Tag Archives: Islam

Mengenal Majelis Taklim

Oleh: Fahrudin HM, M.A.

Majelis taklim berasal dari dua suku kata, yaitu kata majlis dan kata ta’līm. Dalam bahasa Arab kata majlis (مجلس) adalah bentuk isim makan (kata tempat) dari kata kerja jalasa (جلس) yang berarti tempat duduk, tempat sidang, dan dewan (Munawwir, 1997: 202). Dengan demikian majelis adalah tempat duduk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 120). Sedangkan kata ta’līm (تعليم) dalam bahasa Arab merupakan masdar dari kata kerja ‘allama (علم) yang mempunyai arti pengajaran (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 1035). Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa majelis adalah pertemuan atau perkumpulan orang banyak atau bangunan tempat orang berkumpul (Depdikbud RI, 1999:615).

Dengan demikian majelis taklim dapat dipahami sebagai suatu institusi dakwah yang menyelenggarakan pendidikan agama yang bercirikan non-formal, tidak teratur waktu belajarnya, para pesertanya disebut jamaah, dan bertujuan khusus untuk usaha memasyarakatkan Islam (Siregar & Shofiuddin, 2003: 16). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa majelis taklim adalah wadah atau tempat berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar atau pengajian pengetahuan agama Islam (Tim Editor, 2007: 237) atau tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam.

Adanya majelis taklim di tengah-tengah masyarakat bertujuan untuk menambah ilmu dan keyakinan agama yang akan mendorong pengalaman ajaran agama, sebagai ajang silaturahmi anggota masyarakat, dan untuk meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga dan lingkungan jamaahnya (Alawiyah, 1997: 78). Masih dalam konteks yang sama, majelis taklim juga berguna untuk membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT, menjadi taman rohani, ajang silaturrahim antara sesame muslim, dan menyampaikan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa (Jaelani, 2007: 237-238). Sementara itu, maksud diadakannya majelis taklim menurut M. Habib Chirzin (2000: 77) adalah:

1)      Meletakkan dasar keimanan dalam ketentuan dan semua hal-hal yang gaib;

2)      Semangat dan nilai ibadah yang meresapi seluruh kegiatan hidup manusia dan alam semesta;

3)      Sebagai inspirasi, motivasi dan stimulasi agar seluruh potensi jamaah dapat dikembangkan dan diaktifkan secara maksimal dan optimal dengan kegiatan pembinaan pribadi dan kerja produktif untuk kesejahteraan bersama;

4)      Segala kegiatan atau aktifitas sehingga menjadi kesatuan yang padat dan selaras.

Masih dalam konteks yang sama, tujuan majelis taklim adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran beragama di kalangan masyarakat Islam, meningkatkan amal ibadah masyarakat, mempererat tali silaturrahmi di kalangan jamaah, membina kader di kalangan umat Islam, membantu pemerintah dalam upaya membina masyarakat menuju ketakwaan dan mensukseskan program pemerintah di bidang pembangunan keagamaan (Tim Editor, t.t.: 675).

Dilihat dari struktur organisasi yang dimilikinya, majelis taklim dapat dikategorikan sebagai organisasi pendidikan luar sekolah yaitu lembaga pendidikan bersifat non-formal, karena tidak didukung oleh seperangkat aturan akademik kurikulum, lama waktu belajar, tidak ada kenaikan kelas, buku raport, ijazah dan sebagainya sebagaimana yang  disyaratkan pada lembaga pendidikan formal yaitu sekolah (Huda, 1986/1987: 13). Pendidikan luar sekolah berdasarkan Undang-Undang Sistim Pendidikan Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 adalah suatu proses pendidikan yang sasaran, pendekatan, dan keluarannya berbeda dengan pendidikan sekolah. Sedangkan berdasarkan pada tujuannya, majelis taklim termasuk sarana dakwah Islamiyah yang secara self-standing dan self disciplined yang mengatur dan melaksanakan berbagai kegiatan berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi kelancaran pelaksanaan taklim Islami sesuai dengan tuntutan pesertanya.

Meskipun dikategorikan sebagai lembaga pendidikan non-formal Islam, namun majelis taklim mempunyai kedudukan tersendiri di tengah-tengah masyarakat (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121-122). Hal ini karena majelis taklim merupakan wadah untuk membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT SWT. Di samping itu, majelis taklim juga merupakan  taman rekreasi rohaniah, karena penyelenggaraannya dilakukan secara santai. Faktor lainnya yang membuat majelis taklim cukup diminati masyarakat adalah karena lembaga pendidikan non-formal ini adalah wadah silaturahmi yang menghidup suburkan syiar Islam dan sebagai media penyampaian gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, majelis taklim memiliki materi-materi yang disampaikan dan diajarkan kepada para pesertanya. Materi yang umumnya ada dan pelajari dalam majelis taklim mencakup pembacaan, al-Qur’an serta tajwidnya, tafsir bersama ulumul al-Qur’an, hadits dan fiqih serta ushul fiqh, tauhid, akhlak ditambah lagi dengan materi-materi yang dibutuhkan para jamaah misalnya masalah penanggulangan kenakalan anak, masalah Undang-Undang Perkawinan dan lain-lain. Adapun kitab-kitab berbahasa Indonesia yang biasanya dijadikan pegangan adalah Fiqih Islam karangan Sulaiman Rasyid dan beberapa buku terjemahan lainnya (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121-122). Sedangkan menurut Pedoman Majelis taklim yang dikeluarkan oleh Koordinasi Dakwah Islam (KODI), materi yang disampaikan dalam majelis taklim adalah (Huda, 1996/1997: 13)

1)      Kelompok Pengetahuan Agama, yang mencakup di dalamnya tauhid, tafsir, Fiqih, hadits, akhlak, tarikh, dan bahasa Arab.

2)      Kelompok Pengetahuan Umum, yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang dikaitkan dengan agama. Artinya, dalam menyampaikan uraian-uraian tersebut berdasarkan dalil-dalil agama baik berupa ayat-ayat al-Qur’an atau hadits-hadits atau contoh-contoh dari kehidupan Rasulullah SAW. Penambahan dan pengembangan materi dapat saja terjadi di majelis taklim melihat semakin majunya zaman dan semakin kompleks permasalahan yang perlu penanganan yang tepat. Wujud program yang tepat dan aktual sesuai dengan kebutuhan jamaah itu sendiri merupakan suatu langkah yang baik agar majelis taklim tidak terkesan kolot dan terbelakang. Majelis taklim adalah salah satu struktur kegiatan dakwah yang berperan penting dalam mencerdaskan umat, maka selain pelaksanaannya dilaksanakan secara teratur dan periodik juga harus mampu membawa jamaah ke arah yang lebih baik lagi.

