Tag Archives: sastra mesir

Sejarah Peradaban Mesir Kuno

Oleh: Pahrudin HM, M.A. & Khomisah, M.A.

Peradaban Mesir Kuno berawal dari pemukiman penduduk di sepanjang Sungai Nil yang berasal dari suku-suku nomaden Gurun Sahara Afrika sekitar 10.000 tahun yang lalu. Telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama akhirnya pemukiman penduduk ini terus bertambah dan berkembang menjadi kota-kota yang masing-masing berdiri sendiri. Kondisi ini terus berlangsung seiring dengan perkembangan pertanian yang dilakukan orang-orang di lahan-lahan subur yang dibasahi air di sepanjang aliran sungai Nil. Selanjutnya, pemukiman-pemukiman tersebut membentuk menjadi wilayah-wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri-sendiri. Pada masa ini di Mesir berdiri dua kerajaan yang masing-masing berdaulat atas wilayahnya masing-masing, yaitu Kerajaan Mesir Hilir (Upper Egypt) yang berpusat di Memphis dan Kerajaan Mesir Hulu (Lower Egypt) yang berpusat di Thebes. Kondisi seperti ini terus berlangsung sampai kemudian seorang yang bernama Meni (atau ‘Menes’ dalam literatur Yunani dan dikenal juga dengan ‘Namer’ dalam literatur lainnya) mempersatukannya pada tahun 3100 SM sehingga sejak saat itu Mesir hanya memiliki satu kerajaan saja dan para penguasanya bergelar Fir’aun atau Pharaoh .

Para ahli membagi sejarah Mesir Kuno menjadi tiga periode, yaitu: Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru. Kerajaan Lama (old kingdom) memiliki enam dinasti, mulai Dinasti I sampai Dinasti VI dan berlangsung dalam rentang waktu tahun 3100-2181 SM. Kerajaan Pertengahan (middle kingdom) memiliki sebelas dinasti, mulai Dinasti VII sampai Dinasti XVII dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 2181-1550 SM. Sedangkan Kerajaan Baru (new kingdom) mempunyai tiga belas dinasti, mulai Dinasti XVIII sampai Dinasti XXX dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 1550-343 SM.  Dengan demikian, kerajaan Mesir Kuno secara keseluruhan memiliki tiga puluh dinasti yang secara silih berganti memerintah negeri yang identik dengan Sungai Nil ini.

Naiknya Menes (3100 SM) sebagai penguasa yang bergelar Fir’aun pertama dan mendirikan pusat pemerintahan di Memphis menandai dimulainya masa Kerajaan Lama. Sedangkan akhir dari masa Kerajaan Lama adalah runtuhnya Dinasti VI di masa pemerintahan Fir’aun Nitocris (2184-2181 SM). Penguasa keenam dari Dinasti VI ini tidak lagi mampu membiayai pemerintahan terpusat yang besar akibat perekonomian yang merosot karena panen yang gagal di tengah kemarau panjang yang terjadi antara tahun 2200 hingga 2150 SM. Masa ini ditandai dengan terjadinya kelaparan di seluruh negeri akibat panen beragam produk pertanian masyarakat gagal. Masa ini juga ditandai dengan semakin memudar dan berkurangnya kekuatan Fir’aun, dan sebaliknya  para gubernur regional (nomark) mulai menampakkan penentangannya terhadap kekuatan Fir’aun.

Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Kerajaan Lama, muncul Kerajaan Pertengahan (2181-1550 SM) yang ditandai dengan terpecahnya kembali Mesir menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Para gubernur lokal (nomark) yang sukses melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Lama memproklamirkan kekuasaannya di wilayah mereka masing-masing. Keluarga Intef yang merupakan gubernur wilayah Thebes di masa Kerajaan Lama, misalnya, memproklamasikan kekuasaannya atas kawasan Hulu Mesir dan mendirikan Dinasti XI. Begitu pula dengan keluarga Montuhotep yang di masa Kerajaan Lama menjadi gubernur daerah Memphis juga mengangkat dirinya sebagai penguasa wilayah Hilir Mesir. Pada tahun 1985 SM, Mesir kembali bersatu dalam sebuah kerajaan pada masa Amenemhat I (1985-1955 SM). Fir’aun pertama dalam Dinasti XII ini berhasil mengalahkan keluarga Intef dan keluarga Montuhotep yang menguasai kawasan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Masa ini ditandai dengan pemindahan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum. Pada masa Fir’aun keenam dari Dinasti XII, Amenemhat III (1855-1808 SM), orang-orang Asia mulai didatangkan untuk mengerjakan berbagai proyek kerajaan. Para pekerja dari Asia ini ditempatkan di kawasan delta, dekat dengan pusat kerajaan. Akan tetapi, beragam proyek ambisius kerajaan tersebut ternyata justru semakin membebani keuangan kerajaan. Implikasinya adalah terjadinya kemunduran ekonomi yang berujung pada semakin keroposnya kekuatan kerajaan. Karena kerajaan yang semakin melemah dan akhirnya hancur pada tahun 1795 SM, para pendatang Asia ini mulai menguasai Avaris di wilayah delta dan selanjutnya menguasai wilayah yang ditinggalkan Dinasti XII. Sejak tahun 1795 SM, Mesir mulai dikuasai oleh kekuatan asing dalam wujud para pendatang Asia yang kemudian dikenal sebagai bangsa Hyksos dan mendirikan Dinasti XIII sampai Dinasti XVI atau sampai tahun 1555 SM dengan para penguasanya yang terkenal, yaitu Salitis (Fir’aun Pertama dari Dinasti XV), Khyan (Fir’aun Kedua dari Dinasti XV), Apepi (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVI) dan Khamudi yang merupakan Fir’aun Kedua dari Dinasti XVI.

