Category Archives: Sastra

Sejarah Peradaban Mesir Kuno

Oleh: Pahrudin HM, M.A. & Khomisah, M.A.

Peradaban Mesir Kuno berawal dari pemukiman penduduk di sepanjang Sungai Nil yang berasal dari suku-suku nomaden Gurun Sahara Afrika sekitar 10.000 tahun yang lalu. Telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama akhirnya pemukiman penduduk ini terus bertambah dan berkembang menjadi kota-kota yang masing-masing berdiri sendiri. Kondisi ini terus berlangsung seiring dengan perkembangan pertanian yang dilakukan orang-orang di lahan-lahan subur yang dibasahi air di sepanjang aliran sungai Nil. Selanjutnya, pemukiman-pemukiman tersebut membentuk menjadi wilayah-wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri-sendiri. Pada masa ini di Mesir berdiri dua kerajaan yang masing-masing berdaulat atas wilayahnya masing-masing, yaitu Kerajaan Mesir Hilir (Upper Egypt) yang berpusat di Memphis dan Kerajaan Mesir Hulu (Lower Egypt) yang berpusat di Thebes. Kondisi seperti ini terus berlangsung sampai kemudian seorang yang bernama Meni (atau ‘Menes’ dalam literatur Yunani dan dikenal juga dengan ‘Namer’ dalam literatur lainnya) mempersatukannya pada tahun 3100 SM sehingga sejak saat itu Mesir hanya memiliki satu kerajaan saja dan para penguasanya bergelar Fir’aun atau Pharaoh .

Para ahli membagi sejarah Mesir Kuno menjadi tiga periode, yaitu: Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru. Kerajaan Lama (old kingdom) memiliki enam dinasti, mulai Dinasti I sampai Dinasti VI dan berlangsung dalam rentang waktu tahun 3100-2181 SM. Kerajaan Pertengahan (middle kingdom) memiliki sebelas dinasti, mulai Dinasti VII sampai Dinasti XVII dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 2181-1550 SM. Sedangkan Kerajaan Baru (new kingdom) mempunyai tiga belas dinasti, mulai Dinasti XVIII sampai Dinasti XXX dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 1550-343 SM.  Dengan demikian, kerajaan Mesir Kuno secara keseluruhan memiliki tiga puluh dinasti yang secara silih berganti memerintah negeri yang identik dengan Sungai Nil ini.

Naiknya Menes (3100 SM) sebagai penguasa yang bergelar Fir’aun pertama dan mendirikan pusat pemerintahan di Memphis menandai dimulainya masa Kerajaan Lama. Sedangkan akhir dari masa Kerajaan Lama adalah runtuhnya Dinasti VI di masa pemerintahan Fir’aun Nitocris (2184-2181 SM). Penguasa keenam dari Dinasti VI ini tidak lagi mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar akibat perekonomian yang merosot karena panen yang gagal di tengah kemarau panjang yang terjadi antara tahun 2200 hingga 2150 SM. Masa ini ditandai dengan terjadinya kelaparan di seluruh negeri akibat panen beragam produk pertanian masyarakat gagal. Masa ini juga ditandai dengan semakin memudar dan berkurangnya kekuatan Fir’aun, dan sebaliknya  para gubernur regional (nomark) mulai menampakkan penentangannya terhadap kekuatan Fir’aun.

Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Kerajaan Lama, muncul Kerajaan Pertengahan (2181-1550 SM) yang ditandai dengan terpecahnya kembali Mesir menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Para gubernur lokal (nomark) yang sukses melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Lama memproklamirkan kekuasaannya di wilayah mereka masing-masing. Keluarga Intef yang merupakan gubernur wilayah Thebes di masa Kerajaan Lama, misalnya, memproklamasikan kekuasaannya atas kawasan Hulu Mesir dan mendirikan Dinasti XI. Begitu pula dengan keluarga Montuhotep yang di masa Kerajaan Lama menjadi gubernur daerah Memphis juga mengangkat dirinya sebagai penguasa wilayah Hilir Mesir. Pada tahun 1985 SM, Mesir kembali bersatu dalam sebuah kerajaan pada masa Amenemhat I (1985-1955 SM). Fir’aun pertama dalam Dinasti XII ini berhasil mengalahkan keluarga Intef dan keluarga Montuhotep yang menguasai kawasan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Masa ini ditandai dengan pemindahan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Pada masa Fir’aun keenam dari Dinasti XII, Amenemhat III (1855-1808 SM), orang-orang Asia mulai didatangkan untuk mengerjakan berbagai proyek kerajaan. Para pekerja dari Asia ini ditempatkan di kawasan delta, dekat dengan pusat kerajaan. Akan tetapi, beragam proyek ambisius kerajaan tersebut ternyata justru semakin membebani keuangan kerajaan. Implikasinya adalah terjadinya kemunduran ekonomi yang berujung pada semakin keroposnya kekuatan kerajaan. Karena kerajaan yang semakin melemah dan akhirnya hancur pada tahun 1795 SM, para pendatang Asia ini mulai menguasai Avaris di wilayah delta dan selanjutnya menguasai wilayah yang ditinggalkan Dinasti XII. Sejak tahun 1795 SM, Mesir mulai dikuasai oleh kekuatan asing dalam wujud para pendatang Asia yang kemudian dikenal sebagai bangsa Hyksos dan mendirikan Dinasti XIII sampai Dinasti XVI atau sampai tahun 1555 SM dengan para penguasanya yang terkenal, yaitu Salitis (Fir’aun Pertama dari Dinasti XV), Khyan (Fir’aun Kedua dari Dinasti XV), Apepi (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVI) dan Khamudi yang merupakan Fir’aun Kedua dari Dinasti XVI.

Sebagai negeri yang memiliki sejarah besar di masa lalu, orang-orang Mesir tentu tidak tinggal diam dengan kekuasaan bangsa Hyksos di tanah mereka. Sisa-sisa kekuatan dari kerajaan sebelumnya mulai melakukan konsolidasi untuk menentang kekuasaan bangsa Hyksos atas Mesir. Secara berlahan, sisa-sisa kekuatan masa lalu tersebut mulai mampu menguasai wilayah-wilayah tertentu dari dominasi Hyksos seperti yang berhasil ditunjukkan oleh anak keturunan Intef dengan menguasai Thebes pada tahun 1555 SM. Kesuksesan ini seakan menginspirasi sisa-sisa kekuatan lainnya untuk merebut kekuasaan dari tangan bangsa Hyksos seperti Seqenenre Taa II (Fir’aun Kedua dari Dinasti XVII) dan Kamose (Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVII) hanya berselang beberapa tahun setelah Intef. Kekuasaan bangsa Hyksos yang berasal dari Asia ini atas Mesir akhirnya benar-benar berakhir pada tahun 1550 SM seiring dengan munculnya masa Kerajaan Baru (New Kingdom) yang ditandainya dengan tampilnya Ahmose (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII) yang berhasil mengalahkan Hyksos dan mengusirnya dari Mesir (Rosalie, 2001: 86). Dengan kalahnya Hyksos, Mesir kembali dipersatukan dalam kekuasaan kerajaan tunggal dengan dinasti yang silih berganti dimulai dari Dinasti XVIII (1550 SM) sampai Dinasti XXX (343 SM). Masa Kerajaan Baru merupakan masa terpanjang dalam sejarah Mesir Kuno dan mencatatkan beragam kemajuan dan perkembangan yang sangat signifikan bagi peradaban negeri ini. Kerajaan Baru memprioritaskan kekuatan militer agar dapat memperluas perbatasan wilayah kekuasaan yang tidak hanya mencakup Mesir, tetapi juga kawasan-kawasan lainnya yang ada di sekitar khususnya wilayah Timur Dekat.

Para Fir’aun yang berkuasa di beragam dinasti yang ada di Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan bagi rakyat Mesir yang tidak tertandingi jika dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Perbatasan kerajaan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I (1504-1492 SM) yang merupakan Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVIII dan cucunya Tuthmosis III (1479-1425 SM) sebagai Fir’aun Kelima dari dinasti yang sama memperluas pengaruh kerajaan hingga ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Para penguasa Kerajaan Baru ini juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak.

Masa berikutnya adalah Dinasti XIX yang diawali dengan naiknya Ramses I (1295-1294 SM) sebagai Fir’aun Pertama ke tampuk kekuasaan Kerajaan Baru. Namun demikian, masa keemasan dinasti ini terjadi pada masa Ramses II (Fir’aun Ketiga) yang naik tahta pada tahun 1279 SM sampai tahun 1213 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada Fir’aun-Fir’aun lain dalam sejarah. Di masa kekuasaannya, wilayah kerajaan membentang luas dari Abu Simbel hingga ke laut Mediterania dan Mesir sangat disegani oleh negara-negara yang ada di sekitarnya. Sejarah juga mencatat bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan karena kebesaran dan luasnya kekuasaannya. Langkah Ramses II ini kelak dikuti oleh anaknya yang menggantikan posisinya, Merneptah (1213-1203 SM). Penguasa Keempat dari Dinasti XIX inilah yang diyakini oleh banyak kalangan sebagai Fir’aun yang ditenggelamkan oleh Tuhan di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa beserta kaumnya (Qs. Thāha [20]: 77, asy-Syu’arā’ [26]: 61-62, al-Baqarah [2]: 50, Yūnus [10]: 92).

Sepeninggal Ramses II, dapat dikatakan bahwa Mesir tidak lagi memiliki pemimpin yang mampu menorehkan catatan sejarah yang gemilang. Meskipun dinasti silih berganti, namun para Fir’aun yang memerintah tidak menghadirkan beragam kemajuan yang berarti bagi peradaban Mesir Kuno sebagaimana yang ditorehkan para pendahulunya, terutama Ramses II. Hasilnya, pada tahun 818-749 SM pada masa Dinasti XXIII Mesir kembali mengalami kemunduran dan perpecahan di kalangan para pemimpinnya. Kondisi yang tidak kondusif ini dimanfaatkan oleh kekuatan lain yang ada di sekitarnya untuk menguasai wilayah yang penting di Afrika ini. Sejak tahun 672-525 SM, Mesir dikuasai oleh bangsa Saite yang berasal dari Libya dengan membangun Dinasti XXVI, kemudian berlanjut dengan serbuan bangsa Persia dan mengambil alih kekuasaan di Mesir pada tahun 525-359 SM. Akhirnya masa Mesir Kuno benar-benar berakhir pada tahun 343 SM dan hanya menyisakan bekas-bekas kekuasaan serta peninggalan sejarahnya.

Peradaban Mesir di ketiga masa tersebut di atas mengalami perkembangan yang pesat. Sebagai negeri yang mengandalkan pertanian sebagai penyokong utama perekonomian kerajaan, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem pengaturan air Sungai Nil. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh Menes, pendiri kerajaan para Fir’aun sekaligus pemersatu Mesir, setelah melihat dampak negatif yang ditimbulkan akibat ‘pembanjiran’ Sungai Nil di setiap bulan April-Juli. Untuk menyokong sistem pengaturan air layaknya bendungan yang dikenal sekarang, orang-orang Mesir Kuno membangun kanal-kanal agar volume air yang besar tidak berkumpul pada satu tempat saja. Di samping itu, kanal-kanal yang berupa parit-parit ini juga berfungsi untuk mengalirkan air ke tempat-tempat lain yang dikehendaki. Dengan adanya bendungan dan kanal-kanal seperti sistem irigasi yang dikenal sekarang, pertanian Mesir Kuno meningkat signifikan dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Pada gilirannya, perekonomian kerajaan juga meningkat sehingga dapat membangun beragam proyek penting seperti kuil dan piramid yang dapat disaksikan sekarang.

Kemajuan ekonomi sebagai dampak ikutan dari pertanian yang berkembang signifikan membuat orang-orang Mesir Kuno mampu membangun proyek-proyek kolosal dan membuat karya-karya seni istimewa. Orang pertama yang mempelopori pembangunan karya-karya monumental adalah Djoser atau Zeser (2667-2648 SM) sehingga membuatnya dikenal sebagai The Creator of a Tradition. Fir’aun Kedua dari Dinasti III ini pertama kali mendirikan sebuah bangunan besar yang terbuat dari susunan batu-batu berbentuk bata serta mendirikan sebuah tower berbentuk persegi panjang di Abydos. Langkah ini terus dikembangkan oleh para Fir’aun setelahnya, seperti Dinasti IV yang membangun sebuah piramid raksasa di Giza dan juga Pepi I sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti VI yang mendirikan bangunan yang sama di dekat istananya. Begitu juga para Fir’aun di masa Kerajaan Baru, seperti Kuil Karnak di Luxor yang merupakan kompleks peribadatan dan menjadi bangunan termegah yang pernah dibangun oleh para Fir’aun. Kuil Karnak pertama kali dibangun pada masa Ahmose (1550-1525 SM) yang merupakan Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII atau dinasti pertama Kerajaan Baru dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Kuil yang menandai kebesaran para Fir’aun dinasti awal Kerajaan Baru ini sekarang hanya menyisakan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi serta patung-patung dalam beragam ukuran dan bentuk. Begitu juga dengan Kuil Abu Simbel di dekat perbatasan Sudan yang dibangun oleh Ramses II (1279-1213 SM) sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX.

Orang Mesir Kuno tidak hanya menghadirkan peradaban dari aspek fisik sebagaimana yang dikemukakan di atas, tetapi juga aspek lainnya seperti keagamaan misalnya. Sejak awal berdirinya kerajaan para Fir’aun, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem kepercayaan yang dianut. Sebagai bentuk apresiasi mereka atas manfaat besar yang dihadirkan oleh matahari dan Sungai Nil (air), orang-orang Mesir Kuno mengenal tuhan (dewa) dalam wujud Osiris dan Isis. Osiris merupakan manifestasi dari matahari yang memberikan banyak manfaat bagi Mesir dengan menyinari dunia setiap datangnya siang, sedangkan Isis merupakan perwujudan dari Sungai Nil yang menghadirkan air dan tanah yang subur. Di samping dua sosok ini, orang Mesir Kuno juga mengenal objek sesembahan lain, yaitu Horus, anak dari pasangan Osiris dan Isis. Ketiga sosok yang disembah ini (Osiris-Isis-Horus) banyak menghiasi dinding-dinding piramid dan kuil yang dibangun oleh para Fir’aun di berbagai tempat di Mesir. Pada perkembangan selanjutnya, sistem kepercayaan orang Mesir Kuno juga mengalami perubahan. Hal ini terjadi ketika Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII naik tahta pada tahun 1352 SM. Anak dari Amenhotep III (1390-1352 SM) ini mengubah sistem  kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Mesir. Di masa-masa sebelumnya, sistem kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Mesir adalah menyembah banyak dewa, namun ketika Amenhotep III berkuasa ia melakukan reformasi keagamaan yang radikal dan dianggap menyesatkan oleh para penentangnya. Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII ini hanya mengakui satu dewa, yaitu Dewa Pencipta Matahari (Aten) dan mengubah namanya menjadi Akhenaten. Di samping itu, Akhenaten juga memindahkan ibukota kerajaan ke suatu tempat yang baru bernama Akhetaten. Meskipun demikian, sepeninggal Amenhotep IV para penggantinya selanjutnya dari Dinasti XVIII (Tutankhamun, Ay dan Horemheb) kembali kepada sistem kepercayaan sebelumnya dan meninggalkan sama sekali kepercayaan satu dewa yang diusung Akhenaten ini.

Peninggalan sejarah lainnya dari Mesir Kuno adalah tatacara pemakaman orang mati atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘mumi’. Orang Mesir Kuno mempertahankan seperanngkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh orang mati di alam berikutnya. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan Dinasti IV, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik. Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar yang telah dicat. Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal bagi yang mati juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama orang yang meninggal tersebut.

Bidang sastra juga mengalami perkembangan yang signifikan di masa Mesir Kuno. Pada awalnya, sastra yang berupa bait-bait puisi hanya digunakan untuk menghias dekorasi kuil atau istana pada Fir’aun yang dikombinasikan dengan gaya arsitektur yang ada saat itu. Tema yang digunakan adalah penggambaran tentang keadaan alam yang ada di sekitarnya, seperti ikan, binatang dan lain sebagainya. Kemudian sastra berkembang menjadi sarana untuk memuji dewa yang dikenal dalam sistem kepercayaan masyarakat Mesir saat itu. Bait-bait puisi pujian terhadap dewa ini dipahatkan di dinding piramid dan ditulis di atas batu. Pada saat Mesir Kuno memasuki masa Kerajaan Pertengahan, sastra berkembang menjadi sarana revolusi sosial dan dimulainya penggunaan daun papirus sebagai media tulisnya. Di masa ini, muncul beragam karya sastra, seperti Teachings for King Merikara, The Satire of the Trades, The Tale of the Peasant dan Hymns to Aten yang mengetengahkan gambaran mengenai keadaan politik, sosial dan keagamaan saat itu. Pada masa Kerajaan Baru, sastra berkembang menjadi sarana pengungkapan cinta kepada seseorang yang dicintai, seperti Songs to Gladden The Heart yang berisikan pujian seorang laki-laki terhadap perempuan kekasihnya.

Seperti halnya laki-laki, perempuan Mesir Kuno berada dalam posisi yang sama dan memiliki kesempatan yang sama pula untuk berkiprah. Kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Mesir Kuno ini diyakini sebagai pandangan yang tertua dalam peradaban manusia berkaitan dengan hubungan antara kedua jenis kelamin ini. Hal ini misalnya mengemuka dalam konsepsi orang Mesir Kuno mengenai Osiris dan Isis yang mereka yakini sebagai tuhan atau dewa yang disembah. Berdasarkan jenis kelamin, Osiris adalah Dewa Matahari yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Isis adalah Dewa Nil yang berjenis kelamin kelamin perempuan. Osiris dan Isis, dalam konsepsi orang Mesir Kuno, saling berbagi kekuasaan dalam memerintah alam semesta dan masing-masing bertugas sesuai dengan tanggung jawab yang diembannya. Osiris bertugas dan bertanggungjawab untuk menyinari bumi di saat bumi memasuki waktu siang, sedangkan Isis bertugas membasahi dan menyuburkan lahan-lahan pertanian dengan airnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejak dahulu orang Mesir Kuno sudah meyakini bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara dan masing-masing berkesempatan yang sama untuk memainkan peranan yang dikehendakinya.  Di samping itu, orang Mesir Kuno juga memandang siapa pun sama di mata hukum, tidak jadi soal apakah dia perempuan ataukah laki-laki dan berasal dari kelas sosial apa pun (kecuali budak) akan diperlakukan secara baik dan adil. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang sama untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian.

Pandangan positif masyarakat Mesir Kuno terhadap perempuan dapat dilihat dan disaksikan melalui beragam peninggalan sejarah dari peradaban tinggi yang pernah mereka hasilkan. Melalui pahatan-pahatan di dinding berbagai gua dan kuil yang mengungkapkan beragam peristiwa yang pernah terjadi di masa Mesir Kuno terlihat bahwa perempuan digambarkan dalam ukuran yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga dapat bekerja di pabrik sebagai pemintal benang, menganyam, membuat permadani, berdagang di pasar dan bersama-sama dengan suaminya berburu binatang. Di halaman depan Kuil Karnak yang merupakan salah satu peninggalan sejarah Mesir Kuno, terdapat prasasti yang dipersembahkan secara khusus untuk seorang kepala dokter perempuan (Bhisist) yang menghukum salah seorang suami yang mencela suaminya dengan smasatus kali cambukan serta dihapuskan dari daftar penerima harta warisan. Citra positif lainnya terhadap perempuan adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk mengikuti berbagai perlombaan olahraga tanpa dibatasi oleh aturan apapun yang dianggap menghambat kiprahnya.

Gambaran positif yang ada dalam masyarakat Mesir terhadap perempuan membuat sejarah negeri ini dihiasi oleh peranannya yang signifikan. Masa Kerajaan Pertengahan (2118-1550 SM) mencatatkan munculnya seorang Fir’aun perempuan bernama Sobekneferu yang memerintah Mesir pada tahun 1799-1795 SM. Meskipun memerintah Mesir dalam waktu yang singkat (sekitar empat tahun), namun Fir’aun Kedelapan dari Dinasti XII ini berdiri sejajar dengan para Fir’aun laki-laki lainnya dalam memerintah Mesir saat itu.

Seperti halnya di masa Kerajaan Pertengahan, perempuan di masa Kerajaan Baru juga dicitrakan secara positif oleh masyarakat. Hal ini mengemuka dengan hadirnya Fir’aun perempuan lainnya mengikuti kesuksesan Sobekneferu sebelumnya. Masa Kerajaan Baru mencatatkan seorang tokoh perempuan yang menjadi penguasa sebuah kerajaan besar di masanya. Ialah seorang Fir’aun Keenam dari Dinasti XVIII bernama Hatshepsut (1473-1458 SM) yang berperan besar dalam menghadirkan kemakmuran bagi rakyat Mesir melalui perdagangan getah Arab (myrrh), damar dan kayu wangi dengan  Nubia dan Punt atau Somalia saat ini. Masa kekuasaan Fir’aun perempuan ini dikatakan sebagai salah satu masa keemasan dan kemakmuran yang pernah dirasakan rakyat Mesir di masa lampau. Di samping itu, Fir’aun perempuan dari Dinasti XVIII ini juga berhasil membangun kuil kamar mayat yang elegan, mendirikan pasangan tugu batu (obeliks) kolosal, dan sebuah kuil megah di Karnak.

Di samping sebagai ratu sebagai akibat dari citra positif yang disandangnya, perempuan di masa ini juga berperan penting dalam kesuksesan yang dicapai oleh para Fir’aun laki-laki. Salah satunya adalah Ratu Tiye (1370 SM) yang disebut sebagai The Queen As Diplomat karena peranan besarnya di balik kebesaran nama suaminya, Amenhotep III sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII. Begitu juga dengan Ratu Nefertiti (1345 SM) yang sukses menjadi mitra suaminya, Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesepuluh dari Dinasti XVII, dalam memimpin Mesir dan selalu disebut dalam catatan emas sejarah Mesir Kuno. Sama halnya juga dengan Ratu Nefertari (1270 SM) yang berhasil mendampingi Ramses II sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX dalam memimpin Mesir melalui pemikiran-pemikiran cerdasnya. Hal ini tentu hanya dapat dicapai berkat kecerdasan dan wawasan luas yang dimiliki perempuan Mesir di masa ini sehingga memunculkan para tokohnya yang berperan signifikan bagi masyarakat.

Pada tahun 343 SM, masa kekuasaan para Fir’aun di Mesir berakhir dengan tumbangnya Nectanebo II dari kekuasaannya sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XXX. Selang beberapa tahun kemudian, atau tepatnya tahun 332 SM, Alexander Yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia yang menguasai wilayah ini sejak tahun 522 SM. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah (Alexandria). Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah. Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa Dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus. Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir karena penguasa Dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai Fir’aun.

Seperti halnya di masa sebelumnya, perempuan Mesir di masa Dinasti Ptolemeus juga diyakini setara dan sejajar dengan laki-laki. Hal ini karena terjadinya penurunan polarisasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan bersamaan dengan menguatnya kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir. Pandangan positif mengenai perempuan di masa ini berakar pada pendapat Plato dalam bukunya, Republic, yang mengungkapkan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dapat berperan di ranah publik jika memiliki kualifikasi dan kemampuan. Pendapat ini mereduksi ketidaksetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan yang ada dalam masyarakat Yunani saat itu dan kemudian dijadikan pijakan kebijakan oleh Dinasti Ptolemeus yang memerintah Mesir sepeninggal Alexander Yang Agung.

Masa Dinasti Ptolemeus di Mesir atau yang biasa dikenal dengan Hellenistik berawal dari kematian Alexander The Great sampai dengan kematian Ratu Cleopatra VII.  Dinasti Ptolemeus yang menganggap perempuan setara dengan laki-laki memiliki banyak perempuan yang berkedudukan sebagai penguasa. Ratu Arsinoë II (316-270 SM) merupakan tokoh perempuan yang layak disejajarkan dengan dua perempuan sebelumnya, Sobekneferu dan Hatshepsut. Tokoh perempuan dari Dinasti Ptolemeus ini pernah memerintah Mesir selama 46 tahun dengan menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena kebesaran nama dan beragam kemajuan yang dicapai selama pemerintahannya maka ia dipuja bagai dewi semasa hidupnya, dan masih dihormati selama 200 tahun setelah kematiannya. Sebagai kepala negara, ia memimpin peperangan dengan beragam kekuatan yang ada saat itu bersama dengan pasukannya dan juga mengikuti serta memenangkan tiga pertandingan Olimpiade pada masanya untuk cabang berkuda.