Sistim pengajaran yang diterapkan dalam majelis taklim terdiri dari beragam metode. Secara umum, terdapat berbagai metode yang digunakan di majelis taklim, yaitu (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 43-45) :

1)      Metode Ceramah, yang dimaksud adalah penerangan dengan penuturan lisan oleh guru terhadap peserta.

2)      Metode Tanya Jawab, metode ini membuat peserta lebih aktif. Keaktifan dirangsang melalui pertanyaan yang disajikan.

3)      Metode Latihan, metode ini sifatnya melatih untuk menimbulkan keterampilan dan ketangkasan.

4)      Metode Diskusi, metode ini akan dipakai harus ada terlebih dahulu masalah atau pertanyaan yang jawabannya dapat didiskusikan.

Sedangkan metode penyajian yang dilakukan di majelis taklim dapat dikategorikan menjadi (Redaksi Ensiklopedi, 1994: 121) :

1)      Metode Ceramah, terdiri dari ceramah umum, yakni pengajar/ustadz/kiai tindak aktif memberikan pengajaran sementara jamaah pasif dan ceramah khusus, yaitu pengajar dan jamaah sama-sama aktif dalam bentuk diskusi.

2)      Metode Halaqah, yaitu pengajar membacakan kitab tertentu, sementara jamaah mendengarkan.

3)      Metode Campuran, yakni melaksanakan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan.

Institusi pendidikan non-formal ini telah lama tumbuh dan berkembang di tengah-tengah komunitas muslim sebagai lembaga dakwah plus pendidikan dan menjadi lembaga yang paling banyak diminati oleh komunitas muslim dalam mengembangkan wawasan keagamaannya (Siregar & Shofiuddin, 2003: 7).

Di samping statusnya sebagai institusi pendidikan Islam non-formal, majelis taklim sekaligus juga merupakan lembaga dakwah yang memiliki peran strategis dan penting dalam pengembangan kehidupan beragama bagi masyarakat. Majelis taklim sebagai institusi pendidikan Islam yang berbasis masyarakat memiliki peran yang strategis terutama terletak pada upayanya mewujudkan learning society, suatu masyarakat yang memiliki tradisi belajar tanpa di batasi oleh usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan dapat menjadi wahana belajar, serta menyampaikan pesan-pesan keagamaan, wadah mengembangkan silaturrahmi dan berbagai kegiatan kegamaan lainnya, bagi semua lapisan masyarakat. Peranannya yang strategis demikian pada gilirannya membuat majelis taklim diintegrasikan sebagai bagian penting dari Sistim Pendidikan Nasional. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI pasal 26 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan non-formal diperlukan untuk menambah dan melengkapi pendidikan formal. Bahkan pada ayat 4 dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut secara eksplisit disebutkan bahwa majelis taklim merupakan bagian dari pendidikan non-formal. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa majelis taklim merupakan bagian penting dari Sistim Pendidikan Nasional.

Sebagai bagian dari Sistim Pendidikan Nasional, majelis taklim melaksanakan fungsinya pada tataran non-formal, yang lebih fleksibel, terbuka, dan merupakan salah satu solusi yang seharusnya memberikan peluang kepada masyarakat untuk menambah dan melengkapi pengetahuan yang kurang atau tidak sempat mereka peroleh pada pendidikan formal, khususnya dalam aspek keagamaan. Kedudukan majelis taklim yang demikian semakin mendapat dukungan dari masyarakat yang indikasinya bisa dilihat semakin berkembangnya majelis taklim dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan pertumbuhan kuantitas majelis taklim di seluruh Indonesia berdasarkan data yang terdapat di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama RI.

Tabel 1:

Majelis Taklim di Indonesia

No

2006/2007

2008/2009

Majelis Taklim

Peserta

Pengajar

Majelis Taklim

Peserta

Pengajar

1

153. 357

9.867.873

375.095

161.879

9.670. 272

366.200

Peserta Laki-Laki

4.002.434

Peserta Perempuan

5.667.838

Sumber: Data diolah dari Laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama Tahun 2006 & Tahun 2008.

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa jumlah majelis taklim di Tanah Air mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah majelis taklim adalah sebanyak 153. 357 unit dengan jumlah jama’ah sebanyak 9.867.873 orang dan tenaga pengajar sejumlah 375.095 orang (272.454 orang laki-laki dan 102.641 perempuan). Sedangkan selang dua tahun kemudian jumlah majelis taklim di Indonesia terus mengalami peningkatan menjadi 161.879 unit di tahun 2008. Adapun peserta yang mengikuti majelis taklim di tahun ini sebanyak 9.670. 272 dan didukung tenaga pengajar sejumlah 366.200 orang. Salah satu hal yang menarik diperhatikan adalah ternyata dari sejumlah 9.670. 272 orang menjadi anggota majelis taklim di tahun 2008 sebanyak  5.667.838 (58,6%) adalah perempuan atau kaum ibu, baru sisanya laki-laki atau bapak-bapak sebanyak 4.002.434 (41,4%). Hal ini tentu semakin menguatkan asumsi bahwa majelis taklim cenderung menjadi ajang berkumpul, berinteraksi dan arena belajar bagi kalangan perempuan atau ibu-ibu(Anitasari, 2010: 5) meskipun sebenarnya lembaga dakwah ini tidak ditujukan kepada jenis kelamin tertentu.

Daftar Pustaka

Alawiyah, Tuti. 1997. Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim. Bandung: Mizan. Cetakan Pertama.

Anitasari, Dini. dkk. 2010. Perempuan dan Majelis Taklim: Membicarakan Isu Privat Melalui Ruang Publik Agama. Bandung: Research Repport Rahima April 2010.

Chirzin, M. Habib. 1997. Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES. Cetakan Ketiga.

Dewan Redaksi Ensiklopedi. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Cetakan Keempat. Jilid 3.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka. Cetakan Kesepuluh.

