negatif atau buruk. Banyak kajian yang mereka lakukan justru turut memiliki andil yang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama bagi para pemikir Timur. Di samping itu, beragam metode kajian atau studi yang mereka gunakan dapat diadopsi atau digunakan oleh para pemikir dan ilmuan Timur untuk melakukan kajian yang serupa sebagai pembanding dan bahkan dapat digunakan untuk mengkaji peradaban Barat yang selama ini hanya menjadi subjek saja.


[1] ‘kolonialisme’ www.wikipedia indonesia.com. diakses tanggal 13 Februari 2010.

[2] J. Verkuyi, Ketegangan Antara Imperialisme dan Kolonialisme Barat dan Zending Pada Masa Politik Kolonial Etis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), hlm. 13.

[3] Ibid,- hlm. 15.

[4] ‘Evangelisme’ www.wikipedia indonesia.com. akses tanggal 13 Februari 2010.

[5] Adnan M. Wizan, Akar Gerakan Orientalisme; Dari Perang Fisik Menuju Perang Fikir, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Utama, 2003), hlm. 1.

[6] Edward W Said, Orientalisme, (Bandung: Pustaka, 2003), hlm. 64-65.

[7] Ibid,- hlm. 11-20.

[8] Richard King, ‘Orientalism and Indian Religions’, dalam Richard King Orientalism and Religion; Postcolonial Theory, India and ‘The Mistic East’, (London & New York: Routledge,1999), hlm. 82.

[9] Ibid,- hlm. 82-83.

Profil Yordania

Oleh: Pahrudin HM, MA

Yordania di antara negara-negara Timur Tengah lainnyaYordania adalah sebuah negara yang berbentuk kerajaan (monarki) yang berada di kawasan Timur Tengah dengan ibukota Amman, berbatasan dengan Suriah (Syiria) di sebelah utara, Arab Saudi di sebelah timur dan selatan, Irak di sebelah timur laut, serta Israel dan Tepi Barat (Palestina) di sebelah barat. Nama lengkap negara ini adalah Kerajaan Hasyimiyah Yordania (al-Mamlakah al-Urduniyah al-Hāsyimiyah) yang diklaim bahwa pemimpin pertama yang mendapatkan mandat dari Inggris untuk mendirikan kerajaan ini, Amir Abdullah, adalah keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.[1] Kerajaan ini didirikan oleh Amir Abdullah pada taun 1922 berdasarkan mandat yang diberikan oleh Inggris yang menguasai sebagian besar kawasan Timur Timur Tengah pada awal-awal abad ini setelah berhasil mengalahkan Kekaisaran Turki Usmani bersama kekuatan-kekuatan Eropa lainnya seperti Perancis yang menguasai wilayah ini selama berabad-abad.[2]

Secara historis Yordania tidak memiliki aspek kesejarahan yang memungkinkannya untuk membentuk sebuah negara, kecuali atas kedekatan penguasa setempat, Amir Abdullah, dengan Inggris yang menguasai kawasan tersebut ketika itu. Komposisi masyarakat Yordania terdiri dari warga asli setempat (badui) dan petani-penggembala serta warga Palestina yang terdiri dari para pengungsi yang wilayah mereka digusur oleh Israel dan warga Tepi Barat Palestina.[3] Kedua komposisi penduduk inilah membentuk menjadi masyarakat baru dalam sebuah negara yang dikenal dengan Yordania tersebut.

Meskipun telah mendapatkan wewenang untuk berdiri sebagai sebuah negara, namun wilayah yang sebelumnya dikenal dengan nama TransYordan ini masih berada dalam kontrol Inggris, terutama pada sektor kebijakan luar negeri dan militer. Yordania baru mendapatkan kemerdekaannya secara penuh dari Inggris pada tahun 1946 dan mendapatkan masa keemasan negara dibawah pemerintahan Raja Husein bin Talal yang diklaim sebagai keturunan ke-42 Nabi Muhammad SAW.[4] Nama lengkapnya adalah Husein bin Talal, dilahirkan di Amman pada tanggal 14 November 1935 dari ayah bernama Talal bin Abdullah dan ibu Zein al-Syaraf binti Jamil. Raja Husein merupakan salah satu pemimpin pemerintahan yang terlama dan terpanjang di dunia, ia memerintah Yordania sejak tahun 1952 sampai tahun 1999. Sebelum diangkat menjadi raja, ia adalah seorang putra mahkota yang sangat dekat sang kakek, Raja Abdullah I, bahkan ia menyaksikan sendiri sang raja Yordania pertama tersebut menghembuskan nafas terakhir akibat terjangan timah panas penembak jitu di saat keduanya melaksanakan salat Jum’at di Masjid al-Aqsa Palestina.