Tokoh perempuan yang dikatakan sebagai puncak dari aktualisasi kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah Cleopatra VII Philopator. Ia adalah ratu Mesir yang memerintah negeri ini pada Januari 69 SM12 Agustus 30 SM dan anggota terakhir Dinasti Ptolemeus. Walaupun banyak ratu Mesir lain yang menggunakan namanya, ialah yang dikenal dengan nama Cleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Ia diangkat sebagai penguasa Mesir saat masih berusia 18 tahun untuk menggantikan posisi kakaknya, Cleopatra VI (Tryphaena), yang meninggal dunia setelah melanjutkan pemerintahan ibunya (Cleopatra V) yang digulingkan oleh ayahnya sendiri, Ptolemeus XII, selama dua tahun. Pada awalnya, Cleopatra memerintah Mesir bersama adik yang sekaligus juga suaminya, Ptolemeus XIII, yang saat itu masih berusia 12 tahun. Kedua penguasa ini memerintah Mesir hanya dalam beberapa tahun saja karena secara berlahan Cleopatra berhasil menyingkirkan Ptolemeus XIII. Cleopatra menghadapi berbagai permasalahan negara yang ada saat itu, seperti ekonomi, kelaparan, banjir Sungai Nil dan konflik politik serta yang kalah pentingnya adalah ancaman penyerbuan Romawi. Namun demikian, karena kepiawaian dan kecerdasannya, Ratu Cleopatra mampu menyelesaikan beragam permasalahan yang dihadapi Mesir di masa pemerintahannya tersebut. Cleopatra juga mampu mengatasi segala permasalahan tersebut yang berhasil membawa Mesir mempertahankan dirinya dari pengaruh luar, khususnya serbuan penguasa Romawi yang dipimpin oleh Caesar. Ia bahkan sangat piawai dalam melakukan negosiasi dan hubungan baik dengan dua orang kuat Romawi saat itu, Julius Caesar sebagai raja dan Mark Anthony sebagai panglima peranang. Meskipun pada tahun 30 SM Cleopatra harus mengakui kekuasaan Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) dalam Pertempuran Actium, namun beragam kelebihannya selama memerintah Mesir tetap dijadikan acuan dalam mengaktualisasikan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, khususnya di ranah publik.

Salah satu karya terbesar yang dihadirkan oleh Cleopatra bagi peradaban Mesir adalah pendirian kembali Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Anak Perempuan yang mengoleksi beragam literatur ilmu pengetahuan. Setelah sempat rusak akibat serbuan tentara Romawi, Cleopatra membangun kembali Perpustakaan Alexandria. Berdasarkan pengetahuan pengumpulan naskah (filologi) yang sudah ada saat itu, Cleopatra menghimpun kembali beragam literatur yang sempat hilang dan mengumpulkannya di Perpustakaan Iskandariyah. Perpustakaan ini mengoleksi tidak kurang dari 700.000 buku dan catatan ilmu pengetahuan, seperti Mesir Kuno dan karya-karya Ariestoteles serta ilmuan-ilmuan Yunani lainnya. Di samping sebagai tempat koleksi buku, Perpustakaan Alexandria juga menjadi tempat para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mengadakan diskusi dan kajian ilmiah. Sangat disayangkan perpustakaan ini dihancurkan dan buku-bukunya dibakar pada penyerbuan Romawi yang kedua pada tahun 389 M atas perintah Raja Theodosius.

Masa kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir berakhir dengan serbuan yang dilakukan oleh tentara Romawi pada tahun 30 SM setelah Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) berhasil mengalahkan Ratu Cleopatra VII dalam Pertempuran Actium. Penyerbuan ini didasarkan pada kebutuhan Romawi akan gandum dari Mesir dan beragam sumberdaya lainnya yang terdapat di negeri ini. Berbeda halnya dengan Yunani yang memperlakukan rakyat Mesir dengan baik, penguasa Romawi berlaku sangat kasar terhadap penduduk yang ada di negeri jajahannya ini. Meskipun demikian, masih terdapat aspek positif dari kekuasaan Romawi di Mesir yaitu tetap membiarkan beberapa tradisi setempat berkembang, seperti mumifikasi kepada orang mati dan pemujaan dewa-dewa.

Yogyakarta, 2011

Aliran Sastra Arab Modern di Mesir: Madrasah Diwan

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar
Bangsa Arab memang dikenal dengan kebiasaan mereka menggubah syair untuk mengekspresikan gejolak-gejolak hati mereka. Tradisi ini termotivasi oleh beberapa faktor di antaranya adalah lingkungan tempat tinggal mereka yang memang sangat mendukung dan juga karena bahasa mereka yang sesungguhnya juga sangat puitis. Dan yang tak kalah pentingnya adalah potensi sensitifitas ‘athifah yang tinggi yang mereka miliki sangat mendukung dalam melahirkan beragam karya sastra yang puitis dan menakjubkan.
Dalam perjalanan sejarahnya, sastra Arab tidak timbul sekaligus dalam bentuknya yang sempurna. Akan tetapi sastra Arab mengalami perkembangan-perkembangannya secara sedikit demi sedikit dengan adanya inovasi-inovasi dalam setiap fase perkembangan yang dilaluinya. Adapun fase sejarah perkembangan sastra Arab dibagi menjadi masa jahiliyah, masa shadr al-Islam, Abbasiyyah, Turki Usmani dan masa modern.
Dalam setiap periode perkembangan tersebut, sastra Arab mengalami inovasi yang membedakannya dengan periode lainnya. Pada fase modern khususnya, ternyata sastra Arab memiliki berbagai aliran sastra yang muncul silih berganti, baik karena motivasi kritikan terhadap model sastra yang muncul sebelumnya maupun karena untuk menyempurnakan aliran lainnya yang muncul dalam kurun waktu yang sama. Aliran-aliran sastra Arab yang mengemuka di masa modern tersebut adalah al-Muhāfizūn (Neo-Klasik), ad-Diwān, Apollo, Romantisme. Simbolisme dan yang terakhir adalah Hadītsah (modern).
Permulaan fase modern dalam sejarah sastra Arab dimulai sejak pemerintahan Muhammad Ali di Mesir setelah hengkangnya Prancis yang cukup lama menganeksasi negeri piramida ini pada tahun 1801 atau sering disebut sebagai masa kebangkitan kedua sastra Arab. Meskipun secara umum tujuan penggubahan puisi pada masa ini masih sama seperti pada masa-masa sebelumnya yang masih berkaitan dengan pujian, membangkitkan semangat, kebanggaan, perumpamaan-perumpamaan dan mensifati sesuatu, akan tetapi telah mulai terbebas dari mengikuti metode penggubahan puisi yang terdapat pada masa Abbasiyah yang berlangsung dalam masa selama 60 tahun. Sejak permulaan abad ke-20 secara berangsur-angsur tema-tema yang sudah mendarah daging dalam sastra Arab di atas mulai ditinggalkan dan para sastrawan Arab mulai beralih pada tema-tema yang aktual dan relevan dengan kondisi terkini, seperti nasionalisme, humanisme dan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Arab akibat adanya imperialisme yang membuat bentuk puisi Arab pun berubah menjadi berbentuk mursal dan bebas.
Salah satu aliran yang muncul di masa modern yang perlu mendapat perhatian dan memiliki arti penting dalam khazanah sastra Arab modern, terutama di Mesir, adalah Diwān atau Madrasah Diwān. Tulisan berikut akan mencoba mengetengahkan paparan mengenai aliran sastra Arab modern yang satu ini. Tulisan berikut akan mencakup latar belakang kemunculannya, tokoh-tokoh yang menjadi pengusungnya dan karakteristik sastra Arab yang mengemuka dalam aliran sastra Arab modern ini.

A. Latar Belakang Kemunculan Diwān
Sebagaimana diketahui bahwa sastra Arab pernah mengalami kevakuman atau tidak mengalami perkembangan yang signifikan pada masa Turki Usmani menguasai kawasan Arab dan sebagian besar dunia Islam lainnya. Tidak berkembangnya sastra Arab di masa ini karena adanya politik penguasa Turki Usmani yang tidak terlalu menaruh perhatian terhadap segala hal yang berkaitan dengan Arab yang menjadi wilayah kekuasaannya. Sebagai penguasa, Turki Usmani menerapkan kebijakan Turkiisasi atau menanamkan pengaruh Turki di setiap wilayah kekuasaannya, seperti bahasa Turki, tradisi Turki dan lain sebagainya. Hal ini berakibat pada bahasa dan sastra Arab yang cenderung tidak mengalami perkembangan yang berarti.
Setelah beberapa kawasan Arab, seperti Mesir, diambil alih oleh Prancis yang memperkenalkan beragam perlengkapan modern seperti peralatan cetak serta model-model bahasa dan sastra yang baru maka lambat laun sastra Arab kembali menggeliat. Perkembangan sastra Arab mengalami perkembangan yang signifikan setelah hengkang Prancis dari bumi piramida pada tahun 1801dan disusul dengan naiknya Muhammad Ali sebagai penguasa Mesir. Karena perhatian Ali yang cukup besar terhadap ilmu pengetahuan, maka ia mengirimkan duta-duta Mesir untuk menimba beragam  ilmu pengetahuan di  berbagai negara Eropa seperti Prancis, Inggris dan Italia. Sekembalinya para pelajar tersebut ke Mesir, maka dimulailah beragam inovasi terhadap aneka ilmu pengetahuan yang termasuk di dalamnya sastra Arab. Dari sini geliat kebangkitan sastra Arab semakin menampakkan eksistensinya yang merupakan perpaduan dari proses panjang asimilasi dengan berbagai kebudayaan seperti Prancis dan Inggris (assimilation), penerjemahan beragam karya asing (translation), peniruan berbagai naskah asing (imitation) yang dilakukan oleh beragam pihak yang berkecimpung dalam dunia sastra Arab.
Sejarah sastra Arab kemudian mencatat orang-orang seperti al-Barudi, Ahmad Syauqi dan Hafidz Ibrahim sebagai orang-orang pertama yang memperkenalkan inovasi-inovasi dalam sastra Arab. Tokoh-tokoh ini kemudian disebut sebagai pengusung aliran pertama dalam sastra Arab modern yang dikenal dengan nama Neo-Klasik. Kemunculan aliran ini menandai dimulainya sastra Arab berada dalam fase modernnya karena adanya beragam pengaruh dari luar sebagai hasil interaksi dengan banyak budaya dan tradisi, baik yang datang secara langsung karena penjajahan maupun yang dibawa oleh para duta Mesir yang menimba ilmu pengetahuan di Eropa.
Meskipun demikian, beragam inovasi yang dimunculkan oleh para pengusung Neo-Klasik ternyata tidak sepenuhnya melepaskan mereka dari ikatan tradisi terhadap karya-karya pendahulu dalam penggubahan puisi, terutama dalam aspek metode (uslūb) dan bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, sebagai kritikan terhadap Neo-Klasik maka muncul aliran sastra Arab modern baru yang kemudian dikenal sebagai Diwān.

B. Perkembangan Aliran Diwān
Upaya yang dilakukan kalangan Neo-Klasik dalam mengembangkan beragam inovasi dinilai tidak terlalu berarti bagi perkembangan sastra Arab modern, bahkan lebih jauh lagi kelompok ini justru dianggap sangat tradisional dan terlalu terikat dengan tradisi. Atas alasan inilah kemudian mengemuka tiga orang tokoh sastra Arab muda yang lebih banyak dipengaruhi oleh puisi-puisi Khalīl Mutrān (1872-1949), seorang sastrawan ‘mahjār’ yang dianggap sebagai ‘penghancur’ pola Qashīda yang menurutnya telah kehabisan potensi puitiknya dan harus diganti dengan bentuk-bentuk puisi yang lebih bebas dan sesuai dengan perkembangan zaman. Di samping keterpengaruhannya dengan Mutrān, ketiga tokoh ini juga diwarnai oleh para pujangga romantik dan kritikus Inggris, terutama Hazlitt dan Coleridge.
Ketiga tokoh dimaksud adalah Abdurrahman Syukri, Mahmūd al-‘Aqqād dan al-Māzini. Meskipun ketiganya tidak berada dalam satu pandangan yang bulat tentang inovasi yang harus dilakukan terhadap sastra Arab modern dan memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun setidaknya dalam beberapa aspek yang menjadi ciri dari aliran ini seperti redefenisi Syukri tentang puisi sebagai wijdān (emosi) mereka sepakat dan bahu membahu memperjuangkannya.
Aliran Diwān yang diusung oleh Syukri, al-‘Aqqād dan al-Māzini telah muncul dalam perbincangan sastra Arab modern sejak tahun 1900-1910. Meskipun demikian, aliran ini baru dikenal luas di kalangan pengkaji sastra Arab pada tahun 1921 melalui sebuah pamflet yang berjudul ad-Diwān Kitāb fī al-Adab wa an-Naqd. Penamaan aliran sastra Arab modern ini dengan ‘Diwan’ kemungkinan berkaitan dengan judul pamflet yang menjadi media kemunculannya secara luas di kalangan sastrawan Arab sebagaimana di atas. Di samping itu, penamaan ini kemungkinan juga karena adanya kumpulan karya para pengusungnya yang disatukan dalam satu buku yang biasanya disebut Diwān atau antologi.
Sebagai aliran yang muncul untuk melakukan kritikan terhadap aliran sastra Arab modern sebelumnya (Neo-Klasik), maka sanggahan pertama yang dilontarkan adalah pada aspek bahasa dan bentuk yang digunakan pendahulunya yang dinilai sangat tradisonal. Kemudian, kritikan kedua yang dialamatkan kepada kelompok Neo-Klasik adalah karena aliran pertama dalam sastra Arab modern dinilai banyak mengumpulkan tauriyah, kināyah dan jinās. Kritikan yang dilontarkan oleh Diwan terhadap Neo-Klasik sebagai pendahulunya ini kemudian dimuat dalam sebuah esai atau tulisan mereka yang berjudul ‘al-Fushūl’.
Secara lebih terperinci, kritikan yang dilontarkan Diwān terhadap beragam upaya Neo-Klasik dalam mengembangkan sastra Arab modern dapat dikemukakan sebagaimana berikut ini, yaitu:
1.    At-Tafakkuk, yaitu karya-karya sastra yang dihasilkan para pengusung Neo-Klasik dinilai tidak memiliki kesatuan tema.
2.    Al-Ihālah, yaitu upaya yang dilakukan Neo-Klasik justru membuat makna puisi menjadi rusak karena berisikan sesuatu yang bombastis, tidak realistis dan tidak masuk akal atau irasional.
3.    At-Taqlīd, yaitu karya-karya yang dihasilkan Neo-Klasik tidak lebih dari pengulangan apa yang sudah dilakukan oleh para sastrawan sebelumnya dengan cara membolak-balikkan kata dan makna.
4.    Para pengusung aliran Neo-Klasik dinilai memiliki kecenderungan yang lebih mementingkan eksistensi dari pada substansi karya sastra yang dihasilkan.
Di samping melontarkan beragam kritikannya terhadap Neo-Klasik sebagaimana dikemukakan di atas, para pengusung aliran Diwān juga menjelaskan persoalan-persoalan baru yang terdapat dalam puisi, kritik dan tulisan sastra. Hal ini dilakukan dengan cara membuat garis pemisah antara zaman sastra Arab klasik dan sastra Arab modern sehingga keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu.
Sebagai salah satu aliran sastra Arab modern, kelompok Diwān memiliki karakteristik yang sangat melekat pada mereka. Adapun karakteristik yang dapat membedakannya dengan kelompok sastra Arab modern lainnya adalah menolak kesatuan bait dan memberi penekanan pada kesatuan organis puisi, mempertahankan kejelasan, kesederhanaan dan keindahan bahasa puisi yang tenang, mengambil segala macam sumber untuk memperluas dan memperdalam persepsi dan sensitifitas rasa penyair. Di samping itu, karakteristik lainnya dari para pengusung aliran Diwān adalah berkaitan dengan tema-tema yang diangkat dalam karya-karya mereka. Tidak seperti aliran sebelumnya, tema-tema yang diangkat Diwān berkaitan persoalan-persoalan kontemporer seperti humanisme, nasionalisme, Arab, dan karya-karya yang dihasilkannya banyak dipengaruhi oleh romantisme dan model kritik Inggris.
Dengan beragam kritikan yang dilontarkannya terhadap objek yang menjadi faktor kemunculannya, bukan berarti aliran Diwān terlepas dari kritikan pihak lainnya. Karena dalam perkembangan sastra Arab modern aliran ini lebih menonjolkan aspek kritik dan sanggahannya terhadap Neo-Klasik yang muncul terlebih dahulu, maka sesungguhnya lebih tepat dikatakan bahwa Diwān ini adalah aliran kritik. Atau dalam ungkapan lain dapat dikatakan bahwa para pengusung aliran ini lebih tepat disebut sebagai kritikus dari pada sebagai sastrawan atau penyair dalam upaya mereka memberi perubahan yang berarti bagi perkembangan apresiasi sastra. Hal ini karena ternyata terjadi perbedaan yang signifikan dari gagasan kesusasteraan mereka yang merupakan kritikan terhadap Neo-Klasik dengan realitas bahwa karya-karya sastra yang mereka hasilkan bernilai biasa-biasa saja.
Aliran ini tidak berlangsung lama dalam khazanah sastra Arab modern karena para pengusungnya kemudian lebih memilih berkecimpung dengan model-model karya sastra yang lain, seperti novel, drama, makalah dan kajian-kajian sastra lainnya. Setelah para tokohnya perlahan-lahan mulai meninggalkan aliran ini, maka semakin tidak jelas tujuan sesungguhnya dari mengemukanya Diwān dalam sastra Arab modern. Kemunculan aliran ini tidak lebih dari hanya keinginan para tokohnya untuk melepaskan diri sistem persyairan Arab yang sudah selama ini, sedangkan hasil karyanya berupa puisi yang mengikuti model terdahulu dengan menambahkan beberapa aspek yang baru di dalamnya.

C. Biografi Singkat Para Tokoh Diwān
1. Abdurrahman Syukri (1886-1958)
Syukri dilahirkan di Port Said, Mesir pada tahun 1886. Pendidikan menengahnya ditempuh di Iskandariyah dan setelah menyelesaikan studinya, maka dilanjutkan di Sekolah Tinggi Guru di Kairo. Di pendidikan tinggi ini Syukri berhasil menggondol gelar kesarjanaannya pada tahun 1909 dan kemudian dilanjutkannya ke Inggris. Sekembalinya dari belajar di Inggris, Syukri mulai mengaktualisasikan pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya di Inggris di tanah airnya, Mesir. Pada awalnya Syukri menyerukan perlunya perubahan sosial dalam masyarakat Mesir dengan mengetengahkan beragam keyakinannya mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan rasionalisme.
Kemunculannya yang paling diingat, terutama dalam khazanah sastra Arab modern, adalah kritikan yang dilontarkannya kepada Ahmad Syauqi dan Hafiz Ibrahim yang dinilainya telah merampas nilai intuisi penyair kebanyakan dan karya-karya yang dihasilkan kedua tokoh Neo-Klasik ini tidak lebih dari hanya terbatas pada bentuk-bentuk perbandingan (maqshūr ‘alā at-tasybīhāt). Kritikan-kritikan yang dikemukakannya ini dimuat dalam bagian pendahuluan koleksi kelimanya pada tahun 1916. Tidak cukup sampai di situ, Syukri juga melontarkan kritikannya terhadap jenis puisi ijtimā’ atau puisi yang disesuaikan dengan kejadian sekitar seperti adanya kunjungan raja, kebakaran dan lain sebagainya. Bagi Syukri, puisi model seperti ini tidak bernilai apa-apa karena inovasi yang diperlukan dalam puisi Arab modern adalah puisi yang mencerminkan kehidupan terkini dan benar-benar mengekspresikan perasaan penyairnya.
Sebagaimana layaknya para tokoh yang memiliki karya paripurna yang membuatnya selalu dikenal, maka puncak ketokohan Syukri dalam khazanah sastra Arab modern adalah pemikirannya mengenai redefenisi puisi. Menurut Syukri, puisi itu adalah wijdān atau emosi dimana konsepsi emosional tentang citarasa menjadi faktor yang penting dalam menentukan hakekat dan fungsi suatu puisi. Inovasi yang didengungkan oleh Syukri ini kemudian dikenal sebagai salah satu karakteristrik aliran sastra Arab modern yang dikenal dengan nama Diwān.

2. ‘Abbās Mahmūd al-‘Aqqād (1889-1973)
Al-‘Aqqād, demikian ia biasa dikenal, dilahirkan di Aswān dari ayah yang seorang asli Mesir dan ibu yang seorang Kurdi. Pada awalnya, al-‘Aqqād dikenal dalam dunia sastra Arab modern sebagai penyair pembaharu yang karya-karya yang dihasilkannya memperlihatkan ketidak-terikatan dengan ikatan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Di samping menggubah puisi, al-‘Aqqād juga dikenal dengan novel setengah biografinya yang berjudul Sarah.
Seperti halnya Syukri, al-‘Aqqād juga melontarkan beragam kritikan terhadap upaya Neo-Klasik dalam sastra Arab modern. Menurut al-‘Aqqād, kalangan Keo-Klasik seringkali menggunakan puisi-puisi klasik, padahal di era modern ini karya-karya tersebut tidak relevan lagi untuk diketengahkan. Di samping itu, lontaran kritikan al-‘Aqqād terhadap Neo-Klasik juga dialamatkan pada tema atau topik yang diangkat, dimana menurutnya puisi modern tidak harus mengangkat tema-tema sebagaimana yang ada dalam karya-karya sastra klasik.
Setelah cukup lama bergelimang dengan beragam lontaran kritik dan bersinggungan dengan dunia sastra, maka pada tahun-tahun belakangan menjelang wafatnya, al-‘Aqqād lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis buku yang sebelumnya tidak pernah ia sentuh. Jika dahulu ia menghabiskan waktunya untuk menulis puisi dan novel, maka di tahun-tahun akhir hidupnya ia banyak menulis buku yang berkaitan dengan keislaman.

3. al-Māzini (1890-1949)
Nama lengkapnya adalah Ibrāhim Abdul Qādir al-Māzini atau yang biasa dikenal dalam perbincangan sastra Arab modern dengan nama al-Māzini. Seperti halnya al-‘Aqqād, al-Māzini juga pada awalnya memang dikenal sebagai penyair yang berusaha melepaskan diri dari ikatan tradisi puisi Arab yang telah ada di masa-masa sebelumnya. Inspirasi yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu yang berbeda dalam penggubahan puisi tersebut adalah buku Arabian Night serta buku-buku pemikiran post-klasik seperti Bahā’ ad-Dīn Zuhayr dan Ibnu Farid. Pada mulanya ia lebih menyukai menulis risalah (esai), akan tetapi pada tahun 1928 al-Mazini menemukan dirinya sebagai pengarang cerita pendek yang dikenal serba jenaka. Di antara karya sastra yang sukses ditelorkannya dan menjadi salah satu karya penting dalam penulisan sastra Arab modern adalah Ibrāhim al-Khātib yang ditulis pada tahun 1930 dan selanjutnya karyanya yang lain berjudul Zaynab.
Sebagai salah satu pengusung aliran Diwān bersama dua tokoh lainnya, al-Māzini juga melontarkan kritikannya terhadap Neo-Klasik. Menurutnya, satu hal yang selalu ia sesalkan dari upaya kelompok Neo-Klasik dalam perkembangan sastra Arab modern adalah tindakan Hafiz Ibrahim yang telah melakukan penjiplakan puisi. Lebih dari itu, menurut al-Māzini sesungguhnya Ibrahim bukanlah seorang sastrawan atau penyair. Oleh karena itu, agar apa yang dilakukan oleh Ibrahim tidak terus terulang maka al-Māzini sangat menekankan orisinalistas puisi yang bersifat objektif yang menurutnya tidak akan dapat dijumpai pada karya-karya klasik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hāsyimi, Sayyid Ahmad. 1965. Jawāhir al-Adab. Mesir:  Dār al-Fikr al-‘Arabi. Cetakan ke-26.
Andangdjaya, Hartojo. 1983.  Puisi Arab Modern. Jakarta: Pustaka Jaya.
Audah, Ali. 1996. Sastra Arab Mutakhir, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2 VII/1996.
Al-Iskandāry, Ahmad. dan Musthafā Anāny. TT. al-Wāsith fī al-Adab al-‘Araby wa Tārīkhihi. Mesir: Dār al-Ma’ārif.
Allen, Roger. 2008. Arab Dalam Novel. Yogyakarta: E-Nusantara.
Brugman, J. 1984. An Introduction to The History of The Modern Arabic Literature in Egypt. Leiden: EJ. Brill.
Farrūkh, Umar. 1969. al-Manhāj al-Jadīd fī al-Adab al-‘Araby. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn.
Gufron, Muhammad. 1979. Kesusastraan Arab Modern. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
Tasnimah, Tatik Maryatut. 2000. Fenomena Kritik Sastra Arab. Yogyakarta:  Jurnal Fakultas Adab  ‘Thaqafiyyat’. Volume I No. 01, Juli-Desember 2000.
Zayyāt, Ahmad Hasan. TT. Tārīkh Adab al-Araby. Kairo: Dār an-Nahdhah. Cetakan ke-25.
Zaidān, Jurji. TT. al-Adab al-Lughah al-‘Arābiyyah. Beirut: Dār al-Fikr. Jilid II. Juz IV.

Film ‘Perempuan Berkalung Surban’ dan Sosiologi Sastra

Oleh: Pahrudin HM, MA.

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui bahwa lembaga pendidikan adalah tempat terjadinya interaksi antara murid dengan pengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Ada banyak lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah dunia yang memiliki fungsi utamanya untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Dalam sejarah modern tentu kita sudah sangat familier dengan beragam lembaga pendidikan dengan fungsi utama di atas, dari level terbawah yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkatan teratas dalam hirarkinya, yaitu perguruan tinggi. Masing-masing level tersebut memiliki karakteristik dan corak yang berbeda, TK merupakan gerbang pertama interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan pengajar dan satu tingkatan dapat menjadi lanjutan dari tngkatan sebelumnya, yaitu Sekolah Dasar (SD) merupakan lanjutan dari TK. Begitu juga dengan Sekolah Menengah, baik Pertama maupun Atas, yang merupakan lanjutan dari SD dan SMP, baru kemudian dilanjutkan ke perguruan tinggi.