Sebagai negeri yang memiliki sejarah besar di masa lalu, orang-orang Mesir tentu tidak tinggal diam dengan kekuasaan bangsa Hyksos di tanah mereka. Sisa-sisa kekuatan dari kerajaan sebelumnya mulai melakukan konsolidasi untuk menentang kekuasaan bangsa Hyksos atas Mesir. Secara berlahan, sisa-sisa kekuatan masa lalu tersebut mulai mampu menguasai wilayah-wilayah tertentu dari dominasi Hyksos seperti yang berhasil ditunjukkan oleh anak keturunan Intef dengan menguasai Thebes pada tahun 1555 SM. Kesuksesan ini seakan menginspirasi sisa-sisa kekuatan lainnya untuk merebut kekuasaan dari tangan bangsa Hyksos seperti Seqenenre Taa II (Fir’aun Kedua dari Dinasti XVII) dan Kamose (Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVII) hanya berselang beberapa tahun setelah Intef. Kekuasaan bangsa Hyksos yang berasal dari Asia ini atas Mesir akhirnya benar-benar berakhir pada tahun 1550 SM seiring dengan munculnya masa Kerajaan Baru (New Kingdom) yang ditandainya dengan tampilnya Ahmose (Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII) yang berhasil mengalahkan Hyksos dan mengusirnya dari Mesir (Rosalie, 2001: 86). Dengan kalahnya Hyksos, Mesir kembali dipersatukan dalam kekuasaan kerajaan tunggal dengan dinasti yang silih berganti dimulai dari Dinasti XVIII (1550 SM) sampai Dinasti XXX (343 SM). Masa Kerajaan Baru merupakan masa terpanjang dalam sejarah Mesir Kuno dan mencatatkan beragam kemajuan dan perkembangan yang sangat signifikan bagi peradaban negeri ini. Kerajaan Baru memprioritaskan kekuatan militer agar dapat memperluas perbatasan wilayah kekuasaan yang tidak hanya mencakup Mesir, tetapi juga kawasan-kawasan lainnya yang ada di sekitar khususnya wilayah Timur Dekat.

Para Fir’aun yang berkuasa di beragam dinasti yang ada di Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan bagi rakyat Mesir yang tidak tertandingi jika dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Perbatasan kerajaan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I (1504-1492 SM) yang merupakan Fir’aun Ketiga dari Dinasti XVIII dan cucunya Tuthmosis III (1479-1425 SM) sebagai Fir’aun Kelima dari dinasti yang sama memperluas pengaruh kerajaan hingga ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Para penguasa Kerajaan Baru ini juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak.

Masa berikutnya adalah Dinasti XIX yang diawali dengan naiknya Ramses I (1295-1294 SM) sebagai Fir’aun Pertama ke tampuk kekuasaan Kerajaan Baru. Namun demikian, masa keemasan dinasti ini terjadi pada masa Ramses II (Fir’aun Ketiga) yang naik tahta pada tahun 1279 SM sampai tahun 1213 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada Fir’aun-Fir’aun lain dalam sejarah. Di masa kekuasaannya, wilayah kerajaan membentang luas dari Abu Simbel hingga ke laut Mediterania dan Mesir sangat disegani oleh negara-negara yang ada di sekitarnya. Sejarah juga mencatat bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan karena kebesaran dan luasnya kekuasaannya. Langkah Ramses II ini kelak dikuti oleh anaknya yang menggantikan posisinya, Merneptah (1213-1203 SM). Penguasa Keempat dari Dinasti XIX inilah yang diyakini oleh banyak kalangan sebagai Fir’aun yang ditenggelamkan oleh Tuhan di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa beserta kaumnya (Qs. Thāha [20]: 77, asy-Syu’arā’ [26]: 61-62, al-Baqarah [2]: 50, Yūnus [10]: 92).

Sepeninggal Ramses II, dapat dikatakan bahwa Mesir tidak lagi memiliki pemimpin yang mampu menorehkan catatan sejarah yang gemilang. Meskipun dinasti silih berganti, namun para Fir’aun yang memerintah tidak menghadirkan beragam kemajuan yang berarti bagi peradaban Mesir Kuno sebagaimana yang ditorehkan para pendahulunya, terutama Ramses II. Hasilnya, pada tahun 818-749 SM pada masa Dinasti XXIII Mesir kembali mengalami kemunduran dan perpecahan di kalangan para pemimpinnya. Kondisi yang tidak kondusif ini dimanfaatkan oleh kekuatan lain yang ada di sekitarnya untuk menguasai wilayah yang penting di Afrika ini. Sejak tahun 672-525 SM, Mesir dikuasai oleh bangsa Saite yang berasal dari Libya dengan membangun Dinasti XXVI, kemudian berlanjut dengan serbuan bangsa Persia dan mengambil alih kekuasaan di Mesir pada tahun 525-359 SM. Akhirnya masa Mesir Kuno benar-benar berakhir pada tahun 343 SM dan hanya menyisakan bekas-bekas kekuasaan serta peninggalan sejarahnya.

Peradaban Mesir di ketiga masa tersebut di atas mengalami perkembangan yang pesat. Sebagai negeri yang mengandalkan pertanian sebagai penyokong utama perekonomian kerajaan, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem pengaturan air Sungai Nil. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh Menes, pendiri kerajaan para Fir’aun sekaligus pemersatu Mesir, setelah melihat dampak negatif yang ditimbulkan akibat ‘pembanjiran’ Sungai Nil di setiap bulan April-Juli. Untuk menyokong sistem pengaturan air layaknya bendungan yang dikenal sekarang, orang-orang Mesir Kuno membangun kanal-kanal agar volume air yang besar tidak berkumpul pada satu tempat saja. Di samping itu, kanal-kanal yang berupa parit-parit ini juga berfungsi untuk mengalirkan air ke tempat-tempat lain yang dikehendaki. Dengan adanya bendungan dan kanal-kanal seperti sistem irigasi yang dikenal sekarang, pertanian Mesir Kuno meningkat signifikan dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Pada gilirannya, perekonomian kerajaan juga meningkat sehingga dapat membangun beragam proyek penting seperti kuil dan piramid yang dapat disaksikan sekarang.

Kemajuan ekonomi sebagai dampak ikutan dari pertanian yang berkembang signifikan membuat orang-orang Mesir Kuno mampu membangun proyek-proyek kolosal dan membuat karya-karya seni istimewa. Orang pertama yang mempelopori pembangunan karya-karya monumental adalah Djoser atau Zeser (2667-2648 SM) sehingga membuatnya dikenal sebagai The Creator of a Tradition. Fir’aun Kedua dari Dinasti III ini pertama kali mendirikan sebuah bangunan besar yang terbuat dari susunan batu-batu berbentuk bata serta mendirikan sebuah tower berbentuk persegi panjang di Abydos. Langkah ini terus dikembangkan oleh para Fir’aun setelahnya, seperti Dinasti IV yang membangun sebuah piramid raksasa di Giza dan juga Pepi I sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti VI yang mendirikan bangunan yang sama di dekat istananya. Begitu juga para Fir’aun di masa Kerajaan Baru, seperti Kuil Karnak di Luxor yang merupakan kompleks peribadatan dan menjadi bangunan termegah yang pernah dibangun oleh para Fir’aun. Kuil Karnak pertama kali dibangun pada masa Ahmose (1550-1525 SM) yang merupakan Fir’aun Pertama dari Dinasti XVIII atau dinasti pertama Kerajaan Baru dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Kuil yang menandai kebesaran para Fir’aun dinasti awal Kerajaan Baru ini sekarang hanya menyisakan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi serta patung-patung dalam beragam ukuran dan bentuk. Begitu juga dengan Kuil Abu Simbel di dekat perbatasan Sudan yang dibangun oleh Ramses II (1279-1213 SM) sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX.