Karena sang ayah, Talal bin Abdullah, dianggap tidak mampu lagi secara rohaniah menjalankan tugas sebagai raja oleh sebuah majelis yang bertugas mengamati raja setelah memerintah sejak tahun 1946, maka Raja Husein pun naik tahta. Oleh karena usianya belum mencukupi untuk memangku jabatan seorang raja, maka dibentuklah sebuah lembaga yang terdiri dari berbagai elemen yang berfungsi untuk memerintah negeri tersebut sampai Raja Husein mencapai umur 18 tahun. Pada tahun 1953 atau setelah usianya genap 18 tahun, maka Raja Husein pun secara konstitusional resmi memerintah negeri yang memiliki banyak sisa-sisa kejayaan masa lalu berupa bangunan yang dibuat dari pahatan gunung batu (Petra) tersebut.

Setelah memerintah Yordania dalam rentang waktu yang panjang, sejak tahun 1946 atau secara efektif sejak tahun 1953, maka pada tanggal 7 Februari 1999 Raja Husein menghembuskan nafasnya yang terakhir selepas berobat kanker yang dideritanya di Amerika Serikat. Berdasarkan konstitusi yang berlaku di Yordania, maka pengganti raja yang mangkat adalah putra tertuanya, yaitu Abdullah II. Pada tanggal 7 Februari 1999, atau tepat setelah Raja Husein meninggal dunia, maka Raja Abdullah II secara resmi menggantikan ayahnya memerintah di Kerajaan Yordania. Nama lengkapnya adalah As-Sayyid Abdullah II bin al-Husein al-Hasyimi, dilahirkan di Amman pada tanggal 30 Januari 1962 dari ibu bernama Putri Muna al-Husein dan diklaim sebagai keturunan ke-43 Nabi Muhammad SAW.

Pendidikan Raja Abdullah II dimulai di Islamic Educational College Yordania dan diteruskan di St. Edmund’s School Inggris, Eaglebook School dan Akademi Deerfield Amerika Serikat. Sebagaimana layaknya tradisi yang berlaku di negara-negara bekas jajahan Inggris (commonwealth states: persemakmuran), maka Raja Abdullah II memasuki Royal Military Academy Sandhurst Inggris untuk mendapatkan pendidikan perwira militer. Karir militernya ditempuh dengan menjadi komandan Batalion Tank ke-17, komandan Angkatan Khusus Kerajaan Yordania, dan komandan Komando Operasi Khusus.

Secara geografis dan politis, Yordania sangat memiliki arti penting di Timur Tengah. Letak geografisnya yang berada di tengah-tengah negara Timur Tengah, terutama karena berbatasan langsung dengan Israel, Suriah dan Arab Saudi, membuat negara ini menjadi pusat perhatian dunia. Secara politis juga Yordania juga berarti penting dalam perbincangan mengenai Timur Tengah, terutama karena hubungan diplomatiknya dengan Israel. Yordania menjadi negara Arab kedua yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel di samping Mesir. Kondisi seperti ini penting karena pembukaan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi tersebut tentu dapat memperlancar beragam kepentingan dan keperluan antara kedua negara tersebut. Lihatlah bagaimana upaya maksimal yang dilakukan pemerintah Kerajaan Yordania dalam mengusahakan pemulangan warga Indonesia yang ditahan di Israel dalam tragedi kapal kemanusiaan Mavi Marmara beberapa waktu yang lalu. Karena Yordania memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka negara-negara lain yang tidak memiliki hubungan diplomatik seperti Indonesia menggunakan jasa atau perantara Yordania. Posisi politis Yordania dengan Israel ini tidak hanya mendatangkan efek positif sebagaimana di atas, tetapi memiliki dampak negatif. Karena hubungan diplomatiknya, maka segala aspek yang berkaitan dengan negara Yahudi tersebut dalam melakukan aktivitasnya di Yordania, mulai dari ekonomi, perdagangan, sosial, pendidikan dan perumahan. Kenyataan ini tentu menimbulkan penentangan di kalangan masyarakat Yordania, terutama kalangan muslim yang masih melihat ancaman dari keberadaan Israel di tengah-tengah bangsa Arab. Ini pula yang mendasari beberapa negara muslim di dunia tidak mengadakan hubungan diplomatik dengan Israel, seperti yang dilakukan Indonesia hingga saat ini.

Meskipun bukan termasuk negara pemilik cadangan minyak besar dunia seperti tetangga-tetangga Arab-nya semisal Saudi Arabia, ekonomi Yordania termasuk yang besar.  Berdasarkan data, jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania pada tahun 2005 adalah sebesar US$ 24,69 miliar. Besaran angka ini merupakan akumulasi dari berbagai sektor yang ada dan diusahakan negara ini. Proporsi Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania tersebut  dari sektor pertanian yang menyumbang sebesar 2,8%, kehutanan 29,6% dan perikanan 67,6%, sedangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Yordania adalah sebesar 6% per tahun. Pada tahun 2005, pendapatan per kapita penduduk Yordania adalah sebesar US$ 4.383 yang merupakan peningkatan signifikan pada tahun sebelumnya (1998) yang sebesar US$ 2.615. Nilai tukar 1 Dollar Amerika Serikat (kurs) adalah sebesar 700 Dinar Yordania. Kuatnya nilai tukar Dinar Yordania terhadap Dollar Amerika Serikat ini ternyata juga paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah, seperti Saudi Arabia yang sebesar 3.000 Riyal; Kuwait sebesar 2.800 per Dinar, Mesir sebesar 5.600 Pound; Israel sebesar 3.800 New Shekels. Atau jika dibandingkan dengan negara muslim lainnya, seperti Malaysia yang sebesar 3.000 Ringgit.