Demikianlah lembaga pendidikan modern umum yang biasa dikenal dalam proses pengajaran ilmu pengtahuan kepada peserta didiknya. Namun demikian, ternyata lembaga pendidikan tidaknya mengenal nama-nama sebagaimana di atas karena masih ada lembaga lainnya yang juga mempunyai fungsi serupa, yaitu pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada peserta didiknya (santri) yang dikelola oleh tokoh agama (kyai). Pesantren hanya dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Namun demikian, lembaga pendidikan model seperti ini ada di setiap komunitas Islam di berbagai tempat, akan tetapi menggunakan nama yang berbeda, seperti ‘dayah’ di Aceh dan lain sebagainya.

Secara historis, pesantren merupakan jenis pusat pendidikan kedua setelah masjid yang telah ada pada awal abad ke-16 Masehi seiring dengan upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo di Pulau Jawa.[1] Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren mempunyai beberapa karakteristik, yaitu pertama pengajaran dengan metode, struktur dan literatur tradisional. Hal ini berlaku pada pesantren yang mempunyai pendidikan  formal di sekolah atau madrasah dengan jenjang pendidikan yang bertingkat-tingkat, maupun dengan sistem halaqah, dan sorogan. Ciri utama dari pengajaran ini adalah penekanan terhadap pemahaman secara harfiah atas suatu kitab tertentu yang akan membuat rendahnya daya analisis para santri. Kedua Pemeliharaan terhadap nilai tertentu, atau yang biasa disebut dengan sub kultur pesantren. Tata nilai atau sub kultur dimaksud adalah penekanan kepada nilai ibadah terhadap setiap kegiatan yang dilakukan santri, termasuk taat dan memuliakan guru merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan agama yang hakiki.

Sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan kepada para peserta didiknya (santri) pesantren memiliki sumber pengetahuan yang sangat banyak. Sumber pengetahuan yang umumnya ada dan banyak terdapat dalam pesantren, terutama pesantren tradisional sebagai kebalikan pesantren modern, adalah kitab-kitab yang berisikan ajaran-ajaran agama yang menjadi acuan orang-orang yang ada dalam pesantren. Melalui penelaahan terhadap beragam literatur keagamaan yang biasanya dikenal dengan ‘kitab kuning’ ini terbentuk model pemikiran yang menjelma menjadi tradisi yang berlaku dan dilaksanakan oleh segenap komponen yang ada di lembaga pendidikan Islam tersebut.

Salah satu tema yang banyak mendapat perhatian dan sorotan dalam pesantren adalah pandangan tentang perempuan. Berdasarkan penelaahan komponen yang ada di pesantren, utamanya yang dilakukan para kyai yang dianggap memiliki otoritas pengambil keputusan hukum, maka berlaku pandangan mengenai eksistensi perempuan. Dalam pandangan yang berlaku di beberapa pesantren, perempuan adalah makhluk Tuhan yang berada pada posisi di bawah laki-laki atau dalam bahasa lain, perempuan berkedudukan tidak setara dengan laki-laki. Akibat dari anggapan umum ini, beragam perlakuan turunannya juga memperlihatkan ketidaksetaraan tersebut, seperti persoalan kepemimpinan, beberapa pekerjaan yang hanya dikhususkan untuk laki-laki, hubungan suami istri dan menuntut ilmu. Satu sisi sumber yang dijadikan rujukan untuk menentukan sikap dan pandangan mengenai perempuan merupakan bahan yang sudah diakui keabsahannya, seperti al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dampak yang ditimbulkan adanya pandangan tersebut ternyata terjadi kebalikannya. Ketidakberdayaan dan ketergantungan serta keterpurukan perempuan terus terjadi akibat pemikiran yang menempatkan posisi perempuan tidak setara dengan laki-laki.

Inilah yang menjadi setting sebuah film yang disutradarai oleh Hanung Bramantio yang berjudul ‘Perempuan Berkalung Surban’ atau selanjutnya disingkat ‘PBS’. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Abidah al-Khalieqy. Film ini menceritakan perjuangan yang dilakukan seorang ‘feminis’ bernama Annisa dalam usahanya keluar dari kungkungan ‘tradisi’ pesantren yang dianggapnya tidak berpihak dengan perempuan. Pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh para pengajarnya di kelas memperlihatkan ketidak-berpihakan terhadap perempuan menggunakan kitab-kitab kuning sebagai sumber rujukannya. Namun bagaimana sesungguhnya gambaran perempuan yang ada dalam tradisi pesantren tradisional atau bagaimanakah pandangan pesantren tradisional dalam melihat eksistensi perempuan.

B. Sosiologi Sastra

Sebagaimana diketahui bahwa sastra tidak lahir dalam kehampaan, akan tetapi ia hadir di tengah-tengah pembaca melalui pergulatan dengan banyak hal yang ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, tidak mengherankan jika salah satu perspektif dalam analisis sastra mengatakan bahwa sastra adalah cerminanan masyarakat tempat dimana sastra tersebut dilahirkan atau diciptakan. Demikian pula dengan salah satu model analisis sastra yang bernama sosiologi sastra.

Sosiologi sastra dapat didefinisikan sebagai cabang penelitian yang digunakan untuk mengkaji sastra yang bersifat reflektif.[1] Model penelitian ini lahir dari adanya perspektif yang memandang bahwa karya sastra merupakan manifestasi dari kondisi yang ada dalam masyarakat. Di samping itu sosiologi sastra juga dapat dimaknai sebagai model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra yang memfokuskan kajiannya pada masalah manusia.[2] Hal ini karena karya sastra yang dihadirkan para sastrawan mengetengahkan perjuangan manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi yang dimilikinya. Sosiologi sastra juga dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk mengkaji karya sastra dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan yang dihadirkan oleh penulisnya.[3] Dari paparan ini dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra adalah model penelitian yang dilakukan terhadap karya sastra untuk melihat sisi-sisi sosiologis yang ada dan terkandung di dalamnya.

F. Analisis Sosiologi Sastra Terhadap Film ‘Perempuan Berkalung Sorban’

Ada banyak pakar sastra yang mengetengahkan beragam model kajian terhadap karya sastra menggunakan sosiologi sastra. Akan tetapi, untuk keperluan kajian analisis terhadap film PBS ini, penulis menggunakan model kajian sosiologi sastra yang dipaparkan oleh Ian Watt. Hal ini karena menurut pandangan penulis, apa yang dikemukakan Watt mengenai metode kajian sastra perspektif sosiologi sastra lebih komprehensif dalam melihat konteks sosial yang tercermin dalam karya sastra tersebut.

Menurut salah satu teoritisi sastra kawakan ini, terdapat empat aspek yang harus dipelajari untuk mengkaji karya sastra dalam sosiologi sastra. Keempat aspek kajian tersebut adalah konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, genre sastra merupakan sikap kelompok tertentu, dan sastra menampilkan keadaan masyarakat secara menyeluruh.[4] Keempat hal ini harus dipelajari oleh seseorang yang mengkaji sebuah karya sastra menggunakan model analisis yang biasa dikenal dalam khazanah penelitian sastra dengan sosiologi sastra.

Selanjutnya, mari satu persatu keempat aspek kajian tersebut di atas diterapkan terhadap film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya seorang novelis Abidah el-Khalieqy ini.

1. Konteks Sosial Pengarang.

Karena film karya Hanung Baramantio ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Abidah el-Khalieqy, maka menurut penulis kajian yang dilakukan terhadapnya adalah segala hal yang berkaitan dengan novel yang merupakan adaptasinya. Untuk mengetengahkan konteks sosial pengarang, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, profesionalitas kepengarangan, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang tersebut.

Sebagai seorang sastrawati yang kelak menelorkan banyak karya sastra yang cukup berpengaruh di tanah air, Abidah sudah mengawali persinggungannya dengan dunia tulis menulis sejak masih bersekolah (nyantri) di Pesantren Bangil, Jawa Timur, yang ditamatkannya pada tahun 1984. Ternyata prestasinya di bidang sastra memang sudah terasah sejak masih nyantri di salah satu pesantren modern tersebut yang terbukti dengan kesuksesannya meraih beragam penghargaan, seperti Juara Penulisan Tsanawiyah Pesantren tahun 1982 dan Juara Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa tahun 1984.[5]

Persinggungan sastrawati kelahiran 1 Maret 1965 ini dengan dunia sastra kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan beragam forum sastra, seperti Teater Eska, ketika menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi. Hal ini terbukti dengan kesuksesannya mendapat penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Yogyakarta tahun 1998, pemenang Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003, dan memperoleh IKAPI dan Balai Bahasa Award tahun 2008. Begitu juga dengan beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya setelah berkuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri Yogyakarta yang makin banyak dan beragam. Di antara karya sastra yang ditelorkannya adalah puisi ‘Ibuku Laut Berkobar’ (1997), cerita pendek ‘Menari di Atas Gunting’ (2001), novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ (2001), novel ‘Atas Singgasana’ (2002), novel ‘Geni Jora’ (2004 dan lain sebagainya.[6]

Di samping itu, aktivitas kesehariannya Abidah juga tidak jauh dari dunia sastra yang memang telah lama digelutinya sekaligus yang telah membesarkan namanya. Di samping menulis beragam karya sastra, sastrawati kelahiran Jombang ini juga terlibat dan berperan aktif dalam beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra, seperti Pendidikan Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta dan  Apresiasi Sastra Keliling Indonesia pada Yayasan Indonesia dan Ford Fondation. Di samping itu, Abidah juga secara rutin menjadi sumber dalam beragam forum kajian sastra, seperti Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara, Sastra dan Agama di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, dan Jakarta International Literary Festival serta lain sebagainya.[7]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keseharian Abidah memang selalu bergelut dengan dunia sastra dan ia menghabiskan waktu dengan berkutat dengan dunia yang telah membesarkan namanya ini. Kesehariannya memang sepenuhnya berprofesi sebagai sastrawati yang senantiasa berusaha menelorkan beragam karya sastra. Profesionalitas kepengarangannya memang tidak diragukan lagi, meskipun latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuhnya bukanlah sastra karena ia seorang sarjana hukum Islam, tetapi beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya membuatnya layak disejajarkan dengan banyak sastrawan Indonesia lainnya. Dalam menelorkan karya sastranya, tidak jarang Abidah melakukan kajian dan penelaahan lapangan mengenai tema yang akan ia angkat. Sebagai contoh, untuk menghasilkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang kemudian diadaptasikan dalam bentuk film, Abidah melakukan penelaahan lapangan yang cukup lama di beberapa pesantren tradisional di Magelang dan berdiskusi dengan beragam pihak yang selama ini berkecimpung dengan tema-tema perempuan yang menjadi titik sentral novel ini.

Jika menilik beragam karya sastra yang sukses dilahirkannya, baik yang berupa puisi dan cerita pendek maupun novel, maka akan terlihat sasaran yang dituju. Karya-karya sastra Abidah merupakan upaya yang dilakukannya untuk memperjuangkan perempuan agar mendapatkan hak-hak yang sepatutnya mereka peroleh. Puisi berjudul ‘Ibuku Laut Berkobar’ dan cerita pendek ‘Menari di atas Gunting’ misalnya, merupakan pandangan Abidah mengenai aspek historis perempuan yang dikaitkannya dengan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Begitu juga dengan novel ‘Atas Singgasana’ yang merupakan implementasi perjuangan Abidah untuk mengentaskan status dan posisi perempuan dari belenggu tradisi patriarkhal dalam ruang domestik maupun publik. Tujuan yang sama juga terdapat dalam novelnya ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang diadaptasikan seorang sutradara muda kawakan Hanung Baramantio menjadi film dengan judul yang sama merupakan upaya Abidah untuk mengkritik pandangan yang ada dalam sebuah pesantren tradisional mengenai perempuan.

2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sebuah karya sastra tidak hadir dalam kehampaan ke tengah-tengah para pembaca, tetapi ia berkaitan dengan lingkungan dan budaya yang menjadi tempat kelahirannya. Berkaitan dengan hal ini, pengarang ingin menampilkan realitas yang ada dan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra.

Dalam konteks ini, melalui novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ Abidah ingin menampilkan ke hadapan penikmat karya sastra sebuah realitas mengenai perempuan yang terjadi di sebuah pesantren tradisional (salaf). Dalam tradisi yang telah berlangsung lama dan dijadikan pegangan secara turun temurun di pesantren tradisional, perempuan adalah makhluk yang berbeda dengan laki-laki. Apa yang dapat dilakukan laki-laki tidak dapat dikerjakan oleh perempuan karena keduanya memang dipisahkan oleh banyak hal. Sebagai contoh, Annisa sebagai tokoh sentral dalam novel dan film ini selalu tidak diperbolehkan bermain dan menaiki kuda sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara dan teman-teman laki-lakinya karena posisinya sebagai perempuan. Begitu juga ketika Annisa hendak melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta, ternyata orang tuanya (ayahnya yang seorang kyai pesantren) tidak mengizinkannya karena perempuan harus selalu didampingi muhrimnya agar tidak timbul fitnah di tengah-tengah masyarakat. Hal yang sama juga terjadi dalam konteks kepemimpinan, dimana ketika secara demokratis Annisa telah dipilih dengan suara terbanyak oleh teman-teman kelas dan mengungguli kandidat lainnya. Akan tetapi, karena dalam kepercayaan tradisi pesantren yang dianut bahwa perempuan tidak diperkenankan menjadi pemimpin, maka ia ‘dipaksa’ untuk melepaskan haknya dan menyerahkannya kepada kandidat lainnya yang seorang laki-laki.

Inilah beberapa hal yang ditampilkan oleh Abidah dalam novel dan film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai eksistensi perempuan dalam pesantren tradisional. Gambaran ini merupakan realitas yang terjadi dan mengemuka di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam konteks ini adalah pesantren tradisional, yang dipantulkan oleh Abidah dalam karya sastranya tersebut. Perempuan dalam tradisi yang menjadi anutan pesantren tradisional berada di bawah laki-laki dan hanya berperan pada wilayah domestik, seperti rumah tangga, saja sedangkan laki-laki mengambil peranan di wilayah publik yang dapat melakukan apa saja.

3. Genre Sastra Adalah Sikap Kelompok Tertentu.

Sebuah karya sastra hadir ke hadapan para penikmatnya tentu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa kehadiran sebuah karya sastra memiliki latarbelakang dan membawa misi-misi tertentu yang berkaitan dengan pengarang atau penciptanya.

Dalam konteks ‘Perempuan Berkalung Sorban’, gambaran mengenai perempuan dalam pesantren tradisional yang coba dihadirkan oleh Abidah merupakan upaya untuk menyuarakan tujuannya. Annisa yang menjadi tokoh sentral dan mendominasi perjalanan ceritanya dihadirkan oleh Abidah untuk mengkritik atau membongkar pemahaman keliru mengenai perempuan yang selama ini menjadi pegangan para kyai dan penyelenggara pendidikan di pesantren tradisional. Sebagaimana diketahui bahwa Abidah merupakan sosok sastrawati feminis yang terus berupaya memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus juga berusaha merevisi pemahaman terhadap dalil-dalil agama (Islam) yang dianggap keliru dalam memandang perempuan.

Salah satu adegan yang ditampilkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah penentangan Annisa terhadap orang tuanya yang melarangnya berkuda sebagaimana yang dilakukan teman-teman laki-lakinya. Menurut Annisa, sebagai manusia layaknya teman-teman laki-lakinya ia juga mempunyai hak yang sama untuk melakukan pekerjaan yang disukainya, dalam konteks ini berkuda. Akan tetapi hal ini tidak diperkenankan oleh orang tuanya, terutama ayahnya, karena ia perempuan yang dianggap tidak pantas untuk melakukan hal itu. Larangan ayahnya ini dibantah oleh Annisa dengan mengatakan bahwa Aisyah (isteri Nabi Muhammad SAW) ternyata juga menunggang kuda, bahkan memimpin pasukan perang yang di dalamnya banyak terdapat sahabat Nabi yang laki-laki.

Persoalan mengenai pelarangan naik kuda yang diperlihatkan di atas sesungguhnya mengacu pada peran yang dilakoni oleh laki-laki dan perempuan yang memang senantiasa menghiasi perbincangan dalam Islam. Satu pihak menganggap bahwa perempuan hanya terbatas berperan di wilayah domestik yang hanya mencakup persoalan rumah tangga, sedangkan laki-laki berperan di wilayah publik yang mencakup segala hal yang ada dalam kehidupan. Pengetengahan gambaran ini dilakukan Abidah untuk mengkritik pemahaman yang membatasi peran yang dilakoni oleh perempuan yang sangat terbatas itu. Beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai laki-laki dan perempuan memperlihatkan bahwa kedua makhluk Tuhan ini memiliki hak yang sama dan tidak ada pembedaan antara keduanya.[8] Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat an-Naml ayat 20-44 yang menceritakan tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang memimpin sebuah kerajaan di Saba’, Yaman. Begitu juga dalam Surat al-Qashash ayat 23 yang mengetengahkan cerita mengenai pertemuan Nabi Musa dengan dua putri Nabi Syu’aib yang menunggu giliran menimba air dan memelihara ternak. Hal yang sama juga diperlihatkan dalam Surat at-Taubah ayat 71 yang menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam saling tolong menolong, pimpin memimpin dan bahu membahu dalam melaksanakan menyeru kebaikan dan melarang kejahatan.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah ‘keharusan’ Annisa melepaskan haknya menjadi pemimpin kelas. Dalam film ini diceritakan bahwa suatu hari di sekolah Annisa diadakan pemilihan ketua kelas yang diikuti oleh beberapa orang kandidat. Setelah diadakan pemilihan yang melibatkan teman-teman kelasnya, maka muncullah nama Annisa sebagai peraih suara terbanyak yang seharusnya membuatnya secara otomatis menjadi ketua kelas. Akan tetapi, karena statusnya yang perempuan maka hak ini harus ia lepaskan karena menurut gurunya, perempuan bukanlah pemimpin.

Gambaran ini diperlihatkan oleh Abidah sebagai kritikannya terhadap anggapan yang banyak beredar dan diyakini oleh banyak kalangan, khususnya dalam konteks ini para pengelola pesantren tradisional, bahwa kepemimpinan dalam setiap levelnya merupakan hak laki-laki. Jika dirunut, keyakinan seperti ini mengemuka atas pemahaman terhadap Surat An-Nisa’ ayat 34 yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkann sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”.

Jika memperhatikan sebab turunnya ayat ini, maka yang dimaksudkannya hanyalah dalam konteks rumah tangga dimana laki-laki dinobatkan sebagai pemimpin karena kapasitasnya sebagai penanggung nafkah bagi istri dan anak-anaknya.[9] Akan tetapi, dalam konteks kepemimpinan secara umum maka dapat dijumpai dalam Surat al-Maidah ayat 55 dan Surat an-Nisa’ ayat 59. Dalam kedua ayat ini, Allah menyatakan bahwa penolong (pemimpin) kaum muslim itu adalah Allah, Rasul dan Ulil Amri. Kriteria Ulil Amri yang dapat dijadikan pemimpin adalah beriman kepada Allah, mendirikan salat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, siapa pun (laki-laki dan perempuan) dapat dipilih menjadi pemimpin dan dapat menjadi pemimpin sepanjang memenuhi kriteria. Meskipun ayat di atas menggunakan kata yang berbentuk mudzakkar atau maskulin (alladzīna āmanū), namun demikian para mufassir sepakat bahwa yang dimaksudkannya adalah orang-orang mukmin yang laki-laki dan perempuan sebagaimana juga pada perintah Allah untuk melaksanakan puasa.[10]

Gambaran mengenai perempuan yang diperlihatkan oleh Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah mengenai hak untuk menuntut ilmu. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di pesantren, Annisa berkeinginan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Akan tetapi keinginan ini mendapatkan tentangan keras dari ayahnya karena ia seorang perempuan yang harus ditemani oleh muhrimnya agar menimbulkan fitnah, meskipun Annisa mengkritik ayahnya yang mempersilahkan saudara-saudara laki-lakinya untuk menempuh pendidikan ke mana saja mereka kehendaki, bahkan ke luar negeri seperti kakak pertamanya Wildan.

Anggapan ini merupakan pemahaman bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah sehingga harus ditemani kemana saja ia pergi. Di samping itu, anggapan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa perempuan itu menjadi sumber banyak kerusakan yang terjadi di masyarakat. Padahal dalam sejarah tercatat dengan tinta emas perjuangan yang dilakukan oleh beragam pahlawan perempuan, seperti Aisyah dan Cut Nyak Dien, yang dengan gagah berani memperjuangkan keyakinan dan haknya. Ini memperlihatkan bahwa kelemahan fisik bukanlah selalu disematkan kepada perempuan, karena sesungguhnya ada perempuan yang kuat dan sebaliknya ada juga laki-laki yang lemah. Kaitannya dengan sumber kerusakan sesungguhnya bukanlan selalu didominasi oleh perempuan, karena dalam banyak hal laki-laki pun dapat menjadi sumber dari terjadinya sebuah kerusakan.

Adegan lainnya yang diperlihatkan Abidah dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ mengenai perempuan dalam pesantren tradisional perlakuan semena-mena suami terhadap istrinya. Dalam film tersebut diceritakan bahwa setelah menikah dengan Udin karena perjodohan dari orang tuanya, Annisa tinggal di ruang sendiri dengan suaminya yang keluarganya ternyata telah banyak membantu pembiayaan pesantren. Dari sini mulailah beragam perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya. Hal ini terutama dalam konteks hubungan suami istri, dimana suaminya memperlakukannya secara kasar dan seenaknya saja karena beranggapan bahwa seorang istri harus mengikuti apa pun kemauan suaminya. Bagi Udin, berdasarkan pemahamannya terhadap dalil-dalil agama yang diajarkan orang tuanya yang juga seorang pengasuh pesantren, seorang istri harus selalu patuh dan mengikuti apa pun kemauan suaminya. Jika tidak atau istri membangkang maka Allah tidak menyukainya bahkan melaknat istri yang berbuat demikian.

Pemahaman merupakan tafsiran atas sebuah hadis yang menyatakan bahwa seorang istri harus selalu bersedia melayani suaminya. Jika tidak melakukannya, maka Allah akan melaknat istri tersebut hingga subuh datang menjelang. Akan tetapi, gambaran ini diperlihatkan Abidah sebagai kritikannya atas pemahaman yang keliru tersebut. Ada sesuatu yang dilupakan oleh Udin, dan para suami lain semacamnya, bahwa ketaatan yang dilakukan istri terhadap suaminya dan ketaatan seluruh muslim lainnya tentu dalam konteks kebaikan sehingga tidak bisa digeneralisasi kepada semuanya. Lihatlah tuntutan Udin yang meminta Annisa melayaninya padahal saat itu telah masuk waktu salat yang jelas-jelas menjadi perintah Allah yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslim.

Gambaran lainnya yang diperlihatkan Abidah untuk mengemukakan pandangannya mengenai perempuan adalah mengenai poligami. Dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ diceritakan bahwa setelah cukup lama hidup berumah tangga dengan Udin, Annisa kedatangan tamu seorang perempuan yang meminta suaminya untuk bertanggung jawab karena ia telah dihamili. Setelah berembuk dengan keluarganya, akhirnya Udin melakukan poligami dengan menjadikan Annisa dan perempuan tersebut istrinya secara bersama-sama.

Dari gambaran ini Abidah hendak memperlihatkan bahwa begitu mudahnya laki-laki dalam tradisi pesantren tradisional untuk melakukan poligami atau beristri lebih dari satu. Hal ini berdasarkan pemahaman atas Surat An-Nisa’ ayat 3 yang menyatakan: “… Maka nikahilah perempuan yang kau kehendaki dua, tiga dan empat orang …”. Firman Allah ini dipahami seenaknya oleh laki-laki yang dalam konteks ini oleh Udin karena beranggapan bahwa hal itu memang diperintahkan oleh Allah. Padahal sesungguhnya untuk melakukan poligami tidaklah semudah itu karena harus memenuhi syarat-syarat yang sangat ketat, terutama harus mampu bersikap adil. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Udin kepada istri-istrinya sangat jauh dari ketentuan itu karena dalam film tersebut diungkapkan bahwa ia hanya menafkahi istri mudanya saja, sementara Annisa tidak.

Terakhir, gambaran yang diperlihatkan Abidah untuk mengungkapkan pandangannya yang ia yakini adalah upaya ‘memperbaiki’ model pemikiran yang berkembang di pesantren yang dianggap tidak sejalan. Dalm film tersebut diceritakan bagaimana usaha Annisa yang terus berupaya memasukkan beragam literatur ‘asing’ ke dalam pesantren agar dapat dibaca oleh para santri. Buku-buku yang dianggap ‘haram’ oleh pesantren terus disebarkan Annisa kepada para santri agar mereka mempunyai pemikiran yang terbuka dan tidak selalu berkutat dengan apa yang diajarkan selama ini. Meskipun pada awalnya mendapat penentangan yang keras dari banyak kalangan di pesantren, bahkan oleh kakaknya sendiri sebagai pemimpin sepeninggal ayahnya, hingga buku-bukunya dibakar oleh para penentangnya, tetapi usaha Annisa berbuah manis dengan berdirinya perpustakaan di pesantren tersebut.

Dari gambaran yang diperlihatkan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ ini Abidah hendak mengatakan bahwa perjuangan dan upaya untuk memperbaiki ‘tradisi’ pemikiran yang ada di pesantren harus senantiasa dilakukan. Tradisi pemikiran yang jelas-jelas membelenggu kreativitas santri dengan mengatasnamakan agama harus diganti dengan model pemikiran yang berujung pada kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh para santri. Di samping itu, Abidah juga hendak mengatakan bahwa ilmu pengatahuan itu tidak terbatas pada pengajaran-pengajaran kegamaan saja, tetapi mencakup seluruh aspek yang ada bahkan dapat bersumber dari hal-hal yang selama ini dianggap sesat sekali pun. Ini diperlihatkan dengan upaya yang dilakukan Annisa yang memasukkan buku-buku karya Pramudya Ananta Toer yang selama ini dianggap sesat dan kiri untuk dibaca oleh para santri dan kemudian banyak menghiasi rak-rak buku perpustakaan yang akhirnya diizinkan berdiri di pesantren tersebut.