Orang Mesir Kuno tidak hanya menghadirkan peradaban dari aspek fisik sebagaimana yang dikemukakan di atas, tetapi juga aspek lainnya seperti keagamaan misalnya. Sejak awal berdirinya kerajaan para Fir’aun, orang-orang Mesir Kuno sudah mengenal sistem kepercayaan yang dianut. Sebagai bentuk apresiasi mereka atas manfaat besar yang dihadirkan oleh matahari dan Sungai Nil (air), orang-orang Mesir Kuno mengenal tuhan (dewa) dalam wujud Osiris dan Isis. Osiris merupakan manifestasi dari matahari yang memberikan banyak manfaat bagi Mesir dengan menyinari dunia setiap datangnya siang, sedangkan Isis merupakan perwujudan dari Sungai Nil yang menghadirkan air dan tanah yang subur. Di samping dua sosok ini, orang Mesir Kuno juga mengenal objek sesembahan lain, yaitu Horus, anak dari pasangan Osiris dan Isis. Ketiga sosok yang disembah ini (Osiris-Isis-Horus) banyak menghiasi dinding-dinding piramid dan kuil yang dibangun oleh para Fir’aun di berbagai tempat di Mesir. Pada perkembangan selanjutnya, sistem kepercayaan orang Mesir Kuno juga mengalami perubahan. Hal ini terjadi ketika Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII naik tahta pada tahun 1352 SM. Anak dari Amenhotep III (1390-1352 SM) ini mengubah sistem  kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Mesir. Di masa-masa sebelumnya, sistem kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Mesir adalah menyembah banyak dewa, namun ketika Amenhotep III berkuasa ia melakukan reformasi keagamaan yang radikal dan dianggap menyesatkan oleh para penentangnya. Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII ini hanya mengakui satu dewa, yaitu Dewa Pencipta Matahari (Aten) dan mengubah namanya menjadi Akhenaten. Di samping itu, Akhenaten juga memindahkan ibukota kerajaan ke suatu tempat yang baru bernama Akhetaten. Meskipun demikian, sepeninggal Amenhotep IV para penggantinya selanjutnya dari Dinasti XVIII (Tutankhamun, Ay dan Horemheb) kembali kepada sistem kepercayaan sebelumnya dan meninggalkan sama sekali kepercayaan satu dewa yang diusung Akhenaten ini.

Peninggalan sejarah lainnya dari Mesir Kuno adalah tatacara pemakaman orang mati atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘mumi’. Orang Mesir Kuno mempertahankan seperanngkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh orang mati di alam berikutnya. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan Dinasti IV, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik. Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar yang telah dicat. Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal bagi yang mati juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama orang yang meninggal tersebut.

Bidang sastra juga mengalami perkembangan yang signifikan di masa Mesir Kuno. Pada awalnya, sastra yang berupa bait-bait puisi hanya digunakan untuk menghias dekorasi kuil atau istana pada Fir’aun yang dikombinasikan dengan gaya arsitektur yang ada saat itu. Tema yang digunakan adalah penggambaran tentang keadaan alam yang ada di sekitarnya, seperti ikan, binatang dan lain sebagainya. Kemudian sastra berkembang menjadi sarana untuk memuji dewa yang dikenal dalam sistem kepercayaan masyarakat Mesir saat itu. Bait-bait puisi pujian terhadap dewa ini dipahatkan di dinding piramid dan ditulis di atas batu. Pada saat Mesir Kuno memasuki masa Kerajaan Pertengahan, sastra berkembang menjadi sarana revolusi sosial dan dimulainya penggunaan daun papirus sebagai media tulisnya. Di masa ini, muncul beragam karya sastra, seperti Teachings for King Merikara, The Satire of the Trades, The Tale of the Peasant dan Hymns to Aten yang mengetengahkan gambaran mengenai keadaan politik, sosial dan keagamaan saat itu. Pada masa Kerajaan Baru, sastra berkembang menjadi sarana pengungkapan cinta kepada seseorang yang dicintai, seperti Songs to Gladden The Heart yang berisikan pujian seorang laki-laki terhadap perempuan kekasihnya.

Seperti halnya laki-laki, perempuan Mesir Kuno berada dalam posisi yang sama dan memiliki kesempatan yang sama pula untuk berkiprah. Kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Mesir Kuno ini diyakini sebagai pandangan yang tertua dalam peradaban manusia berkaitan dengan hubungan antara kedua jenis kelamin ini. Hal ini misalnya mengemuka dalam konsepsi orang Mesir Kuno mengenai Osiris dan Isis yang mereka yakini sebagai tuhan atau dewa yang disembah. Berdasarkan jenis kelamin, Osiris adalah Dewa Matahari yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Isis adalah Dewa Nil yang berjenis kelamin kelamin perempuan. Osiris dan Isis, dalam konsepsi orang Mesir Kuno, saling berbagi kekuasaan dalam memerintah alam semesta dan masing-masing bertugas sesuai dengan tanggung jawab yang diembannya. Osiris bertugas dan bertanggungjawab untuk menyinari bumi di saat bumi memasuki waktu siang, sedangkan Isis bertugas membasahi dan menyuburkan lahan-lahan pertanian dengan airnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejak dahulu orang Mesir Kuno sudah meyakini bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara dan masing-masing berkesempatan yang sama untuk memainkan peranan yang dikehendakinya.  Di samping itu, orang Mesir Kuno juga memandang siapa pun sama di mata hukum, tidak jadi soal apakah dia perempuan ataukah laki-laki dan berasal dari kelas sosial apa pun (kecuali budak) akan diperlakukan secara baik dan adil. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang sama untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian.