Djaelani, Bisri M. 2007. Ensiklopedi Islam. Yogyakarta: Panji Pustaka Yogyakarta.

Huda, H. Nurul (ed.). 1986/1987. Pedoman Majelis Taklim. Jakarta: Koordinasi Dakwah Islam (KODI).

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Progresif. Cetakan Keempat Belas.

Saleh, Abdul Rahmah. 2000. Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta: PT. Gemawindu Panca Perkasa.

Siregar, H. Imran dan Moh. Shofiuddin. 2003. Pendidikan Agama Luar Sekolah (Studi Tentang Majelis Taklim). Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI.


Yogyakarta, Menjelang Penutupan Tahun 2012.

Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Dalam Islam

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar

Isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan yang dijalani oleh kedua entitas ini senantiasa hangat dibicarakan. Satu pihak menganggap bahwa bahwa laki-laki dan perempuan tidak setara karena keduanya dibedakan oleh peran yang dilakoni keduanya, laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan berada di sektor domestik, sementara pihak yang lainnya (yang lebih dikenal sebagai feminis) beranggapan bahwa sesungguhnya kedua jenis kelamin ini berada pada posisi yang setara. Beberapa kalangan feminis menyatakan bahwa anggapan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan mengemuka karena faktor budaya yang mengelilingi manusia. Budaya patriarkhi yang diciptakan laki-laki untuk semakin menguatkan posisinya untuk terus mensubordinasi perempuan untuk kepentingan laki-laki.

Di samping faktor budaya, agama juga dituding menjadi ‘biang’ terus tidak berdayanya perempuan. Beragam ajaran agama dianggap sangat tidak mendukung eksistensi perempuan, kecuali hanya untuk ‘mendukung’ superioritas laki-laki. Tulisan berikut akan mencoba memotret bagaimana konsep Islam, sebagai salah satu agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat dunia, dalam memandang perempuan, terutama dalam hubungannya dengan isu kesetaraan peran yang banyak dilontarkan dalam diskursus feminisme. Paparan berikut akan mengambil rujukan kepada ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang secara khusus berbicara tentang peran perempuan dan seringkali dijadikan acuan kalangan yang menolak kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

Islam dan Perempuan
Islam adalah salah satu agama yang dikategorikan sebagai agama samawi, diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada sekitar 14 abad yang lalu di kawasan Arab, atau tepatnya Saudi Arabia saat ini. Setelah melalui serangkaian periode, seperti masa-masa kesulitan di Mekah dan peristiwa hijrah ke Madinah, maka akhirnya Islam mendapatkan era kejayaannya dengan tersebarnya agama ini ke segenap penjuru Arab. Bahkan, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan melalui para sahabat dan beragam kekhalifahan Islam, agama ini telah dipeluk oleh orang-orang yang non-Arab dan berada di berbagai wilayah yang sangat luas mencakup Asia, Afrika dan Eropa. Sebagai sebuah agama, Islam memiliki sumber rujukan yang menjadi tuntunan bagi para pemeluknya, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisikan tuntunan bagi kaum muslimin sedangkan Hadits adalah ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW selama hidupnya dalam memimpin umatnya.
Perempuan menjadi salah satu tema penting dalam ajaran Islam karena di samping laki-laki, perempuan juga memiliki peranan yang tidak kalah signifikannya dalam agama ini. Hal ini, misalnya, mengemuka dalam beberapa ayat al-Qur’an yang secara khusus membicarakan tentang perempuan, bahkan salah satu nama suratnya adalah an-Nisā’ yang berarti perempuan. Namun demikian, bagaimana sesungguhnya konsep Islam mengenai perempuan?
Ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an memiliki konsep mengenai perempuan, terutama dalam konteks kesetaraannya dengan laki-laki yang menjadi tema sentral diskursus feminisme. Beragam ayat al-Qur’an mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama berposisi sebagai hamba Allah SWT yang menjadi tujuan penciptaan dan keberadaannya di muka bumi. Hal ini misalnya dapat ditemukan dalam Surat al-‘Āriyāt ayat 56:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa eksistensi manusia, baik laki-laki maupun perempuan di dunia adalah untuk tujuan mengabdi sebagai hamba Allah. Dengan demikian, perempuan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki untuk menjadi hamba Allah melalui pengabdiannya selama menjalani kehidupannya. Jika seorang perempuan berbuat takwa maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan sebagaimana halnya juga laki-laki dan demikian pula sebaliknya. Hal ini sebagaimana tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surat an-Nahl ayat 97:
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

Konsep Islam yang kedua adalah perempuan dan laki-laki sama-sama berposisi sebagai khalifah di muka bumi. Di samping eksistensinya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai penciptanya, perempuan bersama laki-laki juga berfungsi sebagai penguasa (khalifah) yang memelihara dan memanfaatkan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-An’ām ayat 165:
وهو الذي جعلكم خلائف في الأرض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما آتاكم إن ربك سريع العقاب وإنه لغفور رحيم.
Dalam ayat lain di Surat al-Baqarah ayat 30, Allah juga berfirman sebagaimana berikut ini:
وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون.
Berdasarkan kedua ayat di atas dapat diketahui bahwa peran sebagai penguasa bumi adalah milik laki-laki dan perempuan dengan tanpa membeda-bedakan keduanya. Hal ini karena penyebutan kata ‘khalifah’ yang berarti penguasa tidak merujuk pada salah satu jenis kelamin, laki-laki misalnya, tetapi mencakup keduanya (laki-laki dan perempuan).
Konsep Islam yang ketiga adalah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama memikul tanggungjawab dan mendapatkan perjanjian yang luhur dengan Allah. Menjelang seorang anak manusia lahir ke dunia, Allah mengadakan perjanjian luhur dan suci dengan calon penguasa dan penghuni bumi ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-A’rāf ayat 172:
وإذ أخذ ربك من بنى آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقوالوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين.