4. Sastra Menampilkan Keadaan Masyarakat Mendetail

Layaknya kehidupan yang dilakoni seorang anak manusia, film ‘Perempuan Berkalung Sorban’ menghadirkan setiap aspek kehidupan masyarakat ke hadapan para penikmat sastra. Mulai dari masa kecil tokoh sentralnya, keluarga dengan segala dinamikanya, pernikahan lengkap dengan hubungan suami isteri yang dilaluinya, pendidikannya, pekerjaannya hingga upaya-upayanya mewujudkan cita-cita dan pemikirannya. Film ini menceritakan ‘pemberontakan’ terhadap tradisi dan perjuangan yang dilakukan seorang gadis bernama Annisa di sebuah pesantren tradisional yang menganggap perempuan berada dalam posisi tidak sejajar dengan laki-laki.

Ceritanya diawali dengan masa kecil Annisa bersama ayah, ibu dan kedua kakak laki-lakinya di sebuah pesantren yang dikelola oleh ayahnya. Salah satu kesukaannya yang ditentang oleh ayahnya adalah naik kuda di pinggir pantai dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Khudori. Dari sini mulai terjadi konflik dengan ayahnya yang terus memaksakan pemikiran yang menurut Annisa tidak dapat diterima, seperti pelarangan naik kuda karena ia perempuan, ketidaksetujuan ayahnya untuk kuliah di Yogyakarta karena ia tidak ditemani oleh muhrimnya. Konflik Annisa juga terjadi dengan guru-gurunya karena ia menganggap mereka mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat ia terima, seperti keharusannya melepaskan haknya menjadi ketua kelas hanya karena ia perempuan yang dianggap bukanlah pemimpin.

Ada cerita mengenai kehidupan rumah tangganya setelah ia dipaksa menerima perjodohan orang tuanya dengan seorang laki-laki bernama Udin, anak seorang kaya yang telah banyak membantu ayahnya dalam membiayai pesantren. Kehidupan rumah tangganya penuh dengan konflik akibat perlakuan kasar suaminya, terutama ketika diajak berhubungan suami istri. Cerita berlanjut dengan kedatangan seorang perempuan yang meminta pertanggung jawaban suaminya karena telah menghamilinya. Atas dasar pemahaman ajaran agama yang keliru, maka kehidupan rumah tangganya dilalui dengan jalan poligami yang semakin membuatnya tersiksa. Akhirnya, Khudori yang selama ini merupakan sosok yang dapat mengerti akan perasaannya kembali hadir setelah menamatkan studinya di Mesir. Karena ingin mengakhiri kehidupan rumah tangganya yang berantakan, maka Annisa mengadakan pertemuan dengan Khudori di sebuah kandang sapi yang berujung pada penggerebekan yang dilakukan suaminya. Ia dianggap telah menyeleweng dan berselingkuh dengan Khudori sehingga diarak ke pesantren serta dilempari batu hingga membuat ayahnya yang mengidap penyakit jantung meninggal dunia karena shok.

Cerita berlanjut dengan perceraian Annisa dengan suaminya dan ia melanjutkan studinya yang sempat tertunda beberapa tahun ke Yogyakarta. Di kota budaya ini ia melihat banyak perubahan yang dialami oleh teman-temannya semasa di pesantren dulu, seperti pergaulan bebas dan lain sebagainya. Di samping kuliah, di kota pendidikan ini Annisa juga bekerja sebagai salah seorang konselor di sebuah lembaga yang membantu persoalan-persoalan yang dialami perempuan. Dari tempatnya bekerja inilah ia banyak menemukan wawasan dan pengetahuan seputar perempuan dan cara memberi pencerahan serta memberdayakannya. Di kota ini pula ia kembali bertemu dengan Khudori dan keduanya melangsungkan pernikahan.

Tekad Annisa untuk berupaya merubah pemikiran yang berkembang di pesantren yang telah dikelola oleh kakak tertuanya, Wildan, terus menggebu. Upaya ini mendapat dukungan yang besar dari suaminya, Khudori, yang kemudian menemui ajalnya karena kecelakaan dan ditabrak oleh mobil dalam perjalanannya membeli tiket bagi kepulangan mereka ke Yogyakarta. Untuk mewujufkan cita-citanya memperbaiki pemikiran di pesantren, Annisa berusaha memasukkan buku-buku yang diharapkan menjadi bahan bacaan bagi para santri. Pada awalnya upaya ini mendapat penentangan keras dari segenap pengelola pesantren karena dianggap menyebarkan pemikiran sesat kepada para santri hingga buku-bukunya sempat dibakar. Akan tetapi di akhir cerita, upaya ini berbuah manis dengan hadirnya perpustakaan yang memuat beragam literatur yang dapat dibaca oleh para santri.

Inilah gambaran keadaan masyarakat yang ditampilkan oleh Abidah dalam film ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Dalam film ini, Abidah mengetengahkan gambaran tentang kehidupan seorang perempuan dalam upayanya memperjuangkan hak-haknya sekaligus juga memperbaiki beragam anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat mengenai perempuan.

Namun demikian, gambaran tentang pesantren dalam memperlakukan perempuan tentu tidak semuanya seperti yang diperlihatkan ‘Abidah dalam novel ini. Ada banyak pesantren yang kini justru sangat jauh dari bias gender dan sangat memahami keberadaan perempuan. Gambaran yang dikemukakan ‘Abidah bukanlah mewakili gambaran pesantren dalam memperlakukan perempuan secara keseluruhan. Namun demikian, gambaran ini perlu mendapat apresiasi dan perhatian karena ternyata ada penyimpangan dalam pesantren dalam memperlakukan perempuan dengan dalih agama yang sesungguhnya seringkali digunakan secara tidak utuh (parsial).


[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 77

[2] Ibid,- hlm. 79

[3] Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Metodologi Penelitian Sastra, Jabrohim (ed.), (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001), hlm. 169. Atau dapat pula ditemukan dalam: Jabrohim, ‘Sosiologi Sastra: Beberapa Konsep Pengantar’, dalam Teori Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, 1994), hlm. 223.

[4] Ekarini Saraswati, Sosiologi Sastra, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2003), hlm. 11-12.

[5] Biodata Abidah dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[6] Ibid,-

[7] Lebih lanjut mengenai informasi tentang sastrawati Indonesia yang satu ini dapat dilihat dalam: http://teatereska.wordpress.com/2009/02/06/tentang-abidah/

[8] Yunahar Ilyas, ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ke-3, Januari 2002, hlm. 64.

[9] Ibid,- hlm. 69.

[10] Ibid,- hlm. 67-68


[1] Juwariyah, Ciri-Ciri Pendidikan Islam Tradisionil, http://uin-suka.info/ejurnal

Cerpen “Istana Ratu Kelabang”

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Pagi itu begitu cerah. Kabut di kaki langit berlahan beranjak pergi. Kicauan merdu burung-burung di ranting pepohonan terdengar bersahut-sahutan. Bayu pagi mulai berhembus lembut. Di sebuah jalan yang tak dapat dikatakan besar itu, masih belum terlihat banyak kendaraan yang lalu lalang. Di samping kiri dan kanannya terlihat berjejer beberapa rumah yang turut menghiasi demografi daerah ini. Salah satu dari jejeran rumah tersebut terdapat sebuah rumah berlantai dua dan bercat putih yang digunakan untuk kos-kosan. Sedangkan di sampingnya masih terdapat dua rumah lagi yang hanya berjarak beberapa centi meter saja. Di sini terlihat kesibukan seperti biasa mengawali denyut nadi kehidupan di pagi ini. Ada yang sedang mencuci pakaian dan piring, ada yang sedang mengobrol ria dengan beragam topik terutama tragedi 11 September di Amerika bahkan ada yang hanya berdiri sambil menunggu antrian mandi.

Entah kenapa pagi ini aku bangun agak telat. Padahal tadi malam aku tidak begadang sampai larut malam amat. Paling-paling hanya main play station sampai jam sebelas. Bahkan sebelum tidur pun aku sempat memplanning untuk bangun pada jam tiga tepat untuk menyelesaikan seabrek tugas yang masih terbengkalai. Tapi semuanya berlalu sudah. Sepertinya aku tidak terusik dengan kebisingan yang timbul dari kesibukan yang terjadi di sekelilingku setiap paginya. Mulai dari suara Haddad Alwi yang mendayu-dayu dari tape recorder temanku di samping hingga obrolan dan dentingan piring cucian ibu kosku.

Sebenarny aku masih agak enggan bangkit dan meninggalkan peraduan setiaku begitu saja. Tetapi setelah melihat jam hasil kreasiku yang menunjukkan angka setengah tujuh maka aku terpaksa harus bangun. Apalagi setelah kulihat jadwal kuliah yang ternyata jam tujuh tepat.

“Roy… Bangun, udah siang” terdengar suara dari luar sambil sesekali menggedor pintu sedikit keras.

“Ya… udah dari tadi” sahutku sambil menyisir rambut di depan cermin agar terlihat rapi.

Sebelum keluar, tak lupa ku buka jendela kamarku. Perlahan-lahan bayu pagi menerobos masuk. Berlahan-lahan pula bau kurang sedap dan apek di kamarku lenyap. Kemudian aku sudah terlibat pembicaraan dalam obrolan pagi yang rutin dilakukan menjelang mandi. Topik pembicaraan silih berganti. Mulai dari pembicaraan kuliah, masalah kos, masalah keluarga hingga masalah-masalah yang lagi trend saat ini tak luput dari obrolan. Sesekali aku menyeletuk juga untuk sekedar menghilangkan kebekuan di bibirku. Setelah bosan dan mentari juga telah semakin meninggi, aku bergegas ke kamar mandi. Tetapi langkahku terhenti. tepat di depan kamar mandi favoritku terlihat teman sebelah kamarku sedang berdiri. Ia tertegun dan sedikit tegang. Sepertinya ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi. Sesekali matanya menatap awas ke dalam kamar mandi. Aku semakin penasaran, ada apakah gerangan.

“Mir… Ada apa?” Tanyaku sambil mendekat dan memegang pundaknya.

“Ini bang, ada kelabang” Amir masih kelihatan tegang bercampur penasaran.

“Kok aneh ya, setiap kali aku mandi, baik kamar mandi pertama dan kedua ini, selalu ketemu kelabang di dinding, bahkan sesekali merayap naik ke kakiku” lanjut Amir menceritakan.

“Apa bang Roy nggak pernah mengalami?” Amir balik  bertanya kepadaku.

“Selama dua tahun tinggal di sini tidak pernah tuh” ungkapku masih penasaran.

Waktu pun kemudian berlalu. Jarum jam terus semakin mendekati angka tujuh. Berarti aku harus cepat mandi biar tidak telat masuk kuliah. Akhirnya cerita tentang kelabang berhenti sampai di situ. Aku terus masuk ke dalam kamar mandi walaupun masih ragu. Dan benar saja saat mandi aku tidak menjumpai dan mengalami apa-apa. Semua berjalan seperti biasa. “Tapi kok Amir mengalami, aneh ya” batinku.

Setelah kejadian itu Amir terlihat biasa saja dalam kesehariannya. Ia tetap mengobrol dan bercengkrama dengan teman-teman lainnya. Jadi, tidak ada yang aneh dalam pribadinya. Bahkan sesekali terdengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari bibirnya di kamar sebelahku sehabis Maghrib. Melihat hal itu, timbul dalam pikiranku untuk melupakan saja kejadian itu. Yach… mungkin hanya kebetulan saja ia mengalaminya.

Hari terus berlalu bersama dengan perputaran waktu. Aku dan teman-teman menjalani rutinitas seperti biasa. Begitu juga yang terlihat dengan Amir yang kemaren mengalami kejadian kebetulan tersebut. Hingga suatu hari saat kami terlibat obrolan seru tentang serangan membabi-buta polisi dunia terhadap negeri miskin di Asia Selatan. Amir kembali menceritakan bahwa ia kembali mengalami hal yang serupa seperti yang pernah dialaminya dulu. Dan menurutnya kejadian ini terus berlangsung setiap kali ia berada di dalam kamar mandi. Hanya saja menurutnya lagi, kejadian tersebut sengaja ia simpan sendiri. Hingga ia merasa tidak tahan lagi dan menceritakannya kepada teman-teman.

“Wah… jadi semakin heboh nih Mir” ucapku sambil mengernyitkan dahi.

“Aku baru sekarang mendengar kejadian seperti ini” Timpal Nur yang menjadi dedengkot kos-kosan ini.

“Mendingan diintip cewek lagi…” Piyu juga ikut nimbrung. Temanku yang satu ini memang doyan banget dengan yang namanya cewek, apalagi yang berjidat licin dan berkaki mulus. Padahal wajahnya dengan vokalis band asal Surabaya itu jauh banget, apalagi dengan Brad Pitt pasti berjarak puluhan kilometer.

Dari obrolan di forum tak resmi ini aku semakin penasaran. Betapa tidak, ini kejadian aneh bin ajaib. Kalau saja acara Langka Tapi Unik masih ada di tv pasti disiarkan. Malam harinya sebelum tidur, aku terus berpikir untuk mencari jalan penyelesaiannya. Jiwa detektifku yang terbangun oleh Enid Blyton melalui serial-serialnya seakan terusik. Peristiwa-peristiwa seperti inilah, menurutku, yang menjadi lahan garapan seorang detektif. Apalagi kejadian aneh ini terjadi di depan hidungku dan yang mengalaminya adalah teman tetangga kosku sendiri. Masak kemudian aku hanya berdiam diri tanpa beraksi apa-apa. Mana tanggung jawabku sebagai implementasi sense of society-ku yang menjadi mottoku sejak dahulu. Apapun akibanya tentunya. Aku harus beraksi, itu tekadku. Aku masih terus berpikir dan berpikir hingga tanpa terasa aku tertidur pulas. Dalam tidur aku bermimpi tentang kelabang itu. Ia datang kepadaku di kamarku ini, bukan di kamar mandi seperti teman kosku itu. Pagi harinya aku bangun seperti biasa. Setelah salat Subuh aku berangkat kuliah dan melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Saat beraktivitas di luar, apa yang aku alami tadi malam seakan terlupakan terhimpit oleh seabrek aktivitas dan tugas.

Sekembali ke kos pada sore harinya, kembali aku teringat mimpiku tadi malam. Aku semakin bersemangat untuk segera menuntaskan misteri ini secapat mungkin. Apalagi kemudian masih ku dengar kejadian-kejadian serupa yang dialami oleh Amir setiap kali ia berada di kamar mandi. Tetapi sampai saat ini aku belum menemukan satu cara atau jalan pun untuk menuntaskannya. Padahal kejadian ini telah berlangsung cukup lama. Aku masih berpikir untuk menemukannya. Hingga kemudian aku tersentak seakan tersadar dari dari lamunan. Aku berpikir, bukankah si kelabang menemuiku saat aku tidur di malam hari. Dalam mimpi tersebut sepertinya ia berpesan sesuatu padaku. Tapi apa ya?…. Kok aku lupa sih. Inilah salah satu penyakit baruku. Padahal umurku belum berkepala apalagi beruban. Aku terus mengingat pesan itu, tapi tetap saja hampa.

“Yah… atau begini saja” batinku sambil memegang bibir bawahku dengan ujung jariku ala detektif ciptaan Enid Blyton.

“Ia datang kepadaku saat malam hari, ini suatu isyarat bahwa aku harus menemuinya di malam hari. Tapi, bagaimana caranya?….” aku terus berpikir sambil mengernyitkan dahiku sehingga tanpa terasa keringat mengucur deras dari pori-poriku. “Yah…akhirnya ketemu juga” teriakku kegirangan setelah menemukan jawabannya.

Tepat jam dua belas malam teng, saat pergantian hari baru. Ku segera mempersiapkan diri. dengan dandanan ala orang yang mau mandi. Lengkap dengan dengan handuk yang dililitkan di leher, gayung kecil yang berisikan sabun mandi, odol dan sikat gigi serta tak ketinggalan satu sachet shampo kesukaaanku. Perlahan-lahan aku masuk ke kamar mandi. “Wah… bak mandi kosong, berarti harus diisi dulu” pikirku setelah berada dalam kamar mandi. Ini memang kebiasaan ibu kosku membiarkan bak mandi dalam keadaan kosong. Biar lebih mengirit biaya katanya. Perlahan-lahan keran air ku buka dan secara perlahan-lahan pula air mulai mengucur ke dalam bak mandi. Lampu kamar mandi sengaja ku nyalakan seperti biasanya. Biar orang lain tidak asal terobos saja kalau lagi kebelet di tengah musim buah-buahan kali ini. Dan yang penting, keberadaanku di dalam kamar mandi tidak dicurigai melakukan hal-hal yang macam-macam. Beberapa saat ku tunggu dengan hati berdebar dan denyut jantung yang mulai tak teratur lagi, tetapi tetap tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba lampu kamar mandi mati. Padahal jam segini si Andi yang biasanya berulah dengan mematikan lampu masih nyenayk mendengkur di kamarnya. “Apa PLN lagi melakukan pemadaman bergilir” pikirku di tengah ketegangan yang terus memuncak.

Kegelapan semakin pekat hingga tak terlihat apa-apa lagi karena dimana-mana yang ada hanyalah hitam dan kelam. Di tengah kegelapan itu, tanganku terasa dipegangi oleh seseorang dan menuntunku berjalan dengan cukup jauh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pelataran yang cukup luas, tetapi aku tidak tahu itu di mana. Dalam suasana yang masih gelap, aku kembali tidak tahu apa yang ada di sekelilingku. Yang sangat jelas hanyalah lilin yang berjejer rapi dan cahayanya meliuk-liuk tertiup angin malam.

Tiba-tiba sekelilingku terang benderang. Ternyata, cahaya tersebut berasal dari beragam lampu yang ada di sekelilingku. Tampaklah sebuah singgasana yang indah. Terbuat dari intan permata yang sempurna. Di atasnya duduk seorang dara cantik bermahkotakan mutiara di kepalanya. Seorang perempuan yang sangat menawan dengan berpakaian sutra paripurna berlapiskan emas pertama berlian. Di kedua sisinya berdiri dara-dara yang juga cantik sambil memegang tombak. Di belakangnya duduk berjejer puluhan dara yang juga cantik jelita. Baru aku sadari ternyata dari tadi tadi aku tengah dikelilingi oleh dara-dara nan cantik jelita dan mempesona.

“Selamat datang di istanaku” sapa dara cantik yang ada di singgasana depanku. Melihat tempatnya, kiranya ia adalah pemimpin atau ratu di tempat ini. Aku masih saja termangu tak sanggup mengucapkan satu patah kata pun.

“Kami mohon maaf telah mengganggu aktivitas anda” sang ratu kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Sebenarnya bukan maksud kami mengganggu anda dan teman anda apalagi hendak menakuti. Hal itu terjadi karena secara tidak sengaja beberapa kali anak buah saya mendengar suara siulan laki-laki yang membuat mereka tertarik. Mereka pun mendekat hingga akhirnya terlihat oleh temanmu itu” sang ratu kembali menjelaskan lebih lanjut.

“Jadi, kelabang-kelabang itu anak buah ratu?” aku mulai dapat berbicara meskipun masih terbata-bata.

“Ya, begitulah … Tetapi sekali lagi saya atas nama rakyat mengucapkan permohonan maaf. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk diketahui bahwa anak buah saya yang mendekat ek arah temanmu itu telah dihukum” sang ratu terlihat tersenyum dalam kesungguhannya.

“Kalau begitu tidak apa-apa” jawabku sekenanya.

“Terima kasih, sampaikan salam manisku untuk temanmu itu. Beritahu dia agar tidak bersiul di kamar mandi karena dapat mengundang rakyatku untuk datang mendekat” sang ratu beranjak pergi sambil melemparkan sepucuk surat ke pangkuanku.

Mendadak suasana kembali gelap seperti sebelumnya. Semua yang ada di sekelilingku juga ikut lenyap. Aku tersadar ketika lampu kamar mandi kembali menyala. Ternyata aku kembali berada di kamar mandi dan bak mandi telah penuh terisi air. Suasana kos sudah terlihat ramai dan kemudian terdengar jam berdentang sebanyak lima kali. Berarti sudah jam lima pagi. Pastas saja suasana kos sudah mulai ramai dan denyut kehidupan dimulai kembali secara normal.

Aku pun segera mandi untuk menghilangkan segala penasaran dan keanehan yang barusaja aku alami. Setelah mandi, baru aku sadari bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam salah satu saku celanaku. Berupa kertas beramplop rapi. “Jangan-jangan basah” pikirku. Setelah ku keluarkan ternyata masih dalam keadaan utuh karena dibungkus dengan sampul yang tahan air.

Hari itu aku kembali melakukan beragam aktivitas keseharianku. Matahari semakin meninggi ketika beberapa aktivitas sukses ku jalani di hari itu. Aku pun kembali ke kos sebagaimana biasanya. Di sore harinya, di beranda depan kos kami pun kembali melanjutkan beberapa topik obrolan yang kemaren kami bicarakan.

“Mir!… mulai sekarang kamu tidak perlu lagi takut ketemu kelabang di kamar mandi” kataku melihat Amir juga pulang dari kampus.

“Memangnya kenapa bang?” tanya Amir sedikit bingung.

“Pokoknya tidak usah takut lagi. Ini ada surat untukmu. Tapi, kita baca bareng ya…” Kemudian aku beranjak ke kamar Amir di tengah kebingungannya.

“Kok bagus ya … Sampulnya… lho kok….ha…ha…” suara kami menyatu sehingga terdengar riuh di kamar itu setelah membuka surat yang diberikan sang ratu kelabang tadi malam.

Teman-teman yang ada di depan kamar pun dibuat bingung mengetahui suara gaduh dan riuh dari dalam kamar Amir. Padahal baru saja ngobrol di depan dengan cukup serius, pikir mereka.

Yogyakarta, 8 November 2001

________________

Cerita pendek ini pernah dimuat di Majalah Liberty Surabaya antara tahun 2005-2006.

Terima kasih untuk ibu kos beserta keluarga di Yogyakarta yang telah sudi menerima kehadiran kami. Semoga tabah menjalani hidup ini, meskipun musibah gempa 2006 yang lalu membuat kos-kosan yang penuh kenangan tersebut harus dibangun kembali. Semoga sukses untuk teman-teman sesama penghuni kos. Untuk Amir, maafkan atas segala salahku yang mungkin tak kau sangka sebelumnya. Padahal sebenarnya aku telah kau anggap sebagai kakakmu sendiri. Please… Forgive me…

Puisi “Lukisan Pujaan Hati”

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Dalam keheningan malam

Ditemani temaramnya sinar rembulan

Diselingi semilirnya sang bayu

Dilirik syahdu kerlipan mutiara jagad raya

ku coba melukis sosokmu

Satu demi satu ku himpun

Senyumanmu yang memekarkan bunga-bunga di taman

Binar matamu yang menggoda kumbang-kumbang

untuk datang menghampiri

Gemulai langkahmu menebarkan nada-nada indah

dari dawai-dawai kecapi surgawi

Bibir merekahmu yang mempesona dedaunan hijau

ketika mengucapkan kata ” I Love You”

Semuanya ku rangkai dalam lukisan itu

Hingga muncul sosok pujaan hati

yang kelak menemaniku mengisi hari-hari

Melati …

Biarlah lelapnya rerumputan

Kerlingan bintang gemintang di atap dunia

Lembutnya sapuan bayu kelam

Menjadi saksi bahwa “I Love You Too”

Yogyakarta, 28 Oktober 2001.

Perenungan yang lahir dari sebuah rumah kos di bilangan kota budaya dan pendidikan.

Puisi “JASMINA”

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Jasmina …

Kalau boleh ku akui

Kau mutiara sejati yang ku miliki

Tertanam dalam lubuk hati

Sebagai mahligai diri

Saat kegelapan berlalu pergi

Kau datang menghampiri

‘Tuk menyinari alam ini

Jasmina …

Kehadiranmu menggeser sepi dan sunyi

Mengalirkan tetesan-tetesan damai di sanubari

Hingga …

Rasa tenteram, tenang terasapi

Ketika aku larut dalam sendiri

Dengan senyummu nan indah dipandangi

Wajah berseri-seri tak terlukisi

Kau datang menghampiri

Hingga …

Dengan langkah gemulai dan gontai

Diselingi sedikit sesal di hati

Kau berlalu pergi

Menuju peraduan mengejar mimpi

Setelah beberapa saat terlewati

Jasmina …

Malam-malam indah selalu kita lalui

Ditemani rembulan yang menyinari

Juga saat siang dan pagi

Di bawah teriknya mentari yang memayungi

Tetapi …

Ada yang mengganjal di sini

Apakah akan terus seperti ini

Jasmina …

Ingatlah slalu janji kita tanpa henti

Jaga diri dan hati

Yogyakarta, 7 Oktober 2001

Teruntuk seseorang yang pernah mengisi hari demi hari, mencoba menapaki masa depan bersama meskipun tinggal memori.

Kajian Semiotik Riffatere Terhadap Puisi Arab

Oleh : Pahrudin HM, M.A.