Pandangan positif masyarakat Mesir Kuno terhadap perempuan dapat dilihat dan disaksikan melalui beragam peninggalan sejarah dari peradaban tinggi yang pernah mereka hasilkan. Melalui pahatan-pahatan di dinding berbagai gua dan kuil yang mengungkapkan beragam peristiwa yang pernah terjadi di masa Mesir Kuno terlihat bahwa perempuan digambarkan dalam ukuran yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga dapat bekerja di pabrik sebagai pemintal benang, menganyam, membuat permadani, berdagang di pasar dan bersama-sama dengan suaminya berburu binatang. Di halaman depan Kuil Karnak yang merupakan salah satu peninggalan sejarah Mesir Kuno, terdapat prasasti yang dipersembahkan secara khusus untuk seorang kepala dokter perempuan (Bhisist) yang menghukum salah seorang suami yang mencela suaminya dengan smasatus kali cambukan serta dihapuskan dari daftar penerima harta warisan. Citra positif lainnya terhadap perempuan adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk mengikuti berbagai perlombaan olahraga tanpa dibatasi oleh aturan apapun yang dianggap menghambat kiprahnya.

Gambaran positif yang ada dalam masyarakat Mesir terhadap perempuan membuat sejarah negeri ini dihiasi oleh peranannya yang signifikan. Masa Kerajaan Pertengahan (2118-1550 SM) mencatatkan munculnya seorang Fir’aun perempuan bernama Sobekneferu yang memerintah Mesir pada tahun 1799-1795 SM. Meskipun memerintah Mesir dalam waktu yang singkat (sekitar empat tahun), namun Fir’aun Kedelapan dari Dinasti XII ini berdiri sejajar dengan para Fir’aun laki-laki lainnya dalam memerintah Mesir saat itu.

Seperti halnya di masa Kerajaan Pertengahan, perempuan di masa Kerajaan Baru juga dicitrakan secara positif oleh masyarakat. Hal ini mengemuka dengan hadirnya Fir’aun perempuan lainnya mengikuti kesuksesan Sobekneferu sebelumnya. Masa Kerajaan Baru mencatatkan seorang tokoh perempuan yang menjadi penguasa sebuah kerajaan besar di masanya. Ialah seorang Fir’aun Keenam dari Dinasti XVIII bernama Hatshepsut (1473-1458 SM) yang berperan besar dalam menghadirkan kemakmuran bagi rakyat Mesir melalui perdagangan getah Arab (myrrh), damar dan kayu wangi dengan  Nubia dan Punt atau Somalia saat ini. Masa kekuasaan Fir’aun perempuan ini dikatakan sebagai salah satu masa keemasan dan kemakmuran yang pernah dirasakan rakyat Mesir di masa lampau. Di samping itu, Fir’aun perempuan dari Dinasti XVIII ini juga berhasil membangun kuil kamar mayat yang elegan, mendirikan pasangan tugu batu (obeliks) kolosal, dan sebuah kuil megah di Karnak.

Di samping sebagai ratu sebagai akibat dari citra positif yang disandangnya, perempuan di masa ini juga berperan penting dalam kesuksesan yang dicapai oleh para Fir’aun laki-laki. Salah satunya adalah Ratu Tiye (1370 SM) yang disebut sebagai The Queen As Diplomat karena peranan besarnya di balik kebesaran nama suaminya, Amenhotep III sebagai Fir’aun Kesembilan dari Dinasti XVIII. Begitu juga dengan Ratu Nefertiti (1345 SM) yang sukses menjadi mitra suaminya, Amenhotep IV sebagai Fir’aun Kesepuluh dari Dinasti XVII, dalam memimpin Mesir dan selalu disebut dalam catatan emas sejarah Mesir Kuno. Sama halnya juga dengan Ratu Nefertari (1270 SM) yang berhasil mendampingi Ramses II sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XIX dalam memimpin Mesir melalui pemikiran-pemikiran cerdasnya. Hal ini tentu hanya dapat dicapai berkat kecerdasan dan wawasan luas yang dimiliki perempuan Mesir di masa ini sehingga memunculkan para tokohnya yang berperan signifikan bagi masyarakat.

Pada tahun 343 SM, masa kekuasaan para Fir’aun di Mesir berakhir dengan tumbangnya Nectanebo II dari kekuasaannya sebagai Fir’aun Ketiga dari Dinasti XXX. Selang beberapa tahun kemudian, atau tepatnya tahun 332 SM, Alexander Yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia yang menguasai wilayah ini sejak tahun 522 SM. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah (Alexandria). Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan martabat kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah. Mercusuar Iskandariyah membantu navigasi kapal-kapal yang berdagang di kota tersebut, terutama setelah penguasa Dinasti Ptolemeus memberdayakan perdagangan dan usaha-usaha, seperti produksi papirus. Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir karena penguasa Dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai Fir’aun.

Seperti halnya di masa sebelumnya, perempuan Mesir di masa Dinasti Ptolemeus juga diyakini setara dan sejajar dengan laki-laki. Hal ini karena terjadinya penurunan polarisasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan bersamaan dengan menguatnya kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir. Pandangan positif mengenai perempuan di masa ini berakar pada pendapat Plato dalam bukunya, Republic, yang mengungkapkan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dapat berperan di ranah publik jika memiliki kualifikasi dan kemampuan. Pendapat ini mereduksi ketidaksetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan yang ada dalam masyarakat Yunani saat itu dan kemudian dijadikan pijakan kebijakan oleh Dinasti Ptolemeus yang memerintah Mesir sepeninggal Alexander Yang Agung.

Masa Dinasti Ptolemeus di Mesir atau yang biasa dikenal dengan Hellenistik berawal dari kematian Alexander The Great sampai dengan kematian Ratu Cleopatra VII.  Dinasti Ptolemeus yang menganggap perempuan setara dengan laki-laki memiliki banyak perempuan yang berkedudukan sebagai penguasa. Ratu Arsinoë II (316-270 SM) merupakan tokoh perempuan yang layak disejajarkan dengan dua perempuan sebelumnya, Sobekneferu dan Hatshepsut. Tokoh perempuan dari Dinasti Ptolemeus ini pernah memerintah Mesir selama 46 tahun dengan menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena kebesaran nama dan beragam kemajuan yang dicapai selama pemerintahannya maka ia dipuja bagai dewi semasa hidupnya, dan masih dihormati selama 200 tahun setelah kematiannya. Sebagai kepala negara, ia memimpin peperangan dengan beragam kekuatan yang ada saat itu bersama dengan pasukannya dan juga mengikuti serta memenangkan tiga pertandingan Olimpiade pada masanya untuk cabang berkuda.