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memikul amanah dan tanggungjawab primordial dengan pengakuan akan keTuhanan Allah yang kelak dibawanya dalam kehidupan dunia.
Konsep Islam yang keempat adalah laki-laki dan perempuan sama-sama berperan aktif dalam peristiwa ‘terusirnya’ manusia dari surga yang mewujud dalam aktivitas Adam dan Hawa. Dalam tradisi yang berkembang di masa pra Islam (Yahudi dan Kristen) dikatakan bahwa perempuan memikul beban dosa karena menjadi penyebab atau berperan aktif dalam perbuatan dosa (memakan buah khuldi) sebagaimana yang dilakukan oleh Hawa. Hal ini pula yang menyebabkan perempuan dalam tradisi pra Islam tidak mendapatkan posisi yang baik dalam hubungannya dengan laki-laki. Namun demikian, al-Qur’an menegaskan bahwa Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan) sama-sama memiliki andil dan berperan dalam perbuatan dosa di surga yang berujung pada ‘terusirnya’ keduanya dari tempat yang penuh kenikmatan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam tidak mengenal dosa warisan dan tidak menempatkan salah satu jenis kelamin lebih baik dibandingkan yang lainnya. Hal ini sebagaimana firman-firman Allah dalam al-Qur’an berikut ini:
وقلنا يا آدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين (البقرة: ۳٥)
فوسوس لهما الشيطان ليبدي لهما ما ووري عنهما من سوآتهما وقال ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين. (الأعراف: ٢٠).
فدلاهما بغرور فلما ذاقا الشجرة بدت لهما سوآتهما وطفقا يخصفان عليهما من ورق الجنة وناداهما ربهما ألم أنهاكما عن تلكما الشجرة وقل لكما إن الشيطان لكما عدو مبين. (الأعراف: ٢٢).

Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa Adam dan Hawa bersama-sama tingggal di surga, kemudian keduanya secara bersama-sama terperdaya oleh godaan setan untuk memakan buah larangan Allah dan keduanya secara bersama-sama pula terusir dari surga dan mengembangkan keturunan di bumi. Dengan demikian, sangat tidak mendasar mengatakan bahwa perempuan memikul dosa warisan karena peran aktif Hawa dalam perbuatan dosa sehingga menempatkan perempuan berada dalam posisi subordinat dan laki-laki sebagai superior. Hal ini karena redaksi al-Qur’an yang disampaikan Allah menggunakan kata ganti untuk dua orang (هما) yang mengisyaratkan bahwa segala aktivitas di surga dilakukan oleh keduanya secara aktif.
Konsep Islam yang terakhir mengenai perempuan adalah kedua jenis kelamin ini sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih prestasi. Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa potensi berprestasi bukanlah monopoli laki-laki, akan tetapi perempuan pun memiliki peluang yang sama. Hal ini, misalnya, sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nisā’ ayat 124:
ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا

Meskipun secara tegas Allah SWT mengungkapkan konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, namun demikian masih banyak masyarakat muslim yang justru berpandangan sebaliknya. Perempuan yang seharusnya ditempatkan setara, justru diletakkan dalam posisi subordinat dan berada dibawah kekuasaan laki-laki yang dianggap superior. Kondisi ini diyakini oleh banyak kalangan karena kesalahan pemahaman atas beberapa teks agama, baik al-Qur’an maupun Hadis Nabi yang seringkali dimaknai oleh kalangan feminis sebagai missogini atau hadits yang ‘membenci’ perempuan. Untuk menyebut beberapa teks agama yang dijadikan ‘senjata’ untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan memperlakukan laki-laki sebagai superior adalah di antaranya: Surat an-Nisā’: 1 dan 34,  serta Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Abu Bakrah.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء (النساء: ١)

Argumentasi yang dikemukakan untuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat adalah ayat di atas, terutama yang digaris bawah yang berarti: Dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Ayat ini dipahami oleh banyak kaum muslim sebagai dalil yang menguatkan asumsi bahwa perempuan itu diciptakan Allah dari salah satu organ tubuh (tulang rusuk) Adam. Dengan demikian, menurut anggapan ini, selayaknyalah perempuan menempatkan posisi berada di bawah laki-laki yang berada lebih tinggi dan terhormat darinya. Perempuan adalah bagian dari diri laki-laki, tanpa laki-laki maka tidak aka nada perempuan dalam kehidupan ini.
Namun demikian, penafsiran ini ditolak oleh kalangan feminis seperti Riffat Hasan dan beberapa feminis muslim lainnya. Menurut mereka, kata ‘nafs wahidah’ yang terdapat dalam ayat di atas kenapa harus merujuk pada diri Adam (laki-laki) dan kata ‘zaujaha’ dipahami sebagai Hawa sebagai istrinya. Padahal kata ‘nafs’ tidak merujuk pada laki-laki maupun perempuan, atau dapat dikatakan bahwa kata ini bersifat netral dan tidak memihak, bisa laki-laki dan bisa juga perempuan. Hal yang sama juga berlaku pada kata ‘zauj’ yang tidak secara otomatis berarti ‘istri’, karena juga bersifat netral yang berarti ‘pasangan’ bisa laki-laki maupun perempuan.  Lebih lanjut, menurut salah satu feminis lainnya, Amina Wadud, yang terpenting dalam memahami ayat ini bukanlah mengenai bagaimana proses penciptaan Hawa (perempuan), tetapi realitas yang diungkapkan Allah bahwa Hawa adalah pasangan bagi Adam. Menurut feminis muslim Amerika ini, pasangan berfungsi untuk saling melengkapi apa yang menjadi kekurangan pasangannya dan keduanya berada dalam posisi yang setara karena bagaimana mungkin dapat berperan sebagai pasangan jika salah satunya berada dalam posisi yang tidak setara.
Sedangkan ayat lainnya yang dijadikan ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan superioritas perempuan adalah:
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم… (النساء: ۳٤)