Pengantar

Setiap orang memiliki cara yang seringkali berbeda dalam mengungkapkan pandangannya atau pemikirannya terhadap realitas yang ada di sekitar dan yang ditemuinya. Ada yang mengetengahkannya secara langsung di hadapan pembaca sehingga mereka dapat langsung memahami apa yang dimaksudkan. Tetapi tidak jarang justru adanya penggunaan cara yang sepintas lalu belum dapat dipahami karena menggunakan beragam kata yang berarti tidak langsung. Cara yang kedua inilah yang lazim digunakan oleh para penyair untuk mengetengahkan beragam pandangan dan isi hatinya dalam beragam karya sastra. Penggunaan kata yang berarti tidak langsung atau simbol dalam sebuah karya sastra di samping untuk membedakannya dengan karya tulis biasa, juga agar timbul nuansa keindahan dalam rangkaian katanya serta yang tak kalah pentingnya agar tercipta sebuah proses pemahaman yang mendalam bagi para penikmat karya tersebut.

Penggunaan ungkapan seperti di atas pula yang dilakukan oleh seorang sastrawati kawakan Lebanon, Nuhad Wadī’ Haddād atau yang lebih dikenal dengan Fairūz yang dilahirkan di Beirut 21 November 1935, untuk mengungkapkan isi hati sekaligus juga pandangannya tentang Palestina dalam puisinya berjudul al-Quds al-‘Atīqah. Dalam puisi yang dimuat dalam situs internet www.arabicpoem.com ini, penyair yang banyak mendapat penghargaan sastra ini, mengetengahkan dan mengungkapkan pengalamannya saat berkunjung ke negeri yang selalu mengalami masa-masa pergolakan sepanjang zaman hingga seakan-akan tak berkesudahan ini.

Dalam puisi yang memaparkan pantauannya di beberapa sudut Palestina ini, sastrawati yang juga penyiar radio ini mengetengahkan di hadapan penikmat karya sastra sebuah realitas. Realitas yang patut jadi bahan renungan, yaitu bahwa negeri yang menjadi tempat berkumpulnya agama-agama samawi ini tengah menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan dengan memikul beban yang terlampau berat hingga berdampak negatif bagi kehidupan masyarakatnya. Keadaan yang tidak menentu terus dialami masyarakat negeri ini sejak berabad-abad lampau, utamanya sejak terjadinya serangkaian Perang Salib tahun 1095-1291 M hingga perang Arab-Israel yang berujung pada terpecahnya negara Palestina tahun 1946-1948 (Hitti, 2005: 808-836; Yatim, 2006: 76-79). Keadaan yang tidak kondusif ini terus berlangsung sepanjang waktu, bahkan hingga di era modern ini.

Untuk menggambarkan kondisi memprihatinkan yang dialami negeri tetangganya ini, sastrawati yang juga penyanyi ini mengungkapkannya dengan menggunakan simbol. Beberapa simbol yang dipakai Fairūz dalam gubahan puisi ini antara lain: “jalanan yang sepi dari lalu lalang manusia”, pertokoan yang kusam dan semberawut”, “taman-taman yang tak berbunga”, “malam yang sunyi senyap”, “rumah-rumah yang tak berpenghuni”, dan lain sebagainya. Fairūz

Begitu banyak simbol yang diketengahkan penyair dalam puisi ini mengisyaratkan satu hal bahwa ketidakmenentuan kondisi yang menyelimuti masyarakat Palestina telah sedemikian mengkhawatirkan. Ketentraman dan kesejahteraan yang menjadi harapan banyak orang akan sulit terwujud jika kondisi yang melingkupinya tidak kondusif. Dengan pengetengahan puisi ini penyair berharap agar masyarakat pembaca tergugah dan tergerak hati nuraninya untuk bersama-sama membantu penyelesaian masalah yang dialami masyarakat Palestina.

Meskipun demikian, apa yang diungkapkan penyair dalam puisi ini tidak serta merta dapat dipahami oleh pembaca. Dengan demikian, agar metaphora-metaphora yang diungkapkan penyair tersebut semakin bermakna dan dapat dimengerti oleh pembaca, maka penyelidikan dengan menggunakan teori semiotik menjadi penting, sehingga pada gilirannya akan didapatkan atau ditemukan maksud dan tujuan penggubahan puisi ini.

Landasan Teori

Beragam teori sastra telah dilahirkan oleh beragam pakar yang berkecimpung dalam bidang ini. Ada teori sastra yang memfokuskan kajiannya terhadap penulis yang menghasilkan sastra tersebut dan ada pula yang menikberatkan pada karya sastra yang dihasilkannya serta tidak ketinggalan perhatian kepada lingkungan atau situasi yang menjadi tempat lahirnya karya sastra tersebut. Berangkat dari relaitas inilah kemudian Abrams muncul dengan memaparkan beberapa pendekatan kritis untuk menanggapi hal ini, dimana menurutnya terdapat empat pendekatan dalam karya sastra, yaitu: ekspresif atau ekspresi pengarang, pragmatik atau mencapai efek-efek tertentu, objektif atau kebebasan dari lingkungan dan mimetik atau tiruan atau cerminan (Pradopo, 1997: 26-27; Pradopo, 1995: 140, Teeuw, 1984: 50).

Dari beberapa pendekatan kritis ini kemudian lahir sekian ragam teori sastra yang dikemukakan oleh para ahli. Dan di antara beragam teori tersebut, terdapat sebuah teori yang dibangun berdasarkan suatu asumsi bahwa sebuah karya sastra itu sendiri dari tanda-tanda atau simbol yang dapat diinterpretasikan atau ditafsirkan. Teori yang dimaksudkan adalah apa yang kemudian dikenal sebagai teori semiotik.

Semiotik adalah suatu metode analisis untuk mengkaji suatu tanda (Nurgiantoro, 2000: 40). Di samping itu, teori ini seringkali juga disebut sebagai suatu ilmu yang mempelajari objek-objek, peristiwa-peristiwa dan seluruh gejala kebudayaan yang ada sebagai tanda (Eco, 1978: 6-7). Atau, sebagian lain menyebutnya sebagai suatu disiplin yang menyelidiki suatu bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs (tanda-tanda) dan berdasarkan pada sign system (code) atau sistem tanda (Segers, 2000: 4). Suatu tanda mempunyai dua aspek, yaitu: penanda (signifer) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu yaitu artinya (Pradopo, 2001: 71).

Untuk keperluan penelitian ini, peneliti akan menggunakan teori semiotik seperti yang dikemukakan oleh Michael Riffatere dalam buku Semiotics of Poetry, dimana bersama dengan Roland Barthes, Riffatere mengkaji semiotik melalui pendekatatan model post-strukturalisme. Mereka mendasarkan pendapatnya pada suatu asumsi bahwa jika makna hanya ditelaah hanya melalui strukturnya yang dilambangkan dalam kata, maka tidak akan selamanya mampu menampung hakekat makna. Hal ini terjadi karena dalam konteks bahasa sastra yang kompleks, tidak jarang esensi makna justru terdapat di luar makna tersebut, atau makna tidak selalu hadir sesuai dengan penanda strukturnya (Fannanie, 2001: 144-145).

Sebagai implementasi dari pemikiran dan pernyataan tersebut, kemudian Riffatere menulis sebuah buku berjudul Semiotics of Poetry yang memaparkan empat hal penting yang harus dipenuhi dalam pengungkapan sebuah karya sastra. Keempat hal penting tersebut adalah sebagai berikut (Eco, 1978: 6-10; Pradopo, 2001: 75-85; Pradopo, 1990: 30-246; Endraswara, 2006: 63-67) :

  1. Puisi adalah ekspresi tidak langsung. Hal ini berarti bahwa ekspresi tersebut memiliki arti lain ketika diungkapkan. Adapun sebab-sebabnya adalah : a) penggantian arti; b) penyimpangan arti; c) penciptaan arti.
  2. Pembacaan heruistik dan hermeneutik. Pada tahap pertama puisi dibaca dengan pembacaan heruistik, yaitu pembacaan yang bertumpu pada tata bahasa, baik dari aspek gramatikal, bunyi ataupun artinya. Metode ini dinamakan Semiotik Tingkat Pertama atau first order semiotics. Akan tetapi, penerapan langkah pertama ini ternyata tidak sampai pada arti yang sebenranya yang dikehendaki oleh penyair. Untuk itu, dibutuhkan metode yang kedua, yaitu pembacaan hermeneutik untuk mendapatkan arti yang sebenarnya sebagaimana yang dikehendaki oleh penyair. Metode ini dinamakan dengan Semiotik Tingkat Kedua atau second order semiotics.
  3. Untuk memperjelas (dan mendapatkan) makna puisi (karya sastra) secara lebih mendalam, maka selanjutnya dicari tema dan masalah yang terkandung dalam puisi tersebut. Adapun caranya adalah dengan mencari matriks, model, dan varian-varian-nya terlebih dahulu. Suatu ‘matriks’ harus diabstraksikan dari sebuah karya sastra yang dibahas dan tidak dieksplisitkan di dalamnya. Bukan berupa kiasan, tetapi merupakan kata kunci (keyword) yang dapat berupa satu kata, kalimat dan lain sebagainya. Suatu ‘matriks’ belum merupakan tema, tetapi mengarah kepada tema yang dicari. Matriks juga merupakan hipogram intern yang ditransformasikan ke dalam model yang berupa kiasan yang selanjutnya menjadi ‘varian-varian’. Varian ini merupakan transformasi model pada setiap satuan tanda: baris atau bait, bahkan juga bagian-bagian fiksi, seperti: alinea dan bab yang merupakan wacana yang selanjutnya menjadi ‘masalahnya’. Dari ‘matriks’, ‘model’ dan ‘varian-varian’ ini baru dapat ‘disimpulkan’ atau ‘diabstarksikan’ tema sebuah karya sastra.
  4. Seringkali terjadi sebuah karya sastra merupakan transformasi dari teks (lain) sebelumnya yang menjadi ‘hipogram’-nya, yaitu teks yang menjadi latar belakang terciptanya karya sastra tersebut. Hipogram di sini tidak hanya terbatas pada teks yang berupa tulisan, bahasa dan cerita lisan saja, akan tetapi –sebagaimana menurut Teeuw dan Julia Cristiva bahwa dunia dan alam ini pada hakekatnya adalah teks (Teeuw, 1983: 65)- dapat juga berupa adat istiadat, masyarakat dan aturan-aturan.

Analisis Terhadap al-Quds al-‘Atīqah

Untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman yang mendalam terhadap puisi al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz, maka berikut ini akan dilakukan langkah-langkah analisis menggunakan teori semiotik Riffatere.

1. Teks Puisi

Al-Quds Yang Agung

Aku menyusuri jalanan

Jalan-jalan al-Quds yang agung

Di depan pertokoan yang tersisa di Palestina

Kami menceritakan sebuah berita

Mereka memberiku vas bunga

Mereka berkata kepadaku: sebuah hadiah

Dari para penjaga manusia

Aku berjalan di jalanan

Jalan-jalan al-Quds yang agung

Berhenti di depan pintu penjagaan

Ia dan kami menjadi sahabat

Dan kedua mata mereka berlinang kesedihan

Karena penderitaan kota

Ia membawa dan menunjukkanku kepedihan derita

Berada di atas bumi dengan beragam problem sosial

Masalah kependudukan di bawah matahari dan di antara angin

Ia ada di rumah-rumah dan remaja

Ada pada anak-anak yang di tangannya buku

Malam-malamnya penuh kesedihan

Dan kedua tangannya kehitaman terlepas dari gerbang

Hingga membuat rumah-rumah tak berpenghuni

Di antara mereka seperti duri dan api

Kedua tangannya kehitaman

Jalan-jalan penuh dengan suara hiruk pikuk

Jalan-jalan al-Quds yang agung

Tanpa nyayian yang terbang bersama topan dan kesia-siaan

Hai suaraku! Naunganmu terbang bersama rintihan suara hati

Kabarkan kepada mereka kelemahanku dengan segala kerelaan hati

2. Pembacaan Heruistik

Langkah pertama yang dilakukan dalam penelaahan puisi ala Riffatere adalah pembacaan ‘heruistik’, yaitu pembacaan bait-bait puisi berdasarkan struktur kebahasaannya. Selanjjutnya, agar semakin memperjelas arti yang terkandung di dalamnya maka jika dianggap perlu dapat diberi sisipan kata atau sinonimnya yang diletakkan dalam tanda kurung. Demikian juga dengan struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku (berdasarkan tata bahasa normatif), dan jika diperlukan susunannya dibalik untuk dapat semakin memperjelas arti.

Berikut ini adalah pembacaan heruistik terhadap puisi al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz ini.

Bait pertama

Aku (berjalan) menyusuri jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan al-Quds (Yerussalem) yang agung. (Ketika sampai) di depan pertokoan yang (masih) tersisa dari Palestina, (maka kemudian) kami menceritakan (menyampaikan) sebuah berita (kepada penduduknya), mereka (pun membalasnya dengan) memberiku vas bunga, (sambil) mereka berkata kepadaku: (ini) sebuah hadiah, dari para penjaga manusia (yang tersisa dari negeri ini).

Bait Kedua

Aku (terus) berjalan di jalan-jalan. (Yaitu) Jalan-jalan al-Quds (Yerussalem) yang agung. (Kemudian aku) berhenti di depan gerbang (kota), ia (masyarakat) dan kami (rombongan) menjadi sahabat (yang saling mengenal), dan (kemudian dari) kedua mata mereka berlinang kesedihan, karena penderitaan (yang dialami oleh) kota (ini).

Bait Ketiga

(Kemudian) ia membawa (menuntun) dan menunjukkanku (memperlihatkan kepadaku) kepedihan derita (penderitaan yang dialami oleh kota ini, (sebuah negeri yang) berada di atas bumi dengan beragam problem sosial, (begitu juga dengan) persoalan kependudukan di bawah matahari dan di antara angin (beragam problem yang tak kunjung usai), (dan karena banyaknya problem tersebut maka) ia ada (dapat dijumpai) di (dalam) rumah-rumah dan remaja, (masalah tersebut juga) ada di anak-anak (bersekolah) yang di tangannya buku, (akibatnya) malam-malamnya penuh (dengan) kesedihan, (sehingga membuat) kedua tangannya kehitaman terlepas dari gerbang (yang menjadi pegangan). (akibat selanjutnya) hingga membuat rumah-rumah tak berpenghuni (karena ditinggal penghuninya), (dan kadang-kadang) di antara mereka (penduduk negeri ini) seperti duri dan api (yang sewaktu-waktu dapat saling menyakiti), (karena) kedua tangannya kehitaman.

Bait Keempat

Jalan-jalan penuh suara hiruk pikuk (penduduk kota), (yaitu) jalan-jalan al-Quds (Yerussalem) yang agung, (suara-suara tersebut) tanpa nyanyian (karena) terbang bersama (angin) topan dan kesia-siaan (tan berarti apa-apa). (maka kemudian aku berteriak) Hai suaraku! Naunganmu terbang (lenyap) bersama rintihan suara hati, (karena itu) kabarkanlah kepada mereka (orang-orang di seluruh dunai) kelemahanku dengan segala kerelaan hati.

3. Pembacaan Hermeneutik

Langkah selanjutnya dalam penelaahan puisi menurut Riffatere adalah pembacaan ‘hermeneutik’ (retroaktif) atau penafsiran puisi yang dilakukan dengan cara ‘hermeneutik’ berdasarkan konvensi sastra, yaitu sistem semiotik tingkat kedua. Konvensi sastra dimaksud menurut Riffatere (Pradopo, 2001: 102) di antaranya adalah konvensi ketidak langsungan arti, penyimpangan arti dan penciptaan arti. Penggantian arti berujud pada penggunaan metaphora dan metonimi atau bahasa kiasan, dan penyimpangan ari disebabkan oleh ambiguitas (arti ganda), kontradiksi (pertentangan arti) dan ‘nonsense’ (tidak memiliki arti secara linguistik), sedangkan penciptaan arti disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual, misalnya persajakan dan tipografi.

Dalam penelaahan menggunakan pembacaan ‘retroaktif’ terhadap puisi ini, maka terutama akan dilakukan terhadap bahasa kiasan atau secara khusus lagi terhadap metaphora atau ambiguitas yang terdapat di dalamnya. Adapun lebih jelasnya, sebagaimana berikut ini:

“al-Quds yang agung”, berarti Yerussalem atau Palestina yang sebenarnya mulia akan tetapi penuh dengan penderitaan akibat konflik yang berkepanjangan. Adapun secara keseluruhannya tafsiran terhadap puisi ini adalah sebagai berikut ini :

  1. Penderitaan berkepanjangan yang menimpa Palestina perlu mendapat perhatian yang lebih serius dengan cara melihat kondisinya secara langsung. Hal ini karena masyarakatnya sangat mendambakan perhatian, kepedulian dan bantuan dari masyarakat dunia lainnya.
  2. Dengan menyaksikan kondisi secara langsung, maka akan dapat diketahui pula apa sesungguhnya yang dialami oleh masyarakat Palestina. Dengan demikian, bantuan yang akan diberikan menjadi tepat pada sasaran yang dibutuhkan oleh masyarakat negeri ini.
  3. Persoalan yang membelit Palestina meliputi seluruh aspek kehidupan yang dilalui  masyarakatnya. Mulai dari persoalan sosial, pendidikan, kependudukan, ekonomi, keamanan dan lain sebagainya yang dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat dari anak-anak, remaja hingga orang tua.
  4. Persoalan yang menimpa Palestina telah berlangsung sangat lama, akan tetapi makin berkembang pesat sejak pendirian negara Zionis Israel di tanah Palestina. Meskipun demikian, persoalan yang membelit Palestina tersebut bukan hanya berkaitan dengan Israel saja, tetapi juga di antara sesama warga Palestina sendiri. Persoalan ini muncul karena perbedaan pandangan antara kelompok sekuler yang diwakili oleh Fatah dengan PLO-nya yang cukup akomodatif terhadap Israel dan kelompok Islam dengan Hamasnya yang sangat anti Israel. Kedua kelompok ini saling mengklaim mendapat dukungan masyarakat Palestina sehingga sering timbul pertentangan dan peperangan yang tidak jarang memakan korban jiwa dan harta benda.
  5. Karena konflik yang berkepanjangan, baik dengan Israel maupun sesama mereka, banyak warga Palestina yang memilih meninggalkan tanah airnya dan pindah ke negara-negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon.
  6. Kondisi masyarakat Palestina yang penuh dengan penderitaan ini harus terus disuarakan, disampaikan dan diberitakan ke seluruh dunia agar masyarakat seluruh jagad tahu apa yang dialami oleh negeri di Timur Tengah ini.

4. Tema dan Masalah al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz

Jika merujuk pada apa yang diungkapkan oleh Riffatere (Pradopo, 2001: 102; Endraswara, 2006: 65), maka untuk dapat mengetahui isi kandungan puisi ini diperlukan upaya pencarian tema dan masalah yang terdapat di dalamnya. Meskipun demikian, tema dan masalah yang terdapat dalam sebuah puisi tidak serta merta dapat ditemukan dan didapatkan, tetapi hendaknya dicari terlebih dahulu matriks, model, dan varian-varian-nya.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ‘matriks’ yang menjadi kata kunci dari puisi ini adalah ‘jalan-jalan Palestina’. Hal ini karena ‘jalan-jalan Palestina’ menjadi sesuatu yang sentral dan menjadi titik tolak dari penelusuran penyair dalam mengungkapkan gambaran Palestiana sebagaimana yang diamatinya. Selanjutnya, dalam pengamatan peneliti, seakan-akan penyair sengaja ingin mengarahkan pembaca bahwa jika ingin mengetahui bagaimanakah Palestina, maka telusurilah ‘jalan-jalan al-Quds’ niscaya akan dijumpai apa yang ingin kita ketahui.

Adapun ‘model’ sekaligus juga ‘varian-varian’-nya adalah bahwa pada bait pertama penyair mengetengahkan gambaran Palestina melalui jalan-jalan secara umum, dimana terdapat gambaran bangunan yang masih tersisa akibat pertikaian serta sambutan yang hangat dari penduduknya dengan ungkapan terima kasih mereka. Beranjak pada bait kedua, penyair mulai sedikit lebih terperinci menggambarkan bagaimana potret Palestina tersebut di dalam puisinya, seperti sambutan yang kembali sangat meriah sambil menceritakan kesedihan-kesedihan yang mereka alami. Pada bait ketiga, dengan secara jelas dan sangat mendetail penyair mengetengahkan apa sebenarnya yang dihadapi Palestina dengan segudang persoalannya. Pada bait ketiga ini, penyair mengetengahkan persoalan-persoalan Palestina; sosial, keamanan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya. Terakhir, pada bait keempat penyair mengungkapkan terjadinya puncak akumulasi persoalan-persoalan yang dihadapi Palestina tersebut, seperti terjadinya kekisruhan di jalan-jalan dalam demonstrasi serta penyesalan penyair kenapa ia tidak mampu untuk membantu, sekaligus juga kritikannya kepada pihak-pihak yang tidak menggubris realitas ini dengan sungguh-sungguh.

Dengan diketahuinya ketiga hal yang penting di atas, maka selanjutnya dapat dinyatakan tema dan masalah yang terdapat dalam puisi al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz ini. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka tema puisi ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “konflik yang berkepanjangan membentuk akumulasi beragam persoalan yang menimpa Palestina sehingga menyebabkan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan dan keterbelakangan dalam segala hal dan setiap saat mereka senantiasa mengharapkan bantuan dalam bentuk apa pun dari orang-orang yang bersimpati di seluruh dunia”.

5. Hipogram Puisi al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz

Penentuan hipogram atau latar belakang terciptanya sebuah puisi jika merujuk pada pengertian sempit, yaitu berupa karya sastra yang sama, maka akan sangat sulit dilakukan. Meskipun demikian, jika kembali kepada pendapat yang dikemukakan oleh Teeuw dan Cristiva (Teeuw, 1983: 65; Pradopo, 2001: 82), bahwa pada hakekatnya alam ini adalah hipogram, maka dapat disimpulkan bahwa latar belakang penciptaan puisi ini adalah Palestina dengan segala persoalan yang dihadapinya.

Hal ini karena berdasarkan beberapa alasan yang peneliti temukan, yaitu pertama bahwa kata ‘al-Quds’ yang melekat pada judul puisi ini dan disebutkan sebanyak tiga kali dalam bait-baitnya adalah merujuk pada kota al-Quds atau yang biasa juga dikenal dengan Yerussalem yang terdapat di Palestina. Kedua, terdapat kata ‘Palestina’ di baris ketiga pada bait pertama yang sangat jelas merujuk pada negeri Palestina yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Lebanon, tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis puisi ini. Ketiga, telah menjadi kebiasaan dan tuntutan tugas Fairūz sebagai selebritas, pelaku budaya dan sastrawati Lebanon untuk melakukan lawatan ke berbagai negara dalam beragam event kebudayaan dan di tempat yang dikunjunginya tersebut ia biasa menulis puisi menceritakan apa yang ditemuinya. Palestina adalah negara tetangganya yang telah berulangkali dikunjunginya, apalagi ia juga pernah menerima penghargaan dari pemerintah negeri ini. Dengan demikian, dapat dipahami jika puisi ini merupakan bentuk apresiasinya yang mendalam terhadap kondisi yang dialami masyarakat Palestina.

Kesimpulan

Berdasarkan penelaahan yang dilakukan peneliti terhadap al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz dengan menggunakan teori semiotik Riffatere sebagaimana di atas, maka didapatkan beberapa kesimpulan berikut ini, yaitu:

  1. Simbol atau kata berarti tidak langsung yang terdapat dalam puisi al-Quds al-‘Atīqah karya Fairūz merupakan cara penyair untuk mengetengahkan pandangannya mengenai Palestina. Meskipun demikian, simbol-simbol tersebut hanya dapat dipahami dengan menggunakan tahapan-tahapan penelaahan puisi menurut cara Riffatere.
  2. Palestina adalah sebuah wilayah strategis di Timur Tengah yang dapat menghubungkan beberapa kawasan dengan kawasan lainnya serta memiliki nilai historis yang tinggi. Meskipun demikian, wilayah ini terus mengalami pergolakan yang berkepanjangan antara beberapa kekuatan yang hendak menguasainya, baik dari luar maupun dari dalam Palestina. Akibatnya, kehidupan masyarakatnya menjadi terabaikan, jauh dari kedamaian, kesejahteraan serta beragam persoalan lain. Setiap saat rakyat Palestina menanti uluran tangan dan bantuan dari pihak manapun yang bersimpati dengan penderitaan yang mereka alami.

_______________

Catatan :

Di antara penghargaan yang pernah diterima Fairūz sebagai sastrawati Lebanon adalah Medali Kehormatan dari Pemerintah Lebanon tahun 1957, 1962-1963 dan dari Pemerintah Syiria tahun 1967. Di samping itu, beberapa penghargaan lain juga pernah mampir di tangannya, seperti dari Yordania (1975 dan 1998), Prancis (1988 dan 1997), Palestina (1997), dan Tunisia (1997). Lebih lanjut, dapat ditemukan dalam: www.arabicpoem.com/fairuz.

PLO adalah Palestinian Liberation Organization atau organisasi perlawanan Palestina yang menjadi wadah politik bagi kelompok Fatah dalam memperjuangkan cita-cita Palestina menurut pandangan mereka. Sedangkan Hamas adalah Harakah Muqāwamah al-Islāmiyyah yang berarti gerakan perlawanan Islam yang menjadi wadah politik bagi kelompok Islam di Palestina dalam memperjuangkan cita-cita mereka. Di antara implementasi dari gerakan ini adalah munculnya perlawanan terhadap pendudukan Palestina oleh Israel dengan menggunakan batu yang sangat terkenal dengan nama ‘Intifadhah’.

DAFTAR PUSTAKA

Eco, Umberto. 1978. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press

Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: PT. Pustaka Widyastama.