Tokoh perempuan yang dikatakan sebagai puncak dari aktualisasi kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah Cleopatra VII Philopator. Ia adalah ratu Mesir yang memerintah negeri ini pada Januari 69 SM12 Agustus 30 SM dan anggota terakhir Dinasti Ptolemeus. Walaupun banyak ratu Mesir lain yang menggunakan namanya, ialah yang dikenal dengan nama Cleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Ia diangkat sebagai penguasa Mesir saat masih berusia 18 tahun untuk menggantikan posisi kakaknya, Cleopatra VI (Tryphaena), yang meninggal dunia setelah melanjutkan pemerintahan ibunya (Cleopatra V) yang digulingkan oleh ayahnya sendiri, Ptolemeus XII, selama dua tahun. Pada awalnya, Cleopatra memerintah Mesir bersama adik yang sekaligus juga suaminya, Ptolemeus XIII, yang saat itu masih berusia 12 tahun. Kedua penguasa ini memerintah Mesir hanya dalam beberapa tahun saja karena secara berlahan Cleopatra berhasil menyingkirkan Ptolemeus XIII. Cleopatra menghadapi berbagai permasalahan negara yang ada saat itu, seperti ekonomi, kelaparan, banjir Sungai Nil dan konflik politik serta yang kalah pentingnya adalah ancaman penyerbuan Romawi. Namun demikian, karena kepiawaian dan kecerdasannya, Ratu Cleopatra mampu menyelesaikan beragam permasalahan yang dihadapi Mesir di masa pemerintahannya tersebut. Cleopatra juga mampu mengatasi segala permasalahan tersebut yang berhasil membawa Mesir mempertahankan dirinya dari pengaruh luar, khususnya serbuan penguasa Romawi yang dipimpin oleh Caesar. Ia bahkan sangat piawai dalam melakukan negosiasi dan hubungan baik dengan dua orang kuat Romawi saat itu, Julius Caesar sebagai raja dan Mark Anthony sebagai panglima peranang. Meskipun pada tahun 30 SM Cleopatra harus mengakui kekuasaan Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) dalam Pertempuran Actium, namun beragam kelebihannya selama memerintah Mesir tetap dijadikan acuan dalam mengaktualisasikan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, khususnya di ranah publik.

Salah satu karya terbesar yang dihadirkan oleh Cleopatra bagi peradaban Mesir adalah pendirian kembali Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Anak Perempuan yang mengoleksi beragam literatur ilmu pengetahuan. Setelah sempat rusak akibat serbuan tentara Romawi, Cleopatra membangun kembali Perpustakaan Alexandria. Berdasarkan pengetahuan pengumpulan naskah (filologi) yang sudah ada saat itu, Cleopatra menghimpun kembali beragam literatur yang sempat hilang dan mengumpulkannya di Perpustakaan Iskandariyah. Perpustakaan ini mengoleksi tidak kurang dari 700.000 buku dan catatan ilmu pengetahuan, seperti Mesir Kuno dan karya-karya Ariestoteles serta ilmuan-ilmuan Yunani lainnya. Di samping sebagai tempat koleksi buku, Perpustakaan Alexandria juga menjadi tempat para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mengadakan diskusi dan kajian ilmiah. Sangat disayangkan perpustakaan ini dihancurkan dan buku-bukunya dibakar pada penyerbuan Romawi yang kedua pada tahun 389 M atas perintah Raja Theodosius.

Masa kekuasaan Dinasti Ptolemeus di Mesir berakhir dengan serbuan yang dilakukan oleh tentara Romawi pada tahun 30 SM setelah Oktavianus (Kaisar Romawi saat itu) berhasil mengalahkan Ratu Cleopatra VII dalam Pertempuran Actium. Penyerbuan ini didasarkan pada kebutuhan Romawi akan gandum dari Mesir dan beragam sumberdaya lainnya yang terdapat di negeri ini. Berbeda halnya dengan Yunani yang memperlakukan rakyat Mesir dengan baik, penguasa Romawi berlaku sangat kasar terhadap penduduk yang ada di negeri jajahannya ini. Meskipun demikian, masih terdapat aspek positif dari kekuasaan Romawi di Mesir yaitu tetap membiarkan beberapa tradisi setempat berkembang, seperti mumifikasi kepada orang mati dan pemujaan dewa-dewa.

Yogyakarta, 2011

Aliran Sastra Arab Modern di Mesir: Madrasah Diwan

Oleh: Pahrudin HM, M.A.

Pengantar
Bangsa Arab memang dikenal dengan kebiasaan mereka menggubah syair untuk mengekspresikan gejolak-gejolak hati mereka. Tradisi ini termotivasi oleh beberapa faktor di antaranya adalah lingkungan tempat tinggal mereka yang memang sangat mendukung dan juga karena bahasa mereka yang sesungguhnya juga sangat puitis. Dan yang tak kalah pentingnya adalah potensi sensitifitas ‘athifah yang tinggi yang mereka miliki sangat mendukung dalam melahirkan beragam karya sastra yang puitis dan menakjubkan.
Dalam perjalanan sejarahnya, sastra Arab tidak timbul sekaligus dalam bentuknya yang sempurna. Akan tetapi sastra Arab mengalami perkembangan-perkembangannya secara sedikit demi sedikit dengan adanya inovasi-inovasi dalam setiap fase perkembangan yang dilaluinya. Adapun fase sejarah perkembangan sastra Arab dibagi menjadi masa jahiliyah, masa shadr al-Islam, Abbasiyyah, Turki Usmani dan masa modern.
Dalam setiap periode perkembangan tersebut, sastra Arab mengalami inovasi yang membedakannya dengan periode lainnya. Pada fase modern khususnya, ternyata sastra Arab memiliki berbagai aliran sastra yang muncul silih berganti, baik karena motivasi kritikan terhadap model sastra yang muncul sebelumnya maupun karena untuk menyempurnakan aliran lainnya yang muncul dalam kurun waktu yang sama. Aliran-aliran sastra Arab yang mengemuka di masa modern tersebut adalah al-Muhāfizūn (Neo-Klasik), ad-Diwān, Apollo, Romantisme. Simbolisme dan yang terakhir adalah Hadītsah (modern).
Permulaan fase modern dalam sejarah sastra Arab dimulai sejak pemerintahan Muhammad Ali di Mesir setelah hengkangnya Prancis yang cukup lama menganeksasi negeri piramida ini pada tahun 1801 atau sering disebut sebagai masa kebangkitan kedua sastra Arab. Meskipun secara umum tujuan penggubahan puisi pada masa ini masih sama seperti pada masa-masa sebelumnya yang masih berkaitan dengan pujian, membangkitkan semangat, kebanggaan, perumpamaan-perumpamaan dan mensifati sesuatu, akan tetapi telah mulai terbebas dari mengikuti metode penggubahan puisi yang terdapat pada masa Abbasiyah yang berlangsung dalam masa selama 60 tahun. Sejak permulaan abad ke-20 secara berangsur-angsur tema-tema yang sudah mendarah daging dalam sastra Arab di atas mulai ditinggalkan dan para sastrawan Arab mulai beralih pada tema-tema yang aktual dan relevan dengan kondisi terkini, seperti nasionalisme, humanisme dan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Arab akibat adanya imperialisme yang membuat bentuk puisi Arab pun berubah menjadi berbentuk mursal dan bebas.
Salah satu aliran yang muncul di masa modern yang perlu mendapat perhatian dan memiliki arti penting dalam khazanah sastra Arab modern, terutama di Mesir, adalah Diwān atau Madrasah Diwān. Tulisan berikut akan mencoba mengetengahkan paparan mengenai aliran sastra Arab modern yang satu ini. Tulisan berikut akan mencakup latar belakang kemunculannya, tokoh-tokoh yang menjadi pengusungnya dan karakteristik sastra Arab yang mengemuka dalam aliran sastra Arab modern ini.