Ayat ini terutama dipakai oleh laki-laki untuk menghalangi perempuan tampil sebagai pemimpin karena dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap aturan Allah. Padahal sesungguhnya ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan seputar kepemimpinan dalam rumah tangga dan hanya dikhususkan untuk masalah ini saja. Lebih lanjut, menurut Muhammad Abduh, ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memperkenan perempuan menjadi pemimpin karena kepemimpinan bukanlah monopoli mutlak laki-laki. Pembaharu Islam di Mesir menyatakan dalam ayat di atas Allah hanya menyebutkan ‘bimā fadhdhalallah ba’dhahum ‘alā ba’dh’ yang berarti : ‘oleh karena Allah telah memberikan kelebihan di antara mereka di atas sebagian yang lain’ dan bukan dengan ungkapan ‘mā fadhdhalahum bihinna’ atau ‘bitafdhīlahum ‘alaihinna’ yang berarti: oleh karena Allah telah memberikan kelebihan kepada laki-laki. Di samping itu, ayat ini tidak mempelakukan perempuan layaknya yang dipahami oleh banyak kalangan muslim, tetapi disesuaikan konteks turunnya ayat ini di kala itu. Pada saat ayat ini turun, kondisi perempuan saat itu hanya terbatas pada aktivitas di dalam rumah dan laki-lakilah yang menafkahinya sehingga laki-laki berada dalam posisi yang kuat. Namun demikian, karena al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa suatu struktur sosial itu normatif, maka ketika ia berubah dimana perempuan mampu berperan layaknya yang dilakukan laki-laki maka perempuan pun dapat berdiri sejajar dengan laki-laki.
Sedangkan Hadits yang dipahami sebagai ‘penguat’ posisi subordinat perempuan dan dianggap sebagai hadits missogini di antaranya adalah dua hadits berikut ini:
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا معشر النساء تصدقن واكثرن الإستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار فقالت امرأة منهن جزلة وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار قال تكثرن اللعن وتكفرن العشير وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن قالت يا رسول الله وما نقصان العقل والدين قال أما نقصان العقل فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل وتمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين.

Sedangkan Hadits ‘missogini’ kedua adalah sebuah hadits yang berasal dari Abu Bakrah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi. Adapun terjemahan dari hadits dimaksud adalah: “Diriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata: Allah ‘Azza wa Jalla memeliharaku dengan sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah SAW tatkala Kisra Persia terbunuh. Rasulullah SAW bertanya: siapa yang mereka angkat sebagai penggantinya? Para sahabat menjawab: putrinya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan sukses suatu kaum bila mereka menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. Setelah ‘Aisyah datang, ke Basrah, aku teringat ucapan Rasulullah SAW tersebut, maka Allah memeliharaku denga sabda Nabi itu”.
Kedua hadits di atas, dan masih banyak hadits-hadits lainnya, dijadikan alat untuk menguatkan dominasi laki-laki atas perempuan karena bagi mereka hal ini memang sudah digariskan oleh Rasulullah. Titik terpenting ‘penguatan’ posisi subordinat perempuan pada hadits pertama terletak pada ‘nuqshān al-‘aql wa dīn’ yang berarti ‘lemah akal dan agama’, sedangkan pada hadits kedua terletak pada pemilihan perempuan sebagai pemimpin yang akan membawa pada kemunduran.
Para penganut budaya patriarkhi meyakini bahwa kelemahan utama perempuan adalah terletak pada akal pikiran yang mereka miliki. Padahal serangkaian penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa tidak perbedaan otak yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Hal ini berarti bahwa akal pikiran yang dimiliki perempuan sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki. Lalu bagaimana Nabi mengungkapkan bahwa perempuan adalah sosok yang memiliki kekurangan akal? Jawabannya adalah kondisi objektif perempuan saat itu hanya terbatas pada lingkungan rumah dan tidak mendapatkan keleluasaan dalam beraktivitas serta mendapatkan pengetahuan dan wawasan layaknya yang didapatkan laki-laki. Akibatnya, pengetahuan dan akal pikiran yang dimiliki perempuan saat itu jauh dan sangat kurang jika dibandingkan laki-laki. Namun demikian, jika merujuk pendapat Engineer bahwa Islam tidak menyatakan struktur sosial itu normatif, maka jika kondisi perempuan telah berubah yang ditunjukkan dengan beragam pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya maka secara otomatis apa yang disampaikan Rasulullah tersebut tidak berlaku lagi. Di samping itu, yang perlu juga dipahami bahwa banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka sebagaimana yang ada dalam hadits pertama di atas dimungkinkan terjadi karena memang populasi perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Artinya, sangat wajar jika penghuni neraka kelak didominasi oleh perempuan karena memang dari sisi kuantitatif jumlahnya memang lebih banyak dari pada laki-laki.
Berkaitan dengan hadits kedua, banyak kalangan menilai bahwa hadits ini sangat bersifat politis. Berdasarkan penelaahan yang dilakukan dua feminis muslim, Fatima Mernissi dan Amina Wadud Muhsin, hadits ini muncul ketika terjadi perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Aisyah bin Abi Bakar dan perawinya diketahui sebagai salah satu pendukung Ali dalam memegang kepemimpinan Islam yang sangat ditentang oleh salah satu istri Rasulullah ini. Dengan demikian, kedua feminis muslim ini meyakini bahwa kemunculan hadits ini dimaksudkan untuk menguatkan posisi Ali sebagai penguasa Islam saat itu dan sebaliknya, melemahkan posisi ‘Aisyah dan para pengikutnya yang menentang kepemimpinan sepupu dan menantu Rasulullah ini. Hadits ini juga dapat dipahami dari konteks situasi dan kondisi saat itu. Banyak kalangan menilai bahwa penggantian kepemimpinan Persia oleh putrinya saat itu memang tidak tepat, karena di samping masih muda, putri Kisra tersebut juga sangat minim pengalaman dan pengetahuan pengelolaan negara. Dengan demikian dapat dipahami kalau Rasulullah mengatakan bahwa kepemimpinan di Persia akan mengalami kemunduran karena kebetulan penggantinya sangat minim pengalaman dan pengetahuan. Titik lemahnya kepemimpinan dalam suatu negara bukan terletak pada jenis kelaminnya, tetapi sesungguhnya terletak pada kepiawaian dan pengetahuan yang dimilikinya dan kebetulan belaka pada saat itu yang terjadi di Persia adalah kepemimpinan perempuan.