Fannanie, Zainuddin. 2001. Telaah Sastra. Cetakan Kedua. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Nurgiantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

————-. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

————————————–. 2001. Penelitian Sastra Dengan Pendekatan Semiotik. Dalam “Metodologi Penelitian Sastra”. Drs. Jabrohim (ed.). Yogyakarta: PT. Hanindita.

————————————-. 1997. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

————————————. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Segers. Rien T. 2000. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

http://www.arabicpoem.com/fairuz.

Cerpen ‘ANAK PLUS CUCU’

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Dari kejauhan tampak seorang anak perempuan seumuran sembilan tahun berlari menuju sebuah gubuk reot di pinggiran hutan. Rambutnya yang tergerai sebahu meliuk-liuk tertiup angin yang menerpanya, sementara tas sekolah mungilnya melayang-layang ke sana kemari mengikuti arah larinya anak ini. Rok merah selutut dan baju tampak tak lagi beraturan. Ia terus saja berlari sambil sesekali sesenggukan. Aku harus secepatnya sampai di rumah, begitu kira-kira pikirnya. Tepat di depan rumah gubuknya, seorang ibu muda tampak berdiri menanti sang putri yang dari kejauhan sudah dapat diketahuinya karena tak ada orang lain yang menampati wilayah ini selain mereka berdua, apalagi mempunyai anak perempuan.

“Ada apa Ti? Jangan lari-lari, ntar jatuh lhopake nangis lagi, abis berantem ya”. Ujar ibu ini setelah anaknya berada di depannya dengan air mata yang berlinangan  dan napas yang terengah-engah.

Mendengar teguran sang ibu, Siti tidak langsung menjawab perkataan ibunya, melainkan hanya melihat selintas dan kemudian berjalan gontai ke dalam rumah. Dengan naluri keibuannya, Bu Wati mengikuti kemana langkah anak semata wayangnya itu. Dengan ayunan kaki yang terlihat tak menampakkan senang, Siti masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan badannya di atas kasur yang telah berumur. Yah, di kamar yang seukuran tiga kali empat inilah ia bersama ibunya beristirahat di kala malam menjelang, sebuah kamar yang hanya memiliki sebuah tempat tidur yang sudah reot, kasur yang telah mengeras, bantal dan guling yang sudah kumal berhiaskan peta seribu pulau.

“Bu, kenapa kita hanya tinggal berdua, padahal teman-teman Siti tinggal dengan juga dengan ayahnya?”. Siti memberondong pertanyaan kepada ibunya setelah ia kembali duduk di pinggiran tempat tidur, di samping ibunya.

“Emang kenapa Nak?”. Kata Bu Wati sedikit gelagapan mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir mungil anaknya.

Gak biasanya Siti bertanya tentang perbedaannya dengan teman-temannya, pikir bu Wati. Biasanya sehabis sekolah ia terus saja larut dengan aktivitas kebunnya di belakang rumah. Yah, kebun mungil yang hampir mepet dengan rumah ini memang menjadi saksi apa yang dilakukan Siti setelah bersekolah dan sebentar membantu ibunya di dapur. Beraneka ragam bunga ia taman di kebun yang memang dibuat oleh tangannya sendiri. Ada mawar, ada melati, ada kembang sepatu dan yang sekarang mulai giat dilakukannya adalah menanam buah-buahan seperti rambutan, biar gak usah beli lagi kalo pengen makan rambutan, begitu katanya suatu ketika di saat ibunya bertanya.

“Habisnya setiap ditanya bu guru Siti tinggal sama siapa pasti kedengaran aneh karena Siti kan hanya tinggal berdua sama ibu, padahal teman-teman Siti kadang bertiga dan berempat sama ayahnya?. Jawab Siti mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya telah lama ingin ia utarakan kepada ibunya.

“Lho, kita kan memang dari dulu ya tinggal berdua”.

Bu Siti berusaha menjawab selogis mungkin untuk ukuran anak seusia Siti, walaupun ia sendiri tak yakin apakah jawaban tersebut mampu mengobati rasa dahaga anaknya akan keterangan yang ia butuhkan.

“Ya bu… tapi kenapa? Kenapa ayah gak ada, biar kita bisa tinggal bertiga kayak teman-teman Siti yang lain?”.

Dari nada suaranya terdengar kalau Siti mulai tak sabaran untuk secepatnya mengetahui kenapa selama ini ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Padahal teman-temannya tinggal bersama ayahnya, ibunya dan kakak-kakak serta adik-adiknya sehingga di antara mereka dapat bercanda, bermain bersama dan saling membantu satu sama lainnya. Sementara ia hanya tingga berdua saja dengan ibunya, kadang-kadang juga ibu tidak dapat sepenuhnya dapat diajak bermain seperti yang ia harapkan karena sibuk di dapurlah dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain, padahal Siti pengen ada yang senantiasa menemaninya bermain, bercanda dan lain sebagainya. Pokoknya asyiklah kalau di rumah banyak orang seperti yang dialami oleh teman-temannya.

“Ooo..gitu… teman-temanmu itu kebetulan anggota keluarganya lengkap, ada ayah, ibu, kakak dan adik-adiknya seperti katamu barusan, sementara kita kan gak”.

Ada nada getir dari suara ibunya menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak semata wayangnya yang selama ini menjadi satu-satunya teman hidupnya mengisi hari demi hari. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya siapa Siti sebenarnya dan kenapa sekian lama mereka berdua tinggal di tempat yang jauh dari perkampungan. Alangkah malang nasibmu nak, harus menanggung beban seperti ini, pikir Bu Wati. Begitulah kemudian pikiran yang berkecamuk dalam benak ibu muda satu anak ini.

“Berarti ayah Siti ada ya bu… seperti juga teman-teman Siti yang lainnya, tapi ayah di mana bu?”. Kata Siti tampak kegirangan mendengar penjelasan ibunya.

Tuh kan, pikir Bu Wati mendengar perkataan sekaligus juga pertanyaan anaknya barusan.

Pertanyaan demi pertanyaan seputar hal ini akan terus meluncur dari bibir Siti karena hal inilah yang selama ini menggelayut dalam pikirannya terutama setelah ia mulai dapat melihat perbedaan-perbedaannya dengan teman-teman sekolahnya. Pikiran-pikiran yang terus mengganggu Siti ini harus secepatnya diselesaikan jika tidak ingin justru membuatnya menjadi malas, murung dan menderita yang tentunya berakibat pada menurunnya kesehatan yang pada akhirnya membuatnya jatuh sakit. Kalau hal ini terjadi, tentu makin membuat aku tambah bingung, pikir Bu Wati.

“Benar, ayah Siti ada kok, tapi sudah meninggal ketika Siti masih dalam kandungan ibu”.

Mungkin inilah jalan satu-satunya untuk sementara dapat mengakhiri pembicaraan ini, pikir Bu Wati sambil membelai lembut rambut anaknya. Mungkin belum saatnya ibu ceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan kita nak, suatu saat kamu juga akan mengetahuinya, semoga kamu siap menerimanya.

“Udah, sekarang Siti bobok siang dulu, nanti sore bantu ibu beres-beres rumah lagi ya sayang”. Kata Bu Wati menyuruh anaknya tidur siang sebagaimana yang dilakukan Siti sehabis sekolah.

Tidur siang menjadi sebuah rutinitas yang diterapkannya kepada anaknya dengan harapan dapat menghilangkan segala kepenatan dan persoalan yang dialami oleh anaknya dari pagi hingga siangnya dan di saat sore kebugarannya kembali muncul sehingga bersemangat dalam memulai aktivitas lain setelahnya.

Akhirnya pembicaraan siang itu berakhir dan Bu Wati pun berangsur beranjak pergi meninggalkan anaknya yang sepertinya perlahan mulai memejamkan matanya di atas tempat tidur reot yang menjadi satu-satunya yang mereka miliki di rumah ini. Bu Wati pun kembali melanjutkan aktivitas rumah tangganya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Siti dan seabrek pertanyaan yang dikemukakannya. Namun demikian, sepertinya pertanyaan-pertanyaan yang tadi dilontarkan anaknya cukup mengganggu pikirannya sehingga konsentrasinya menjadi pecah. Dari pada hasilnya tidak optimal, maka Bu Wati pun memutuskan untuk kembali menunda pekerjaannya di dapur untuk menyiapkan makanan nanti malam untuk disantap bersama anak semata wayangnya tersebut.

Sepertinya Bu Wati memang butuh tempat untuk kembali memikirkan apa yang barusan ditanyain anaknya. Nampaknya rahasia yang selama ini selalu ia simpan mengenai mereka berdua lambat laun akan terkuak juga, begitu pikirnya. Atau mungkin karena sekarang anakku memang sudah mulai beranjak besar sehingga pikiran-pikiran mengenai sekitarnya telah mulai tumbuh, lanjutnya sambil duduk di balai-balai bambu yang terdapat di emperan rumahnya yang tak jauh dari dapur. Usia seperti Siti saat ini adalah gerbang menuju pengenalan terhadap alam sekitar sekaligus mempertanyakannya, apalagi hal tersebut terlihat berlainan di mata mereka dibandingkan yang lainnya. Balai-balai bambu kemudian menjadi teman setia di kala selesai mengerjakan pekerjaan rumah sambil menunggu Siti pulang sekolah seperti yang tadi siang dilakukannya yang berakhir dengan banyak pembicaan dengan anak semata wayangnya tersebut. Tempat kerap pula menjadi tempatnya memikirkan kehidupannya yang kini dijalaninya, berdua dengan buah hati semata wayangnya yang sangat disayanginya yang kini berangsur mulai besar dan menjadi gadis kecil yang menggemaskan.

Angin yang berhembus lembut di sekitar tempat tinggal Bu Wati ditambah suasana yang sepi semakin membuat tempat ini menjadi ideal untuk merenung. Dalam kesyahduan suasana yang dirasakannya, memori masa lalu kembali hadir di benak Bu Wati. Ya, memori yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya sampai kapan pun dan dalam keadaan apapun juga. Memori yang kehadirannya turut berandil besar mengantarkannya dan anaknya ke tempat yang jauh dari keramaian desa, keriuhan senda gurau anak-anak dan celotehan para ibu serta obrolan para bapak, tempat terpencil yang hanya dilalui oleh orang-orang yang hendak pergi bekerja.

Kala itu, tepatnya tujuh tahun yang lalu, saat itu ia masih tinggal dengan kedua orang tuanya di desa yang sangat jauh dari tempat ia tinggal sekarang. Keluarganya kala itu dapat dikatakan adalah keluarga kecil karena hanya terdiri dari ayah, ibu dan ia sendiri, tetapi ia merasa sangat bahagia dengan kehidupan yang dilakoninya tersebut. Sebagai anak tunggal alias semata wayang, maka tentu ia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya karena ialah kelak yang akan meneruskan silsilah keluarga hingga beranak pinak. Namun demikian, jika dibandingkan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia merasa bahwa kasih sayang dan perhatian yang diberikan dan ia dapatkan dari ayahnya lebih dibandingkan ibunya. Ia merasa saat itu ayahnya sangat menyayangi dan perhatian kepadanya, berbeda dengan ibunya yang seakan seadanya tidak terlalu melebih-lebihkan. Kemana saja ayah pergi ia selalu diajak serta, sehingga sepertinya tiada hari-hari yang ia lalui tanpa ada ayah disampingnya begitu juga sebaliknya. Begitulah yang ia rasakan saat itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan hingga tanpa terasa ia ternyata sudah beranjak menuju dewasa. Yah, umur lima belas tahun merupakan usia yang dikatakan banyak orang menjadi gerbang kedewasaan bagi seorang gadis sepertiku. Karena merupakan anak perempuan dusun, maka sampai usianya menginjak lima belas tahun pun ia belum pernah mengecap pendidikan layaknya yang dialami oleh anaknya sekarang. Saat itu sekolah yang tersedia berjarak belasan kilo meter dari tempat tinggalnya, karena alasan sangat jauh dan tidak tega meninggalkannya tinggal bersama orang lain yang ada di dekat sekolah tersebut, maka jadilah orang tuanya tidak memasukkannya ke bangku sekolah. Jadilah hari-harinya diisi dengan membantu pekerjaan ibunya di dapur, dan sesekali menemani ayahnya pergi ke ladang yang cukup jauh dari tempat tinggalnya saat itu. Pekerjaan yang biasanya dilakoni oleh anak laki-laki di desanya ini dilakukannya awalnya karena permintaan ayahnya agar ada yang bias diajak berbicara, begitu kata ayahnya saat itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang tak ada laki-laki lain di rumahnya selain ayahnya, sementara ibunya yang biasa menemani ayahnya ke ladang akhir-akhirnya lebih banyak tinggal di rumah mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Begitulah kehidupan dilakoninya setiap hari menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke ladang yang berjarak delapan jam perjalanan dengan jalan kaki karena memang belum tersedia jalan dan sarana transportasi. Perlengkapan yang wajib ia siapkan saat itu untuk pekerjaan ini biasanya seputar dapur juga sebagaimana yang dilakoni ibunya dulu, yaitu berkaitan dengan makanan dan minuman. Sementara perlengkapan lainnya disiapkan dan dibawa oleh ayahnya yang memang telah bertahun-tahun melakoni pekerjaan ini, bahkan sejak kecil dulu bersama orang tuanya, begitu kata ibu suatu ketika mengisahkan bagaimana ayah dulu. Pekerjaan menemani ayah ke ladang terus dilakoninya berkali-kali, bahkan mungkin berpuluh-puluh kali sehingga ia merasa bahwa inilah pekerjaan yang mesti dilakukannya sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga sekaligus juga sebagai bentuk pengabdiannya kepada orang tua yang selama ini telah membesarkannya dan menyanyanginya.

Pekerjaan ini terus dan terus dilakukannya sampai-sampai ia tak ingat lagi entah telah berapa lama dan berapa kali ia menemani ayahnya ke ladang dan membantu pekerjaan di sana. Banyak hal yang telah ia alami selama melakoni pekerjaan ini, rasa capek yang terus menghinggapi karena kaki terus terayun selama delapan jam perjalanan dan sesampainya di sana pun tidak lantas dapat beristirahat karena pekerjaan lain telah mengunggu dan lain sebagainya. Meskipun demikian, yang paling ia ingat dan kemudian menjadi awal dari nestapa yang ia alami saat ini adalah di kala ayahnya menyatakan kepada ibunya bahwa alangkah baiknya jika kami berdua tinggal beberapa waktu di ladang, dari pada setiap hari mesti bolak-bolik menempuh perjalanan yang melelahkan. Kasihan si Wati, ia terlihat sangat kelelahan setiap kali habis menempuh perjalanan yang jauh, begitu kata ayah mengatakan kondisiku sesampai di ladang kepada ibu. Akhirnya, mungkin salah satunya karena faktornya yang sebenarnya sampai saat ini terus ia sesali, ibunya pun mengizinkan mereka tinggal beberapa hari di gubuk yang memang tersedia di ladang, sementara ibunya tinggal di rumah saja.

Akhirnya, setelah mempersiapkan segala perbekalan yang akan digunakan selama di ladang, kata ayahnya mungkin berbulan-bulan, mereka berdua pun berangkat menuju ladang yang selama ini telah menjadi tempat utama baginya, bahkan dengan rumah sekali pun. Hal ini karena sejak kecil hingga seusia sekarang ini hari-harinya memang dihabiskan di ladang, sampai-sampai ia tak punya teman di kampong kecuali yang sangat dekat dengan rumahnya. Mungkin karena terbiasa bermain sendiri dan mengerjakan pekerjaan layaknya orang dewasa, maka ia merasa sudah sangat dewasa di usia yang pada orang-orang lain masih masa kanak-kanak.

Pada awalnya semua berjalan sebagaimana biasa, setiap pagi ia menyiapkan sarapan untuk ayahnya yang akan bekerja mengurusi padi di ladang kemudian kembali ia tenggelam dalam seabrek rutinitas rumah tangga seperti yang biasa dilakukan ibunya. Namun demikian, lama kelamaan ada yang dirasakannya aneh dengan sikap ayahnya terhadapnya. Ia merasa ayahnya sekarang lebih perhatian dibandingkan dulu dan ia merasa perhatiannya itu sama seperti yang ayahnya lakukan kepada ibunya. Hanya saja perubahan ini tepatnya mulai berlangsung kapan, ia tak ingat. Dan yang ia ingat adalah setelah cukup lama mereka tinggal di ladang tersebut sementara ibu tak kunjung ada kabarnya di rumah, alias membiarkan kami berdua tinggal di tempat yang menjadi satu-satu tumpuan harapan mereka sekeluarga untuk menyambung hidup.

Perhatian dan kasih sayang yang ditumpahkan ayahnya kepadanya terus ia jumpai dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia rasakan makin meningkat. Jika mau jujur, sebenarnya ia merasa agak risih dan tidak enak hati menerima semua yang dilakukan ayahnya ini. Akan tetapi, apa yang ia rasakan ini tidak berani diungkapkan dan diutarakan kepada ayahnya. Ada rasa segan untuk mengutarakannya kepada ayahnya, karena ia kuatir kalau kemudian ayahnya merasa tersinggung dan bahkan marah kepadanya. Untuk itu, kemudian ia berusaha untuk menyimpan saja perasaan itu, walaupun ia akui bahwa perasaan tersebut senantiasa menghantuinya setiap hari.

Malam itu hujan turun sangat lebat sehingga membuat atap gubuk yang kami tempati yang terbuat dari ayaman daun rumbia menjadi bocor sehingga tetesan air hujan menjadi tak tertahan mengucur ke lantai. Di sana sini angin juga bertiup kencang hingga membuat beberapa pohon tak jauh dari gubuk yang mereka tempati bertumbangan. Kilatan petir yang menyambar juga turut mewarnai suasana malam itu sehingga membuat siapa pun yang ada di wilayah  itu bergidik ketakutan dan kedinginan tentunya. Hampir seluruh bagian dalam gubuk itu tergenang air sehingga yang tersisa sebagian kecilnya saja yang layak untuk ditempati. Akhirnya, ayahnya menyuruhnya untuk menempati tempat tidur yang sama dengannya. Tanpa banyak berpikir lagi, ia pun menuruti apa yang dikatakan ayahnya karena saat itu tetesan air hujan telah menggenangi sebagian besar ruangan dalam gubuk itu. Malam itu pun mereka tidur di atas tempat tidur yang sama, tetapi siapa sangka justru di malam inilah terjadi perbuatan yang semestinya tidak dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Yah, malam itu masih terus membekas dalam ingatan Wati bagaimana ayahnya melakukan perbuatan yang semestinya dilakukannya kepada istrinya, yaitu ibunya. Pada awalnya, ia menolak dan berusaha menyadarkan ayahnya akan perbuatan tersebut, tetapi apalah daya kekuatan seorang kelinci dibandingkan kekuatan srigala kelaparan yang menerkam mangsanya. Akhirnya, harta bendanya yang paling berharga yang kelak dipersembahkan kepada suami tercinta di malam pertama harus terenggut di malam yang gelap gulita di tangan seorang yang semestinya menjaga kehormatan darah dagingnya sendiri. Ia pun hanya bisa menangis menangis sesenggukan mendapati semua yang terjadi ini.

Seperti seorang anak kecil yang ketagihan akan permaian yang pernah dilakukannya, perbuatan ini terus berlanjut berkali-kali. Hanya saja, perbuatan ini berkali-kali dilakukan di matanya bukan sebagai ayahnya yang dulu sangat menyayanginya, tetapi lebih tepat dilakukan oleh seorang penjahat kambuhan karena senantiasa diwarnai nada ancaman. Setiap kali perbuatan ini terjadi, maka setiap kali pula ia hanya bisa pasrah tak dapat berbuat apa-apa dan menangisi semua yang terjadi. Entah telah berapa kali perbuatan ini dilakukan ayahnya ia tak ingat dan ingin berusaha menghitungnya karena tentu akan menambah beban dalam pikiran , yang ia ingat adalah perbuatan ini dilakukan ayahnya kadang-kadang malam dan tidak jarang di siang hari.

Hubungan yang semestinya dilakukan oleh sepasang suami istri yang sah ini terus saja berlangsung tanpa diketahui oleh ibunya. Akhirnya, apa yang ditakutkan olehnya terjadi juga. Yah, suatu saat ia mendapati ada keanehan yang terjadi dengan perutnya, karena dari hari ke hari semakin membesar layaknya orang yang mengandung seperti yang sering ia lihat di desanya. Keanehan ini diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa telah beberapa waktu lalu ia tak lagi mengalami siklus bulanan layaknya seorang perempuan, ditambah lagi makin meningkatnya nafsu makannya dari hari-hari biasanya. Keanehan-keanehan ini terus menghantui dan membebani pikirannya hingga ia memberanikan diri mengutarakannya kepada ayahnya.

Suatu hari ibunya datang ke ladang karena memang telah berbulan-bulan mereka berpisah, di samping juga karena perbekalan kami yang telah menipis. Namun demikian, suasana di ladang itu serta merta berubah menjadi arena kemarahan, jeritan dan umpatan yang dialamatkan kepada ayahnya sebagai aktor utama episode biadab ini. Pada awalnya ibunya sempat menyalahkannya kenapa tidak segera memberitahukan kepadanya apa yang terjadi. Akan tetapi setelah ia membeberkan apa yang terjadi sebenarnya, barulah ibunya memaklumi apa yang dialami putrinya di tempat yang sepi, sunyi dan dibawah tekanan dan ancaman orang yang semestinya mengawal darah dagingnya menuju masa depannya, bukannya malah menerkamnya di tengah jalan.

Kehidupan ini memang harus terus berlanjut apa pun yang menghalangi dalam perjalanan. Namun demikian, akibat beban pikiran akibat nestapa dan derita yang dialami putri semata wayangnya, ibunya meninggal dunia menjumpai sang pencipta dalam penyesalan yang ak pernah berujung akan perbuatan orang yang selama ini ia sayangi dan cintai. Yah, ibunya menghembuskan nafas terakhir beberapa minggu sebelum kelahiran putrinya yang juga sematanya sehingga beliau tak sempat menikmati hari-hari bersama cucu sekaligus juga anak tirinya?.

“Bu… bajuku yang coklat mana?.

Lamunan Bu Wati di balai-balai bambu terputus oleh suara yang datangnya dari arah dalam rumah. Dan ketika ia menoleh, ternyata itu adalah suara anaknya, Siti, yang ternyata telah bangun dari istirahat siangnya dan sekaligus telah mandi untuk melaksanakan aktivitas sore harinya sebagaimana yang tadi dikatakan ibunya. Sejenak Bu Wati tertegun, ternyata sudah hampir empat jam ia menghabiskan waktu di balai-balai bambu mengurai kembali kenangan masa lalunya yang kemudian  mengantarkannya dan anaknya ke tempat ini.

Akhirnya setelah memenuhi apa yang tadi diminta oleh anaknya, maka Bu Wati pun kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur yang tadi sempat tertunda. Hari demi hari pun berjalan sebagaimana yang biasa ia lakoni bersama anak semata wayangnya. Yah, Siti lah yang menjadi teman hidupnya selama ini, dalam suka dan duka, dalam senang dan susah selalu mereka lalui bersama. Meskipun demikian, celotehan-celotehan yang kerap muncul dari mulut mungil anaknya ini membuatnya dapat melupakan beban yang selama ini ia pikul. Yah, ia bertekad akan mengawal anaknya ini menjadi orang yang baik dan berguna bagi semua, meskipun ia bertindak sebagai single parent, apa pun yang dialamatkan orang untuk mengidentifikasinya.

Beberapa hari kemudian. Pada siang yang cerah di hari Minggu, tampak dua orang berjalan menuju sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tebal bercat putih. Di tangannya perempuan yang besar menenteng kantong plastik yang sepertinya berisi bekal untuk seseorang, sementara tangan yang satunya lagi terus memegang tangan anak perempuan yang menyertainya. Setelah sampai di bangunan tersebut dan meminta izin kepada penjaganya, ia pun masuk ke sebuah ruangan yang memang disediakan bagi para pembesuk orang-orang yang ada di balik jeruji besi dalam bangunan ini. Setelah menunggu beberapa menit, maka muncul seorang laki-laki setengah baya berpakaian seragam yang sama dikenakan para penghuni lainnya di banyak ruangan yang ada di gedung ini. Wajahnya mengguratkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam sehingga memunculkan banyak garisan memanjang di wajahnya.

“Ayah tetap sehat kan… Ini Wati bawa makanan untuk ayah makan di penjara”. Bu Wati mengatakan kepada laki-laki tersebut setelah mereka sama-sama duduk di kursi panjang yang ada di ruangan itu.

Telah cukup lama Bu Wati tak menjenguk ayahnya yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten setelah perbuatan biadabnya kepadanya. Seingatnya, terakhir kali ia menjenguk ayahnya kala umur kandungannya mendekati masa-masa bersalin setelah ibunya menutup usia di tengah ketidaksukaan keluarga dan tetangganya. Berarti sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan orang tuanya satu-satunya yang tersisa di dunia ini. Yah, setelah melahirkan putrinya, ia memutuskan untuk pindah dari desa kelahirannya mencari tempat lain yang jauh dari segala masa lalunya. Sebenarnya, secara umum keluarga dan tetangganya yang lain tidak mempermasalahkan statusnya dan anaknya di desa itu karena bagi mereka perbuatan tersebut di luar kemampuannya dan ayahnya sebagai aktor utamanya telah ditahan pihak berwajib. Akan tetapi, tetap saja ia mendengar gunjingan dan perkataan yang tidak mengenakkan dari beberapa orang tentang keluarganya. Untuk itu, ia bertekad untuk menjauh dari segala masa lalunya agar kelak apa yang dialaminya tidak membebani anaknya yang tidak mengerti apa-apa. Maka, ia pun memilih tempat terpencil di pinggiran sebuah desa yang terletak sangat jauh dari tempat tempat tinggalnya dulu.