A. Latar Belakang Kemunculan Diwān
Sebagaimana diketahui bahwa sastra Arab pernah mengalami kevakuman atau tidak mengalami perkembangan yang signifikan pada masa Turki Usmani menguasai kawasan Arab dan sebagian besar dunia Islam lainnya. Tidak berkembangnya sastra Arab di masa ini karena adanya politik penguasa Turki Usmani yang tidak terlalu menaruh perhatian terhadap segala hal yang berkaitan dengan Arab yang menjadi wilayah kekuasaannya. Sebagai penguasa, Turki Usmani menerapkan kebijakan Turkiisasi atau menanamkan pengaruh Turki di setiap wilayah kekuasaannya, seperti bahasa Turki, tradisi Turki dan lain sebagainya. Hal ini berakibat pada bahasa dan sastra Arab yang cenderung tidak mengalami perkembangan yang berarti.
Setelah beberapa kawasan Arab, seperti Mesir, diambil alih oleh Prancis yang memperkenalkan beragam perlengkapan modern seperti peralatan cetak serta model-model bahasa dan sastra yang baru maka lambat laun sastra Arab kembali menggeliat. Perkembangan sastra Arab mengalami perkembangan yang signifikan setelah hengkang Prancis dari bumi piramida pada tahun 1801dan disusul dengan naiknya Muhammad Ali sebagai penguasa Mesir. Karena perhatian Ali yang cukup besar terhadap ilmu pengetahuan, maka ia mengirimkan duta-duta Mesir untuk menimba beragam  ilmu pengetahuan di  berbagai negara Eropa seperti Prancis, Inggris dan Italia. Sekembalinya para pelajar tersebut ke Mesir, maka dimulailah beragam inovasi terhadap aneka ilmu pengetahuan yang termasuk di dalamnya sastra Arab. Dari sini geliat kebangkitan sastra Arab semakin menampakkan eksistensinya yang merupakan perpaduan dari proses panjang asimilasi dengan berbagai kebudayaan seperti Prancis dan Inggris (assimilation), penerjemahan beragam karya asing (translation), peniruan berbagai naskah asing (imitation) yang dilakukan oleh beragam pihak yang berkecimpung dalam dunia sastra Arab.
Sejarah sastra Arab kemudian mencatat orang-orang seperti al-Barudi, Ahmad Syauqi dan Hafidz Ibrahim sebagai orang-orang pertama yang memperkenalkan inovasi-inovasi dalam sastra Arab. Tokoh-tokoh ini kemudian disebut sebagai pengusung aliran pertama dalam sastra Arab modern yang dikenal dengan nama Neo-Klasik. Kemunculan aliran ini menandai dimulainya sastra Arab berada dalam fase modernnya karena adanya beragam pengaruh dari luar sebagai hasil interaksi dengan banyak budaya dan tradisi, baik yang datang secara langsung karena penjajahan maupun yang dibawa oleh para duta Mesir yang menimba ilmu pengetahuan di Eropa.
Meskipun demikian, beragam inovasi yang dimunculkan oleh para pengusung Neo-Klasik ternyata tidak sepenuhnya melepaskan mereka dari ikatan tradisi terhadap karya-karya pendahulu dalam penggubahan puisi, terutama dalam aspek metode (uslūb) dan bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, sebagai kritikan terhadap Neo-Klasik maka muncul aliran sastra Arab modern baru yang kemudian dikenal sebagai Diwān.