Akibat Terhadap Budaya dan Sastra
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa secara tegas Islam meletakkan perempuan berada dalam posisi yang setara dengan laki-laki. Terdapat banyak ayat dan hadist dapat dijadikan penguat dan pendukung hal ini. Namun demikian, ternyata apa yang ditegaskan Islam terjadi sebaliknya dalam masyarakat Islam, dimana perempuan menempati posisi yang rendah dibandingkan laki-laki. Kondisi ini dapat terjadi di samping faktor kesalahan pemahaman atas teks-teks keagamaan, juga karena pengaruh kondisi sosial-budaya pra-Islam yang mengiringi perjalanan sejarah perkembangan agama ini, khusus Yahudi dan Kristen. Beragam kisah-kisah Israiliyyat tidak jarang dijadikan rujukan oleh para penafsir al-Qur’an untuk menerangkan teks-teks keagamaan Islam, baik al-Qur’an maupun Hadits. Hal ini misalnya mengemuka dalam penafsiran awal kejadian manusia, dimana Hawa dikatakan diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menerangkan pengertian Surat an-Nisā’ ayat 1 sebagaimana di atas.
Pemahaman atas teks-teks keagamaan ini kemudian berimplikasi pada produk budaya dan sastra yang dihasilkan oleh masyarakat Islam. Karena perempuan diyakini sebagai ‘the second sex’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir, maka dalam masyarakat Islam berkembang budaya yang menempatkan perempuan hanya berada dalam wilayah domestik, sedangkan laki-laki berperan aktif pada kawasan publik. Perempuan harus selalu berada dalam penguasaan dan bimbingan laki-laki, tidak diperkenankan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Dewasa ini pun masih ada masyarakat Islam yang menganggap perempuan tidak layak menimba ilmu pengatahuan di berbagai lembaga pendidikan karena kelak juga akan kembali ke urusan domestik. Kondisi ini membuat mengemukanya ungkapan bahwa perempuan hanya untuk melakukan tiga hal, yaitu dapur untuk memasak, sumur untuk mencuci berbagai perlengkapan rumah tangga dan kasur untuk melayani kebutuhan seksual suaminya.
Sementara itu, pemahaman teks-teks keagamaan mengenai juga berimplikasi terhadap sastra dan karya sastra yang dihasilkannya. Karena perempuan distereotipekan sebagai ‘the other’ sebagaimana menurut Simone de Beauvoir, maka gambaran-gambaran yang diperlihatkan dalam karya-karya sastra adalah kondisi-kondisi keterpurukannya. Karya-karya sastra seringkali menampilkan sosok-sosok perempuan yang sangat tergantung dengan uluran tangan laki-laki layaknya ‘cinderella complex’ sebagaimana yang diungkapkan para feminis, berperan sebagai pembantu rumah tangga, istri yang sangat ‘patuh’ terhadap apa pun yang diinginkan dan diperintahkan oleh suaminya, anak perempuan yang sejak kecil dididik menjadi pengurus rumah tangga dengan mengajari memasak, merawat bayi, menjahit dan merawat suaminya kelak. Hal ini misalnya dapat dijumpai dalam novel ‘sambal bawang dan terasi’ karya Darmanto Jatman yang menggambarkan perempuan (Isah) sebagai figur dapur, Pramoedya Ananta Toer dalam ‘yang hilang’ yang mengetengahkan gambaran perempuan yang tetap dalam nasib-nasib domestiknya dan lain sebagainya. Dari contoh-contoh di atas dapat dikatakan bahwa dalam sastra (baca: karya-karya sastra) hasil pemahaman teks-teks keagamaan, perempuan ‘hanya’ sebagai objek yang memiliki sifat-sifat ‘baik’ untuk kepentingan laki-laki dan minus bagi pencitraannya.

Yogyakarta, ditengah ‘serbuan’ Merapi 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Engineer, Asghar Ali. 1999. Islam dan Teologi Pembebasan. Alih Bahasa oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
El-Saadawi, Nawal. 2001. Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi. Aliha Bahasa oleh Zulhilmiyasri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ilyas, Yunahar. 2002. ‘Problem Kepemimpinan Perempuan Dalam al-Qur’an: Tinjauan Tafsir al-Qur’an’, dalam Jurnal Tarjih, Edisi Ketiga, Januari 2002.
Mernissi, Fatima. dan Riffat Hassan. 1995. Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-laki dan Perempuan Dalam Tradisi Islam Pasca Patriarkhi. Alih Bahasa: Tim LSPPA. Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa.
Muhsin, Amina Wadud. 1994. Wanita di Dalam al-Qur’an, Alih Bahasa oleh Yaziar Radianti. Bandung: Pustaka.
Mernissi, Fatima. 1994. Wanita di Dalam Islam. Bandung: Pustaka.
Umar, Nasaruddin. 2010. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Dian Rakyat

Memahami Sufisme Islam

Oleh: Pahrudin HM, MA

Pengantar

Dunia Timur yang telah lama menjadi perhatian banyak kalangan memang menarik untuk ditelaah dan dilakukan kajian terhadapnya. Di samping menjadi kawasan yang asing dan baru bagi banyak kalangan pengkaji yang kemudian dikenal dengan orientalis,[1] dunia Timur memang memunculkan banyak dinamika dalam masyarakatnya yang kemudian menciptakan semacam blok-blok atau kelompok-kelompok yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena kawasan ini merupakan tempat lahir dan tumbuhnya beragam agama dan aliran yang hingga saat ini ada dalam masyarakat di seluruh dunia. Agama Islam, Kristen, Hindu dan Buddha dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya tumbuh dan berkembang di wilayah ini.

Salah satu agama besar dunia dengan segala dinamikanya yang sangat menarik perhatian adalah Islam yang lahir dan berkembang pesat di kawasan ini. Sejarah perkembangan Islam mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW sebagai pemberi penjelasan atas beragam problem yang mengiringi masyarakat berdasarkan pengetahuan wahyunya wafat dan dilanjutkan dengan era para sahabatnya yang terkemuka (khulafā’ ar-rāsyidūn) maka mulai terjadi berbagai perselisihan di kalangan komunitas muslim. Pada awalnya, di masa tiga kepemimpinan sahabat (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan) perselisihan yang melibatkan beragam komponen dalam masyarakat Islam belum atau tidak muncul ke permukaan, kecuali masalah politik di masa Usman. Namun demikian, perselisihan di kalangan komunitas muslim yang telah sekian lama dibina oleh Nabi Muhammad baru muncul ke permukaan di masa Ali. Pada masa kepemimpinan keempat dalam periode khulafā’ ar-rāsyidūn ini banyak timbul perselisihan yang melibatkan banyak kalangan dalam masyarakat Islam. Persoalan yang mengemuka di permukaan tidak hanya pada aspek politik yang memang telah mengemuka di masa Usman, tetapi telah menjalar pada aspek-aspek lainnya yang belum ada sebelumnya, seperti tauhid, aqidah dan lain sebagainya.