“Alhamdulillah… ayah baik dan sehat, ini Siti ya?”. Tanya ayahnya setelah mengetahui kedatangan Bu Wati sambil membelai rambut anaknya yang ada di sebelahnya.

“Ya…yah, ini Siti… ayo salaman sama kakek”. Jawab Bu Siti memperkenalkan anaknya kepada ayahnya sambil meminta Siti untuk bersalaman dengan ayahnya.

Sejenak Siti tertegun mendengar apa yang barusan dikatakan ibunya. Seingatnya, di rumah tadi ibunya mengajaknya pergi menemui ayahnya yang selama ini ditanyakannya di suatu tempat. Tetapi, kok ini yang ditemuinya adalah kakeknya. Aneh, begitu beragam pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya sehingga membuatnya makin pusing. Meskipun demikian, ia menuruti permintaan ibunya walaupun tidak sepenuh hati dilakukannya.

Dalam perjalanan pulang setelah menemui orang yang dikatakan ibunya kakeknya, otak Siti terus bekerja mencerna peristiwa demi peristiwa yang tadi ditemuinya. Namun demikian, semakin ia berusaha berpikir maka semakin pula ia pusing. Bagaimana nanti kalau kembali ditanyakan guru dan teman-teman di sekolah.

Siti…Siti… usiamu memang belum dapat memahami segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Tetapi, percayalah suatu saat kau juga akan memahaminya dan menjadikannya pelajaran yang berharga bagi kehidupannya di masa-masa mendatang. Semoga kelak kau tidak menyalahkan siapa pun juga. Tidak ibumu, nenekmu dan juga kakek sekaligus juga ayahmu itu. Masa lalu tidak untuk disalahkan, tetapi sebagai pelajaran bagi masa depan. Begitu kira-kira harapan Bu Wati kelak kepada anaknya. Tuhan tidak pernah melihat status seseorang dan Ia Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana.

Yogyakarta, 09 Mei 2008

_________________

Penulis berasal dari sebuah desa di Tabir Kab. Merangin-Jambi. Menempuh pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat ini tinggal di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

CERPEN ‘TRAGEDI CINTA’

Oleh: Mushtafa Luthfi al-Manfaluthi

Baru-baru ini tinggal seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun di sebuah kamar bagian atas di sebelah rumahku, sepertinya ia seorang pelajar pada salah satu sekolah menengah di Mesir. Aku pernah melihatnya melalui jendela ruangan kantorku yang berdekatan dengan sebagian jendela kamarnya. Terlihat di sana seorang pemuda yang pucat, kurus, dan sayu sedang duduk menghadap lampu yang terang di salah satu sudut kamar sambil melihat ke buku, menulis diari, atau menghapal pelajaran, atau mengulang pelajarannya.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ia lakukan, sampai aku kembali ke rumah beberapa hari yang lalu setelah pertengahan malam yang dingin, dan masuk ke ruangan kantorku karena ada beberapa urusan, kemudian aku memperhatikannya yang ternyata ia duduk di depan lampu, dan mendekapkan wajahnya pada secarik kertas memakai kedua tangannya di atas meja, sepertinya ia sudah terlalu lelah dalam belajar dan karena terlalu banyak begadang hingga membuatnya kantuk yang membuatnya segera merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian ia terjatuh, aku tetap saja memperhatikannya sampai ia mengangkat kepalanya hingga terlihat kedua matanya basah oleh air mata karena menangis, deraian air matanya juga membasahi halaman kertas tempat ia menangis hingga membuat kalimat yang tertulis di atasnya menghilang dan berpencaran satu sama lain, kemudian dengan tanpa menghiraukan apa yang terjadi dengan dirinya, ia mengambil pena dan kembali larut dengan apa yang tadi dilakukannya.

Pemandangan ini membuatku terharu, di tengah gelap dan heningnya malam pemuda tak berpengharapan dan miskin ini hidup sendirian dalam kamar yang dingin, tak memiliki pakaian dan perapian untuk menghangatkan badan dari hawa dingin, ia mengadu atas kesedihan-kesedihan hidup, atau malapetaka-malapetakanya sebelum berubah menjadi beragam kesengsaraan dan nestapa, dimana ia tak mendapati pertolongan dan bantuan di sekelilingnya. Aku berkata: seharusnya ada di belakang pemandangan kerdil dan pucat ini suatu penyokong berupa jiwa yang bersih dan tegar serta mengaliri di antara tulang-tulang rusuknya. Aku tetap tak beranjak dari tempatku dan tak lagi menghiraukannya, sampai aku melihatnya menutup bukunya, beranjak dari tempat duduk dan berbaring di atas tempat tidur. Aku pun beranjak dari tempatku, dan ternyata malam telah semakin mendekati pagi hingga hampir tak tersisa kegelapannya di semesta ini kecuali sebagian kecil berupa garis memanjang yang membentuk cikal pagi yang akan segera menjelang.

Sejak saat itu, aku seringkali melihatnya menangis sepanjang malam, kadangkala ia tertunduk lesu atau mengurut-urut dadanya, bahkan seringkali pula terlihat ia menelungkupkan badannya di tempat tidur. Ia merintih layaknya ibu yang kehilangan anaknya atau menderita karena sempitnya ruangan yang ditempatinya. Kemudian ia membersihkan dinding kamarnya hingga bila hal ini terus dilakukannya dengan sungguh-sungguh, maka ia terjatuh ke atas kursinya dengan menangis sesenggukan. Aku pun terharu melihatnya hingga tanpa terasa aku menangis dan berkhayal andai saja aku dapat masuk ke sana layaknya seorang yang menolong sahabatnya. Kemudian aku memintanya untuk menceritakan segalanya kepadaku dan aku akan menemaninya dalam kesedihan, meskipun aku juga tak ingin mengagetkannya dengan sesuatu yang tak disukainya dan aku akan menghapus rahasia yang kiranya masih terbenam dalam dadanya serta menjaganya dari orang lain. Keadaan ini terus berlangsung sampai aku memperhatikannya kemaren di tengah malam yang sunyi, kamarnya tampak gelap dan sepi, aku kira ia sedang keluar karena beberapa urusan.

Tak lama berselang aku mendengar suara rintihan pelan berkepanjangan di sudut kamar, aku cemas mendengarnya dan menganggap bahwa suara itu ditujukan kepadaku, yaitu rintihan yang keluar dari kedalaman jiwa. Seakan-akan aku mendengar kesedihannya dalam hatiku yang terdalam, aku pikir mungkin pemuda ini sedang sakit dan tak ada yang merawatnya. Masalah makin serius dan aku harus segera ke sana. Aku pun meminta pembantuku untuk menyiapkan lentera. Aku pun sampai di rumahnya dan naik ke tingkat atas hingga tepat di depan pintu kamarnya. Setelah berada di dalam, aku dibuat kaget dengan apa yang aku temui, aku menyaksikan sebuah pemandangan layaknya seorang yang berdiri di depan sebuah kuburan yang dipersiapkan sebagai bekal hari terakhir dalam hidupnya.

Kemudian aku masuk ke kamarnya, ia pun membuka kedua matanya setelah mengetahui kehadiranku, ia terlihat kebingungan atau bisa jadi masih mengantuk, dan dengan bantuan lentera yang ada di kedua tangannya, ia berusaha mengenaliku, seorang laki-laki yang tak dikenal pikirnya. Ia pun terlihat mengkhawatirkan kedatanganku dengan tidak berkata apapun serta memalingkan wajahnya. Aku pun mendekat ke tempat tidurnya dan duduk di sampingnya seraya berkata: aku adalah tetanggamu yang juga menempati rumah ini, beberapa saat yang lalu aku mendengar rintihan suaramu meminta pertolongan, aku mengira bahwa kamu sendirian di kamar ini, maka aku berusaha mengetahui masalahmu dan berharap dapat menjadi penolong dalam mengatasi masalahmu, apa kamu sakit?.

Perlahan ia mengangkat tangannya dan meletakkan di atas keningnya, aku pun melakukan hal yang sama. Tanganku terasa sangat hangat hingga aku menganggap kalau ia sedang demam. Kemudian pandanganku beralih ke badannya, maka aku pun menyaksikan sebuah pemandangan yang selama ini aku anggap hanya hayalan belaka, pakaian yang ia kenakan terlihat sangat longgar karena badannya kurus kering hanya berbalut kulit tanpa daging.

Kemudian aku menyuruh pembantuku untuk membawakan sirup khusus penderita demam yang ada di rumah dan meminumkan kepadanya sedikit-demi sedikit. Ia melihat kepadaku dengan pandangan tulus dan berkata: terima kasih.

Aku pun berkata: Apa keluhanmu saudaraku?.

Ia menjawab: Aku tak mengeluhkan apa-apa.

Aku berkata: Sudah lama anda mengalami kondisi ini?.

Ia menjawab: Tidak tahu.

Aku berkata: Anda butuh perawatan dokter, bolehkah aku memanggilnya untuk memeriksa kondisimu?.

Ia pun menghela nafas panjang dan memandang kepadaku dengan pandangan iba, dan berkata: Sesungguhnya dokter hanya akan memperpanjang hidup dari kematian.

Kemudian ia memejamkan kedua matanya dan kembali tenggelam dengan kekalutan pikiran dan rasa kantuknya, tetapi aku tetap berinisiatif untuk memanggilkan dokter, diizinkannya atau pun tidak. Selang beberapa lama, dokter pun datang dengan menggerutu dan mencak-mencak serta mengeluh –padahal ia tahu bahwa aku tahu jika ia sedang menggerutu- kegelisahan di tempat duduknya. Ia menyesal telah memilih untuk datang di tengah malam yang gelap dan dingin, tapi aku tak menghiraukannya karena aku tahu cara untuk mengatasinya. Kemudian ia memeriksa denyut nadi pasien dan berbisik di telingaku: Sesungguhnya pasien ini menderita penyakit kronis dan menurutku umurnya tidak beberapa lama lagi kecuali atas kehendak Allah yang di luar pengetahuan kita. Kemudian ia kembali duduk dan menulis masalah yang dihadapi pasien ini layaknya yang biasa dilakukan para dokter kepada para perawatnya agar memotivasi para pasiennya untuk hidup lebih lama lagi.

Kemudian ia berhenti dari aktivitasnya setelah tahu bahwa aku tak memperhatikan saran yang dikemukakan dan dikehendakinya. Kemudian aku menebus obat yang direkomendasikan dokter dan menemani pasien demam ini sampai larut malam. Seringkali ketika memberinya obat, aku menangisi kondisi yang dialaminya hingga tanpa terasa pagi menjelang. Siang pun kian meninggi dan kedua matanya mengedarkan pandangannya seputar tempat tidurnya hingga menemukanku, maka ia berkata: anda masih di sini?

Aku menjawab: Ya, dan aku berharap kondisimu saat ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Ia berkata: Semoga.

Aku berkata: Bolehkah aku bertanya, hai saudaraku!, siapakah anda sebenarnya? Dan kenapa sendirian di kamar ini? Apakah anda orang asing di daerah ini? Atau anda penduduk asli sini? Apakah anda menderita penyakit fisik atau penyakit batin?.

Ia menjawab: Aku mengalami keduanya.

Aku berkata: Bersediakah anda untuk menceritakan masalahmu kepadaku, dan memaparkan penderitaan yang anda alami di hadapanku layaknya seorang sahabat, sungguh aku akan menjadi penolong bagimu?.

Ia berkata: Apakah anda sanggup menjaga rahasiaku ini jika Allah memutuskan masalah hidupku, dan menyampaikan wasiatku jika terjadi sebaliknya?.

Aku menjawab: Tentu.

Ia berkata: Aku percaya janjimu, sungguh barangsiapa yang memiliki hati yang mulia seperti hatimu, maka ia tak akan berbohong dan berkhianat.

Aku adalah fulan bin fulan yang ditinggal mati oleh ayahku sejak lama. Ia meninggalkanku saat umurku baru menginjak enam tahun dalam kondisi miskin tak memiliki apa-apa. Aku tak memiliki sedikitpun dari perhiasan dunia. Kemudian aku dipelihara oleh pamanku bernama fulan, seorang yang sangat baik, mulia, dan penyayang. Sungguh beliau telah memperlakukan aku dengan baik dan tak ada yang menandinginya kecuali anak perempuannya, seorang gadis kecil seusia denganku atau sedikit lebih muda. Telah lama ia memimpikan seorang kakak yang selalu ada di sampingnya, tapi impian ini tak kunjung jadi kenyataan. Untuk itu, orang tuanya berpesan kepadaku untuk menjaga anaknya dan menyekolahkan kami di sekolah yang sama dalam waktu bersamaan.

Aku memperlakukannya dengan baik layaknya perlakuan kakak kepada adik perempuannya, dan menyayanginya dengan penuh kasih dan dalam keluarganya aku mendapatkan kegembiraan dan kesenangan yang menghapus segala penderitaan yang setiap saat senantiasa menyelimutiku, terutama setelah meninggalnya ayahku. Tak ada orang yang melihat kami kecuali selalu bersama, berangkat ke sekolah dan begitu juga pulangnya, begitu juga bermain di halaman rumah, bercengkrama di taman atau berkumpul di aula atau bercakap-cakap di kamar tidur hingga datang saat yang membuat kami harus berpisah tempat tidur, dan aku meneruskan studiku.

Ada sebuah kesepakatan antara hatiku dan hatinya, yaitu kesepakatan yang tak bisa dilakukan karena akan berakibat aib di kemudian hari. Aku merasakan nikmatnya hidup jika berada di sampingnya, aku tak melihat cahaya kebahagiaan kecuali dalam fajar senyumannya, aku merasakan setiap waktu kenikmatan hidup jika dilalui bersama di sampingnya, dan aku belum pernah menjumpai seorang gadis yang memiliki tingkah laku yang baik, sopan santunnya, kecerdasannya, kelembutannya, kasih sayangnya, rendah hatinya, kemuliaannya dan tanggung jawabnya kecuali dalam dirinya.

Dan aku pasti bisa, meskipun aku berada dalam pekatnya malam penuh duka dan kesedihan. Aku melihat begitu jauhnya sayap cahaya keputihan dari kebahagiaan yang telah menaungi kami bersama di waktu kecil, maka ia terbit atas jiwa kami seperti lezatnya anggur dalam cawannya. Dan aku juga melihat taman nyanyian tempat kebahagiaan kami itu dan tempat penggembalaan cita-cita dan mimpi-mimpi kami, seakan-akan ia hadir di antara kedua tanganku hingga aku bisa melihat kilauan airnya, sinar kerikil-kerikilnya, cabang-cabang pohonnya, warna-warni bunga-bunganya, itulah ruang batu tempat kami berada pada dua ujung siang, di sini kami berkumpul bicara hal-hal yang kami sukai, atau kekuatan yang kami himpun di antara bunga-bunganya, atau buku yang kami balikkan halaman-halamannya, atau lukisan yang ingin cepat-cepat kami selesaikan.

Itulah pepohonan rindang dan hijau tempat kami bernaung di bawahnya setiap kali kami bebas dari problem-problem persaingan dalam permainan, kami merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak burung yang menghangatkan diri pada dada induk-induknya. Dan itulah danau kecil yang kami gabungkan dari beberapa kolam di pinggiran parit yang kami isi dengan air, kemudian kami duduk di sekitarnya untuk memancing ikan-ikannya yang telah kami letakkan di dalamnya dengan kedua tangan kami, maka kami senang ketika kami berhasil menangkapnya seakan-akan kami telah memenangkan sesuatu yang besar.

Dan itulah sangkar emas yang indah tempat kami memelihara burung-burung kami, kemudian kami menghabiskan sebagian besar waktu kami untuk berada di sampingnya dengan mengagumi keindahannya, kadang ia menghirup air dan kadang pula mengumpulkan biji-bijian dan kami memanggilnya dengan nama-nama yang telah kami berikan sebelumnya, dan bila kami mendengar kicauannya, maka kami mengganggap bahwa ia menyahut panggilan kami.

Aku tak tahu apakah sesuatu yang aku simpan dalam diriku tentang anak perempuan pamanku ini adalah kasih dan sayang, atau cinta dan nafsu, tetapi aku tahu bahwa rasa itu hanya impian tanpa pengharapan. Apa yang aku katakan kepadanya suatu hari bahwa aku mencintainya karena aku menyayanginya –padahal ia anak perempuan pamanku dan teman kecilku- adalah awal terbukanya luka yang perih di hatinya. Dan pada hari-hari selanjutnya diriku tak mampu untuk menghubungkan sebab-sebab hidupku dengan sebab-sebab hidupnya karena aku tahu bahwa kedua orang tuanya tak akan merestui pemuda miskin sepertiku untuk menjadi pendampingnya. Dan tak sedikit pun dapat aku lakukan kepadanya layaknya orang-orang yang tengah jatuh cinta karena aku menghormatinya untuk tak melakukan hal itu.  Dan aku tak berpikir bahwa suatu hari aku akan melihat sesuatu yang tersembunyi di balik dirinya karena aku mengetahui setiap jengkal yang ada di hatinya, apakah itu ruang bagi seorang saudara hingga aku harus memendamnya? Atau ruang bagi seorang kekasih hingga aku memohon kepada kedua orang tuanya untuk memenuhi keinginannya? Tetapi, cintaku kepadanya adalah cinta seorang pendeta yang hidup membujang kepada sebuah potret gadis cantik di kedua tangannya dalam biaranya, selalu memujanya tetapi tidak dapat memilikinya.

Masalah yang aku hadapi ini masih terus berlanjut hingga sampai ketika ia harus merawat pamanku yang terserang penyakit kronis yang membuat beliau berpulang ke hadirat Tuhannya. Dan di akhir hayatnya, beliau sempat berpesan kepada istrinya dengan berbaik sangka: “Sungguh kematian telah membuatku tergesa-gesa untuk memutuskan nasib anak laki-laki ini, selama ini aku telah menjadi ibu sekaligus juga ayah baginya, maka aku berpesan kepadamu agar tak menyia-nyiakannya sepeninggalku nanti”.

Tak lama berselang setelah kematian paman, tibalah hari-hari buram dalam hidupku di mana aku melihat wajah-wajah yang seakan tak berwujud, pandangan-pandangan yang bukan biasanya terlihat dan hal-hal asing yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari seorang istri pamanku. Ia mulai menghadirkan kesedihan dan keputus-asaan kepadaku, dan mengetengahkan ke hadapanku untuk yang pertama kalinya dalam hidupku di mana aku merasa menjadi sangat asing dalam rumah ini, dan dunia ini benar-benar sirna dari hadapanku.

Di suatu pagi, ketika aku sedang duduk di kamar, masuklah seorang pembantu perempuan. Ia seorang wanita yang baik dan berdiri di hadapanku dengan malu-malu dan terbata-bata sambil berkata: “Nyonya telah menyuruhku untuk menyampaikan kepadamu, tuan, bahwa beliau telah memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya dalam waktu dekat ini. Dan beliau tahu mengenai keberadaanmu di sisinya setelah kematian ayahnya dan cukupnya usia kalian berdua, tetapi yang membuatnya ragu adalah mengenai lamaran karena beliau ingin kedua pengantin kelak menempati rumah layaknya istana sebagai tempat tinggal. Untuk itu, beliau memintamu untuk pindah ke rumah mana saja yang kau sukai untuk menghabiskan waktumu dengan segala persoalanmu, hal ini karena sepertinya kau tak bisa berpisah darinya.

Seakan-akan ia sengaja menimpakan beban berat ke dalam jantungku, tetapi aku berusaha menahannya perlahan-lahan sambil berkata kepadanya: Insya Allah, akan aku laksanakan dan tak ada yang lebih disenangi selain melakukan hal itu. Pembantu perempuan itu pun berlalu pergi meninggalkanku. Kemudian aku menyendiri beberapa saat untuk mencari jalan keluar atas kesedihan yang ditimpakan Allah kepadaku. Ketika malam menjelang, aku pun mempersiapkan kopor dan mengisinya dengan pakaian-pakaian dan buku-buku serta berkata kepada diriku:

“Sungguh setiap kebahagiaan yang aku jalani dalam hidup ini adalah hidup di samping orang yang aku cintai itu, tetapi ia telah berlalu pergi, dan tak ada yang tersisa setelah kepergiannya”.

Kemudian aku pergi dari rumah dengan diam-diam tanpa seorang pun yang tahu dan sebelum berangkat aku pun tak memberikan apa-apa kepada anak perempuan pamanku selain melihat sekilas kepadanya dari balik tirai tipis jendela kamarnya, saat itu ia tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Itulah kali terakhir pertemuanku dengannya.

Demi kamu tak akan aku tinggalkan Baghdad dengan benci

Jika kita dapati dari perpisahan itu kehilangan dirinya

Cukuplah kesedihan dengan meninggalkannya tanpa ucapan

Selamat jalan dan bertanya tempat tinggalnya

Demikianlah aku tinggalkan rumah yang telah memberikanku banyak kebahagiaan sejak kepergian Adam dari surganya. Aku keluar dengan terusir, tersingkir, kebingungan dan dengan hati yang terluka serta akumulasi beragam penderitaan dan kesedihan. Suatu perpisahan yang tak mungkin untuk bertemu lagi dan seorang miskin yang tak memiliki apa-apa serta perempuan asing yang tak akan aku temui pada manusia mana pun dalam segala musim dan tidak juga di semua mata angin.

Aku tak memiliki apa-apa sebagai bekal hidupku kecuali sisa-sisa dari kenikmatan yang telah tinggal kenangan. Kemudian aku menyewa ruangan di apartemen ini sebagai tempat tinggal, tetapi aku hanya sanggup tinggal di dalamnya satu jam saja dan aku memutuskan untuk bepergian kemana saja untuk mencari rizki dalam kemurahan Allah dan keluasan alam semesta-Nya sebagai pengobat jiwaku dari penderitan-penderitaan dan kesedihan-kesedihan berpisah dengannya. Maka aku melakukan perjalanan yang panjang dan memakan waktu hingga berbulan-bulan, di mana aku tak memasuki suatu negeri sampai jiwaku menentangnya pada yang lain dan matahari tak bersinar di suatu tempat sampai ia tenggelam di tempat lain hingga aku merasakan ketenangan dalam jiwaku di akhir perjalanan tersebut seperti tenangnya air mata yang tertahan di karantina mata, tak mengalir dan tak meresap.

Aku menikmati kondisi itu dan tanpa terasa waktu studi Sekolah Dasar pun telah mendekat, maka aku memutuskan untuk pulang. Aku bertekad dalam diriku untuk hidup di dunia ini sendiri saja sebagai masyarakat, tak ada sebagai ada, jauh sebagai dekat, mengacuhkan masalah jiwaku dari setiap masalah selainnya dan mengoreksi kealpaan masa lalu dengan mendekatkan tempat tinggal dan pemandangan-pemandangannya. Untuk itu, maka aku buat kamar dan sekolahku di antara keduanya tak terpisahkan dan tak ada yang tersisa dari masa lalu dalam diriku selain gejolak-gejolak yang selalu hadir dalam hatiku dari waktu ke waktu, maka aku mengobatinya dengan deraian air mata yang bercucuran dari mangkuk dalam kesendirianku yang tak ada yang mengetahuinya selain Allah. Beginilah aku mendapatkan kesejukan peristirahatan dalam dadaku.

Aku tinggal di sana hanya dalam beberapa waktu saja dan kembali lagi jika telah memiliki cukup uang, dan jika habis atau kurang maka aku bersiap-siap untuk hidup sederhana dan membagi rata untuk kebutuhan-kebutuhan pendidikan. Sekolah di negeri ini layaknya kedai kasar yang tidak menjual produk cicilan, ilmu pengetahuan dalam masyarakat ini adalah anugerah yang dianugerahkan oleh orang-orang yang mendapat anugerah, dan tidak ada yang cuma-cuma diberikan oleh orang-orang baik, maka aku menyemangati diriku dan aku tahu bahwa aku adalah pengontrol bahaya. Aku tak tahu cara untuk menghimpun kekuatan dengan kekayaan dan tanpa tipu daya, maka aku kembalikan kepada buku-bukuku yang tak menyisakan kekayaan di dalamnya, kemudian sisa-sisanya aku bawa ke pasar kertas dan aku berjualan di sana seharian penuh, namun hasil yang aku peroleh tak lebih dari seperempat harga yang sesungguhnya. Kemudian aku kembali dengan sedih, berantakan dan tak ada wajah yang lebih menyedihkan dari pada aku di muka bumi ini.

Dan ketika aku sampai di depan pintu rumah, aku melihat di halaman seorang wanita sedang bertanya penghuni rumah yang aku tempati. Setelah bertanya kepada beberapa orang, ternyata ia adalah pembantu yang dulu membantuku di rumah paman, maka aku bertanya kepadanya: Ibu itu?

Ia menjawab: Ya.

Aku berkata: Ada keperluan apa ibu datang kesini?

Ia menjawab: Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, bolehkan!

Kemudian aku naik bersamanya menuju kamarku, dan setelah sampai, aku pun berkata: Silahkan!

Ia berkata: Selama tiga hari aku berusaha mencarimu di setiap tempat, tetapi aku tak menemukan seorang pun yang menunjukkanku kepadamu  hingga hari ini aku ketemu denganmu setelah hampir berputus asa.

Kemudian ia menangis dengan suara meninggi; karena aku kuatir tangisannya menyebabkan terjadinya sesuatu di rumah yang sangat aku sayangi ini, maka aku berkata: Kenapa ibu menangis?