B. Perkembangan Aliran Diwān
Upaya yang dilakukan kalangan Neo-Klasik dalam mengembangkan beragam inovasi dinilai tidak terlalu berarti bagi perkembangan sastra Arab modern, bahkan lebih jauh lagi kelompok ini justru dianggap sangat tradisional dan terlalu terikat dengan tradisi. Atas alasan inilah kemudian mengemuka tiga orang tokoh sastra Arab muda yang lebih banyak dipengaruhi oleh puisi-puisi Khalīl Mutrān (1872-1949), seorang sastrawan ‘mahjār’ yang dianggap sebagai ‘penghancur’ pola Qashīda yang menurutnya telah kehabisan potensi puitiknya dan harus diganti dengan bentuk-bentuk puisi yang lebih bebas dan sesuai dengan perkembangan zaman. Di samping keterpengaruhannya dengan Mutrān, ketiga tokoh ini juga diwarnai oleh para pujangga romantik dan kritikus Inggris, terutama Hazlitt dan Coleridge.
Ketiga tokoh dimaksud adalah Abdurrahman Syukri, Mahmūd al-‘Aqqād dan al-Māzini. Meskipun ketiganya tidak berada dalam satu pandangan yang bulat tentang inovasi yang harus dilakukan terhadap sastra Arab modern dan memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun setidaknya dalam beberapa aspek yang menjadi ciri dari aliran ini seperti redefenisi Syukri tentang puisi sebagai wijdān (emosi) mereka sepakat dan bahu membahu memperjuangkannya.
Aliran Diwān yang diusung oleh Syukri, al-‘Aqqād dan al-Māzini telah muncul dalam perbincangan sastra Arab modern sejak tahun 1900-1910. Meskipun demikian, aliran ini baru dikenal luas di kalangan pengkaji sastra Arab pada tahun 1921 melalui sebuah pamflet yang berjudul ad-Diwān Kitāb fī al-Adab wa an-Naqd. Penamaan aliran sastra Arab modern ini dengan ‘Diwan’ kemungkinan berkaitan dengan judul pamflet yang menjadi media kemunculannya secara luas di kalangan sastrawan Arab sebagaimana di atas. Di samping itu, penamaan ini kemungkinan juga karena adanya kumpulan karya para pengusungnya yang disatukan dalam satu buku yang biasanya disebut Diwān atau antologi.
Sebagai aliran yang muncul untuk melakukan kritikan terhadap aliran sastra Arab modern sebelumnya (Neo-Klasik), maka sanggahan pertama yang dilontarkan adalah pada aspek bahasa dan bentuk yang digunakan pendahulunya yang dinilai sangat tradisonal. Kemudian, kritikan kedua yang dialamatkan kepada kelompok Neo-Klasik adalah karena aliran pertama dalam sastra Arab modern dinilai banyak mengumpulkan tauriyah, kināyah dan jinās. Kritikan yang dilontarkan oleh Diwan terhadap Neo-Klasik sebagai pendahulunya ini kemudian dimuat dalam sebuah esai atau tulisan mereka yang berjudul ‘al-Fushūl’.
Secara lebih terperinci, kritikan yang dilontarkan Diwān terhadap beragam upaya Neo-Klasik dalam mengembangkan sastra Arab modern dapat dikemukakan sebagaimana berikut ini, yaitu:
1.    At-Tafakkuk, yaitu karya-karya sastra yang dihasilkan para pengusung Neo-Klasik dinilai tidak memiliki kesatuan tema.
2.    Al-Ihālah, yaitu upaya yang dilakukan Neo-Klasik justru membuat makna puisi menjadi rusak karena berisikan sesuatu yang bombastis, tidak realistis dan tidak masuk akal atau irasional.
3.    At-Taqlīd, yaitu karya-karya yang dihasilkan Neo-Klasik tidak lebih dari pengulangan apa yang sudah dilakukan oleh para sastrawan sebelumnya dengan cara membolak-balikkan kata dan makna.
4.    Para pengusung aliran Neo-Klasik dinilai memiliki kecenderungan yang lebih mementingkan eksistensi dari pada substansi karya sastra yang dihasilkan.
Di samping melontarkan beragam kritikannya terhadap Neo-Klasik sebagaimana dikemukakan di atas, para pengusung aliran Diwān juga menjelaskan persoalan-persoalan baru yang terdapat dalam puisi, kritik dan tulisan sastra. Hal ini dilakukan dengan cara membuat garis pemisah antara zaman sastra Arab klasik dan sastra Arab modern sehingga keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu.
Sebagai salah satu aliran sastra Arab modern, kelompok Diwān memiliki karakteristik yang sangat melekat pada mereka. Adapun karakteristik yang dapat membedakannya dengan kelompok sastra Arab modern lainnya adalah menolak kesatuan bait dan memberi penekanan pada kesatuan organis puisi, mempertahankan kejelasan, kesederhanaan dan keindahan bahasa puisi yang tenang, mengambil segala macam sumber untuk memperluas dan memperdalam persepsi dan sensitifitas rasa penyair. Di samping itu, karakteristik lainnya dari para pengusung aliran Diwān adalah berkaitan dengan tema-tema yang diangkat dalam karya-karya mereka. Tidak seperti aliran sebelumnya, tema-tema yang diangkat Diwān berkaitan persoalan-persoalan kontemporer seperti humanisme, nasionalisme, Arab, dan karya-karya yang dihasilkannya banyak dipengaruhi oleh romantisme dan model kritik Inggris.
Dengan beragam kritikan yang dilontarkannya terhadap objek yang menjadi faktor kemunculannya, bukan berarti aliran Diwān terlepas dari kritikan pihak lainnya. Karena dalam perkembangan sastra Arab modern aliran ini lebih menonjolkan aspek kritik dan sanggahannya terhadap Neo-Klasik yang muncul terlebih dahulu, maka sesungguhnya lebih tepat dikatakan bahwa Diwān ini adalah aliran kritik. Atau dalam ungkapan lain dapat dikatakan bahwa para pengusung aliran ini lebih tepat disebut sebagai kritikus dari pada sebagai sastrawan atau penyair dalam upaya mereka memberi perubahan yang berarti bagi perkembangan apresiasi sastra. Hal ini karena ternyata terjadi perbedaan yang signifikan dari gagasan kesusasteraan mereka yang merupakan kritikan terhadap Neo-Klasik dengan realitas bahwa karya-karya sastra yang mereka hasilkan bernilai biasa-biasa saja.
Aliran ini tidak berlangsung lama dalam khazanah sastra Arab modern karena para pengusungnya kemudian lebih memilih berkecimpung dengan model-model karya sastra yang lain, seperti novel, drama, makalah dan kajian-kajian sastra lainnya. Setelah para tokohnya perlahan-lahan mulai meninggalkan aliran ini, maka semakin tidak jelas tujuan sesungguhnya dari mengemukanya Diwān dalam sastra Arab modern. Kemunculan aliran ini tidak lebih dari hanya keinginan para tokohnya untuk melepaskan diri sistem persyairan Arab yang sudah selama ini, sedangkan hasil karyanya berupa puisi yang mengikuti model terdahulu dengan menambahkan beberapa aspek yang baru di dalamnya.