Sejarah pemikiran Islam kemudian mencatat bagaimana terus mengemuka dan terjadinya perselisihan dan pertentangan antara dua kelompok dalam masyarakat Islam. Satu kalangan yang menamakan diri mereka sebagai penegak syariah yang dimotori oleh kelompok ahlus sunnah wal jamaah dan kelompok sufisme di kalangan lain yang dianggap bertentang dengan kelompok pertama. Pertentangan yang melibatkan kedua kelompok terus berlangsung, baik pada tataran perdebatan dalam beragam forum diskusi maupun melalui beragam buku yang mereka tulis. Intensitas perselisihan yang makin meruncing di antara keduanya bahkan tidak jarang memakan korban jiwa, seperti yang dialami oleh al-Hallāj dan al-Suhrawardi. Tokoh sufisme al-Hallāj menemui ajalnya di tangan algojo penguasa saat itu atas desakan kelompok syariah karena paham hulūl-nya yang dianggap sesat dan membahayakan aqidah umat Islam, begitu juga dengan al-Suhrawardi yang pemikirannya dianggap sesat karena merupakan manifestasi ajaran Zoroaster dan kritikan kerasnya kepada ulama fiqih.[2] Tokoh sufisme lainnya yang juga turut mendapatkan dampak negatif dari mengemukanya perselisihan dan pertentangan antara kedua kelompok ini adalah Ibnu al-‘Arabi. Dengan mengusung pemikiran wahdah al-wujūd yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, Ibnu al-‘Arabi memang tidak sampai dihukum mati seperti tokoh-tokoh lainnya tetapi ia mendapat cercaan, hinaan dan makian dari pihak-pihak yang menganggapnya sesat.

Dalam tulisan ini, penulis memang sengaja menggunakan kata ‘sufisme’ seperti umumnya yang dipakai para orientalis untuk menyebutkan aspek mistisisme yang ada dalam Islam dan kata ini, menurut Nasution,[3] hanya khusus digunakan pada Islam.

Pengertian Sufisme

Untuk mengetahui sesuatu yang ingin diketahui, tidak lengkap rasanya jika tidak mengetahui terlebih dahulu pengertian yang dipahami oleh beberapa kalangan mengenai sesuatu tersebut. Dalam konteks ini pula penulis akan memaparkan terlebih dahulu pengertian yang biasa dipahami oleh orang-orang mengenai sufisme atau aspek mistisisme yang ada dalam Islam menurut pandangan mereka.

Pengertian pertama memahami sufisme sebagai suatu cara yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana mensucikan diri manusia, menjernihkan tingkah lakunya, dan membangun aspek lahir dan batinnya agar kemudian berujung pada pencapaian kebahagiaan yang abadi.[4] Sementara pengertian kedua memaknai sufisme sebagai salah satu dimensi dari beragam dimensi keagamaan dalam Islam yang dimaksudkan untuk menyelami relung terdalam dalam aspek religiusitas keislaman.[5] Sedangkan pengertian ketiga lebih melihat eksistensi sufisme pada tujuannya, yaitu untuk memperoleh hubungan langsung (direct relation) dan secara sadar dengan Tuhan sehingga dengan demikian intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi.[6] Pengertian keempat memaknai sufisme sebagai paham mistik dalam Islam sebagaimana Taoisme yang ada di Tiongkok dan Yoga di India dan yang terakhir, sufisme dipahami sebagai aliran kerohanian mistik yang ada dalam Islam.[7]

Sementara itu, seperti halnya pengertian sufisme yang mengalami perbedaan, pemahaman mengenai asal mula penamaan tasawuf yang merupakan nama lain dari sufisme juga terjadi perbedaan di kalangan para ahli. Menurut Nasution, penamaan tasawuf untuk menyebut aspek mistisisme dalam Islam berasal dari kata shūfi yang digunakan pertama kali oleh seorang asketik (zāhid) bernama Abū Hāsyim al-Khūfi di Irak.[8] Di lain pihak ada yang menyebutkan bahwa penamaan tasawuf tersebut berkaitan dengan pakaian yang digunakan oleh para pelakunya (zāhid) yang menunjukkan pada kesederhanaan, yaitu berupa wol kasar yang dalam bahasa Arab disebut dengan shūf.[9] Sedangkan di sisi lain ada yang mengatakan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Islam dengan sufisme karena merujuk pada suatu kelompok masyarakat miskin yang ada di Madinah di masa Nabi Muhammad. Orang-orang miskin ini tinggal di emperan Masjid Nabawi yang kemudian oleh para sahabat dikenal sebagai ahlu as-suffah. Selain itu, sebagian pihak menganggap bahwa penamaan tasawuf berasal dari kata shaf pertama dalam shalat berjamaah yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam ajaran Islam sebagaimana juga dengan tasawuf (sufisme) yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Namun demikian, jika pendapat-pendapat di atas melihat bahwa penamaan tasawuf bersumber dari dalam Islam sendiri, maka ada juga pihak lain yang menganggap bahwa penamaan tersebut berasal dari luar Islam. Kalangan ini beranggapan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Isla dengan sufisme atau tasawuf merupakan aktualisasi dari terjadinya persentuhan antara Islam dengan budaya Yunani. Sebagaimana diketahui bahwa setelah Islam tersebar luas hingga mencapai kawasan-kawasan luar Arab, terjadi persentuhan dan persinggungan dengan budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat wilayah tersebut. Salah satu persentuhan tersebut adalah dengan budaya Yunani yang memang diyakini memiliki sisi filosofis yang agung dan tinggi. Dengan demikian, menurut keyakinan para pengusung pemikiran ini, sufisme atau tasawuf berasal dari kata sophos (hikmat) yang kemudian ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi s bukan shad.[10]

Sejarah Sufisme

Untuk melacak asal mula sufisme secara pasti terdapat hambatan dan kesulitan yang menghadang para ahli untuk melakukannya. Hambatan yang mengemuka terutama berkaitan dengan ketiadaan tulisan atau informasi masa lalu yang secara pasti dan jelas mengungkapkannya. Namun demikian, beberapa pihak mencoba memaparkan sejumlah teori yang diharapkan dapat menjawab sejumlah pertanyaan mengenai asal mula adanya sufisme dalam Islam yang terus menggelayut dalam benak banyak ahli. Jika dirunut secara berurutan, setidaknya terdapat lima pendapat yang diketengahkan berkaitan dengan sejarah sufisme dalam Islam.