Ia menjawab: Tidakkah kau tahu berita-berita tentang rumah pamanmu?

Aku berkata: Tidak, memangnya apa yang terjadi?

Kemudian ia menjulurkan tangannya ke dalam selendangnya dan mengeluarkan sebuah buku yang tersampul rapi. Buku itu kemudian diberikan kepadaku dan aku pun membuka sampulnya, ternyata di dalamnya berisi tulisan anak perempuan pamanku. Kemudian aku membaca di dalamnya satu kata yang akan selalu aku ingat sampai hari kiamat: “Sungguh kau telah meninggalkanku dan tidak menyampaikan pesan apa-apa, tapi aku telah memaafkanmu. Sedangkan sekarang aku tengah di ambang kematian, aku tak akan memaafkanmu jika kau tak datang kepadaku untuk menyampaikan pesan terakhir”.

Buku itu kemudian aku lepaskan dari tanganku dan bergegas menuju pintu, tetapi pembantu tersebut memegang bajuku sambil berkata: Mau pergi kemana tuanku?

Aku berkata: Ia sekarang sedang sakit dan aku harus menjenguknya. Pembantu perempuan itu terdiam sejenak dan kemudian berkata dengan suara lirih: Tidak usah, tuanku, karena kematiannya telah mendahuluimu.

Di sinilah aku merasakan hatiku terpisah ke tempat lain yang aku tak tahu. Kemudian bumi yang luas berputar dengan suatu putaran dan aku terjatuh di atas sisanya di tempatku, aku tak merasakan apa-apa di sekitarku. Aku terus berputar tak berhenti dan selang beberapa saat kemudian aku membuka kedua mataku, ternyata malam telah menjelang dan pembantu itu tetap berada di sampingku sedang menangis dan meratap.

Kemudian aku mendekat kepadanya dan berkata: Ibu, apakah benar yang tadi ibu katakan?

Ia menjawab: Benar.

Aku berkata: Ceritakan semuanya kepadaku.

Kemudian ia berkata:

Sesungguhnya anak perempuan pamanmu, hai tuanku, tidak merasa nyaman setelah kepergianmu. Suatu hari di saat kau pergi ia bertanya kepadaku mengenai sebab kepergianmu, maka aku pun menceritakan kepadanya mengenai surat dari istri pamanmu yang aku berikan kepadamu, dan dengan tanpa penambahan apapun ia berkata: “Apa yang akan terjadi dengan pemuda miskin dan putus asa ini! Sesungguhnya mereka tak mengetahui apa-apa mengenai persoalannya dan persoalanku”. Kemudian belum hilang ingatanmu setelah itu tentang ucapannnya yang baik, dan tidak buruk seakan-akan mengobati jiwanya yang tersiksa dan menderita.

Hari-harinya dilalui dengan singkat hingga beragam penyakit menggerogoti dirinya, kondisinya berubah tak menentu, air kecantikannya telah meresap dan senyuman-senyumannya yang menarik itu telah lenyap. Kemudian ia terjatuh ke atas ranjang karena sakit satu hari dan tersungkur dalam beberapa hari selanjutnya. Mengetahui hal ini, ibunya menjadi takut dan mendatanginya agar melupakan ingatannya tentang pernikahan dan resepsi, lamaran dan pelamar. Akan tetapi ia terus menyebut-nyebut hal itu siang dan malam, meskipun demikian ia tidak memanggilkan dokter maupun dukun kecuali ketakutan dengan persoalan yang menimpa anak perempuannya, ia tak memanggilkan dokter maupun dukun, akibatnya gadis ini makin mendekati kematian secara perlahan-lahan.

Setiap malam aku terus berjaga di samping tempat tidurnya hingga suatu saat aku merasakannya bergerak dalam baringnya, kemudian aku mendekat kepadanya dan ia memberi isyarat kepadaku untuk memegang tangannya, maka aku pun melakukannya, barulah ia duduk dan berkata: Jam berapa malam ini?

Aku menjawab: Tengah malam.

Ia berkata: Kamu sendirian di sini?

Aku menjawab: Ya, penghuni yang lain telah lama tidur.

Ia berkata: Tahukah kau dimanakah kiranya anak laki-laki pamanku sekarang ini?

Aku terkejut mendengar kata-kata yang belum pernah aku dengar di hari sebelumnya itu, dan aku menjawab: Tentu, aku tahu tempatnya. Padahal saat itu aku tak mengetahui apa-apa, tetapi aku kasihan dengan benang tipis yang tersisa di tangannya ini yang merupakan cita-cita yang akan dinikmatinya, maka kemudian terputus dengan putusan akhir dari jahitan-jahitan nasibnya.

Kemudian ia berkata: Bisakah kau bawakan kepadanya sebuah surat dariku yang tidak diketahui oleh siapa pun isinya?

Aku menjawab: Dengan senang hati, tuanku.

Kemudian ia memberi isyarat kepadaku untuk mendekat kepadanya, aku pun mendekat, maka ia menulis surat yang ditujukan kepadamu sebagaimana yang kamu lihat ini. Dan ketika waktu subuh datang, aku pun pergi mencarimu ke segala penjuru tempat, berusaha menyelidiki wajah-wajah orang-orang yang sedang sarapan dan beristirahat berharap dapat menemukanmu dan melihat seseorang yang dapat memberitahuku tempat tinggalmu, tetapi aku selalu gagal hingga matahari tenggelam. Selanjutnya, aku pulang ke rumah dan saat itu telah lewat tengah malam ketika aku mendengar berita kematian, aku tahu bahwa panah telah mengenai sasarannya dan kelopak terakhir dari mawar nan cantik yang telah mengisi dunia dengan keindahan dan keelokannya itu telah jatuh ke tanah. Aku sangat sedih. Tak ada hari-hari yang dilaluinya kecuali diisi dengan menangis dan menangis.

Dan perhatianku yang terbesar kepadanya adalah harapannya untuk dapat bertemu denganmu di saat-saat akhir hidupnya, tetapi ia selalu gagal dan meninggal tanpa pernah terwujud impiannya. Aku tak pernah menutupi masalah surat ini dalam diriku dan tak juga berhenti mencarimu hingga aku menemukanmu.

Kemudian aku berterima kasih kepadanya atas apa yang dilakukannya dan mempersilahkannya untuk beranjak, ia pun beranjak pergi. Tinggallah aku sendiri hingga aku merasa bahwa mendung hitam turun perlahan-lahan ke atas kedua mataku sampai menutupi pandanganku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi kemudian hingga aku melihatmu.

***

Cerita mengenai pemuda ini tidak hanya berhenti sampai di sini karena kemudian aku mendengar bunyi yang menurutku hatinya terpecah dan inilah bagian-bagiannya.

Aku pun mendekat kepadanya dan bertanya: Ada apa, tuan?

Ia menjawab: Sesungguhnya aku butuh satu tetes air mata yang membuatku dapat melihat apakah aku ada di dalamnya, tetapi tak aku dapatkan.

Kemudian ia terdiam cukup lama, aku mengira bahwa ia tengah memikirkan beberapa kata, maka aku memiringkan badanku kepadanya dan ia berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku orang asing di dunia ini tak ada tempat bersandar dan tanpa penolong, dan aku seorang yang miskin tak punya kekayaan, dan aku seorang yang lemah tak tahu jalan untuk mendapatkan rizki-Mu dan sesungguhnya beban yang menimpa hatiku semakin berat aku menanggungnya dan aku malu kepada-Mu untuk memanjangkan tanganku kepada jiwa yang telah Engkau titipkan dengan tangan-Mu di antara kedua sisiku maka cabutkanlah ia dari tempatnya dan letakkanlah ia di wajah-Mu dengan marah dan murka. Serahkanlah urusannya kepada tangan-Mu dan kembalikanlah titipan-Mu kepada-Mu dan tempatkanlah ia pada tempat-Mu yang mulia. Sungguh seindah-indahnya tempat adalah tempat-Mu dan senikmatnya tinggal adalah berada di samping-Mu”.

Kemudian ia mengusap kepalanya dengan tangannya seakan-akan akan beranjak pergi dan berkata dengan suara lirih: Aku merasa kepalaku terbakar dan hatiku meleleh. Aku merasa tak ada yang tersisa dari semua ini, apakah kau mau berjanji untuk menguburkanku bersama dengannya, juga suratnya jika Allah memutuskan kematianku?

Aku menjawab: Tentu, aku berdoa agar Allah menyelamatkanmu.

Ia berkata: Saat ini, kematian lebih baik dari segalanya.

Kemudian ia tergunjang dan tak bergerak lagi.

***

Keberadaanku di sini telah memudahkan pemuda miskin dan putus asa ini untuk menyampaikan wasiat seperti yang diinginkannya, maka aku mengusahakannya dapat dikubur bersama anak perempuan pamannya, dan aku kuburkan juga bersamanya surat yang dimintanya. Ia terlalu lemah untuk menyambut panggilan kekasihnya di masa hidupnya, tetapi ia dapat melakukannya di saat kematiannya.

Demikianlah berkumpulnya di bawah satu langit dua jiwa yang jujur dan setia yang merasakan kesempitan dalam hidup keduanya di dunia, tetapi merasakan kelapangan di kematiannya dalam liang lahat.

_____________

Al-Manfaluthi (1876-1924) adalah seorang sastrawan Mesir kawakan yang karya-karya sastranya dikenal memiliki cara yang jelas dan bertemakan masalah-masalah keseharian masyarakat sehingga mudah dicerna oleh para penikmat sastra. Di kawasan Nusantara ia sangat terkenal terutama melalui novelnya, Majdulin (Magdalena), yang diadaptasi dari karya Alphonse Karr, Sous les tilleuls. Cerpen ini diterjemahkan dari judul aslinya ‘al-Yatīm’ dalam Kumpulan Cerita Pendek “al-‘Abarāt” Penerbit Maktabah al-Ma’ārif Beirut-Lebanon.

Alih bahasa oleh Pahrudin HM, M.A. beralamat di Jalan Wuluh 8F Papringan Yogyakarta 55281.

Kajian Filologis Atas ‘Hikayat Muhammad Hanafiyah’

Oleh: Fahrudin HM, M.A.

A. Pengantar
Sejarah kesusastraan Melayu yang penuh dengan hingar bingar karya sastra dalam beragam bentuknya memang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ini menyebar di wilayah Melayu melalui peranan para saudagar dari negeri-negeri muslim lain yang telah terlebih dahulu mengenal agama samawi terakhir ini. Selanjutnya, sendi-sendi kehidupan masyarakat Melayu diwarnai oleh ajaran-ajaran Islam, tak terkecuali sisi sastra yang memang telah menjadi bagian terpenting masyarakat Melayu selama ini tentunya. Persentuhan dan interaksi Islam dengan masyarakat Melayu ini kemudian melahirkan beragam karya sastra. Sejarah kemudian mencatat mengemukanya cerita-cerita Melayu yang bernuansa Islam atau buku-buku mengenai keislaman yang ditulis oleh para penulis Melayu yang senantiasa menjadi bahan kajian beragam pihak hingga saat ini.
Salah satu karya yang cukup menarik perhatian banyak kalangan yang dihasilkan penulis di era Melayu klasik adalah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah”. Cerita yang termuat dalam hikayat ini sebagian besarnya berasal dari India Selatan dan merupakan peristiwa tertentu yang pernah terjadi dalam sejarah. Naskah-naskahnya tersebar di berbagai tempat di dunia dan beragam kajian telah dilakukan oleh banyak pihak terhadap hikayat ini. Tulisan berikut mencoba untuk meneliti naskah cerita Melayu klasik tersebut berdasarkan tahapan penelitian yang diterapkan dalam kajian filologi.

B. Analisis Filologis Terhadap ”Hikayat Muhammad Hanafiyah”
Penelaahan filologis atas ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” menjadi menarik karena di samping menjadi salah satu cerita yang sangat populer dalam kesusastraan Melayu, hikayat ini juga merupakan bentuk apresiasi yang tinggi terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. Apresiasi yang tinggi kaum muslim tersebut tidak hanya sebatas pujian-pujian saja, tetapi lebih jauh lagi menjadi budaya yang mewujud dalam beragam tradisi yang memiliki satu tujuan, yaitu penghormatan terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. Salah satu contoh dari mengemukanya tradisi penghormatan atau memperingati perjuangan dan pengorbanan Nabi dan keluarganya adalah tradisi Tabuik di Pariaman dan Taboot di Bengkulu.
Untuk melakukan analisis filologis terhadap hikayat ini, diperlukan seperangkat tahapan yang mesti dilakukan. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menganalisis hikayat ini menurut ilmu filologi adalah pencatatan dan pengumpulan naskah, metode kritik teks, susunan stema, dan rekonstruksi teks.

B.1. Pencatatan dan Pengumpulan Naskah
Setelah dilakukan penelusuran, maka penulis berkesimpulan bahwa buku-buku yang memuat naskah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” adalah :
1. “A History of Classical Malay Literature”, karangan Sir Richard Winstedt, Penerbit Oxford University Press, diterbitkan bersama di Kuala Lumpur, Singapura, New York, London dan Melbourne pada tahun 1969. Buku ini terdapat di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada dengan Nomor Katalog 899.299 Win h. Jumlah halaman sebanyak 323 dan dicetak di atas kertas kuning serta dalam kondisi baik. ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” terdapat di halaman 265-273, tetapi keterangan mengenai hikayat ini dicantumkan penulis pada halaman 105-107.
2. “Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik”, karangan Drs. Liaw Yock Fang, Penerbit Pustaka Nasional Singapura, tahun 1975. Jumlah halaman sebanyak 351 dengan kondisi baik dan ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” terdapat di halaman 135-137. Sedangkan keterangan lain mengenai ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang ada dalam buku ini dapat ditemukan pada halaman 135.
Di samping kedua buku di atas, buku lain yang memuat keterangan mengenai ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” ada dalam tulisan Henri Chambert-Loir, Les Manuscrits Malais de Bale, Lund, Singapour et Paris, Jurnal Archipel Volume 20, terbitan Paris, pada tahun 1980, halaman 89-90. Keterangan lain mengenai ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang terdapat dalam jurnal ini adalah tulisan Russel Jones berjudul ”Review Article : Problems of Editing Malay Texts; Discussed with reference to the Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang ada pada halaman 121-131. Semua tulisan yang berkaitan dengan ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” ini dalam kondisi baik dan dapat terbaca dengan jelas. Tulisan pertama ditulis dalam Bahasa Prancis sedangkan tulisan kedua dituangkan penulisnya dalam Bahasa Inggris.

B.2. Metode Kritik Teks
Meskipun buku yang memuat ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” terdiri dari beberapa tulisan, walaupun yang secara utuh memuatnya hanya ada dua buku sebagaimana telah disebutkan di atas, tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan yang mendasar. Bahkan lebih jauh lagi, Buku ”Sejarah Kesusastraan Melayu” yang memuat ringkasan ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” sebagian besar merujuk pada buku karangan Winstedt di atas. Hal ini dapat terjadi karena sejak lama, tepatnya tahun 1940, buku Winstedt ini menjadi satu-satu buku yang mengetengahkan paparan mengenai kesusasteraan Melayu klasik.
Berdasarkan hal ini, penulis berkesimpulan bahwa metode kritik teks yang diterapkan terhadap ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” ini adalah metode gabungan. Yaitu, metode kritikk teks yang digunakan jika naskah-naskah mengenai objek penelitian dinilai hampir sama dan kalaupun ada perbedaan juga tidak mendasar dan tidak besar serta tidak mempengaruhi teks tersebut.

B.3. Susunan Stema
Langkah selanjutnya yang dilakukan dalam penelaahan filologi adalah menyusun stema dari naskah-naskah objek kajian yang telah dilakukan pengumpulan pada tahap pertama di atas. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan utama penelitian filologi terhadap sebuah naskah adalah untuk mendapatkan naskah yang murni, atau paling tidak sedekat mungkin dengan naskah asli yang ditulis pengarangnya. Hal ini karena tulisan yang ada dalam naskah tersebut adalah gagasan dan hasil olah pikir penulisnya yang ingin kita ketahui sehingga penulisnya tersebut seharusnya menjadi individu yang memiliki wewenang tunggal dan tinggi atas gagasannya tersebut, bukan komentator atau penyalinnya.
Meskipun demikian, karena perbedaan jarak waktu yang sangat jauh maka seringkali yang ditemukan bukan naskah asli yang ditulis oleh pengarangnya, tetapi berupa salinan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada setelahnya. Tidak dapat dihindari dalam proses penyalinan tersebut terdapat perbedaan dari aslinya, baik berupa pengurangan atau penambanhan. Dalam kondisi seperti inilah diperlukan tahapan ketiga, yaitu menyusun stema. Adapun tujuan penerapan stema dalam penelitian filologi adalah membuat pohon silsilah naskah-naskah yang menjadi objek penelitian.
Berdasarkan pengumpulan naskah pada tahap pertama di atas, maka dapat disusun sebagai berikut:
 Naskah A : “A History of Classical Malay Literature” karya Sir Richard Winstedt
 Naskah B : “Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik”, karangan Drs. Liaw Yock Fang.

Naskah A merupakan naskah arketip yang menjadi induk atau sumber bagi naskah B yang menjadi hiparketipnya (subinduk) atau turunan dari naskah A. Meskipun demikian, naskah A yang menjadi arketip dari naskah-naskah yang ditemukan dalam penelitian ini merupakan turunan dari naskah-naskah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang ada di beberapa tempat di dunia. Berdasarkan penelusuran Chamber-Loir, naskah-naskah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” terdapat di beberapa tempat, yaitu di Universitas London berdasarkan catalog C.J. Tornberg yang dilakukan pada tahun 1850, dan di Museum Nasional Singapura. Sedangkan berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh P. Voorhoeve, ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan berasal dari Sekretariat Batavia Belanda dahulu. Winstedt sendiri juga mencatat bahwa naskah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” juga terdapat di Perpustakaan Universitas Cambridge sebanyak 60 halaman.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat diketahui bahwa naskah A yang diterjemahkan kembali oleh Winstedt ke dalam bahasa Inggris bersumber dari naskah-naskah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang ada di London, Leiden, dan Singapura. Selanjutnya, Liaw Yock Fang menerjemahkannya dan menyalinnya kembali dalam bukunya ”Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik” yang ditulis dalam Bahasa Indonesia sehingga menjadi naskah B.

B.4. Rekonstruksi Teks
Langkah berikutnya dalam kajian filologi atau terakhir adalah merekonstruksi teks yang telah dilakukan langkah-langkah sebelumnya. Tujuan dilakukannya rekonstruksi teks adalah untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam naskah-naskah yang ada dengan cara melihat apa yang ada dalam naskah lainnya. Akan tetapi, karena hasil penelusuran yang penulis lakukan hanya menemukan dua naskah saja maka hal ini sulit dilakukan.
Namun demikian, penulis dapat berkesimpulan bahwa naskah A merupakan naskah asli ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” atau lebih tepatnya terjemahan Bahasa Inggris dari hikayat Melayu klasik ini. Hal ini berdasarkan beberapa faktor, yaitu naskah B merupakan ringkasan dari ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” yang ada dalam naskah A dan tidak ditemukan perbedaan di dalam keduanya sedangkan yang kedua adalah naskah A merupakan buku yang telah sangat lama menjadi rujukan dalam penelitian sastra Melayu klasik. Di samping itu, pengarang naskah A merupakan tokoh yang diakui kapabilitas dan kapasitasnya dalam jagat penelitian filologi.

C. Relevansi Dengan Budaya
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarganya menempati posisi yang terhormat di kalangan Islam. Penghormatan terhadap mereka tidak hanya mewujud dalam bentuk kata-kata pujian saja, tetapi bahkan lebih jauh lagi dikonstruksikan dalam bentuk budaya. Adanya ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarga beliau. Isi ceritanya mengetengahkan perjalanan hidup nabi, bahkan dimulai jauh sebelum kelahirannya dalam bentuk cahaya, para sahabat dan keluarga beliau. Ceritanya menyuguhkan sesuatu dan kejadian yang diharapkan mampu mengetengahkan sesuatu yang luar biasa sekaligus juga membanggakan bagi pengikutnya. Seperti penggambaran cahaya nabi yang terlebih dahulu diciptakan sebelum penciptaan manusia lainnya, cahaya di dahi ayahnya, Abdullah, yang kelak menurunkan Nabi Muhammad dan beragam mukjizat lainnya. Begitu juga dengan para sahabat dan keluarga beliau yang berjuang menegakkan apa yang mereka yakini kebenarannya, bahkan melawan sesama muslim sekali pun hingga titik darah penghabisan. Hal ini sebagaimana yang diperlihatkan oleh Ali, Hasan, Husein dan Muhammad Hanafiyah.
Salah satu perjuangan keluarga Nabi yang diceritakan dalam hikayat ini adalah tragedi yang menimpa dua cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein. Keduanya dibunuh oleh Rezim Bani Umayyah dibawah pimpinan Yazid bin Mu”awiyah. Hasan dibunuh dengan cara diracun sedangkan Husein dibantai beserta para pengikutnya di Padang Karbala, Irak. Kepala Husein dipenggal layaknya penjahat berat sedangkan pengikutnya ditanam hidup-hidup lalu dibunuh beramai-ramai dan para wanitanya dijadikan tawanan.
Tragedi Karbala yang menimpa Husein beserta pengikutnya pada 10 Muharram 61 H (681 M) ini kemudian menjadi tradisi yang diperingati oleh banyak kaum muslim, utamanya kelompok Syiah, di seluruh dunia. Di Indonesia mengemuka dalam wujud tradisi Tabuik di Pariaman Sumatra Barat dan Taboot di Bengkulu. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat kedua wilayah tersebut setiap tanggal 10 Muharram dengan beragam cara yang dimaksudkan untuk mengenang penderitaan keluarga Nabi di Padang Karbala.
Tradisi Tabuik dimulai pada 1 Muharram dengan mengambil lumpur di sungai di tengah malam dengan memakai pakaian putih yang melambangkan pengambilan tubuh Husein yang suci seperti kain putih yang terbunuh di Karbala. Kemudian Lumpur dikumpulkan dalam priok dan ditutupi kain putih dan dibawa ke suatu tempat (Daraga) yang juga ditutupi kain putih. Kemudian pada tanggal 5 Muharram dilakukan penebangan pohon pisang dengan sekali tebasan pedang yang tajam yang melambangkan keperkasaan dan kegigihan Husein dalam berperang. Selanjutnya, tepat pada tanggal 7 Muharram dilakukan arakan benda yang dibuat menyerupai jari-jari tangan Husein di jalan untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Pada tanggal 9 Muharram sorban berwarna putih diarak di jalan sehingga membuat orang-orang histeris mengingat perjuangan Husein dalam melawan Yazid. Pada tanggal 10 Muharram adalah acara puncak dengan diaraknya seluruh perangkat upacara dan masyarakat serentak meneriakkan ”Hoyak Tabuik, Hoyak Husein”. Sore hari menjelang matahari terbenam, benda-benda yang digunakan dalam upacara ini dilarung ke laut dan masyarakat pulang sambil meneriakkan ”Ali Bidaya… Ali Bidaya … Ya Ali.. Ya Ali .. dan Ya Husein..”.
Sedangkan di Bengkulu, sebagaimana di Pariaman, juga dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram, tetapi dengan nama Taboot yang secara etimologi berarti kota kayu atau peti. Tradisi ini merupakan perayaan berkabung atau bela sungkawa atas wafanya Husein di Padang Karbala. Upacara terdiri dari penggambaran pengumpulan bagian-bagian tubuh dari jenazah Husein, pengarakan dan pemakamannya di Padang Karbala. Di samping sebagai penghormatan terhadap perjuangan Husein dan keluarga Nabi Muhammad umumnya, upacara Taboot juga bertujuan untuk memupuk rasa permusuhan terhadap keluarga Bani Umayyah yang telah membunuh Ahlul Bait.

D. Kesimpulan
”Hikayat Muhammad Hanafiyah” menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarga beliau dalam kehidupannya. Naskah hikayat ini tersebar di banyak tempat diseluruh dunia, terutama negara-negara yang melakukan kajian terhadap naskah-naskah Melayu klasik. Naskah yang terdapat di dalam buku Winstedt dapat dianggap naskah yang mendekati kebenaran naskah aslinya, atau tepatnya terjemahan dalam bahasa asingnya berdasarkan beberapa faktor pendukungnya. Apa yang diceritakan dalam ‘Hikayat Muahmmad Hanafiyah’ sebagai penghormatan terhadap Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarga beliau mewujud dalam tradisi yang dilakukan oleh beberapa kalangan dalam Islam di banyak tempat, seperi di Bengkulu dan Pariaman dengan adanya tradisi Taboot dan Tabuik.

Yogyakarta, Medio Desember 2009

DAFTAR PUSTAKA
Baried, Siti Baroroh. Dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Chambert-Loir, Henri. 1980. ”Les Manuscrits Malais de Bale, Lund, Singapour et Paris”, dalam Archipel 20, Paris.

Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. 1991/1992. Upacara Taboot: Upacara Tradisional Bengkulu di Kodya Bengkulu, Bengkulu: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud.

Fang, Liaw Yock. 1975. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Singapura: Pustaka Nasional.

Robson, S.O. 1994. Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL kerjasama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Universitas Leiden Belanda.

Voorhoeve, P. 1980. ”List of Malay Manuscripts Which Were Formerly Kept at the General Secretariat in Batavia”, dalam Archipel 20, Paris.

Winstedt, Sir Richard. 1969. A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur, Singapura, New York, London dan Melbourne: Oxford University Press.

http://groups.yahoo.com/group/minangdarussalam/massage/1

http://www.fatimah.org/artikel/taboot.htm