Kondisi ekonomi seperti ini tentu merupakan hasil dari beragam upaya yang dilakukan pemerintah Kerajaan Yordania di tengah beragam keterbatasan negaranya. Salah satu upaya yang dilakukan Raja Husein selama memimpin Yordania di bidang ekonomi adalah memfokuskan pembangunan Yordania pada pembangunan infrastruktur ekonomi dan industri. Sejak tahun 1960, industri utama yang ada di Yordania, yaitu fosfat, garam abu dan semen terus dilakukan pengembangan, begitu juga dengan jalan raya yang akan memperlancar mobilitas arus pembangunan di berbagai sektor yang terus akan dikembangkan. Akan tetapi karena kekurangan dana, maka Raja Husein menguapayakan dana bantuan dari sesama negara Arab lainnya, seperti Saudi Arabia dan Kuwait. Karena dukungan penuh Yordania terhadap kepemimpinan Saddam Husein di Irak, maka upaya ini sulit dilakukan karena negeri 1001 malam tersebut banyak dibenci oleh negara-negara Timur tengah utama. Untuk itu, agar tetap mendapatkan bantuan dana dari negara-negara Arab yang umumnya sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah tersebut, maka Raja Husein pun dengan berat hati harus melepaskan dukungannya terhadap Saddam. Usaha lainnya yang dilakukan Raja Husein adalah sarana dan prasarana air yang menjadi masalah terbesar Yordania dan umumnya negara-negara Arab karena letaknya yang sebagian besar berupa padang pasir yang tandus. Pengadaan air bagi rakyat Yordania dilakukan dengan menggunakan teknologi pengolahan air sehingga dapat langsung dinikmati masyarakat. Usaha lainnya yang dilakukan Raja Husein menjelang mangkatnya adalah revitalisasi objek-objek pariwisata. Beragam tempat wisata yang dimiliki Yordania, seperti pemukiman kuno dari pahatan batu gunung di Petra, dibenahi dan ditambahkan beragam fasilitas pendukung agar semakin menarik dikunjungi para pelancong. Dengan kian banyak para wisatawan yang berkunjung ke Yordania, maka secara otomatis kas negara dari devisa semakin bertambah.

Beragam upaya bidang ekonomi yang dilakukan Raja Husein kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Abdullah II. Karena terpaan krisis finansial global, maka tugas yang diemban Raja Abdullah II di bidang ekonomi kian berat. Untuk mensiasati terpaan krisis ini, Raja Abdullah II melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan dunia, IMF (international monetery fund). Di samping itu, Raja Abdullah II juga melakukan kebijakan liberalisasi perdagangan dengan bergabung dengan WTO (world trade organizasion) dan menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan Amerika Serikat. Di samping melakukan beragam upaya kerjasama perekonomian eksternal di atas, Raja Abdullah II juga melakukan perbaikan perekonomian internal. Undang-undang ekonomi yang selama ini menjadi payung perekonomian Yordania direformasi. Aneksasi dan privatisasi berbagai perusahaan dan melakukan upaya yang selama ini haram untuk dilakukan oleh para pendahulunya, yaitu otonomisasi wilayah ‘Aqabah yang selama ini dikenal sangat subur dan eksotis. Upaya yang terakhir ini banyak ditentang oleh berbagai kalangan, terutama kalangan muslim, karena dengan otonomisasi ‘Aqobah maka otomatis siapapun dapat mendirikan berbagai usaha seperti perhotelan dan properti di daerah tersebut termasuk Israel yang selama ini diharamkan. Dari kebijakan otonomisasi ‘Aqobah inilah kemudian berbagai perusahaan Israel menanamkan modalnya di Yordania, baik secara langsung dengan mendirikan perusahaan dan usaha maupun secara tidak langsung melalui orang-orang Yordania kepercayaan mereka. Upaya lainnya yang dilakukan Raja Abdullah II adalah menjalin kerjasama ekonomi dengan berbagai negara muslim di luar Arab, seperti Indonesia dan Malaysia. Beberapa waktu belakangan ini dapat kita lihat dan saksikan beragam misi dan duta dagang Yordania yang menjalin kerjasama dengan beberapa pihak di Indonesia untuk mengusahan aneka usaha di negeri ini, seperti pembukaan lahan kelapa sawit di Kalimantan dan lain sebagainya.


[1] www.wikipediaindonesia.com/yordania.

[2] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 155.

[3] Ibid,-

[4] Ali Mufradi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997, hlm. 144.

Catatan :

Lebih lanjut mengenai kondisi geografis Timur Tengah dan objek wisata Petra di Yordania dapat dibaca dalam: Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005). Sedangkan mengenai pengalihan dukungan Raja Husein dari Saddam Husein dapat dibaca dalam: Riza Sihbudi, Indonesia-Timur Tengah Masalah dan Prospek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), cetakan pertama, hlm. 72-73.