Pertama,[11] sejarah sufisme dalam Islam berawal dari keterpengaruhan Islam terhadap Kristen yang telah ditaklukkan di wilayah-wilayah sebelumnya menjadi basis agama yang juga disebut Nasrani tersebut, seperti Syiria, Mesir dan Palestina. Menurut pengusung pendapat ini, Margareth Smith, agama Kristen memiliki ajaran yang menganjurkan para pemeluknya untuk menjauhi kehidupan dunia dengan cara mengasingkan diri dalam biara-biara. Ajaran inilah yang kemudian diadopsi oleh oleh apa yang kemudian dikenal dengan sufisme yang kala itu masih miskin dengan ajaran-ajaran dan dijadikan salah satu media yang digunakan seorang penganut sufisme dalam menjalankan aktivitasnya.

Kedua, asal mula sufisme karena pengaruh dari filsafat mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia adalah kekal dan berada di dunia sebagai roh orang asing. Roh terpenjara dalam badan jasmani dan untuk memperoleh kesenangan hidup, maka manusia harus mensucikan roh dengan meninggalkan hidup materi melalui sarana zuhd dan dilanjutkan dengan kontemplasi. Ketiga, adanya sufisme karena filsafat emanasi Plotimus yang mengatakan bahwa wujud yang ada ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa dan roh berasal dari dan akan kembali kepada-Nya. Di saat materi memasuki roh, maka ia menjadi kotor dan sebelum kembali kepada pemiliknya maka harus dibersihkan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan serta bersatu dengan-Nya. Keempat, kemunculan sufisme karena ajaran Buddha dengan ajaran nirwananya atau surga dalam literatur agama samawi. Menurut salah satu ajaran inti Buddha ini, jika seseorang ingin mencapai nirwana maka ia harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, kemunculan sufisme dalam Islam karena dipengaruhi oleh Hindu berupa ajaran Upanishad dan Vedanta yang mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan dengan Atman dengan Brahman.[12]

Inilah kelima teori yang dikemukakan oleh sejumlah ahli untuk menjawab kegelisahan mengenai asal mula timbulnya sufisme. Namun demikian jika diperhatikan, kelima teori yang dipaparkan di atas mengatakan bahwa kemunculan sufisme dalam Islam karena pengaruh dari luar Islam, seperti Kristen; filsafat mistik Pytagoras; filsafat emanasi Plotimus; ajaran Nirwana Buddha; dan ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu. Apakah memang demikian?. Apakah dalam Islam tidak memiliki ajaran yang mengajak pemeluknya untuk melakukan hal-hal seperti yang ada dalam ajaran sufisme?. Pertanyaan ini penting dilakukan kajian karena sebagai agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dari persoalan-persoalan yang kecil hingga masalah-masalah yang besar serta dunia dan akhirat, sangat tidak mungkin tidak memiliki secuil saja ajaran atau anjuran sebagaimana yang ada dalam ajaran yang diusung oleh sufisme.

Jika dicermati secara mendetail dan seksama, sebenarnya ajaran-ajaran Islam memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan eksistensi sufisme. Melalui beberapa ayat dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dua tuntunan utama setiap muslim dalam menjalani kehidupannya akan tampak bahwa Islam memiliki ajaran tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi ajaran dari sufisme. Dari al-Qur’an akan dicontohkan tiga ayat yang dapat dipahami dan dimaknai sebagai ajaran inti dari sufisme, yaitu:

1. Q.s. al-Baqarah, 186 :

وإذا سألك عبادى عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالي وليؤمنوابي لعلهم يرشدون

Dari ayat ini menyiratkan suatu pemahaman bahwa manusia sebagai salah satu makhluknya adalah sangat dekat dengan Tuhan sebagai penciptanya.

2. Q.s. al-Baqarah, 115 :

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجـه الله إن الله واسع عليـم

Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Tuhan sebagai penguasa alam semesta ini berada dan dapat dijumpai di mana saja.

3. Q.s. Qāf, 16 :

ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسـه ونحن أقرب إليه من حبل الوريـد

Ayat ini mengungkapkan bahwa Tuhan itu sebenarnya ada dalam diri manusia dan bukan berada di luarnya.

4. Q.s. al-Anfāl, 17 :

فلم تقتـلوهم ولكن الله قتلهـم ومـا رميت إذ رميت ولكن الله رمى …

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia dan Tuhan dapat mengalami penyatuan dalam satu tubuh.

Sedangkan ajaran Islam yang bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan sufisme, yaitu : “Orang yang mengetahui dirinya, maka ialah orang yang mengetahui Tuhannya” dan sebuah hadits Qudsi :

كنت كنذا مخفيـا فأحببت أن أعرف فخـلقت الخـلق فبي عرفـواني

“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan melalui Aku mereka mengenal Aku”.


[1] Ulasan lebih lanjut dan lengkap mengenai hal ini dapat ditemukan dalam : Edward W. Said, Orientalisme, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2001).

[2] Kautsar Azhari Noer, Mengkaji Ulang Posisi al-Ghazali Dalam Sejarah Tasawuf, dalam Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, (Jakarta: Volume I, No. 2, Tahun 1999), hlm. 173-174.

[3] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), hlm. 56.

[4] “Sufisme” dalam www.wikipediaindonesia.com. Akses akhir 2009.

[5] Muhammad Ibrahim al-Fayumi, Ibnul ‘Arabi Dalam Sorotan, Menyingkap Kode dan Menguak Simbol, dalam http://www.amuli.wordpress.com.

[6] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, … hlm. 56.

[7] Sufisme sebagaimana menurut GBJ Hiltermann dan Van De Woestijne serta Van Haeringen dalam http://www.wikipediaindonesia.com.

[8] Ibid,- hlm. 56-57.

[9] “Sufisme” dalam www.wikipediaindonesia.com dan dalam Harun Nasution,…, hlm. 57

[10] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, …, hlm. 57.

[11] Ibid, hlm. 58.

[12] Samsuddin Arif, Manipulasi Dalam Kajian Tentang Sufisme, Telaah Utama Islamia, Vol. III, No. 1, 2006, hlm. 24.