C. Biografi Singkat Para Tokoh Diwān
1. Abdurrahman Syukri (1886-1958)
Syukri dilahirkan di Port Said, Mesir pada tahun 1886. Pendidikan menengahnya ditempuh di Iskandariyah dan setelah menyelesaikan studinya, maka dilanjutkan di Sekolah Tinggi Guru di Kairo. Di pendidikan tinggi ini Syukri berhasil menggondol gelar kesarjanaannya pada tahun 1909 dan kemudian dilanjutkannya ke Inggris. Sekembalinya dari belajar di Inggris, Syukri mulai mengaktualisasikan pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya di Inggris di tanah airnya, Mesir. Pada awalnya Syukri menyerukan perlunya perubahan sosial dalam masyarakat Mesir dengan mengetengahkan beragam keyakinannya mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan rasionalisme.
Kemunculannya yang paling diingat, terutama dalam khazanah sastra Arab modern, adalah kritikan yang dilontarkannya kepada Ahmad Syauqi dan Hafiz Ibrahim yang dinilainya telah merampas nilai intuisi penyair kebanyakan dan karya-karya yang dihasilkan kedua tokoh Neo-Klasik ini tidak lebih dari hanya terbatas pada bentuk-bentuk perbandingan (maqshūr ‘alā at-tasybīhāt). Kritikan-kritikan yang dikemukakannya ini dimuat dalam bagian pendahuluan koleksi kelimanya pada tahun 1916. Tidak cukup sampai di situ, Syukri juga melontarkan kritikannya terhadap jenis puisi ijtimā’ atau puisi yang disesuaikan dengan kejadian sekitar seperti adanya kunjungan raja, kebakaran dan lain sebagainya. Bagi Syukri, puisi model seperti ini tidak bernilai apa-apa karena inovasi yang diperlukan dalam puisi Arab modern adalah puisi yang mencerminkan kehidupan terkini dan benar-benar mengekspresikan perasaan penyairnya.
Sebagaimana layaknya para tokoh yang memiliki karya paripurna yang membuatnya selalu dikenal, maka puncak ketokohan Syukri dalam khazanah sastra Arab modern adalah pemikirannya mengenai redefenisi puisi. Menurut Syukri, puisi itu adalah wijdān atau emosi dimana konsepsi emosional tentang citarasa menjadi faktor yang penting dalam menentukan hakekat dan fungsi suatu puisi. Inovasi yang didengungkan oleh Syukri ini kemudian dikenal sebagai salah satu karakteristrik aliran sastra Arab modern yang dikenal dengan nama Diwān.

2. ‘Abbās Mahmūd al-‘Aqqād (1889-1973)
Al-‘Aqqād, demikian ia biasa dikenal, dilahirkan di Aswān dari ayah yang seorang asli Mesir dan ibu yang seorang Kurdi. Pada awalnya, al-‘Aqqād dikenal dalam dunia sastra Arab modern sebagai penyair pembaharu yang karya-karya yang dihasilkannya memperlihatkan ketidak-terikatan dengan ikatan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Di samping menggubah puisi, al-‘Aqqād juga dikenal dengan novel setengah biografinya yang berjudul Sarah.
Seperti halnya Syukri, al-‘Aqqād juga melontarkan beragam kritikan terhadap upaya Neo-Klasik dalam sastra Arab modern. Menurut al-‘Aqqād, kalangan Keo-Klasik seringkali menggunakan puisi-puisi klasik, padahal di era modern ini karya-karya tersebut tidak relevan lagi untuk diketengahkan. Di samping itu, lontaran kritikan al-‘Aqqād terhadap Neo-Klasik juga dialamatkan pada tema atau topik yang diangkat, dimana menurutnya puisi modern tidak harus mengangkat tema-tema sebagaimana yang ada dalam karya-karya sastra klasik.
Setelah cukup lama bergelimang dengan beragam lontaran kritik dan bersinggungan dengan dunia sastra, maka pada tahun-tahun belakangan menjelang wafatnya, al-‘Aqqād lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis buku yang sebelumnya tidak pernah ia sentuh. Jika dahulu ia menghabiskan waktunya untuk menulis puisi dan novel, maka di tahun-tahun akhir hidupnya ia banyak menulis buku yang berkaitan dengan keislaman.

3. al-Māzini (1890-1949)
Nama lengkapnya adalah Ibrāhim Abdul Qādir al-Māzini atau yang biasa dikenal dalam perbincangan sastra Arab modern dengan nama al-Māzini. Seperti halnya al-‘Aqqād, al-Māzini juga pada awalnya memang dikenal sebagai penyair yang berusaha melepaskan diri dari ikatan tradisi puisi Arab yang telah ada di masa-masa sebelumnya. Inspirasi yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu yang berbeda dalam penggubahan puisi tersebut adalah buku Arabian Night serta buku-buku pemikiran post-klasik seperti Bahā’ ad-Dīn Zuhayr dan Ibnu Farid. Pada mulanya ia lebih menyukai menulis risalah (esai), akan tetapi pada tahun 1928 al-Mazini menemukan dirinya sebagai pengarang cerita pendek yang dikenal serba jenaka. Di antara karya sastra yang sukses ditelorkannya dan menjadi salah satu karya penting dalam penulisan sastra Arab modern adalah Ibrāhim al-Khātib yang ditulis pada tahun 1930 dan selanjutnya karyanya yang lain berjudul Zaynab.
Sebagai salah satu pengusung aliran Diwān bersama dua tokoh lainnya, al-Māzini juga melontarkan kritikannya terhadap Neo-Klasik. Menurutnya, satu hal yang selalu ia sesalkan dari upaya kelompok Neo-Klasik dalam perkembangan sastra Arab modern adalah tindakan Hafiz Ibrahim yang telah melakukan penjiplakan puisi. Lebih dari itu, menurut al-Māzini sesungguhnya Ibrahim bukanlah seorang sastrawan atau penyair. Oleh karena itu, agar apa yang dilakukan oleh Ibrahim tidak terus terulang maka al-Māzini sangat menekankan orisinalistas puisi yang bersifat objektif yang menurutnya tidak akan dapat dijumpai pada karya-karya klasik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hāsyimi, Sayyid Ahmad. 1965. Jawāhir al-Adab. Mesir:  Dār al-Fikr al-‘Arabi. Cetakan ke-26.
Andangdjaya, Hartojo. 1983.  Puisi Arab Modern. Jakarta: Pustaka Jaya.
Audah, Ali. 1996. Sastra Arab Mutakhir, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2 VII/1996.
Al-Iskandāry, Ahmad. dan Musthafā Anāny. TT. al-Wāsith fī al-Adab al-‘Araby wa Tārīkhihi. Mesir: Dār al-Ma’ārif.
Allen, Roger. 2008. Arab Dalam Novel. Yogyakarta: E-Nusantara.
Brugman, J. 1984. An Introduction to The History of The Modern Arabic Literature in Egypt. Leiden: EJ. Brill.
Farrūkh, Umar. 1969. al-Manhāj al-Jadīd fī al-Adab al-‘Araby. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn.
Gufron, Muhammad. 1979. Kesusastraan Arab Modern. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
Tasnimah, Tatik Maryatut. 2000. Fenomena Kritik Sastra Arab. Yogyakarta:  Jurnal Fakultas Adab  ‘Thaqafiyyat’. Volume I No. 01, Juli-Desember 2000.
Zayyāt, Ahmad Hasan. TT. Tārīkh Adab al-Araby. Kairo: Dār an-Nahdhah. Cetakan ke-25.
Zaidān, Jurji. TT. al-Adab al-Lughah al-‘Arābiyyah. Beirut: Dār al-Fikr. Jilid II. Juz IV.